Nama : Gendis Iva NIM : 16092420165
1. Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, yang menyediakan layanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat, serta menjalankan fungsi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 Tahun 2023 Selain memberikan pelayanan medis, rumah sakit juga berperan sebagai pusat pendidikan tenaga kesehatan dan tempat penelitian (Bernardus Yoseph Beda, Harries Madiistriyatno, 2024). Menurut WHO, rumah sakit adalah organisasi sosial dan kesehatan yang komprehensif—menyembuhkan, mencegah, mendidik, serta melakukan penelitian—yang juga menyediakan fasilitas untuk asuhan medis berkelanjutan (Fachri, 2024)
Bernardus Yoseph Beda, Harries Madiistriyatno, E.H.H.P. (2024) ‘ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD LEWOLEBA DI NUSA TENGGARA TIMUR’, Edunomika, 08(02).
Fachri, M. (2024) ‘Pelayanan dan Daya Tanggap terhadap Kepuasan Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Tahun 2023’, Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 20(1), pp. 87–98.
Available at: https://jurnal.umj.ac.id/index.php/JKK.
2. Interkosta merujuk pada struktur di antara tulang rusuk (costa) yang meliputi otot interkostal, pembuluh darah (arteri interkostal), dan saraf interkostal. Otot interkostal dibagi menjadi dua kelompok utama—internal dan eksternal—berperan penting dalam mekanisme pernapasan: otot interkostal eksternal menarik tulang rusuk ke atas saat inspirasi, sedangkan otot internal membantu gerakan turun saat ekspirasi(Ramadhani and Widyaningrum, 2022). Selain otot, arteri interkostal terletak pada celah subkosta di sisi inferior iga; meskipun terlindungi, sebagian besar arteri ini tampil rentan terhadap trauma, terutama pada area 6 cm dari vertebra(Utami et al., 2023). Struktur interkosta juga memuat saraf interkostal, yang berasal dari segmen toraks sumsum tulang belakang serta menginervasi otot dan kulit di wilayah thoraks(Zulkifly and Singh, 2022).
Ramadhani, K. and Widyaningrum, R. (2022) Buku Ajar Dasar-Dasar Anatomi Dan Fisiologi Tubuh Manusia, Uad Press : Pustaka. Available at:
https://www.google.co.id/books/edition/Dasar_dasar_Anatomi_dan_Fisiologi_Tubuh/
ATTFEAAAQBAJ?
hl=jv&gbpv=1&dq=klasifikasi+sendi&pg=PA37&printsec=frontcover.
Utami, R.T. et al. (2023) Anatomi & Fisiologi Manusia.
Zulkifly, S. and Singh, G. (2022) ‘Pulmonologi Intervensi Dasar’, Indonesia Journal Chest, 9(1), pp. 33–54.
3. Konjungtiva anemis adalah kondisi yang ditandai oleh kepucatan konjungtiva mata, menggambarkan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah—yang menyebabkan berkurangnya aliran darah dan menyebabkan permukaan konjungtiva terlihat pucat.
Pemeriksaan konjungtiva ini merupakan metode non-invasif yang sering digunakan untuk mendeteksi anemia secara cepat dan sederhana. Sebuah studi di desa Cikidang (2023) menunjukkan bahwa “kondisi konjungtiva anemis merupakan salah satu tanda jika tubuh kekurangan hemoglobin sehingga konjungtiva akan terlihat pucat”(Rahmawati and Suparti, 2024). Penelitian lain memaparkan bahwa anemia menyebabkan penurunan hemoglobin, dan ini tercermin secara klinis sebagai konjungtiva berwarna pucat serta penurunan pigmentasi pada jaringan mukosa mata .
Rahmawati, R.D. and Suparti, S. (2024) ‘Screening Anemia Pada Kelompok Wanita Di Desa Cikidang’, Binawan Student Journal, 6(1), pp. 80–87. Available at:
https://doi.org/10.54771/ckjnr817.
4. Bunyi ronchi (ronkhi) adalah suara napas tambahan, bernada rendah dan bersifat sonor, yang terdengar selama fase inspirasi dan/atau ekspirasi akibat adanya sekresi atau penyumbatan di saluran napas besar seperti bronkus atau trakea. Biasanya terjadi ketika udara bergerak melalui lendir yang terkumpul, dan suara tersebut bisa hilang setelah pasien batuk(Halim et al., 2024). Ronchi muncul karena udara melewati jalan napas yang menyempit oleh mukus, mencerminkan adanya obstruksi bronkial(Nurandani, 2023).
Selain itu, penelitian perawatan keperawatan pada pasien ISPA dan pneumonia menunjukkan bahwa kondisi seperti batuk produktif, sputum yang sulit dikeluarkan, serta frekuensi napas meningkat sering disertai suara ronchi, yang kemudian berkurang setelah dilakukan tindakan medis seperti fisioterapi dada atau inhalasi(Ekowati, Santoso and Sumarni, 2022)
Halim, S.S. et al. (2024) ‘Klasifikasi Suara Paru-Paru Menggunakan Mel Frequency Cepstral Coefficient dan Convolutional Neural Network Lung Sound Classification Using Mel Frequency Cepstral Coefficients and Convolutional Neural Networks’, 6(2), pp. 163–176. Available at: https://doi.org/10.30812/bite.v6i2.4487.
Nurandani, A. (2023) ‘Asuhan Keperawatan pada An. R dengan Bronkopneumonia di Ruang Perawatan Anak Rumah Sakit Hermina Bekasi’, Tamkin Jurnal Pemberdayaan Tazkia, 1(2), pp. 41–66.
Ekowati, K., Santoso, H. and Sumarni, T. (2022) ‘Studi Kasus Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Pada Pasien Pneumonia Di Rsud Ajibarang Case Study of in Effective Airway Cleaning on Pneumonia Patients in Ajibarang Hospital’, Studi Kasus Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Pada Pasien Pneumonia Di RSUD Ajibarang, 10(1), pp. 1–10.
5. Auskultasi adalah teknik pemeriksaan medis yang dilakukan dengan menggunakan alat pendengaran seperti stetoskop untuk mendengarkan suara-suara dari organ dalam tubuh—
terutama paru-paru dan jantung—dengan tujuan mendeteksi suara abnormal yang dapat
menjadi indikator kondisi patologis. Dalam praktik anestesi, misalnya, metode auskultasi 5 titik digunakan untuk memastikan posisi dan kedalaman tabung endotrakeal selama intubasi, membandingkan suara paru di lima lokasi untuk memastikan ventilasi yang tepat dan menghindari kesalahan posisi tabung(Ariestian, Fuadi and Maskoen, 2018)
Ariestian, E., Fuadi, I. and Maskoen, T.T. (2018) ‘Perbandingan Chula Formula dengan Auskultasi 5 Titik terhadap Kedalaman Optimal Pipa Endotracheal pada Anestesi Umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung’, Jurnal Anestesi Perioperatif, 6(1), pp. 21–
26. Available at: https://doi.org/10.15851/jap.v6n1.1286.
6. Immunoglobulin M (IgM) anti-Salmonella typhi adalah antibodi kelas IgM yang terbentuk sebagai respons imun awal terhadap infeksi Salmonella typhi, dan umumnya terdeteksi sekitar hari ke-2 hingga ke-5 setelah gejala demam tifoid muncul. Pemeriksaan IgM ini—
biasanya berupa rapid test atau ELISA—digunakan sebagai penunjang diagnosis demam tifoid akut, meskipun hasilnya perlu dikonfirmasi dengan kultur darah karena sensitivitas dan spesifisitasnya bervariasi . Sebagai contoh, studi dari RSUD Pasar Rebo Jakarta (Jurnal Anakes, Maret 2024) melaporkan 59,2 % pasien tifoid menunjukkan IgM positif, dengan variasi titer yang mencerminkan tingkat keparahan infeksi(Nugroho et al., 2024).
Nugroho, H.P. et al. (2024) ‘Gambaran Skala Kepositifan IgM Salmonella typhi dengan Jumlah Leukosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Pasar Rebo Jakarta’, Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan, 10(1), pp. 49–59. Available at:
https://doi.org/10.37012/anakes.v10i1.2182.
7. Leukosit, atau sel darah putih, merupakan komponen seluler utama dalam sistem kekebalan tubuh yang diproduksi dari jaringan hemopoetik (sum-sum tulang dan kelenjar limfa).
Fungsi utamanya adalah dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi serta respons terhadap agen asing dan inflamasi. Terdiri dari dua kelompok besar—granulosit (neutrofil, eosinofil, basofil) dan agranulosit (limfosit dan monosit)—yang masing- masing memiliki peran khusus mulai dari fagositosis hingga produksi antibodi(Andria, Ginting and Alfisyahri, 2022). Dalam konteks klinis modern, leukosit juga digunakan sebagai marker diagnostik dan prognostik, misalnya melalui rasio neutrofil-limfosit (RNL) yang berkaitan erat dengan derajat klinis penyakit infeksi seperti COVID-19 pada populasi anak(Kurnia and Airlangga, 2024).
Andria, S.R., Ginting, B.S. and Alfisyahri, M. (2022) ‘Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Chelpagia Menggunakan Metode Dempster Shafer’, Jurnal Teknik, Komputer, Agroteknologi Dan Sains, 1(1), pp. 133–139. Available at:
https://doi.org/10.56248/marostek.v1i1.20.
Kurnia, W.C. and Airlangga, E. (2024) ‘Hubungan Jumlah Leukosit dan Rasio Neutrofil Limfosit pada Derajat Klinis Anak dengan COVID-19 di RSU Bunda Thamrin Medan’, Jurnal Implementa Husada, 5(1), pp. 43–52. Available at:
https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/JIH/article/view/18782.
8. Tekanan darah adalah gaya atau tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding arteri, yang berperan penting dalam menjaga sirkulasi darah agar mengalir secara konstan ke seluruh tubuh dan mendistribusikan oksigen serta nutrisi ke organ—organ vital(Solitaire, Lintong and Rumampuk, 2019). Besaran tekanan ini dipengaruhi oleh volume darah yang beredar dan elastisitas pembuluh darah. Secara klinis, tekanan darah diukur dalam dua komponen: tekanan sistolik (saat jantung berkontraksi) dan tekanan diastolik (saat jantung relaksasi)(M et al., 2022). Menurut Joint National Committee (JNC), kategori tekanan darah normal adalah < 120/80 mmHg, sedangkan prehipertensi dan hipertensi memiliki batas yang lebih tinggi, misalnya hipertensi tahap I dimulai pada ≥ 140/90 mmHg(I Gede Deriana , Eirene E.M. Gaghauna, 2025).
Solitaire, S., Lintong, F. and Rumampuk, J. (2019) ‘Gambaran hasil pengukuran tekanan darah antara posisi duduk, posisi berdiri dan posisi berbaring pada siswa kelas xi ipa sma kristen 1 tomohon’, Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), 1(3), pp. 1–4.
M, N.R. et al. (2022) ‘Pengaruh Terapi Relaksasi Membaca Alquran terhadap Perubahan Tekanan Darah dan Denyut Nadi Sesaat’, Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran, 2(11), pp. 830–836. Available at:
https://doi.org/10.33096/fmj.v2i11.145.
I Gede Deriana , Eirene E.M. Gaghauna, B.R.S. (2025) ‘Hubungan Klasifikasi Hipertensi Terhadap Penurunan Fungsi Kognitif Pasien Hipertensi di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin’, Journal of Health, 12(1), pp. 10–18.
9. Laju pernapasan, atau dalam istilah medis respiratory rate (RR), adalah jumlah siklus pernapasan lengkap (inspirasi dan ekspirasi) yang terjadi selama satu menit (60 detik). Pada orang dewasa, rentang normal umumnya berkisar antara 14–20 kali per menit , sementara nilai kurang dari 10 atau lebih dari 26 kali/menit dianggap abnormal. RR dipengaruhi berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh, dan aktivitas, sekaligus berperan sebagai parameter vital penting dalam mendeteksi kondisi seperti pneumonia maupun gangguan pernapasan akut(Muhammad Iqbal, 2017). Penelitian di Indonesia tahun 2022–2023 juga mengadopsi pengertian ini saat menggunakan RR bersama saturasi oksigen untuk mengklasifikasikan kondisi pasien, misalnya pada kasus gagal jantung dan COVID-19 (Hafizhah et al., 2023)
Muhammad Iqbal, D.N.A. (2017) ‘Penerapan Latihan Pursed Lips Breathing Terhadap Respiratory Rate Pada Pasien PPOK Dengan Dyspnea’, 11(1), pp. 92–105.
Hafizhah, A.Z. et al. (2023) ‘Klasifikasi Laju Pernapasan dan Saturasi Oksigen Menggunakan Regresi Logistik’, JIPI (Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pembelajaran Informatika), 8(2), pp. 448–458. Available at: https://doi.org/10.29100/jipi.v8i2.3481.
10. Urin per liter merujuk pada volume urin yang dihasilkan dalam unit liter—biasanya dinyatakan sebagai output urin per 24 jam atau laju per jam—yang mencerminkan fungsi ginjal dan status keseimbangan cairan tubuh. Pada orang dewasa sehat, rata-rata output urin harian berkisar antara 800 hingga 2.000 mL per hari (0,8–2 L), atau sekitar 0,5 mL/kgBB per jam (Putri et al., 2013). Ini sejajar dengan temuan lain yang menyebut output normal 1.400–1.500 mL per hari, atau 30–50 mL per jam, tergantung kondisi lingkungan seperti suhu dan kehilangan cairan insensibel(Herawati and Wijayanti, 2023). Pengukuran ini penting bagi tenaga kesehatan untuk memantau kondisi pasien—terutama dalam kasus
gangguan ginjal atau hemodialisis—karena output urin biasanya digunakan sebagai indikator efisiensi filtrasi ginjal dan keseimbangan cairan tubuh.
Putri, F.W. et al. (2013) ‘Pengaruh Pemberian Loading 500 Cc Produksi Urin Pada Anestesi Spinal Pasien Sectio’, 4.
Herawati, E. and Wijayanti, E.T. (2023) ‘Uji PURI Sebagai Gambaran Status Hidrasi Jangka Pendek Selama Jam Kuliah Pada Mahasiswa’, Biofaal Journal, 4(2), pp.
090–099. Available at: https://doi.org/10.30598/biofaal.v4i2pp090-099
11. Pendokumentasian pasien adalah proses sistematis pencatatan segala aspek layanan kesehatan yang diterima pasien, meliputi identifikasi, pengkajian, diagnosa, intervensi, serta evaluasi. Dokumentasi ini penting sebagai alat komunikasi antar tenaga kesehatan , bukti legal, dan media evaluasi mutu pelayanan. Dalam ruang rawat inap di RSUP Ratatotok Buyat, faktor seperti beban kerja, pengetahuan perawat, dan dukungan supervisi terbukti memengaruhi kualitas dan kelengkapan dokumentasi asuhan keperawatan(Tanauma et al., 2023). Selain itu, pemanfaatan teknologi—seperti penerapan dokumentasi elektronik via aplikasi Android—menunjukkan peningkatan efisiensi terutama saat pandemi, meski tetap dibutuhkan pelatihan intensif dan penyesuaian proses agar efektif(Rabiuliya and Hariyati, 2022).
Tanauma, M.N. et al. (2023) ‘Faktor-faktor yang Berhubungan dalam Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Pusat Ratatotok Buyat’, e-CliniC, 11(2), pp. 176–184. Available at:
https://doi.org/10.35790/ecl.v11i2.44901.
Rabiuliya, E. and Hariyati, R.T.S. (2022) ‘The Method of Computer-Based Nursing Care Documentation Through an Android Application During the Pandemic at the Hospital’, Jaournal of Innovation Research and Knowledge, 1(8), pp. 633–640.
12. Denyut nadi diukur sebagai jumlah gelombang tekanan yang dapat diraba pada arteri dalam satuan “denyut per menit” (beats per minute/BPM). Satuan ini mencerminkan frekuensi jantung, dimana angka 60–100 BPM menandakan kondisi normal pada orang dewasa saat istirahat. Besaran BPM penting digunakan untuk menilai fungsi kardiovaskular dan tingkat kebugaran, karena detak nadi yang rendah umumnya menunjukkan efisiensi dan kebugaran kardiak yang baik(Idayati et al., 2025). Menurut penelitian pada mahasiswa, denyut nadi istirahat diukur selama satu menit dan hasilnya dibandingkan dengan klasifikasi standar untuk mengevaluasi kondisi fisik(Wibowo and Ardhika, 2019).
Idayati, R. et al. (2025) ‘malas bergerak ( mager ) yang merupakan salah satu faktor risiko hipertensi . ( Dcosta et al ., 2022 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya’, 9(2), pp. 1790–1800.
Wibowo, A.T. and Ardhika, F. (2019) ‘Status VO 2 Max dan Denyut Nadi Istirahat Mahasiswa Progam Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Mercu Buana Yogyakarta’, 11(1), pp. 1–14.
13. Saturasi oksigen, atau SpO₂, adalah persentase hemoglobin yang terikat oleh oksigen dari keseluruhan hemoglobin dalam darah. Nilai ini dinyatakan dalam satuan persen (%) dan biasa diukur secara non-invasif menggunakan alat pulse oximeter Rentang normal SpO₂ pada manusia dewasa adalah 95 %–100 %, sedangkan nilai di bawah 90 % menandakan kondisi hipoksemia, yang memerlukan intervensi medis segera(Tompodung et al., 2022). Pengukuran SpO₂ sangat penting karena berfungsi sebagai indikator vital untuk menilai kecukupan suplai oksigen ke organ tubuh—penurunan signifikan dapat memicu gangguan fungsi organ, termasuk otak dan jantung.
Tompodung, C.O. et al. (2022) ‘Gambaran Saturasi Oksigen dan Kadar Hemoglobin pada Pasien COVID-19’, eBiomedik, 10(1), pp. 35–41.
14. Hemoglobin adalah protein tetrametrik berpigmen merah dalam sel darah merah (eritrosit) yang tersusun dari rantai globin dan gugus heme, yang memiliki atom besi sebagai pusatnya. Fungsinya sangat vital karena mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, sekaligus membantu memindahkan sebagian karbon dioksida kembali ke paru-paru (Mulyani et al., 2024). Kondisi kadar hemoglobin yang rendah—
biasa disebut anemia—menjadi indikator penting kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti remaja putri dan ibu hamil. Sebagai contoh, studi di Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa hemoglobin rendah berdampak pada penurunan kemampuan kognitif remaja, kelelahan, dan melemahnya sistem imun.
Mulyani, I. et al. (2024) ‘Pengaruh Kadar Hemoglobin terhadap Risiko Anemia dan Dampaknya pada Kesehatan Remaja Putri’, pp. 15–22.