Kasus Gugatan Kesultanan Yogyakarta terhadap PT Kereta Api Indonesia (PT KAI)
Mata Kuliah:
Hukum Perdata Dosen Pengampu:
Dr. Adhiputro Dr. Adhiputro Pangarso Wicaksono, S.H., M.H.
Kelompok: 6
1. Dimas aska s (E2406103501031) 2. Dimas bayu ardiansya (E2406103501018) 3. Bagus Tri Prasetyo (E2406103501023) 4. Ahmad Asyhab R (E2406103501038) 5. Salsabila Halena D (E2406103505034)
UNIVERSITAS BOYOLALI 2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu tanpa ada halangan yang berarti dan sesuai dengan harapan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada bapak Dr. Adhiputro Pangarso Wicaksono, S.H., M.H. sebagai dosen pengampu mata kuliah Hukum Perdata yang telah membantu memberikan arahan dan pemahaman dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini.
Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Boyolali, 17 Juni 2025
Kelompok 6
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Rumusan Masalah...1
1.3. Tujuan Penulisan...1
BAB II PEMBAHASAN...2
BAB III PENUTUP...3
3.1. Kesimpulan...3
3.2. Saran...3
DAFTAR PUSTAKA...4
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Bekalang
Kasus gugatan yang melibatkan Kesultanan Yogyakarta dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) berakar dari sengketa kepemilikan tanah di area Stasiun Tugu Yogyakarta. Tanah seluas 297. 192 meter persegi ini terdaftar sebagai aset milik PT KAI, namun Kesultanan Yogyakarta menyatakan bahwa tanah tersebut merupakan bagian dari Sultan Ground (SG), yang merupakan warisan budaya Kesultanan yang telah ada selama berabad-abad.
Kesultanan Yogyakarta berpendapat bahwa tanah tersebut secara historis dan hukum adalah milik mereka. Di sisi lain, PT KAI menganggap bahwa tanah itu termasuk dalam aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah dikelola sejak masa nasionalisasi tanah pada era kolonial dan kemerdekaan. Sengketa ini bukan sekadar pertikaian lahan, melainkan juga menyangkut persoalan administratif dan legalitas kepemilikan atas aset bersejarah yang memiliki nilai budaya dan historis yang sangat tinggi bagi Kesultanan.
1.2. Rumusan Masalah:
•Apakah secara hukum Kesultanan Yogyakarta atau PT KAI memiliki tanah Sultan Ground di emplasemen Stasiun Tugu Yogyakarta?
•Apakah tindakan PT KAI untuk mencatat tanah Sultan Ground sebagai aset tetap perusahaan sesuai dengan undang-undang? •Berdasarkan Perdais No. 1 Tahun 2017 dan UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, apa konsekuensi hukum dari pencatatan aset tanah Sultan Ground oleh PT KAI?
1.3.Tujuan dari tulisan Tujuan dari makalah ini adalah: memberikan penjelasan tentang alasan di balik sengketa jual beli tanah.
Menguraikan prosedur hukum perdata untuk penyelesaian sengketa.
Memberi tahu para pihak tentang hak dan tanggung jawab hukum mereka dalam kasus sengketa jual beli tanah.
BAB II PEMBAHASAN
A)Status kepemilikan lahan Sultan Ground di lokasi Stasiun Tugu Yogyakarta secara resmi adalah milik Kesultanan Yogyakarta.
Hal ini didasarkan pada:
UU No. 13 Tahun 2012 mengenai Keistimewaan DIY yang menetapkan bahwa Kasultanan Yogyakarta adalah entitas yang berhak atas tanah Sultan Ground.
Pernyataan resmi dari BPN Yogyakarta yang menyebutkan bahwa tanah tersebut adalah milik Kesultanan, bukan milik PT KAI.
Tuntutan hukum dari Keraton Yogyakarta yang menjelaskan bahwa PT KAI memiliki hanya Hak Guna Bangunan (HGB), tetapi tidak memiliki hak kepemilikan.
B) Langkah PT KAI yang mencatat tanah Sultan Ground sebagai aset tetap bertentangan dengan ketentuan yang ada karena:
Grondkaart (sertifikat kuno dari zaman kolonial) yang digunakan oleh PT KAI tidak diakui sebagai bukti kepemilikan yang sah dalam sistem hukum Indonesia setelah UUPA 1960.
PP No. 27 Tahun 2014 dan PP No. 28 Tahun 2020 yang mengatur bahwa aset tanah BUMN harus terdaftar atas nama negara, bukan atas nama perusahaan.
Perda DIY No. 1 Tahun 2017 menetapkan bahwa pengelolaan tanah Sultan Ground mesti dilakukan sesuai dengan otoritas Kesultanan.
C) Dampak hukum dari pendaftaran aset oleh PT KAI terhadap hak Kesultanan antara lain:
Pelanggaran hak eksklusif Kesultanan sebagai pemilik yang sah menurut UU No. 13/2012, yang mengakui Kesultanan sebagai badan hukum khusus yang memegang hak kepemilikan.
Kemungkinan pembatalan pendaftaran aset oleh pengadilan, mengingat BPN Yogyakarta telah menyatakan bahwa lahan tersebut tidak milik PT KAI.
Kewajiban PT KAI untuk menyesuaikan pengelolaan kepemilikan tanah berdasarkan keputusan pengadilan serta proses inventarisasi Sultan Ground yang sedang berlangsung.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Sengketa sipil yang muncul dalam transaksi pembelian tanah sering kali disebabkan oleh kelalaian dalam memeriksa status hukum properti dan kurangnya ketelitian dalam menyusun perjanjian. Hukum sipil Indonesia menawarkan solusi melalui negosiasi, mediasi, atau tindakan hukum di pengadilan. Semua pihak perlu berhati-hati dan melakukan pemeriksaan hukum sebelum melangsungkan transaksi jual beli tanah agar konflik bisa dihindari.
B. Saran
Untuk meminimalkan kemungkinan perselisihan dalam transaksi jual beli tanah:
Semua pihak perlu selalu melibatkan PPAT resmi saat melakukan transaksi tanah.
Pembeli diharuskan untuk memeriksa sertifikat di kantor pertanahan.
Kesepakatan harus disusun secara tertulis, rinci, dan memenuhi ketentuan hukum yang berlaku
DAFTAR PUSTAKA
Hukumonline. (2023, Agustus 15). Sengketa lahan Sultan Ground antara Kesultanan Yogyakarta dan PT KAI.
[https://www.hukumonline.com](https://www.hukumonline.com )
Kompas.com. (2024, Januari 10). Kesultanan gugat PT KAI soal lahan Stasiun Tugu. [https://www.kompas.com]
(https://www.kompas.com)
Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. (2014). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. (2017). Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2017 tentang Tata Ruang.