• Tidak ada hasil yang ditemukan

(KEDESIAAN PUBLIKASI BELUM ADA, SILAKAN UPLAOD ULANGA).. Implementasi kurikulum merdeka belajar di sma negeri 1 jenangan ta/tp 2022/2023

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "(KEDESIAAN PUBLIKASI BELUM ADA, SILAKAN UPLAOD ULANGA).. Implementasi kurikulum merdeka belajar di sma negeri 1 jenangan ta/tp 2022/2023"

Copied!
257
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SMA NEGERI 1 JENANGAN

TA/TP 2022/2023

SKRIPSI

Oleh

LALA COFSRULNADA CAFSOH NIM. 206190096

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(2)

ii

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SMA NEGERI 1 JENANGAN

TA/TP 2022/2023

SKRIPSI Diajukan

Untuk memenuhi salah satu persyaratan

dalam menyelesaikan Program Sarjana Manajemen Pendidikan Islam

Oleh

LALA COFSRULNADA CAFSOH NIM. 206190096

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Ucapan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas petunjuk dan karunia-Nya sehingga saya diberi kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di SMA Negeri 1 Jenangan TA/TP 2022/2023”. Sholawat serta salam tidak lupa saya lantunkan kepada Nabi Muhammad SAW sang penerang kehidupan. Atas kerendahan hati, skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Kedua orang tua saya Bapak Suprapto dan Ibu Lusi Endah ratnawati yang selalu menyemangati, membimbing dan mendoakan kelancaran skripsi saya hingga saat ini.

2. Adik saya Madina Aulia Cafsoh yang selalu mendoakan kelancaran skripsi ini.

(7)

vii MOTO

ْنِم ا ْوُّضَفْن َلَ ِبْلَقْلا َظْيِلَغ ّظَف َتْنُك ْوَل َو ۚ ْمُهَل َتْنِل ِ هاللّٰ َنِّم ٍةَمْح َر اَمِبَف ُفْعاَف ۖ َكِل ْوَح

ُّب ِحُي َ هاللّٰ َّنِا ۗ ِ هاللّٰ ىَلَع ْلَّك َوَتَف َتْم َزَع اَذِاَف ِۚرْمَ ْلَا ىِف ْمُه ْرِواَش َو ْمُهَل ْرِفْغَتْسا َو ْمُهْنَع

َنْيِلِّك َوَتُمْلا Artinya :“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.

Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”1 (QS. Ali

‘Imran:159)

1 Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta, Departemen Agama RI, 1994), 103.

(8)

viii ABSTRAK

Cafsoh, Lala Cofsrulnada, 2023. Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.

Skripsi. Jurusan manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing, Wilis Werdiningsih M.Pd.I.

Kata Kunci: Implementasi, Kurikulum Merdeka Belajar Kurikulum merdeka merupakan kurikulum baru yang memberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar. Serta memberikan peluang bagi guru dan peserta didik bebas berkreasi, berinovasi, dan belajar mandiri agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Setiap sekolah memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menanggapi kurikulum merdeka, salah satunya SMA Negeri 1 Jenangan yang sudah berhasil mengimplementasikan kurikulum merdeka dengan baik.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini: (1) Untuk menjelaskan strategi penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan, (2) Untuk menjelaskan faktor pendukung dan penghambat penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan, (3) Untuk menjelaskan dampak penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 jenangan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menerapkan jenis penelitian studi kasus, sedangkan teknis pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, dan teknis analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data,

(9)

ix penyajian data dan kesimpulan.

Hasil penelitian ini adalah (1) Strategi penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan, a) mengadakan kegiatan workshop in house training, b) mengadakan workshop dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, c) serta pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), (2) Faktor pendukungnya meliputi adanya sumber daya manusia (SDM) serta akses digital yang mendukung dan faktor penghambatnya ada dari faktor internal berasal dari motivasi, dan sikap siswa, dan berasal dari fasilitas sekolah, sedangkan faktor eksternal berasal dari dukungan orang tua. (3) Dampak untuk para pendidik baik itu kepala sekolah dan guru meliputi adanya inovasi, interaksi dua arah sehingga akan memunculkan sikap ma uterus belajar, dan mencari ide-ide kreatif dan dampak bagi peserta didik menjadi fokus terhadap perolehan mata pelajaran yang telah diterima dan diminati sehingga menimbulkan hal yang positif.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT, tuhan seluruh alam semesta, karena berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya serta kekuatannyaNya yang diberikan pada penulis, sehingga dapat menyelesaikan proses skripsi ini yang berjudul “Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan (S.Pd) pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kegurusan Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo.

Selanjutnya, penulis mengharapkan maaf dari semua kiranya banyak kesalahan dan kekeliruan yang disengaja dalam proses penyelesaian penulisan skripsi ini. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari banyak mengalami kesulitan dan hambatan, namun berkat pertolongan Allah SWT, serta bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelsaikan skripsi ini. Untuk itu, penulis sampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag., selaku Rektor IAIN Ponorogo.

2. Dr. H. Moh. Munir, Lc.,M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Ponorogo.

3. Dr. Athok Fuadi, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Islam IAIN Ponorogo.

4. Ibu Wilis Werdiningsih, M.Pd.I., selaku pembimbing yang sangat sabar membimbing, mengarahkan dan memberikan motivasi kepada peneliti sehingga penelitian skripsi ini dapat terselesaikan.

(11)

xi

5. Seluruh jajaran Bapak/Ibu Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

6. Ibu Titik Ruwaidah, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Jenangan yang telah membantu sehingga penelitian skripsi ini dapat terselesaikan.

7. Ibu Farida Kristianawati, S.Pd., selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulumn SMA Negeri 1 Jenangan.

8. Ibu Rensyan Prisilia, S.Pd., selaku guru bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Jenangan.

9. Untuk keluarga besar MPI 2019, terkhusus teman-teman MPI C yang telah memberikan banyak dukungan dan telah berjuang bersama dalam perkuliahan.

10. Semua pihak yang telah membantu baik dalam materi maupun non materi sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

Semoga bantuan, dorongan, serta semangat yang telah mereka berikan dapat menjadi amal shaleh dan diterima oleh Allah SWT sebagai bekal di akhirat dan mendapat pahala dari Allah SWT. Aamiin ya robbal’alamin, penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat konstruktif untuk menyempurnakan skripsi ini dan semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Ponorogo, 12 Mei 2023 Peneliti

Lala Cofsrulnada Cafsoh NIM. 206190096

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

LEMBAR KEASLIAN TULISAN ... v

LEMBAR PERSEMBAHAN ... vi

MOTO ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xviii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Manfaat Penelitian ... 8

F. Sistematika pembahasan ... 9

BAB II : KAJIAN PUSTAKA ... 11

A. Kajian Teori ... 11

1. Kurikulum Merdeka ... 11

a. Pengertian Kurikulum Merdeka .... 11

b. Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Merdeka ... 18

c. Perencanaan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka ... 21

(13)

xiii

d. Penilaian (assesment) dalam

Implementasi Kurikulum Merdeka 28 e. Projek Penguatan Profil Pelajar

Pancasila ... 36

2. Implementasi Kurikulum Merdeka ... 43

a. Pengertian Implementasi Kurikulum Merdeka ... 43

b. Tahapan Implementasi Kurikulum Merdeka ... 44

c. Kesiapan Implementasi Kurikulum Merdeka ... 47

3. Strategi Implementasi Kurikulum Merdeka ... 58

a. Strategi Implementasi Kurikulum Mereka ... 58

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kurikulum Merdeka ... 63

c. Dampak Implementasi Kurikulum Merdeka ... 71

B. Kajian Peneliti Terdahulu ... 73

C. Kerangka Pikir ... 81

BAB III : METODE PENELITIAN ... 83

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 83

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 83

C. Data dan Sumber Data ... 85

D. Teknik Pengumpulan Data ... 86

E. Teknik Analisis Data ... 90

F. Pengecekan Keabsahan Penelitian ... 92

G. Tahap Penelitian ... 94

(14)

xiv

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN ... 95

A. Gambaran Umum Latar Penelitian ... 95

1. Sejarah SMA Negeri 1 Jenangan ... 95

2. Profil SMA Negeri 1 Jenangan ... 97

3. Letak Geografis SMA Negeri 1 Jenangan ... 98

4. Visi, Misi, Tujuan SMA Negeri 1 Jenangan ... 98

5. Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Jenangan ... 100

6. Sumber Daya Manusia (Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Siswa) SMA Negeri 1 Jenangan ... 101

7. Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Jenangan ... 105

8. Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 1 Jenangan ... 106

B. Deskripsi Data ... 107

1. Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri Jenangan .. 107

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan ... 122

3. Dampak Penerapan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan 130 C. Pembahasan ... 134

1. Strategi Penerapan Kurikulum

Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan 134

(15)

xv

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka di

SMA Negeri 1 Jenangan ... 140

3. Dampak Penerapan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan 143 BAB V: PENUTUP ... 146

A. Simpulan ... 146

B. Saran ... 148

DAFTAR PUSTAKA ... 149

LAMPIRAN ... 130

Lampiran 1. Bukti Dokumen Kepmendikbud ristek Nomor 56/M/2022 ... 166

Lampiran 2. Transkip Wawancara, Observasi dan Dokumentasi ... 134

Lampiran 3. Surat Izin Penelitian ... 234

Lampiran 4. Surat Telah Melakukan Penelitian ... 235

Lampiran 5. Pernyataan Keaslian Tulisan ... 236

Lampiran 6. Daftar Riwayat Hidup ... 237

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Lampiran Halaman Tabel 2.2 Persamaan dan Perbedaan Kajian Terdahulu .. 77 Tabel 4.3 Tenaga Pendidik SMA Negeri 1 Jenangan ... 102 Tabel 4.4 Tenaga Kependidikan SMA Negeri 1

Jenangan ... 103 Tabel 4.5 Siswa SMA Negeri 1 Jenangan ... 104 Tabel 4.6 Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1

Jenangan ... 105

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Lampiran Halaman Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir... 82 Gambar 4.2 Struktur Organisasi SMA Negeri 1

Jenangan ... 101

(18)

xviii

PEDOMAN TRANSLITERASI

Sistem transliterasi Arab-Indonesia yang dijadikan pedoman dalam penulisan skripsi ini adalah sistem institute of Islamic studies, McGill University, yaitu sebagai berikut:2

ء = ‘ ز = Z ق = Q

ب = B س = S ك = k

ت = T ش = Sh ل = l

ث = T

h

ص = s<} م = m

ج = J ض = d} ن = n

ح = H ط = t} و = w

خ = K

h

ظ = z} ٥ = h

د = D ع = ، ي = y

ذ = D

h

غ = Gh

ر = R ف = F

Ta’ marbūt}atidak ditampakkan kecuali dalam susunanidāfa, huruf tersebut ditulis t. Misalnya : ةن اطف = fat}āna ; يبنلاةن اطف = fat}ānat al-nab̄i

Diftong dan Konsonan Rangkap

وا = Aw وا = ū

2 IAIN Ponorogo, Pedoman Penulisan Skripsi (Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, 2022), 138.

(19)
(20)

0 يأ = Ay يأ = ī

Konsonan rangkap ditulis rangkap,kecuali huruf waw yang didahului d}amma dan huruf yāyang didahului kasra seperti tersebut dalam tabel.

Bacaan panjang

١ = ā ي = ī ١ و ١ = ū

Kata sandang

١ل = al- شل = ١ al- sh ل = ١و Wa’l-

xix

(21)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia didukung oleh pemerintah sepenuhnya. Hal ini dapat diketahui berdasarkan rumusan tujuan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang mengutamakan pencapaian dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, dan sikap saling menghargai jasa para pahlawan serta berkeinginan untuk maju. Hal tersebut menjadi sebuah motivasi untuk terus mencapai cita-cita dan mencerdakan kehidupan bangsa.3

Pendidikan nasional, di Indonesia telah melaksanakan beberapa kurikulum sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kurikulum tersebut telah berulang kali mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 2013 (K-13), serta kurikulum terbaru yaitu kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka mulai

3 AM Sudirman, "Posisi Strategi Dan Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Kompetensi", Jurnal IKIP Negeri Singaraja, Vol. 1, No. 2 (2004), 10–15.

(22)

diimplementasikan pada tahun ajaran 2022/2023.4 Adanya kurikulum disusun oleh satuan pendidikan yang memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada sekolah dengan tetap mengacu pada standar pendidikan nasional untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan sendiri terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan dan penilaian pendidikan.

Menurut Kemendikbudristek, kurikulum merdeka merupakan kurikulum pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Adapun tujuan dari kurikulum merdeka adalah untuk mengembangkan potensi dan kompetensi peserta didik salah satunya proses pembelajaran dengan membuat proyek. 5

Kurikulum merdeka ini tergolong masih baru dan pemberlakuan melalui Kemendikbudristek nomor 262/M/2022 tentang perubahan atas keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pada bulan Juni 2022 dikeluarkan Kepmendikbudristek nomor 56/M/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum merdeka

4 M Ritonga, "Politics and Policy Dynamics of Changing the Education Curriculum in Indonesia until the Reformation Period", Jurnal Bina Gogik, Vol. 5, No. 4 (2018), 1–15.

5 Ristek dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,

"Buku Saku Tanya Jawab Kurikulum Merdeka", Jurnal IKIP, Vol. 1, No. 1 (2022), 10–12.

(23)

dalam rangka pemulihan pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang menengah.

Yang memuat struktur kurikulum merdeka, aturan terkait pembelajaran dan asesmen, projek penguatan profil pelajar pancasila, serta beban guru.6 Akan tetapi kurikulum merdeka ini masih menggunakan peraturan lama Permendikbud Nomor 37 tahun 2018 tentang perubahan atas Permendikbud Nomor 24 tahun 2006 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pelajaran pada kurikulum 2013 pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.7

Awalnya kurikulum merdeka dirancang untuk membantu pemulihan krisis pembelajaran akibad COVID- 19. Di era seperti sekarang ini penggunaan teknologi menjadi salah satu dasar dikembangkannya kurikulum merdeka. Oleh karena itu program merdeka belajar yang dirancang oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim berupaya memahami dan berfokus pada materi yang esensial serta pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran lebih relevan dan interaktif melalui kegiatan projek yang memberikan peluang lebih luas pada peserta didik untuk aktif mengeksplorasi isu-isu aktual seperti isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi profil pelajar pancasila. 8 Tujuannya untuk memperkuat

6 Ristek dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Nomor 56/M/2022, 1.

7 Permendikbud, Nomor 37 Tahun 2018, 1.

8 M Marisa, "Inovasi Kurikulum “Merdeka Belajar” Di Era Society 5.0", Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora, Vol. 5, No. 2 (2021), 66–

78.

(24)

kemampuan literasi peserta didik serta pengetahuannya pada tiap mata pelajaran. Fase atau tingkat perkembangan itu sendiri berarti capaian pembelajaran yang harus dicapai, dan disesuaikan dengan karakteristik, serta potensi serta kebutuhan peserta didik.9

Kurikulum Merdeka mengusung konsep “Merdeka Belajar” yang berbeda dengan kurikulum 2013 (K-13) yang menitikberatkan pada fenomena di lingkungan sekitarnya seperti fenomena alam, sosial, seni dan budaya melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan sehingga mereka lebih kreatif, inovatif, produktif dan siap menghadapi persoalan serta lebih berfokus pada jurusan yang dipilih oleh peserta didik.10 Sedangkan kurikulum merdeka adalah kurikulum yang lebih mudah serta fokusnya kepada materi yang bersifat esensial dan pengembangangan kepada karakter siswa. Adapun sifat ataupun tujuan dari kurikulum ini untuk mendukung penyembuhan dalam pembelajaran. Karakteristik dari kurikulum merdeka ini ialah 1) kagiatan belajar yang berbasis projek untuk mengembangkan soft skills dan sifat sesuai dengan profil belajar Pancasila. 2) berfokus pada materi yang bersifat esensial sehingga para siswa banyak mempunyai waktu dalam pembelajaran khususnya numerasi dan literasi. 3) membuat pembelajaran lebih fleksibel bagi pengajar untuk melaksanakan kegiatan belajar yang berdiferensiasi sesuai dengan kesanggupan siswa serta

9 Sherly, et.al, "Merdeka Belajar:Kajian Literatur", UrbaGreen Conference Proceeding Library, Vol. 1, No. 1 (2020), 22.

10 R Anwar, "Hal-Hal Yang Mendasari Penerapan Kurikulum 2013", Humaniora, Vol. 5, No. 1 (2014), 2987.

(25)

melaksanakan suatu penyesuaian pada konteks dan muatan lokal.

Profil pelajar pancasila yang ada di kurikulum merdeka berguna untuk mengembangkan karakter dan kemampuan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran. Sehingga pendidikan karakter mempunyai peranan penting untuk mengembangakan potensi yang ada pada peserta didik dan menjadi masyarakat Indonesia yang berbudi luhur. Program profil pelajar pancasila sebagai pendidikan karakter di kurikulum merdeka adalah sebuah inovasi untuk menguatkan suatu pendidikan karakter pada kurikulum sebelumnya. 11

Penyusunan perangkat pembelajaran dalam program merdeka belajar dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan produk perangkat pembelajaran yang baik, sesuai dengan langkah-langkah pada model pengembangan.12 Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan modul ajar seperti silabus yang mengacu pada standar isi.

Perangkat pembelajaran berfungsi sebagai rambu-rambu bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran di kelas. Secara spesifik, fungsi perangkat yakni sebagai pedoman pembelajaran bagi guru, sebagai tolak ukur kebehasilan

11 P Rosmana, "Kebebasan Dalam Kurikulum Prototype", Jurnal As-Sabiqun, Vol. 4, No. 2 (2022), 115–131.

12 H. S Erminda, "Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Pendekatan Saintifik Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Di SMP Negeri 6 Medan", Jurnal Inspiratif, Vol. 5, No. 2 (2019), 12–36.

(26)

pembelajaran di kelas, sebagai media untuk meningkatkan profesionalisme guru, serta sebagai alat untuk memudahkan guru dalam memfasilitasi pembelajaran.13

Berdasarkan observasi pada tanggal 17 Januari 2023, bahwa seluruh guru yang mengajar kelas X di SMA Negeri 1 Jenangan sudah memahami tentang konsep kurikulum merdeka dengan baik. Hal tersebut tidak terlepas dari kemampuan sekolah dalam menerapkan strategi implementasi kurikulum merdeka. Strategi tersebut diantaranya melaksanakan secara rutin pendampingan yang dikemas dalam kegiatan workshop yaitu meliputi kelompok kerja guru, dan pendampingan guru mata pelajaran. SMA Negeri 1 Jenangan salah satu sekolah yang mempunyai strategi khusus yaitu menggunakan strategi dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, strategi yang berkaitan dengan perangkat pembelajaran yang baru yang berbeda dengan K-13 mulai dari perencanaan pembelajaran kurikulum merdeka dirancang dalam bentuk capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), alur tujuan pembelajaran (ATP) dan modul ajar, serta strategi dalam pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dilaksanakan oleh peserta didik SMA Negeri 1 Jenangan sudah lancar dan sudah bisa menyesuaikan dengan kurikulum merdeka. Kegiatan P5 itu sendiri seperti kegiatan pagelaran seni dengan tema Bhineka Tunggal Ika yang dilaksanakan oleh semua peserta didik kelas X SMA Negeri

13 Susanti, et.al, "Pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Bagi Guru SMK Program Keahlian Akuntansi Di Bangkalan", Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Madani, Vol. 6, No. 3 (2019), 244–261.

(27)

1 Jenangan dan kegiatan kewirausahaan seperti membuat produk lokal yang memiliki daya jual yang berguna untuk mengembangkan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).14

Dari latar belakang yang dipaparkan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.

Dari hal tersebut peneliti ingin melihat pelaksanaan di lapangan terhadap penerapan kurikulum merdeka, maka peneliti mengajukan judul: “Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah peneliti paparkan di atas, Maka fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu pada: bagaimana strategi penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan, apa saja faktor pendukung dan penghambat penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan, bagaimana dampak penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana strategi penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan?

2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan?

3. Bagaimana dampak penerapan kurikulum merdeka di

14 Lihat Transkrip Observasi Nomor: 01/O/17-01/2023 Lampiran Hasil Penelitian.

(28)

SMA Negeri 1 Jenangan?

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan strategi penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.

3. Untuk mengetahui dan menjelaskan dampak penerapan kurikulum merdeka di SMA Negeri 1 Jenangan.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian di harapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis:

1. Secara Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu pijakan research theory (teori penelitian) tentang penerapan Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan mutu pendidikan disekolah, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan juga menjadi acuan tentang kemajuan sistem atau komponen pendidikan.

2. Secara Praktis a) Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai acuan lembaga pendidikan untuk menerapkan program kurikulum merdeka dari tahun ke tahun agar

(29)

semakin meningkat dan berkembang, serta manfaat yang dapat diperoleh sekolah dapat mensosialisasikan kurikulum merdeka, menjadikan referensi dan informasi serta masukan kepada pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik, terutama bagi SMA Negeri 1 Jenangan.

b) Bagi Peserta Didik

Peserta didik akan terlatih kesiapannya dalam proses belajar mandiri dan akan terbiasa untuk menerapkan pola pikir kristis melalui pembelajaran berbasis proyek dengan melibatkan profil pelajar pancasila. Penerapan kurikulum merdeka diharapkan berdampak pada terciptanya generasi adaptif yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman dengan ‘kekuatan’ mereka sendiri untuk semangat belajar mencapai tujuan yang diinginkan dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

c) Bagi Para Peneliti dan Masyarakat

Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dpat menjadi referensi tambahan secara teoritis dan aplikatif bagi para peneliti maupun masyarakat pada umumnya dalam mengembangkan penelitiannya terkait program kurikulum merdeka.

F. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah penulisan skripsi ini dan agar

(30)

dapat dicerna secara runtut, maka diperlukan sebuah sistematika pembahasan. Dalam penelitian ini, peneliti mengelompokkan menjadi tiga bab yang masing- masing bab terdiri dari sub bab yang saling berkaitan satu sama lain.

Sistematika pembahasan proposal skripsi hasil penelitian ini sebagai berikut:

BAB I, Pendahuluan. Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, sistematika pembahasan.

BAB II, Kajian Pustaka. Menjelaskan tentang kajian teori, kajian peneliti terdahulu, dan kerangka pikir untuk menganalisis masalah penelitian yang selaras dengan permasalahan yang diterangkan dalam bab sebelumnya.

BAB III, Metode Penelitian. Dalam bab ini berisi tentang jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, data dan sumber data, prosedur pengumpulan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, pengecekan keabsahan penelitian, serta tahap penelitian.

BAB IV, Gambaran Umum Latar Penelitian. Deskripsi data dan pembahasan hasil penelitian.

BAB V, Penutup. Pada bab ini rangkaian dari semua pembahasan dari Bab I sampai dengan Bab IV dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami intisari dari penelitian ini yang berisi kesimpulan dan saran.

(31)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Kurikulum Merdeka

a. Pengertian Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka merupakan gagasan dalam transformasi pendidikan Indonesia untuk mencetak generasi masa depan yang unggul. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Saleh bahwa merdeka belajar merupakan program untuk menggali potensi para pendidik dan peserta didik dalam berinovasi meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Kurikulum Merdeka ini diimplementasikan di beberapa sekolah penggerak dari hasil seleksi sebelumnya. Kemudian untuk saat ini, kurikulum merdeka dikembangkan untuk diterapkan di semua sekolah sesuai dengan kesiapan dan kondisi sekolahnya masing- masing.15Kurikulum merdeka akan memberikan kebebasan pada lembaga pendidikan, guru diberi kebebasan memilih perangkat pembelajaran dan peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.16

Pendidikan pada masa mendatang memiliki tren untuk melakukan pembelajaran yang berbeda

15 Meylan Saleh, "Merdeka Belajar Di Tengah Pandemi Covid-19", Prosiding Seminar Nasional Hardiknas, Vol. 1, No. 2 (2020), 51–56.

16 Sherly S, "Merdeka Belajar: Kajian Literatur", Urban Green Conference Proceeding Library,Vol. 4, No. 4 (2021), 84.

(32)

dengan sekarang. Pembelajaran yang saat ini menjadikan ruang kelas sebagai sarana belajar.

Nantinya, pendidikan diharapkan mampu dilakukan di luar ruang kelas agar terealisasi kurikulum merdeka. Pendidikan dapat berfungsi sebagaimana mestinya dengan berorientasi mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain sistem belajar mengajar yang dirubah, kurikulum merdeka juga menekankan kepada karakter peserta didik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan metode mendidik dari guru yang mampu berkomunikasi dengan baik melalui proses belajar mengajar yang dilakukan.

Proses belajar mengajar tersebut dilakukan dengan diskusi yang menjadikan psikologis dari peserta didik menjadi baik, serta menghilangkan rasa takut mereka. Meskipun diatur sedemikian rupa, kompetensi ini dalam kurikulum merdeka tidak boleh dikesampingkan. Oleh karena itu, kurikulum tersebut berkaitan erat dengan bagaimana seorang pendidik mampu menyampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pada pembentukan karakter peserta didik.17

Kurikulum tersebut tentu tidak mudah untuk dilaksanakan, terdapat banyak penyesuaian yang

17 Mauizdati N, "Kebijakan Merdeka Belajar Dalam Perspektif Sekolahnya Manusia Dari Munif Chatib", Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (JRPP), Vol. 3, No. 2 (2020), 316.

(33)

harus dilakukan dalam pelaksanaannya.

Kurikulum merdeka ditujukan untuk proses pembelajaran secara alami guna mencapai pembelajaran. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan belajar merdeka terlebih dahulu karena bisa jadi masih ada hal-hal yang membelenggu rasa kemerdekaan, rasa belum merdeka, dan ruang gerak yang sempit untuk merdeka.

Kemendikburistek membentuk kurikulum baru yang awalnya kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka hadir untuk menyempurnakan implementasi kurikulum 2013.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian Wahyuni bahwa guru mengalami kesulitan dalam implementasi kurikulum 2013 dalam hal penyusunan RPP, implementasi pembelajaran saintifik, dan penilaian pembelajaran.18 Kemudian hasil kajian dari Maladerita, et.al yang menjelaskan bahwa dalam penerapan kurikulum 2013 terlalu rumit dalam hal penerapan.19Selanjutnya dikuatkan oleh penelitian dari Krissandi dan Rusmawan bahwa penerapan Kurikulum 2013 terkendala dari pemerintah, instansi sekolah, guru, dan orang tua siswa, serta siswa sendiri. Karena hal tersebut, maka

18 Wahyuni, "JMSP (Jurnal Manajemen Dan Supervisi Pendidikan)", Jurnal Manajemen Dan Supervisi Pendidikan, Vol. 3, No. 2 (2019), 30–37.

19 Maladerita, "Peran Guru Dalam Menerapkan Kurikulum 2013 Di Sekolah Dasar", Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol. 1, No. 3 (2019), 71–76.

(34)

pemerintah membuat terobosan dengan adanya kurikulum merdeka.20 Seperti hasil penelitian dari Nyoman, bahwa pemahaman guru dalam penerapan kurikulum merdeka masih dalam kategori cukup, dan perlu adanya pengembangan.21

Jika melihat dari kebijakan yang akan di ambil para pemangku kebijakan, nantinya sebelum kurikulum nasional dievaluasi tahun 2024, satuan pendidikan diberikan beberapa pilihan kurikulum untuk diterapkan di sekolah. Kurikulum Merdeka diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Kurikulum merdeka akan diberlakukan secara terbatas dan bertahap melalui program sekolah penggerak dan pada akhirnya akan diterapkan pada setiap satuan pendidikan yang ada di Indonesia.

Sebelum diterapkan pada setiap satuan pendidikan, berikut merupakan 7 (tujuh) hal baru yang ada

20 Krissandi dan Rusmawan, "Kendala Guru Sekolah Dasar Dalam Implementasi Kurikulum 2013", Jurnal Cakrawala Pendidikan, Vol. 3, No.

2 (2019), 57–67.

21 I Nyoman, "Pemahaman Guru Sekolah Dasar Terhadap Kebijakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Merdeka Belajar", Jurnal Seminar Nasional Riset Inovatif, Vol. 5, No. 2 (2022), 3–7.

(35)

dalam kurikulum merdeka, yaitu:22

1) Struktur Kurikulum, Profil Pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, atau Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Asesmen Pembelajaran. Secara umum Struktur Kurikulum Merdeka terdiri dari kegiatan intrakurikuler berupa pembelajaran tatap muka bersama guru dan kegiatan projek. Selain itu, setiap sekolah juga diberikan keleluasaan untuk mengembangkan program kerja tambahan yang dapat mengembangkan kompetensi peserta didiknya dan program tersebut dapat disesuaikan dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia di sekolah tersebut.

2) Jika pada KTSP 2013 kita mengenal istilah KI dan KD yaitu kompetensi yang harus dicapai oleh siswa setelah melalui proses pembelajaran, maka pada Kurikulum Paradigma Baru kita akan berkenalan dengan istilah baru yaitu Capaian Pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh. Oleh karena itu setiap

22 Ujang Cepi Barlian, "Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan", Journal of Educationaland Language Research, Vol. 7, No. 7 (2022), 5–7.

(36)

asesmen pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru haruslah mengacu pada capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

3) Pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan tematik yang selama ini hanya dilakukan pada jenjang SD saja, pada kurikulum baru diperbolehkan untuk dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya. Dengan demikian pada jenjang SD kelas IV, V, dan VI tidak harus menggunakan pendekatan tematik dalam pembelajaran, atau dengan kata lain sekolah dapat menyelenggarakan pembelajaran berbasis mata pelajaran.

4) Kurikulum Merdeka tidak menetapkan jumlah jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku pada KTSP 2013, akan tetapi jumlah jam pelajaran pada Kurikulum Merdeka ditetapkan pertahun. Sehingga setiap sekolah memiliki kemudahan untuk mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajarannya.

5) Sekolah diberikan keleluasaan untuk menerapakan model pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran serta membuat asesmen lintas mata pelajaran, misalnya berupa asesmen sumatif dalam bentuk projek atau penilaian berbasis projek. Pada Kurikulum Paradigma Baru siswa SD paling sedikit dapat melakukan dua kali penilaian projek dalam satu tahun

(37)

pelajaran. Sedangkan siswa SMP, SMA/SMK setidaknya dapat melaksanakan tiga kali penilaian projek dalam satu tahun pelajaran. Hal ini bertujuan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila.

6) Untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pada KTSP 2013 dihilangkan maka pada Kurikulum Paradigma Baru mata pelajaran ini akan dikembalikan dengan nama baru yaitu Informatika dan akan diajarkan mulai dari jenjang SMP. Bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya/guru Informatika maka tidak perlu khawatir untuk menerapkan mata pelajaran ini karena mata pelajaran ini tidak harus diajarkan oleh guru yang berlatar belakang TIK/Informatika, namun dapat diajarkan oleh guru umum. Hal ini disebabkan karena pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mempersiapkan buku pembelajaran Informatika yang sangat mudah digunakan dan dipahami oleh pendidik dan peserta didik.

7) Untuk mata pelajaran IPA dan IPS pada jenjang Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan VI yang selama ini berdiri sendiri, dalam Kurikulum Merdeka kedua mata pelajaran ini akan diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS). Hal ini

(38)

bertujuan agar peserta didik lebih siap dalam mengikuti pembelajaran IPA dan IPS yang terpisah pada jenjang SMP. Sedangkan pada jenjang SMA peminatan atau penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan kembali dilaksanakan pada kelas XI dan XII.

b. Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Merdeka

Sistem kurikulum merdeka merupakan sistem pendidikan yang lebih relevan dan interaktif dimana pembelajaran melalui kegiatan projek akan memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual, misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi profil pelajar pancasila.23 Nadiem Makarim, melakukan perubahan terhadap kurikulum 2013 dan menetapkan kurikulum merdeka belajar sebagai wujud penyempurnaan dari kurikulum 2013 itu sendri. 24 Kurikulum merdeka belajar diterapkan untuk memulihkan pendidikan Indonesia yang sempat mengkhawatirkan dan berada dalam keadaan darurat pendidikan pada masa Covid-19 dari tahun 2019 hingga 2020 lalu. Implementasi kurikulum merdeka untuk pemulihan pembelajaran dilakukan

23 Alhamuddin, "Sejarah Kurikulum Merdeka Di Indonesia", Jurnal Nur El-Islam, Vol. 1, No. 2 (2014), 48–58.

24 A Rahmadayanti, D., & Hartoyo, "Potret Kurikulum Merdeka, Wujud Merdeka Belajar Di Sekolah Dasar", Jurnal Basicedu, Vol. 6, No. 2 (2022), 7174–7187.

(39)

berdasarkan kebijakan sebagai berikut:25

1) Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022 tentang standar kompetensi lulusan pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang menengah. Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang kesatuan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang menunjukkan capaian kemampuan peserta didik dari hasil pembelajarannya pada akhir jenjang pendidikan. Standar kompetensi lulusan menjadi acuan untuk kurikulum 2013, kurikulum darurat dan kurikulum merdeka.

2) Permendikbutristek No. 7 Tahun 2022 tentang standar isi pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang menengah. Standar isi dikembangkan melalui perumusan ruang lingkup materi yang sesuai dengan kompetensi lulusan. Ruang lingkup materi merupakan bahan kajian dalam muatan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan:

1) muatan wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2) konsep keilmuan; dan 3) jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Standar isi menjadi acuan untuk kurikulum 2013, kurikulum darurat dan kurikulum Merdeka.

25 Ristek dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,

"Kebijakan Pemerintah Terkait Kurikulum Merdeka", Merdeka Mengajar, Vol. 1, No. 2 (2022). 2.

(40)

3) Permendikbutristek No. 262/M/2022 tentang perubahan atas keputusan Kemendikbudristek Nomor 56/M/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang menengah. Memuat struktur Kurikulum Merdeka, aturan terkait pembelajaran dan asesmen, Projek Penguatan Profil Pelajar Peancasila, serta beban kerja guru.

4) Keputusan Kepala Badan BSKAP No.008/H/KR/2022 tahun 2022 tentang capaian pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah pada kuikulum merdeka.

Memuat Capaian Pembelajaran untuk semua jenjang dan mata pelajaran dalam struktur Kurikulum Merdeka.

5) Keputusan Kepala BSKAP No.

009/H/KR/2022 Tahun 2022 tentang dimensi, elemen, dan sub elemen profil pelajar pancasila pada kurikulum merdeka. Memuat penjelasan dan tahap-tahap perkembangan profil pelajar Pancasila yang dapat digunakan terutama untuk projek penguatan pelajar Pancasila.

6) Surat Edaran No.0574/H.H3/SK.02.01/2023 tentang pendaftaran implementasi kurikulum merdeka secara mandiri tahun ajaran

(41)

2023/2024.

c. Perencanaan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah-langkah kearah tujuan yang di dalamnya tercakup unsur-unsur tujuan mengajar yang diharapkan, materi atau bahan pelajaran yang akan diberikan, strategi atau metode mengajar yang akan diterapkan dan prosedur esvaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil belajar peserta didik.26 Najelaa Shihab, menambahkan bahwa penting menetapkan komitmen pada tujuan ketika merencanakan pembelajaran karena tujuan pendidikan yang ideal mestinya tujuan perjalanan yang memastikan bahwa seseorang terus berkompetisi dengan dirinya sendiri karena hanya pada saat itu komitmen bisa dilatih dan terjadi.27 Berikut ini merupakan perencanaan pembelajaran dalam kurikulum merdeka, yaitu:

1) Capaian Pembelajaran (CP)

Capaian pembelajaran berdasarkan kurikulum merdeka merupakan bentuk pembaharuan dari Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), dimana capaian pembelajaran diukur berdasarkan fase perkembangan peserta didik sedangkan KI-KD

26 Basyiruddin Nurdin, Syafrudin dan Usman, Guru Profesional Dan Implementasi Kurikulum (Jakarta: Ciputat Press, 2002), 15.

27 Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar, Merdeka Belajar di Ruang Kelas (Tangerang Selatan: Literasi, 2020), 161.

(42)

diukur per tahun sesuai tingkatan kelas peserta didik. Capaian pembelajaran ini disusun menggunakan pendekatan konstruktivistik yang percaya bahwa pembelajaran perlu melibatkan anak dalam proses interaksi secara aktif dengan lingkungannya, dimana proses interaksi ini dipandu oleh guru melalui serangkaian stimulasi.28

Capaian pembelajaran pada jenjang SMA ini dideskripsikan dengan lebih mendetail dari pada jenjang dan fase sebelumnya. Sekolah CP ini menuntut agar siswa dengan usia mental fase ini lebih diarahkan untuk mencapai suatu makna yang dikehendaki oleh pemerintah melalui Badan standar kurikulum. CP pada sekolah menengah atas (SMA) yaitu fase E untuk kelas X dimana peserta didik dituntut untuk bisa mengenali potensi serta bakatnya sebelum masuk ke tingkat kelas yang lebih tinggi. Hal tersebut ditunjukkan dengan kewajiban setiap peserta didik untuk memilih minimal satu mata pelajaran Seni dan Prakarya.29

Capaian pembelajaran pada kurikulum

28 Dan Badan Standar, Kurikulum and others, "Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah", 2022.

29 Syahrul Hamdi, "Kurikulum Merdeka Dalam Perspektif Pedagogik", Pendidikan, Vol. 7, No. 2 (2022), 12.

(43)

memang disusun berdasarkan kompleksitas peserta didik dalam memahami, mencerna, mengerti dan mengaplikasikan ilmu. Sehingga pembelajaran per fase ini bertujuan agar pembelajaran sesuai tingkat kemampuan peserta didik. Keuntungan dari pembelajaran per fase juga dirasakan oleh guru. Dalam melaksanakan pengajaran, guru akan lebih leluasa untuk mengajar sesuai dengan kondisi siswa. Dengan target tertinggi siswa mampu melakukan penghayatan dari kisah yang dipilihkan guru.30

2) Tujuan Pembelajaran

Pada tahap ini, pendidik mulai untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dikembangkan ini perlu dicapai peserta didik dalam satu atau lebih jam pelajaran, hingga akhirnya pada penghujung fase mereka dapat mencapai CP. Oleh karena itu, untuk CP dalam satu fase, pendidik perlu mengembangkan beberapa tujuan pembelajaran. 31 Dalam tahap merumuskan tujuan pembelajaran ini, pendidik belum mengurutkan tujuan-tujuan tersebut, cukup merancang tujuan-tujuan belajar yang lebih

30 T Marlina, "Urgensi Dan Implikasi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah", Prosiding Snpe Fkip Universitas Muhammadiyah Metro, Vol. 1, No. 1, 70.

31 Utami Maulida, "Pengembangan Modul Ajar Berbasis Kurikulum Merdeka", Jurnal Tarbawi, Vol. 5, No. 4 (2022), 135.

(44)

operasional dan konkret saja terlebih dahulu.

Urutan-urutan tujuan pembelajaran akan disusun pada tahap berikutnya. Dengan demikian, pendidik dapat melakukan proses pengembangan rencana pembelajaran langkah demi langkah.

3) Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Alur Tujuan Pembelajaran atau urutan pembelajaran adalah komponen utuk menyusun silabus. ATP diharapkan dapat membantu satuan pendidikan dan pendidik mengembangkan langkah-langkah atau alur pembelajaran berdasarkan Capaian Pembelajaran yang telah ditetapkan. Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, langkah berikutnya dalam perencanaan pembelajaran adalah menyusun alur tujuan pembelajaran.32 Alur tujuan pembelajaran sebenarnya memiliki fungsi yang serupa dengan apa yang dikenal selama ini sebagai “silabus”, yaitu untuk perencanaan dan pengaturan pembelajaran dan asesmen secara garis besar untuk jangka waktu satu tahun. Oleh karena itu, pendidik dapat menggunakan alur tujuan pembelajar an saja, dan alur tujuan pembelajaran ini dapat diperoleh pendidik dengan: (1) merancang sendiri

32 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan, Pembelajaran Dan Asesmen (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2022), 19.

(45)

berdasarkan CP, (2) mengembangkan dan memodifikasi contoh yang disediakan, ataupun (3) menggunakan contoh yang disediakan pemerintah. Bagi pendidik yang merancang alur tujuan pembelajarannya sendiri, tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya akan disusun sebagai satu alur (sequence) yang berurutan secara sistematis, dan logis dari awal hingga akhir fase.

Alur tujuan pembelajaran juga perlu disusun secara satu arah, dan tidak bercabang, sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari.

4) Modul Ajar

Modul ajar merupakan perangkat pembelajaran atau rancangan pembelajaran yang berlandaskan pada kurikulum yang diaplikasikan dengan tujuan untuk menggapai standar kompetensi yang telah ditetapkan.33 Modul ajar mempunyai peran utama untuk menopang guru dalam merancang pembelajaran. Pada penyusunan perangkat yang berperan penting adalah guru, guru diasah kemampuan berpikir untuk dapat berinovasi dalam modul ajar.34 Oleh karena itu membuat

33 N Nurdyansyah, "Pengembangan Bahan Ajar Modul Ilmu Pengetahuan Alam Bagi Siswa Kelas IV Sekolah Dasar", Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Vol. 1, No. 3 (2018), 131.

34 Nesri, F. D. P., & Kristianto, Y, "Pengembangan Modul Ajar Berbantuan Teknologi Untuk Mengembangakan Kecakapan Abad 21 Siswa",

(46)

modul ajar merupakan kompetensi pedagogik guru yang perlu dikembangkan, hal ini agar teknik mengajar guru di dalam kelas lebih efektif, efisien, dan tidak keluar pembahasan dari indikator pencapaian. Berikut ini yang diperlukan dalam penyusunan modul ajar, yaitu:35

1) Melakukan analisis pada peserta didik, guru dan satuan pendidikan. Pada tahap ini guru mengidentifikasi masalah yang muncul dalam pembelajaran, guru dapat menganalisis kondisi dankebutuhan peserta didik dalam pembelajaran sehingga modul ajar yang didesain akurat dengan masalah yang ada dalam pembelajaran.

2) Melakukan asesmen diagnostik pada peserta didik mengenai kondisi dankebutuhan dalam pembelajaran. Pada tahap ini guru mengidentifkasi kesiapan peserta didik sebelum belajar. Guru melakukan asesmen ini secara spesifik untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan siswa.

3) Melakukan identifikasi profil pelajar pancasila yang akan dicapai. Pada tahap ini guru dapat mengidentifikasi kebutuhan siswa dan beracuan dengan pendidikan

Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, Vol. 9, No. 7 (2020), 480–

492.

35 Solehudin, et.al, "Konsep Implementasi Kurikulum Prototype", Jurnal Basicedu, Vol. 6, No. 4 (2022), 7486–7495.

(47)

berkarakter. Profil pelajar pancasila hakikatnya dapat dicapai dengan projek, oleh karena itu guru harus mampu merancang alokasi waktu dan dimensi program profil pelajar pancasila.

4) Mengembangkan modul ajar yang bersumber dari alur tujuan pembelajaran, alur tesebut berdasarkan dengan capaian pembelajaran. Tahapan ini adalah seperti mengembangkan materi pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

5) Mendesain jenis, teknik,dan instrumen asesmen. Pada tahap iniguru dapat menentukan instrumen yang dapat digunakan untuk asesmen yang beracuan pada asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

6) Komponen esensial dapat dikolaborasikan dalam kegiatan belajar.

7) Setelah tahapan sebelumnya telah diterapkan, maka modul siap digunakan.

Pada dasarnya modul ajar merupakan materi pembelajaran yang disusun secara sistematis dengan acuan prinsip pembelajaran yang diterapkan guru kepada siswa. Sistematis dapat diartikan secara urut mulai dari pembukaan, isi materi, dan penutup sehingga memudahkan

(48)

siswa belajar dan memudahkan guru dalam menyampaikan materi. Selain itu, menurut sungkono modul ajar bersifat unik dan spesifik, yang berarti ditujukan untuk sasaran tertentu dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan sasarannya. 36 Sementara spesifik dapat diartikan bahwa modul ajar didesain secara maksimal untuk mencapai indikator keberhasilan.

Secara ideal, guru perlu menyusun modul ajar secara maksimal, namun kenyataannya banyak guru yang belum paham betul teknik menyusun dan mengembangkan modul ajar, terlebih pada kurikulum merdeka belajar.

Proses pembelajaran yang tidak merencanakan modul ajar dengan baik sudah dapat dipastikan penyampaian konten kepada siswa tidak sistematis, sehingga pembelajaran terjadi tidak seimbang antara guru dan siswa. Dapat dipastikan hanya guru yang aktif atau sebaliknya dan pembelajaran yang dilaksanakan terkesan kurang menarik karena guru tidak mempersiapkan modul ajar dengan baik.

d. Penilaian (assesment) dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

36 S. Sungkono, "Pengembangan Dan Pemanfaatan Bahan Ajar Modul Dalam Proses Pembelajaran", Majalah Ilmiah Pembelajaran, Vol. 5, No. 2 (2009), 78.

(49)

Dalam penilaian berbasis kelas penilaian (assesment) merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian, kemajuan belajar peserta didik, dan mengefektifkan penggunaan informasi tersebut untuk mencapai tujuan.37 Pelaksanaan asesmen pada paradigma pendidikan lama cenderung lebih berfokus pada asesmen sumatif yang menjadi acuan dalam meninjau hasil belajar peserta didik.

Hasil asesmen dalam paradigma ini belum digunakan sebagai umpan balik atau feedback untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang nantinya berpengaruh terhadap hasil belajar siswa itu sendiri.

Oleh sebab itu, para pendidik diharapkan mampu lebih fokus dalam mengimplementasikan asesmen formatif dibandingkan asesmen sumatif.

Asesmen formatif digunakan untuk proses pembelajaran berkelanjutan. Paradigma pendidikan berbasis kurikulum merdeka juga menekankan asesmen yang bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan dari siswa. Hasilnya digunakan oleh para guru sebagai rujukan dalam merencanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar dari peserta didik bahwa kurikulum merdeka belajar membedakan tiga kategori, yaitu; asesmen

37 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Karakter (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), 17-18.

(50)

diagnostik, asesmen formatif, dan asesmen sumatif. Hal ini bertujuan untuk mengukur capaian pembelajaran di akhir kegiatan pembelajaran.

Berikut ini uraian terkait dengan pelaksanaan asesmen formatif, sumatif, dan diagnostik dalam kurikulum merdeka belajar.38

1) Asesmen Formatif

Asesmen formatif adalah asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan peserta didik untuk memperbaiki proses belajar.

Purnawanto berpendapat bahwa asesmen formatif dapat dilaksanakan di awal pembelajaran untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. 39 Asesmen ini termasuk kategori asesmen formatif yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan guru dalam merancang pembelajaran bukan untuk penilaian hasil belajar tapi untuk memenuhi kebutuhan guru. Guru dapat melaksanakan asesmen formatif untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan sekaligus memberikan umpan balik yang cepat

38 U Maulida, "Pengembangan Modul Ajar Berbasis Kurikulum Merdeka", Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol. 5, No. 2 (2022), 130–138.

39 Purnawanto, "Perencanaan Pembalajaran Bermakna Dan Asesmen Kurikulum Merdeka", Jurnal Ilmiah Pedagogy, Vol. 20, No. 1 (2022), 75–94.

(51)

sepanjang atau di tengah kegiatan atau langkah pembelajaran ataupun di akhir pembelajaran. Pelaksanaan asesmen formatif dapat dilakukan dengan memperhatikan hal berikut:

a) Dilaksanakan bersamaan dalam proses pembelajaran, yang, kemudian ditindaklanjuti untuk memberi perlakuan berdasarkan kebutuhan peserta didik serta perbaikan proses pembelajaran.

b) Pendidik dapat menggunakan berbagai teknik seperti observasi, performa (kinerja, produk, proyek, portofolio), maupun tes.

c) Tindak lanjut yang dilakukan bisa dilakukan langsung dengan memberikan umpan balik atau melakukan intervensi.

d) Pendidik dapat mempersiapkan berbagai instrumen seperti rubrik, catatan anekdotal, lembar ceklist untuk mencatat informasi yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

2) Asesmen Sumatif

Asesmen sumatif adalah proses penilaian yang dilakukan untuk menyelesaikan satu lingkup materi, akhir semester, atau akhir tahun ajaran.40 Black et.al menyatakan bahwa

40 M Natshia, H., & Abdi, "Analisis Strategi Guru Bahasa Indonesia Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka", Jurnal Kajian Bahasa Dan

(52)

asesmen sumatif dapat digunakan sebagai proses evaluasi terhadap kemampuan belajar siswa yang dilaksanakan dengan periode waktu tertentu. 41 Pelaksanaan evaluasi sumatif dalam proses belajar mengajar dilaksanakan untuk merekam pencapaian siswa dan sebagai laporan pendidik di akhir masa studi peserta didik. Evaluasi sumatif adalah metode untuk menilai kurikulum pada akhir silabus yang fokusnya adalah pada hasil.

Dengan penilaian ini seorang guru ingin mengetahui apa yang diingat siswa terhadap pembelajaran yang sudah dijalani, dan sejauh mana kemahiran atau keberhasilan siswa pada akhir sebuah unit, mata pelajaran, atau program secara keseluruhan. Penilaian sumatif hampir selalu dinilai secara formal.

Ujian Akhir semester, final presentations, atau final projects adalah contoh evaluasi sumatif.42 Pelaksanaan asesmen sumatif dapat dilakukan dengan memperhatikan hal berikut:

a) Sumatif dilakukan pada akhir lingkup materi untuk mengukur kompetensi yang

Sastra Indonesia, Vol. 11, No. 3 (2022), 227–245.

41 Harrison, et. al, "Working Inside the Black Box: Assessment for Learning in the Classroom", Phi Deta Kappan, Vol. 86, No. 1 (2004), 8–21.

42 Fitri Adinda, A. H., et.al, "Penilaian Sumatif Dan Penilaian Formatif Pembelajaran Online", Report Of Biology Education, Vol. 2, No. 2 (2021), 1–10.

(53)

dikehendaki dalam tujuan pembelajaran dan pada akhir semester.

b) Pendidik dapat menggunakan berbagai teknik seperti portofolio, performa (kinerja, produk, proyek, portofolio), maupun tes.

c) Hasil sumatif dapat ditindak lanjuti dengan memberikan umpan balik atau melakukan 1 lingkup materi (terdiri beberapa tujuan pembelajaran).

d) Pada akhir fase, jika diperlukan untuk menguatkan konfirmasi capaian hasil belajar, asesmen sumatif dapat dilakukan pada akhir semester, berfokus pada kompetensi yang dipelajari selama satu semestertervensi kepada peserta didik maupun proses pembelajaran yang telah dilakukan.

3) Asesmen Diagnostik

Asesmen diagnostik bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan peserta didik. Hasilnya digunakan pendidik sebagai rujukan dalam merencanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Dalam kondisi tertentu, informasi terkait latar belakang keluarga, kesiapan belajar, motivasi belajar, minat peserta didik, dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam

(54)

merencanakan pembelajaran. Tahapan asesmen diagnostik dalam proses pembelajaran;

a) Menganalisis laporan hasil belajar (rapor) peserta didik tahun sebelumnya.

b) Mengidentifikasi kompetensi yang akan diajarkan;

c) Menyusun instrumen asesmen untuk mengukur kompetensi peserta didik.

d) Instrumen asesmen yang dapat digunakan antara lain: tes tertulis atau lisan, keterampilan (produk, praktik), dan observasi.

e) Bila diperlukan menggali informasi peserta didik dalam aspek: latar belakang keluarga, motivasi, minat, sarana dan prasarana belajar, serta aspek lain sesuai kebutuhan peserta didik atau sekolah.

f) Pelaksanaan asesmen dan pengolahan hasil, dan

g) Hasil diagnosis menjadi data atau informasi untuk merencanakan pembelajaran sesuai tahap capaian dan karakteristik peserta didik.

Siklus asesmen di atas menunjukkan bahwa peranan guru tidak hanya sebagai pengajar yang menyajikan dan juga mengarahkan peserta didik selama proses pembelajaran akan tetapi sebagai pendidik, guru juga berperan sebagai pemecah

(55)

masalah. Guru dapat memecahkan masalah terkait dengan yang dialami peserta didik selama proses pembelajaran dengan cara melakukan diagnosis terhadap kemampuan dan capaian peserta didik itu sendiri. Maka dapat disimpulkan bahwa asesmen diagnostik merupakan salah satu teknik evaluasi yang menolong guru untuk menjalankan perannya sebagai pemecah masalah agar mampu mengidentifikasi permasalahan belajar dan tantangan yang dihadapi oleh peserta didik selama proses belajar. Hasil ini nantinya akan mampu membantu guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran yang lebih baik.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa komponen penting dalam siklus pembelajaran, kemampuan pendidik dalam menggunakan berbagai jenis asesmen dalam upaya mencari informasi terkait perkembangan peserta didiknya sangat diperlukan, terutama di dalam kemampuan mengolah, mengintepretasi data dan informasi yang dikumpulkan serta yang lebih penting lagi dalam memanfaatkan asesmen sebagai dasar yang tepat untuk memberikan umpan balik yang tepat dan segera kepada peserta didik, sehingga peseta didik mampu melaksanakan pembelajaran secara bertumbuh, sesuai dengan prinsip penerapan pola pikir bertumbuh (growth mindset).

(56)

Pendidik diharapkan lebih berfokus pada pelaksanaan asesmen formatif dibandingkan asesmen sumatif, Dari pelaksanaan asesmen formatif di atas dapat dilihat bahwa asesmen ini lebih menekankan pada fungsi perbaikan proses pembelajaran dan untuk memonitor proses pembelajaran siswa. Para pendidik mampu memfasilitasi kinerja peserta didik dengan menggunakan asesmen formatif. Asesmen satu ini dilaksanakan untuk menilai progres peserta didik selama proses pembelajaran dengan memanfaatkan beberapa teknik asesmen, seperti pemberian feedback secara langsung, penggunaan rubrik dan check list, dan perekaman kinerja siswa saat proses pembelajaran. Maka dapat disimpulkan bahwa asesmen formatif adalah asesmen yang bertujuan untuk meninjau dan mengukur kemampuan belajar siswa yang mana proses pelaksanaannya terjadi saat pembelajaran sedang dan masih dilaksanakan.

e. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Salah satu perbedaan mendasar antara kurikulum 2013 (K13) dengan kurikulum merdeka adalah terdapat kegiatan pembelajaran berbasis projek yakni projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5).43 P5 merupakan suatu kegiatan

43 S Asianti, "Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Di Sekolah Penggerak", Jurnal Lingkar Mutu Pendidikan, Vol. 19, No. 2 (2022), 61–72.

(57)

pembelajaran yang dirancang lintas disiplin ilmu atau lintas mata pelajaran intra kurikuler, dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. Pelaksanaan kegiatan P5 oleh satuan pendidikan harus dapat dikemas dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan oleh karena itu terdapat alur atau tahap kegiatan yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan. Tahapan tersebut antara lain : a) membentuk tim fasilitator projek, b) menentukan tingkat kesiapan sekolah, c) merancang dimensi, tema dan alokasi waktu P5, d) menyusun modul projek, e) merancang strategi pelaporan hasil projek.44

Profil pelajar Pancasila merupakan suatu rumusan karakter yang inheren di dalam kurikulum merdeka. Hal ini diharapkan muara akhir dari produk pendidikan tetap terbingkai dengan nilai- nilai Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Profil pelajar Pancasila merupakan suatu karakter dan kompetensi yang dibangun dalam keseharian, dan dibiaskan kembali dalam siswa melalui budaya belajar di sekolah, pembelajaran intrakurikler, dan projek penguatan profil pelajar Pancasila serta pada kegiatan ektrakurikuler. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa terminal akhir dari kurikulum

44 T. Y Satria, et.al, Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia., 2022, 21.

Referensi

Dokumen terkait