• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS ... - Admin Digital Library

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS ... - Admin Digital Library"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Akuntansi syariah (Triyuwono dan Gaffikin, 1996) merupakan upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk yang humanistik dan sarat nilai. Salah satu aspek yang memajukan akuntansi dalam perspektif Islam atau akuntansi syariah di Indonesia adalah munculnya perbankan syariah.

Rumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat Penelitian

BNI Syariah menyediakan berbagai jenis pembiayaan yaitu: (1) debitur murabahah, (2) pembiayaan mudharabah, (3) pembiayaan musyarakah dan (4) Rahn (gadai emas syariah). BNI Syariah mengakui pembiayaan musyarakah pada saat bank menandatangani dan mencairkan dana sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

TINJAUAN PUSTAKA

Proses Akuntansi Musyarakah

Sekiranya modal yang diserahkan adalah dalam bentuk bukan tunai, maka nilai tunai perlu ditentukan dan dipersetujui terlebih dahulu di antara mereka. Keuntungan yang dikongsi tidak boleh menggunakan nilai yang diharapkan, tetapi mesti menggunakan nilai keuntungan yang direalisasikan.

Teori Perbankan

Bank am ialah bank yang, dalam usaha mengumpul dana, terutamanya menerima deposit dalam bentuk permintaan dan deposit. Sedangkan Bank Pembagunan adalah bank yang dalam usaha penggalangan dana terutama menerima simpanan dalam bentuk simpanan dan atau menerbitkan surat berharga jangka menengah dan panjang.

Bank Syariah

Sedangkan menurut Triyuwono (2006; 13), Perbankan Islam atau disebut juga Perbankan Syariah merupakan ilmu sosial produktif yang menurunkan ajaran normatif Al-Qur’an (khususnya QS AL-Baqarah 2:282) ke dalam bentuk yang lebih konkrit. Perbankan Syariah adalah suatu perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana dan. Bank syariah merupakan manajer investasi bagi pemilik dana yang terhimpun karena besarnya pendapatan (bagi hasil).

Pada awalnya bank syariah menggunakan konsep cash basis untuk mencatat pendapatan, sedangkan bank syariah menggunakan konsep accrual untuk mencatat biaya yang dikeluarkan. Dalam transaksi musyarakah, bank syariah umumnya hanya melakukan penyetoran modal (mitra pasif), pengelolaan perusahaan dilakukan oleh mitra lain. Oleh karena itu, akuntansi musyarakah yang dilakukan oleh bank syariah pada umumnya adalah akuntansi musyarakah untuk mitra pasif.

Penelitian Terdahulu

Menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Indonesia, Tbk diberikan dalam bentuk modal kerja berupa uang tunai, aset non tunai, dan dalam menentukan besarnya bagi hasil digunakan metode bagi hasil dan pembiayaan mudharabah sesuai dengan PSAK 105. Analisis Penerapan Laba Sistem Bagi Hasil dan Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Mudharabah. Menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif sehingga tidak perlu merumuskan hipotesis dalam langkah penelitian. Perlakuan Akuntansi Pembiayaan pada Perbankan Syariah dengan Akad Mudharabah Mengenai keuntungan dari usaha yang dikelolanya, PT Bank Syariah Mandiri cabang Jember akan mengakui pendapatan bagi hasil pada saat terjadi hak bagi hasil sesuai dengan Nisbah wanprestasi. kasus di PT BANK Syariah Mandiri Cabang Jember).

Kerangka Pikir

Hipotesis

Sebagai lembaga keuangan, BNI Syariah akan menerima sebagian bagi hasil dana yang disalurkan kepada debitur. Pada bagian ini akan dijelaskan perlakuan akuntansi terkait pembiayaan musyarakah di BNI Syariah. BNI Syariah menangani pembiayaan musyarakah berdasarkan PSAK No. 106 Tahun 2009 tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Peraturan Akuntansi Perbankan Syariah (PAPSI).

BNI Syariah mengakui pembiayaan musyarakah pada saat bank menandatangani dan mencairkan dana sebesar pokok pembiayaan musyarakah yang disepakati oleh mudharib (pengelola dana) dan shahibul maal (pemilik dana). Hasil perlakuan akuntansi pembiayaan Musyarakah Hasil perlakuan akuntansi pembiayaan Musyarakah adalah : Hasil perlakuan akuntansi pembiayaan Musyarakah adalah : 1. BNI Syariah. Dari pembahasan di atas mengenai hasil perlakuan akuntansi pembiayaan Musyarakah, terlihat jelas bahwa BNI Syariah telah menerapkan PSAK no. 106 Tahun 2009 dalam pembiayaan Musyarakah.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Metode Pengumpulan Data

Untuk lebih jelasnya, akan diuraikan secara lengkap struktur organisasi Bank BNI Syariah Cabang Makassar, sebagaimana terlampir. Sedangkan pembiayaan musyarakah merupakan kerjasama yang diwujudkan antara nasabah dengan BNI Syariah dalam suatu usaha dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi sesuai dengan kesepakatan bersama berdasarkan bagian dana yang diinvestasikan. Dalam menyajikan laporan keuangan, BNI Syariah menyusun dan menyajikannya sesuai dengan PSAK no. 106 Tahun 2009 dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah (PAPSI) yang menyatakan bahwa laporan keuangan bank terdiri atas: (a) neraca, (b) laporan laba rugi, (c) laporan arus kas, (d) laporan perubahan ekuitas dan (e) catatan atas laporan keuangan.

BNI Syariah menawarkan pembiayaan musyarakah dalam rekening terpisah dari produk BNI Syariah lainnya seperti murabahah dan mudharabah. Berdasarkan uraian perlakuan akuntansi pembiayaan musyarakah di BNI Syariah dapat disimpulkan bahwa BNI Syariah telah menggunakan PSAK no. 106 Tahun 2009 tentang Akuntansi Perbankan Syariah sebagai pedoman dasar dalam perlakuan akuntansi pembiayaan musyarakah. 2013, Implementasi PSAK 107 tentang transaksi ijarah di PT BNI Syariah cabang Makassar, jurnal Universitas Hasanuddin Makassar.

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah Singkat Perusahaan

Seiring berjalannya waktu, Bank BNI semakin mengembangkan kepiawaiannya di kancah perbankan Indonesia dan menjadi salah satu bank pemerintah terkemuka. Pada tahun 1996, Bank BNI menawarkan saham pertamanya kepada masyarakat dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya. Penawaran perdana ini memberikan peluang bagi Bank BNI untuk memperkuat permodalannya sehingga semakin memperkuat posisi Bank BNI di sektor perbankan Indonesia.

Bank BNI mengedepankan diri sebagai universal banking yang menawarkan beragam produk dan layanan unggulan kepada nasabahnya. Selain faktor hukum pendukung, keunggulan lain Bank BNI dalam menyediakan layanan perbankan syariah adalah bisnisnya yang besar. Saat ini Bank BNI sedang memperkenalkan keseluruhan gambar baru yang pertama kali dihadirkan pada 21 Juli 2004.

Visi dan Misi Bank

Warna oranye baru lebih cerah dan kuat serta mencerminkan citra yang lebih percaya diri dan segar.

Struktur Organisasi Perusahaan

Job Description

Memberikan nasehat/konsultasi dan mendiskusikan permasalahan yang berkaitan dengan administrasi keuangan, keuangan bermasalah, keuangan, logistik, umum dan kepegawaian serta administrasi kerumahtanggaan dan kebersihan. Unit ini merupakan unit yang mandiri/independen dan tidak lagi berada di bawah pimpinan cabang, melainkan berada di bawah Departemen Kepatuhan.

Produk Pembiayaan Pt,Bank Negara Indonesia Syariah,Tbk

Namun pembiayaan musyarakah yang diberikan oleh BNI Syariah lebih produktif karena nasabah (peminjam) pembiayaan musyarakah akan menggunakan dananya untuk keperluan pengembangan usaha seperti usaha perdagangan, industri atau kerajinan tangan. Pada tanggal 1 Maret 2009 BNI Syariah menandatangani akad musyarakah dengan PT. Maju Teru untuk mencampur ibukotanya. Apabila rekanan belum membayar kepada BNI Syariah, maka BNI Syariah mengakuinya sebagai piutang.

Dalam pelaporan ini, BNI Syariah juga mengikuti ketentuan yang disyaratkan dalam PSAK No.1 tentang Penyajian Laporan Keuangan. Pada dasarnya yang dimaksud dengan pendapatan pencadangan di BNI Syariah adalah pendapatan pembiayaan dari bank. Dalam musyarakah, kerjasama kemitraan dilakukan antara nasabah dengan BNI Syariah dalam suatu bisnis dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi sesuai dengan bagian dana yang telah disepakati.

PEMBAHASAN

Kebijakan Pembiayaan PT.Bank Bni Syariah

Sehingga BNI Syariah menetapkan tata cara pemberian pembiayaan kepada nasabah (debitur) sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan untuk melindungi aset dan dana pihak ketiga yang disalurkan kepada nasabah pembiayaan. Dalam melakukan perhitungan bagi hasil pembiayaan musyarakah, BNI Syariah menetapkan beberapa prosedur, antara lain terlebih dahulu membuat tabel proyeksi pembayaran dengan terlebih dahulu melakukan perhitungan. Bagian Analis Keuangan BNI Syariah memperkirakan rata-rata pendapatan bulanan yang diperoleh perusahaan calon nasabah adalah Rp.

Agar bank dapat mengetahui pendapatan nasabah yang sebenarnya, maka seluruh transaksi yang dilakukan nasabah harus menggunakan layanan verifikasi dari BNI Syariah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian terhadap pembiayaan yang diberikan BNI Syariah untuk mengurangi risiko perusahaan membuat laporan keuangan fiktif. BNI Syariah akan menerima sebagian keuntungan dari dana yang disalurkan kepada debitur, dengan kerugian dan keuntungan dibagi rata oleh kedua belah pihak yaitu BNI Syariah dan nasabah berdasarkan dana yang disalurkan masing-masing pihak.

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, penulis dapat menyarankan agar BNI Syariah diharapkan dapat memberikan porsi penyaluran pembiayaan yang lebih besar dalam bentuk musyarakah. Karena kontribusi pembiayaan musyarakah yang selalu berada pada peringkat ketiga, maka sudah sepatutnya BNI Syariah dapat menempatkan pembiayaan musyarakah pada prioritas pertama karena pembiayaan dalam bentuk musyarakah diyakini lebih syariah.

Perlakuan Pembiayaan Musyarakah Pada

Pembiayaan Musyarakah Berdasarkan Psak No. 106 Tahun 2009

Di bawah ini penulis akan menguraikan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perlakuan akuntansi pembiayaan musyarakah. Berikut ini diuraikan tentang pengakuan dan pengukuran pembiayaan musyarakah untuk peristiwa besar (critical events), yaitu. Apabila akad musyarakah disetujui dan dilakukan pengalihan harta, maka pembiayaan musyarakah diukur dengan jumlah uang yang diberikan pada saat pembayaran.

31 tentang akuntansi bank, kredit diakui pada saat pencairannya dan diukur dengan jumlah uang yang diberikan bank kepada nasabah pada saat pembayaran. Adapun selesai atau berakhirnya akad pembiayaan musyarakah diakui pada saat pokok pembiayaan telah dilunasi seluruhnya. PSAK no. 106 Tahun 2009 menyatakan bahwa apabila akad musyarakah diakhiri sebelum jatuh tempo (akibat kerugian, kelalaian atau kerugian) dan pengelola dana belum melakukan pembayaran, maka pembiayaan musyarakah diakui sebagai tagihan yang telah jatuh tempo.

Hasil Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Musyarakah

Bagi penyelesaian akhir perjanjian pembiayaan mušara, ia diiktiraf apabila jumlah pokok pembiayaan dibayar balik. Pembiayaan musyarakah boleh disediakan dalam bentuk tunai, aset bukan tunai termasuk aset tidak ketara seperti lesen dan hak paten. Sekiranya kontrak musyarakah tamat sebelum tarikh tamat (disebabkan kerugian, kecuaian atau kerugian) dan pengurus dana tidak membuat pembayaran, pembiayaan musyarakah diiktiraf sebagai tuntutan lampau tempoh.

Hal ini dilakukan agar perlakuan akuntansi yang digunakan BNI Syariah tidak hanya berpihak pada materialisme dan sekuler, namun juga lebih humanis dan menyeimbangkan kepentingan umat Islam sesuai dengan nilai-nilai syariah, namun tidak melanggar peraturan pemerintah dan Bank. Indonesia. Analisis Penerapan Sistem Bagi Hasil dan Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah pada Bank Syariah. Jurnal, Universitas Jember. Reformasi akad pembiayaan Murabahah dengan sistem Musyarakah sebagai inovasi produk perbankan syariah. Jurnal, Universitas Trunojoyo Madurai.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Saran

Analisis penggunaan PSAK 102 untuk produk kepemilikan emas dan PSAK 107 untuk produk gadai emas pada perbankan syariah. 2013, Analisis Penggunaan PSAK No. 105 tentang Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Syariah (Studi Kasus PT. Bank Muamalat Indonesia, tbk), Jurnal, Universitas Bin Nusantara. Penerapan Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah pada Tamwil Bi Al Murabahah pada Bank Umum Syariah di Indonesia, Jurnal Universitas Negeri Surabaya.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pikir F. Hipotesis
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Perusahaan Sumber : Bank BNI Syariah

Referensi

Dokumen terkait

7 tahun 1992 tentang Perbankan, yang telah diubah dengan Undang-Undang no 10 tahun 1998 : “Bank adalah usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan