• Tidak ada hasil yang ditemukan

karakteristik klinis pada pasien infeksi kornea yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "karakteristik klinis pada pasien infeksi kornea yang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK KLINIS PADA PASIEN INFEKSI KORNEA YANG DILAKUKAN TINDAKAN EVISERASI DI PUSAT MATA NASIONAL

RUMAH SAKIT MATA CICENDO

Disusun oleh : Yoyok Nike Subagio NPM 131221150505

PENELITIAN OBSERVASIONAL

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJAJARAN PUSAT MATA NASIONAL RUMAH SAKIT MATA CICENDO

BANDUNG 2019

(2)

PENELITIAN OBSERVASIONAL

KARAKTERISTIK KLINIS PADA PASIEN INFEKSI KORNEA YANG DILAKUKAN TINDAKAN EVISERASI DI PUSAT MATA NASIONAL

RUMAH SAKIT MATA CICENDO

Disusun oleh : Yoyok Nike Subagio NPM 131221150505

Telah disetujui oleh : pembimbing

dr. Susi Heryati., SpM(K).

(3)

KARAKTERISTIK KLINIS PADA PASIEN INFEKSI KORNEA YANG DILAKUKAN TINDAKAN EVISERASI DI PUSAT MATA NASIONAL

RUMAH SAKIT MATA CICENDO

Yoyok Nike Subagio, Susi Heryati Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo

ABSTRACT

Introduction: Evisceration is an operation to remove the contents of the eyeball leaving behind the sclera, which is the white coat of the eye and the extraocular muscles. This procedure is usually performe to remove a painful blind eyes, to manage some severe ocular injuries, to alleviate a severe eye infection.

Purpose: To describe clinical characteristics of infection patients that are eviscerated at National Eye Center Cicendo Eye Hospital

Methods: This study was a cross-sectional descriptive study, with secondary data taken from the medical records of the National Eye Center of Cicendo Eye Hospital from January 2017 to December 2017.

Result: There were 139 eyes that eviscerated procedure. There were 68,3% male and 31,7% female patients. Most of the patients (26,6 %) were 51-60 years olg group. The visual acuity of the patients before evisceration procedure No Light Perception were 101 patients (71.7%), 36 patients or by 25.9% Light perception (LP) and 2 patient (1.4%) hand movement. Corneal ulcers was the most condition that found at a admission (86,3%), followed by endoftalmitis (13.7%). The corneal cultures were positive in 30 patients (29.7%) and revealed 100% gram (+) bacterial.

Conclusion: The infection patients that were eviscerated at the National Eye Center Cicendo Eye Hospital mostly found in men, and in the group 51 -60 years old. This study revealed that visual acuity at admission No Light Perception, corneal ulcers was the most condition found at admission and the most common cause of infection is gram positive bacteria.

Keywords: Cornea ulcer, eviceration, endophthalmitis

PENDAHULUAN

Eviserasi adalah pengeluaran isi bola mata dengan meninggalkan bagian dinding bola mata, sclera, otot-otot ekstra okuli dan saraf optik.

Eviserasi secara teknis lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan enukleasi. 1, 2, 3, 7

Pada kondisi penyakit tertentu, ada kalanya fungsi penglihatan tidak dapat dipertahankan lagi, sehingga yang menjadi masalah berikutnya adalah fungsi kosmetika. Eviserasi

dan enukleasi adalah teknik yang saling bersaing pada awalnya.

Berdasarkan literatur dari awal 2600 SM enukleasi mungkin merupakan tehnik operasi tertua di bidang oftalmologi. Berabad-abad kemudian pada tahun 1817, Bear memperkenalkan tehnik pengeluaran isi bola mata. Pada tahun 1874, Noyes menggambarkan tehnik pengeluaran isi bola mata sebagai penatalaksanaan pada oftalmologi.

Pada tahun 1884, Mules

(4)

memperkenalkan penggunaan protesa pada mata yang dipasangkan pada mata yang dilakukan tindakan eviserasi.3, 4, 5

Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik klinis penyakit infeksi yang dilakukan tindakan eviserasi di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo.

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional, dengan data sekunder dari pasien yang dilakukan tindakan eviserasi yang diambil dari rekam medis Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo dari bulan Januari 2017 sampai bulan Desember 2017.

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang dilakukan tindakan eviserasi yang datang ke Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo.

Data yang dikumpulkan dari rekam medis pasien diantaranya usia, jenis kelamin, tajam penglihatan, indikasi eviserasi seperti trauma, endoftalmitis, glaukoma, preptisis, keratitis, ulkus kornea. Tajam penglihatan didapatkan dari pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menggunakan cahaya dan gerakan tangan pada saat ke poliklinik pusat mata nasional rumah sakit mata cicendo. Trauma, endoftalmitis, glaukoma, preptisis, ulkus kornea didapatkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, dilihat dari pemeriksaan segmen

anterior dengan menggunakan lampu celah atau slit lamp.

Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah seluruh pasien yang datang ke RS Mata Cicendo yang dilakukan tidakan eviscerasi pada bulan Januari 2017 - Desember 2017.

HASIL

Berdasarkan data yang diambil dari rekam medis Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo dari bulan Januari 2017 sampai bulan Desember 2017 diperoleh 139 mata dari 139 pasien yang dilakukan tindakan eviserasi.

Karakteristik demografis pasien yang dilakukan tindakan eviserasi dapat dilihat pada tabel satu.

Menjelaskan karakteristik demografis keseluruhan pasien penelitian menurut usia dan jenis kelamin. Untuk kategori berdasarkan usia didapatkan paling banyak adalah penderita di usia produktif ( 20 – 60 tahun ) sebanyak 80 pasien atau sebesar 57,6 %, sedangkan di usia tua ( diatas 60 tahun ) sebanyak 48 pasien atau sebesar 34,5%, dan pada usia muda ( < 20 tahun ) sebanyak 11 pasien atau sebesar 7,9 %. Untuk pasien infeksi didapatkan pasien laki- laki sebanyak 78 pasien dan perempuan sebanyak 39 pasien.

Sedangkan untuk pasien non infeksi didapatkan pasien laki-laki sebanyak 17 pasien dan perempuan sebanyak 5 pasien .

(5)

Tabel 1. Karakteristik demografis Karakteristik Jumlah % Usia ( N : 139)

1 - 10 th 4 2,9

11 – 20 th 7 5,04

21 – 30 th 6 4,3

31 – 40 th 12 8,6

41 – 50 th 25 18

51 – 60 th 37 26,6

61 –70 th 25 18

71 – 80 th 20 14,4

81 –90 th 3 2,16

Jenis kelamin

Laki - laki 95 68,3

Perempuan 44 31,7

Infeksi ( N : 117 )

Laki - laki 78 66,7

Perempuan 39 33,3

Non infeksi ( N : 22 )

Laki - laki 17 77,3

Perempuan 5 22,7

Karakteristik visus pasien yang dilakukan tindakan eviserasi dapat dilihat pada tabel 2. Menjelaskan karakteristik pasien yang dilakukan tindakan eviserasi berdasarkan visus.

Untuk pasien yang dilakukan eviserasi paling banyak didapatkan pada pasien dengan Visus No Light Perceptions didapatkan sebanyak 101 pasien atau sebesar 72,7%. Pada

tabel 2 juga menjelaskan karakteristik yang dilakukan tindakan eviserasi pada pasien infeksi berdasarkan visus. Untuk pasien dengan visus 1/300 didapatkan sebanyak 2 pasien atau sebesar 1,7%. Pasien dengan visus Light perception (LP) didapatkan sebanyak 36 pasien atau sebesar 30,8%. Pasien dengan visus No Light perceptions didapatkan sebanyak 79 pasien atau sebesar 67,5%.

Tabel 2. Visus pre operasi

Visus Jumlah %

Total N : 139

1/300 2 1,4

LP 36 25,9

NLP 101 72,7

Infeksi N : 117

1/300 2 1,7

LP 36 30,8

NLP 79 67,5

Karakteristik klinis dan indikasi pasien berdasarkan usia yang dilakukan tindakan eviserasi meliputi trauma, endoftalmitis, glaukoma, preptisis, keratitis, ulkus kornea dapat dilihat di tabel 3.

Tabel 3. Indikasi pasien yang dilakukan tindakan eviserasi

Usia Trauma Endoftalmitis Glaukoma Preptisis Ulkus

1 - 10 th 1 1 2

11 – 20 th 2 2 1 2

21 – 30 th 1 1 4

31 – 40 th 1 2 9

41 – 50 th 2 3 2 18

51 – 60 th 2 5 1 29

61 –70 th 1 5 1 1 17

71 – 80 th 1 19

81 –90 th 1 1 1

(6)

Dari indikasi keadaan klinis pasien yang dilakukan tindakan eviserasi yang terbanyak didapatkan pada pasien dengan ulkus kornea yaitu sebanyak 101 mata. Tindakan eviserasi pada pasien dengan ulkus kornea paling banyak dilakukan pada pasien yang berusia 51 – 60 tahun.

Dari 101 pasien dengan ulkus kornea yang dilakukan tindakan eviserasi dilakukan pemeriksaan mikrobiologi untuk mengetahui etiologi penyebab terjadinya ulkus.

Dari 101 pasien dengan ulkus terdapat 30 pasien yang dilakukan tindakan pemeriksaan mikrobiologi sedangkan 71 tidak dilakukan karena pasien datang dengan ulkus perforasi, prolaps isi bola mata dan ulkus yang sudah berat. Hasil dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Indikasi eviserasi pada kornea yang terinfeksi

Terapi N : 101 %

Kegagalan Graft, konjungtiva flap

10 9,9

Kegagalan th/

medikamentosa ulkus

20 19,8

Ulkus kornea + Prolaps isi bola mata

32 31,7

Ulkus kornea Perforasi 25 24,6

Ulkus dengan

keterlibatan limbus

8 7,9

Stafiloma 6 5,9

Pada tabel 4 juga dapat dilihat bahwa terdapat 30 pasien telah mendapatkan terapi sebelum dilakukan tindakan eviserasi, baik itu dengan menggunakan obat – obatan maupun dengan tindakan operasi

seperti pemasangan konjungtival flap, skleral graft, corneal graft ataupun dengan amnion membran.

Dari 71 pasien yang saat datang langsung dilakukan tindakan eviserasi paling banyak di dapatkan pada pasien dengan prolaps isi bola mata sebanyak 32 pasien atau sebesar 45,1 %.

Dari 30 pemeriksaan mikrobiologi sebelum eviserasi didapatkan seluruh infeksinya disebabkan oleh bakteri gram (+) coccus sedangkan untuk KOH dan Acanthamoeba tidak ditemukan. hasil dapat di lihat di tabel 5.

Tabel 5. Hasil mikrobiologi ulkus kornea

Jenis pemeriksaan Jumlah %

KOH - -

Acanthamoeba - -

Bakteri gram positif coccus

30 100

DISKUSI

Eviserasi adalah tehnik operasi untuk menghilangkan, mengeluarkan isi bola mata dengan meninggalkan bagian sklera. Operasi ini biasanya dilakukan untuk menghilangkan keluhan yang dialami pasien karena keluhan mata yang menyakitkan dan penglihatan yang buruk, penanganan untuk terjadinya trauma pada mata yang parah, untuk penanganan pada mata yang mengalami infeksi parah atau untuk kelainan mata yang lainnya. 1, 6, 7

Penelitian ini melaporkan bahwa pasien yang dilakukan tindakan

(7)

eviserasi yang disebabkan berbagai hal sebanyak 139 mata sepanjang tahun 2017. Dengan usia paling banyak dilakukan tindakan eviserasi pada kelompok usia 51 – 60 tahun.

Dari 139 pasien yang dilakukan eviserasi, pasien dengan infeksi didapatkan lebih banyak di bandingkan dengan pasien non infeksi. Dimana pasien dengan infeksi didapatkan pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 78 pasien atau sebesar 66,7% dan perempuan sebanyak 39 pasien atau sebesar 33,3%. Sedangkan untuk pasien non infeksi didapatkan pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 17 pasien atau sebesar 77,3% dan perempuan sebanyak 5 pasien atau sebesar 22,7%. Pada pasien dengan infeksi laki – laki didapatkan lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan, 78 pasien atau sebesar 66,7% pasien laki – laki dan sebanyak 39 pasien atau sebesar 33,3% pasien perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ali Kord Valeshabad, dkk. Dan juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Teeravee Hongyok, dkk. Serta sesuai juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Salman J. Yousuf dkk. Dimana pada penelitian tersebut didapatkan tindakan pengeluaran isi bola mata paling banyak dilakukan pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan ( 57 laki-laki dan 43 perempuan).8, 9, 13

Penelitian ini melaporkan bahwa tindakan eviserasi paling banyak dilakukan pada pasien dengan infeksi yang didapatkan sebanyak 117 pasien dibandingkan dengan non infeksi yang didapatkan sebanyak 22 pasien. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh M.L.

Allen dkk. Pengeluaran isi bola mata paling banyak dilakukan dan indikasi paling umum untuk pengeluaran isi adalah infeksi (6 mata, 43%), trauma (5 mata, 36%).9,10

Pada penelitian ini dilaporkan bahwa terdapat 30 pasien dengan ulkus kornea yang mendapatkan terapi sebelum dilakukan tindakan eviserasi, baik itu dengan menggunakan obat – obatan maupun dengan tindakan operasi seperti pemasangan konjungtival flap, skleral graft, corneal graft ataupun dengan amnion membran. Pada 20 pasien dilakukan pemberian terapi medikamentosa pada ulkus kornea tetapi mengalami kegagalan terapi medikamentosa sehingga dilakukan tindakan eviscerasi. Penatalaksanaan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Teeravee Hongyok, dkk. dimana pasien dengan ulkus kornea akan diberikan terapi medikamentosa terlebih dahulu. Bila terapi tersebut tidak memberikan hasil yang baik maka dapat dipertimbangkan operasi seperti pemasangan konjungtival flap, skleral graft, corneal graft ataupun dengan amnion membran. Penelitian yang dilakukan oleh Hideaki

(8)

Yokogawa dkk. dan juga penelitian oleh Jhanji V dkk.Dimana terapi bedah untuk ulkus kornea juga bergantung pada ukuran dan lokasi perforasi kornea, tindakan operasi meliputi konjungtival flap, skleral patch graft, corneal patch graf,. dan transplantasi membran amnion.9, 14, 15 Penelitian ini melaporkan bahwa tindakan eviserasi paling banyak dilakukan pada pasien dengan infeksi yang didapatkan sebanyak 117 pasien. Dan penyebab yang paling banyak di karenakan oleh ulkus kornea yaitu sebanyak 101 pasien.

Dari jumlah total 101 pasien dengan ulkus kornea terdapat 30 pasien yang dilakukan tindakan pemeriksaan mikrobiologi (scrapping). Dari 30 sampel pasien yang dilakukan pemeriksaan mikrobiologi didapatkan seluruh infeksinya disebabkan oleh bakteri gram (+) coccus. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Teeravee Hongyok, dkk. Dimana pada penelitian yang dilakukan didapatkan hasil pemeriksaan mikrobiologi paling banyak di sebabkan oleh bakteri, dibandingkan mikroorganisme lain. Tetapi ada penelitian yang dilakukan oleh Shubhra Mehta dan Manoj Mehta didapatkan hasil yang berbeda di mana penyebab infeksi ulkus kornea dari pemeriksaan mikrobiologi paling banyak di sebabkan oleh fungi dibandingkan yang disebabkan oleh bakteri. Di antara 43 pasien yang dilakukan kultur, 29 (67,44%) pasien

didapatkan hasil pemeriksaannya adalah jamur, sedangkan 14 (32,56%) pasien memberikan hasil positif untuk bakteri.10,11, 12

Keterbatasan pada penelitian ini yaitu:

(1) variable data yang diambil kurang dipaparkan secara lengkap pada rekam medis ; (2) hampir sebagian besar pasien tidak dilakukan pemeriksaan mikrobiologi sehingga kesulitan untuk mengetahui etiologinya.

SIMPULAN

Pasien infeksi yang dilakukan eviserasi di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo periode januari 2017 sampai Desember 2017 yang terdapat pada penelitian ini adalah sebanyak 117 mata dari pasien dengan rentang usia terbanyak 51 - 60 tahun. Jenis kelamin pada pasien infeksi paling banyak ditemukan pada laki-laki.

Hasil penelitian ini menunjukkan Infeksi bakteri merupakan penyebab paling umum. Ulkus kornea memiliki komplikasi luka yang lebih tinggi terinfeksi oleh patogen lain.

Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi pentingnya pemeriksaan oftalmologi lengkap agar dapat membantu dalam penegakkan diagnosis dan juga penatalaksanaan yang tepat.

Diperlukan pencarian etiologi dari setiap kasus infeksi pada mata sehingga dapat menanggulangi dan mengurangi angka terjadinya

(9)

kehilangan penglihatan akibat terlambatnya penanganan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cantor LB, Rapuano CJ, Cioffi GA. External Disease and Cornea.

San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2018-2019.

2. Laura T. Phan et all. Evisceration in the Modern Age. 2012 Jan-Mar;

19(1): 24–33.

3. Kanski J, Bowling B. Kanski’s Clinical Ophthalmology. 7th edn.

London United Kingdom: Elsevier Health Sciences; 2011.

4. Soares IP, França VP. Evisceration and enucleation. Semin Ophthalmol.

2010;25(3):94–97.

5. Yousuf SJ, Jones LS, Kidwell ED., Jr Enucleation and evisceration:

20 years of experience. Orbit.

2012;31:211–5.

6. Saad A. Al-Dahmash et all.

Indications for enucleation and evisceration in a tertiary eye hospital in Riyadh over a 10-year period.

2017 Jul-Aug; 37(4): 313–316

7. Yacoub A. Yousef, et all.

Enucleation and evisceration at a tertiary care hospital in a developing country. 2015; 15: 120.

8.Ali Kord Valeshabad, et all.

Enucleation and evisceration:

indications, complications and clinicopathological correlations.

2014; 7(4): 677–680.

9. Teeravee Hongyok, Worapa Leelaprute . Corneal Ulcer Leading

to Evisceration or Enucleation in a Tertiary Eye Care Center in Thailand: Clinical and Microbiological Characteristics. J Med Assoc Thai 2016; 99 (Suppl. 2):

S116-S122

10. M.L. Allen; P.H. Blomquist;

K.M. Itani. Enucleation and Evisceration: A Review of the Indications and Demographics. May 2003 Volume 44, Issue 13.

11. Constantinou M, Jhanji V, Tao LW, Vajpayee RB. Clinical review of corneal ulcers resulting in evisceration and enucleation in elderly population. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol 2009; 247:

1389-93.

12. Amatya R, Shrestha S, Khanal B, Gurung R, Poudyal N, Bhattacharya SK, et al. Etiological agents of corneal ulcer: five years prospective study in eastern Nepal. Nepal Med Coll J 2012; 14: 219-22.

13. Salman J. Yousuf; Leslie S.

Jones; Earl D. Kidwell, Jr . Indications and Complications of Orbital Eviscerations at Howard University Hospital. Investigative Ophthalmology & Visual Science April 2011, Vol.52, 1071

14.Hideaki Yokogawa et all. Surgical therapies for corneal perforations: 10 years of cases in a tertiary referral hospital. 2014; 8: 2165–2170.

15. Jhanji V et all. Management of corneal perforation. 2011 Nov- Dec;56(6):522-38.

Referensi

Dokumen terkait

PLS Dewasamuda Laki-laki Sistemik Posterior EYH Dewasamuda Perempuan Sistemik Posterior ARF Dewasatua Laki-laki Sistemik Posterior RSK Dewasatua Perempuan Sistemik

Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa terdapat penurunan sensibilitas kornea pasien katarak senilis secara signifikan pada hari pertama pasca operasi dibandingkan

Rasio perempuan hiperplasia adrenal kongenital lebih banyak dibandingkan laki-laki (4,6:1) dengan median usia saat terdiagnosis adalah 1 bulan (rentang 0-3 bulan) pada tipe SW,

Simpulan: Kriteria penderita Tuberculosis dari penelitian ini didapatkan dari jenis kelamin menunjukkan laki-laki lebih banyak dari perempuan, dari segi umur paling banyak

Selain itu, akne vulgaris umunya lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita pada rentang usia 15-44 tahun yaitu 34 % pada laki-laki dan... Pada

Kejadian psoriasis sama pada laki-laki dan perempuan, namun beberapa studi menemukan prevalensi psoriasis sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan

9 Berdasarkan hasil yang diperoleh pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 17 orang (59%) dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 12 orang (41%), namun pada

Hasil penelitian ini didapatkan usia paling banyak remaja akhir 17 responden 53,1% dengan penerimaan baik pada usia dewasa akhir 15,3%, jenis kelamin laki-laki paling banyak 19