1
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
(UMKM) DI KOTA TANGERANG
Oleh:
Magdalena Elshadday Naomi [email protected]
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Malang
Dosen Pembimbing:
Sutrisno T. SE., M.Si., Ak, Dr, Prof
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM, yaitu tingkat pendidikan, skala usaha, umur perusahaan, pelatihan akuntansi, dan pengetahuan akuntansi. Objek penelitian ini adalah pelaku UMKM yang terdaftar di Dinas Koperasi dan UMKM Kota Tangerang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang berasal dari kuesioner yang dibagikan kepada responden. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji model regresi linear berganda, serja uji hipotesis menggunakan SPSS 24 for Windows. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, skala usaha, umur perusahaan, pelatihan akuntansi, dan pengetahuan akuntansi berpengaruh positif signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM di kota Tangerang.
Kata kunci: tingkat pendidikan, skala usaha, umur perusahaan, pelatihan akuntansi, pengetahuan akuntansi, penggunaan informasi akuntansi, UMKM
ABSTRACT
This research aims to obtain empirical evidence of the factors influencing the use of accounting information on MSMEs, including educational level, firm scale, firm age, accounting training, and accounting knowledge. The object of this research involves the MSMEs owners registered in Cooperative Agency of MSME of Tangerang City. This research utilizes primary data collected through questionnaires. The samples of 100 respondents are analyzed by descriptive statistics, normality test, multicollinearity test, heteroscedasticity test, multiple linear regression model test, and hypothesis test using SPSS 24 for Windows. The result of this research reveals that educational level, firm scale, firrm age, accounting training, and accounting knowledge have a significant positive effect on the use of accounting information on MSMEs in Tangerang City.
Keyword: eduacation level, firm scale, firm age, accounting training, accounting knowledge, the use of accounting information, MSMEs
2 PENDAHULUAN
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan unit usaha ekonomi yang berperan penting bagi perekonomian nasional. UMKM memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu dalam memperbesar tingkat permintaan, meningkatkan daya beli masyarakat, dan meningkatkan pertumbuhan investasi. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM (2018), jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,19 juta dan menyerap hingga 97 persen dari total tenaga kerja.
Banyaknya jumlah UMKM di Indonesia menuntut UMKM untuk memiliki keunggulan kompetitif dan meningkatkan daya saing nya agar bisa terus menjaga eksistensinya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini UMKM masih mengalami kelemahan dan keterbatasan. Ini dikarenakan UMKM merupakan usaha kecil yang sebagian besar berangkat dari industri keluarga atau rumahan.
Lemahnya usaha kecil di Indonesia disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, yaitu adanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM), teknologi, modal, dan informasi; kurangnya dukungan dari pemerintah; serta kurangnya kemauan pengusaha kecil dan menengah nasional untuk berorientasi global (Astuti, 2007).
Keterbatasan SDM yang dimaksud adalah pemilik atau manajer tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai akuntansi. Hal ini disebabkan karena mereka tidak menempuh pendidikan yang tinggi. Teori Knowledge Based View (KBV) mengatakan bahwa pengetahuan dalam berbagai bentuknya adalah kepentingan sumber daya bagi perusahaan (Grant, 1991). Pengetahuan dianggap sebagai faktor penting yang harus dimiliki seseorang dalam penciptaan nilai bagi perusahaan. Pemilik atau manajer harus memiliki kemampuan intelektual yang
berperan untuk menciptakan value- added bagi perusahaan.
Pengembangan UMKM saat ini menjadi penting untuk dilakukan dan perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak agar dapat terus berkembang maju. Salah satu program pemerintah untuk membantu modal UMKM adalah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tetapi program ini pun belum terealisasi sepenuhnya karena bank sangat selektif dalam memberikan pinjaman kepada usaha kecil. Salah satu syarat dari pemberian kredit oleh bank dalam membantu permodalan usaha kecil adalah UMKM harus menyediakan informasi akuntansi berupa laporan keuangan (Firmansyah, 2014).
Informasi akuntansi merupakan suatu informasi yang berperan penting bagi UMKM untuk memberi gambaran keuangan suatu usaha. Informasi akuntansi menghasilkan sebuah laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi (PSAK Nomor 1 Tahun 2015).
Pemanfaatan informasi akuntansi bagi UMKM juga dapat membantu pemilik atau manajer dalam melihat informasi perkembangan usaha dari tahun ke tahun.
Informasi akuntansi merupakan salah satu alat untuk membantu pihak manajemen dalam menyediakan informasi yang relevan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Dalam menjalankan kegiatan usaha UMKM, informasi akuntansi diperlukan sebagai dasar dalam menyusun rencana strategis, melakukan pengawasan keuangan, hingga dalam hal pengambilan keputusan yang tepat. Holmes &
3 Nicholls (1988) berpendapat bahwa sudah seharusnya pelaku UMKM lebih memperhatikan kualitas dari informasi akuntansi pada usaha yang dijalankannya apakah dapat menunjang keberhasilan usaha atau tidak, melihat peran dan manfaat yang begitu besar pada penggunaan informasi akuntansi dalam proses pengambilan keputusan pada usaha kecil.
Aturan penyelenggaraan pencatatan akuntansi nyatanya sudah tertulis dalam Undang-Undang Usaha Kecil No. 9 tahun 1995 dan merupakan sebuah kewajiban bagi pelaku UMKM untuk menerapkannya. Namun, sejauh ini perusahaan kecil maupun menengah masih sering mengalami kesulitan dalam melakukan praktik akuntansi. Salah satu kesulitan tersebut disebabkan karena pemilik atau manajer memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai akuntansi, dan banyak dari mereka belum mengerti manfaat dan pentingnya pencatatan dan pembukuan bagi keberhasilan usaha.
Sebagian pelaku UMKM memiliki persepsi bahwa menyusun laporan keuangan itu tidak penting, sulit, serta membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Sebagian lagi sudah memiliki catatan keuangan tetapi model nya masih sangat sederhana. Perhitungan hanya dilakukan secara kasar seperti melakukan pencatatan sebatas pendapatan dan pengeluaran saja.
Akibatnya, UMKM tidak mampu menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas sehingga pengajuan kredit ke bank semakin sulit karena laba bersih yang dimiliki perusahaan tidak diketahui dengan jelas dan pasti (Kemenkop UKM, 2014).
Ketidakmampuan menyediakan informasi akuntansi merupakan faktor utama yang menimbulkan permasalahan dan mengakibatkan kegagalan usaha kecil dan menengah dalam
pengembangan usaha (Astuti, 2007).
Kegagalan UMKM juga disebabkan oleh lemahnya kemampuan pemilik usaha atau manajer dalam mengelola keuangan dengan baik dan melakukan praktik akuntansi. Berdasarkan teori Resource Based Theory (RBT), perusahaan yang kompetitif adalah perusahaan yang dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki agar mampu bersaing dengan perusahaan yang lain. Skala usaha yang semakin besar harus mampu memenuhi kebutuhan sumber daya manusianya dengan menciptakan kemampuan intelektual yang baik bagi karyawannya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan akuntansi dan memberikan keterampilan yang lebih kreatif dibandingkan para pesaingnya.
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Sitoresmi (2013) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi pada usaha kecil dan meneengah. Variabel independen yang digunakan adalah pendidikan pemilik, skala usaha, umur perusahaan, dan pelatihan akuntansi. Keterbaruan dari penelitian ini adalah peneliti menambah satu variabel independen lainnya, yaitu pengetahuan akuntansi yang diduga memiliki pengaruh dominan terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM. Pengetahuan akuntansi yang semakin baik akan memberikan pemahaman yang benar mengenai praktik akuntansi dan kemampuannya dalam mengelola keuangan perusahaan.
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk menguji pengaruh tingkat pendidikan terhadap pengguanaan informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil Menengah.
2. Untuk menguji pengaruh skala usaha terhadap pengguanaan
4 informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil Menengah.
3. Untuk menguji pengaruh umur perusahaan terhadap pengguanaan informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil Menengah.
4. Untuk menguji pengaruh pelatihan akuntansi terhadap pengguanaan informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil Menengah.
5. Untuk menguji pengaruh pengetahuan akuntansi terhadap pengguanaan informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil Menengah.
TELAAH PUSTAKA DAN
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Teori Resource Based Theory (RBT) Teori Resource Based Theory (RBT) adalah suatu teori yang dikembangkan untuk menggambarkan keunggulan bersaing bagi perusahaan yang tidak dimiliki perusahaan lainnya dan keunggulan tersebut ada jika perusahaan memiliki sumber daya yang profesional (Wernerfelt, 1984). Teori ini membahas bagaimana sebuah perusahaan dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki agar mampu bersaing dengan perusahaan lain.
Keunggulan dapat diperoleh jika perusahaan mampu mengelola intellectual capital yang dimiliki secara maksimal. Sumber daya intelektual merupakan suatu hal yang memiliki peran penting dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Jika intellectual capital dapat dilakukan dengan baik maka perusahaan tersebut akan menciptakan value-added yang berguna bagi perusahaan dan menciptakan karakteristik yang baik dibandingkan para pesaingnya. Perusahaan yang telah mencapai keunggulan bersaing berpotensi untuk memperoleh keuntungan superior dengan terciptanya sumber daya manusia yang kompetitif.
Teori Knowledge Based View (KBV) Teori Knowledge Based View (KBV) merupakan pengembangan lebih lanjut dan pelengkap dari teori RBT (Resource Based Theory). Menurut Grant (1991), teori yang berbasis pengetahuan perusahaan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dalam berbagai bentuknya adalah kepentingan sumber daya bagi perusahaan. Teori KBV memiliki pandangan bahwa pengetahuan dianggap sebagai hal penting yang harus dimiliki seseorang dalam penciptaan nilai bagi perusahaan.
Perusahaan berusaha untuk selalu mengembangkan pengetahuan baru yang lebih cepat daripada kompetitornya.
Teori ini juga menyatakan bahwa faktor yang menciptakan keunggulan kompetitif tidak hanya berasal dari sumber daya yang ada dalam perusahaan, tetapi lebih luas dari itu.
Faktor pengetahuan dan informasi yang dimiliki perusahaan merupakan hal yang tidak kalah pentingnya untuk memberikan keunggulan jangka panjang.
Teori Stakeholder
Teori stakeholder merupakan teori yang menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya beroperasi untuk kelangsungan perusahaan itu sendiri tetapi juga harus memberikan dampak dan manfaat bagi para pemangku kepentingan. Stakeholder menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha dalam mengungkapkan atau menyajikan suatu informasi dalam laporan keuangan.
Tujuan dari teori ini adalah untuk mendorong pelaku usaha untuk memberikan nilai tambah dari aktivitas- aktivitas perusahaan dan membantu mengurangi kerugian yang ditimbulkan perusahaan bagi pemangku kepentingan.
Keberadaan stakeholder memberikan peran yang cukup penting bagi perusahaan. Kelangsungan hidup sebuah
5 perusahaan tergantung pada dukungan dari para pemangku kepentingan atau pihak lain sehingga perusahaan harus mencarinya. Semakin kuat peran stakeholder maka semakin besar usaha perusahaan untuk dapat menyesuaikan diri.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah Menurut PP Nomor 7 Tahun 2021 definisi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yaitu usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria yaitu memiliki modal usaha paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang memenuhi kriteria yaitu memiliki modal usaha lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah). Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang memenuhi kriteria yaitu, memiliki modal usaha lebih dari Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).
Penggunaan Informasi Akuntansi
Informasi akuntansi
dimanfaatkan sebagai suatu alat untuk mengukur dan mengkomunikasikan informasi keuangan mengenai aktivitas bisnis sebuah perusahaan. Holmes &
Nicholls (1988) mengklasifikasikan informasi akuntansi kedalam tiga jenis berbeda menurut manfaatnya bagi pemakai, yaitu: a) Statutory Accounting Information, merupakan informasi yang harus disiapkan sesuai dengan peraturan yang ada, dimana informasi tersebut tercantum dalam laporan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas; b) Budgetary Information, merupakan informasi yang disajikan dalam bentuk anggaran yang berguna bagi pihak internal dalam perencanaan, penilaian, dan pengambilan keputusan yang terdiri dari informasi anggaran laba rugi dan anggaran arus kas. c) Additional Accounting Information, merupakan informasi akuntansi lain yang disiapkan perusahaan untuk meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan yang terdiri dari laporan biaya produksi dan rasio keuangan.
Tingkat Pendidikan
Pendidikan bisa didapatkan melalui pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan informal.
Pendidikan formal adalah pendidikan yang paling umum karena memiliki struktur dan jenjang pendidikan yang jelas serta bisa didapatkan melalui pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi. Pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan yang bisa didapatkan melalui pembelajaran atau bimbingan dari luar sekolah dan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan yang dapat mendukung pendidikan peserta didik.
Pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan yang didapatkan dalam keluarga, lingkungan, atau belajar secara mandiri.
6 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri dari:
1. Pendidikan dasar, merupakan jenjang pendidikan awal yang memiliki masa wajib belajar selama 9 (sembilan) tahun, yang berbentuk SD dan SMP.
2. Pendidikan menengah, merupakan jenjang pendidikan lanjutan dari pendidikan dasar, yang berbentuk SMA dan SMK, atau sederajat.
3. Pendidikan tinggi, merupakan jenjang pendidikan setelah menempuh pendidikan menengah yang berbentuk program diploma, sarjana, magister, dan doktor, yang diselenggarakan oleh sekolah tinggi, universitas, institut, dan lain-lain.
Skala Usaha
Skala usaha adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola usaha dengan melihat jumlah aset yang dimiliki, jumlah pegawai yang dipekerjakan, serta jumlah penghasilan yang didapat selama satu periode akuntansi (Holmes & Nicholls, 1988).
Skala usaha di Indonesia dikelompokkan menjadi empat jenis, diantaranya: usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar. Banyaknya jumlah pegawai yang dipekerjakan mengindikasikan besarnya skala bisnis perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Jumlah pendapatan yang diperoleh mengindikasikan adanya perputaran harta dan sumber dana yang dimiliki perusahaan. Semakin banyak jumlah karyawan yang dipekerjakan dan semakin tinggi jumlah pendapatan yang dihasilkan perusahaan, maka semakin besar juga skala perusahaannya.
Umur Perusahaan
Umur perusahaan adalah rentang waktu hidup suatu perusahaan dalam
melakukan kegiatan usahanya. Dengan kata lain, umur perusahaan menunjukkan lamanya suatu perusahaan menjalankan kegiatan operasinya dari sejak awal berdiri hingga saat ini. Umur menunjukkan kualitas pola pikir dan kemampuan pemilik usaha dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Umur perusahaan juga dapat menggambarkan potensi dan tingkat kedewasaan yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang telah lama berdiri merupakan salah satu indikasi bahwa usaha tersebut mengalami perkembangan. Perusahaan yang telah lama berdiri juga akan belajar dari pengalamannya selama ini maupun dari pengalaman orang lain sehingga kualitas perusahaan semakin baik. Hal tersebut dapat diketahui melalui kemampuan perusahaan dalam menciptakan strategi dan langkah yang tepat untuk bisa bertahan ditengah situasi yang penuh ketidakpastian dimasa depan.
Pelatihan Akuntansi
Pelatihan merupakan salah satu proses belajar untuk meningkatkan keahlian seseorang agar memiliki kualitas dalam melakukan pekerjaan secara efektif dan efisien untuk saat ini atau masa depan. Pelatihan mengenai akuntansi ditujukan agar pemilik usaha atau manajer memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan perusahaan. Tujuan diadakan pelatihan akuntansi adalah untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai konsep, prinsip dasar, dan pengetahuan akuntansi yang diperlukan dalam menganalisis data akuntansi.
Pemahaman yang benar mengenai akuntansi membantu seseorang untuk menyusun laporan keuangan yang berguna bagi perusahaan.
Pengetahuan Akuntansi
7 Pengetahuan akuntansi diartikan sebagai pengetahuan mengenai proses pencatatan, pengidentifikasian, penggolongan, hingga pelaporan keuangan suatu perusahaan.
Pengetahuan akuntansi didapat dari proses belajar yang menimbulkan pemahaman yang tepat mengenai akuntansi. Pengetahuan akuntansi diperlukan agar individu mampu mengolah kejadian atau transaksi ekonomi dan menyajikan laporan keuangan yang beguna dalam pengambilan keputusan strategis bagi perusahaan.
Bonner & Walker (1994) dan Spilker (1995) berpendapat bahwa pengetahuan akuntansi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Pengetahuan deklaratif, adalah pengetahuan seseorang tentang fakta-fakta berdasarkan konsep.
Contoh: mengetahui persamaan dasar akuntansi, penempatan kas yang merupakan bagian dari aktiva lancar.
2) Pengetahuan prosedural, adalah pengetahuan yang konsisten dengan aturan atau standar yang berlaku.
Pengetahuan ini terdiri dari tahapan sistematis diantaranya: input (masukan), proses sistematis, merupakan aktivitas utama yang terjadi pada proses akuntansi, dan output (keluaran).
Gambar Rerangka Teoritis
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi pada UMKM
Berdasarkan teori Knowledge Based View (KBV), sumber daya manusia dalam hal ini pelaku usaha memiliki peran penting untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Nilai tambah ini diperoleh jika pemilik atau manajer memiliki kemampuan intelektual yang baik, salah satunya didapatkan dari bangku pendidikan. Pendidikan membantu pemilik atau manajer dalam mengelola usahanya berdasarkan ilmu dan keterampilan yang didapat dari pendidikan formal yang pernah Ia tempuh. Tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi kelangsungan UMKM melalui Pelaku usaha yang mempunyai pendidikan yang baik akan lebih memperhatikan penggunaan informasi akuntansi karena dapat menunjang keberhasilan usahanya.
Sitoresmi (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal yang rendah menghasilkan tingkat penggunaan informasi akuntansi pada UMKM juga rendah, begitu juga sebaliknya jika dibandingkan tingkat pendidikan formal yang tinggi (perguruan tinggi). Ini dikarenakan materi akuntansi lebih dalam dan luas diajarkan di perguruan tinggi dibandingkan pendidikan formal dibawahnya. Penelitian ini sejalan dengan temuan studi yang dilakukan Firmansyah (2014), Novianti et al.
(2018), dan Ramadhani et al. (2018) yang menyatakan bahwa pendidikan pemilik berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi pada usaha kecil.
H1: Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM
8 Pengaruh Skala Usaha terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi pada UMKM
Skala usaha besar
megindikasikan bahwa kegiatan operasional dan aktivitas bisnis perusahaan semakin meningkat.
Tingginya transaksi juga mengakibatkan adanya penambahan jumlah tenaga kerja.
Berdasarkan teori Resource Based Theory (RBT), perusahaan harus dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki agar mampu menghasilkan kualitas SDM yang baik. SDM yang berkualitas akan menciptakan keunggulan kompetitif bagi perusahaan.
Kompleksitas pada perusahaan mendorong pemilik atau manajer berpikir untuk menentukan kebijakan dan keputusan yang tepat dimasa depan.
Oleh karena itu, ukuran perusahaan yang besar seharusnya lebih membutuhkan banyak informasi dalam menjalankan kelangsungan usahanya, salah satunya adalah penggunaan informasi akuntansi.
Fitriyah (2006), Astuti (2007), Sitoresmi (2013), Hadi et al. (2013), dan Firmansyah (2014) dalam penelitiannya membuktikan bahwa kontribusi skala usaha dalam penggunaan informasi akuntansi cukup tinggi, sehingga meningkatnya skala usaha memberikan dampak juga pada peningkatan penggunaan informasi akuntansi.
H2: Skala usaha berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM
Pengaruh Umur Perusahaan terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi pada UMKM
Usaha yang telah beroperasi sejak lama mengindikasikan bahwa perusahan mampu bertahan di tengah persaingan bisnis yang sulit. Usia perusahaan secara tidak langsung berpengaruh terhadap pola pikir pemilik
atau manajer dalam melakukan suatu tindakan, karena telah memiliki banyak pengalaman selama menjalankan usaha.
Perusahaan berkembang cenderung mengalami peningkatan aktivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan yang baru berdiri, sehingga informasi akuntansi perlu disiapkan dengan baik. Berdasarkan teori stakeholder, lamanya usaha berdiri memberikan kesadaran bahwa perusahaan harus memberikan manfaat bagi para pemangku kepentingan. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan informasi akuntansi pada usahanya. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan potensi UMKM dalam mengelola keuangan perusahaan sehingga menumbuhkan kepercayaan stakeholder pada UMKM.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sitoresmi (2013) menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Ramadhani et al. (2018) yang mengatakan bahwa usaha yang telah beroperasi lama akan menyadari peran penggunaan informasi akuntansi dalam sebuah usaha. Lebih lanjut, studi ini menyatakan bahwa usia perusahaan yang semakin lama membuat pemanfaatan informasi akuntansi lebih sering digunakan khususnya dalam hal pengambilan keputusan strategis perusahaan (Ramadhani et al., 2018).
H3: Umur perusahaan berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM
Pengaruh Pelatihan Akuntansi terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi pada UMKM
Berdasarkan teori Resource Based Theory (RBT), perusahaan kompetitif akan berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia nya, salah
9 satu nya dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan akuntansi, memberikan keterampilan, atau memberikan pengajaran mengenai praktik akuntansi yang baik dan benar.
Pelatihan akuntansi yang diikuti memberikan pemahaman yang benar mengenai informasi akuntansi, sehingga dapat bermanfaat dalam mengambil keputusan yang bijak ke depan. Pemilik atau manajer yang sering mengikuti pelatihan akuntansi cenderung lebih mampu mengolah transaksi ekonomi dalam waktu yang singkat karena telah menguasai teknis akuntansi secara keseluruhan, dibandingkan dengan yang tidak pernah mengikuti pelatihan.
Penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2007), Sitoresmi (2013), Hadi et al. (2013), Firmansyah (2014), Novianti et al. (2018), dan Ramadhani et al.
(2018) mengungkapkan bahwa pelatihan akuntansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Hal ini membuktikan bahwa semakin sering pelaku UMKM mengikuti pelatihan akuntansi maka akan semakin baik juga penggunaan informasi akuntansi pada UMKM. Sitoresmi (2013) mengatakan bahwa manajer yang sering ikut dalam pelatihan akuntansi diindikasikan lebih banyak menghasilkan informasi akuntansi statutori, anggaran, dan tambahan daripada yang tidak pernah atau jarang mengikuti pelatihan.
H4: Pelatihan akuntansi berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM
Pengaruh Pengetahuan Akuntansi terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi pada UMKM
Pengetahuan yang benar dalam akuntansi memiliki peran penting dan memberikan banyak manfaat dalam penggunaan informasi akuntansi.
Motivasi dalam belajar akuntansi akan membantu pemilik atau manajer untuk melihat akuntansi sebagai bagian dari kegiatan usahanya sehingga mampu memberikan informasi yang relevan dalam hal pengambilan keputusan ekonomi. Berdasarkan teori Knowledge Based View (KBV), pengetahuan memegang makna yang paling strategis di perusahaan. Pemilik atau manajer yang mempunyai pengetahuan akuntansi dengan baik mampu menganalisis bagaimana cara mengintegrasikan akuntansi yang dibutuhkan oleh manajemen dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Fitriyah (2006) mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan akuntansi yang dimiliki pemilik UMKM berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi.
Semakin tinggi tingkat pengetahuan akuntansi pemilik UMKM maka semakin baik juga pemahaman mereka akan pentingnya penerapan informasi akuntansi dalam suatu usaha.
H5: Pengetahuan akuntansi berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang menggunakan data berupa angka (numerik) dan diolah dengan metode statistika. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang menguji hubungan sebab-akibat diantara variabel. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis dari hasil penelitian sebelumnya dengan tujuan untuk memperkuat atau menolak teori atau hipotesis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-
10 faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi pada UMKM.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data diperoleh langsung dari responden atas jawaban kuesioner yang disebarkan kepada pelaku UMKM. Data primer dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh informasi mengenai tingkat pendidikan (X1), skala usaha (X2), umur perusahaan (X3), pelatihan akuntansi (X4), dan pengetahuan akuntansi (X5).
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan metode survei dengan penggunaan instrumen kuesioner.
Peneliti akan mendistribusikan kuesioner dengan datang langsung kepada pemilik UMKM di kota Tangerang yang menjadi objek penelitian ini. Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup yang disajikan dengan serangkaian alternatif dan responden cukup memberi tanda silang, melingkar ataupun mencentang (sesuai permintaan) pada jawaban yang disediakan.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang menjadi objek dalam penelitian ini meliputi seluruh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berada di kota Tangerang. Data UMKM diperoleh dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten yang menunjukkan jumlah UMKM kota Tangerang tahun 2018 sebanyak 11.746 unit. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode simple random sampling, dimana seluruh individu dalam populasi digambarkan mempunyai suatu kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel. Pemilihan sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
Keterangan:
n = ukuran sampel N = ukuran populasi
D = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir
Jadi dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel sebesar:
n = 99,15 dibulatkan menjadi 100
Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dan indikator pengukuran variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Penggunaan informasi akuntansi (Y)
Holmes & Nicholls (1988) mengklasifikasikan informasi akuntansi kedalam tiga jenis berbeda menurut manfaatnya bagi pemakai, yaitu: informasi akuntansi statutori, informasi akuntansi anggaran, informasi akuntansi tambahan. Variabel ini diukur melalui tiga belas dengan menggunakan skala likert antara satu sampai lima sebagai berikut:
skor 1: sangat tidak setuju (STS), skor 2: tidak setuju (TS), skor 3:
netral (N), skor 4: setuju (S), dan skor 5: sangat setuju (SS).
b. Tingkat Pendidikan (X1)
Pendidikan diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal terakhir yang pernah ditempuh pemilik atau manajer.
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tingkat pendidikan yang didapat dari bangku sekolah, diantaranya:
11 Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Diploma, dan Sarjana atau Pascasarjana.
Variabel ini diukur dengan skala ordinal dengan pemberiaan kode satu sampai lima sebagai berikut:
kode 1: SD, kode 2: SMP, kode 3:
SMA, kode 4: Diploma, dan kode 5:
Sarjana atau Pascasarjana.
c. Skala Usaha (X2)
Holmes & Nicholls (1988) menyatakan bahwa skala usaha dapat diukur melalui: jumlah aset yang dimiliki, jumlah karyawan yang dipekerjakan, dan jumlah pendapatan yang diperoleh selama satu periode akuntansi. Variabel ini diukur dengan skala ordinal melalui tiga pertanyaan dengan pilihan jawaban 1-4.
d. Umur perusahaan (X3)
Umur perusahaan merupakan usia atau lamanya usaha tersebut beroperasi. Variabel ini diukur berdasarkan lamanya perusahan tersebut berdiri sejak awal (dalam tahun) hingga penelitian ini dilakukan (Astuti, 2007).
e. Pelatihan Akuntansi (X4)
Astuti (2007) menyebutkan bahwa pelatihan akuntansi dapat diukur dengan: keikutsertaan responden dalam pelatihan, perlunya pelatihan sesuai bidang usaha untuk meningkatkan kinerja, kesediaan mengikuti pelatihan, dan penilaian penting untuk memperbaiki kinerja Variabel ini diukur melalui dua belas dengan menggunakan skala likert antara satu sampai lima sebagai berikut: skor 1: sangat tidak setuju (STS), skor 2: tidak setuju (TS), skor 3: netral (N), skor 4:
setuju (S), dan skor 5: sangat setuju (SS).
f. Pengetahuan Akuntansi (X5)
Indikator pengetahuan akuntansi menggunakan dua dimensi pengukuran yang biasanya digunakan, diantaranya adalah:
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural (Bonner &
Walker, 1994; Spilker, 1995).
Variabel ini diukur melalui dua belas pertanyaan yang terdiri dari enam pertanyaan mengenai pengetahuan deklaratif dan enam pertanyaan mengenai pengetahuan prosedural dengan menggunakan skala likert antara satu sampai lima sebagai berikut: skor 1: sangat tidak setuju (STS), skor 2: tidak setuju (TS), skor 3: netral (N), skor 4:
setuju (S), dan skor 5: sangat setuju (SS).
Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian kualitas instrumen penelitian, yaitu uji validitas dan uji reliabilitas; uji asumsi klasik, yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas;
analisis regresi berganda, yaitu uji koefisien determinasi, uji f, dan uji t dengan alat bantu SPSS.
Hipotesis dalam penelitian ini diuji menggunakan model regresi linear berganda. Analisis regresi linier berganda merupakan suatu metode yang berfungsi untuk mencari pengaruh dari dua atau lebih variabel independen (X1, X2,…, Xa) dengan variabel independen (Y). Persamaan dari analisis regresi linier berganda adalah:
Y = α + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 +ɛ ... (1) dimana:
Y = Penggunaan Informasi Akuntansi X1 = Tingkat Pendidikan
X2 = Skala Usaha X3 = Umur Perusahaan X4 = Pelatihan Akuntansi
12 X5 = Pengetahuan Akuntansi
α = Konstanta
b = Koefisien regresi untuk masing- masing variabel independen
ɛ = standard error
HASIL DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif untuk setiap variabel dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tingkat Pendidikan
Tingkat
Pendidikan Frekuensi Persentase
SD 0 0%
SMP 24 24%
SMA 27 27%
Diploma 31 31%
Sarjana 18 18%
Jumlah 100 100%
Skala Usaha
Jumlah
nilai Kategori Frekuensi Persentase 1 – 3 Usaha
Mikro 55 55%
4 – 6 Usaha
Kecil 45 45%
> 6 Usaha
Menengah 0 0%
Total 100 100%
Umur Perusahaan
Umur
Perusahaan Frekuensi Persentase
0 – 5 tahun 46 46%
6 – 10 tahun 29 29%
11 – 15 tahun 23 23%
> 15 tahun 2 2%
Jumlah 100 100%
Berdasarkan tabel diatas, terlihat statistik deskriptif untuk variabel tingkat pendidikan, responden dengan pendidikan terbanyak adalah Diploma sebanyak 31 orang (31%), dan paling sedikit berpendidikan Sarjana sebanyak 18 orang (18%). Variabel skala usaha, responden terbanyak berada dalam
kategori usaha Mikro sebanyak 55 UMKM (55%), dan paling sedikit termasuk kategori usaha kecil sebanyak 45 UMKM (45%). Variabel umur perusahaan, diketahui bahwa sebagian besar UMKM telah berdiri selama kurang dari lima tahun yaitu sebanyak 46 UMKM (46%), dan paling sedikit UMKM yang telah berdiri selama lebih dari 15 tahun, yaitu sebanyak 2 UMKM (2%).
Pelatihan Akuntansi, Pengetahuan Akuntansi, dan Penggunaan
Informasi Akuntansi
N Mean Std.
Deviasi Min Max Pelatihan
Akuntansi 100 11,8200 3,31930 6,00 18,00 Pengetahuan
Akuntansi 100 29,8100 12,52609 11,00 55,00 Penggunaan
Informasi Akuntansi
100 39,0200 10,49770 20,00 60,00
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui pelatihan akuntansi memiliki nilai minimum sebesar 6 dan nilai maksimum sebesar 18. Standar deviasi untuk pengetahuan akuntansi sebesar 3,31930 lebih kecil daripada rata-ratanya yaitu sebesar 11,8200. Hal ini menunjukkan bahwa variasi dari data pelatihan akuntansi cukup rendah. Pengetahuan akuntansi memiliki nilai minimum sebesar 11 dan nilai maksimum sebesar 55. Standar deviasi untuk pengetahuan akuntansi sebesar 12,52609 lebih kecil daripada rata-ratanya yaitu sebesar 29,8100. Hal ini menunjukkan bahwa variasi dari data pengetahuan akuntansi cukup rendah. Penggunaan informasi akuntansi memiliki nilai minimum sebesar 20 dan nilai maksimum sebesar 60. Standar deviasi untuk penggunaan informasi akuntansi pada UMKM sebesar 10,49770 lebih kecil daripada mean yaitu sebesar 39,0200. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman data
13 penggunaan informasi akuntansi rendah dan data terdistribusi secara normal.
Uji Instrumen Penelitia a. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kevalidan suatu alat ukur. Suatu instrumen disebut valid jika dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Penentuan valid atau tidaknya instrumen dilihat dari perbandingan nilai r-hitung dengan nilai r-tabel. Jika r-hitung lebih besar dari r-tabel pada taraf signifikansi 5%, maka alat ukur atau instrumen yang digunakan adalah valid. Berikut merupakan hasil uji validitas dalam penelitian ini yang dilakukan terhadap item-item pertanyaan variabel pelatihan akuntansi, pengetahuan akuntansi, dan penggunaan informasi akuntansi yang disajikan melalui tabel dibawah ini:
Uji Validitas Pelatihan Akuntansi
No Butir
Pertanyaan Rhitung Rtabel Ket 1 PLA1 0,760 0,195 Valid 2 PLA2 0,876 0,195 Valid 3 PLA3 0,890 0,195 Valid 4 PLA4 0,855 0,195 Valid
Uji Validitas Pengetahuan Akuntansi
No Butir
Pertanyaan Rhitung Rtabel Ket
1 PA1 0,903 0,195 Valid
2 PA2 0,932 0,195 Valid
3 PA3 0,916 0,195 Valid
4 PA4 0,870 0,195 Valid
5 PA5 0,921 0,195 Valid
6 PA6 0,905 0,195 Valid
7 PA7 0,851 0,195 Valid
8 PA8 0,869 0,195 Valid
9 PA9 0,845 0,195 Valid
10 PA10 0,880 0,195 Valid 11 PA11 0,844 0,195 Valid
Uji Validitas Penggunaan Informasi Akuntansi
No Butir
Pertanyaan Rhitung Rtabel Ket
1 PIA1 0,777 0,195 Valid
2 PIA2 0,808 0,195 Valid
3 PIA3 0,705 0,195 Valid
4 PIA4 0,648 0,195 Valid
5 PIA5 0,686 0,195 Valid
6 PIA6 0,613 0,195 Valid
7 PIA7 0,609 0,195 Valid
8 PIA8 0,786 0,195 Valid
9 PIA9 0,852 0,195 Valid
10 PIA10 0,859 0,195 Valid
11 PIA11 0,609 0,195 Valid
12 PIA12 0,649 0,195 Valid
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa seluruh item pertanyaan pelatihan akuntansi, pengetahuan akuntansi, dan penggunaan informasi akuntansi telah memenuhi kriteria validitas.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat diandalkan atau dapat dipercaya. Suatu instrumen dikatakan reliable jika jawaban terhadap pernyataan seseorang konsisten dari waktu ke waktu.
Pengujian ini menggunakan metode Cronbach’s Alpha. Jika nilai Cronbach’s Alpha (α) lebih besar dari 0,60 maka variabel tersebut dikatakan reliabel. Berikut merupakan hasil uji reliabilitas yang disajikan melalui tabel dibawah ini:
Uji Reliabilitas
No Variabel Cronbach’s
Alpha Ket
1 Pelatihan
Akuntansi 0,867 Reliabel 2 Pengetahuan
Akuntansi 0,972 Reliabel 3
Penggunaan Informasi Akuntansi
0,915 Reliabel
14 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel pelatihan akuntansi, pengetahuan akuntansi, dan penggunaan informasi akuntansi memiliki koefisien Cornbach’s Alpha diatas 0,60. Dengan demikian, variabel instrumen penelitian dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk data penelitian.
Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data berdistribusi normal atau tidak.
Normalitas dalam penelitian ini dapat dilihat melalui kurva normal P-Plot dan nilai dari Kolmogrov- Smirnov. Berikut merupakan hasil uji normalitas yang disajikan melalui gambar dan tabel dibawah ini:
Diagram P-Plot
Kolmogorov-Smirnov Unstandardized
residual
N 100
Sig. 0,200
Berdasarkan gambar dan tabel diatas, diketahui bahwa titik-titik data menyebar mengikuti arah garis diagonal dan nilai Asymp. Sig (2- tailed) sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi ini memenuhi asumsi
normalitas (data berdistribusi normal).
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji ada tidaknya hubungan antar masing- masing variabel independen dalam model regresi. Multikolinearitas yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat melalui nilai tolerance dan Variation Inflation Factor (VIF). Apabila nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi
tersebut bebas dari
multikolinearitas. Berikut
merupakan hasil uji
multikolinearitas:
Uji Multikolinearitas Variabel Tolerance VIF
Tingkat
Pendidikan 0,143 6,989 Skala Usaha 0,161 6,207
Umur
Perusahaan 0,791 1,264 Pelatihan
Akuntansi 0,119 8,424 Pengetahuan
Akuntansi 0,505 1,981
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut memenuhi asumsi multikolinearitas atau dengan kata lain bebas dari multikolinearitas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk melihat ketidaksamaan varians dari residual pengamatan yang satu ke pengamatan yang lain. Untuk
15 mendeteksi heterokedastistisitas, digunakan uji glesjer. Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka model regresi tersebut bebas dari heteroskedastisitas. Berikut
merupakan hasil uji
heteroskedastisitas.
Uji Heteroskedastisitas Variabel Sig.
Tingkat Pendidikan 0,598 Skala Usaha 0,175 Umur Perusahaan 0,891 Pelatihan Akuntansi 0,061 Pengetahuan Akuntansi 0,454
Berdasarkan tabel diatas, diketahui seluruh variabel independen memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi.
Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh antara variabel independen yaitu tingkat pendidikan (X1), skala usaha (X2), umur perusahaan (X3), pelatihan akuntansi (X4), dan pengetahuan akuntansi (X5) terhadap variabel dependen yaitu penggunaan informasi akuntansi (Y).
Berikut tabel persamaan regresi:
Persamaan Regresi
Unstandardized Coefficients (B)
Konstanta 1,444
Tingkat Pendidikan 4,478 Skala Usaha 1,820 Umur Perusahaan 1,079 Pelatihan Akuntansi 0,946
Pengetahuan
Akuntansi 0,075
Berdasarkan hasil uji regresi, persamaan yang diperoleh ialah:
Y = 1,444 + 4.478X1 + 1,820X2 + 1,079X3 + 0,946X4 + 0,075X5 + ɛ
a. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) dilakukan untuk mengetahui kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen secara bersamaan. Berikut merupakan hasil uji koefisien determinasi:
Koefisien Determinasi
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std.
Error of the Estimate 1 0,978 0,956 0,953 2,26886
Berdasarkan tabel diatas, diketahui nilai R2 adalah 0,956. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu tingkat pendidikan, skala usaha, umur perusahaan, pelatihan akuntansi, dan pengetahan akuntansi dapat mempengaruhi variabel dependen yaitu penggunaan informasi akuntansi sebesar 95,6%. Sedangkan sisanya sebesar 4,4% dapat dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
b. Uji f
Uji F dalam analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas (X) secera serempak (simultan) berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y). Berdasarkan tabel dibawah ini, diketahui nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari significance level (0,05).
Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara simultan. Oleh karena itu, penelitian ini menerima hipotesis alternatif yaitu terdapat
16 pengaruh antara tingkat pendidikan, skala usaha, umur perusahaan, pelatihan akuntansi, dan pengetahuan akuntansi secara bersamaan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Berikut merupakan hasil uji f:
Uji F
ANOVA
Model Sum of Squares Df
Mea n Squa
re
F Sig.
1
Regression 10426,073 5 2085, 215
405,0 75 0,000 Residual 483,887 94 5,148
Total 10909,960 99
a. Dependent Variable: Penggunaan Informasi Akuntansi (Y) b. Predictors: (Consant), Skala Usaha, Pelatihan Akuntansi,
Umur Perusahaan, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan Akuntansi
c. Uji t
Uji t dilakukan untuk melihat seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, apabila variabel independen lainnya dianggap konstan (tetap). Berikut merupakan hasil uji t yang digunakan untuk menguji hipotesis:
Uji t
Hipotesis Variabel t Sig.
H1 Tingkat
Pendidikan 7,777 0,000 H2 Skala Usaha 3,223 0,002
H3 Umur
Perusahaan 3,625 0,000 H4 Pelatihan
Akuntansi 4,744 0,000 H5 Pengetahuan
Akuntansi 2,932 0,004
Berdasarkan tabel diatas, hasil uji t adalah sebagai berikut:
1. Nilai signifikansi variabel tingkat pendidikan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05.
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima,
artinya tingkat pendidikan (X1) berpengaruh signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi (Y).
2. Nilai signifikansi variabel skala usaha sebesar 0,002 lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya skala usaha (X2) berpengaruh signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi (Y).
3. Nilai signifikansi variabel umur perusahaan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya umur perusahaan (X3) berpengaruh signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi (Y).
4. Nilai signifikansi variabel pelatihan akuntansi sebesar 0,000 lebih besar dari 0,05.
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya pelatihan akuntansi (X4) berpengaruh signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi (Y).
5. Nilai signifikansi variabel pengetahuan akuntansi sebesar 0,004 lebih kecil dari 0,05.
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya pengetahuan akuntansi (X5) berpengaruh signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi (Y).
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi
Hasil studi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang
17 dilakukan oleh Sitoresmi (2013), Firmansyah (2014) dan Novianti et al.
(2018). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori Knowledge Based View (KBV) yang menjelaskan hubungan pendidikan pemilik atau manajer terhadap penggunaan informasi akuntansi. Teori ini menyatakan bahwa faktor yang menciptakan keunggulan kompetitif berasal dari pengetahuan dan informasi yang dimiliki perusahaan, salah satunya diperoleh dari pendidikan formal.
Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh, maka semakin tinggi juga pengetahuan intelektual yang dimiliki. Pemilik atau manajer yang memiliki tingkat pendidikan formal (tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) rendah menghasilkan penggunaan informasi akuntansi pada UMKM juga rendah, dibandingkan dengan pemilik atau manajer yang memiliki tingkatan pendidikan formal yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena materi akuntansi lebih luas dan dalam diberikan di perguruan tinggi. Berdasarkan ilmu dan pengajaran yang didapat, pemilik atau manajer UMKM akan lebih memahami peran penting penggunaan informasi akuntansi sehingga dapat menunjang keberhasilan UMKM.
Pengaruh Skala Usaha terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi
Hasil studi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa skala usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriyah (2006), Astuti (2007), Sitoresmi (2013), dan Firmansyah (2014). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori Resource Based Theory (RBT) yang menjelaskan hubungan skala usaha
diukur melalui karyawan yang dipekerjakan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor penting perusahaan dalam memenangkan persaingan dalam dunia bisnis.
Karyawan dengan pengetahuan, skill, dan kemampuan yang baik akan mampu menghasilkan produk barang yang berkualitas, sehingga menunjuang keberhasilan perusahaan. Oleh karena itu, ukuran perusahaan yang besar seharusnya lebih membutuhkan banyak informasi dalam menjalankan kelangsungan usahanya, salah satunya adalah penggunaan informasi akuntansi.
Skala usaha dapat dilihat dari tingkat kompleksitas dan jumlah transaksi yang dimiliki perusahaan.
Semakin tinggi skala usaha, maka aktivitas perusahaan semakin kompleks, dan jumlah transaksi yang dimiliki juga semakin tinggi. Besarnya skala usaha mendorong pemilik atau manajer untuk berpikir maju kedepan dan menyadari pentingnya penggunaan informasi akuntansi. Kebutuhan informasi akuntansi semakin diperlukan oleh pemilik atau manajer dalam membantu mengambil keputusan yang tepat bagi UMKM.
Pengaruh Umur Perusahaan terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi
Hasil studi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa umur perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Sitoresmi (2013) dan Ramadhani et al. (2018). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori stakeholder yang menjelaskan hubungan umur perusahaan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Kelangsungan hidup sebuah perusahaan tergantung pada dukungan dari para stakeholder
18 atau pihak lain yang berkepentingan terhadap perusahaan. Semakin kuat peran stakeholder maka semakin besar usaha perusahaan untuk dapat menyesuaikan diri. Umur perusahaan
yang semakin bertambah
mengindikasikan bahwa pemilik atau manajer lebih menyadari bahwa perusahaan harus memberikan manfaat bagi stakeholders. Cara yang dapat dilakukan oleh UMKM adalah dengan menyediakan lebih banyak informasi akuntansi pada usahanya. Pengalaman menjalankan usaha selama beberapa tahun membuat penggunaan informasi akuntansi semakin dibutuhkan oleh perusahaan untuk dapat meningkatkan kepercayaan dan sesuai dengan yang diharapkan oleh para stakeholders.
Pengaruh Pelatihan Akuntansi terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi
Hasil studi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pelatihan akuntansi berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2007), Sitoresmi (2013), Hadi et al. (2013), Firmansyah (2014), Novianti et al. (2018), dan Ramadhani et al., 2018). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori Resource Based Theory (RBT) yang menjelaskan hubungan pelatihan akuntansi dan penggunaan informasi akuntansi. Teori ini mengatakan bahwa perusahaan kompetitif dicerminkan dari kualitas sumber daya manusia-nya. Perusahaan yang sering memberikan pelatihan akuntansi akan meningkatkan kemampuan dan keahlian dalam menerapkan penggunaan informasi akuntansi. Sumber daya manusia yang berkualitas akan memberikan nilai positif kepada perusahaan dan mencapai keunggulan bersaing.
Pelatihan akuntansi dapat mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi pada UMKM. Pemilik atau manajer yang sering mengikuti pelatihan akuntansi akan meningkatkan kinerja mereka dalam mengelola keuangan perusahaan dan kemampuan mereka dalam menyusun laporan keuangan yang berguna bagi perusahaan. Manajer yang sering ikut dalam pelatihan akuntansi diindikasikan lebih banyak menghasilkan informasi akuntansi statutori, anggaran, dan tambahan daripada yang tidak pernah atau jarang mengikuti pelatihan (Sitoresmi, 2013).
Pengaruh Pengetahuan Akuntansi terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi
Hasil studi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pengetahuan akuntansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi.
Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriyah (2006). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori Knowledge Based View (KBV) yang menjelaskan hubungan pengetahuan akuntansi dengan penggunaan informasi akuntansi. Teori ini mengatakan bahwa pengetahuan dianggap sebagai hal penting yang harus dimiliki seseorang dalam penciptaan nilai bagi perusahaan. Dalam hal ini ada pengetahuan akuntansi dibutuhkan untuk menciptakan value-added bagi perusahaan.
Pengetahuan akuntansi dapat dilihat dari kemampuan pemilik atau manajer dalam melakukan proses pencatatan hingga pelaporan keuangan perusahaan. Atau dapat dikatakan bahwa praktik akuntansi mencerminkan tingkat pengetahuan akuntansi pemiliki atau manajer. Semakin baik pengetahuan akuntansi pemilik atau manajer, maka semakin baik juga kemampuan pemilik
19 atau manajer dalam menggunakan informasi akuntansi pada UMKM.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen, yaitu tingkat pendidikan, skala usaha, umur perusahaan, pelatihan akuntansi, dan pengetahuan akuntansi berpengaruh positif terhadap variabel dependen yaitu penggunaan informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Tangerang. Hal ini berarti semakin tinggi pendidikan formal yang pernah ditempuh, maka semakin baik juga kemampuan intelektual yang dimiliki pemilik atau manajer dalam memahami peran penting penggunaan informasi akuntansi pada UMKM.
Semakin besar skala usaha, maka aktivitas perusahaan semakin banyak dan kompleks, sehingga kebutuhan akan informasi akuntansi semakin diperlukan.
Perusahaan yang sudah lama berdiri mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut dapat bertahan ditengah ketidakpastian lingkungan saat ini. Hal tersebut yang memberikan kesadaran pada pemilik atau manajer bahwa penggunaan informasi akuntansi memiliki peran yang cukup penting dalam menunjang keberhasilan usaha.
Semakin sering pemilik usaha atau manajer UMKM mengikuti pelatihan akuntansi maka semakin mendorong mereka untuk mau memanfaatkan informasi akuntansi pada usahanya.
Pemilik atau manajer yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai akuntansi menunjukkan bahwa mereka lebih mampu memahami penggunaan informasi akuntansi, mulai dari menganalisis transaksi ekonomi hingga mampu membuat laporan keuangan.
Riset yang dilakukan peneliti masih memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, yaitu sampel yang
digunakan relatif masih sedikit dan terbatas hanya pada UMKM di Kota Tangerang. Selain itu, cakupan responden yang menjadi sampel penelitian ini didominasi oleh UMKM yang tergolong kategori usaha mikro dan usaha kecil saja, sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi dengan luas.
Berdasarkan keterbatasan yang ada, bagi peneliti yang ingin melakukan studi dengan topik yang sama, diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan menambah sampel dan memperluas daerah penelitian, tidak hanya di Tangerang, namun dapat mencakup beberapa daerah yang memiliki potensi UMKM lebih besar.
Selain itu, kuesioner yang disebarkan diharapkan mencakup seluruh kategori UMKM, terutama kategori usaha menengah, sehingga hasil penelitiannya pun dapat memberikan gambaran UMKM secara keseluruhan dan dapat ditarik kesimpulan yang lebih kuat.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, E. (2007). Pengaruh Karakteristik Internal Perusahaan terhadap Penyiapan dan Penggunaan Informasi Akuntansi Perusahaan Kecil dan Menengah di Kabupaten Kudus. Skripsi.
Universitas Diponegoro.
Bonner, S. E., & Walker, P. L. (1994).
The Effects of Instruction and Experience on the Acquisition of Auditing Knowledge. The Accounting Review. Vol. 69 No. 1.
Hal. 157–178.
Firmansyah, R. A. (2014). Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Sistem Informasi Akuntansi pada Usaha Kecil dan Menengah di Kota Malang. Vol. 2
20 No. 2. Diakses dari http://repository.ub.ac.id/id/eprint/1 07218
Fitriyah, H. (2006). Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Informasi Akuntansi pada Usaha Menengah Kabupaten Sidoarjo. Tesis. Universitas Airlangga.
Grant, R. M. (1991). The Resource- Based Theory of Competitive Advantage: Implications for Strategy Formulation. California Management Review. Vol. 33 No.
3. Hal. 114–135.
Hadi, A. P., Putri, N. K., &
Faturokhman, A. (2013). Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Informasi Akuntansi Pada Usaha Kecil Dan Menengah.
Diponegoro Journal of Accounting.
Vol. 2 No. 4. Hal. 246–258.
Holmes, S., & Nicholls, D. (1988). An Analysis of the Use of Accounting Information by Australian Small Business - ProQuest. Journal of Small Business Management. Vol.
26 No. 2. Hal. 57-68.
Kementerian Koperasi dan UMKM.
(2018). Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2018-
2019. Diakses dari
https://www.kemenkopukm.go.id/d ata-umkm
Novianti, D., Mustika, I. W., & Eka, L.
H. (2018). Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pelatihan Akuntansi, Umur Usaha Dan Skala Usaha Pelaku UMKM Terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi Di Kecamatan Purwokerto Utara.
Jurnal Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi (JEBA). Vol. 20 No. 3.
Hal. 1–14.
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Diakses dari https://peraturan.bpk.go.id/Home/D etails/161837/pp-no-7-tahun-2021 Ikatan Akuntan Indonesia. (2015).
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 1 tahun 2015 tentang Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Ramadhani, F. R., Lestari, P., & Supeno, S. (2018). Pengaruh Pendidikan Pemilik, Masa Memimpin, Umur Perusahaan, Pelatihan Akuntansi, Dan Ekspektasi Kinerja Terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi Pada Ukm Di Kabupaten Malang.
SAR : Journal of Accounting and Business. Vol. 3 No. 1. Hal. 86-99.
Sitoresmi, L. D. (2013). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan (Studi Pada Kub Sido Rukun Semarang). Diponegoro Journal of Accounting. Vol. 2 No. 3. Hal. 1–
13.
Spilker, B. C. (1995). The Effects of Time Pressure and Knowledge on Key Word Selection Behavior in Tax Research. The Accounting Review. Vol. 70 No. 1. Hal. 49–70.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Diakses dari
https://jdih.bpk.go.id/wp-
content/uploads/2012/03/UU_no_2 0_th_2003.pdf
Wernerfelt, B. (1984). A Resource Based View of the Firm. Strategic Management Journal. Vol. 5 No. 2.
Hal. 171–180.