• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN TAKALAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KABUPATEN TAKALAR "

Copied!
82
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

1. bersaing dengan negara lain, oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan nasional merupakan syarat mutlak. Mutu pendidikan hanya dapat ditingkatkan apabila pengelolaan pendidikan nasional menjadi bagian dari pengelolaan pembangunan nasional.

Rumusan Masalah

Aspek profesionalisme yang dituntut ini menjadi semakin penting dan menjadi kebutuhan setiap organisasi apapun jenis dan bentuknya. Upaya apa saja yang dilakukan dalam penerapan manajemen berbasis sekolah di Madresah Tsanawiyah Da'watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar?

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui model perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan lembaga pendidikan Madresah Tsanawiyah Da'watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan manajemen berbasis sekolah dan upaya-upaya yang dilakukan dalam penerapan manajemen berbasis sekolah di Madresah Tsanawiyah Da’watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar.

Kegunaan Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Manajemen

34; Arti Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, pengaturan, pengarahan dan pengendalian (pengawasan) sumber daya perusahaan dalam upaya mencapai tujuan yang diinginkan. “Manajemen adalah seni mencapai tujuan yang diinginkan yang dilakukan dengan usaha orang lain.” tertuang dalam bukunya : “Prinsip Manajemen”.

Landasan Manajemen Berbasis Sekolah

Selain itu, Pasal 1 ayat (2) juga merumuskan bahwa: . “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan nasional dan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.” 5). Pendidikan kewarganegaraan dan agama sangat penting untuk menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat (baik lokal, nasional, regional, global). Kedua nilai tersebut membentuk karakter dan kepribadian yang kuat, yang hanya dapat dikembangkan melalui manajemen berbasis sekolah dengan dukungan masyarakat.

Manajemen berbasis sekolah dengan dukungan masyarakat bertujuan untuk memantapkan jati diri siswa dengan nilai-nilai sosial budaya setempat, dengan mensinergikannya dengan nilai-nilai kebangsaan dan nilai-nilai agama yang dianutnya. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000-2004 pada Bab VII tentang komponen program pembangunan di bidang pendidikan, khususnya tujuan tercapainya manajemen pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat (school/community-based education). pengelolaan). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khusus terkait MBS adalah bab manajemen berbasis sekolah/.

Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen berbasis sekolah merupakan harmonisasi sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan seluruh kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah, dilakukan secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah. Menelaah konsep manajemen berbasis sekolah (MBS), khususnya mengenai kekuasaan desentralisasi, kekuasaan atau kewenangan di tingkat sekolah, dalam sistem pengambilan keputusan harus dikaitkan dengan program dan kapasitas untuk meningkatkan kinerja sekolah. Penelitian program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) mengenai desentralisasi kekuasaan dan program peningkatan partisipasi (local pemangku kepentingan).

Keterampilan, informasi dan imbalan yang memadai merupakan unsur yang sangat menentukan efektivitas program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam meningkatkan kinerja sekolah. Pengambilan keputusan partisipatif merupakan suatu cara pengambilan keputusan dengan menciptakan lingkungan yang terbuka dan demokratis, dimana warga sekolah (guru, staf, siswa, orang tua, tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang akan berkontribusi terhadap mencapai tujuan sekolah. sasaran. Pengambilan keputusan partisipatif didasarkan pada pemikiran bahwa jika seseorang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, maka individu tersebut akan merasa memiliki terhadap keputusan tersebut, sehingga individu tersebut akan bertanggung jawab penuh dan berkomitmen untuk mencapai tujuan sekolah.

Perspektif Mutu Pendidikan

Permasalahan paling mendasar adalah upaya peningkatan mutu pendidikan yang telah kita lakukan setidaknya sejak awal 25 tahun pertama PJP, belum menunjukkan keberhasilan yang optimal. Penyebab utamanya adalah belum adanya konsensus (komitmen) yang utuh mengenai konsep mutu pendidikan dan implikasi konsep tersebut terhadap terciptanya program pengembangan mutu pendidikan yang dikeluhkan sejak Peraturan Baru terakhir yang masih bersifat sementara. muncul dan bahkan mungkin menjadi lebih kompleks. Dengan permasalahan yang disebutkan di atas, mungkin karena kami belum berusaha maksimal untuk meningkatkan kualitasnya; mungkin karena upaya yang kita lakukan relatif lambat dibandingkan dengan aspirasi kita terhadap kualitas pendidikan yang terus berubah dan berkembang, atau mungkin kita menyasar komoditas.

Secara konseptual, mutu pendidikan kita adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam memanfaatkan sumber daya pendidikan secara optimal dan meningkatkan kemampuan belajar, terlepas dari apakah peserta didik atau lulusan kita sudah mempunyai kemampuan belajar sebagaimana dimaksud. Asumsi yang digunakan dalam beberapa penelitian mengenai mutu pendidikan adalah semakin besar kemampuan belajar siswa, maka semakin besar peluang siswa tersebut mempunyai prestasi akademik yang baik. Dari sudut pandang mutu pendidikan yang disebutkan di atas, dapat pula disimpulkan pentingnya mutu pendidikan.

Visi-Misi dan Tujuan Lembaga Pendidikan

Variabel penelitian yang penulis ambil adalah variabel tunggal yang berkaitan dengan “Implementasi Manajemen Sekolah” di Madrasah Tsanawiyah Da’watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar. Tujuan mempunyai visi dan misi di Madrasah Pattallassang Tsanawiyah Kabupaten Takalar adalah : Mampu bertindak sesuai dengan ajaran. Dalam mengelola peningkatan mutu pendidikan sekolah, Madrasah Tsanawiyah Da'watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar bekerja pada koridor-koridor tertentu antara lain sebagai berikut.

Dalam proses pengelolaan sekolah (MBS) diperlukan faktor pendukung yang dapat menunjang efisiensi dan . efektivitas penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di Madrasah Tsanawiyah Da'watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar. Manajemen sekolah yang dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Da'watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar, dibawah manajemen sekolah untuk peningkatan mutu meliputi. Implementasi operasional manajemen sekolah adalah manajemen mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMBS) yang dilaksanakan pada tahun ajaran 2014/2015 untuk kelas I Madrasah Tsanawiyah Da’watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar.

Tujuan dan Alasan Penerapan MBS

Kerangka Pikir

Selain memperhatikan faktor pendukung pelaksanaan MBS, sekolah selalu melakukan perencanaan dan evaluasi, pengelolaan kurikulum, pengelolaan proses belajar mengajar dan pelayanan siswa untuk mencapai proses pembelajaran yang baik.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Alasan penulis memilih tempat penelitian ini adalah karena penulis merupakan salah satu guru di sekolah ini, sehingga penulis sangat mengetahui berbagai permasalahan yang berkaitan dengan manajemen berbasis sekolah, terlebih lagi penulis sendiri merupakan salah satu guru di sekolah ini.

Variabel Penelitian

Definisi Operasional Variabel

Populasi dan Sampel

Memperhatikan beberapa pengertian yang disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi dalam suatu penelitian adalah seluruh unsur atau aspek yang menjadi obyek penelitian yang berupa orang, barang, hewan, benda atau peristiwa menurut kriteria yang ada. ditentukan. oleh penulis. Oleh karena itu, populasi yang dimaksud peneliti adalah kepala sekolah seluruh unsur manajemen mulai dari kepala Madrasah, guru, dan kepala tata usaha. Madrasah Tsanawiyah Pattallassang Kabupaten Takalar berjumlah 13 orang dijadikan informan utama dan seluruh siswanya berjumlah 152 orang, dengan rincian 90 orang siswa perempuan dan 62 orang siswa laki-laki dijadikan sebagai informan tambahan.

Berdasarkan permasalahan di atas, (Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa sampel adalah “sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti. Sedangkan menurut Sugiyono (2005:91) sampel adalah bagian dari jumlah dan ciri-ciri populasi itu. Jumlah sampel yang akan diteliti adalah di Madrasah Tsanawiyah Pattallassang adalah kepala Madrasah, seluruh guru dan kepala tata usaha berjumlah 13 orang yang menjadi sampel populasi.

Instrumen Penelitian

Melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang dianggap mampu dan berdaya untuk memberikan penjelasan mengenai penerapan manajemen berbasis sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Kecamatan Bontoharu.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data Data

Madrasah Tsanawiyah Pattallassang Kabupaten Takalar merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Kabupaten Takalar yang didirikan pada tahun 1970. Sekolah ini merupakan sekolah percobaan dan juga merupakan salah satu sekolah populer di Kabupaten Takalar. Penelitian ini melibatkan seluruh unsur yang ada di MT Pattallassang Kabupaten Takalar mulai dari guru, relasi siswa dan lain sebagainya.

Guru Madrasah Tsanawiyah Pattallassang Kabupaten Takalar berjumlah 10 orang yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 7 orang perempuan. MTs Pattallassang Kabupaten Takalar mempunyai siswa pada tahun ajaran sebanyak 53 orang yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX. Begitu pula di Madrasah Tsanawiyah Da'watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar, pelaksanaan MPMBS tidak akan sama persis dengan sekolah menengah lainnya di Kabupaten Takalar.

Mengingat Madrasah Tsanawiyah Da’watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar baru menerapkan manajemen berbasis sekolah selama lebih dari satu tahun (tiga semester), maka tentunya terdapat beberapa faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan MPMBS sebagai berikut. Mengingat penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan suatu pendekatan baru dan alternatif terhadap manajemen pendidikan, yang tidak hanya Madrasah Tsanawiyah Da’watul Islamiyah Pattallassang Kabupaten Takalar saja, namun hampir jika tidak semua jenjang pendidikan mendorong diri dengan penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep pendekatan ini, oleh karena itu penulis mencoba memberikan saran sebagai berikut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Penelitian dan Objek Penelitian

Implementasi MBS

Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat MBS

Oleh karena itu, dalam arti sebenarnya tidak ada resep penyelenggaraan MPMBS yang sama untuk semua sekolah. Namun perlu diperhatikan bahwa penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (SBQM) di seluruh sekolah bukanlah suatu proses yang hanya dilakukan sekali saja dan langsung memberikan hasil yang baik, melainkan suatu proses yang berkembang secara berkesinambungan dan melibatkan semua pihak. bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan di sekolah. Kelima hal tersebut di atas dapat terus menjadi faktor penghambat efektivitas penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.

Pembahasan

Ada yang dipertanyakan berupa sumber daya dan perangkat lunak serta harapan sebagai pedoman dalam proses yang sedang berjalan. Sesuatu yang mempengaruhi jalannya proses disebut dengan input, sedangkan sesuatu yang dihasilkan dari proses tersebut disebut dengan output. Dalam manajemen pendidikan di sekolah, proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, dan program. proses manajemen, proses belajar mengajar. , dan proses pemantauan dan evaluasi, perencanaan. Ini merupakan pendekatan dan alternatif baru dalam manajemen pendidikan, yang lebih menekankan pada kemandirian dan kreativitas sekolah.

Agar sekolah meningkatkan efektivitas kegiatan evaluasi diri untuk menganalisis kelebihan dan kelemahan sumber daya sekolah, sehingga sekolah dapat memberikan gambaran apakah sumber daya yang dimilikinya dapat mendukung pelaksanaan program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Faktor penentu keberhasilan program MPMBS ini adalah sumber daya manusia sebagai pelaksana langsung operasional di lapangan, sehingga peningkatan kapasitas seluruh elemen yang terlibat dalam proses belajar mengajar harus didorong secara lebih profesional agar sekolah memiliki daya saing yang tinggi. Sekolah hendaknya lebih kreatif dalam membangun kerjasama dengan semua pihak terkait (masyarakat, warga peduli pendidikan dan orang tua siswa) dalam mengelola pendidikan dalam hal perencanaan, koordinasi, pelaksanaan dan pengendalian sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing melalui penyediaan sumber daya pendidikan yang memadai. .

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pendekatan ini memerlukan perubahan sikap dan perilaku seluruh komponen sekolah, kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam melihat, memahami, membantu serta melakukan pengawasan dengan melakukan pemantauan dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah dengan didukung oleh pihak yang berwenang. presentasi. dan sistem informasi yang valid, sebagaimana tertuang dalam kerangka dan operasional pelaksanaan di sekolah.

Saran

Materi manajemen, pendidikan dan pelatihan berbasis sekolah untuk Yayasan SMP Swasta Sulawesi Selatan di Maros (kertas). Peningkatan mutu sekolah swasta secara berkesinambungan (pelatihan kepala sekolah swasta), Depdikbud-Dirjen Dikdasmen Direktorat Sekolah Swasta.

Referensi

Dokumen terkait

Integration of network intrusion detection systems and honeypot networks for cloud security.. Proceeding - IEEE International Conference on Computing, Communication and Automation,