• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Obat Tradisional Nasional Tahun 2007

N/A
N/A
20@2039_Rahmi Syarifah Masri

Academic year: 2024

Membagikan " Kebijakan Obat Tradisional Nasional Tahun 2007"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya nasional dan telah digunakan oleh masyarakat selama berabad-abad. Dengan disusunnya KOTRANAS ini diharapkan dapat menjadi landasan, arah dan pedoman bagi pengembangan dan peningkatan obat tradisional yang bermutu, aman, efektif dan terbukti secara ilmiah, serta mengantisipasi berbagai perubahan dan tantangan strategis, baik internal. dan eksternal, sesuai dengan sistem kesehatan nasional. Dalam undang-undang no. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa obat tradisional adalah bahan atau campuran bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewani, bahan mineral, sediaan.

Pengobatan tradisional telah diterima secara luas di negara-negara yang tergolong berpendapatan rendah hingga menengah. Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa dan telah digunakan masyarakat selama berabad-abad. Bahkan di beberapa negara berkembang, pengobatan tradisional telah digunakan dalam pelayanan kesehatan, khususnya pada pelayanan kesehatan primer.

Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya negara dan telah banyak digunakan masyarakat selama berabad-abad, namun secara umum efektivitas dan keamanannya belum sepenuhnya didukung oleh penelitian yang memadai. Mengingat hal tersebut dan menyadari bahwa Indonesia merupakan mega center tanaman obat di dunia, maka perlu disusun kebijakan pengobatan tradisional nasional yang dapat menjadi acuan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Tersedianya obat tradisional yang terjamin mutu, khasiat dan keamanannya, teruji secara ilmiah dan digunakan secara luas baik untuk pengobatan mandiri maupun dalam pelayanan kesehatan formal.

RUANG LINGKUP

Menjadikan obat tradisional sebagai komoditas unggulan yang memberikan manfaat ganda yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan. Sumber daya alam bahan obat dan obat tradisional merupakan aset nasional yang terus digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya. Bukti penggunaan pengobatan tradisional sejak berabad-abad yang lalu di Indonesia antara lain dapat dilihat dari relief yang terdapat pada candi Prambanan dan Borobudur yang ditulis pada daun lontar, serta peninggalan dan kebudayaan keraton hingga saat ini.

Bagi masyarakat Jawa dan Madura, obat tradisional lebih dikenal dengan sebutan jamu, baik dalam bentuk cincang maupun dalam bentuk bubuk yang diseduh. Di Kampung Naga Tasikmalaya terdapat 113 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat dan di Kabupaten Subang terdapat 75 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan untuk obat. Hasil penelitian yang dilakukan tim ekspedisi Biota Medica pada tahun 1998 di Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Cagar Biosfer Bukit Duabelas yang terletak di provinsi Riau dan Jambi, terungkap bahwa 45 tanaman herbal dengan 195 spesies tanaman obat telah dimanfaatkan oleh masyarakat tradisional Melayu. , 58 jenis tanaman herbal dengan 115 spesies dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Talang Mamak dan 72 jenis tanaman herbal dengan 116 spesies digunakan oleh Masyarakat Suku Anak. Suku Dalam.

Masyarakat Kalimantan sangat mengenal obat tradisional Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas seksual pria. Masyarakat yang tinggal di Taman Nasional Gunung Rinjani - NTB memanfaatkan 40 jenis tanaman obat untuk penyembuhan. Pada tahun 1977, tim peneliti di Sulawesi Tenggara menemukan 449 jenis tumbuhan obat yang masih dimanfaatkan dan puluhan campuran tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat setempat.

Beberapa jenis tumbuhan yang telah diketahui manfaatnya sebagai obat secara turun temurun antara lain kayu sanrego (Lunasia amara Blanco), daun paliasa (Kleinhovia hospita Linn), dan santigi (Phempis acidula). Di Papua, masyarakat memanfaatkan ribuan jenis tanaman obat untuk kesehatan, seperti rumput keybar untuk meningkatkan kesuburan wanita, akwai (Drymis anthon) untuk meningkatkan seksualitas pada pria, dan watu (Piper methysticom) sebagai obat penenang. Pemanfaatan dan pengembangan obat tradisional di berbagai daerah tersebut di atas, yang diwariskan dari generasi ke generasi berdasarkan pengalaman/empiris, kemudian dikembangkan dengan bukti ilmiah melalui uji praklinis dan klinis.

Obat tradisional yang berdasarkan pendekatan “warisan generasi” dan pendekatan empiris disebut obat herbal, sedangkan yang berdasarkan pendekatan ilmiah melalui uji praklinis disebut obat herbal terstandar dan yang telah melalui uji klinis disebut obat. disebut fitofarmaka. Obat-obatan tradisional pada awalnya dibuat oleh pengobat tradisional untuk pasiennya sendiri/lingkungan terbatas, berkembang menjadi industri rumah tangga dan selanjutnya diproduksi secara massal sejak pertengahan abad ke-20 baik oleh industri kecil obat tradisional (IKOT) maupun industri obat tradisional (IOT) dengan Tetap terinformasi perkembangan teknologi produksi.

PERKEMBANGAN

Obat tradisional yang terdaftar sebagian besar termasuk dalam kelompok obat herbal, dimana pembuktian khasiat dan keamanannya didasarkan pada penggunaan secara empiris secara turun-temurun. Terdapat upaya nyata di tingkat global dan regional untuk menyelaraskan standar dan mutu obat tradisional, sehingga obat tradisional dapat diperdagangkan antar negara dengan standar dan mutu yang sama. WHO mengawalinya dengan membuat pedoman seperti Strategi Pengembangan Obat Tradisional, Monograf Tanaman Obat, Pedoman Mutu dan Keamanan Obat Tradisional, Cara Menyiapkan Obat Tradisional yang Baik, Cara Budidaya dan Pengumpulan Tanaman Obat yang Baik, Pedoman Pengawasan Efek Samping dan lain sebagainya.

Di tingkat regional ASEAN, diadakan pertemuan yang membahas harmonisasi standar dan regulasi di bidang pengobatan tradisional.

KEKUATAN

Indonesia juga kaya akan keberagaman suku, mencapai 400 suku bangsa yang memiliki kekayaan pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan tumbuhan untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit. Indonesia merupakan negara agraris, mempunyai banyak lahan pertanian dan perkebunan serta pekarangan luas yang dapat ditanami tanaman obat. Hutan Indonesia yang luas menyimpan kekayaan yang sangat besar, termasuk potensi untuk dimanfaatkan sebagai obat alami.

Hingga saat ini, terdapat 1.036 industri obat tradisional di Indonesia yang memiliki izin usaha industri, terdiri dari 129 industri obat tradisional (IOT) dan 907 industri kecil obat tradisional (IKOT). Banyaknya lembaga penelitian dan peneliti yang kegiatannya melakukan penelitian terhadap obat-obatan alami merupakan suatu kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan obat-obatan tradisional. Indonesia telah mewarisi budaya pengobatan tradisional yang beragam, termasuk ramuan obat tradisional yang sebagian diantaranya tercatat dalam kitab-kitab kuno (Pusaka Nusantara) yang dapat dikembangkan melalui berbagai penelitian.

Jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 220 juta jiwa merupakan pasar yang sangat prospektif, termasuk pasar obat tradisional.

KELEMAHAN

Penerimaan masyarakat kedokteran terhadap pengobatan tradisional semakin meningkat, namun selama ini belum dimasukkan dalam kurikulum Fakultas Kedokteran. Pendanaan yang tersedia untuk pengembangan obat tradisional Indonesia, khususnya untuk mendanai kegiatan penelitian, masih jauh dari kebutuhan. Di satu sisi, kemampuan keuangan pemerintah masih terbatas, di sisi lain industri obat tradisional belum termotivasi untuk secara bersama-sama ikut membiayai kegiatan penelitian.

Sementara itu, dari 129 IOT, hanya 69 industri yang mendapat sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Industri obat tradisional masih sangat sedikit memperhatikan dan memanfaatkan hasil penelitian ilmiah dalam pengembangan produk dan pasar. Dalam perkembangan pasar, industri obat tradisional semakin menekankan pada kegiatan promosi penjualan dibandingkan dukungan ilmiah mengenai kebenaran efektivitas, keamanan dan mutunya.

PELUANG

ANCAMAN DAN TANTANGAN

LANDASAN KEBIJAKAN

STRATEGI

Menjamin obat tradisional yang aman, bermutu dan bermanfaat serta melindungi masyarakat dari penyalahgunaan obat tradisional. Pengawasan dan pengendalian obat tradisional dilaksanakan mulai dari pembuatan bahan baku, produksi sampai ke tangan konsumen dan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Penilaian keamanan, mutu dan efektivitas melalui proses registrasi, pembinaan, pengawasan dan pengendalian impor, ekspor, produksi, distribusi dan pelayanan obat tradisional merupakan satu kesatuan yang utuh, dilakukan dengan kompetensi, akuntabilitas, transparansi dan independensi yang tinggi.

Memberdayakan masyarakat dengan menyediakan dan menyebarkan informasi yang dapat dipercaya untuk menghindari risiko penggunaan obat tradisional di bawah standar dan risiko penyalahgunaan. Tersedianya obat-obatan tradisional yang mempunyai manfaat nyata, teruji secara ilmiah dan digunakan secara luas, baik untuk pengobatan mandiri maupun dalam pelayanan kesehatan formal. Salah satu permasalahan yang menyebabkan obat tradisional tidak banyak digunakan, baik untuk pengobatan mandiri maupun layanan kesehatan formal, adalah sebagian besar khasiat obat tradisional belum teruji secara ilmiah.

Menerapkan penelitian yang terpercaya mengenai khasiat dan efek samping obat tradisional yang ditujukan pada obat tradisional yang memiliki rasio efektivitas biaya yang unggul. Menyusun peraturan yang mendorong penerimaan obat tradisional yang telah terbukti khasiatnya dalam pelayanan kesehatan formal. Mendorong pengembangan dunia usaha di bidang pengobatan tradisional secara bertanggung jawab agar ramah lingkungan di negaranya dan diterima di negara lain.

Pengembangan dunia usaha di bidang pengobatan tradisional merupakan tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan di bidang pengobatan tradisional, yaitu negara, masyarakat, dan dunia usaha. Meningkatkan promosi obat tradisional melalui pameran dan pameran di tingkat nasional dan internasional (usulan: Meningkatkan promosi obat tradisional di pasar internasional dengan berbagai prestasi di bidang teknologi komunikasi). Berperan aktif dalam harmonisasi peraturan dan standar di bidang pengobatan tradisional di tingkat regional dan internasional.

Upaya pengembangan obat tradisional memerlukan serangkaian kegiatan yang panjang, bidang yang luas dengan permasalahan yang kompleks dan melibatkan banyak pihak.

BUDIDAYA DAN KONSERVASI SUMBER DAYA OBAT TRADISIONAL

KEAMANAN DAN KHASIAT OBAT TRADISIONAL Sasaran

MUTU OBAT TRADISIONAL Sasaran

AKSESIBILITAS Sasaran

Mengupayakan akses khusus terhadap obat tradisional yang dilindungi hak paten dan/atau tidak diproduksi di dalam negeri untuk mengobati penyakit, karena obat konvensional yang ada belum terbukti efektif. Pengembangan, perlindungan dan konservasi tanaman obat tradisional yang sudah terbukti, dengan memperhatikan hak masyarakat adat/komunitas lokal sebagai pemilik tanaman obat tersebut.

PENGGUNAAN YANG TEPAT Sasaran

PENGAWASAN Sasaran

Peningkatan sarana dan prasarana pemantauan obat tradisional serta pengembangan personel secara kuantitas dan kualitas sesuai standar kompetensi. Pengembangan partisipasi masyarakat untuk melindungi diri dari obat tradisional yang kurang lancar melalui komunikasi informasi dan edukasi (KIE).

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Sasaran

Pedoman pelaksanaan penelitian yang relevan dan diperlukan dalam pengembangan pengobatan tradisional mulai dari teknologi konvensional hingga teknologi terkini. Perlu adanya aturan pertukaran sumber daya alam untuk obat tradisional dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan obat tradisional di tingkat nasional dan internasional.

INDUSTRIALISASI OBAT TRADISIONAL Sasaran

DOKUMENTASI DAN DATABASE Sasaran

Dokumentasi dan database mempunyai posisi strategis untuk mendukung seluruh langkah dan kegiatan pengembangan obat tradisional. Pengumpulan dan pengolahan data yang mencakup berbagai jenis data yang berkaitan dengan pengembangan pengobatan tradisional.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Sasaran

PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sasaran

KOTRANAS dijadikan pedoman dan arahan bagi tindakan berbagai pelaku di bidang pengobatan tradisional nasional. Keberhasilan pelaksanaan KOTRANAS sangat bergantung pada moralitas, etika, dedikasi, kompetensi, integritas, ketekunan, kerja keras dan keikhlasan seluruh pelaku di bidang pengobatan tradisional.

GLOSSARIES

Referensi

Dokumen terkait

Buku  Daftar  Industri  Obat  Tradisional  merupakan  gambaran  data  mengenai  Industri  Obat  Tradisional  yang  tersebar  diseluruh  propinsi  di 

Sebagai negara yang kaya akan hutan, bangsa Indonesia sejak berabad-abad lampau sudah berinteraksi secara kuat dengan hutan, sehingga antara hutan dan manusia sudah

Temulawak telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai pewarna, bahan pangan, obat tradisional, 11 memelihara kesehatan dan juga sebagai bahan obat seperti

Bahan obat tradisional yang dimanfaatkan masyarakat Pekurehua di sekitar Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah tidak kurang dari 104 jenis tumbuhan. Jenis- jenis tumbuhan obat

Gambar 4.2 Grafik bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional Spesies tumbuhan yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dapat memiliki satu atau

Daftar Obat DPHO PT Askes (Persero) Formularium Nasional (Fornas) yang ditetapkan Menteri. Harga Obat DPHO PT Askes (Persero) Harga Obat yang ditetapkan oleh Menteri

Sejak dulu tumbuhan dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung senyawa kimia yang berperan untuk pertahanan diri terhadap organisme lain dan tidak penting bagi pertumbuhan

Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional mengatur tentang pengembangan industri nasional untuk meningkatkan daya saing, struktur sehat dan berkeadilan, berkelanjutan, dan memperkokoh ketahanan