• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kabupaten/kotamadya didaerah kerja PPAT

N/A
N/A
Manunggal Jaya

Academic year: 2023

Membagikan "Kabupaten/kotamadya didaerah kerja PPAT"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

PPAT wajib menyampaikan laporan bulanan atas akta yang dibuatnya, yang diambil dari buku daftar akta PPAT, kepada Kepala Kantor Pertanahan dan kantor lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang berlaku paling lambat tanggal 10. bulan berikutnya. Notaris diberi wewenang oleh undang-undang untuk membuat suatu akta yang mempunyai nilai pembuktian yang sempurna dan khusus. Undang-undang Hukum Perdata merupakan alat bukti yang sempurna bagi para pihak, ahli warisnya, dan orang-orang yang menerima hak darinya.”

Mengenai kedudukan Notaris dan PPAT sebagai Pejabat Umum, kriteria Jabatan Umum berdasarkan undang-undang, sehingga dalam hal ini mengacu pada ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata yang berbunyi: “Akta otentik adalah akta yang adalah dalam bentuk yang ditetapkan oleh undang-undang oleh atau di hadapan pegawai awam yang diberi kuasa untuk berbuat demikian di tempat di mana surat ikatan itu dibuat." Undang-undang perjanjian ini diatur dalam buku III KUH Perdata yang sesuai dengan undang-undang umum. Sistem terbuka ini mengandungi prinsip kebebasan berkontrak yang diringkaskan dalam Perkara 1338 ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut: "Perjanjian yang Disahkan adalah sah sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.".

Tanah tersebut diberikan untuk dipakai dan dipergunakan oleh orang-orang dengan hak-hak yang ditetapkan dalam Undang-Undang Pokok Agraria. Badan-badan tanah, air, dan ruang angkasa yang bersangkutan bukanlah milik pemegang hak atas tanah yang bersangkutan, tetapi ia dapat memanfaatkannya hanya dengan pembatasan-pembatasan, sebagaimana tercantum dalam ayat 2 Pasal 4 UUPA, bahwa “mereka adalah hanya diperlukan untuk keperluan yang berhubungan langsung dengan penggunaan tanah, dalam batasan yang ditentukan oleh Undang-undang ini (yaitu UUPA) dan peraturan lain yang lebih tinggi.

Pengertian Jual Beli

Tata Cara/Proses Pembuatan Akta Jual Beli

Akta Jual Beli Rumah di atas tanah yang tidak bersertifikat tidak dapat dibuat oleh PPAT, tetapi yang diberi kuasa adalah Notaris; Perlu diketahui pula bahwa PPAT berwenang membuat akta jual beli, termasuk bangunan-bangunan di atasnya. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam jual beli tanah, yaitu subjek dan objek. Jual beli tanah yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak adalah batal, artinya sejak semula menurut undang-undang tidak pernah terjadi jual beli.

Jika terjadi penjualan tanah, namun ternyata penjual tidak berwenang menjual atau pembeli tidak berwenang membeli, padahal penjual mempunyai hak atas tanah tersebut atau pembeli mempunyai hak untuk membeli, maka sebagai berikut: akibatnya pihak yang berkepentingan dapat membatalkan penjualan tersebut, selain itu kantor pendaftaran tanah akan menolak mendaftarkan penjualan dan penjualan tersebut.37. Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah boleh tidaknya penjual menjual tanah yang akan dijadikan obyek jual beli. Peralihan hak atas tanah dengan akad jual beli dilakukan di hadapan Panitera Akta Tanah (PPAT).

Menurut undang-undang, jual beli tanah harus dilakukan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang berwenang membuat akta jual beli. Obyek jual belinya tidak hanya berupa hak atas tanah sebagaimana disebutkan di atas, tetapi dapat pula meliputi bangunan-bangunan tetap yang didirikan di atasnya, atau tanaman-tanaman tahunan (yang mempunyai umur panjang), apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. Ketiga syarat di atas merupakan penerapan asas pemisahan horizontal dalam praktek di antara para Pembuat Akta Tanah (PPAT), yang membuat akta jual beli.

Bukti kepemilikan atas obyek jual beli berupa sertifikat hak milik atas tanah atau surat-surat lainnya, untuk hak milik yaitu hak milik adat bekas yang belum ada. Harga jual beli harus dibayar lunas sebelum akta ditandatangani (konsekuensi UUPA yang berdasarkan hukum adat). Sebelum dibuat akta jual beli, pejabat yang membuat akta tanah tersebut memeriksa keaslian sertifikatnya di kantor pertanahan.

PPAT menolak membuat akta jual beli jika tanah yang akan dijual berada dalam sengketa atau dalam penitipan bank. Sebelum akta jual beli didaftarkan atau diserahkan ke kantor pertanahan setempat, pengesahan SSB harus dilakukan di kantor BBB. Kemudian, PPAT menyerahkan berkas akta jual beli tersebut kepada kantor pertanahan untuk keperluan penggantian nama sertifikat atau pembagian sertifikat.

PERALIHAN HAK ATAS TANAH KARENA JUAL BELI 1. Sebelum Berlakunya UUPA

Menurut hukum adat, jual beli tanah merupakan suatu perbuatan peralihan hak atas tanah secara jelas dan tunai. Dalam hal pembeli tidak membayar sisanya, maka penjual tidak dapat menggugat atas dasar jual beli tanah, melainkan atas dasar hutang dan piutang47. Tata cara jual beli tanah diawali dengan adanya kesepakatan antara calon penjual dan calon pembeli mengenai pokok jual beli yaitu tanah kosong yang akan dijual beserta harganya.

Jadi, fungsi deposit di sini hanya sebagai tanda bahwa kedua penjualan tersebut akan selesai. Dengan membayar di muka, pelanggan akan merasa memiliki ikatan moral untuk melakukan jual beli. Apabila para pihak tidak menggunakan hak ingkarnya, maka dapat terjadi jual beli tanah, dengan calon penjual dan calon pembeli menghadap ke hadapan kepala desa (adat) untuk menyatakan niatnya.

Pembeli kini menjadi pemegang hak baru atas tanah tersebut, dan buktinya adalah akta jual beli.48. Jual beli dalam hukum adat tidak sama dengan jual beli sebagaimana terdapat dalam pasal-pasal KUH Perdata, karena jual beli dalam hukum adat tidak serta merta mencakup peralihan hak milik, melainkan juga hak pakai atau. Jual Beli Tunai adalah suatu perjanjian jual beli tunai dimana salah satu pihak menyanggupi untuk menyerahkan barang dan pihak yang lain akan membayar harganya secara tunai. Kebanyakan perdagangannya menyangkut barang likuid atau barang ringan, sedangkan untuk barang berat atau barang/barang tidak bergerak masih menggunakan istilah tersebut. diskon gratis.

Berbeda dengan jual beli menurut KUH Perdata yang sifatnya suka sama suka dan abstrak, dimana jual beli terjadi atas persetujuan kedua belah pihak (Pasal 1458), namun hak milik atas barang tersebut tidak berpindah tanpa peralihan yang sah ( Pasal 1459). Jual beli hutang atau jual beli barang dengan hutang adalah suatu perjanjian dimana penjual menyerahkan barang dan pembeli membayarnya bukan dengan uang tunai, melainkan dengan hutang. Disebut juga sewa beli dan sewa beli, suatu perjanjian antara dua pihak, dimana salah satu pihak menyerahkan barang dan pihak yang lain berjanji akan membayar harga barang tersebut secara mencicil sampai lunas, setiap bulan dalam jangka waktu satu bulan. . jangka panjang (beberapa tahun) sesuai dengan perjanjian tertulis.

Perbedaan antara jual beli sewa dengan jual beli utang adalah, dalam jual beli utang, begitu tercapai kesepakatan, barang langsung beralih kepada pembeli sebagai miliknya dan sisa pembayarannya menjadi utang pembeli, sedangkan dalam sewa beli kesepakatan, barang segera dialihkan kepada pembeli. dalam hal jual beli, sepanjang pembayarannya belum dilakukan secara lunas, maka barang tersebut belum menjadi hak pembeli, melainkan hanya hak penguasaan dan penggunaan saja.

Jual Titip

Setelah berlakunya UUPA

Setelah berlakunya UUPA terjadilah penyatuan hukum pertanahan Indonesia sehingga hukum yang berlaku atas tanah adalah hukum pertanahan nasional dan tidak diketahui lagi bahwa tanah tunduk pada KUH Perdata atau hak atas tanah Barat dan tanah yang tunduk pada hukum pertanahan tersebut. dengan hukum adat atau hukum adat. Dalam UUPA, istilah jual beli hanya disebutkan pada Pasal 26 yang mengatur tentang jual beli hak milik atas tanah. Artikel lain tidak berbicara tentang jual beli, tetapi berbicara tentang transfer.

Yang dimaksud dengan peralihan adalah perbuatan hukum dengan sengaja memindahkan suatu hak atas tanah kepada orang lain melalui jual beli, hibah, tukar-menukar, dan pemilihan. Jadi, walaupun hanya disebut dengan peralihan, namun salah satunya adalah perbuatan hukum peralihan hak atas tanah untuk dijual. Yang dimaksud dengan jual beli itu sendiri dalam UUPA tidak dijelaskan secara jelas, namun mengingat Pasal 5 UUPA menyatakan bahwa hukum pertanahan nasional kita adalah hukum adat, maka berarti kita menggunakan konsep, asas, lembaga hukum, dan sistem hukum adat. . 51.

Pengertian jual beli tanah menurut common law adalah suatu perbuatan peralihan hak yang bersifat uang, nyata dan jelas. Hakikatnya adalah ucapan dengan mulut saja tidak mengakibatkan jual beli, sebagaimana ditegaskan dalam Putusan Mahkamah Agung No. Berdasarkan Pasal 37(1) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, setiap peralihan hak atas tanah, kecuali melalui lelang, hanya dapat didaftarkan apabila perbuatan hukum peralihan hak atas tanah itu didasarkan pada dokumen PPAT.

Notaris adalah pejabat umum yang bertugas membuat keterangan tertulis yang dimaksudkan sebagai bukti suatu perbuatan hukum.53. Dengan berlakunya UUPA, dan berdasarkan Pasal 19 Keputusan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 (sekarang Pasal 37 ayat (1) Keputusan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 juncto Pasal 2 Peraturan Nomor 7 Keputusan Kepala BPN Tahun 2007) maka setiap perjanjian yang bertujuan untuk mengalihkan hak atas tanah, pemberian hak baru atas tanah, menjaminkan tanah atau meminjam uang terhadap hak atas tanah sebagai jaminan harus dilakukan dengan suatu akta. Pada tahap ini peran PPAT sebagai pencatat perbuatan hukum pembuatan akta jual beli harus terpenuhi.

Pembuatan akta jual beli dihadapan PPAT dilakukan demi keabsahan perjanjian yang berkaitan dengan hak atas tanah, maka diperlukan akta yang dibuat oleh PPAT. Menurut Mahkamah Agung dalam putusannya, mengenai fungsi akta PPAT dalam jual beli, Nomor 1363/K/Sip/1997 yang berpendapat bahwa pasal 19 Peraturan Pemerintah nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah dengan jelas mendefinisikan bahwa akta PPAT hanya sekedar bukti dan tidak mengatakan bahwa akta tersebut bersifat mutlak. syarat sahnya suatu penjualan tanah56.

Posisi Kasus

Sebagian tanah tersebut dijabarkan dalam Gambar Penentuan Lokasi (PL) dan sebagian lagi diberikan sertifikat hak huni, yaitu. Sertifikat Hak Guna Bangunan nomor : 667/Baloi Permai dengan luas 13.539 M2 (tiga belas ribu lima ratus tiga puluh sembilan meter persegi), terdaftar atas nama PT. Sertifikat Hak Pakai Bangunan nomor : 668/Baloi Permai dengan luas 24.964 M2 (dua puluh empat ribu sembilan ratus enam puluh empat meter persegi), terdaftar atas nama PT.

Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor: 669/Baloi Permai dengan luas 8.937 M2 (delapan ribu sembilan ratus tiga puluh tujuh meter persegi), terdaftar atas nama PT. Penggugat dan tergugat I mengadakan perjanjian kerjasama pembangunan apartemen dengan nama Komplek Apartemen Taman Marchelia Dimana akta kerjasama nomor : 523 tanggal 31.03.200 dibuat dihadapan Yondri Dartos, SH Notaris di Batam. Penggugat/Pihak Pertama berhak mendapatkan Rp200.000. (dua ratus ribu Rupiah) untuk setiap meter persegi tanah.

Pihak kedua berhak atas selisih harga jual unit rumah tinggal tersebut setelah dikurangi bagian penggugat/pihak pertama dan sisa kelebihan tanah setelah unit rumah tersebut dibangun. Atas unit rumah yang dijual melalui Home Ownership Credit (HCR) oleh Bank, Tergugat I wajib memberikan SI (Standing Instruksi) dari bank terkait, agar realisasi pencairan kredit dapat ditransfer ke rekening Penggugat. Perjanjian Kerja Sama ini dibuat untuk jangka waktu 3,5 tahun (tiga koma lima) terhitung sejak tanggal 1 April 2000 dan berakhir pada tanggal 1 Oktober 2003. Dengan ketentuan apabila jangka waktu tersebut tidak dapat dilaksanakan, dikenakan denda sebesar 3% (tiga persen). dikenakan. ) setiap bulan dari sisa uang yang menjadi hak/bagian Pemohon.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

PEMBERIAN HAK MILIK ATAS TANAH YANG DIPEROLEH MELALUI PROGRAM REDISTRIBUSI TANAH DALAM RANGKA.. MEWUJUDKAN KEPASTIAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM BERDASARKAN PERATURAN

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Dalam pasal 3 dan 4 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 disebutkan bahwa salah satu tujuan pendaftaran tanah adalah untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum

Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah menyatakan bahwa peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui

dilakukannya pendaftaran tanah Pasal 3, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, adalah untuk memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Kedua, tujuan dilakukannya pendaftaran tanah Pasal 3, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, adalah untuk memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum

Untuk mewujudkan kepastian dan perlindungan hukum kepada setiap pihak yang ingin melaksanakan peralihan hak atas tanah disarankan kepada pejabat instansi yang terkait dalam hal