• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus Pemalsuan Identitas dalam Putusan Jual Beli Tanah dan Properti di Cirebon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kasus Pemalsuan Identitas dalam Putusan Jual Beli Tanah dan Properti di Cirebon"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

Dalam perjanjian jual beli tanah diatasnya terdapat rumah bata yang juga merupakan bagian dari perjanjian jual beli. Memberikan pernyataan “sah menurut hukum” dan mengikat kedua belah pihak dalam jual beli tertanggal 14 Oktober 1998 antara PENGGUGAT dan TERGUGAT mengenai sebidang tanah yang diatasnya terdapat rumah batako, tanah Hak Guna Bangunan seluas . Benar Penggugat dan Suami Tergugat (Sdr. MUNAJAD) mendatangi Kantor PPAT ILIL ROHAELI, SH untuk mengajukan proses jual beli sebidang tanah dan bangunan yang terletak di Jln Parkit D III ;

Memberikan pernyataan “sah menurut hukum” dan mengikat kedua belah pihak sehubungan dengan perjanjian jual beli tanggal 14 Oktober 1998 antara PENGGUGAT dan TERGUGAT atas sebidang tanah yang di atasnya berdiri rumah batako, tanah yang dilindungi hak guna bangunan. seluas 100 M2 (seratus meter persegi) yang terletak di Jln Parkit D. Oleh karena itu, bukti perjanjian jual beli tersebut berupa akta jual beli tanah atau akta PPAT. Hal ini bermula ketika penggugat dan tergugat mengadakan perjanjian jual beli sebidang tanah yang di atasnya berdiri sebuah rumah bata yang dieksekusi di hadapan PPAT ILI ROHAELI, S.H.

Sedangkan tentang adanya perjanjian antar pihak (penjual dan pembeli) untuk melakukan jual beli hak atas tanah. Adapun syarat formil dalam jual beli khususnya hak atas tanah adalah tata cara jual beli hak atas tanah agar jual beli itu sah menurut hukum. 24 Tahun 1997, waktu peralihan hak atas tanah dari penjual kepada pembeli adalah saat dilaksanakannya jual beli oleh dan untuk PPAT.

Apabila dalam jual beli itu identitas isteri penjual dan kuasanya dipalsukan, maka jual beli itu tidak sah.

Teori Hukum Privat

Utrecht merupakan anggapan yang salah, karena hukum publik dan hukum privat dapat mengatur kepentingan umum.56. Istilah hukum perdata di Indonesia terdapat dalam “UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Pasal 51 ayat (1) c”. Soeria Atmadja mengemukakan kriteria negara sebagai badan hukum publik dan negara sebagai badan hukum privat sebagai berikut: i) dalam rangka negara sebagai badan hukum publik, maka kedudukan hukum barang milik negara harus dibedakan ke dalam ranah privat. (domain privat) dan domain publik (domain publik).

Sedangkan menurut Yoyo Arifardhani, hukum privat adalah hukum yang mengatur ketertiban umum mengenai: 61. Hukum privat adalah suatu sistem hukum yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk menentukan sendiri penyelesaian sengketanya menurut konsep dan kepentingannya¹⁴. 61 Yoyo Arifardhani, 2019, Independensi BUMN: Persimpangan Hukum Privat dan Publik, Jurnal Hukum Notaris; Asli, Vol.

Ia membedakan hukum publik dengan hukum privat yang berdasarkan pada ketentuan lois civiles, dan lingkungan publik berdasarkan ketentuan lois poliques, dimana subjek hukum privat adalah orang/hubungan privat dengan kepentingan selain negara. Secara umum konsep konstitusionalisasi tidak hanya dikaitkan dengan upaya membandingkan rezim hukum yang berbeda, dalam hal ini rezim hukum publik dan rezim hukum privat. 62 Rahayu Praseaningsih, 2014, Konstitusionalisasi Hukum Perdata: Beberapa Pandangan yang Berkembang dalam Ilmu Hukum, Jurnal Ilmu Hukum Padjajaran, Vol.

Versi yang lebih modern mengenai perbedaan mendasar antara hukum publik dan hukum privat adalah pendapat Ernest J. Fungsi hak-hak fundamental lebih erat kaitannya dengan pemisahan antara hukum publik dan hukum privat dibandingkan yang telah berkembang selama lebih dari dua abad. Ia membedakan hukum publik dengan hukum privat berdasarkan ketentuan lois civiles, dan lingkungan publik berdasarkan ketentuan lois poliques, dimana subjek hukum privat adalah seseorang/hubungan privat yang mempunyai kepentingan selain negara.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan dan perkembangan mengenai konstitusionalisasi hukum privat, secara umum dapat ditarik dua pandangan mengenai perdebatan mengenai konstitusionalisasi hukum privat. Dampak latar belakang hukum tata negara, khususnya konstitusi, terhadap perkembangan hukum privat juga menjadi perhatian yang menarik. Tidak hanya di Jerman, kasus konstitusionalisasi hukum privat juga terjadi di Amerika Serikat pada kasus New York Times v. Sullivan.

Di Indonesia sendiri, perkembangan interaksi antara hukum publik dan hukum privat berlangsung seiring dengan perkembangan kajian akademis hukum, praktik penerapan peraturan hukum dan perbuatan hukum yang dilakukan oleh masyarakat, serta perkembangan ketatanegaraan khususnya. pasca reformasi ketatanegaraan pada tahun 1999 hingga 2002. Pasca terbentuknya Mahkamah Konstitusi dengan segala kewenangan yang dimilikinya,⁴⁶ akibat reformasi ketatanegaraan tersebut terdapat wujud nyata dari proses konstitusionalisasi hukum perdata di Indonesia.

Kepastian Hukum AJB Sebagai Dasar Peralihan Hak Para Pihak

“Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai bapaknya, yang menurut hukum dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain adanya hubungan darah.” , termasuk hubungan perdata dengan keluarga bapaknya.” Syarat-syarat sahnya suatu perjanjian mengacu pada Pasal 1320 KUH Perdata. Syarat-syarat tertentu juga berlaku dalam suatu perjanjian jual beli. Suatu perjanjian dapat sah dan mengikat serta menimbulkan hak dan kewajiban hukum apabila memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian itu.

Menurut hukum adat, perjanjian jual beli adalah suatu perjanjian yang mempunyai sifat asli, artinya penyerahan barang yang diperjanjikan merupakan suatu syarat yang dipenuhi secara mutlak untuk dapat diadakannya suatu perjanjian. Dapat juga dikatakan ada jual beli menurut hukum adat jika bendanya dialihkan, tetapi jika benda jual beli itu tidak dialihkan, maka perjanjian itu dianggap belum selesai atau tidak pernah ada. 78. Suatu jual beli yang sah harus dilakukan di hadapan notaris atau PPAT, agar dapat dicatat secara resmi dalam akta jual beli.

Akta jual beli (AJB) merupakan suatu akta otentik yang dibuat oleh PPAT sehubungan dengan peralihan hak atas tanah dan bangunan. 08 Tahun 2012 tentang Pendaftaran Tanah, sehingga PPAT dapat menyesuaikan format standar yang telah disusun dan diatur. AJB akan dilakukan apabila seluruh persyaratan terpenuhi, serta telah selesainya pembayaran pajak-pajak yang timbul dari transaksi jual beli yang dilakukan oleh para pihak sesuai dengan kewajibannya masing-masing.

Setelah memenuhi kewajiban tersebut, Anda dapat mengajukan permohonan pendaftaran peralihan hak atas tanah dan bangunan kepada kantor pertanahan setempat atau yang sering disebut dengan perubahan nama, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Dengan selesainya peralihan hak milik, hak yang melekat pada tanah dan bangunan berpindah dari penjual kepada pembeli.

Keabsahan Akta PPAT dalam Praktek Jual Beli

Jual beli adalah suatu perbuatan hukum yang berdasarkan suatu perjanjian dimana salah satu pihak wajib menyerahkan suatu barang dan pihak yang lain membayar harga yang dijanjikan, sebagaimana tercantum dalam Pasal 1457 KUH Perdata. Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, agar perjanjian jual beli tanah sah, harus memenuhi syarat-syarat. Perbuatan hukum yang turut serta oleh Notaris dan PPAT untuk membuat akta otentik adalah jual beli hak atas tanah.

Hak atas tanah adalah hak yang memberikan kewenangan kepada pihak yang memiliki tanah untuk menggunakan atau mengusahakan tanah yang dimilikinya. Perpindahan hak atas tanah dapat dilakukan dengan cara penjualan, penukaran, hibah, pendirian suatu perseroan dan perbuatan hukum, peralihan hak-hak lainnya. Dalam melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan perbuatan hukum, sebagaimana diatur dalam ayat 2 (2) Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998.

Dengan dibuatnya Undang-Undang PPAT, maka Undang-Undang PPAT dapat dijadikan landasan dan landasan hukum bagi para pihak dalam melakukan perbuatan hukum yang berkaitan dengan peralihan, peralihan dan peralihan hak atas tanah dari pihak pertama kepada pihak kedua. Akta jual beli ditandatangani oleh para pihak, yang membuktikan bahwa telah terjadi peralihan hak dari penjual kepada pembeli dengan harga, memenuhi atau memenuhi syarat-syarat uang dan menunjukkan bahwa perbuatan hukum yang bersangkutan benar-benar telah dilakukan. dilakukan. keluar. Akta tersebut menyatakan bahwa perbuatan hukum peralihan itu telah dilakukan selama itu dan telah dibayar harganya, karena perbuatan hukum yang dilakukan itu merupakan perbuatan hukum peralihan hak, maka perbuatan itu menunjukkan bahwa pembelilah yang baru menerima hak itu. 82.

Apabila penjual dan calon pembeli telah membenarkan isi akta, maka akta tersebut ditandatangani oleh penjual, calon pembeli, para saksi, dan pejabat pemegang hak atas tanah. 83 Widi Astuti, “Pengalihan Hak Jual Beli Atas Tanah, Sertifikat Hak Guna Bangunan yang Telah Habis Masa Dengan Menyerahkan Tata Cara Pengalihan Nama Sertifikat Hak Atas Tanah,” Skripsi, Tesis Magister, Universitas Indonesia, Depok, 2011. V Sistem Hukum Pertanahan Nasional , Surat resmi tanah mempunyai peranan dan kedudukan utama dalam pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah, sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Pokok-pokok Agraria dan diatur lebih rinci dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 yang mencabut dan menggantikan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 dengan dibuatnya suatu dokumen oleh seorang petugas untuk pembuatan pendaftaran tanah sebagai bukti telah dilakukan perbuatan hukum tertentu sehubungan dengan hak atas tanah atau hak milik atas satuan-satuan tempat tinggal, yang akan dijadikan dasar untuk masuk. perubahan dalam pendaftaran tanah, data yang diperoleh dari perbuatan hukum ini.

Pengertian jual beli hak atas tanah menurut hukum pertanahan nasional didasarkan pada pengertian jual beli hak atas tanah menurut hukum adat, yaitu perbuatan hukum peralihan hak untuk selama-lamanya dari penjual kepada pembeli dan pembayaran harganya. , baik seluruhnya maupun sebagian, dari pembeli kepada penjual, yang dilakukan secara terang-terangan dan secara TUNAI. Syarat CAHAYA dan TUNAI dipenuhi dengan selesainya jual beli yang dilakukan sebelum ppat, yaitu selesainya tanda tangan AJB yang bersangkutan. Peralihan hak atas tanah melalui jual beli hanya dapat didaftarkan apabila dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT, yang disahkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada (akta PPAT).

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian diketahui bahwa Perjanjian pengikatan jual beli tanah yang dibuat dihadapan notaris mempunyai kekuatan hukum sebagai suatu akta otentik yang mengikat kedua

Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kepemilikan hak atas tanah adalah kepunyaan penggugat dan tergugat, proses jual beli tanah dilakukan oleh penggugat dan

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pembatalan akta pengikatan jual beli adalah: Harga jual beli yang telah disepakati dalam perjanjian pengikatan jual beli tidak

Sebagai suatu bentuk dari perikatan, perjanjian pengikatan jual beli ini mengandung hak dan kewajiban dari para pihak yang membuatnya, sehingga apabila hal-hal yang telah

Subekti menyatakan, bahwa perjanjian pengikatan jual beli adalah perjanjian antar pihak penjual dan pihak pembeli sebelum dilaksanakannya jual beli dikarenakan

Suatu perjanjian jual beli tanah yang dibuat oleh para pihak sebelumnya baru merupakan pengikatan untuk kemudian melakukan perjanjian jual beli di hadapan PPAT,

suatu perbuatan hukum jual beli khususnya mengenai bidang tanah. Akta tersebut yang dimaksud atau yang lebih dikenal dengan akta “ Perjanjian Pengikatan Jual Beli “. Ada beberapa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kepemilikan hak atas tanah adalah kepunyaan penggugat dan tergugat, proses jual beli tanah dilakukan oleh penggugat dan