BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
3. Strategi Implementasi Kurikulum
kesejahteraan siswa dengan melihat semangat belajar peserta didik, partisifasi aktif peserta didik dalam pembelajaran, tugas-tugas yang diberikan dapat terselesaikan, ada peningkatan kemauan dan kesenangan belajar. Evaluasi pembelajaran merupakan umpan balik bagi guuru untuk mengetahui efektif tidaknya sistem pembelajaran yang telah diterapkan. Hal ini dikarenakan sistem pembelajaran guru tidak dirancang dengan baik tanpa adanya evaluasi dari pendidik. Guru perlu menciptakan pembelajaran inovasi baru dalam memperbaharui system pembelajaran di kelas dengan merancang materi, metode, media, sumber belajar, lingkungan yang baik.72
3. Strategi Implementasi Kurikulum Merdeka
yang dapat memberi pengaruh terhadap perubahan perilaku peserta didik. Mengimplementasikan kurikulum secara efektif, diperlukan kesiapan guru, baik kesiapan administrasi pembelajaran, maupun kesiapan mental. Sebab, dalam implementasi kurikulum sangat mungkin terjadi munculnya perbedaan antara perencanaan dengan realitasifatnya lokal dan kontekstual.
Menurut H. Murtini, et.al, strategi penerapan kurikulum merdeka ini strategi lebih menitik beratkan pada pertemuan, baik pertemuan yang menghadirkan narasumber maupun komunitas belajar. Menciptakan ruang terbuka antara guru, siswa danpeneliti ketika melakukan kegiatan pembelajaran, termasuk implementasi kurikulum merdeka secara bersama, hal ini dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat.73
Kurikulum Merdeka belum
diimplementasikan secara serentak. Kebijakan yang diberikan oleh Kemdikbudristek yaitu membentuk sekolah percontohan untuk mengimplementasikannya sesuai tingkat kesiapannya. Sekolah yang siap atau ingin menerapkan kurikulum merdeka diharuskan mempelajari materi konsep kurikulum merdeka yang telah disiapkan Kemendikbudristek.
73 Mutiani, et.al, "Membangun Komunitas Belajar Melalui Lesson Study Modeltranscript Based Learning Analysis", Jurnal Pendidik Dan Peneliti Sejarah, Vol. 3, No. 3 (2020), 113–122.
Selanjutnya, sekolah melakukan pendaftaran dan mengisi survei singkat sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba menerapkan Kurikulum Merdeka. Implementasi Kurikulum Merdeka tidak dilakukan berdasarkan seleksi, melainkan melalui pendaftaran dan pendataan.
Kunci keberhasilan Kurikulum Merdeka, salah satunya terletak pada kesediaan kepala sekolah dan guru dalam mengadaptasi dan
memahami kurikulum Merdeka.
Kemendikbudristek juga telah menyiapkan skema strategi implementasi Kurikulum Merdeka, yaitu:74
1) Pertama, strategi ini fokus pada kesiapan sekolah untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yakni rute adopsi kurikulum merdeka dilakukan secara bertahap. Pendampingan analisis kesiapan sekolah dilakukan berkala setiap 3 bulan dengan memberikan umpan balik. Hal tersebut dilakukan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk memetakan kebutuhan penyesuaian dukungan Implementasi Kurikulum Merdeka.
2) Kedua, strategi ini berfokus pada penyediaan pilihan penilaian dan alat pengajaran berbasis
74 Leni Nurindah Lailatul Fitriana, "Kebijakan Pokok Dan Strategi Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Indonesia", Journal On Teacher Education, Vol. 4, No.2 (2022), 1505–1511.
TIK. Sebagai contoh: Buku pelajaran, modul ajar, proyek, media dalam bentuk digital.
3) Ketiga, strategi ini menitik beratkan pada pelatihan mandiri kurikulum merdeka dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Pelatihan berbasis teknologi ini memungkinkan guru untuk mengaksesnya secara online. Hal ini tentu saja memudahkan lembaga pendidikan untuk mengadopsi kurikulum mandiri. Kemendikbud juga telah menyiapkan berbagai video edukasi, podcast, atau buku elektronik yang telah didistribusikan di berbagai media. Strategi kedua dan ketiga lebih menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi dalam implementasi kurikulum mandiri. Teknologi juga semakin berkembang pesat. Membawa dampak yang sangat signifikan bagi berbagai sektor kehidupan termasuk pendidikan.75 Di masa pandemi Covid-19, teknologi berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan.
Keberadaan teknologi ini menjadi jembatan, baik dari sisi teknis pelaksanaan maupun sumber belajar, agar pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring berlangsung dengan baik.76
75 N. s Nasori, A., Putra, I., "Challenges Digital Literacy InEra of Society 5.0 : Effectiviness Problem Based Learning With Mobile Learning to Acceleration Digital Mobile Learning to Acceleration Digital", Journal On Teacher Education (JOTE), Vol. 3, No. 1 (2022), 97–106.
76 D. A. Churiyah, M., Sholikhan, Filianti, & Sakdiyyah, "Indonesia
Sedangkan menurut N.S Nasori, A strategi penerapan kurikulum merdeka ini menitik beratkan pada pelatihan mandiri kurikulum merdeka dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.77
4) Keempat, strategi ini fokus pada penyediaan sumber daya manusia yang kompeten pada lembaga pendidikan. SDM ini berasal dari sekolah penggerak/SMK PK yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Strategi ini dapat diimplementasikan secara langsung atau online melalui webinar, seminar tatap muka, lokakarya, atau pertemuan lainnya.
5) Kelima, strategi ini menekankan pada pemanfaatan komunitas belajar yang dibentuk atas prakarsa alumni guru dan pelatih di guru penggerak. Dengan strategi tersebut diharapkan dapat menjadi wadah pertukaran praktik-praktik yang baik dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Komunitas belajar dapat menciptakan ruang pertukaran dan keterbukaan dalam pelaksanaan pembelajaran. Strategi keempat dan kelima merupakan strategi yang lebih
Education Readiness Conducting Distance Learning in Covid-19", International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, Vol. 1, No. 1 (2020), 491–507.
77 Nasution M.K., “Penggunaan Metode Pembelajaran dalam Peningkatan Hasil Belajar Siswa”, Jurnal Studia Didaktika, Vol. 11, No. 2 (2018), 10.
menitikberatkan pada pertemuan, baik pertemuan yang menghadirkan narasumber maupun komunitas belajar. Menciptakan ruang terbuka antara guru, siswa dan peneliti ketika melakukan kegiatan pembelajaran, termasuk implementasi Kurikulum Merdeka secara bersama, hal ini dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kurikulum Merdeka
Kebijakan kurikulum merdeka telah berkontribusi memberikan perubahan pada budaya pendidikan Indonesia. Satuan tingkat pendidikan mulai dasar hingga pendidikan tinggi berupaya untuk menyesuaikan program kurikulum yang berlaku agar tujuan pendidikan nasional tetap tercapai. Infrastruktur penunjang pembelajaran jarak jauh ini pun harus diimbangi dengan kemampuan guru, peserta didik, dan orang tua dalam penggunaannya. 78 Adapun faktor pendukungnya yaitu:
1) Teknologi
Teknologi merupakan instrumen yang dapat dipergunakan dalam dunia pendidikan diperlukan bagi kelangsungan, dan kenyamanan hidup manusia sebagaimana
78 Manik H, "Tantangan Menjadi Guru Matematika Dengan Kurikulum Merdeka Belajar Di Masa Pandemi Omicron Covid-19", Jurnal Pendidikan, Vol. 6, No. 2 (2022), 329.
dasar yang harus diperkenalkan kepada seluruh siswa. Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. 79 Pendidik diharuskan mampu untuk menguasai perkembangan zaman demi kemajuan dan kebaikan suatu bangsa, dalam hal ini khususnya dunia pendidikan.
Teknologi merupakan hasil olah pikir manusia untuk mengembangkan tata cara atau sistem tertentu dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan dalam hidupnya.
Penerapan fungsi teknologi dalam pendidikan secara umum merupakan upaya progresif dari pembelajaran yang ditunjang dengan teknologi. Secara tidak langsung merupakan bagian dari Pembelajaran aktif, kreatif, efisien dan menyenangkan.
bagaimanapun hebatnya sebuah sekolah, tanpa adaptasi dengan perkembangan zaman masih terasa ada yang kurang metode pembelajaran.
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum merdeka, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran, mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan metode pembelajaran, sampai pada
79 M Yaumi, Media Dan Teknologi Pembelajaran (Jakarta: Prenada Media Group, 2018), 35.
penilaian. Serangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering ditanamakan dengan pendekatan pembelajaran.80 Jika punya tenaga pendidik yang standar dan pandai berselancar di internet, tentu lebih mudah dalam promosi instansi pendidikan tempatnya mengabdi, dengan begitu diharapkan jalannya suatu sekolah jadi lebih ideal sesuai impian, meski masih banyak kelemahan dan harus senantiasa dibenahi tiap saat agar perkembangannya terus ada Karenanya pihak yang terkait seperti kepala sekolah dalam kapasitasnya sebagai seorang manajer harus menjadikan solusi untuk mendorong para guru meningkatkan keahlian nya pada teknologi.81
2) Sumber Daya Manusia (SDM)
Implementasi sebuah kebijakan sangat memerlukan adanya sumber daya yang menjadi pendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, sehebat apapun perencanaan yang dilakukan, semulia apapun tujuan dari dikeluarkannya kebijakan tersebut, tanpa dukungan sumber daya yang memadai sumber daya manusia yang mumpuni dibidangnya, kebijakan tersebut tidak
80 R. R Rerung, E-Commerce (Menciptakan Daya SaingMelalui Teknologi Informasi) (Jakarta: Cv Budi Utama, 2019), 18.
81 M. K. Rainbow, S., Nopiyanto, Y. E., & Muna, "Teachers Understanding of Professional Competency Standards", Journal Of Sport Education, Vol. 2, No. 2 (2019), 10–15.
akan berhasil. 82 Sumber daya yang dimaksudkan disini adalah sumber daya manusia dan sumber daya finansial. Hal ini sesuai dengan yang disampaiakan oleh Edwards II, bahwa sumber daya merupakan variabel yang mempengaruhi implementasi kebijakan.
Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila kekurangan sumber daya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan dengan efektif. Sumber daya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif.83
Sumber manusia yang dimaksud menyangkut guru, siswa, dan orang tua. Banyak guru khususnya yang usianya sudah lanjut kurang memahami penggunaan teknologi dan aplikasi sehingga proses pembelajaran tidak berjalan semestinya berakibat pelaksanaaan sistem pembelajaran tidak berjalan secara maksimal. Siswa juga merasa kesulitan mengikuti pembelajaran dikarenakan fokusnya terbagi sehingga mereka sering tidak memahami dan kesulitan dalam pembelajaran.
Disamping itu, ketika sudah selesai pembelajaran dan diberi tugas, mereka juga
82 Gede dan Ni Ketut Sudianing Sandiasa, "Pelaksanaan Administrasi Dan Pola Pemberdayaan Masyarakat Dalam Menghadapi Covid 19", Jurnal Widya Publika, Vol. 9, No. 2 (2021), 30–37.
83 AG Subarsono, Analisis Kebijakan Publi: Konsep,Teori Dan Aplikasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 14.
kesulitas proses pengiriman hasil ulangan atau tugasnya. Orang tua juga termasuk sumber daya manusia yang mengalami kesulitan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran merdeka belajar ini, akan tetapi ketidak pahaman orang tua terhadap materi yang dipelajari anaknya, serta kepedulian orang tua terhadap dunia pendidikan tergolong rendah.
Dalam praktiknya, terdapat beberapa hambatan kurikulum merdeka. Oleh karena itu, penerapan kurikulum ini bersifat fleksibel.
Kurikulum yang digunakan saat ini buka berarti merupakan hasil final. Kurikulum yang dibuat dapat dikembangkan hingga didapat pembelajaran yang lebih efektif, dengan catatan tetap mengikuti kaidah dan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Sedangkan untuk faktor penghambat dalam sistem pembelajaran merdeka belajar: 84
Pendidikan berhasil apabila proses belajar mengajar dilakukan secara efektif dan efisien sehingga hasil belajar bisa dicapai dengan lebih optimal. Akan tetapi setiap sekolah memiliki kondisi dan kesiapan yang berbeda-beda. Ada banyak faktor penghambat dari setiap
84 Ratna Purwanti Herti Prastitasari, "Hambatan Autentik Asesmen Dalam Proses Pembelajaran Daring Di Sekolah Dasar Prosiding Seminar Nasional Kolaborasi PGSD, Megister Management Pendidika", PG PAUD Dan Megister PG PAUD (Universitas Lambung Mangkurat, 1 (2020), 291–
293.
kebijakan. Dalam meninjau faktor penghambat kurikulum merdeka ada aspek yang perlu dikaji terbagi atas faktor internal dan faktor ekstenal.
Menurut Sugihartono faktor internal berasal dari kondisi dan kesiapan peserta didik dalam menerima materi. Sedangkan faktor eksternal berasal dari kondisi dan kesiapan guru dan sekolah dalam menerapkan kurikulum merdeka.
Berikut merupakan faktor penghambat internal dan eksternal penerapan kurikulum merdeka, yaitu:85
a) Motivasi
Motivasi belajar berperan penting dalam kegiatan belajar. Jika dari awal tidak terdapat motivasi untuk belajar, maka siswa akan sulit memahami atau mencerna materi yang sedang di pelajari selama proses belajar. Rendahnya motivasi internal yang berasal dari diri siswa itu sendiri dalam mengikuti pembelajaran yang berbasis merdeka belajar.
b) Sikap peserta didik
Sikap atau perilaku merupakan faktor internal psikis yang memiliki peran penting pada proses belajar. Seorang peserta didik akan mau dan giat belajaratau tidak sangat tergantung pada sikapnya. Dalam hal ini
85 Sugihartono, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: UNY Press, 2013), 11.
sikap yang dimaksud adalah sikap atau responpositif peserta didik terhadap pelajaran, guru yang mengajar, dan terhadap lingkungan di kelas.
c) Minat peserta didik
Minat siswa jika dikembangkan dengan baik, maka hal itu dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Kegiatan pembelajaran pun akan berjalan dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan mudah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal diperoleh informasi dari keempat informan bahwa sekolah dan guru sudah melakukan asesmen terhadap minat dan bakat peserta didik, dan sudah membuat mod ul ajar sesuai dengan ketentuan kurikulum merdeka belajar. Namun dalam dalam mengelola sistem pembelajaran sesuai minat dan bakat peserta didik masih terdapat kendala.
d) Sarana prasarana
Sarana prasarana merupakan fasilitas sekolah bisa membantu guru, siswa, dan anggota sekolah lainnya secara bersamaan mengakses dan menyampaikan informasi pembelajaran tanpa hambatan ruang dan waktu. Selain itu, fasilitas sekolah memungkinkan siswa belajar lebih cepat
karena diajar dengan lebih baik.
Kekurangan pada fasilitas sekolah dapat menghambat proses pembelajaran di kelas.
Adapun faktor eksternal penghambat dari penerapan kurikulum merdeka belajar yaitu sebagai berikut:
a) Dukungan orang tua
Orang tua berperan penting dalam mendukung pembelajaran peserta didik.
Perhatian orangtua bisa memberikan dorongan serta motivasi bagi peserta didik untuk giat belajar, karena anak membutuhkan waktu, tempat serta kondisi yang baik untuk belajar. Beberapa orang tua tidak menyetujui hasil asesmen sebagai bahan acuan pemilihan kelas untuk anaknya. Padahal hasil asesmen diperoleh dari hasil tes psikotes sehingga hasil yang didapat sesuai dengan kemampuan siswa.
Ketika terjadi hal seperti itu, pihak sekolah dengan sigap memediasi orangtua, siswa dan guru untuk menyelesaikan masalah tersebut dan memilih opsi terbaik untuk semua pihak. Orang tua siswa yang tidak mendukung hasil asesmen minat dan bakat yang dilaksanakan sekolah.
c. Dampak Implementasi Kurikulum Merdeka Pada dasarnya, setiap implementasi kebijakan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah sangat ditentukan oleh kemampuan guru mengimplementasi dengan benar. Implementasi tersebut sedikit banyaknya dipengaruhi oleh persespi dan interpretasi yang dimiliki oleh guru- guru. Menurut Lundeberg dan Levin, persepsi dan interpretasi guru terhadap kurikulum berakar pada pengetahuan dan pengalaman guru itu sendiri.
Yang mencangkup empat komponen utama yaitu, 1) tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai, 2) pengetahuan, ilmu-ilmu, data-data, aktivitas- aktivitas dan pengalaman dari mana-mana, 3) metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti muri-murid untuk mendorong mereka kepada yang dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang. 4) metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur dn menilai hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum.86
Perubahan kurikulum berdampak baik dan buruk bagi mutu pendidikan, dimana dampak baiknya yaitu menurut Indarta dampak yang dirasakan dengan adanya merdeka belajar pada
86 M. A Lundeberg, "Prompting the Development of Preservice Teacher” Beliefs through Cases, Action Research, Problem-Based Learning, and Technology ", In J Raths and A Mc Aninch (Eds’, The Impact of Teacher Education, Information Age Publishing, Greenwich, Vol. 1, No. 1, 2003), 23- 42.
kurikulum ini adalah membawa kegembiraan pada diri siswa di tengah situasi pandemi saat sekarang.87 Pelajar bisa belajar dengan mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju tapi didukung oleh kepala sekolah, guru, tenaga pengajar, peserta didik bahkan lembaga itu sendiri.
Menurut Abdul Aziz dalam membangun karakter peserta didik memerlukan waktu yang cukup lama.
Selain itu, program tersebut harus ditopang dengan manajemen pendidikan karakter sehingga akan diperoleh hasil yang optimal. Pendidikan karakter peserta didik merupakan suatu fondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, terutama para peserta didik di sekolah-sekolah.88
Sedangkan menurut, Elmore dan Sykes bahwa ketika kurikulum diformulasi, dikembangkan, dan diimplementasikan di sistem persekolahan hingga ke dalam kelas, mekanisme pelaksanaan mempengaruhi praktek pembelajaran yang selanjutnya berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.89 Hal ini sejalan dengan Supriani bahwa
87 Indarta, "Relevansi Kurikulum Merdeka Belajar Dengan Model Pembelajaran Abad 21 Dalam Perkembangan Era Society 5.0", Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol. 4, No. 2 (2022), 3011–3024.
88 Abdul Azi, H., "Darwyan S, Manajemen Pendidikan Karakter di SMA (Studi pada SMAN dan MAN di Jakarta", Jurnal TARBAWI, Vol. 4, No. 3 (2018), 193.
89 G Elmore, R., and Sykes, Curriculum Policy. In Philip W. Jackson (Ed.), Handbook Ofresearch on Curriculum: A Project of the American Educational Research Association (New York: Macmillan, 1992), 55.
sosialisasi sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang tujuan, capaian yang ingin diraih, dan lain sebagainya dari kurikulum baru, jika sosialisasi gagal, maka harapan kurikulum akan berhasil juga sangat kecil.90
B. Kajian Penelitian Terdahulu
Adanya proses dan hasil pelaksanaan penelitian memperkuat dengan adanya kajian peneliti terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Ada sejumlah hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian penulis ini.
Diantaranya yaitu:
Pertama, skripsi oleh Hasnawati yang berjudul Pola Penerapan Merdeka Belajar Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Daya Kreativitas Peserta Didik di SMA 4 Wajo Kabupaten Wajo.91 Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2021 menggunakan data kualitatif dengan fokus pembahasan terkait pola penerapan merdeka belajar pada pembelajaran pendidikan agama islam dan peningkatan daya kreativitas belajar peserta didik pada pembelajaran pendidikan agama islam. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan:
90 Y Supriani, "Peran Manajemen Kepemimpinan Dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam", Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, Vol. 5, No. 1 (2022), 332–338.
91 Hasnawati, Pola Penerapan Merdeka Belajar Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Daya Kreativitas Peserta Didik Di SMA 4 Wajo Kabupaten Wajo (Skripsi IAIN Parepare2021), 6-10.
Penerapan merdeka belajar pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA 4 Wajo telah diterapkan dengan menggunakan sistem pembelajaran berdeferensiasi sebagai perwujudan merdeka belajar dan disambut oleh semua stakeholder sekolah, baik peserta didik maupun pendidik dan pihak-pihak yang terkait. Adapun pola penerapannya yaitu: diawali dengan menciptakan lingkungan belajar yang dapat mengundang semangat peserta didik untuk belajar.
1) Daya kreatifitas belajar peserta didik pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMAN 4 Wajo mengalami peningkatan setelah penerapan pembelajaran berdeferensi sebagai perwujudan konsep merdeka belajar karena setelah penerapan merdeka belajar peserta didik memiliki kemampuan berfikir kritis, memiliki kepekaan emosi sehingga mampu berkomunikasi dengan baik, peserta didik memiliki daya imajinasi yang tinggi untuk menciptakan produk-produk pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
2) Tujuan pembelajaran didefinisikan dengan jelas ke peserta didik agar peserta didik mengetahui arah dan titik akhir pembelajaran. Pembelajaran berpihak pada peserta didik, dengan cara merespon kebutuhan belajar peserta didik, artinya guru mendeferensiasi pembelajaran dengan menambah, memperluas, menyesuaikan waktu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal.
Kedua, skripsi oleh Wahdinah Salim Aranggere yang berjudul Implementasi Program Merdeka Belajar pada Pembelajaran Aqidah Akhlak dalam Mengembangkan
Kreativitas Peserta Didik di MTSHidayatul Mubtadi’in Tasikmadu Malang.92 Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2022 menggunakan data kualitatif dengan focus penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu bagaimana perencanaan program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik, bagaimana pelaksanaan program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik, dan bagaimana evaluasi program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik di MTs Hidayatul Mubtadi’in Tasikmadu Malang. Dari hasil penelitian dapat diabil kesimpulan: Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa implementasi program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik ini, terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pertama perencanaan, guru diwajibkan untuk membuat RPP satu lembar sebelum pembelajaran berlangsung. Kedua pelaksanaan, pada pembelajaran berlangung guru memberikan motivasi, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, dan saling bertukar informasi sesuai materi, dll. Selain itu peserta didik juga dibiasakan mengikuti program pengembangan Budaya Religius. Ketiga evaluasi, evaluasi dilakukan dengan
92 Wahdinah Salim Aranggere, Implementasi Program Merdeka Belajar Pada Pembelajaran Aqidah Akhlak Dalam Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik Di MTS Hidayatul Mubtadi’in Tasikmadu Malang (Skripsi Universitas Islam Malang, Malang, 2022), 7.
penilaian tes dan non tes, mencakup penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ketiga, skripsi oleh skripsi oleh Atika Widyastuti yang berjudul Persepsi Guru Tentang Konsep Merdeka Belajar Mendikbud Nadiem Makarim dalam Pendidikan Agama Islam di MTS Negeri 3 Sleman.93
Fokus penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu bagaimana perencanaan program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik, bagaimana pelaksanaan program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik, dan bagaimana evaluasi program merdeka belajar pada pembelajaran Aqidah Akhlak dalam mengembangkan kreativitas peserta didik di MTs Hidayatul Mubtadi’in Tasikmadu Malang. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2020 menggunakan data kualitatif. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan:1) para guru PAI di MTs N 3 Sleman, memiliki persepsi positif tentang konsep Merdeka Belajar Mendikbud Nadiem Makarim yang tercermin pada kesediaan mengikuti kebijakan yang ada, 2) Pembuatan Rencana Pelaksanan Pembelajarn (RPP) dengan konsep Merdeka Belajar Mendikbud Nadiem Makarim dilakukan dengan langkah- langkah seperti mengadakan Workshop, peningkatan kompetensi, dan mutu guru, misalnya pembinaan dari pengawas, Kasidik, dan MGMP, 3) Pelaksanaan
93 Atika Widyastuti, Persepsi Guru Tentang Konsep Merdeka Belajar Mendikbud Nadiem Makarim Dalam Pendidikan Agama Islam Di MTS Negeri 3 Sleman, 2020 (Skripsi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta), 8-11.
Pembelajaran aktif secara daring dilakukan dengan memperbanyak teknik pembelajaran interaktif dan komunikatif, dengan menggunakan media pembelajaran.
Tabel 2.2 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu dan Penelitian ini
No Nama
Peneliti, Tahun Penelitian,
Judul Penelitian,
Persamaan Perbedaan
1.
Hasnawati, 2021, pola penerapan merdeka belajar pada pembelajaran pendidikan agama islam dalam
meningkatka
n daya
kreativitas peseta didik di SMA 4 Wajo
Kabupaten Wajo
a. Metode penelitian yang digunakan sama yakni metode penelitian kualitatif.
b. Berfokus pada pokok pembaha san yang sama yakni penerapa n
a. Penelitian terdahulu membahas pola penerapan merdeka belajar Pada
pembelajaran pendidikan islam, sedangkan penelitian ini membahas implementasi kurikulum merdeka di