• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehilangan: Kisah Tira di Pasar

N/A
N/A
Tansonmy

Academic year: 2025

Membagikan "Kehilangan: Kisah Tira di Pasar"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

KEHILANGAN

Di sebuah desa dekat pegunungan, hiduplah seorang anak perempuan berusia 6 tahun bernama Tira. Ia adalah anak tunggal yatim piatu, ibunya telah meninggal saat ia berumur 2 tahun dan ayahnya telah meninggal saat ia berumur 4 tahun. Sejak kepergian kedua orang tuanya, Tira tinggal hanya bersama neneknya yang sudah tua. Tira dan neneknya hidup dengan sangat sederhana bahkan serba kekurangan. Untuk dapat hidup, neneknya bekerja sebagai petani di kebun milik orang lain. Tira belum bersekolah karena keterbatasan biaya. Tira seorang anak yang ceria dan gemar menggambar. Setiap hari ia akan selalu menggambar ketika ditinggal neneknya bekerja. Suatu hari, Tira meminta neneknya untuk dibelikan pensil warna baru.

“Nenek, pensil warna Tira sudah pendek, pensil warna biru dan warna merahnya juga hilang, boleh Tira minta beli yang baru?” ucap Tira.

“Baiklah sayang, nanti kita akan beli ya, tetapi untuk sekarang sepertinya uang nenek belum cukup, jadi Tira harus bersabar ya.” ucap nenek.

“Baiklah nek, Tira tunggu ya.” ucap Tira kembali.

Setelah mempunyai uang yang cukup, nenek mengajak Tira membeli pensil warna ke pasar. Saat di pasar, karena ramainya orang, Tira terlepas dari genggaman neneknya dan menghilang. Namun, nenek tidak menyadari jika Tira terlepas dari gengamannya. Ketika sudah di tempat penjual alat tulis untuk membeli pensil warna, nenek baru menyadari bahwa Tira tidak ada di dekatnya. Nenek kebingungan mencari Tira. Nenek mencari Tira di seluruh tempat di pasar dan di jalan-jalan tetapi tidak berhasil. Kemudian nenek dibantu oleh orang-orang desa untuk segera melapor polisi. Setelah hampir satu minggu dilakukan pencarian, polisi juga tidak dapat menemukan Tira.

Tira menghilang karena diculik oleh seorang pria asing saat di pasar lalu ia dibawa pergi ke sebuah kota. Tira dijual oleh si penculik kepada seorang wanita berusia sekitar 45 tahun yang dikenal dengan sebutan Ma. Ma merupakan seorang yang memiliki dan mengelola sebuah panti asuhan gelap. Panti asuhan gelap itu melakukan eksploitasi anak-anak dan keberadaannya tidak pernah diketahui orang lain. Kini, di panti itulah Tira tinggal bersama enam orang anak perempuan lainnya yang juga merupakan korban penculikan dan dijual. Ma memposisikan dirinya sebagai ibu di panti itu, ibu yang jahat. Tira dan teman-temannya itu hidup dalam asuhan yang keras dan keji oleh Ma. Ia dan teman-temannya dieksploitasi untuk dijadikan

(2)

sebagai sumber uang untuk Ma. Tira dan teman-temannya dipaksa melakukan pekerjaan apapun dan melakukan tindakan kriminal seperti mencuri dan mencopet. Jika ada anak yang tidak bekerja dengan becus, Ma akan menyiksa mereka. Sejak hidup di panti, Tira kehilangan keceriaannya, ia menjadi anak yang pendiam.

Enam belas tahun kemudian.

Kini, Tira telah berusia 22 tahun. Ya tentu saja, ia masih tinggal di panti dan kehidupannya masih sama. Ia dan teman-temannya masih terjebak menjalani kehidupan yang malang di panti itu. Bahkan sekarang karena sudah tumbuh dewasa, Tira dan teman-temannya dieksploitasi untuk bekerja sebagai pelacur. Sudah sejak dari pertama kali Tira berada di panti sampai sekarang, ia selalu merindukan neneknya dan berharap dapat hidup bersama neneknya kembali. Tira dan teman-temannya selalu ingin melarikan diri dari panti tetapi itu sangat sulit untuk dilakukan. Jika mereka ketahuan melarikan diri, Ma akan mencari dan membunuh mereka.

Di sisi lain, sudah enam belas tahun sejak kehilangan Tira, nenek selama ini selalu merindukan Tira. Tidak terhitung sudah berapa kali nenek selalu menangis karena sangat merindukan cucunya itu. Apapun sebisanya telah dilakukan nenek untuk mencari Tira. Nenek selalu mencari Tira di manapun ia melangkah. Nenek senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dapat dipertemukan lagi dengan Tira. Nenek terus melapor polisi meskipun polisi sudah menyerah untuk mencari karena tidak pernah berhasil. Nenek dibantu dengan orang-orang desa selalu menyebarkan selembaran kertas informasi kehilangan Tira. Meskipun yang terpampang di selembaran itu adalah foto Tira saat masih kecil, nenek berharap akan ada orang yang mengenali dan Tira dapat ditemukan. Namun, usaha nenek sampai saat ini tidak pernah berhasil.

Kehilangan Tira membuat nenek terus merasakan kesedihan. Dalam lubuk hatinya, nenek selalu bertanya-tanya bagaimana keadaan cucunya sekarang, sebesar apa cucunya sekarang dan pertanyaan yang paling membuat nenek sedih adalah apakah cucunya masih hidup atau tidak. Kesedihan nenek yang berkepanjangan telah memengaruhi kondisi kesehatannya. Kesehatan nenek menjadi buruk di usianya yang semakin renta. Sekarang kondisi nenek menjadi linglung dan sakit-sakitan.

Suatu hari, Tira dan teman-temannya di panti mendapat sebuah tugas dari Ma untuk menculik anak-anak di pedesaan. Tugas itu dilakukan supaya panti gelap itu terus berjalan, tidak hanya dengan Tira dan keenam temannya. Ma membutuhkan anak-anak baru untuk

(3)

dieksploitasi. Selama ini hanya ada Tira dan keenam temannya yang ada di panti. Masing- masing dari mereka diperintah untuk menculik anak-anak di berbagai desa. Tira diperintah untuk menculik anak-anak di sebuah desa tanpa Ma tahu bahwa itu adalah desa tempat asalnya.

Ini adalah kesempatan yang bagus bagi Tira dan teman-temannya untuk melarikan diri dan menghilang dari kehidupan di panti itu. Tira segera melarikan diri menuju desanya dengan tujuan untuk menemui neneknya kembali tanpa menjalankan tugas tersebut.

Tiba di desa malam hari, Tira melihat sekitarnya sangat asing, desanya telah banyak berubah. Sialnya, Tira kebingungan mencari rumah neneknya dimana. Dulu ia tidak memiliki ingatan yang kuat karena masih kecil jadi ia tidak benar-benar ingat rumah neneknya, ia hanya ingat nama desa tempat tinggalnya. Bahkan sekarang, sebenarnya ia juga sudah sedikit lupa dengan wajah neneknya. Tira terus mencari rumah neneknya. Tira melihat orang-orang di desa yang dulu ia tahu dan sepertinya tidak ada yang mengenali dirinya yang sekarang. Tira tidak mencoba menyapa atau bertanya, ia merasa begitu asing. Seketika Tira merasakan kesedihan yang membuat air mata turun membasahi pipinya, ia sedih karena tersadar betapa lamanya ia tidak berada di desa ini.

Saat Tira masih terus mencari rumah neneknya, matanya tertuju pada sebuah rumah yang berbeda dari rumah lainnya. Rumah kumuh yang hanya terbuat dari kayu dan bilik bambu.

Ya, itu adalah rumah neneknya. Akhirnya Tira menemukan rumah neneknya. Ingatannya muncul setelah melihat rumah itu sehingga ia yakin itu adalah rumah yang dicarinya. Tira segera memasuki halaman rumah itu tetapi ia melihat tidak ada orang di dalamnya dan pintunya tidak terkunci. Ia bingung neneknya tidak ada di rumah pada malam hari begini. Kebetulan ada seorang warga yang lewat dan Tira segera bertanya.

Terkejut, lemas, sedih, dan hancur. Ya, itulah keadaan Tira saat ini setelah mendengar apa yang dikatakan seorang warga tersebut mengenai neneknya. Ia mendapati sebuah kenyataan pahit bahwa neneknya sudah meninggal lima bulan yang lalu. Tak pernah terbayangkan oleh Tira, neneknya akan pergi untuk selama-lamanya sebelum ia sempat menemui neneknya kembali. Tira sudah lama menantikan kesempatan untuk dapat bertemu kembali dengan neneknya. Ternyata kesempatan itu tidak pernah ada untuk ia dan neneknya.

Tira menangis sejadi-jadinya, ia merasa bersalah telah membuat neneknya menunggu lama.

Tira duduk termenung di dalam rumah neneknya itu dengan mata yang masih sembab.

Ia merasa miris dengan hidupnya dan neneknya. Selama ini nenek kehilangan dirinya dan pasti itu membuat neneknya merasakan sakit. Hal itu kini dirasakan juga oleh Tira. Sekarang

(4)

neneknya sudah pergi dan ia merasa sakit. Tira dan nenek sama-sama kehilangan. Tira menyadari bahwa kebersamaannya dengan sang nenek telah berakhir sejak ia berusia 7 tahun.

Malam itu, Tira tidur di rumah neneknya yang kosong. Tidak ada kasur empuk, tidak ada penerangan yang layak, hanya ada dingin yang menusuk dan kenangan indah bersama neneknya dulu perlahan-lahan kembali memenuhi pikirannya. Ia melihat gambar-gambar hasil coretan tangannya dulu masih tertempel di dinding bilik bambu, meski sudah pudar warnanya dan mulai robek dimakan waktu. Tira tersedu lagi. Tira tidak berdaya malam itu, hatinya sungguh sakit. Dalam tangisnya, ia menyebut-nyebut neneknya.

“Nenek... Maafkan Tira.”

Keesokan paginya, Tira terbangun dengan mata bengkak dan kepala yang terasa berat.

Ia bangkit perlahan, duduk, dan memandangi sekeliling rumah. Semua masih sama seperti dulu, hanya saja kini terasa kosong dan sunyi. Tira berdiri dan melangkah keluar. Ada seorang warga yang melewati rumah itu dan melihat Tira. Melihat Tira duduk di depan rumah dengan rambut berantakan dan mata bengkak, warga tersebut mendekat dengan hati-hati.

“Kamu… siapa, Nak? Menginap di rumah ini?” tanya warga tersebut.

Tira menoleh perlahan. Suaranya gemetar.

“Bu Wina?”

Warga tersebut bingung mengapa orang yang ia ajak bicara tahu dirinya.

“Iya, saya Bu Wina.” ucap warga tersebut.

“Bu Wina… saya Tira, Bu.” ucap Tira.

Tira mengingat Bu Wina. Bu Wina, warga yang sangat dekat dengan ia dan neneknya. Dulu Bu Wina selalu membantu ia dan neneknya.

Bu Wina terdiam lama. Matanya membelalak dan perlahan berkaca-kaca.

“Ya Tuhan, Tira… kamu hidup… kamu datang kembali, Nak…”

Tangis pecah muncul antara keduanya. Tapi kali ini, tangis haru. Bu Wina memeluk Tira erat seperti seorang ibu yang menemukan kembali anaknya yang lama hilang.

“Tira… kamu lama sekali menghilang, apa yang terjadi, Nak? Sejak kehilanganmu, nenek menjalani hidup yang sulit dan penuh kesedihan. Setiap hari nenek selalu mencarimu dan

(5)

berharap menemukanmu. Nenek tidak pernah menyerah. Namun, sekarang nenek tidak dapat melihatmu.” ucap Bu Wina dengan terisak.

Tira hanya bisa menunduk. Setiap kalimat yang diucapkan Bu Wina terasa seperti peluru yang menembus dadanya. Tira akhirnya menceritakan tentang apa yang ia alami selama enam belas tahun terakhir.

“Ya Tuhan, Tira… betapa malangnya hidupmu, Nak…” ucap Bu Wina.

Tira mengangguk pelan, air matanya tak lagi bisa dibendung.

“Aku… ingin keluar dari semua ini, Bu. Aku ingin hidup tenang. Aku tidak tahu harus kemana, aku takut Ma sedang mencariku sekarang. Bisakah aku tetap di sini?” tanya Tira lirih.

Bu Wina menatap Tira penuh kasih.

“Tentu, Nak. Ini desamu. Ini rumah nenekmu. Di sini tempatmu pulang.”

Kabar kepulangan Tira diketahui oleh orang-orang desa. Warga menyambut Tira dengan hangat. Tira mencoba menetap kembali di desa itu, di rumah kecil neneknya yang kini ia rawat sendiri. Meski masih dihantui trauma, hari-harinya mulai diwarnai oleh kehangatan warga yang membantunya. Tira mulai menata hidupnya perlahan.

Setelah hidup Tira terasa membaik, Tira dibantu dengan warga desa melaporkan panti gelap, tempat yang membuat ia mempunyai luka dan trauma dalam hidupnya. Beberapa bulan kemudian, berkat laporannya, polisi berhasil menggerebek panti asuhan gelap itu dan menangkap Ma. Keenam teman Tira yang masih tertahan di sana dan juga anak-anak baru yang telah berhasil diculik oleh keenam Tiara atas tugas yang diberikan Ma saat itu diselamatkan.

Setelah semuanya berakhir, Tira mendatangi makam neneknya. Langkahnya pelan, membawa setangkai bunga liar yang ia petik dari halaman rumah. Angin sore berembus lembut, seolah ikut mengiringi langkahnya menuju pusara sederhana di tepi pemakaman. Di sana, tertulis nama yang begitu ia rindukan.

“Nek… Tira pulang… tapi terlambat,” bisiknya dengan tangis pecah.

Tira menunduk di hadapan pusara itu, membiarkan air matanya jatuh dalam diam, seperti doa yang tak bersuara—akhir dari kehilangan, awal dari pulang.

Referensi

Dokumen terkait