• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

1

PROFIL KELUARGA NELAYAN TRADISIONAL DI JORONG PASIA TIKU KENAGARIAN TIKU SELATAN

KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM

Oleh

Riri Dwi Ramadani, Yeni Erita, Nefilinda

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat Staf Pengajar Prodi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

email: [email protected] ABSTRACT

This study aims to get the data, process, analyze and discuss the Profile Family Traditional Fishermen In Jorong Pasia Tiku Tiku Kenagarian Southern District of Tanjung Mutiara Agam seen from: the level of income, level of education, health and fishing. This type of research is descriptive. The study population was a traditional fishing family in jorong Pasia Tiku. Samples were taken by purposive sampling with a sample of 71 households. The results of the study explained that: (1) Profile life of traditional fishermen in Jorong Pasia Tiku Kenagarian tiku Southern District of Tanjung Mutiara Agam to the level of income that is above the minimum wage income of West Sumatra Province> Rp.1.615.000,00 with a percentage of 71.8%. (2) The education level of traditional fishing families 71 respondents (100%) never received a formal education, 40 respondents (56.45) no child is studying in high school, 67 respondents (94.36%) own cost of tuition fees, 37 respondents ( 52.1%) live a child's interest in education is very high, 40 respondents (56.3%) stated that education is important, (3) health condition of traditional fishing families 34 respondents (48%) rarely berkunjng to the hospital, 54 respondents (76 %) had disease.

Keywords: Family and Traditional Fishing.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara yang sedang berkembang dan sedang giat-giatnya melakukan pembangunan dalam segala bidang, permasalahan besar yang ditemui adalah masalah penduduk. Masalah ini semakin terlihat sejak krisis melanda Negara Indonesia, kualitas kesejahteraan penduduk dan kemakmuran tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) disebut sebagai negara maritim karena memiliki wilayah lautan yang luas dan mengandung sumber daya laut yang melimpah.

Rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan mencapai 15 % dari total penduduk Indonesia. (Pristyandana : 2010).

Kita tahu bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan, maka sektor kelautan sangat luas, sehingga pembangunan di sub sektor perikanan yang merupakan bagian dari pembangunan secara keseluruhan, pada dasarnya adalah usaha meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat nelayan.

Sumatera Barat merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera dengan Padang sebagai ibu kotanya. Wilayah Provinsi ini menempati sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah dan sejumlah pulau di lepas pantai seperti Kepulauan Mentawai. Secara geografis Sumatera Barat terletak antara 0o54 LU dan 3o30 LS serta 98o36 BT dan 101o53’BT dan dilalui garis katulistiwa.(BPS Padang 2013)

Kabupaten Agam merupakan salah satu kabupaten yang ada Di Sumatera Barat,

(3)

2 dengan ibukota di Lubuk Basung.

Kabupaten Agam Mempunyai 16 Kecamatan Yaitu: Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Baso, Kecamatan Candung, Kecamatan IV Angkek, Kecamatan IV Koto, Kecamatan Kamang Magek, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Malalak, Kecamatan Matur, Kecamatan Palembayan, Kecamatan Palupuh, Kecamatan Sungai Puar, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Tanjung Raya, Dan Kecamatan Tilatang Kamang. ( BPS Kabupaten Agam 2013).

Tanjung Mutiara adalah kecamatan yang langsung berbatasan dengan lut, memiliki ketinggian ibu kecamatan terendah yaitu 2 m dari permukaan laut. ( BPS Kabupaten Agam 2013)

Tanjung Mutiara merupakan satu- satunya kecamatan yang berbatasan dengan laut dan sangat potensial sebagai penghasil komoditi perikanan air laut. Ibu kota kecamatan Tanjung Mutiara berada di Nagari Tiku Selatan Yang mana, Tanjung Mutiara terbagi atas tiga nagari yaitu: nagari Tiku Selatan, nagari Tiku Utara, dan nagari Tiku Limo Jorong. Dikecamatan tanjung mutiara adalah salah satu daerah pantai atau pesisir yang berada di kabupaten Agam juga mempunyai dua buah pulau yaitu pulau ujung dan pulau tengah. Sepertiga masyarakat Tanjung Mutiara mempunyai mata pencariannya sebagai nelayan Dengan berbagai macam alat tangkapannya. (BPS Kabupaten Agam 2013).

Kenagarian Tiku Selatan merupakan kenagarian yang wilayahnya terletak di Tiku, di kecamatan Tanjung Mutiara, pada kabupaten Agam. Daerah ini terdiri dari 7 jorong. yang mana daerah nya adalah Pasia Paneh, Kampuang Darek, Pasa Tiku, Sungai Nibung, Pasia Tiku, Banda Gadang, dan Kasan Ketek. Yang mana masyarakat yang tinggal di 7 jorong tersebut bermata pencaharian dominan adalah sebagai nelayan. Di Pasia Tiku masyarakat pada umumnya bermata pencarian nelayan.

Karena daerah ini paling dekat dengan pantai.

Manusia memerlukan 5 macam kebutuhan hidup yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan, disamping itu kondisi keamanan lingkungan yang baik merupakan kebutuhan untuk mendukung kehidupan dan keberadaan manusia.

Upaya pemenuhan kebutuhan ini pada dasarnya tidak pernah berakhir, karena sifat kebutuhan manusia baik dari segi kuantitas dan kualitas tidak terbatas.

Pemenuhan kebutuhan tersebut tergantung kemampuan atau kesanggupan seseorang dalam memenuhinya. Selama manusia hidup selalu mempunyai kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya dan untuk mengangkat derajatnya dalam hidup bermasyarakat.

Menurut urutannya kebutuhan manusia ditentukan berdasarkan kebutuhan yang paling dirasakan penting dan harus didahulukan pemenuhannya, lazimnya ini disebut pemenuhan kebutuhan menurut skala prioritas. Kebutuhan itu harus dipenuhi secara bertahap sesuai dengan urutannya, bertahap artinya pemuasan kebutuhan itu berlangsung dari tingkat kepuasan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya hingga kebutuhan itu terpenuhi seluruhnya.

Kebutuhan yang termasuk sangat penting dan harus dipenuhi manusia dalam hidupnya adalah kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesejahteraan. Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yaitu kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan akan harga diri.

Masyarakat yang mempunyai mata pencaharian dan berpenghasilan sebagai nelayan merupakan salah satu dari kelompok masyarakat yang melakukan aktivitas usaha dengan mendapat penghasilan bersumber dari kegiatan nelayan itu sendiri. Nelayan adalah orang secara efektif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan dan binatang air lain atau tanaman air.

Tingkat kesejahteraan nelayan sangat ditentukan oleh hasil tangkapannya.

Banyaknya tangkapan tercermin pula besarnya pendapatan yang diterima dan pendapatan tersebut sebagian besar untuk keperluan konsumsi keluarga (Sujarno, 2008).

Nelayan adalah istilah bagi orang- orang yang sehari-harinya bekerja menangkap ikan atau biota lainnya yang hidup didasar kolam maupun perairan.

Perairan yang menjadi daerah aktivitas nelayan ini dapat merupakan perairan tawar, payau maupun laut. Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Dalam perstatistikan

(4)

3 perikanan perairan umum., nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan operasi penangkapan ikan diperairan umum. Orang yang melakukan pekerjaan seperti pembuatan jaring, mengangkut alat-alat penangkapan ikan ke dalam perahu atau kapal motor, tidak dikategorikan sebagai nelayan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2002).

Nelayan dibedakan menjadi empat yaitu: (1) Nelayan pemilik (juragan) adalah orang atau perseorangan yang melakukan usaha penangkapan ikan, dengan hak atau berkuasa atas kapal/perahu dan/atau alat tangkap ikan yang dipergunakan untuk menangkap ikan. (2) Nelayan penggarap (buruh atau pekerja) adalah seseorang yang menyediakan tenaganya atau bekerja untuk melakukan penangkapan ikan yang pada umumnya merupakan/membentuk satu kesatuan dengan yang lainnya dengan mendapatkan upah berdasarkan bagi hasil penjualan ikan hasil tangkapan. (3) Nelayan tradisional adalah orang perorangan yang pekerjaannya melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan perahu dan alat tangkap yang sederhana (tradisional).

Dengan keterbatasan perahu maupun alat tangkapnya, maka jangkauan wilayah penangkapanya pun menjadi terbatas biasanya hanya berjarak 6 mil laut dari garis pantai. Nelayan tradisonal ini biasanya adalah nelayan yang turun-temurun yang melakukan penangkapan ikan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Nelayan kecil pada dasarnya berasal dari nelayan tradisional hanya saja dengan adanya program modernisasi/motorisasi perahu dan alat tangkap maka mereka tidak lagi semata- mata mengandalkan perahu tradisional maupun alat tangkap yang konvensional saja melainkan juga menggunakan diesel atau motor, sehingga jangkauan wilayah penangkapan agak meluas atau jauh. (4) Nelayan gendong (nelayan angkut) adalah nelayan yang dalam keadaan kenyatanya dia tidak melakukan penangkapan ikan karena kapal tidak dilengkapi dengan alat tangkap melainkan berangkat dengan membawa modal uang (modal dari juragan) yang akan digunakan untuk melakukan transaksi (membeli) ikan di tengah laut yang kemudian akan dijual kembali.

Sumber daya nelayan dicirikan oleh pendidikan dan keterampilan rendah,

kemampuan manajemen yang terbatas. Taraf hidup penduduk desa pantai yang sebagian besar nelayan sampai saat ini masih rendah, pendapatan tidak menentu (sangat tergantung pada musim ikan), kebanyakan masih memakai peralatan tradisional dan masih sukar manjauhkan diri dari perilaku boros.

Sejalan dengan itu, dalam hal tingkat pendidikan khususnya bagi keluarga nelayan di Pasir Tiku Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam untuk bekal kerja, mencari ikan dilaut, latar belakang seorang nelayan memang tidak penting artinya karena pekerjaan merupakan pekerjaan kasar yang lebih banyak mengandalkan otot dan pengalaman. Pendidikan seharusnya dapat diperoleh seseorang dari lingkungan keluargannya, tapi karena kurangnya biaya yang mengakibatkan seseorang tidak dapat mengenyam pendidikan, karena seperti yang di lihat masih banyak anak-anak yang hanya mendapat pendidikan sampai tingkat SMA, itu dapat di lihat pada keluarga nelayan.

Padahal pendidikan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan, sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan cara pandang nelayan.

Kurangnya pendapatan dari keluarga nelayan di Pasir Tiku Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam yang perharinya tidak menentu yang mana para nelayan ini hanya bisa melaut ketika cuaca cerah. apabila cuaca buruk nelayan tidak bisa pergi melaut karna berdampak terhadap keselamatan nelayan tersebut. Kurangnya perekonomian nelayan ini akan berdampak pada keadaan kondisi pemukiman penduduk, dan berakibatkan tidak memenuhi kesehatan yang memadai, biasanya masyarakat yang kurang mampu ini hanya bisa berobat ke puskesmas setempat. Apabila jumlah anggota keluarga dalam keluarga tersebut banyak maka kebutuhan juga akan semakin banyak yang akan dipenuhi.

Berdasarkan observasi awal penulis pada tanggal 8 desember 2014 di jorong Pasia Tiku Kenagarian Tiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam, diketahui bahwa sebagian besar masyarakat pada umum nya bermata pencarian sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga nya. Dan pada umumnya pendapatan nelayan di Pasia Tiku

(5)

4 tidak menentu / tidak tetap yang mana para nelayan ini hanya bisa melaut ketika cuaca cerah. Sejalan dengan itu dalam tingkat pendidikan khususnya bagi keluarga nelayan di Pasia Tiku Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam masih sangat rendah.

Melihat gambaran hidup nelayan tradisional di Pasia Tiku dalam kaitannya pemenuhan kebutuhan hidup maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan judul profil keluarga nelayan tradisional di Jorong Pasia Tiku kenagarian tiku selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam.

METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian

Penelitian deskriptif merupakan penelitian paling sederhana dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang lain, karena penelitian ini peneliti tidak melakukan apa-apa terhadap objek atau wilayah yang diteliti (Arikunto, 2010).

Arikunto (2006), penelitian deskriptif adalah metode penelitian atau prosedur pemecahan yang diselidiki yang menggambarkan dan melukiskan keadaan objektif penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.

Tika (2005) penelitian ini mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagai mana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang diberikan interpretasi atau analisis.

Menurut Sudjana dalam skripsi Yanti (2014 : 23), penelitian deskriptif digunakan apabila penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang ada pada masa sekarang, survey studi pengembangan.

Menurut Sugiyono (2008) penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berupaya mendeskripsikan, mencatat dan menganalisis serta menginterprestasikan kondisi-kondisi yang terjadi sebagai mana adanya.

Populasi dan Sampel 1. Populasi

Arikunto (2010) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi penelitian ini adalah kepala keluarga (KK) nelayan yang ada di jorong Pasia Tiku. Sesuai dengan masalah

dan tujuan penelitian maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah nelayan di jorong Pasia Tiku Kenagarian Tiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam. Jumlah nelayan di jorong Pasia Tiku Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam adalah sebanyak 474 kepala keluarga.

2. Sampel responden

Sampel responden dalam penelitian ini adalah kepala keluarga nelayan tradisional yang tinggal di jorong Pasia Tiku. Sampel responden diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling yang artinya mengambil responden secara sengaja berdasarkan tema prnelitian yaitu Profil Keluarga Nelayan Tradisional Di Pasia Tiku Kenagarian Tiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam. Menurut arikunto (2006) jika subjek nya kurang dari 100 lebih baik diambil semua, tetapi jika jumlah subjek besar dapat diambil 5-10% atau 15-20% atau lebih.

Mengingat besarnya sampel penelitian yang bersumber di jorong Pasia Tiku kenagarianTiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara kabupaten Agam yaitu sebesar 474 kepala keluarga (KK), maka sampel penelitian dalam penelitian ini diambil sebanyak 15% dari 474 jumlah kepala keluaga, yaitu sebanyak 71 kepala keluarga.

Definisi Operasional dan Variabel 3. Pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah pendapatan yang diperoleh oleh keluarga dari penghasilan sebagai hasil kerja yang diukur dengan rupiah perbulan.

Indikatornya adalah:

1) Jumlah pendapatan perbulan 2) Pengeluaran rumah tangga perbulan

4. Pendidikan keluarga Pendidikan adalah

pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.

Indikatornya adalah:

a. Rendah

1) Tidak sekolah 2) Tidak tamat SD 3) Tamat SD

(6)

5 b. Menengah

1) Tidak tamat SMP 2) Tamat SMP 3) Tidak tamat SMA 4) Tamat SMA c. Tinggi

1) Tidak tamat perguruan tinggi 2) Tamat perguruan tinggi

5. Kesehatan keluarga

Kesehatan adalah keadaan sejahteraan dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, pemeliharaan.

Indikatornya adalah:

1) Jumlah kunjungan kerumah sakit (berapa kali/bulan)

2) Jenis penyakit yang sering diderita 3) Tempat berobat yang sering

dikunjungi

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbimbing dengan menggunakan angket terhadap responden keluarga nelayan, sedangkan beberapa hal yang tidak mungkin dikumpulkan dengan wawancara, dilakukan teknik observasi langsung dan pengamatan terhadap Objek Penelitian. Sedangkan yang akan diteliti adalah tentang profil keluarga nelayan tradisional di jorong pasia tiku kenagarian tiku selatan kecamatn tanjung mutiara kabupaten agam

Jenis Data, Sumber Data, Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Sesuai dengan penelitian, maka data yang akan dikumpulkan adalah data sekunder dan primer. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kantor camat dan kantor wali nagari. Sedangkan data primer adalah data yang berhubungan dengan profil keluarga nelayan tradisional di pasia tiku kenagarian tiku selayan kecamatan tanjung mutiara kabupaten agam.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder diperoleh dari kantor camat, kantor walinagari, BPS dan instansi yang di anggap mempunyai data

yang relevan. Sedangkan sumber data primer adalah responden dilapangan.

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Data sekunder diperoleh dari Kantor Camat dan Kantor Wali Nagari melalui wawancara, observasi, dan pencacatan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian. Sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara terbimbing dan responden melalui daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.

Teknik Analisa Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis Statistik Deskriptif yang

menggunakan presentase jawaban dengan rumus sebagai berikut :

Persentase dengan rumus : P = 𝒇

𝒏 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % Keterangan : P = Persentase ƒ = Frekuensi

n = Jumlah sampel responden (Sudjono, 2010:43)

Untuk melihat persentase peningkatan rendah, sedang, atau sangat tinggi, untuk kriteria ini dipakai kriteria penelitian yang digunakan oleh Arikunto yaitu:

a. 81% - 100% : Sangat tinggi b. 61% - 80% : Tinggi c. 41% - 60% : Rendah d. 1% - 40% : Sangat rendah

PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini akan dibahas hasil penelitian tentang Profil Keluarga Nelayan Tradisional Di Jorong Pasia Tiku Kenagarian Tiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam meliputi: tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut:

Pertama : Tingkat pendapatan keluarga Nelayan yaitu dari Rp. 1.657.000- 2.991.000 pendapatan nya di atas pendapatan UMR Provinsi Sumatera Barat

>Rp.1.615.000,00 dengan persentase 71,8%

dalam 1 bulan Prsentasenya yaitu tinggi.

Hal ini sesuai dengan Menurut Kasmir (2009) menilai pendapatan harus dinilai dari pemanfaatannya terhadap kebutuhan pokok yang mencakup: (1) kebutuhan minimum konsumsi keluarga

(7)

6 yang terdiri dari: pangan, sandang, pemukiman dan alat-alat rumah tangga tertentu, (2) kebutuhan pokok yang mencakup jasa pelayanan esensial yang terdiri dari air minum sehat, sanitasi, pengangkutan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan.

Kedua : Tingkat pendidikan adalah keluarga nelayan pernah mendapatkan pendidikna formal, pendidikan terakhir tamatan SD dengan persentase (40,9%) yaitu rendah, anak keluarga nelayan tradisional yang sedang menempuh pendidikan SD yaitu 1orang anak dengan persentase sebesar (46,5%) yaitu rendah, 2 orang anak dengan persentase sebesar (23,9%) yaitu sangat rendah, 3 orang anak dengan persentase sebesar (2,8%) yaitu sangat rendah, tidak ada anaknya yang sedang menempuh pendidikan SD dengan pesentase sebesar (26,8%) yaitu sangat rendah, anak yang sedang menempuh pendidikan SMP yaitu 1 orang anak dengan persentase sebesar (60,6%) yaitu rendah, 2 orang anak dengan persentase sebesar (7, 3%)yaitu sangat rendah, orang anak dengan persentase sebesar (1,4%) yaitu sangat rendah, tidak ada anaknya yang sedang menempuh pendidikan SMP dengan persentase sebesar (31%) yaitu sangat rendah.

Anak yang sedang menempuh pendidikan SMA yaitu 1 orang anak dengan persentase sebesar (38%) yaitu sangat rendah. 2 orang anak dengan persentase sebesar (4,2%) yaitu sangat rendah, 3 orang anak dengan persentase sebesar (1,4%) yaitu sangat rendah, tidak ada anaknya yang sedang menempuh pendidikan SMA dengan persentase sebesar (56,4%) yaitu rendah, anak yang sedang menempuh pendidikan Perguruan Tinggi yaitu 1 orang anak dengan persentase sebesar (15,5%) yaitu sangat rendah, tidak ada anaknya yang sedang menempuh pendidikan Perguruan Tinggi dengan persentase sebesar (84,5%) yaitu sangat tinggi. anak yang tidak tamat sekolah yaitu 1 orang anak dengan persentase sebesar (18,3%) yaitu sangat rendah, 2 orang anak dengan persentase sebesar (16,9%) yaitu sangat rendah, 3 orang anak dengan persentase sebesar (1,4%) yaitu sangat rendah, tidak ada anak nelayan yang tidak tamat sekolah dengan persentase sebesar (63,4%) yaitu tinggi, sarana

pendidikan anak yang dipenuhi oleh keluarga nelayan tradisional yaitu meja belajar dengan persentase sebesar 2,8%, meja belajar, buku, pakaian dengan persentase sebesar (91,6%) yaitu sangat tinggi, buku, pakaian dengan persentase sebesar (5,6%) yaitu sangat rendah.

Sumber biaya pendidikan anak yaitu biaya sendiri dengan persentase sebesar (94,4%) yaitu sangat tinggi, beasiswa dengan persentase sebesar (1,4%) yaitu sangat rendah, bantuan lainnya dengan persentase sebesar (4,2%) yaitu sangat rendah, minat anak dalam menjalani pendidikan yaitu tinggi dengan persentase sebesar (31%) yaitu sangat rendah, sangat tinggi dengan persentase sebesar (52,1%) yaitu rendah, cukup tinggi dengan persentase sebesar (12,7%) yaitu sangat rendah, rendah dengan persentase sebesar (4,2%) yaitu sangat rendah, pentingnya pendidikan bagi keluarga nelayan yaitu sangat penting dengan persentase sebesar (42,3%) yaitu rendah, penting dengan persentase sebesar (56,3%) yaitu rendah, kurang penting dengan persentase sebesar (1,4%) yaitu sangat rendah.

Hal ini sesuai dengan menurut Muhandir (2009) dalam Wati (2013) mengemukakan bahwa pendidikan adalah daya upaya insani menyiapkan anak selaku individu mencapai taraf pertumbuhan dan perkembangan maju. Penjejangan pendidikan yaitu pendidikan rendah, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, dengan kelembagaanya masing- masing, berturut-turut SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas) dan perguruan tinggi.

Ketiga : Kesehatan keluarga Nelayan Tradisional yaitu kunjungan nya ke rumah sakit 1 kali sebulan dengan persentase sebesar (40,8%) yaitu rendah, 2 kali dalam sebulan persentase sebesar (11,2%) yaitu sangat rendah, jarang berkunjung ke rumah sakit persentase sebesar (48%) yaitu rendah, berobat dalam sebulan. jenis penyakit yang sering diderita oleh keluarga nelayan tradisional penyakit yang diderita panas dengan persentase (62%) yaitu tinggi, penyakit yang diderita meriang dengan persentase (1,4%) yaitu sangat rendah, penyakit yang sering di derita vertigo / sakit kepala (36,6%) yaitu sangat rendah,

(8)

7 Penyakit sering diderita oleh keluarga nelayan tradisional yaitu baru mengidap penyakit yang diderita dengan persentase (76%) yaitu tinggi, sudah lama mengidap penyakit yang diderita dengan persentase (24%) yaitu sangat rendah, jaminan kesehatan bagi keluarga nelayan tradisional untuk berobat keluarga nelayan tradisional ada mempunyai jaminan kesehatan untuk berobat dengan persentase (28,1%) yaitu sangat rendah, keluarga nelayan tradisional tidak ada mempunyai jaminan kesehatan untuk berobat dengan persentase (72%) yaitu tinggi, bantuan bagi keluarga nelayan tradisional ada bantuan untuk berobat dengan persentase (26,8%) yaitu sangat rendah, keluarga nelayan tradisional tidak ada bantuan untuk berobat dengan persentase (73,2%) yaitu tinggi tempat berobat keluarga nelayan tradisional rumah sakit dengan persentase (4,2%) yaitu sangat rendah, tempat berobat keluarga nelayan puskesmas dengan persentase (73,2%) yaitu tinggi, tempat berobat keluarga nelayan bidan dengan persentase (8,5%) yaitu sangat rendah, tempat berobat keluarga nelayan orang pandai (berobat kampung) dengan persentase (14,1%) yaitu sangat rendah.

Hal ini sesuai Dalam Roza (2008) Kesehatan adalah keadaan sejahteraan dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, pemeliharaan. kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu seseorang dengan bertindak sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan.

KESIMPULAN

Hasil penelitian mengenai profil keluarga nelayan tradisional di jorong pasia tiku kenagarian tiku selatan kecamatan tanjung mutiara agam kabupaten agam dapat diambil kesimpulan:

1. Tingkat Pendapatan keluarga nelayan tradisional di Pasia Tiku adalah sebagian umum tinggi dan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

yaitu diatas pendapatan UMR Provinsi Sumatera Barat >Rp.1.615.000,00.

2. Tingkat pendidikan keluarga nelayan tradisional 71 responden (100 %) pernah mendapatkan pendidikan formal, 40 responden (56,45) tidak ada anak yang menempuh pendidikan SMA, 67 responden (94,36%) biaya pendidikan biaya sendiri, 37 responden (52,1%) minat anak dalam menjalani pendidikan sangat tinggi, 40 responden (56,3%) menyatakan bahwa pendidikan itu penting.

3. Kondisi kesehatan keluarga nelayan tradisional 34 responden (48%) jarang berkunjng kerumah sakit, 54 responden (76%) baru mengidap penyakit.

SARAN

Berdasarkan data yang diperoleh maka saran dari penulis adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada instansi pemerintah dan lembaga – lembaga swasta setempat, agar lebih memperhatikan para nelayan sehingga didapatkan data yang akurat dan didapatkan data yang akurat dan dapat diberikan bantuan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

2. Bagi masyarakat Jorong Pasia Tiku Kenagarian Tiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam lebih meningkatkan pendapatan, pendidikan anaknya, tingkat kesehatan nelayan selalu berjalan dengan baik.

3. Bagi peneliti selanjutnya penelitian ini bisa dijadikan bahan rujukan dan pedoman yang bermanfaat dan menambah wawasan pembaca dan peneliti selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto.2010. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto,Suharsimi.2006.Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara Badan pusat statistik Kabupaten Agam.2013.

statistik daerah kabupaten agam 2013:Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam.

Badan pusat statistik Kabupaten Agam.2013.

statistik daerah kecamatan tanjung mutiara tahun 2013:Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam.

Pristyandana.2010. analisis profil sosial- ekonomi rumah tangga nelayan di kecamatan bulak pesisir pantai surabaya.jurnal

(9)

8 Roza.2008.Studi Tentang Kehidupan

Nelayan Tradisional Di Kenagarian Ampang Pulai Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan.

Skripsi.STKIP PGRI Sumatera Barat : Tidak Diterbitkan

Sudjono.2010.pengantar statistik pendidikan. Jakarta:Rajawali Pers Sugiyono. 2009. Metode Penelitian

kuantitatif, kualitatif dan R dan D.

Bandung: Alfabeta

Tika pambudu.2005.Metodologi Penelitian Geografi .PT Bumi aksara

Referensi

Dokumen terkait

Variable description Table 1: Description of Variables Variables Description Years Return on Assets ROA Dependent Variable “Return on assets ROA is an indicator of how