1
Kajian Sosiolinguistik
Nur Alifah Annisa Jumrah Universitas Hasanuddin
1. Komunikasi Bahasa
Bahasa menjadi media yang paling efektif dalam proses komunikasi. Tidak ada satu peristiwa komunikasipun yang tidak melibatkan bahasa. Berbagai konteks sering menggunakan kata bahasa dengan makna bermacam-macam di masyarakat.
Makna-makna dari bahasa itu antara lain, bahasa adalah sistem lambang, sistem bunyi, identifikasi diri suatu kelompok sosial, bermakna, bersifat konvensionil, arbitrer, produktif, unik, hampir universal, dan bervariasi. Berdasarkan hal itu, bahasa adalah sistem yang sistematis sekaligus sistemis dan terdiri dari subsistem fonologi (dunia bunyi, baik ciri-cirinya (fonetik) maupun fungsinya dalam komunikasi), gramatika (dunia makna (semantik), morfologi (berupa kata, bagian, dan kejadiannya) dan sintaksis (satuan yang lebih besar dari kata dan hubungannya), serta leksikon (perbendaharaan kata suatu bahasa atau sistem bahasa).
Sejarah studi bahasa pada masa lalu, konsep bahasa hanya sebagai alat utuk menyampaikan pikiran karena kebanyakan dilakukan oleh para ahli logika atau ahli filsafat pada abad pertengahan menganalisis alat untuk menyatakan proposisi benar atau salah. Dalam proses berkomunikasi pikiran hanyalah satu bagian dari sekian banyak informasi yang akan disampaikan. Wardhaugh (1972:3-8) juga mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik tertulis maupun lisan. Sedangkan, menurut Kinneavy, fungsi bahasa mencakup lima fungsi dasar yaitu expression, information, exploration, persuasion, dan entertainment (Michael 1967: 51).
Selain itu, fungsi bahasa dapat dilihat dari segi penutur, pendengar atau lawan bicara, kontak antara penutur dan pendengar, topik ujaran, kode yang digunakan, dan amanat (message) yang akan disampaikan. Masing-masing sudut pandang tersebut
2 melahirkan fungsi bahasa tersendiri yaitu bahasa yang berfungsi personal atau pribadi (segi penutur), bahasa yang berfungsi direktif atau mengatur tingkah laku pendengar (segi pendengar atau lawan bicara), bahasa yang berfungsi fatik atau fungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial (segi kontak antara penutur dan pendengar), bahasa yang berfungsi referensial atau denotatif atau informatif (segi topik ujaran), bahasa yang berfungsi metalingual atau metalinguistik atau membicarakan bahasa itu sendiri (segi kode), dan bahasa yang berfungsi imaginatif (segi amanat (message) yang akan disampaikan). Apapun dan bagaimanapun definisi bahasa pada akhirnya berakhir pada proses komunikasi. Karena salah satu dari fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau interaksi.
Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti ‘sama’. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana, komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another).
Berdasarkan Webster’s New Collegiate Dictionary didefinisikan bahwa
“Communication is a process by which information is exchange between individuals through a common system of symbols, signs, or behavior” (komunikasi adalah proses pertukaran informasi antara individu melalui sistem simbol, tanda, atau tingkah laku umum). Setiap proses komunikasi melibatkan dua belah pihak yaitu pengirim pesan dan penerima pesan. Pesan itu bisa berupa kalimat, gagasan, informasi, opini, dan sebagainya. Pesan itu disampaikan dari pengirim yang disebut encoding, sedangkan pesan yang diterima oleh penerima pesan dari pengirim pesan disebut decoding.
Komunikasi bahasa tersebut dapat berlangsung searah ataupun dua arah. Komunikasi searah adalah komunikasi tanpa adanya umpan balik dari lawan tutur dan sifatnya memberitahukan. Seperti, khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak diikuti tanya jawab, dan sebagainya. Sedangkan, komunikasi dua arah memiliki umpan balik dari lawan tutur. Contohnya, dalam diskusi, rapat, perundingan, dan sebagainya. Proses komunikasi itu sendiri diklasifikasikan menjadi bentuk non-verbal dan verbal. Secara
3 sederhana pesan non-verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata melainkan hanya bahasa isyarat atau bahasa diam (silent language). Komunikasi non-verbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh, intonasi suara, sikap dan sebagainya, yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi tanpa kata-kata (Boove dan Thill, 2003:
4). Contoh komunikasi non-verbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara. Di lain hal, komunikasi verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain sebagai fungsi transmisi dari bahasa. Sehingga, bahasa dalam proses komunikasi memiliki fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang memungkinkan kesinambungan suatu budaya dan tradisi. Pada akhirnya, bahasa dalam proses komunikasi harus sejalan dengan yang dikemukakan oleh Fishman (1967:15) yaitu
“who speak, what language, to whom, when, and to what end”.
2. Bahasa dan Masyarakat
Masyarakat sebagai salah satu tempat interaksi bahasa berlangsung, secara sadar atau tidak sadar menggunakan bahasa yang hidup dalam masyarakat. Anggota- anggota masyarakat menjadi kuat, bersatu, dan maju apabila diikat dengan suatu bahasa. Ferdinand de Saussure (Chaer dan Agustina 2004:30-34) membedakan antara yang disebut langage, langue, dan parole. Pertama, dalam bahasa Prancis istilah langage digunakan untuk menyebut bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal di antara sesamanya dan bersifat abstrak. Kedua, istilah langue dimaksudkan sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi sesamanya dan bersifat abstrak. Baik langue maupun langage, keduanya merupakan satu sistem pola, keteraturan, atau kaidah yang ada atau dimiliki manusia tetapi tidak tersurat dalam penggunaannya. Sedangkan, parole merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang
4 dilakukan oleh para anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi sesamanya dan bersifat konkret atau dapat diamati secara empiris. Contoh langage yaitu orang Garut Selatan dengan orang Karawang dan/atau lereng Gunung Salak, Bogor dapat saling mengerti dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan alat verbal mereka. Contoh langue dapat dilihat pada orang Garut Selatan dengan orang Banyumas dimana mereka tidak ada saling mengerti secara verbal satu sama lain karena terdapat dua buah langue yaitu bahasa Sunda (Garut Selatan) dan bahasa Jawa (Banyumas).
Contoh parole terdapat pada bahasa Sunda yang digunakan oleh tiga orang dari tempat yang berbeda di Jawa Barat, misalnya diantara orang Garut Selatan, orang Karawang dan orang Bogor.
Kemampuan komunikatif yang dimiliki individu maupun kelompok disebut verbal repertoire. Berdasarkan verbal repertoire yang dimiliki oleh masyarakat, masyarakat bahasa dibedakan menjadi tiga, yaitu masyarakat monolingual, masyarakat bilingual, dan masyarakat multilingual. Masyarakat monolingual (satu bahasa) adalah individu yang hanya menguasai satu bahasa saja, lebih-lebih bila konsep bahasa yang dimaksud sangat sempit yakni hanya sebatas pengertian ragam (Wijana dan Rohmadi, 2010:55). Masyarakat bilingual (dua bahasa) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan yang diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey dalam Chaer dan Agustina, 2004:84). Masyarakat Multilingual (lebih dari dua bahasa) adalah masyarakat yang mempunyai beberapa bahasa. Masyarakat yang demikian terjadi karena beberapa etnik ikut membantu masyarakat sehingga dari segi etnik bisa dikatakan sebagai masyarakat majemuk (plural society) (Sumarsono dan Partana, 2002:76). Masyarakat merupakan keadaan yang beragam, termasuk tingkatan sosial didalamnya. Berdasarkan hal tersebut, maka terdapat hubungan antara bahasa dengan tingkatan sosial yang ada di dalam masyarakat yaitu dari segi kebangsawanan dan kedudukan sosial yang berupa tingkatan pendidikan dan keadaan sosial ekonomi yang dimiliki.
5
3. Peristiwa Tutur dan Tindak Tutur
Dalam setiap proses komunikasi manusia komunikasi ini terjadilah apa yang disebut peristiwa tutur dan tindak tutur dalam satu situasi tutur. Peristiwa tutur (speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Dikatakan oleh Deli Hymes (1972) (Wadhaugh, 1990), seorang pakar sosiolingustik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang bila huruf-huruf pertamya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING yaitu setting and scene (S), participants (P), ends:
purpose and goal (E), act sequences (A), key: tone or spirit of act (K), instrumentalities (I), norms of interaction and interpretation (N), dan genres (G).
• Setting and scene, berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan.
• Participants, yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam penuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan yang disapa, atau pengirim dan penerima pesan.
• Ends adalah purpose and goal yang merujuk pada maksud dan tujuan penuturan.
Peristiwa yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara.
• Act sequences, mengacu pada bentuk tujuan ujaran dan isi ujaran.
• Key adalah tone atau spirit of act yang mengacu pada nada, cara, dan semangat dimana atau pesan yang disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat dan sebagainya.
• Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tulisan, melalui telegraf atau telepon.
• Norms of interaction and interpretation, mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi.
• Genres, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa dan sebagainya.
6 Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwanya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau tindakan dalam tuturannya. Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang guru besar di Universitas Harvard pada tahun 1956. Tindak tutur yang berlangsung dengan kalimat performatif oleh Austin (1962:100-102) di rumuskan sebagai tiga peristiwa tidakan yang berlangsung sekaligus, yaitu tindak tutur lokusi (tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam kalimat yang bermakna dan dapat dipahami), tindak tutur ilokusi (tindak tutur yang biasa didentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit, biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan salam, terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan), dan tindak tutur perlokusi (tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik dari orang lain itu).
Dalam suatu peristiwa tutur, peran penutur dan pendengar dapat berganti- ganti. Pihak yang tadinya menjadi pendengar sesudah mendengar dan memahami ujaran yang diucapkan oleh penutur akan segera bereaksi melakukan tindak tutur, sebagai pembicara atau penutur. Sebaliknya, yang tadinya berperan sebagai pembicara atau penutur berubah kini menjadi pendengar, maka Searle (1965) melihat tindak tutur dari pendengar. Jadi, Searle berusaha melihat bagaimana nilai ilokusi itu di tangkap dan dipahami oleh pendengar. Searle melihat tindak tutur dari sudut pandang pendengar karena tujuan pembicara sukar di teliti, sedangkan interprestasi lawan bicara atau pendengar mudah dilihat dari reaksi-reaksi yang diberikan terhadap ucapan-ucapan pembicara. Tindak tutur sebenarnya merupakan salah satu fenomena dalam masalah yang lebih luas yang dikenal dengan istilah pragmatik. Fenomena lain dalam kajian pragmatik adalah deiksis presuposisi dan implikatur percakapan.
7
4. Bilingualisme dan Diglosia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan dalam Kamus Linguistik, bilingualisme diartikan sebagai pemakai dua bahasa atau lebih oleh penutur bahasa dalam pergaulan sehari-hari secara bergantian. Bilingualisme juga disebut dengan kedwibahasaan. Bilingualisme memiliki dua tipe yang pertama bilingualisme dan tipe yang kedua yakni bilingualisme majemuk. Bilingualisme setara yaitu bilingualisme yang terjadi pada penutur yang memiliki penguasaan bahasa secara relatif sama. Didalam bilingualisme setara ini terdapat proses berfikir. Sedangkan, bilingualisme majemuk terjadi pada penutur yang tingkat kemampuan menggunakan bahasanya tidak sama. Sering terjadi kerancuan dalam bilingualisme ini, sehingga dapat menyebabkan interferensi.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bilingualisme adalah bahasa yang digunakan, bidang penggunaan bahasa, dan mitra berbahasa. Untuk dapat menjadi bilingualitas, seseorang harus menguasai kedua bahasa tersebut. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (B2). Sementara itu, peristiwa kebahasaan yang lain yaitu diglosia.
Diglosia menurut Ferguson adalah fenomena penggunaan ragam bahasa yang dipilih sesuai dengan fungsinya.
Berbeda dengan Ferguson, Fishman mengemukakan bahwa diglosia mengacu pada penggunaan bahasa yang berbeda dengan fungsi yang berbeda. Lebih lanjut, Ferguson membahas diglosia menjadi sembilan kriteria, yaitu fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan, standardisasi, gramatika, leksikon, dan fonologi. Fungsi menjadi kriteria diglosia dimana menurut Ferguson dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa. Variasi pertama disebut dialek tinggi (dialek T atau ragam T) dan yang kedua disebut dialek rendah (dialek R atau ragam R). Kriteria diglosia yang kedua adalah prestise. Dalam masyarakat diglosis para penutur biasanya menggunakan dialek T lebih bergengsi, lebih superior, lebih terpandang, dan merupakan bahasa yang logis. Sedangkan, dialek R dianggap inferior, malahan ada yang menolak keberadaannya.
8 Selanjutnya, warisan kesusastraan dimana jika terdapat karya sastra kontemporer dengan menggunakan ragam T, maka dirasakan sebagai kelanjutan dari tradisi itu, yakni bahwa karya sastra harus dalam ragam T. Tradisi kesusastraan yang selalu dalam ragam T ini menyebabkan kesusastraan itu tetap berakar, baik di Negara- negara berbahasa Arab, bahasa Yunani, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman. Yang keempat, kriteria pemerolehan. Yaitu, ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan. Kemudian, yang kelima adalah standardisasi. Ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan kalau standardisasi dilakukan terhadap ragam T tersebut melalui kodifikasi formal. Kriteria yang keenam adalah stabilitas. Kestabilan dalam masyarakat diglosia biasanya telah berlangsung lama, dimana ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masyarakat itu. Kriteria selanjutnya, gramatika. Dalam ragam T adanya kalimat- kalimat kompleks dengan sejumlah konstruksi subordinasi adalah hal yang biasa, tetapi dalam ragam R dianggap artifisial. Lebih lanjut, leksikon juga menjadi kriteria diglosia dimana sebagian besar kosakata pada ragam T dan ragam R adalah sama. Namun, ada kosakata pada ragam T yang tidak ada pasangannya pada ragam R, atau sebaliknya.
Kriteria yang terakhir adalah fonologi. Dalam bidang fonologi ada perbedaan structural antara ragam T dan ragam R. Perbedaan tersebut bisa dekat bisa juga jauh. Misalnya, di Indonesia, situasi diglosia terdiri atas dua yaitu situasi pilihan bahasa dan situasi penggunaan varian bahasa. Situasi pilihan bahasa membandingkan kedudukan yang tinggi dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Situasi bahasa yang terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa yang ada dalam masyarakat.
Diglosia menitik beratkan pada logat atau dialeg ciri khas suatu daerah.
Dicontohkan Sumarsono (2007:40), di sebuah kota besar di Indonesia terdapat beberapa suku bangsa dengan bahasa daerah masing-masing selain bahasa Indonesia.
Menurutnya, fungsi bahasa daerah berbeda dengan bahasa Indonesia dan masing- masing mempunyai ranah yang berbeda pula. Bahasa daerah membangun suasana kekeluargaan, keakraban, kesantaian, dan dipakai dalam ranah kerumahtanggaan, ketetanggaan, dan kekariban, sedangkan bahasa Indonesia membangun suasana formal,
9 resmi, kenasionalan, dan dipakai misalnya dalam ranah persekolahan (sebagai bahasa pengantar), ranah kerja (bahasa resmi dalam rapat), dan dalam ranah keagamaan (khotbah).
Hubungan bilingualisme dan diglosia berupa kemampuan menguasai dua bahasa kemudian disisipi oleh diglosia. Bilingualisme dan diglosia saling berkaitan erat dalam empat jenis hubungan, yaitu bilingualisme dan diglosia, bilingualisme tanpa diglosia, diglosia tanpa bilingualisme, dan tidak bilingualisme dan tidak diglosia.
5. Alih Kode dan Campur Kode
Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan, sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa, seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia, juga mengacu kepada variasi bahasa, seperti varian regional (bahasa Jawa dialek Banyuwas, Jogja-Solo, Surabaya), juga varian kelas sosial disebut dialek sosial atau sosiolek (bahasa Jawa halus dan kasar), varian ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa (gaya sopan, gaya hormat, atau gaya santai), dan varian kegunaan atau register (bahasa pidato, bahasa doa, dan bahasa lawak). Alih kode (code-switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalnya, penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Jawa. Dalam alih kode, masing-masing bahasa masih cenderung mendukung fungsi masing-masing dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya. Appel memberikan batasan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi.
Suwito (1985) membagi alih kode menjadi dua, yaitu alih kode ekstern dan alih kode intern. Beberapa faktor yang menyebabkan alih kode adalah penutur, mitra tutur, hadirnya penutur ketiga, pokok pembicaraan atau topik, untuk membangkitkan rasa humor, dan untuk sekadar bergengsi. Sementara itu, campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Campur kode biasanya berhubungan dengan karakteristik penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun, bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada
10 padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergen kebahasaan (linguistic convergence).
Campur kode dibagi menjadi dua, yaitu campur kode ke dalam (innercode- mixing) dan campur kode ke luar (outer code-mixing). Campur kode ke dalam (innercode-mixing) yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya, sedangkan campur kode ke luar (outer code-mixing) adalah campur kode yang berasal dari bahasa asing. Campur kode terjadi karena adanya sikap (attitudinal type) dari penutur dan kebahasaan (linguistics type) sebagai ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.
Dengan demikian, campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa. Beberapa wujud campur kode, antara lain penyisipan kata, penyisipan frasa, penyisipan klausa, penyisipan ungkapan atau idiom, dan penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing).
Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih.
Namun terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing- masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu sedangkan campur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi.
6. Interferensi dan Integrasi
Interferensi pada umumnya dianggap sebagai gejala tutur (speech parole), hanya terjadi pada dwibahasawan dan peristiwanya dianggap sebagai penyimpangan.
Interferensi dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu terjadi karena unsur-unsur serapan itu sudah ada padanannya dalam bahasa penyerap. Interferensi berbeda-beda sesuai dengan medium, gaya, ragam, dan konteks yang digunakan oleh orang yang bilingual tersebut (Kridalaksana, 2001:60).
11 Chaer dan Agustina (2004:160-161) mengemukakan bahwa interferensi yang terjadi dalam proses interpretasi disebut interferensi reseptif, yakni berupa penggunaan bahasa B dengan diresapi bahasa A. Interferensi yang terjadi pada proses representasi disebut interferensi produktif. Interferensi reseptif dan interferensi produktif yang terdapat dalam tindak laku bahasa penutur bilingual disebut interferensi perlakuan. Istilah interferensi pertama kali digunakan untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual.
Interferensi yaitu penyimpangan dari norma-norma bahasa dalam bahasa yang digunakan sebagai akibat pengenalan terhadap bahasa lain. Transfer dalam kontak bahasa dapat terjadi dalam semua tataran linguistik, baik fonologis, morfologis, sintaksis, semantis, maupun leksikon. Contoh interferensi dalam bidang fonologi yaitu jika penutur bahasa Jawa mengucapkan kata-kata berupa nama tempat yang berawal bunyi /b/, /d/, /g/, dan /j/, misalnya pada kata Bandung, Deli, Gombong, dan Jambi.
Seringkali orang Jawa mengucapkannya dengan /mBandung/, /nDeli/,/nJambi/, dan /nGgombong/. Interferensi dalam bidang morfologi, misalnya, kata kepukul, ketabrak, kebesaran, kekecilan, kemahalan, sungguhan, bubaran, dan duaan. Bentuk-bentuk tersebut dikatakan sebagai bentuk interferensi karena bentuk-bentuk tersebut sebenarnya ada bentuk yang benar, yaitu terpukul, tertabrak, terlalu besar, terlalu kecil, terlalu mahal, kesungguhan, berpisah (bubar), dan berdua. Dalam bidang sintaksis, interferensi jarang terjadi. Hal ini memang perlu dihindari karena pola struktur merupakan ciri utama kemandirian sesuatu bahasa. Contohnya, Rumahnya ayahnya Ali yang besar sendiri di kampung itu – yang sebenarnya memiliki padanan bentuk yang lebih gramatikal yaitu Rumah ayah Ali yang besar di kampung ini.
Menurut Weinrich (1970:64-65), beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi, antara lain kedwibahasaan peserta tutur, tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima, tidak cukupnya kosakata bahasa penerima, menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan, kebutuhan akan sinonim, prestise bahasa sumber dan gaya bahasa dan terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu. Sedangkan, integrasi merupakan bahasa dengan unsur-unsur pinjaman, dipakai, dan dianggap sudah menjadi
12 warga bahasa tersebut. Penerimaan unsur bahasa lain dalam bahasa tertentu sampai menjadi berstatus integrasi memerlukan waktu dan tahap yang relatif panjang.
Menurut Chaer dan Agustina (2004:169-171), proses integrasi dibedakan menjadi empat macam, yaitu integrasi audial, integrasi visual, integrasi penerjemahan langsung, dan integrasi penerjemahan konsep. Integrasi secara audial mula-mula penutur Indonesia mendengar butir-butir leksikal itu dituturkan oleh penutur aslinya, lalu mencoba menggunakannya (diujarkan ataupun dituliskan). Contohnya, dongkrak – domekracht, pelopor – voorloper, sakelar – schakelaar. Di lain hal, integrasi visual termasuk integrasi yang penyerapannya dilakukan melalui bentuk tulisan dalam bahasa aslinya, lalu bentuk tulisan itu disesuaikan menurut aturan yang terdapat dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Contohnya, system – sistem (bukan sistim), hierarchy – hierarki (bukan hirarki), repertoire – repertoir (bukan repertoar). Integrasi lainnya yaitu integrasi penerjemahan langsung. Integrasi ini terbentuk dengan mencarikan padanan kosa kata asing ke dalam bahasa Indonesia. Contohnya, joint venture – usaha patungan, balance budget – anggaran berimbang, samen werking – kerjasama. Dan proses integrasi yang terakhir adalah integrasi penerjemahan konsep. Integrasi ini ada dengan cara meneliti konsep kosakata asing tersebut, lalu dicarikan konsepnya ke dalam bahasa Indonesia. Contohnya, medication – pengobatan, brother in law – ipar laki- laki, job description – ketentuan kerja. Unsur pinjaman yang terserap sebagai hasil proses interferensi akan sampai pada taraf integrasi, baik dalam waktu yang relatif singkat maupun dalam waktu yang relatif lama. Setiap bahasa akan mengalami interferensi, kemudian disusul dengan peristiwa integrasi.
Peristiwa interferensi dan integrasi pada bahasa resipien membawa beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada bahasa resipien. Kemungkinan pertama yaitu bahasa resipien tidak mengalami pengaruh apa-apa yang sifatnya mengubah sistem.
Sedangkan, kemungkinan kedua yaitu bahasa resipien mengalami perubahan sistem, baik pada subsistem fonologis, subsistem morfologis, subsistem sintaksis, atau subsistem semantis.
13
7. Perubahan, Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa
Perubahan bahasa menyangkut soal bahasa sebagai kode, dimana sesuai dengan sifatnya yang dinamis, dan sebagai akibat persentuhan dengan kode lain, bahasa itu bisa berubah. Perubahan bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya itu direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon. Perubahan fonologis dalam bahasa Inggris ada juga yang berupa penambahan fonem. Perubahan bahasa dapat juga terjadi dalam bidang morfologi yakni dalam proses pembentukan kata. Perubahan kaidah sintaksis dalam bahasa Indonesia juga dapat dilihat pada kaidah sintaksis yang berlaku di kalimat aktif transitif yang harus selalu mempunyai objek atau dengan rumusan lain, setiap kata kerja aktif transitif harus selalu diikuti oleh objek dan juga dewasa ini kalimat aktif transitif banyak yang tidak dilengkapi objek. Perubahan selanjutnya adalah perubahan pada bidang kosakata. Perubahan ini merupakan perubahan bahasa yang paling mudah terlihat. Perubahan kosakata dapat berarti bertambahnya kosakatanya baru, hilangnya kosakata lama, dan berubahnya makna kata. Perubahan yang lain juga terdapat pada perubahan semantik, yang umumnya adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin berubah total, meluas, atau juga menyempit. Perubahan makna yang sifatnya meluas, maksudnya dulu kata tersebut hanya memiliki satu makna, tetapi kini memiliki lebih dari satu makna. Perubahan makna yang menyempit, artinya kalau pada umumya kata itu memiliki makna yang luas, tetapi kini menjadi lebih sempit maknanya. Contoh perubahan makna yang sifatnya meluas, misalnya perubahan kata saudara pada awalnya hanya bermakna ‘orang yang lahir bdari ibu yang sama’, tetapi kini berarti juga ‘kamu’. Sedangkan, contoh perubahan makna yang menyempit yaitu kata sarjana dalam bahasa Indonesia pada mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’, tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi’.
Faktor kedwibahasaan bukanlah satu-satunya faktor penyebab terjadinya pergeseran bahasa. Terdapat beberapa faktor lain yang juga merupakan penyebab yang sangat rentan terhadap peristiwa pergeseran bahasa, antara lain perpindahan penduduk, faktor ekonomi, dan sekolah. Dari pembahasan mengenai pergeseran bahasa dapat kita
14 saksikan bahwa penggunaan bahasa ibu oleh sejumlah penutur dari suatu masyarakat yang bilingual atau multilingual cenderung menurung akibat adanya B2 yang mempunyai fungsi yang lebih superior. Namun, adakalanya penggunaan B1 yang jumlah penuturnya tidak banyak dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan B2 yang lebih dominan. Misalnya, pemertahanan penggunaan bahasa melayu Loloan di desa Loloan,termasuk dalam wilayah kota Nagara, Bali. Menurut Sumarsono, ada beberapa faktor penyebab mereka dapat bertahan, yaitu wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geografis agak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali, adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali yang mau menggunakan bahasa Melayu Loloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas Loloan, anggota masyarakat Loloan mempunyai sikap keislaman yang tidaak akomoditif terhadap masyarakat, budaya, dan bahasa Bali, adanya loyalitas yang tinggi dari anggota masyarakat Loloan terhadap bahasa Melayu Loloan, status bahasa ini yang menjadi lambing identitas diri masyarakat Loloan yang beragama Islam, dan adanya kesinambungan pengalihan bahasa Melayu Loloan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya.
8. Bahasa dan Kebudayaan
Kebudayaan adalah sistem aturan-aturan komunikasi dan interaksi yang memungkinkan suatu masyarakat terjadi, terpelihara, dan dilestarikan. Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Adapun menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam mengatakan kebudayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan atauran- atauran yang memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain serta mengadakan komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka.
Koentjaraningrat (1992) mengemukakan dua aspek tolak kebudayaan, yaitu wujud kebudayaan berupa wujud gagasan, perilaku, fisik atau benda dimana ketiga
15 wujud itu secara berurutan disebut juga sistem budaya yang bersifat abstrak, sistem sosial yang bersifat agak konkret dan kebudayaan yang bersifat konkret serta isi kebudayaan berupa bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup atau ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi dan kesenian. Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan. Hubungan bahasa dan kebudayaan seperti anak kembar siam, dua buah fenomena sangat erat sekali bagaikan dua sisi mata uang, sisi yang satu sebagai sistem kebahasaan dan sisi yang lain sebagai sistem kebudayaan. Bahasa bukan saja merupakan "properti" yang ada dalam diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona.
Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Contohnya, dalam budaya Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi. Sehingga, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain berarti gabah dan pada konteks lain lagi berarti beras atau padi. Lalu, karena makan nasi bukan merupakan budaya Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyakatnya tidak berbudaya makan nasi, tidak terdapat kata yang menyatakan lauk (yang dimakan bersama nasi) atau iwak (dalam bahasa Jawa).
9. Perencanaan Bahasa
Istilah perencanaan bahasa atau language planning pertama kali digunakan oleh Haugen (1959) ketika ia melakukan perencanaan bahasa terhadap bahasa Norwegia. Haugen mendefinisikan perencanaan bahasa sebagai segala usaha yang dilakukan oleh lembaga tertentu untuk melestarikan atau menumbuh kembangkan bahasa dan melibatkan usaha pembinaan, pengaturan, dan pembakuan atas bahasa
16 sasaran. Selain itu, Haugen mengemukakan bahwa perencanaan bahasa itu tidak semata-mata meramalkan masa depan berdasarkan dari yang diketahui pada masa lampau, tetapi perencanaan itu merupakan usaha yang terarah untuk mempengaruhi masa depan. Sebagai contoh usaha perencanaan itu disebutkannya tata ejaan yang normatif, penyusunan tata bahasa dan kamus yang akan dapat dijadikan pedoman bagi para penutur di dalam masyarakat yang heterogen. Di Indonesia, kegiatan yang serupa dengan language planing ini sebenarnya sudah berlangsung sebelum nama itu diperkenalkan oleh Haugen (Moeliono 1983), yakni sejak zaman pendudukan Jepang ketika ada komisi Bahasa Indonesia sampai ketika Alisjabhana menerbitkan majalah Pembina Bahasa Indonesia tahun 1948. Alisjahbana menggunakan istilah language engineering yang dianggapnya lebih tepat dibandingkan istilah language planning yang terlalu sempit maksudnya. Menurut dia, masalah language engineering yang penting adalah pembakuan bahasa, pemodernan bahasa, dan penyediaan alat perlengkapan seperti buku pelajaran dan buku bacaan (Moeliono, 1983).
Fishman (1971) dalam bukunya Impact of Nationalism on Language Planning menyatakan bahwa perencanaan bahasa merupakan ciri pembangunan dan pemodernan bangsa dan negara. Contoh ini banyak berlaku di Eropa, Asia, dan Afrika.
Perencanaan bahasa di Asia dan Afrika berjalan setelah negara dijajah. Selanjutnya, Fishman (1973) menyarankan agar perencanaan bahasa diselaraskan dengan perencanaan bidang-bidang lain agar padu dan/atau bersinergi dengan perencanaan induk negara. Dengan cara demikian, kepaduan dan integritas nasional bisa terpupuk dengan baik.
Berdasarkan pengalamannya di Norwegia, Haugen mengemukakan empat tahapan dalam perencanaan bahasa, yaitu pemilihan, penyandian, pelaksanaan, dan peluasan. C.A. Ferguson mengemukakan model lain dalam usaha perencanaan bahasa yaitu pengabjadan, pembakuan, dan pemodernan. Kloss juga mengemukakan bahwa perencanaan bahasa mempunyai dua dimensi, yaitu perencanaan status dan perencanaan bahan. Pendapat lain dari F.X Karam (1974) bahwa pelaksanaan perencanaan bahasa dilakukan pada tingkat nasional oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah.
17 Dalam praktiknya, perencanaan bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua aspek, sebagaimana konsep yang pernah disampaikan oleh J.V. Neustupny (1974), yaitu perencanaan status dan perencanaan bahan. Perencanaan status dalam perencanaan bahasa adalah perencanaan yang terkait dengan usaha peningkatan status bahasa Indonesia. Misalnya, pemberian status bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Setelah itu, ditingkatkan lagi statusnya sebagai bahasa pengantar pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan, bahkan sebagai bahasa budaya bangsa Indonesia. Sedangkan, perencanaan bahan adalah perencanaan yang terkait dengan aktivitas penyusunan ejaan, pembakuan ucapan, pembentukan istilah, penyusunan tatabahasa, penyusunan kamus, dan sebagainya. Semua langkah ini dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang pelaksanaan teknisnya diserahkan kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dengan berbagai macam strategi dan kiatnya. Dapat dilihat bahwa perencanaan bahasa melibatkan usaha pengumpulan data lewat penyelidikan atau penelitian baik menyangkut materi bahasa maupun budaya atau pemakaian bahasa, penyusunan perencanaan menyeluruh yang mungkin bisa dilakukan, dan pembuatan perencanaan awal yang diperlukan untuk menentukan keputusan mengenai pemilihan dan pembentukan norma bahasa.
10. Pembakuan Bahasa
Menurut J.S. Badudu pembakuan atau standardisasi adalah penetapan aturan-aturan atau norma-norma bahasa. Berdasarkan bahasa yang dipakai oleh masyarakat, ditetapkan pola-pola yang berlaku pada bahasa itu. Pembakuan bahasa dapat dilakukan terhadap tulisan, ejaan, ucapan, perbendaharaan kata, pembentukan istilah, dan penyusunan tata bahasa. Pembakuan bahasa dapat dilakuan dengan berbagai cara, antara lain standardisasi secara spontan dan standardisasi secara terencana.
Pembakuan bahasa sangat penting untuk direalisasikan karena dengan adanya pembakuan tersebut dapat memberikan pandangan dalam hal fungsi pemersatu, fungsi pemberi kekhasan atau fungsi pemisah, fungsi pembawa wibawa atau fungsi harga diri, dan fungsi sebagai kerangka acuan.
18 Bahasa baku berfungsi sebagai pemersatu yang dimaksud adalah bahwa bahasa baku mempersatukan makna menjadi satu masyarakat bahasa dan dapat meningkatkan proses identifikasi penutur orang per orang. Fungsi yang kedua yaitu pemberi kekhasan atau fungsi pemisah adalah membedakan bahasa itu dari bahasa yang lain. Pemilihan bahasa baku membawa satu wibawa atau sebagai harga diri seseorang.
Fungsi pembawa wibawa berkaitan dengan usaha orang seseorang untuk mencapai kesederajatan dengan peradaban lain. Bahasa baku berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa. Untuk menerapkan pemakaiannya itu, dan kaidah menjadi dasar benar tidaknya pemakaian bahasa itu. Contoh fungsi pemberi kekhasan dapat dilihat pada bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Malaysia atau bahasa Melayu Singapura dan Brunei Darussalam. Dengan kata lain, bahasa Indonesia dianggap sudah jauh berbeda dari bahasa Melayu Riau, Johor yang menjadi asal rumpunnya. Bahasa baku berfungsi sebagai kerangka acuan dimana kumpulan unsur bahasa yang disebut kosakata memerlukan pembakuan, misalnya cewek, nggak, dan entar. Kata-kata itu sudah menjadi bagian kosakata Indonesia, tetapi tidak termasuk ke dalam kelompok yang baku. Pembakuan bahasa tidak dimaksudkan untuk mematikan variasi-variasi bahasa bukan baku. Variasi-variasi bahasa non-baku tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya.
Sehubungan dengan hal tersebut, M.F. Baradja (Suhenda dan Supinah, 1997:120) mengemukakan lima dasar yang dapat dipertimbangkan untuk melakukan pembakuan bahasa Indonesia, yaitu otoritas, bahasa penulis terkenal, demokrasi, logika dan bahasa orang-orang yang dianggap terkenal oleh masyarakat.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul & Agustina, Leonie. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Wardhaugh, Ronald. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell Ltd.