• Tidak ada hasil yang ditemukan

kajian teknis rumah sakit tipe c

N/A
N/A
Gun Mang

Academic year: 2023

Membagikan "kajian teknis rumah sakit tipe c"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TEKNIS PEMANFAATAN AIR LIMBAH UNTUK APLIKASI KE TANAH

PENDAHULUAN

Rumah sakit merupakan instansi pelayanan kesehatan dengan inti kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyebutkan bahwa rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau bagi masyarakat.

Fasilitas pelayanan kesehatan sebagai institusi yang bersifat sosial ekonomis mempunyai fungsi dan tugas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara paripurna. Kegiatan pada fasilitas pelayanan kesehatan selain memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, juga menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran akibat pembuangan limbahnya tanpa melalui proses pengolahan yang benar sesuai dengan prinsip- prinsip pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.

Meningkatnya jumlah fasilitas pelayanan kesehatan mengakibatkan potensi pencemaran lingkungan semakin tinggi, karena kegiatan pembuangan limbah khususnya air limbah akan memberikan konstribusi terhadap penurunan tingkat kesehatan manusia. Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman dan berkelanjutan maka harus dilaksanakan upaya-upaya pengendalian pencemaran lingkungan pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan dasar tersebut, maka fasilitas pelayanan kesehatan diwajibkan menyediakan instalasi pengolahan air limbah atau limbah cair (IPAL).

Air limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan yang lain merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial karena mengandung senyawa organik yang cukup tinggi, senyawa kimia lain yang berbahaya serta mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu air limbah tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

Rumah Sakit Petang merupakan Rumah Sakit Tipe C sehingga berdasarkan Lampiran I Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko kewenangan untuk Persetujuan Teknis adalah kewenangan Bupati (Kabupaten). Berdasarkan pasal 3 ayat 1 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor 5 tahun 2021 tentang Cara Penerbitan

(2)

Teknis

Persetujuan Teknis dan Surat Kelayakan Operasional Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dimana setiap usaha dan/atau kegiatan yang melakukan kegiatan pembuangan dan/atau pemanfaatan Air Limbah, wajib memiliki Persetujuan Teknis. Maka oleh sebab itu Rumah Sakit Petang mengajukan persetujuan teknis berupa Kajian Teknis Pemanfaatan Air Limbah untuk Aplikasi ke Tanah.

Nama kegiatannya

1. Standar teknis pemenuhan Baku Mutu Air Limbah

a. Nama Badan Usaha : Dinas Kesehatan Kabupaten Badung

b. Alamat Kantor : Jalan Raya Sempidi, Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

c. Bidang Usaha : Aktivitas Rumah Sakit Pemerintah (KBLI: 86101) d. Nama Kegiatan : Rumah Sakit Umum (Tipe C) Petang

e. Lokasi Usaha atau Kegiatan : Jalan Jalan Raya Pura Pucak Mangu, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali

f. NPWP : -

g. Nama Penanggung Jawab : dr. Bagus Padma Puspita, SP.PD., M.Ars (pakai di SK)

Usaha dan/atau Kegiatan

h. Jabatan : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung

i. Email : [email protected]

j. No. Telepon : (0361) 9009421/9009419 k. Status Penanaman Modal : PMDN

l. Skala Usaha : Kecil

n. Titik Koordinat Usaha : 304581,9082763; 304546,9082758; 04542,9082795;

304498,9082791;304503,9082743; 04580,9082752;

a. Luas Lahan : 2000 m2

b. Luas Bangunan : 2000 m2 (berapa lantai?) c. Kapasitas Usaha dan/atau : 65 Bed

Kegiatan

A. Deskrisi Kegiatan

(3)

1) Jenis dan Kapasitas Usaha dan/atau Kegiatan

Lokasi usaha dan/atau kegiatan Rumah Sakit (Tipe C) Petang terletak di Jalan Jalan Raya Pura Pucak Mangu, Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penggunaan bangunan didaerah sekitar lokasi adalah kebanyakan sebagai sekolah, perumahan warga, area persawahan sehingga sebagian besar penduduk didaerah sekitar adalah bermata pencarian dalam sektor pertanian dan perdagangan. Sesuai dengan surat Surat Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Non Berusaha Nomor : 994/KKPR/X/2023.

Pembangunan dan operasional usaha Rumah Sakit dibangun diatas tanah seluas 2.000 m2 yang merupakan jenis bangunan kegiatan Non Berusaha.

Jenis usaha dan/atau kegiatan ini adalah Rumah Sakit Tipe C meliputi pelayanan medik umum, pelayanan gawat darurat, Pelayanan Medik Spesialis dasar, Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, Pelayanan Medik Spesialis Lain, Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut, Pelayanan medik subspesialis, Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan, Pelayanan Penunjang Klinik dan Pelayanan Penunjang Non Klinik dan lain sebagainya. Kapasitas usaha dan/atau kegiatan berjumlah 65 bed. Fasilitas utama Rumah Sakit disesuaikan dengan pelayanan dengan kegiatan utamanya yang harus tersedia untuk Rumah Sakit Tipe C berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah sakit.

• Rumah Sakit umum kelas C dan kelas D memiliki kemampuan pelayanan medik spesialis.

• Rumah Sakit Umum Kelas C merupakan Rumah Sakit Umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) penunjang medik spesialis.

• Rumah Sakit umum kelas C akan meningkatkan fasilitas dan kemampuan pelayanan mediknya, penambahan pelayanan paling banyak 3 (tiga) pelayanan medik spesialis lain selain spesialis dasar, dan 1 (satu) penunjang medik spesialis.

• Dalam hal di satu wilayah administratif kabupaten/kota tidak terdapat Rumah Sakit umum kelas B, Rumah Sakit umum kelas C dapat menambah pelayanan mediknya paling banyak 7 (tujuh) spesialis lain selain spesialis dasar dan 1 (satu) penunjang medik spesialis.

(4)

Teknis

• Dalam hal di satu wilayah administratif kabupaten/kota tidak terdapat Rumah Sakit umum kelas C, Rumah Sakit umum kelas D dapat menambah pelayanan mediknya paling banyak 2 (dua) spesialis dasar dan 1 (satu) penunjang medik spesialis.

2) Jenis dan Jumlah Bahan Baku dan/atau Bahan Penolong

Jenis dan jumlah peralatan pada Rumah Sakit (Tipe C) Petang sebagai berikut:

Ini di estimasikan saja… dengan jumlah yang sama dengan contoh juga ga papa mbak

Tabel 1. Jenis dan Jumlah Peralatan

No. Jenis Peralatan Merk Jumlah (pax)

1 Adult Laryngoscope Reister

2 Adult Resuscitator York Medical,

Ambu+

3 Adult/Baby/Neonate Stethoscope

-

4 AFF Stapler Aesculap

5 AFF Hecting OneMed, DR Steve

6 Agaate Spatle GC

7 Air Purifier Daikin

8 Alligator Forcep -

9 Analog Weight Scale Smic, Kris

10 Baby Cot GEA-Medical, Mak

11 Bedside Cabinet Platinum

12 Bein UK.Kecil -

13 Bengkok/ Nierbeken One Med, GEA

14 CEMENT STOPPER -

15 Chalazion Curette -

16 Compressor Nebulizer Omron, Sunrise

17 Defibrillator Philips

18 Digital Weight Scale - 19 Fixed/Variable

Micropippete

Socorex 20 Manual 2-Crank Hospital

Bed

- 21 Manual 1-Crank Hospital

Bed

Paramount bed 22 Manual 3-Crank Hospital

Bed

Paramount bed

(5)

No. Jenis Peralatan Merk Jumlah (pax)

23 Nakas Besi Platinum Inspiration

24 Nasal Speculum -

25 Patient/ Vital-Sign/ Bedside Monitor

-

Sumber: Pemrakarsa, 2023

Jenis Bahan Baku dan/atau Bahan Penolong sebagai berikut:

Tabel 2. Jenis Bahan Baku dan/atau Bahan Penolong

Sumber :Pemrakarsa, 2023

3) Proses Usaha dan/atau Kegiatan

a) Proses Utama dan Proses Penunjang Usaha

Usaha dan/atau Kegiatan Rumah Sakit (Tipe C) Petang dalam operasionalnya sebagai fasilitas pelayanan dan penunjang medik akan menghasilkan air limbah. Air limbah ini adalah seluruh air buangan yang berasal dari hasil proses kegiatan sarana pelayanan kesehatan yang meliputi: air limbah domestik (air buangan kamar mandi, dapur), air limbah klinis (air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit, misalnya air bekas cucian luka, cucian darah N

o. Jenis Peralatan Fungsi Jumlah (Dus)

1 Penampung Urine Menampung urine sementara 2 Kain Kasa Menutup luka basah

3 Masker Menutup mulut pada saat persalinan a gar steril

4 Penutup kepala Menutupi kepala pada saat persalinan agar steril

5 Plester perban Menahan darah dan menutup luka

6 Betadine Menyembuhkan luka basah

7 Alcohol Membunuh kuman

8 Tisu alkohol Mengelap luka yang mengandung alko hol

9 Cairan infus Membantu untuk sumber energy pada pasien

10 Kapas Membantu membersihkan dan menaha

n luka

11 Larutan KLorin 0,5 % Membunuh kuman/bakteri

12 Sabun Membersihkan kotoran dari kuman

(6)

Teknis

dll), air limbah laboratorium dan lainnya. Persentase terbesar dari air limbah adalah limbah domestik sedangkan sisanya adalah limbah yang terkontaminasi oleh infetious agents kultur mikroorganisme, darah, buangan pasien pengidap penyakit infeksi, dan lain-lain.

Air limbah yang berasal dari buangan domestik maupun buangan limbah cair klinis umumnya mengandung senyawa pencemar organik yang cukup tinggi dan dapat diolah dengan proses pengolahan secara biologis. Air limbah yang berasal dari laboratorium biasanya banyak mengandung logam berat yang apabila dialirkan ke dalam proses pengolahan secara biologis dapat mengganggu proses pengolahannya, sehingga untuk air limbah laboratorium ditampung kemudian diambil oleh pihak ke 3 yang berizin.

Jenis air limbah yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Air limbah domestik 2. Air limbah klinis

3. Air limbah laboratorium dan kimia

Adapun sumber-sumber yang menghasilkan air limbah, antara lain : 1. Unit Pelayanan Medis

 Rawat Inap

 Rawat Jalan/Poliklinik

 Rawat Darurat

 Rawat Intensif

 Ruang Operasi

 Rawat Isolasi

2. Unit Penunjang Pelayanan Medis

 Laboratorium

 Farmasi

 Sterilisasi

3. Unit Penunjang Pelayanan Non Medis

 Logistik

 Kantor / administrasi

 Rumah Makan

Tabel 3. Fasilitas dan Kapasitas Usaha dan/atau Kegiatan

(7)

Rumah Sakit (Tipe C) Petang

No Fasilitas Kapasitas

(Jumlah)

No Fasilitas Kapasitas

(Jumlah)

A Fasilitas Utama B Fasilitas Pendukung

1. Ruang Rawat Inap 15 Unit, 52 bed

1. Parkir Mobil +

2. Ruang Operasi I Unit Sepeda motor

3. Ruang IGD 1Unit, 4 bed 2. TPS Sampah Domestik 1Unit

4. Ruang Gizi 1 Unit 3. TPS Limbah Infeksius 1 Unit

5 Ruang Tunggu Pasien 9 Unit 4. TPS Limbah B3 1 Unit

6. Ruang Persalinan 1 Unit,2 bed 5. Ruang Panel 4 Unit

7. Ruang Kia-KB 1Unit, 1 bed 6. Lift 4 Unit

8. Ruang Pendaftaran 1 Unit 7. STP (Pengolahan

Limbah)

1 Unit

9. Ruang Konseling 1 Unit 8. Ruang Pompa 1 Unit

10. Ruang Kasir 1 Unit 9. Ruang Pertemuan 1 Unit

11. Ruang Rekam Medis 4 Unit 10. Padmasana 1Unit

12. Ruang Polkes TB 1 Unit, 1bed 11. Post Security 1Unit 13. Ruang Polkes Lansia 1Unit, 1 bed 12. Ruang Computer 1 Unit 14. Ruang Polkes Umum 1Unit,2 bed 13. Ruang Operator 1 Unit 15. Ruang Polkes Jiwa 1Unit, 2bed 14. Ruang Janitor 3 Unit

16. Apotek 1 Unit 15. Ruang Alat 2 Unit

17. Ruang Vaksin 1 Unit 16. Ruang Linen 2 Unit

18. Ruang Tunggu

Rontgen

1 Unit 17. Ruang Laundry 1 Unit

19. Ruang Rontgen 1 Unit 18. Ruang Duty Unit 1 Unit

20. Ruang Polkes gigi 1 Unit 19. Ruang Jemur 1 Unit

21. Ruang Imunisasi 1 Unit 20. Gudang Logistik 1 Unit

22. Ruang Polkes Anak 1 Unit 21. Taman /parkir 278 m2

23. Ruang Ramah Anak 1 Unit 24. Ruang Sterilisasi 1 Unit 25. Ruang Persiapan

Bedah

1Unit

26. Ruang Bedah 1Unit

27. Ruang Scrub 1Unit

28. Ruang Paramedik 1Unit

29. Ruang Perawat 2 Unit

30. Ruang Nurse Station 2 Unit

31. Dapur/Pantry 4 Unit

32. Kantin 1 Unit

33. Ruang Staff 1 Unit

34. Laboratorium 1 Unit

35. Ruang Gas 2 Unit

36. Ruang Obat 1 Unit

37. Toilet 7 Unit

(8)

Teknis

No Fasilitas Kapasitas

(Jumlah)

No Fasilitas Kapasitas

(Jumlah) 38. Ruang Segel Hock 2 Unit

Sumber: Dokumen Teknis, 2023

b) Neraca Air (cek di DED ga ada mabak?)

Sumber air bersih kegiatan Rumah Sakit (Tipe C) Petang ini berasal dari PDAM sebagai pasokan utama dan ABT (Air Bawah Tanah) sebagai backup (cadangan) yang ditampung pada ground tank kemudian dialirkan ke sarana prasarana secara kontinu sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan operasional.

Perhitungan rencana kebutuhan air bersih menggunakan dasar Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 7 Tahun 2019, standar kebutuhan air menurut kelas rumah sakit dan jenis rawat dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Standar Kebutuhan Air Menurut Kelas Rumah Sakit dan Jenis Rawat N

o

Kelas Rumah Sa kit atau Jenis R

awat

SBM Satuan Keterangan

1 Semua Kelas 5 – 7,5 L/TT/Hari Kuantitas air minum

2 A – B 400 – 450 L/TT/Hari Kuantitas air untuk keperlua

n higiene dan sanitasi

3 C – D 200 – 300 L/TT/Hari Kuantitas air untuk keperlua

n higien dan sanitasi

4 Rawat Jalan 5 L/TT/Hari Termasuk dalam SBM volu

me air sesuai kelas RS

Sumber: PMK RI No.7 Tahun 2019

Berdasarkan Tabel di atas, standar kebutuhan air bersih menurut kelas rumah sakit dan jenis rawat dapat di jelaskan sebagai berikut:

1. Rumah sakit kelas A dan B harus menyediakan air minimum 400 liter/tempat tidur/hari dan maksimum 450 liter/tempat tidur/hari. Volume maksimum ini dimaksudkan agar rumah

(9)

sakit mempunyai upaya untuk menghemat pemakaian air agar ketersediaannya tetap terjamin tanpa mengorbankan kepentingan pengendalian infeksi.

2. Rumah sakit kelas C dan D harus menyediakan untuk keperluan higiene sanitasi minimum 200 liter/tempat tidur/hari dan maksimum 300 liter/tempat tidur/hari.

3. Volume air untuk kebutuhan rawat jalan adalah 5 liter/orang/hari. Penyediaan air untuk rawat jalan sudah diperhitungkan dengan keperluan air untuk higiene sanitasi.

4. Keperluan air sesuai kelas rumah sakit dan peruntukannya tersebut harus dapat dipenuhi setiap hari dan besaran volume air untuk higiene sanitasi tersebut sudah memperhitungkan kebutuhan air untuk dapur gizi, kebersihan/penyiraman dan lainnya.

Kebutuhan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rencana operasional Rumah Sakit (Tipe C) Petang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5. Perhitungan Estimasi Kebutuhan Air Bersih

Fasilitas Layanan Jumlah Satuan

Faktor Konsumsi air

Bersih (Liter/hari)

Konsumsi Air Bersih Rata-rata

(m3/hari)

Rawat Inap 52 Bed 200 20,2

Pendamping pasien rawat

inap 52 Orang 110 5,72

Rawat Jalan Orang 5

Pendamping pasien rawat

jalan Orang 5

Pegawai Orang 100

Ruang Laboratorium 1 Unit 100 0,1

IGD 1 Unit 150 0,15

Ruang Operasi 1 Unit 100 0,1

Farmasi 1 Unit 100 0,1

Ruang Poliklinik 12 Unit 100 1,2

Ruang Sterilisasi 1 Unit 100 0,1

Ruang Persalinan 2 Unit 150 0,3

Dapur/Pantry 4 Unit 150 0,6

Toilet 7 Unit 150 1,05

Kantin 1 Unit 100 0,1

Ruang Laundry 1 Unit 150 1,5

Laboratorium 1 Unit 100 0,1

Total Kebutuhan Air Bersih TOTAL

Sumber: Pemrakarsa, 2023

(10)

Teknis

Keterangan : Estimasi Kebutuhan Air Bersih berdasarkan PMK RI No.7 Tahun 2019, Perancangan da n Pemeliharaan Sistem Plambing, Soufyan M. Noerbambang dan Takeo Morimura.

Neraca Pemakaian Air Bersih Rumah Sakit (Tipe C) RS Petang

Gambar 1. Neraca Pemakaian Air Bersih RS Petang

c) Fluktuasi atau Kontinuitas Produksi dan Air Limbah

Fluktuasi atau Kontinuitas air limbah dipengaruhi oleh jumlah pengunaan air bersih pada operasional Rumah Sakit Khusus (Tipe B) Petang. Dimana penggunaan air bersih dipengaruhi oleh okupasi (isi hunian) rumah sakit dan kunjungan pasien rawat jalan. Volume air limbah Rumah Sakit Khusus (Tipe B) Petang direncanakan 80% dari penggunaan air bersih yaitu sebesar 39,768 m3/hari.

d) Layout

(1) Lokasi masing-masing unit proses/kerja yang mengasilkan limbah

Berikut lokasi masing-masing unit proses/kerja pada setiap lantai yang menghasilkan limbah pada Rumah Sakit (Tipe C) Petang.

Gambar 2. Layout Lokasi Masing-masing Unit Proses/Kerja (Lantai 1)

(11)
(12)

Teknis

Gambar 3. Layout Lokasi Masing-masing Unit Proses/Kerja (Lantai 2)

(13)
(14)

Teknis

Gambar 4. Layout Lokasi Masing-masing Unit Proses/Kerja (Lantai 3)

(15)
(16)

Teknis

Gambar 5. Layout Lokasi Masing-masing Unit Proses/Kerja (Lantai 4)

(17)
(18)

Teknis

(2) Instalasi pengolahan air limbah, saluran air limbah serta lokasi pemanfaatan air limbah

(19)

Gambar 6. Layout IPAL dan Lokasi Pemanfaatan Air Limbah

4) Efisiensi Penggunaan Air

Dalam upaya efisiensi penggunaan air bersih maka Rumah Sakit (Tipe C) Petang menggunakan air hasil pengolahan IPAL dimanfaatkan untuk aplikasi ke tanah

(20)

Teknis

atau penyiraman. Menurut Widarto (1996:90) kebutuhan air siram untuk tanaman seluas 20 m2 adalah 400 liter. Efisiensi penggunaan air limbah untuk penyiraman dari Rumah Sakit (Tipe C) Petang sebesar 39,77 m3/hari hal tersebut dikarenakan seluruh air limbah yang dihasilkan dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman pada taman, halaman dan parkir di area lingkungan rumah sakit serta pada musim kemarau dapat mengurangi debu dan lingkungan rumah sakit terkesan sejuk.

B. Rona Lingkungan Awal 1. Topografi

Topografi diartikan sebagai bentuk/rupa dari permukaan bumi termasuk semua bangunan yang dibangun oleh manusia di atas permukaan bumi ini.Topografi secara sederhana dapat juga diartikan sebagai bentuk-bentuk fisik kota dengan diketahui secara struktural, fungsional dan visual. Tiga unsur morfologi kota yaitu unsur-unsur penggunaan lahan, pola-pola jalan dan tipe-tipe bangunan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kota yaitu faktor bentang alam atau geografis, transportasi, sosial, ekonomi dan regulasi. Sedangkan pada perencanaan sebuah wilayah peta topografi sangat diperlukan juga sebagai salah satu acuan dalam melihat suatu morfologi wilayah, peta topografi sendiri merupakan penggambaran ketinggian dari permukaan laut dalam bentuk garis bayangan yang disebut dengan garis kontur. Garis kontur juga digunakan untuk mengetahui kemiringan lereng sehingga dapat diketahui landai atau tidaknya suatu tempat. Semakin rapat garis kontur, maka semakin curam tempat tersebut.

Topografi wilayah Kecamatan Petang dikelompokkan menjadi 3 satuan morfologi yaitu:

1. Satuan morfologi perbukitan berelief halus–sedang, mempunyai kemiringan lereng 5 -15%, dengan ketinggian antara 400 m – 600 m di atas permukaan laut.

2. Satuan morfologi pegunungan berelief halus – kasar : yaitu mempunyai kemiringan lereng 15 – 40%, dengan kemiringan antara 600 m – 1000 m di atas permukaan laut.

3. Satuan morfologi pegunungan berelief kasar yang mempunyai kemiringan > 40% dengan ketinggian >1.000 meter di atas permukaan laut.

Gambaran topografi dan morfologi wilayah Kecamatan Petang dapat dilihat pada Gambar 6 dan Gambar 7.

(21)

Gambar 6. Peta Topografi Kecamatan Petang

(22)

Teknis

(23)

Gambar 7. Peta Morfologi Kecamatan Petang 2. Kondisi Geologi

Wilayah Kabupaten Badung mempunyai 4 (empat) formasi geologi, yang terdiri dari alluvial, vulkanik Buyan Beratan dan Batur, beumur kawarter atas, volkanik Buyan Beratan dan Batur Purba yang berumur kwarter bawah serta formasi selatan yang terdiri dari batu gamping yang berumur miosen–pliosen. Geologi daerah Kecamatan Petang, termasuk formasi Buyan Beratan dan Batur (Qvbb dan Qpbb) yang terdiri dari batuan yang sangat bervariasi/beragam meliputi aliran lava berkomposisi basal dan endesit, breksi, gravel, pasir vulkanik tidak terkonsolidasi dan berselang seling dengan tufa, abu vulkanik. Batuan formasi Buyan Beratan dan Batur ini umumnya subur sehingga potensial untuk pertanian. Tetapi pada batuan kwarter akiver, air tanah umumnya sangat dalam bahkan tidak ada.

Batuan tufa tersebut merupakan batuan pirokklastik yang terbentuk akibat aktifitas gunung api Buyan – Beratan dan Batur disertai dengan endapan lahar, berwarna abu-abu kehitaman sampai kecoklatan, berukuran batu pasir, dan pada lapisan tersebut terdapat batu apung berukuran/diameter  0,5 -2 cm. Gambaran geologi Kecamatan Petang dapat dlihat pada Gambar 8.

(24)

Teknis

Gambar 8. Peta Geologi Kecamatan Petang 3. Jenis Tanah

Tanah merupakan lapisan teratas dari bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah memiliki peran penting untuk menunjang kehidupan manusia di bumi dan ada banyak fungsi dan manfaat dari tanah. Tanah juga memiliki jenis yang berbeda- beda. Jenis Tanah dari satu daerah dengan daerah lain berbeda termasuk di Indonesia.

Karena ini tergantung dari komponen yang ada di dalam daerah tersebut. Adapun jenis- jenis tanah antara lain: Tanah Aluvial, Tanah Andosol, Tanah Entisol, Tanah Grumusol, Tanah Humus, Tanah Inceptisol, Tanah Laterit, Tanah Liat, Tanah Podzolik, Tanah

(25)

Podsol, Tanah Pasir, Tanah Padas, Tanah Oxisol, Tanah Organosol, Tanah Mergel, Tanah Latosol Tanah Litosol.

Kecamatan Petang memiliki 2 jenis tanah yaitu Andisol dan Inseptisol. Andisol terdapat di Desa Sulangai bagian atas (utara), Desa Plaga dan Desa Belok Sidan, sedangkan inseptisol terdapat di Desa Sulangai bagian bawah (selatan), Desa Petang, Desa Pangsan, Desa Getasan, dan Desa Carangsari. Tanah Andisol dengan status kesuburan tanah cukup baik tetapi agak peka terhadap erosi karena memilki lapisan pasir semu dan membutuhkan pupuk P yang banyak karena bersifa andik. Tanah Inseptisol memiliki kesuburan tanah yang sedang sehingga diperlukan input – input hara yang cukup untuk meningkatkan produktifitasnya. Gambaran jenis tanah Kecamatan Petang dapat dlihat pada Gambar 9

4. Iklim

Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dan melipiti wilayah yang luas. Bumi mempunyai geografis tempat yang berbeda-beda. Tak hanya geografis saja, namun secara astronomis di daerah memiliki letak berbeda-beda dan ciri-ciri berbeda- beda. Iklim sangat erat hubungannya dengan letak astronomis. Dalam ilmu geografi kita mengenal beberapa jenis iklim yang dihubungkan dengan letak astronomis. Secara umum, dihubungkan dengan letak garis lintang, iklim dibagi menjadi dua macam yaitu iklim matahari dan iklim fisis. Adapun unsur-unsur iklim adalah penyinaran matahari, suhu udara tekanan udara kelembaban udara angin awan kabut curah hujan.

Berdasarkan data, suhu udara pada pagi hari sekitar 20C, pada siang hari sekitar 23C, sore hari sekitar 22C, serta pada malam hari sekitar 20C. Suhu udara tersebut termasuk sejuk dan malahan dingin pada malam dan pagi hari. Udara yang sejuk sangat menunjang pengembangan pariwisata tracking, hiking, dan sebagainya.

Udara yang sejuk ini sangat cocok untuk budidaya tanaman buah-buahan, sayur- sayuran, bunga-bungaan, kopi. Namun untuk beberapa jenis tanaman suhu yang dingin tidak mendukung pertumbuhan maupun pembuahannya seperti cengkeh, mangga dan lainnya. Selain itu masyarakat yang tidak tahan suhu dingin akan cepat mendapat sakit gangguan pernapasan.

(26)

Teknis

Arah angin di wilayah perencanaan saat ini dari arah tenggara berkisar antara 150 - 180 (utara = 0 - > dihitung searah jarum jam) dengan kecepatan rata-rata sedang yakni berkisar antara 10-14 Km/jam.

Berdasarkan informasi, bahwa angin berkecapatan tinggi rata-rata diatas 50 km/jam disertai hujan umumnya terjadi sekitar bulan Januari – Februari (Sasih Kaulu bulan Bali) dengan arah angin dari barat laut berkisar antara 270 - 280. Angin yang besar ini sering merusak pertanian masyarakat dan juga atap bangunan penduduk.

Penyinaran matahari rata-rata 8-9 jam/hari, namun keadaan awannya tidak cerah secara total, karena diselingi oleh pergerakan awan dengan liputan awan sekitar 2/8 awan cumulus. Pada waktu musim penghujan penyinaran matahari relatif sedikit, berkabut, liputan awan mencapai lebih dari 4/8, kelembaban cukup tinggi sampai di atas 80%.

Dengan adanya suhu dingin, penyinaran tidak terlampau tinggi, maka tidak cepat menimbulkan keletihan. Hal ini sangat mendukung wisata alam yang dikembangkan.

(27)

Gambar 9. Peta Jenis Tanah Kecamatan Petang

(28)

Teknis 5. Hidrogeologi

Kecamatan Petang mempunyai luas 11.500 Ha (115,00 Km²), dengan ketinggian 400 – 2.000 m di atas permukaan laut, dimana kondisi geologinya adalah volkanik kwarter atas, yang terdiri dari pasir, tufa, breksi, aglomerat dan lava volkanik yang penyebarannya sangat luas, memiliki akifer yang bervariasi serta memiliki potensi air tanah yang rendah, karena terletak di daerah pegunungan, dimana muka air tanah dijumpai sangat dalam, serta banyaknya mata air yang keluar dari formasi/batuan ini.

Bila dilihat dari penampang hydrogeologi/dari penampang sumur-sumur bor yang berada di sebelah selatan daerah penyelidikan disamping data dari hasil pendugaan tahanan jenis, dari ketinggian  350 m diatas permukaan air laut memperlihatkan lapisan pasiran dan kerikil dari batuan gunung api dengan ketebalan ke sebelah utara sekitar kontur 150 meter dengan ketebalan yang diperkirakan lebih dari 100 meter dan menipis ke arah selatan yang selanjutnya berkembang tufa masif dari kelompok batuan yang sama. Sedang untuk formasi palasari diketemukan pada kedudukan relatif lebih dalam yaitu mencapai kedalaman > 180 meter. Arah gerakan air tanah dalam, diintepretasikan dari arah utara bergerak ke arah selatan. Untuk daerah Kecamatan Petang bagian selatan, mempunyai daerah resapan baik.

Imbuhan air untuk daerah penyelidikan pada formasi batuan ini sangat tinggi, karena kelulusan tanah penutupnya dipengaruhi oleh kondisi yang baik, terutama untuk daerah terassering serta mempunyai curah hujan yang tinggi (karena terletak di daerah pegunungan). Gambaran hidrogeologi Kecamatan Petang dapat dlihat pada Gambar 10.

6. Hidrologi

A.Curah Hujan

Berdasarkan perhitungan data angka curah hujan tahunan di Kecamatan Petang sebesar 2.741 mm dan hari hujan selama 82 hari. Curah hujan yang tinggi merupakan potensi yang cukup baik untuk pengembangan pertanian baik perkebunan maupun pertanian lahan basah. Curah hujan yang tinggi berarti juga penyerapan air ke dalam tanah cukup tinggi, sehingga merupakan sumber air bagi daerah bawahannya.

Persoalannya adalah sering timbul banjir atau genangan yang membawa konsekwensi terjadinya erosi atau tanah longsor, terlebih di wilayah Desa Pelaga dan Desa Belok/Sidan yang sangat labil dan potensial terjadinya erosi. Oleh karenanya maka fungsi hutan lindung harus benar-benar tetap dijaga serta vegetasi tanaman pertanian

(29)

serta jurang-jurangnya harus benar-benar berfungsi lindung, sehingga dapat menahan air hujan yang jatuh serta mengurangi penguapan yang tinggi.

Gambar 10. Peta Hidrogeologi Kecamatan Petang B. Sungai

Wilayah perencanaan merupakan wilayah tangkapan air (catchment area) utama wilayah hulu Tukad Ayung khususnya pada wilayah Kabupaten Badung, dan berfungsi wilayah lindung/daerah konservasi bagi daerah bawahannya dalam hal penyediaan air.

Sungai-sungai yang mengalir dalam wilayah Kecamatan Petang adalah merupakan

(30)

Teknis

cabang dan atau anak cabang dari Tukad Ayung bagian hulu. Masing-masing sungai/tukad tersebut memiliki anak-anak sungai.

Sebaran sungai dan anak sungai di Kecamatan Petang adalah :

1. Tukad Yeh Ayung melalui Desa Belok, Desa Petang, Desa Pangsan, Desa Carangsari;

2. Tukad Yeh Penet melalui Desa Sulangai, Desa Petang, Desa Pangsan, Desa Getasan, Desa Carangsari;

3. Tukad Bangkung melalui Desa Belok Sidan, Desa Pelaga, dan Desa Petang, 4. Tukad Ngongkong melalui Desa Sulangai dan Desa Petang;

5. Tukad Buangga melalui Desa Sulangai dan Desa Petang dan Desa Pangsan;

6. Tukad Mengani melalui Desa Belok Sidan;

7. Tukad Bon terdapat di Desa Belok;

C.Mata Air

Semua anak sungai banyak keluar air mulai dari yang hanya menetes sampai yang cukup besar berupa mata air/yeh anakan. Jumlah mata air di wilayah Kecamatan Petang ±200 buah titik yang tersebar di masing-masing desa. Sumber mata air digolongkan menjadi 3 (tiga) jenis sumber, yaitu besar 27 titik, sedang 57 titik dan kecil 116 titik. Terdapat 2 (dua) buah mata air panas yakni di Tepian Tukad Mengani perbatasan antara Dusun Lawak dengan Dusun Belok dan di Tukad Bangkung disebelah barat pusat Dusun Penikit.

Tabel 6. Jumlah Mata Air di Kecamatan Petang

No Lokasi Jumlah Mata Air (Buah) Total

(Buah)

Besar Sedang Kecil

1 Belok Sidan 7 19 36 62

2 Pelaga 19 31 52 102

3 Sulangai 1 2 12 15

4 Petang 0 4 11 15

5 Pangsan 0 1 5 6

Jumlah 27 57 116 200

Sumber: Materi Teknis RTRWK Badung 2013-2033

Tabel 7. Mata Air untuk Pengairan di Kecamatan Petang

(31)

No Mata Air Desa/Kelurahan Debit (l/dt)

1 Mata Air Belong Sulangai 18

2 Mata Air Sulangai Sulangai 127

3 Mata Air Penataran I Pelaga -

4 Mata Air Penataran II Pelaga -

5 Mata Air Gedong Betel Sulangai 1,6

6 Mata Air Kancing Bumi Sulangai -

7 Mata Air Siraman Sandakan Sulangai -

8 Mata Air Siraman Pr. Dalem Nungnung Pelaga 18,6

Sumber: Materi Teknis RTRWK Badung 2013-2033

7. Prakiraan Dampak 1. Baku Mutu Air Limbah

a) Baku Mutu Air Limbah Nasional untuk Pemanfaatan

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penerbitan Persetujuan Teknis dan Surat Kelayakan Operasional Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan Rumah Sakit (Tipe C) Petang berkewajiban melakukan pengelolaan limbah sebelum dibuang ke lingkungan sehingga tidak melampui Baku Mutu Lingkungan Hidup yang ditetapkan.

Baku mutu air limbah yang digunakan pada rencana usaha dan/atau kegiatan Rumah Sakit (Tipe C) Petang sesuai dengan Lampiran VI Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut:

Tabel 8. Baku Mutu Air Nasional (Baku Mutu Air Sungai Kelas 4)

No Paramete

r

Satuan Kadar Maksimum*

1 2 3 4

1 pH - 6 - 9

2 BOD mg/L 12

3 COD mg/L 80

4 TSS mg/L 400

5 Minyak dan Lemak mg/L 10

6 Amoniak mg/L -

7 Detergen Total mg/L -

8 Total Coliform MPN/100 ml 10.000

Sumber : Lampiran VI PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan danPengelolaan Lingkungan Hidup

(32)

Teknis

b) Kajian Pemanfaatan Air Limbah (1) Sumber Air Limbah

Sumber-Sumber air limbah yang dihasilkan dari usaha dan/atau kegiatan Rumah Sakit (Tipe C) Petang, antara lain:

(a) Unit Pelayanan Medis

- Pelayanan Unit Gawat Darurat

- Pelayanan Poliklinik Rawat Jalan meliputi: poliklinik penyakit dalam, poliklinik bedah umum, poliklinik kebidanan dan kandungan, poliklinik anak, poliklinik jantung dan lainnya.

- Pelayanan Rawat Inap meliputi: kelas III, kelas II, kelas I, VIP dan executive

- Pelayanan Intensif meliputi: ICU - Pelayanan Kamar Operasi - Pelayanan Radiologi 24 jam (b) Unit Penunjang Pelayanan Medis

- Pelayanan Laboratorium 24 jam - Pelayanan Gizi

- Pelayanan Farmasi 24 jam

(c) Unit Penunjang Pelayanan Non Medis - Kantor/administrasi

- Ruang Pertemuan - Rumah Makan (2) Tanaman

1) Dosis, debit dan rotasi pemanfaatan air limbah 2) Sebaran Air Limbah

3) Dampak terhadap tanah 4) Dampak terhadap tanaman 5) Sifat penting dampak

2. Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan 1) Rencana Pengelolaan Air Limbah

2) Rencana Pemantauan Air Limbah

(33)

3) Sistem Penanggulangan Keadaan Darurat 4) Internalisasi Biaya Lingkungan

5) Periode Waktu Uji Coba

8. Standar Kompetensi Sumber Daya Manusia a. Struktur Organisasi

b. Sumber Daya Manusia

9. Sistem Manajemen Lingkungan

Gambar

Tabel 1. Jenis dan Jumlah Peralatan
Tabel 4. Standar Kebutuhan Air Menurut Kelas Rumah Sakit dan Jenis Rawat N
Tabel 5. Perhitungan Estimasi Kebutuhan Air Bersih
Gambar 6. Peta Topografi Kecamatan Petang
+6

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mencegah terjadinya pencemaran air yang berasal dari limbah cair Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor

Untuk mencegah terjadinya pencemaran air yang berasal dari limbah cair Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor

3.3 Pengemasan dan Penyimpanan Limbah B3 Sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengelolaan Limbah Bahan

PERSETUJUAN TEKNIS KAJIAN TEKNIS PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE LAUT Telah terima berkas Permohonan Pendaftaran Saudara atas nama : Nama Perusahaan : Alamat : KBLI Klasifikasi Baku

PERSETUJUAN TEKNIS KAJIAN TEKNIS PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE BADAN AIR PERMUKAAN Telah terima berkas Permohonan Pendaftaran Saudara atas nama : Nama Perusahaan : Alamat : KBLI

Dokumen untuk memeriksa kelengkapan pengajuan Persetujuan Teknis Dengan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah ke

Teks di atas berisi tentang dokumen persyaratan pemeriksaan teknis pemanfaatan air limbah untuk tanah untuk nutrisi

Dokumen ini berisi informasi mengenai standar teknis pemanfaatan air limbah untuk resapan ke permukaan