• Tidak ada hasil yang ditemukan

kel 3 MAKALAH EKONOMI MIKRO

N/A
N/A
yulfi ani

Academic year: 2024

Membagikan "kel 3 MAKALAH EKONOMI MIKRO"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

STUDI KASUS KELANGKAAN AIR DI BALAROA

DOSEN PENGAMPUH:

Dr. Lien Damayanti,Sp ,Mp

NAMA KELOMPOK 3:

Agung tambalang E32123246 Kiky wahyuda E32123223 Irmad Dupai E32123152 Yulfiani E32123228 Ratna Dewi Sri Wahyuni E32123175

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa karena telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Makalah Studi Kasus Kelangkaan Air Di Balaroa"

secara tepat waktu.

Makalah "Studi Kasus Kelangkaan Air Di Balaroa" disusun guna memenuhi tugas pada mata kuliah ilmu ekonomi mikro di Universitas Tadulako. Selain itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang Masalah Kasus Kelangkaan Air.

Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu selaku dosen mata kuliah Ilmu Ekonomi Mikro. Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang ditekuni penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan makalah ini.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR --- ii

DAFTAR ISI ---iii

BAB I PENDAHULUAN --- 1.1 Latar Belakang ---1

1.2 Tujuan ---2

BAB II PEMBAHASAN --- 2.1 Kelangkaan sumber daya alam ---3

2.2 Dampak kelangkaan terhadap produktivitas dan harga ---4

2.3 Dampak terhadap kesejahteraan petani ---6

2.4 Solusi dan kebijakan ---6

2.5 Alternatif penyelesaian ---8

BAB III PENUTUP --- 3.1 Kesimpulan --- 10

DAFTAR PUSTAKA ---17

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kelangkaan sumber daya air di Balaroa disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Salah satu penyebab utamanya adalah kerusakan infrastruktur akibat gempa besar yang melanda Palu dan sekitarnya pada tahun 2018, termasuk sistem distribusi air yang rusak parah. Selain itu, perubahan iklim turut memperburuk situasi dengan mengubah pola curah hujan, sehingga musim kering menjadi lebih panjang dan curah hujan tidak menentu.

Pertumbuhan penduduk yang pesat juga meningkatkan permintaan air bersih, sedangkan ketersediaan sumber daya air tetap terbatas. Selain itu, kerusakan lingkungan seperti deforestasi mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air, yang berdampak pada menurunnya sumber air tanah dan aliran air permukaan. Ditambah lagi, pengelolaan sumber daya air yang kurang efektif membuat distribusi air tidak merata, sehingga masalah kelangkaan air di Balaroa semakin parah.

Tujuan analisis ini adalah untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan kelangkaan sumber daya air di Balaroa dan dampaknya terhadap keberlanjutan agribisnis di wilayah tersebut. Studi ini penting karena air merupakan salah satu sumber daya kunci dalam sektor agribisnis, baik untuk irigasi pertanian, peternakan, maupun industri pengolahan. Dengan memahami penyebab dan tingkat kelangkaan air, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang lebih efektif dapat diambil untuk menjaga keberlanjutan agribisnis, yang pada gilirannya mendukung ketahanan pangan dan ekonomi lokal. Analisis ini juga penting dalam merumuskan kebijakan pengelolaan air yang lebih baik, serta mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan dan praktik konservasi air di sektor agribisnis. Tanpa studi ini, risiko kelangkaan air akan terus membayangi produktivitas agribisnis dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

(5)

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui kelangkaan sumber daya

2. Mengetahui dampak kelangkaan terhadap produktivitas dan harga 3. Dampak terhadap kesejahteraan petani

4. Mengetahui Solusi dan kebijakan 5. Alternatif penyelesaian

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Kelangkaan Sumber Daya Alam

Kelangkaan sumber daya air merupakan isu global yang semakin mendesak, dan situasi ini juga dirasakan di Balaroa, Sulawesi Tengah. Balaroa, yang terletak di daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, kini menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan air bersih.

Penyebab utama kelangkaan air di Balaroa meliputi beberapa faktor yang saling mempengaruhi yaitu:

kerusakan infrastruktur akibat gempa besar pada tahun 2018 menyebabkan sistem distribusi air rusak parah, sehingga pasokan air terganggu.

perubahan iklim mempengaruhi pola curah hujan, dengan musim kering yang lebih panjang dan intens, mengurangi ketersediaan air bersih.

pertumbuhan penduduk yang pesat meningkatkan permintaan air, sementara sumber daya air tetap terbatas. Selain itu, kerusakan lingkungan seperti deforestasi mengurangi kapasitas tanah untuk menyerap dan menyimpan air, sehingga sumber air tanah dan permukaan berkurang. T

pengelolaan air yang kurang efisien memperparah situasi, dengan distribusi air yang tidak merata dan pemborosan dalam pemanfaatan.

(7)

2.2 Dampak Kelangkaan Terhadap Produktivitas Dan Harga

Kelangkaan sumber daya air di Balaroa dan wilayah lain yang mengalami situasi serupa berdampak langsung pada produktivitas pertanian. Berikut adalah beberapa dampak yang signifikan:

1. Peningkatan Biaya Produksi

Ketika air menjadi langka, petani harus mencari sumber air alternatif, seperti membeli air dari sumber lain atau menggunakan teknologi pompa air, yang memerlukan biaya tambahan. Di beberapa wilayah, biaya irigasi melalui pompa dapat meningkat hingga 20- 30% dari total biaya produksi. Selain itu, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pemeliharaan infrastruktur air yang rusak atau tidak efisien, seperti mengganti saluran air atau membangun sumur bor.

Data: Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada daerah yang mengalami kekeringan, biaya irigasi melonjak hingga 40%, sementara kontribusi irigasi biasanya hanya sekitar 10-15% dari total biaya produksi di daerah normal.

2. Pengurangan Output Pertanian

Kurangnya air untuk irigasi menyebabkan penurunan produktivitas lahan. Tanaman tidak mendapatkan air yang cukup untuk tumbuh optimal, sehingga hasil panen turun.

Kekeringan dapat menyebabkan penurunan hasil tanaman seperti padi, jagung, atau sayuran, yang bergantung pada irigasi. Produktivitas yang rendah ini berdampak langsung pada pendapatan petani.

Data: Menurut data dari Kementerian Pertanian, pada tahun-tahun kekeringan parah, seperti 2015 yang disebabkan oleh fenomena El Niño, terjadi penurunan produksi padi hingga 25-30% di wilayah-wilayah yang terdampak kekurangan air.

3. Fluktuasi Harga Hasil Pertanian

Ketika output pertanian menurun akibat kelangkaan air, penawaran di pasar juga berkurang, yang menyebabkan kenaikan harga. Misalnya, ketika produksi padi menurun akibat kekeringan, harga beras meningkat tajam karena permintaan yang tetap tinggi sementara pasokan berkurang. Peningkatan harga ini biasanya tidak menguntungkan petani secara langsung, karena mereka mungkin tidak memiliki cukup hasil panen untuk dijual.

(8)

Data: Pada tahun 2015, harga beras di Indonesia mengalami kenaikan 10-15% sebagai akibat dari penurunan produksi akibat kekeringan. Harga sayuran juga mengalami fluktuasi dengan kenaikan yang signifikan hingga 20% di beberapa pasar lokal.

4. Ketidakstabilan Ekonomi Petani

Dengan meningkatnya biaya produksi dan menurunnya output, petani berada dalam posisi ekonomi yang rentan. Mereka tidak hanya harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mempertahankan produksi, tetapi juga menerima lebih sedikit pendapatan dari hasil panen yang berkurang. Ini membuat banyak petani mengalami kesulitan keuangan dan rentan terhadap kemiskinan.

Data: Studi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa di daerah yang mengalami kekurangan air, pendapatan petani bisa menurun hingga 40%, sementara biaya hidup dan produksi terus meningkat.

Kelangkaan air menyebabkan peningkatan biaya produksi, pengurangan output, dan fluktuasi harga hasil pertanian, yang memperburuk kesejahteraan ekonomi petani.

Dampak ini diperparah di daerah-daerah yang memiliki akses terbatas pada sumber daya air dan infrastruktur irigasi yang kurang memadai. Data dari Kementerian Pertanian dan BPS menunjukkan bahwa fenomena ini tidak hanya merugikan petani, tetapi juga memiliki implikasi lebih luas pada harga komoditas pangan dan stabilitas ekonomi sektor pertanian.

TABEL PENURUNAN AIR BERSIH DIAKIBATKAN GEMPA PADA TAHUN 2018

Nilai air bersih yang disalurkan (juta rupiah) Provinsi

Sulawesi Tengah

2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 55.088 60.740 47.401 45.567 47.157 50.924 52.491

(9)

2.3 Dampak Terhadap Kesejahteraan Petani

Kelangkaan sumber daya air di Balaroa memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan petani, terutama melalui penurunan produktivitas pertanian dan peningkatan risiko gagal panen. Air merupakan elemen kunci untuk irigasi, dan ketika pasokannya terbatas, tanaman tidak tumbuh optimal, mengakibatkan hasil panen yang lebih rendah.

Akibatnya, pendapatan petani menurun drastis, karena jumlah dan kualitas hasil panen tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, kelangkaan air meningkatkan risiko gagal panen, terutama pada musim kemarau yang panjang, yang memperburuk ketidakpastian ekonomi bagi para petani. Petani juga sering kali harus menanggung beban biaya tambahan untuk memperoleh air melalui sumur atau membeli dari sumber lain, yang memperbesar pengeluaran mereka.

Dengan berkurangnya pendapatan dan meningkatnya risiko gagal panen, kesejahteraan petani di Balaroa sangat terpengaruh, menempatkan mereka dalam posisi ekonomi yang semakin rentan.

Kekurangan air dapat menyebabkan gagal panen karena air adalah elemen vital bagi pertumbuhan tanaman. Tanaman yang kekurangan air mengalami stres yang menghambat pertumbuhan dan mengurangi hasil panen. Misalnya, pada tanaman cabai rawit, kekurangan air memperlambat pertumbuhan dan mengurangi jumlah buah.

2.4 Solusi dan kebijakan A. Irigasi Hemat Air

Irigasi hemat air seperti irigasi tetes dan penggunaan teknologi mikroirigasi bisa diterapkan untuk memaksimalkan penggunaan air di sektor pertanian.

o Implementasi:

a) Pelatihan petani lokal tentang cara menggunakan teknologi ini.

b) Penyediaan bantuan pemerintah atau NGO untuk akses peralatan irigasi.

o Efektivitas:

Teknologi ini terbukti mampu menghemat penggunaan air hingga 30-50% dan meningkatkan hasil pertanian dalam jangka panjang. Namun, tantangannya ada pada modal awal yang cukup besar untuk pengadaan peralatan.

(10)

B. Program Subsidi

Subsidi untuk pupuk organik dan teknologi ramah lingkungan dapat membantu petani untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

o Implementasi:

a) Pemerintah daerah atau pusat dapat menawarkan subsidi langsung untuk pembelian pupuk organik atau sistem irigasi hemat air.

b) Edukasi terkait manfaat penggunaan pupuk organik dan teknologi modern melalui program penyuluhan.

o Efektivitas:

Subsidi ini membantu mengurangi beban biaya petani dan mendorong mereka untuk mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan. Namun, diperlukan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan subsidi tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

C. Teknologi Pertanian Presisi

Teknologi pertanian presisi memanfaatkan sensor, satelit, dan analisis data untuk memastikan penggunaan air, pupuk, dan pestisida yang lebih efisien.

Implementasi:

a) Kerjasama antara pemerintah, universitas, dan perusahaan teknologi untuk menyediakan pelatihan dan akses kepada petani.

b) Penyediaan perangkat lunak dan perangkat keras dengan harga yang terjangkau atau melalui skema subsidi.

Efektivitas:

Teknologi pertanian presisi dapat meningkatkan produktivitas hingga 20-30% sambil mengurangi penggunaan sumber daya secara signifikan. Namun, hambatan seperti akses internet yang terbatas dan kurangnya pengetahuan teknologi dapat menghalangi adopsi secara luas

(11)

2.5 Alternatif Penyelesaian

Untuk mengatasi kelangkaan sumber daya air di Balaroa dan wilayah pertanian lainnya di Indonesia, diperlukan solusi yang berkelanjutan, yang mencakup inovasi teknologi dan reformasi kebijakan. Berikut adalah beberapa alternatif solusi yang dapat diterapkan untuk menghadapi masalah ini di masa depan:

1. Inovasi Teknologi Irigasi

Irigasi Tetes dan Mikro: Teknologi irigasi hemat air, seperti sistem irigasi tetes, dapat menjadi solusi untuk mengurangi pemborosan air. Sistem ini mengalirkan air langsung ke akar tanaman dalam jumlah yang tepat, mengurangi penguapan dan memastikan air digunakan secara lebih efisien. Irigasi tetes telah terbukti menghemat hingga 30-50% air dibandingkan dengan metode irigasi tradisional.

Pemanfaatan Teknologi IoT dan Sensor: Penggunaan sensor kelembapan tanah yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) memungkinkan petani memantau kebutuhan air secara real-time. Teknologi ini membantu petani mengoptimalkan penggunaan air berdasarkan kondisi tanah, yang mengurangi pemborosan dan meningkatkan produktivitas.

2. Pengelolaan Air yang Berkelanjutan

Pembangunan Infrastruktur Penampungan Air: Investasi dalam pembangunan waduk atau embung (penampungan air hujan) di tingkat lokal bisa membantu menampung air selama musim hujan dan menyediakannya di musim kemarau. Solusi ini dapat membantu menstabilkan pasokan air dan mencegah kelangkaan selama musim kering.

Pengelolaan Air Tanah Berbasis Masyarakat: Menerapkan sistem pengelolaan air tanah yang partisipatif, di mana masyarakat dilibatkan dalam pelestarian sumber air tanah dan pemantauan penggunaannya. Hal ini dapat memastikan penggunaan air yang lebih adil dan berkelanjutan di tingkat lokal.

3. Kebijakan Pengelolaan Air dan Agribisnis

Penerapan Kebijakan Pengelolaan Air Terpadu: Pemerintah dapat merumuskan kebijakan pengelolaan air terpadu yang mencakup distribusi air yang lebih adil antara sektor pertanian, rumah tangga, dan industri. Sistem alokasi air yang berbasis kuota, di mana petani mendapatkan jatah air yang cukup namun terukur, dapat membantu mencegah pemborosan air.

(12)

Subsidisasi Teknologi Hemat Air: Pemerintah dapat memberikan subsidi atau insentif bagi petani yang mengadopsi teknologi irigasi hemat air. Ini akan mendorong penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi beban biaya awal bagi petani kecil.

Kebijakan Penghijauan dan Reboisasi: Penanaman kembali hutan di sekitar daerah tangkapan air akan meningkatkan penyerapan air dan menjaga cadangan air tanah.

Reboisasi ini juga akan membantu mencegah erosi tanah dan menjaga keberlanjutan sumber daya air di masa depan.

4. Diversifikasi dan Adaptasi Pertanian

Pemilihan Tanaman yang Tahan Kekeringan: Mengalihkan fokus ke tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, seperti sorgum, kedelai, atau varietas padi yang lebih hemat air, dapat mengurangi ketergantungan pada air yang berlebihan.

Pertanian Terpadu dan Ramah Lingkungan: Penerapan sistem pertanian terpadu yang menggabungkan pertanian, peternakan, dan budidaya perikanan secara bersamaan dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, termasuk air.

5. Pendidikan dan Pelatihan untuk Petani

Pelatihan Teknologi dan Manajemen Air: Pelatihan kepada petani tentang cara memanfaatkan teknologi irigasi hemat air serta manajemen sumber daya air yang lebih efektif dapat meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap kekeringan. Penyuluhan mengenai praktik-praktik pertanian konservasi air sangat penting agar petani dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Potekensi Solusi Jangka Panjang

Inovasi teknologi dan kebijakan yang lebih berkelanjutan memiliki potensi besar sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kelangkaan air. Teknologi irigasi modern dan penggunaan teknologi berbasis data dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air secara drastis, sementara kebijakan pemerintah yang berfokus pada konservasi air dan reboisasi dapat menjaga keberlanjutan sumber daya air. Kebijakan dan teknologi harus diintegrasikan dengan pengelolaan lokal yang melibatkan petani

(13)

BAB III PENUTUP

3.1 kesimpulan

Kelangkaan sumber daya air di Balaroa telah menyebabkan penurunan produktivitas pertanian hingga 30%, terutama pada tanaman padi dan pangan lainnya, serta peningkatan biaya produksi hingga 40% karena pencarian sumber air alternatif dan pemeliharaan infrastruktur irigasi. Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga hasil pertanian seperti beras, yang meningkat 10-15% selama musim kekeringan, mengurangi daya beli konsumen, dan menurunkan pendapatan petani hingga 40%, yang memperburuk risiko kemiskinan dan ketidakstabilan ekonomi. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta dalam menerapkan solusi berkelanjutan, seperti teknologi irigasi inovatif, pengelolaan air yang lebih baik, serta kebijakan dan investasi yang mendukung keberlanjutan agribisnis dan kesejahteraan petani di wilayah tersebut.

Mengatasi kelangkaan sumber daya air di Balaroa membutuhkan pendekatan komprehensif yang mencakup penerapan teknologi irigasi efisien seperti irigasi tetes dan sensor IoT, pembangunan infrastruktur penampungan air seperti waduk dan embung, serta pemeliharaan saluran irigasi. Kebijakan pengelolaan air berbasis masyarakat, reboisasi, dan pelestarian daerah tangkapan air juga penting untuk menjaga keberlanjutan. Pemerintah dapat memberikan insentif kepada petani yang menggunakan teknologi hemat air dan tanaman tahan kekeringan, serta menyediakan pelatihan manajemen sumber daya air dan praktik pertanian adaptif. Peningkatan kerangka kebijakan dan pengawasan, seperti kebijakan pengelolaan air yang komprehensif dan diversifikasi ekonomi lokal, dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pertanian intensif air dan meningkatkan ketahanan ekonomi petani. Pendekatan ini akan mendukung keberlanjutan pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menjaga keberlanjutan sumber daya air di masa depan.

(14)

PERTANYAAN BESERTA JAWABAANYA

Kelompok 1

Penjawab: Ratna Dewi Sri Wahyuni (E32123175)

1. Dari tiga solusi dan kebijakan yang kalian berikan, manakah yang paling efektif diterapkan di Balaroa untuk mengatasi kelangkaan air tersebut?

Jawaban: Dari 3 solusi dan kebijakan yang kami berikan tersebut yang paling efektif adalah Irigasi Hemat Air. Karena Irigasi hemat air tersebut sistem penyiraman tanaman yang dirancang untuk meminimalkan penggunaan air dengan cara yang lebih efisien. Teknik ini mengalirkan air langsung ke akar tanaman atau ke area tertentu, mengurangi penguapan dan pemborosan. Contoh irigasi hemat air termasuk irigasi tetes (drip irrigation) dan penggunaan sensor kelembaban tanah untuk mengatur jadwal penyiraman. Tujuan utamanya adalah meningkatkan hasil pertanian sambil menghemat sumber daya air.

Kelompok 2

Penjawab: Agung tambalang (E32123246)

1. Bagaimana kondisi terkini ketersediaan Air di Balaroa dan upaya apa yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat

Jawaban: Ketersediaan air bersih di Balaroa, Palu, masih menjadi masalah yang mendesak bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di Hunian Tetap (Huntap) setelah bencana gempa bumi dan tsunami 2018. Beberapa wilayah di Huntap ini menghadapi kesulitan dalam akses air bersih karena kendala geografis dan teknis, termasuk keberatan dari warga di Sigi mengenai sumber air yang digunakan untuk suplai ke Balaroa. Upaya pengeboran juga terkendala karena kondisi tanah yang berbatu, menyulitkan pembuatan sumur atau sumber air lokal yang stabil.

Sebagai langkah jangka pendek, pemerintah menyediakan air bersih dengan mobil tangki.

Namun, ini bukan solusi yang berkelanjutan. Pemerintah Kota Palu berencana mengadakan

(15)

Penjawab: Ratna Dewi Sri Wahyuni (E32123175)

2. apa saja kendala yang dihadapi dalam mengatasi masalah kelangkaan air di Balaroa

Jawaban: Beberapa kendala yang dihadapi dalam mengatasi masalah kelangkaan air di Balaroa,yaitu:

1. Kerusakan Infrastruktur.

2. Sumber Air yang Terbatas.

3. Akses ke Air Bersih.

4. Minimnya Teknologi dan Sumber Daya.

5. Pendanaan dan Koordinasi.

6. Perubahan Iklim.

Upaya untuk mengatasi kendala ini memerlukan perencanaan dan kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, organisasi internasional, serta komunitas lokal.

Kelompok 4

Penjawab: Kiky wahyuda (E32123223)

1. Menurut teman-teman kelompok tiga, kalian membahas bahwa 2018 (bencana palu) salah satu faktor terhambat nya pasokan air dan itu sudah lima tahun lalu. Apakah tidak ada tindakan dari pemerintah untuk meminimalisir masalah air ini?

Jawaban: Bencana Palu pada tahun 2018 memang berdampak signifikan terhadap infrastruktur, termasuk sistem pasokan air. Hingga saat ini, beberapa langkah telah diambil, namun tantangan tetap ada.

 Tindakan Pemerintah

1) Rehabilitasi Infrastruktur: Pemerintah telah melakukan upaya untuk memperbaiki infrastruktur pasokan air yang rusak akibat gempa dan tsunami, termasuk pembangunan kembali sistem pipa dan fasilitas penyimpanan.

2) Program Penanganan Bencana: Implementasi program mitigasi bencana untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam di masa depan, termasuk penguatan sistem air bersih.

3) Pembangunan Sumur dan Sumber Air Alternatif: Pembangunan sumur baru dan sistem pengumpulan air hujan untuk meningkatkan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

4) Kerjasama dengan NGO:Kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mendistribusikan air bersih dan mendukung program sanitasi.

(16)

 Tantangan yang Dihadapi

1) Pendanaan: Keterbatasan anggaran untuk rehabilitasi infrastruktur dan pengembangan sistem pasokan air yang lebih baik.

2) Keterbatasan Sumber Daya: Kesulitan dalam pengelolaan sumber daya air yang ada, termasuk pengawasan dan pemeliharaan yang kurang.

3) Pertumbuhan Penduduk: Meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan air yang tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia.

4) Perubahan Iklim: Perubahan cuaca yang ekstrem dapat mempengaruhi ketersediaan air, terutama di daerah yang sebelumnya sudah rentan.

Kelompok 5

Penjawab: yulfiani (E32123228)

1. Bagaimana dampak kelangkaan air terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Balaroa?

Jawaban:Berikut dampak kelangkaan air terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Balaroa

1) Dampak Sosial

Kelangkaan air memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial masyarakat Balaroa. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya ketegangan antarwarga. Dalam situasi di mana air menjadi barang berharga, persaingan untuk mendapatkan akses air bersih dapat menyebabkan konflik. Misalnya, saat musim kemarau, sumber-sumber air seperti sumur atau sungai menjadi kering, dan masyarakat harus berebut untuk mendapatkan air dari sumber yang tersisa. Hal ini dapat menciptakan ketidakadilan sosial, di mana kelompok tertentu lebih beruntung dalam mendapatkan akses air, sementara kelompok lainnya terpinggirkan.

Selain konflik, kelangkaan air juga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.

Kurangnya akses air bersih dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti penyakit diare, yang biasanya meningkat dalam kondisi sanitasi yang buruk. Menurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO), penyakit yang ditularkan melalui air kotor bisa menjadi penyebab

(17)

2) Dampak Ekonomi

Dari segi ekonomi, dampak kelangkaan air di Balaroa sangat merugikan. Pertanian, yang menjadi sumber mata pencaharian utama bagi banyak warga, sangat tergantung pada ketersediaan air. Tanpa air yang cukup, hasil pertanian akan menurun, yang menyebabkan pendapatan petani ikut menurun. Penurunan hasil panen juga dapat memicu inflasi harga pangan, yang berdampak pada daya beli masyarakat.

Tak hanya pertanian, industri kecil dan menengah di Balaroa juga terpengaruh. Banyak usaha kecil yang bergantung pada air untuk produksi, dan dengan kelangkaan air, mereka terpaksa mengurangi skala produksi atau bahkan menghentikan operasi. Hal ini dapat berujung pada peningkatan angka pengangguran di wilayah tersebut.

2. Bagaimana perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan air di Balaroa, dan apa langkah mitigari yang dapat di ambil?

Jawaban: Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini, dan dampaknya sangat terasa di berbagai aspek kehidupan, termasuk ketersediaan air. Balaroa, yang terletak di Sulawesi Tengah, Indonesia, tidak luput dari dampak ini. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan air di Balaroa dan langkah-langkah mitigasi yang dapat diambil.

1) Dampak Perubahan Iklim terhadap Ketersediaan Air

 Perubahan Pola Curah Hujan: Salah satu dampak paling langsung dari perubahan iklim adalah perubahan pola curah hujan. Di Balaroa, perubahan ini dapat menyebabkan musim hujan yang lebih intens dan musim kering yang lebih panjang. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di wilayah ini menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Intensitas hujan yang tinggi dapat menyebabkan banjir, sedangkan musim kering yang berkepanjangan dapat mengakibatkan kekeringan.

 Penurunan Kualitas Air: Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi kualitas sumber daya air. Peningkatan suhu dapat memperburuk kualitas air, membuatnya lebih rentan terhadap pencemaran. Di Balaroa, kegiatan pertanian yang intensif dan urbanisasi dapat memperburuk masalah ini. Pencemaran dari limbah pertanian dan domestik dapat mencemari sumber air, mengurangi ketersediaan air bersih untuk penduduk.

(18)

 Dampak pada Ekosistem: Ketersediaan air tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologis, tetapi juga oleh kesehatan ekosistem. Perubahan iklim dapat mengganggu ekosistem alami yang berfungsi menjaga siklus air. Penebangan hutan dan konversi lahan untuk pertanian dapat mengurangi kemampuan alam untuk menyerap dan menyimpan air, yang pada gilirannya mempengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat.

2) Langkah Mitigasi yang Dapat Diambil

 Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan: Penting untuk menerapkan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Ini dapat mencakup pembangunan infrastruktur penyimpanan air, seperti bendungan dan waduk, serta sistem irigasi yang efisien untuk pertanian.

Kelompok 6

Penjawab: Kiky wahyuda (E32123223)

1. Bagaimana cara mengatasi kelangkaan air sehingga tidak mempengaruhi kenaikan harga di kawasan tersebut?

Jawaban: Mengatasi kelangkaan air untuk mencegah kenaikan harga di suatu kawasan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:

1) Pengelolaan Sumber Daya Air

 Konservasi Air: Mendorong praktik hemat air di rumah tangga dan industri, seperti penggunaan peralatan hemat air.

 Pengelolaan Watershed*: Melakukan rehabilitasi dan konservasi daerah tangkapan air untuk meningkatkan resapan dan kualitas air.

2) Teknologi Irigasi Efisien

 Irigasi Tetes: Menggunakan sistem irigasi yang memberikan air langsung ke akar tanaman, mengurangi pemborosan.

(19)

3) Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

 Program Edukasi: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi air dan cara- cara untuk menghemat penggunaan air.

 Kampanye Kesadaran: Melaksanakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga sumber daya air.

4) Diversifikasi Sumber Air

 Desalinasi: Mempertimbangkan teknologi desalinasi untuk memanfaatkan air laut, terutama di daerah pesisir.

 Pengolahan Air Limbah: Mengolah kembali air limbah untuk keperluan non-potable, seperti irigasi atau penggunaan industri.

5) Kebijakan dan Regulasi

 Pengaturan Penggunaan Air: Menerapkan regulasi untuk penggunaan air yang lebih efisien dalam pertanian dan industri.

 Insentif untuk Praktik Berkelanjutan: Memberikan insentif kepada petani dan industri yang menerapkan teknik pengelolaan air yang efesien

(20)

DAFTAR PUSTAKA

BPS Provinsi Sulawesi Tengah. 2022. Provinsi Sulawesi Tengah Dalam Angka 2022. Palu: BPS Provinsi Sulawesi Tengah.

BPS Provinsi Sulawesi Tengah. 2023. Provinsi Sulawesi Tengah Dalam Angka 2023. Palu: BPS Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasani Abdulazizi Cahyadi, Dkk,2024 ,MODEL PREDIKSI KADAR AIR MEDIA TANAM MENGGUNAKAN ALGORITMA REGRESI DECISION TREE, SUPPORT VECTOR MACHINE, DAN RANDOM FOREST (STUDI KASUS GREENHOUSE CABAI RAWIT DI KEBUN EDUKASI EPTILU MITRA HABIBI GARDEN)

Referensi

Dokumen terkait