Judul: “Senja Terakhir Di Ujung Jalan”
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi hutan pinus dan udara dingin pegunungan, tinggal seorang gadis bernama Nara. Usianya baru menginjak lima belas ketika api menghanguskan rumah dan seluruh dunianya. Kedua orang tuanya, yang sedang tertidur lelap, tak sempat menyelamatkan diri.
Hanya Nara yang berhasil keluar, berlari dengan napas tercekat dan tubuh terbakar luka dan debu.
Sejak malam kelam itu, Nara menjadi sebatang kara.
Awalnya, ia berpindah dari satu rumah kerabat ke rumah lainnya, tapi tak ada yang benar-benar menginginkannya. "Kami sudah punya tiga anak, Nak," kata satu bibinya. "Kami juga sedang susah," ujar pamannya yang lain. Akhirnya, Nara memilih jalanan. Ia menggelandang, tidur di kolong jembatan atau bangku taman, menyulam harapan dari remah-remah simpati yang dilemparkan orang-orang.
Namun Nara tidak menyerah. Ia bekerja serabutan, menjual tisu di lampu merah, mencuci piring di warung makan, hingga mengamen dengan suara pelan dan serak. Ia menyimpan uang recehan demi recehan, cukup untuk membayar sewa kamar kecil di gang sempit, cukup untuk makan nasi bungkus dua kali sehari.
Suatu hari, saat usianya hampir menginjak tujuh belas, tubuhnya mulai menunjukkan gejala aneh.
Sendi-sendinya nyeri, kulitnya memerah terbakar walau hanya terkena matahari sebentar, dan demam datang seperti tamu yang tak pernah pamit. Ia pingsan di tengah jalan saat hendak berangkat kerja. Seorang ibu tua menolongnya, membawanya ke puskesmas.
Diagnosis itu datang seperti petir: Lupus.
Autoimun yang perlahan-lahan memakan tubuhnya dari dalam. "Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan, hanya perawatan untuk menahan gejalanya," kata dokter dengan suara hati-hati.
Nara hanya diam. Ia menatap jendela rumah sakit, melihat langit yang perlahan berubah jingga.
Hari-harinya setelah itu penuh perjuangan. Ia tetap bekerja semampunya, menulis puisi di malam hari, lalu menjualnya secara daring. Beberapa karyanya mulai dikenal. Ada yang menyebut tulisannya penuh luka, penuh kejujuran yang menyayat.
Tapi penyakit itu tak peduli pada pujian. Setiap hari, tubuh Nara semakin lemah. Ia mulai sulit berjalan jauh, tangannya gemetar saat menggenggam pena. Hingga suatu malam, ketika hujan turun perlahan, Nara menulis puisi terakhirnya:
“Jika hidup adalah senja, maka biarlah aku menjadi cahaya paling lembut yang pulang paling lambat.”
Nara mengembuskan napas terakhir di sebuah panti rawat sederhana. Di meja samping ranjangnya, terdapat buku puisi dengan sampul ungu dan foto kecil dirinya tersenyum, berdiri di depan rumah yang pernah terbakar.
Ia pergi dalam diam, tapi kisahnya bertahan lama. Di hati mereka yang membaca puisi-puisinya, Nara tetap hidup—bukan sebagai gadis malang, tapi sebagai cahaya kecil yang tidak pernah padam.