Rumus Masalah
Tujuan Masalah
Kegunaan Penelitian
Kedua, bentuk-bentuk kecurangan akademik yang dilakukan siswa Kelas VIII pada pembelajaran IPS di SMPN 6 Kota Parepare. Bentuk-bentuk Kecurangan Akademik Siswa pada Pembelajaran IPS Kelas VIII di SMPN 6 Kota Parepare. Penelitian dilakukan terhadap bentuk-bentuk kecurangan akademik pada mata pelajaran IPS yang melibatkan siswa kelas VIII SMPN 6 KOTA PAREPARE.
Bentuk-Bentuk Kecurangan Akademik Siswa Kelas VIII dalam Pembelajaran IPS di SMPN 6 Kota Parepare.
PUSTAKA
Tinjauan Teori
- kecurangan akademik
- pembelajaran IPS
Dimana nilai tersebut sebenarnya tidak berasal dari kemampuan sebenarnya yang dimiliki siswa tersebut, misalnya pada ujian tengah semester. Siswa juga didorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai yang tinggi, suatu gejala yang juga dapat memicu perilaku menyontek. Siswa yang menganggap nilai berarti segalanya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus.
Selain berekreasi, siswa juga dapat belajar dari tempat-tempat yang dikunjunginya (mencakup aspek kognitif dan emosional). 6) Perdebatan.
Kerangka Konseptual
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran IPS dimana siswa menerima rencana debat tentang tema IPS, materi yang sesuai dengan jenjang pembelajaran IPS yang diajarkan. Pembelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang menggabungkan konsep-konsep dasar ilmu sosial seperti geografi, sejarah, antropologi dan psikologi untuk diajarkan pada tingkat pendidikan.
Kerangka Pikir Penelitian
Data yang akan diperoleh dari metode observasi ini berupa bentuk-bentuk fenomena kecurangan akademik siswa. Reduksi data Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh data dari wawancara kepada guru dan siswa kelas VIII IPS di SMPN 6 Kota Parepare. Penyajian data dalam penelitian ini dimana peneliti menyajikan data hasil wawancara terhadap guru dan siswa kelas VIII IPS SMPN 6 Kota Parepare.
Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa siswa SMPN 6 Kota Parepare masih banyak melakukan kecurangan dalam proses pembelajaran.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Fokus Penelitian
Jenis dan sumber Data
Pemilihan lokasi tersebut didasari oleh fenomena kecurangan akademik yang terjadi khususnya pada mata pelajaran IPS kelas VIII. Untuk memperoleh data yang akurat dan faktual mengenai topik dan objek yang ingin diteliti, maka kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan dalam waktu kurang lebih 1 bulan (disesuaikan dengan kebutuhan penelitian) dan mengacu pada kalender akademik sekolah (pendidikan). Data primer merupakan jenis data yang diperoleh langsung dari sumber data (sumber asli), tanpa melalui perantara, yang berisi uraian tentang hal yang diteliti.
Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara dan observasi terhadap 10 siswa kelas VIII SMPN 6 Kota Parepare yang diketahui melakukan perilaku menyontek akademik dan terhadap guru IPS kelas VIII SMPN 6 Kota Parepare yang melaksanakan pembelajaran dan observasi. Kegiatan Pembelajaran. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber lain, data sekunder umumnya berupa bukti-bukti, catatan atau laporan yang dikumpulkan dalam arsip (dokumen). Pada umumnya untuk memperoleh data sekunder tidak lagi dilakukan wawancara atau melalui instrumen lain, melainkan diminta bahan tambahannya melalui petugas atau tanpa melalui petugas, yakni mencarinya sendiri di berkas-berkas yang tersedia.
Data sekunder ini dapat memberikan bahan tambahan bagi peneliti untuk membuktikan bahwa penelitiannya lebih valid. Data sekunder dalam penelitian ini berupa file pembelajaran IPS pada media pembelajaran online.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian, usahakan bersikap pasif dan bersahabat serta memulai dengan objek pengamatan yang terbatas pada awal pengamatan. Berdasarkan keterangan di atas maka penelitian ini menggunakan observasi partisipan, dimana peneliti terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diamati, namun tidak terlibat sepenuhnya. Teknik wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan metode tanya jawab secara lisan, baik secara tatap muka langsung antar sumber data (informan) maupun secara tidak langsung.37 Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara tanya jawab. akan memberikan informasi mengenai permasalahan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, peneliti menyiapkan beberapa pertanyaan untuk menggali informasi tersebut.
Dokumentasi telah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data, digunakan untuk menguji, menafsirkan bahkan memprediksi 40 Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data tertulis tentang siswa yang kurang percaya diri. Dokumentasi ini merupakan teknik pengumpulan data dengan cara memperoleh informasi dari berbagai sumber tertulis atau dokumen yang berkaitan dengan topik yang diteliti. 41 Dokumen merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu. Penulis menggunakan data tersebut untuk mengumpulkan data tertulis yang bersifat dokumenter.Penggunaan dokumentasi dalam penelitian ini diarahkan oleh penelitian untuk mendokumentasikan hal-hal penting yang berkaitan dengan penelitian ini.
Keadaan ini dilihat oleh peneliti bahwa teknik pengumpulan data dengan dokumentasi sangat mendukung proses penelitian. Alat bantu yang digunakan sebagai instrumen penelitian dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah kamera, alat tulis dan perekam suara. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data berupa catatan mengenai kondisi tempat penelitian dilakukan yaitu mengenai kondisi siswa atau siswi yang melakukan kecurangan akademik di SMPN 6 Kota Parepare.
Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggabungkan metode dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang dilakukan dengan penekanan pada pengujian kredibilitas data. Triangulasi pada umumnya dilakukan peneliti dengan cara mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu memeriksa kredibilitas data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda dari sumber data yang berbeda.43.
Uji Keabsahan Data
Peningkatan pelayanan merupakan kegiatan pengujian dan verifikasi reliabilitas dengan melakukan pengamatan yang lebih cermat dan berkesinambungan terhadap data yang diperoleh sebelumnya. Diperlukan peningkatan kehati-hatian bagi peneliti untuk dapat memeriksa kembali data yang telah diperoleh, apakah data yang ditemukan dapat dipercaya atau tidak. Peningkatan ketekunan juga memungkinkan peneliti memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.
Triangulasi sumber data artinya berasal dari sumber yang berbeda dengan menggunakan teknik yang sama. Artinya dengan melakukan triangulasi sumber, penulis mencoba mengumpulkan atau menghubungkan dan menggali kebenaran informasi dari berbagai sumber yang berbeda seperti data hasil observasi langsung yang dilakukan peneliti, wawancara, dokumentasi dan berbagai sumber lainnya, kemudian dari berbagai sumber tersebut dihasilkan fakta-fakta yang nyata. membuktikan.. Pada dasarnya tes ini lebih pada penguatan data untuk digunakan pada situasi dan kondisi yang berbeda.
Data yang akurat akan memberikan gambaran yang baku dan utuh terhadap hasil penelitian yang diperoleh, sehingga dengan menguji transferabilitas suatu penelitian maka dapat diketahui keabsahan datanya. Dengan cara ini pembaca akan mengetahui lebih jelas hasil penelitian yang telah dilakukan dan memutuskan apakah dapat menerapkannya di tempat lain. Penyelidikan ini dilakukan oleh berbagai pihak yang ikut serta dalam pengendalian proses penelitian yang dilakukan peneliti, agar temuan peneliti dapat dipertahankan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Menguji konfirmabilitas artinya menguji hasil penelitian, berkaitan dengan proses yang dilakukan 48 Konfirmabilitas digunakan untuk menilai proses penelitian, mulai dari pengumpulan data hingga digunakan untuk menilai proses penelitian, mulai dari pengumpulan data hingga menghasilkan kesimpulan yang baik. laporan terstruktur. Teknik ini digunakan untuk memeriksa kebenaran data penelitian mengenai fenomena kecurangan akademik pada pembelajaran IPS kelas VIII di SMPN 6 Kota Parepare.
Teknik Analisis Data
Berdasarkan hasil observasi diperoleh beberapa indikator dari siswa yang melakukan kecurangan akademik, seperti pada sistem pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa baik pelajar laki-laki maupun perempuan melakukan kecurangan akademik. Metode pengajaran yang bervariasi ini bertujuan agar siswa tidak bosan dan bosan dalam proses pembelajaran.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Perilaku kecurangan akademik pada pembelajaran Ips
Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa sebagian siswa hanya menyontek saat ujian. Sehingga siswa dapat menciptakan suasana kelas karena suasana kelas juga mempengaruhi proses pembelajaran.
Bentuk-bentuk akademik pada pembelajaran Ips
Pembahasan
Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa perilaku kecurangan akademik pada siswa SMPN 6 Kota Parepare memerlukan perilaku yang baik seperti menanamkan nilai kejujuran pada diri siswa. Jelaskan kepada siswa bahwa nilai akademis bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan mereka di masa depan. Tidak jarang pelajar berpikiran seperti ini dan rela bertindak tidak jujur demi menyenangkan teman dekatnya.
Di kalangan siswa SMPN 6 Kota Parepare masih terdapat siswa yang melakukan kecurangan baik dalam proses pembelajaran luring maupun daring. Siswa beranggapan bahwa nilai adalah segalanya untuk masa depan, sehingga siswa berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik. Misalnya setelah guru memberikan materi pelajaran, guru kemudian mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab pertanyaan tersebut secara lengkap.
Kepedulian seorang guru terhadap proses belajar mengajar merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Jika guru tidak semangat dan bergairah dalam proses belajar mengajar, maka siswa tidak akan termotivasi dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi kecurangan akademik, guru meningkatkan rasa percaya diri siswa dan senantiasa menanamkan nilai-nilai positif dalam proses pembelajaran.
Guru juga harus mampu menjadi teladan bagi siswa, agar rasa percaya diri siswa tumbuh seiring dengan hasil yang dicapainya. Penulis menyarankan agar sebagai siswa, siswa SMPN 6 Kota Parepare hendaknya mampu mengambil tanggung jawab untuk mengurangi kecurangan dan meningkatkan rasa percaya diri.
PENUTUP
Saran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap di kalangan siswa terhadap perilaku menyontek. Maka saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut. Guru hendaknya tidak memberikan contoh yang buruk kepada siswa dan menjadi teladan bagi siswa serta membangkitkan kesadaran siswa agar tidak menyontek. Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Model Quantum Teaching Pada Siswa Kelas V-C SD Negeri Jumoyo 2 Salam Magelang.
“Terwujudnya SMA Negeri 6 Parepare yang bermutu unggul berbasis IMTAQ dan iptek dengan akhlak mulia dan berwawasan lingkungan.” Mewujudkan kesadaran dikalangan mahasiswa akan daya saing dan daya saing ilmu pengetahuan dan teknologi yang ramah lingkungan. Pada tahun 2017, saya melanjutkan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, mata kuliah Tadris IPS di fakultas Tarbiyah.
“Orang sukses harus berusaha semaksimal mungkin apapun yang ditemuinya” Hal ini menjadi prinsip bagi penulis agar dapat menyelesaikan tugas akhir yang bertajuk “Fenomena Kecurangan Akademik pada Pembelajaran IPS Kelas VIII di SMPN 6 Kota Parepare”. Akhir kata penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan disertasi ini dan semoga disertasi ini mampu memberikan kontribusi yang positif bagi dunia pendidikan.