Karakteristik Masyarakat Desa Hutan
Oleh
Didik Suharjito Beragam tipe hutan:
• Hutan pantai;
• Hutan mangrove;
• Hutan rawa;
• Hutan gambut;
• Hutan dataran rendah;
• Hutan pegunungan.
Beragam tipe masyarakat
Pemburu meramu;
Peladang (pertanian gilir balik);
Petani lahan kering;
Peternak;
Petani ikan;
Petani sawah;
Industri;
Pedagang dan jasa.
Sebaran Geografis
Tipe-tipe Masyarakat Pertanian
Tipe Masyarakat Daerah
Pemburu meramu Sumatera: Suku Anak Dalam (Orang Rimba), Sakai (sebagian), Talang Mamak;
Kalimantan: Punan Peladang berpindah
(pertanian gilir balik)
Jawa Barat: Baduy, Kasepuhan (pertanian huma); Sumatera; Kalimantan; Sulawesi;
Maluku; Papua; NTT
Pertanian Lahan Kering Jawa Barat & pulau-pulau di luar Jawa Pertanian Sawah Jawa; Bali; NTB; Sulawesi; dan sebagian
pulau lain
Jumlah Rumahtangga Pertanian di Indonesia
Penduduk Indonesia berdasarkan hasil PODES 2014
• Tercatat 82.190 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa yang terdiri dari 73.709 desa, 8.412 kelurahan dan 69 UPT.
• Piramida Penduduk Indonesia tahun 2014 termasuk tipe expansive, sebagian besar penduduk berada pada
kelompok umur muda.
• Terdapat 10.985 desa/kelurahan (13,37%) tidak ada SD (termasuk MI).
• Sebanyak 12.659 desa/kelurahan (15,40%) tidak ada keluarga pengguna listrik PLN.
• Sebanyak 31.387 desa/kelurahan (38,19%) tidak ada penerangan di jalan utama desa.
• Sebanyak 12.636 desa/kelurahan (15,73%) dari 80.337 desa/kelurahan yang sarana
transportasinya darat, kondisi jalannya tidak dapat dilalui kendaraan bermotor roda 4 atau lebih sepanjang tahun.
• Jumlah Rumahtangga Pertanian berdasarkan
Sensus Pertanian (ST) tahun 2003 dan 2013
(lihat Tabel)
Wilayah ST2003 (x1000) ST2013 (x1000)
Sumatera 6.615,99 6.287,60
Jawa 17.955,84 13.428,50
Bali dan Nusra 1.941,75 1.787,70
Kalimantan 1.631,25 1.556,23
Sulawesi 2.417,44 2.260,96
Maluku dan Papua 669,91 814,48
Indonesia 31. 232,18 26. 135,47
Berdasarkan Sensus Pertanian 2013 & SUTAS 2018:
• Jumlah rumahtangga usaha pertanian (RTUP) yang menguasai lahan kurang dari 0,1 ha: 4,34 juta RTUP, lebih kecil dari tahun 2003 (9,38 juta RTUP).
• Proporsi RTUP yang tergolong petani gurem
(menguasai lahan kurang dari 0,5 ha): 55,9% (14,2 juta), lebih kecil dari tahun 2003 (63,3%).
• Jumlah RTUP yang menguasai lahan lebih dari 0,5 ha:
11,51 juta RTUP (44,1%), lebih besar dari tahun 2013 (11,43 juta RTUP; 36,6%).
• Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antar
Sensus (SUTAS) 2018, jumlah dan proporsi petani gurem naik kembali menjadi 58,1 % (15,8 juta RTUP) pada tahun 2018.
• Rata-rata luas penguasaan lahan pertanian meningkat dari 0,35 ha pada tahun 2003 menjadi 0,86 hektar pada tahun 2013, dan
turun kembali menjadi 0,73 hetar pada tahun
2018.
Desa Hutan di Indonesia
• Data PODES (Potensi Desa) tahun 2006 dan 2008, jumlah desa hutan yang tersebar di 32 propinsi sebanyak 19.410 desa atau 26,7 %; berdasarkan hasil overlay dg peta hutan, terdapat 25.863 desa dari 70.429 atau 36,72 %; jika hanya mengacu pd yg match, jumlahnya 17.656 desa atau 25,1 %.
• Jumlah penduduk desa hutan mencapai lebih dari 37 juta jiwa atau 17,1 % dari penduduk Indonesia;
• Jumlah penduduk miskin yang bertempat tinggal di desa hutan sekitar 12 juta jiwa;
• Desa-desa di dalam dan di sekitar atau di tepi hutan disebut
“desa hutan”;
19.410
• Desa di dalam atau di sekitar hutan menggambarkan letak (dimensi ruang), “desa hutan” menggambarkan tingkat ketergantungan kehidupan masyarakatnya
terhadap sumberdaya hutan. Jika letak desa berkaitan dengan tingkat ketergantungan, maka kedua istilah itu dapat saling dipertukarkan.
• Catatan: Lihat publikasi Badan Planologi Kehutanan. 2007.
Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007. Kerjasama Departemen Kehutanan dan Badan Pusat Statistik. Jakarta dan
Direktur Jenderal Planologi Kehutanan. 2009. Identifikasi Desa di Dalam dan di Sekitar Kawasan Hutan 2009. Jakarta. Konsep
kawasan hutan yang digunakan dalam laporan ini menunjuk pada kawasan hutan negara, tidak termasuk hutan-hutan pada tanah milik.
Penduduk Desa Hutan di Indonesia
• Penduduk yang bermata pencaharian langsung dari hutan berjumlah sekitar 6 juta jiwa, sebanyak 3,4 juta jiwa diantaranya bekerja di sektor swasta kehutanan.
Secara tradisi, pada umumnya mata pencaharian masyarakat tersebut adalah memanfaatkan produk- produk hutan, baik kayu maupun bukan kayu, antara lain rotan, damar, gaharu dan pemanfaatan lebah madu oleh masyarakat Sekitar Hutan.
• Statistik nasional melaporkan bahwa penyerapan tenaga kerja pada kegiatan kehutanan di industri dan
pengusahaan hutan pada tahun 2000 tercatat sebesar 3.092.470 orang, dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp.7,3 juta/tahun/orang bagi yang bekerja di HPH, sebesar Rp. 3,3 juta/tahun/orang bagi yang bekerja di industri (BPS, 2000).
• Secara umum kondisi infrastruktur, pendidikan,
kesehatan, perumahan, dan lingkungan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan, lebih rendah dari masyarakat di perkotaan, baik kualitas maupun
kuantitasnya. Seiring dengan kondisi tersebut, sanitasi perumahan dan lingkungan serta fasilitas umum masih kurang memadai:
• Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013), jumlah rumahtangga usaha
pertanian di Indonesia adalah 26,1 juta
rumahtangga, menurun 16,32% dari tahun 2003 (31.2 juta)
• Jumlah rumah tangga usaha tanaman sengon sebanyak 2,8 juta rumah tangga atau
meningkat sebanyak 1,2 juta rumah tangga
dibanding tahun 2003.
• Jumlah pohon sengon yang diusahakan pada tahun 2013 adalah 328,8 juta pohon (meningkat 268,8 juta pohon dari tahun 2003)
• Jumlah rumah tangga usaha tanaman jati sebanyak 2,5 juta rumah tangga atau meningkat sebanyak 0,5 juta rumah tangga dibanding tahun 2003.
• Jumlah pohon jati yang diusahakan pada tahun 2013 adalah 167,4 juta pohon (meningkat 87,7 juta pohon dari tahun 2003)
Rumahtangga Usaha Kehutanan
Pulau Budidaya tanaman
Penangkaran satwa/
tumbuhan liar
Penangkapan satwa liar
Pemungutan Hasil Hutan
Jawa 2.969.328 681.477 6.152 126.428
Sumatera 454.366 3.029 9.570 56.000
BaliNusra 651.237 965 2.648 78.978
Kalimantan 78.116 1.013 12.133 50.937
Sulawesi 363.940 617 5.678 37.860
Maluku 16.916 24 4.263 13.653
Papua 17.887 3.058 21.206 118.963
Indonesia 4.551.790 690.183 61.650 482.819
78.66 11.93 1.06 8.34
• Jumlah rumahtangga usaha kehutanan: 5.786.442 (6.782.952)
• Jumlah rumah tangga usaha tanaman jabon sebanyak 100,6 ribu rumah tangga
• Jumlah pohon jabon yang diusahakan pada tahun 2013 adalah 23,5 juta pohon. Pada tahun 2003
tanaman jabon belum diidentifikasi atau belum diusahakan.
• Rata-rata pendapatan rumah tangga pertanian
dari usaha pertanian mencapai Rp 12,4 juta per
tahun atau Rp 1,0 juta per bulan, berkontribusi
sebesar 46,74 % terhadap pendapatan rumah
tangga pertanian (Rp 26,56 juta per tahun).
Hasil Survei Kehutanan (SKH) 2014
• Terdapat sekitar 32,45 juta anggota rumah tangga di sekitar kawasan hutan (Tabel 2.11). Di Pulau Jawa, pulau dengan
penduduk terpadat di Indonesia yang luas wilayahnya hanya 6 persen dari daratan Indonesia, bermukim sekitar 15,85 juta anggota rumah tangga sekitar kawasan hutan. Padahal, BPKH Wilayah XI Jawa-Madura menyebutkan luas keseluruhan
kawasan hutan Jawa hanya mencapai 3,3 juta hektare atau kurang dari 26 persen daratan Pulau Jawa. Bahkan, mayoritas pengelolaan hutan, sekitar 2,42 juta hektare atau lebih dari 85,37 persen, diserahkan kepada Perum Perhutani, dan
cenderung mengalami penurunan tutupan lahan dengan cepat.
Tabel : Jumlah anggota rumah tangga sekitar kawasan hutan menurut pulau di Indonesia, 2013
Pulau Jumlah anggota rumahtangga
Persen (%)
Sumatera 6.154.102 18,97
Jawa 15.856.382 48,87
Bali-Nusa Tenggara 2.601.916 8,02
Kalimantan 2.262.549 6,97
Sulawesi 3.197.336 9,85
Maluku 1.010.769 3,12
Papua 1.364.797 4,21
Indonesia 32.447.851 100
Number and Percentage of Households Practicing Shifting Cultivation in the Surrounding Forest Areas, 2004 and 2014
No. Households Year
2004 2014
1. Number of Households in the Surrounding
Forest Areas 7,804,970 8,643,228
2. Number of Households Practice Shifting
Cultivation 259,959 242,866
3. Percentage of Households Practice Shifting
Cultivation 3.33 2.81
*) Currently number of forest village (in and around forest areas) are 31.957 villages, categorized in forest area 1.305 villages (4,08%), in border of forest area 7.943 (24,86%), and around forest area 22.709 (71,06%).
Forest area is designated a particular region or set by the government to be protected as permanent forest
Jumlah Tanaman Kehutanan yang diusahakan berdasarkan ST2003 & ST 2013 (juta pohon)
Wilayah Sengon Jati Jabon
ST2003 ST2013 ST2003 ST2013 ST2013
Sumatera 4,79 10,49 7,30 3,13 2,71
Jawa 50,10 305,92 50,05 103,12 17,45
Bali dan Nusra 1,12 4,70 9,98 24,36 0,43
Kalimantan 3,13 5,01 3,84 1,73 0,43
Sulawesi 0,73 2,59 8,09 33,20 2,37
Maluku dan Papua 0,11 0,12 0,46 1,84 0,07
Indonesia 59,98 328,83 79,71 167,39 23,46
Distribusi pendapatan rumahtangga pertanian dari kegiatan usaha pertanian menurut sub sektor
2004 2013
Rata-rata pendapatan rumahtangga pertanian dari usaha di sektor pertanian per tahun menurut sumber pendapatan utama (ribu
rupiah) Tahun 2014
No. Sumber Pendapatan Utama Rata-Rata Pendapatan per Tahun (ribu rupiah) A SEKTOR PERTANIAN
1 Tanaman Padi dan Palawija 10 940,65
2 Tanaman Hortikultura 17 710,71
3 Tanaman Perkebunan 20 444,81
4 Peternakan 14 561,25
5 Budidaya Ikan di Laut 24 392,27
6 Budidaya Ikan di Tambak/Air Payau 31 316,44
7 Budidaya Ikan/Biota Lain di Kolam Air Tawar 29 302,62
8 Budidaya Ikan di Sawah 25 791,95
9 Budidaya Ikan di Perairan Umum 34 803,64
Lanjutan
No. Sumber Pendapatan Utama Rata-Rata Pendapatan per Tahun (ribu rupiah)
A SEKTOR PERTANIAN
10 Budidaya Ikan Hias 50 847,91
11 Penangkapan Ikan di Laut 28 088,94
12 Penangkapan Ikan di Perairan Umum 18 134,14
13 Tanaman Kehutanan 15 823,69
14 Penangkaran Satwa/Tumbuhan Liar 8 095,49
15 Pemungutan Hasil Hutan/Penangkapan Satwa Liar
16 169,45
16 Jasa Pertanian 14 081,97
• https://www.bps.go.id/
• Rumah tangga usaha budidaya tanaman kehutanan Usaha budidaya tanaman kehutanan adalah kegiatan kehutanan yang menghasilkan produk tanaman
kehutanan dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar. Tanaman kehutanan adalah tanaman tahunan yang berumur panjang, berbatang keras, dan biasanya bentuk produksinya adalah
batang/kayu (kecuali rotan, bambu, kayu putih, damar, dan pinus) Usaha pembibitan tanaman
kehutanan adalah kegiatan memperbanyak anakan tumbuhan kehutanan baik dari biji, stek, dan/atau
okulasi dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar.
Jumlah Rumah Tangga Usaha Kehutanan Menurut Provinsi dan Jenis Kegiatan, 2018
Provinsi Rumah Tangga Usaha Kehutanan
Budidaya Tanaman Kehutanan
Jawa Barat 987.878 983.558
Jawa Tengah 1.742.834 1.729.896
DI Yogyakarta 210.899 210.677
Jawa Timur 1.253.781 1.239.730
Gambaran global:
• Pada tahun 2015, wilayah Asia-Pacific berpenduduk 55
% dari penduduk dunia;
• Asia Selatan adalah wilayah paling besar penduduknya (terutama India, Pakistan and Bangladesh);
• Asia Timur adalah wilayah kedua paling banyak penduduknya (China, Japan). Penduduk China
diproyeksikan mencapai puncak pada 2029, yaitu 1 440 juta jiwa.
Typologies of Farmers Based on Behaviour
1. The Secure Investors: farmers with sufficient rice to last the full year because of the size of their farms (around 2.5 ha), the
fertility of their soils or because they could irrigate some of
their fields. These farmers were willing and able to invest more in their farms to increase production. Some had begun to do so by planting fruit trees.
2. The Profit Maximizers: These farmers had smaller farms (1.5 ha) and were much less self-sufficient in rice. They had chosen to invest land and labour in growing profitable but high-risk cash crops such as cabbages in the hope of making sufficient income to buy their food. In time they hoped to build up
enough capital to be able to move into buying more land, hiring labour and moving to a less risky livelihood strategy
3. The Diversifiers: had less land than the Secure
Investors and were less self-sufficient in rice but chose to achieve food security by having a variety of crops.
Most were necessarily focussed on the immediate future and were not as interested in longterm crops like fruit trees.
4. The Survivors and the Dropouts: Not self-sufficient in rice and relied on off-farm income for their
livelihoods. The Survivors continued to carry out some farming on the own landholdings (about 1 ha in area);
5. The Dropouts: lost all their land or no longer engaged in farming because they believed it was not worth the effort.
1. The Confident farmers: owned most of their land and grew most of their food, no constraints on continuing to plant more trees.
2. The Experienced foresters: able to produce most of their own food, had formal land leases but were less dependent on their farms for income because they had other off-farm sources of income, had previous experience in using state-owned forest resources and appeared to want to use this experience to grow trees on their own land.
3. The Doubtful foresters: felt technically capable of
carrying out further reforestation but were only able to grow a small proportion of their food and were
concerned about the lack of support for tree-growing.
4. The Well-off farmers: less interested in
growing more trees, financially better of than most others but owned limited areas of land and were least dependent on their farms for income, more concerned with developing
their off-farm income generating activities 5. The Disadvantaged households were also
uninterested but, in this case, the reason was that they owned very small areas of land and had the lowest incomes in the community,
They simply could not afford to be involved in
tree-growing.
Pertanyaan diskusi
• Hasil hutan apa yang dipungut (dipanen) oleh suatu keluarga masyarakat desa hutan;
• Apa manfaat dari hasil hutan yang dipungut ?
• Seberapa besar tingkat ketergantungan keluarga pada hasil hutan ?
• Dapatkah hasil hutan yang dimanfaatkan
tergantikan oleh produk/jasa yang lain ?
Deforestation Rate in Indonesia, 2013- 2018
Year Deforestation Rate Ha)
1996-2000
2013-2014 397,370.9
2014-2015 1,092,181.5
2015-2016 629,176.9
2016-2017 480,010.8
2017-2018 439,439.1