• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kedudukan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

Adapun masyarakat hukum adat yang hidup dan bertempat tinggal di laut disebut juga dengan hukum adat laut. 35/PUU-X/2012 mengatur tentang hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam (yang dalam konteks putusan MK ini adalah hutan). Dengan demikian, meskipun keberadaan hutan adat sebagai hutan yang berkaitan dengan keberadaan masyarakat hukum adat diatur dalam UU No.

Oleh karena itu, hak masyarakat hukum adat atas hutan ini secara tegas diakui dalam UU No. Keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya diakui berdasarkan undang-undang atau peraturan daerah (Perda). Sebab, unit masyarakat adat yang mampu memenuhi sebelas unsur prasyarat tersebut akan sangat sedikit.

41 Tahun 1999, bentuk pengakuan keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda). 35/PUU-X/2012 yang memberikan konsep baru mengenai hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam khususnya hak hutan. 35/PUU-X/2012 dipandang sebagai simbol kemajuan positif dalam pengakuan hak-hak masyarakat hukum adat oleh negara.

Khusus mengenai pengaturan hukum adat tentang hak masyarakat atas sumber daya alam akan dijelaskan pada poin IV di bawah ini.

Pengaturan Hak atas Sumber Daya Alam Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria

  • Pengaturan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam dalam Surat Edaran Menteri Kehutanan No. 1 Tahun 2013
  • Pengaturan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. 62 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri
  • Pengaturan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan
  • Pengaturan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam dalam Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan
  • Pengaturan Hak Masyarakat Hukum Adat atas Sumber Daya Alam dalamPeraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala BPN No. 9 Tahun 2015 tentang Hak

41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, terdapat berbagai undang-undang yang juga mengatur hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam, yang keberadaannya sudah ada bahkan sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi No. Sedangkan dalam UUPA, pengaturan hak masyarakat hukum adat atas baraka (tanah, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang dikandungnya) khususnya tanah belum merupakan hak penuh, hal ini terlihat dari penjelasan Penjelasan Umum. . bagian II nomor (3) UUPA di atas. 5 Tahun 1960/UUPA- merupakan hak asasi yang mendasari hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam, termasuk hak hutan sebagaimana diatur dalam undang-undang no.

41 Tahun 1999. Masyarakat hukum adat baru mempunyai hak atas hutan apabila masyarakat hukum adat tersebut mempunyai hak hukum adat pada kawasan hutan yang bersangkutan. Adapun rincian poin-poin penting terkait hak masyarakat adat atas sumber daya alam pada masing-masing aturan di atas akan dijelaskan pada sub-poin di bawah ini. 1 Tahun 2013, hak masyarakat hukum adat atas hutan kembali tidak jelas, dan pengaturan seperti ini jelas memberikan ketidakpastian hukum.

52 Tahun 2014 merupakan peraturan yang mengatur tentang proses pengakuan keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat yang dilakukan oleh Pemerintah. Mengacu pada pengertian “wilayah adat” di atas, maka dapat diketahui bahwa sejauh mana yang dimaksud dengan “wilayah adat” di sini adalah sejauh mana hak masyarakat hukum adat terhadap sumber daya alam. 52 Tahun 2014, kesatuan masyarakat hukum adat diberikan hak untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di wilayahnya, namun tidak diberikan hak untuk mengatur sumber daya alam tersebut.

52 Tahun 2014 bertentangan secara hukum dengan ketentuan pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat yang diatur dalam UU No. 31/PUU-V/2007, dimana pengakuan terhadap keberadaan masyarakat common law harus dituangkan dalam bentuk peraturan provinsi atau undang-undang. 52 Tahun 2014 dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut di atas jelas menimbulkan ketidakpastian hukum mengenai pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, yang pada akhirnya akan berdampak pada ketidakpastian mengenai hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam.

Pengaturan hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam dalam peraturan bersama 3 menteri (mendagri, menteri kehutanan, menteri pekerjaan bersama 3 menteri (mendagri, menteri kehutanan, menteri pekerjaan umum) dan kepala daerah. BPN Nr Peraturan Hak Masyarakat Hukum Adat terhadap Sumber Daya Alam dalam Peraturan Menteri Pertanian dan Tata Ruang/Kepala BPN No. Pengaturan seperti ini jelas bermasalah, apalagi berkaitan dengan hak masyarakat hukum adat atas alam. sumber daya, dengan memperhatikan peraturan yang ada dalam Peraturan Menteri Pertanian dan Tata Ruang/BPN No.

Menurut Pasal 9 Tahun 2015, ruang lingkup hak masyarakat dalam wilayah hukum adat atas sumber daya alam hanya terbatas pada hak milik (bersama) atas tanah saja. Dengan terbatasnya hak-hak masyarakat yang hanya mencakup hak milik bersama atas tanah, maka wajar timbul pertanyaan bagaimana hak-hak masyarakat hukum adat terhadap sumber daya alam yang berbentuk selain tanah harus diatur.

Kesimpulan

9 Tahun 2015, timbul pertanyaan besar mengenai aturan mana yang dapat dijadikan sebagai implementasi lebih lanjut dari Pasal 3 UUPA tentang hak ulayat, sedangkan persoalan hak ulayat di sisi lain merupakan pertanyaan yang sangat penting dan bahkan mendasar mengenai keberadaan hak ulayat. komunitas hukum adat. dan hak mereka – hak mereka terhadap sumber daya alam karena semua hak yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat bersumber dan bertumpu pada hak adat. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan sistem hukum kita guna menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang ada dengan apa yang telah diatur dalam putusan Mahkamah Konstitusi no. Berdasarkan permasalahan diatas maka kami sebagai akademisi memberikan saran atau rekomendasi mengenai pengaturan adat. hukum hak masyarakat atas sumber daya alam sesuai dengan ketentuan putusan Mahkamah Konstitusi no.

Saran

Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan pada sistem hukum kita guna menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang ada dengan apa yang diatur dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012, dan penyempurnaan pertama yang hendak disasar adalah ketentuan dalam UUPA. Berdasarkan permasalahan di atas, kami sebagai akademisi memberikan saran atau rekomendasi mengenai pengaturan hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam sesuai dengan ketentuan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012. Saran atau rekomendasi tersebut dijelaskan pada poin VII di bawah ini. tanah adat atau tanah ulayat), hak atas hutan (yang kemudian disebut hutan adat), serta hak atas sumber daya alam lainnya. Jadi misalnya kalau dikaitkan dengan ketentuan Pasal 16 ayat 1 UUPA tentang hak atas tanah yang diberikan oleh negara, maka di bawah hak atas tanah itu harus ditambah “hak adat atas tanah”. sebagai hak atas tanah yang timbul akibat hak adat).

Namun konsep pengaturan hak hukum adat sebagai hak pertanian masyarakat hukum adat harus dibedakan dengan hak pertanian yang dikuasai oleh masyarakat di luar masyarakat hukum adat (baik perseorangan maupun badan hukum perdata). Jadi misalnya untuk pengaturan hak ulayat atas tanah. Konsep tersebut harus dibedakan dengan konsep hak atas tanah adat, hak atas tanah yang diberikan oleh negara kepada perseorangan dan badan hukum perdata pada umumnya (sebagai pihak di luar masyarakat hukum adat). Bedanya, untuk hak ulayat didasarkan pada pengaturan berdasarkan hukum adat dan bukan pada hukum positif, yang mana pengaturan dan pembagian hak-hak pertanian yang berada dibawahnya, seperti hak atas tanah, hak hutan atau hak atas sumber daya alam lainnya, dilakukan dengan cara: lembaga masyarakat adat yang bersangkutan, dan yang terpenting, hak-hak tersebut tidak boleh dilepaskan atau dialihkan kepada pihak di luar entitas masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Sedangkan untuk hak agraria yang diberikan kepada masyarakat (baik perseorangan maupun badan hukum perdata) di luar masyarakat hukum adat, pengaturannya dilakukan dengan hukum positif negara, pembagiannya diatur oleh lembaga negara terkait (seperti Badan Pertanahan Nasional/BPN). hak atas tanah, Kementerian Kehutanan untuk hak hutan dan sejenisnya), dan tidak menutup kemungkinan hak tersebut dilepaskan atau dialihkan kepada orang lain.

Pembedaan seperti di atas sangat penting dilakukan, karena dua alasan mendasar. Alasan pertama adalah untuk mencegah hilangnya dan/atau perampasan hak ulayat dari kewenangan masyarakat hukum adat seperti yang terjadi selama ini, salah satunya karena pengaturan hukum positif yang memang memungkinkan hal tersebut disebabkan karena pengaturan hak ulayat bukanlah suatu hak atau kewenangan penuh. Alasan kedua adalah mengembalikan hak ulayat menurut konsep yang sebenarnya menurut asas hukum adat, yaitu dimana yang mempunyai kekuasaan penuh atas tanah dan sumber daya alam lainnya dalam wilayah adat dengan adanya hak ulayat adalah pihak ulayat. kesatuan masyarakat hukum yang memiliki hak ulayat yang bersangkutan. Oleh karena itu, sumber daya alam yang ada di wilayah adat tersebut menjadi terlarang bagi orang asing (orang yang bukan anggota kesatuan masyarakat adat yang memiliki hak ulayat yang bersangkutan), sehingga keberadaan hak ulayat tersebut tidak memungkinkan adanya anggota perkumpulan. /satuan kepada masyarakat hukum adat untuk mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang asing (orang yang bukan anggota perkumpulannya).

Adanya konsep penguasaan sumber daya alam oleh masyarakat hukum adat sebagaimana telah dijelaskan di atas tidak berarti berkurangnya kewenangan negara sebagai penguasa agraria pada tingkat tertinggi sebagaimana diatur dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Nampaknya tidak berlebihan karena dalam konteks kehidupan bernegara seperti saat ini. Kenyataannya, keberadaan perkumpulan/satuan masyarakat hukum adat sebagai entitas sosial politik tradisional tidak lagi berdiri sendiri dan lepas dari subordinasi entitas sosial politik yang lebih tinggi seperti pada masa prakolonial, namun dapat terus eksis. karena berdasarkan dan dilindungi oleh keberadaan suatu negara, dalam hal ini Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hak ulayat sebagai hak penguasaan agraria suatu kesatuan masyarakat hukum adat dengan demikian dapat tetap ada dan terpelihara karena didasari dan dilindungi oleh hak penguasaan negara melalui penguasaan negara, yang merupakan bentuk upaya negara dalam melindungi hak ulayat masyarakat hak ulayat. . adalah dengan membuat peraturan umum yang berkaitan dengan hukum pertanian yang tidak memperbolehkan peralihan dan pelepasan hukum adat untuk kepentingan pihak lain dan menyerahkan penguasaan, pengaturan dan pembagian hak-hak agraria yang berasal dari hukum adat ini sepenuhnya kepada kesatuan masyarakat hukum adat yang bersangkutan. . tentang hukum adat yang mereka miliki.

Untuk lebih memudahkan memahami uraian usulan di atas, silakan merujuk pada bagan/skema yang berkaitan dengan hubungan antara hak penguasaan negara dan hak ulayat masyarakat hukum adat pada halaman selanjutnya halaman ini. Skema rekomendasi hubungan antara hak penguasaan negara atas urusan pertanian Indonesia (Pasal 33(3) UUD 1945) dengan hak ulayat sebagai hak penguasaan agraria bagi masyarakat hukum adat dan hak penguasaan agraria bagi masyarakat hukum non-adat.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pengakuan dan perlindungan terhadap keberadaan masyarakat hukum adat juga diisyaraatkan dengan disebutkannya istilah masyarakat hukum adat, masyarakat adat, hak

Penelitian Keberadaan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah Di Kalimantan DITERBITKAN OLEH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG / BADAN

Secara umum pengertian hak ulayat ditegaskan dalam Permen Agraria Nomor 5 Tahun 1999 sebagai berikut: hak ulayat dan yang serupa dari masyarakat hukum adat

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. Peraturan Menteri

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) Untuk menganalisis eksistensi hak ulayat suku samin di wilayah hukum Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)

Kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya dipandang sesuai dengan perkembangan masyarakat apabila kesatuan masyarakat hukum adat tersebut: 10 (1)

“Tanah Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat adalah tanah persekutuan yang berada di wilayah masyarakat hukum adat yang menurut kenyataannya masih ada”. berlakunya Peraturan

Hak penguasaan tanah adat di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar dalam hukum adat adalah berdasarkan hak ulayat, yaitu suatu hak masyarakat hukum adat di Kecamatan