• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 21 REVIEW JURNAL

N/A
N/A
Juwita Sari br Hutagalung

Academic year: 2025

Membagikan "KELOMPOK 21 REVIEW JURNAL"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

REVIEW JURNAL: ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI KUBIS DENGAN PERBANDINGAN LIMA

JURNAL PEMBANDING

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Produksi Pertanian

Dosen Pengampu: Dr. Lindawati, S.P., M.Si.

Disusun Oleh:

AGRIBISNIS 1 KELOMPOK 21

1. Juwita Sari Br. Hutagalung (230304005)

2. Nurul Fuadah (230304123)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2025

(2)

Review Jurnal: Analisis Efisiensi Teknis Usahatani Kubis Dengan Perbandingan Lima Jurnal Pembanding

Judul Analisis Efisiensi Teknis, Alokatif, dan Ekonomi Produksi Kubis di Kabupaten Karo

Nama Jurnal Jurnal Agrica

Volume dan Halaman Vol. 14 No. 2, halaman 116 – 130

Tahun 2021

Penulis Esra F. Karo-Karo, Dominicus Savio Priyarsono, Sri Hartoyo

Reviewer Juwita Sari Br. Hutagalung dan Nurul Fuadah Tanggal Review 01 Maret 2025

(3)

Latar Belakang

Kubis merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan Indonesia.

Menurut Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2019), tahun 2014-2018 Indonesia paling banyak mengekspor kubis dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya. Selain permintaan ekspor yang tinggi kondisi alam Indonesia yang sesuai/cocok menjadikan kubis potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Kabupaten Karo di Sumatera Utara merupakan salah satu daerah utama penghasil kubis di Indonesia. Kubis dari daerah ini memiliki potensi pasar yang besar, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor ke negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. Permintaan pasar yang tinggi seharusnya menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi dan pendapatan mereka. Namun, kenyataannya, produktivitas usahatani kubis di Kabupaten Karo masih tergolong rendah dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera, seperti Bengkulu dan Sumatera Barat.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Kabupaten Karo menguasai sekitar 54% produksi kubis di Sumatera Utara. Namun, tingkat produktivitas kubis di daerah ini hanya sekitar 22,60 ton per hektar, lebih rendah dibandingkan dengan Bengkulu (35,24 ton/ha) dan Sumatera Barat (31,13 ton/ha).

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun luas lahan cukup besar, pemanfaatan sumber daya dalam usahatani kubis di Kabupaten Karo masih belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi yang masih rendah dalam sistem produksi petani.

Ketidakefisienan dalam produksi kubis menjadi faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas. Produktivitas yang rendah akan menjadi masalah utama. Ketidakmampuan petani dalam mengelola penggunaan imput secara baik dan efisien sering kali menyebabkan petani kehilangan keuntungan dari beban biaya produksi. Hal ini disebabkan karena keterbatasan pendidikan dan keterampilan petani. Tersedianya informasi mengenai tingkat efisiensi penggunaan input produksi usahatani kubis sangat penting untuk petani. Dimana informasi ini akan digunakan sebagai rujukan dalam mengelola usahatani, sehingga mengurangi

(4)

inefisiensi atau pemborosan dalam penggunaan imput produksi. Dengan menggunakan input yang lebih efisien maka petani dapat meningkatkan pendapatan usahataninya.

Selain tantangan dalam efisiensi, petani di Kabupaten Karo juga menghadapi risiko lain seperti bencana alam. Letusan Gunung Sinabung pada tahun 2010 menyebabkan terganggunya produksi pertanian, termasuk kubis. Meskipun sejak tahun 2011 produksi kubis mulai meningkat kembali, tingkat produktivitasnya masih belum mencapai angka optimal seperti sebelum bencana terjadi, yaitu 36 ton per hektar.

Dalam dunia pertanian, efisiensi menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Efisiensi teknis menunjukkan sejauh mana petani dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sementara itu, efisiensi alokatif berhubungan dengan bagaimana petani menggunakan sumber daya dengan kombinasi yang tepat untuk mencapai keuntungan maksimal. Jika kedua aspek ini dapat ditingkatkan, maka efisiensi ekonomi juga akan meningkat, sehingga petani dapat memperoleh hasil yang lebih baik tanpa harus meningkatkan biaya produksi secara berlebihan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi dalam usahatani kubis di Kabupaten Karo serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi teknis. Dengan mengetahui faktor penyebab ketidakefisienan, dapat dirumuskan kebijakan atau rekomendasi yang tepat, seperti peningkatan akses petani terhadap pelatihan dan penyuluhan pertanian, penguatan kelembagaan tani, serta pemanfaatan teknologi pertanian yang lebih baik. Diharapkan, dengan adanya langkah-langkah ini, produktivitas kubis di Kabupaten Karo dapat meningkat dan kesejahteraan petani dapat lebih terjamin.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo yaitu pada dua desa yaitu Desa Suka dan Desa Tigapanah yang merupakan sentra

(5)

produksi kubis yang merupakan salah satu daerah utama penghasil kubis di Sumatera Utara. Lokasi ini dipilih karena memiliki banyak petani kubis dan luas lahan pertanian yang cukup besar. Penelitian ini berlangsung selama Februari hingga Juni 2020, dengan pengumpulan data langsung dari petani kubis di daerah tersebut. Penelitian in melibatkan 116 petani kubis untuk menjadi sampelnya.

Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling atau memilih petani sesuai kriteria untuk tujuan penelitian. Adapun kriteria petaninya yang sesuai tujuan penelitian:

1. Luas lahan ≤ 2 hektar.

2. Tidak menggunakan mulsa.

3. Tidak memiliki traktor mesin.

4. Monokultur.

5. Jenis bibitnya Green nova atau Grand 11.

6. Berdomisili di Desa Suka dan Tigapanah.

7. Tidak merangkap tengkulak kubis.

8. Produktif 1 tahun sebelum diteliti.

Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu data primer cross-section dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari petani melalui wawancara menggunakan kuesioner, yang berisi informasi mengenai luas lahan, penggunaan pupuk dan pestisida, jumlah tenaga kerja, hasil panen, serta faktor sosial-ekonomi seperti usia petani, pengalaman bertani, dan keanggotaan dalam kelompok tani.

Data sekunder diambil dari sumber lain, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, serta penelitian terdahulu yang relevan untuk memperkuat hasil analisis.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model fungsi produksi Cobb-Douglas. Model ini dipilih karena dapat mengukur tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi dalam usahatani kubis. Stochastic Frontier Analysis (SFA) memungkinkan penelitian ini untuk tidak hanya melihat hubungan antara input dan output produksi, tetapi juga mengidentifikasi tingkat ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya. Analisis ini mempertimbangkan beberapa asumsi, di antaranya pasar dalam kondisi

(6)

persaingan sempurna, parameter produksi bersifat tetap, teknologi yang digunakan seragam, dan tidak ada pengaruh waktu.

Selain itu, penelitian ini juga menggunakan analisis fungsi biaya dual untuk mengukur efisiensi alokatif dan ekonomi. Pendekatan ini mengestimasi sejauh mana petani telah menggunakan input dengan proporsi yang optimal berdasarkan harga relatifnya. Efisiensi ekonomi diukur sebagai kombinasi antara efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Dalam model produksi ini, variabel input yang dianalisis mencakup luas lahan, jumlah pupuk organik dan anorganik, jumlah pestisida padat dan cair, serta jumlah tenaga kerja. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis mencakup usia petani, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, rasio tenaga kerja keluarga dan non-keluarga, usia panen kubis, serta frekuensi tanam dan pengendalian hama.

Pengujian parameter dilakukan dalam dua tahap, yaitu menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk pendugaan awal parameter, lalu metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk estimasi parameter secara keseluruhan. Tahap pertama adalah estimasi fungsi produksi Cobb-Douglas menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk melihat hubungan antara input produksi (lahan, pupuk, pestisida, tenaga kerja) dan output produksi (jumlah panen kubis). Tahap kedua adalah pengukuran efisiensi teknis menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk mengetahui apakah petani sudah menggunakan sumber daya secara optimal atau masih terdapat inefisiensi. Tahap ketiga adalah pengukuran efisiensi alokatif dan ekonomi, yang menggunakan Indeks Kopp untuk menentukan apakah petani telah mengalokasikan sumber daya dengan cara yang paling menguntungkan berdasarkan harga input dan output di pasar.

Hasil analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana petani kubis di Kabupaten Karo telah menggunakan sumber daya mereka secara efisien. Efisiensi teknis berkaitan dengan kemampuan petani dalam mengoptimalkan input yang tersedia, efisiensi alokatif melihat apakah penggunaan input sudah sesuai dengan harga pasar, sementara efisiensi ekonomi mencerminkan kombinasi dari kedua aspek tersebut. Dengan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi

(7)

bagi petani dan pembuat kebijakan agar efisiensi usahatani kubis dapat ditingkatkan.

Secara keseluruhan, metodologi dalam penelitian ini sudah sesuai dan relevan untuk mengukur efisiensi usahatani kubis di Kabupaten Karo. Penggunaan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model Cobb-Douglas memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan metode regresi biasa karena dapat mengidentifikasi tingkat efisiensi serta penyebab utama inefisiensi. Namun, penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti cakupan wilayah yang hanya mencakup dua desa, serta kurangnya pertimbangan terhadap faktor eksternal seperti fluktuasi harga pupuk, perubahan cuaca, dan akses pasar. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan cakupan wilayah yang lebih luas serta mempertimbangkan faktor eksternal akan memberikan hasil yang lebih komprehensif dan aplikatif bagi petani kubis di Kabupaten Karo.

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kubis di Kabupaten Karo belum mencapai efisiensi secara teknis, alokatif, maupun ekonomi. Dimana berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA), rata-rata nilai efisiensi teknis petani adalah 0,697 (69,7%), efisiensi alokatif 0,374, dan efisiensi ekonomi 0,215. Nilai ini mengindikasikan bahwa petani kubis di daerah penelitian masih mengalami ketidakefisienan dalam produksi, baik dalam pemanfaatan sumber daya maupun dalam pengalokasian biaya produksi. Dari segi efisiensi teknis, sebagian besar petani belum mampu mencapai efisiensi maksimal.

Hanya sekitar 31% petani yang memiliki efisiensi teknis di atas 0,80, sementara sisanya masih berada di bawah angka tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak petani yang belum menggunakan input produksi secara optimal, sehingga produktivitas mereka belum maksimal.

Penelitian ini juga menemukan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kubis di Kabupaten Karo belum mencapai efisiensi secara teknis, alokatif, maupun ekonomi. Rata-rata nilai efisiensi teknis petani adalah 0,697,

(8)

efisiensi alokatif 0,374, dan efisiensi ekonomi 0,215. Nilai ini mengindikasikan bahwa petani kubis di daerah penelitian masih mengalami ketidakefisienan dalam produksi, baik dalam pemanfaatan sumber daya maupun dalam pengalokasian biaya produksi. Dari segi efisiensi teknis, sebagian besar petani belum mampu mencapai efisiensi maksimal. Hanya sekitar 31% petani yang memiliki efisiensi teknis di atas 0,80, sementara sisanya masih berada di bawah angka tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak petani yang belum menggunakan input produksi secara optimal, sehingga produktivitas mereka belum maksimal.

Dalam aspek efisiensi alokatif, nilai rata-rata sebesar 0,374 menunjukkan bahwa petani belum mengalokasikan sumber daya secara optimal sesuai dengan harga pasar. Artinya, petani masih menggunakan input produksi dengan cara yang tidak efisien dalam hal biaya, sehingga mereka belum mencapai keuntungan yang maksimal. Sementara itu, efisiensi ekonomi memiliki nilai yang paling rendah, yaitu 0,215. Ini berarti bahwa petani di Kabupaten Karo masih jauh dari kondisi ideal dalam mengelola usaha tani mereka secara efisien dari sisi teknis maupun biaya. Penelitian ini juga menemukan beberapa faktor utama yang mempengaruhi efisiensi teknis dalam usahatani kubis di Kabupaten Karo. Faktor-faktor tersebut meliputi pengalaman bertani, rasio tenaga kerja dalam keluarga, status kepemilikan lahan, dan usia panen kubis. Pengalaman bertani memiliki pengaruh positif terhadap efisiensi teknis, yang berarti bahwa semakin lama petani berkecimpung dalam usaha tani kubis, semakin efisien mereka dalam mengelola input dan proses produksi.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis meliputi faktor positif (meningkatkan efisiensi teknis) melalui pengalaman bertani, rasio tenaga kerja luar keluarga terhadap tenaga kerja total, status kepemilikan lahan. Faktor negatif (mengurangi efisiensi teknis) kurangnya keanggotaan dalam kelompok tani, kurangnya akses terhadap teknologi pertanian, usia petani yang lebih tua, dan kurangnya keterampilan manajerial petani. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan tenaga kerja sebesar 10% dapat meningkatkan produksi batas sebesar 12,1%, yang menunjukkan bahwa tenaga kerja masih memiliki kontribusi yang signifikan dalam produksi kubis.

(9)

Dalam analisis lebih lanjut, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang menyebabkan rendahnya efisiensi usahatani kubis di Kabupaten Karo. Salah satunya adalah minimnya akses petani terhadap teknologi pertanian yang lebih modern. Banyak petani masih menggunakan metode tradisional dalam bertani, yang menyebabkan hasil panen mereka tidak optimal. Selain itu, kurangnya pelatihan dan penyuluhan pertanian yang terstruktur juga menjadi faktor yang mempengaruhi efisiensi. Banyak petani tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai teknik bertani yang lebih baik, penggunaan pupuk yang optimal, dan strategi dalam usahatani kubis di Kabupaten Karo. Faktor-faktor tersebut meliputi pengalaman bertani, rasio tenaga kerja dalam keluarga, status kepemilikan lahan, dan usia panen kubis. Pengalaman bertani memiliki pengaruh positif terhadap efisiensi teknis, yang berarti bahwa semakin lama petani berkecimpung dalam usaha tani kubis, semakin efisien mereka dalam mengelola input dan proses produksi.

Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, faktor usia petani dan pengalaman bertani memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efisiensi teknis.

Petani yang lebih berpengalaman cenderung lebih efisien, sementara petani yang lebih tua memiliki kecenderungan kurang adaptif terhadap perubahan teknologi.

Efisiensi alokatif yang rendah juga menunjukkan bahwa petani belum dapat menyesuaikan penggunaan input berdasarkan harga input dan keuntungan yang diperoleh. Ini menunjukkan perlunya pelatihan dan pendampingan bagi petani dalam pengelolaan sumber daya yang lebih optimal.

Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang menyebabkan rendahnya efisiensi usahatani kubis di Kabupaten Karo. Salah satunya adalah minimnya akses petani terhadap teknologi pertanian yang lebih modern. Banyak petani masih menggunakan metode tradisional dalam bertani, yang menyebabkan hasil panen mereka tidak optimal. Selain itu, kurangnya pelatihan dan penyuluhan pertanian yang terstruktur juga menjadi faktor yang mempengaruhi efisiensi.

Banyak petani tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai teknik bertani yang lebih baik, penggunaan pupuk yang optimal, dan strategi untuk mengurangi biaya produksi.

(10)

Kelebihan:

Jurnal ini memiliki keunggulan dalam pendekatan metodologi yang digunakan. Stochastic Frontier Analysis (SFA) dan fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan metode yang sudah banyak digunakan dalam studi efisiensi pertanian dan terbukti mampu memberikan hasil analisis yang akurat. Selain itu, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini cukup besar, yaitu 116 petani, yang membuat hasil penelitian lebih representatif terhadap kondisi nyata di lapangan.

Dengan menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) yang tepat untuk menganalisis tingkat efesiensi petani. Jumlah sampel yang digunakan juga sangat cukup yakni sebanyak 116 petani sehingga hasil penelitian ini lebih mewakili kondisi lapangan. Tidak hanya itu, jurnal ini juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi efesiensi seperti pengalaman bertani, kepemilikan lahan dan penggunaan tenaga kerja.

Selain itu, jurnal ini tidak hanya membahas efisiensi teknis, tetapi juga efisiensi alokatif dan ekonomi, yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas usahatani kubis di Kabupaten Karo. Hasil penelitian juga memberikan rekomendasi yang konkret mengenai faktor-faktor yang harus diperbaiki agar petani dapat meningkatkan produktivitas mereka.

Kekurangan:

Salah satu kelemahan jurnal ini adalah tidak menggunakan pendekatan R/C Ratio, yang sebenarnya bisa menjadi tambahan informasi penting dalam menilai kelayakan ekonomi usahatani kubis. Kurangnya pembahasan faktor eksternal seperti perubahan harga input-output, kondisi cuaca dan akses pasar yang bisa mempengaruhi efesiensi teknis.

Tidak hanya itu, cakupan wilayahnya terbatas sehingga kurang mencerminkan kondisi petani di daerah lain. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa keanggotaan kelompok tani memiliki dampak signifikan terhadap efisiensi teknis, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih dalam mengenai bagaimana mekanisme kelompok tani dapat membantu meningkatkan efisiensi.

(11)
(12)

PERBANDINGAN HASIL DAN METODE DARI JURNAL YANG DIREVIEW DENGAN LIMA JURNAL PENDUKUNG

Jurnal yang Direview

Jurnal utama yang direview berjudul Analisis Efisiensi Teknis, Alokatif, dan Ekonomi Produksi Kubis di Kabupaten Karo. Penelitian ini menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model Cobb-Douglas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi teknis usahatani kubis di Kabupaten Karo belum optimal. Rata-rata efisiensi teknis petani kubis hanya mencapai 69,7%, yang berarti masih ada potensi peningkatan produksi hingga 30,3% jika petani dapat menggunakan input produksi secara lebih efisien. Dari aspek efisiensi alokatif, penelitian ini menemukan bahwa petani masih kurang optimal dalam mengalokasikan input produksi sesuai dengan harga pasar. Hal ini menyebabkan efisiensi ekonomi hanya mencapai 21,5%, yang menunjukkan bahwa masih banyak petani yang belum memanfaatkan sumber daya dengan biaya yang paling efisien.

Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis dalam usahatani kubis antara lain usia petani, pengalaman bertani, status kepemilikan lahan, serta jumlah tenaga kerja. Pengalaman bertani berpengaruh positif, yang berarti semakin lama seorang petani berkecimpung dalam usaha tani kubis, semakin efisien dia dalam mengelola input produksinya. Sebaliknya, status kepemilikan lahan juga mempengaruhi efisiensi, di mana petani yang memiliki lahan sendiri cenderung lebih efisien dibandingkan petani yang menyewa lahan. Dalam konteks efisiensi alokatif dan ekonomi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani masih menghadapi kendala dalam mendapatkan akses terhadap teknologi pertanian dan informasi mengenai penggunaan input yang efisien. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan penyuluhan pertanian agar petani dapat meningkatkan efisiensi dalam usahatani mereka.

(13)

Lima Jurnal Pendukung:

1. Analisis Efisiensi Teknis Usahatani Kubis Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Penelitian di Kabupaten Agam juga menggunakan metode SFA dengan model Cobb-Douglas dan menemukan bahwa efisiensi teknis berada pada angka 68%, yang artinya usahatani kubis di Kabupaten Agam kurang efisien, ini hampir sama dengan penelitian di Kabupaten Karo.

Faktor utama yang mempengaruhi efisiensi di Kabupaten Agam adalah usia petani yang lebih tua, tingkat pengalaman bertani, dan keanggotaan dalam kelompok tani.

Jika dibandingkan dengan jurnal yang direview, ditemukan kesamaan dalam hal penyebab utama inefisiensi teknis. Di kedua daerah, faktor usia petani yang lebih tua berdampak negatif terhadap efisiensi, sementara pengalaman bertani dan keanggotaan dalam kelompok tani berkontribusi positif. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memperkuat temuan bahwa meningkatkan keanggotaan petani dalam kelompok tani serta memberikan pelatihan manajemen usaha tani dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi teknis.

Di Kabupaten Agam ditemukan bahwa efesiensi teknis usahatani kubis masih rendah yaitu 68% yang menjadi faktor utama efesiensinya adalah usia petani, pengalaman bertani, dan keanggotaan dalam kelompok tani. Dalam konteks Kabupaten Karo, langkah-langkah seperti memperluas akses petani terhadap kelompok tani dan meningkatkan keterampilan manajerial dapat membantu mengatasi permasalahan efisiensi. Selain itu, meningkatkan adopsi teknologi modern juga bisa menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan efisiensi teknis secara keseluruhan

2. Pendapatan Dan Efisiensi Teknis Usahatani Kubis Di Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus

(14)

Jurnal ini membandingkan efisiensi teknis usahatani kubis antara lahan sawah dan lahan tegalan di Kecamatan Sumberejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis lahan sawah sebesar 71% dan lahan tegalan sebesar 61,01%. Ini menunjukkan bahwa lahan sawah lebih efisien dibandingkan dengan lahan tegalan, terutama karena faktor ketersediaan air yang lebih baik. Namun belum efisiensi secara teknis, baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan.

Jika dibandingkan dengan jurnal utama, yang menunjukkan efisiensi teknis sebesar 69,7%, hasil penelitian ini memberikan perspektif tambahan bahwa faktor lingkungan, seperti jenis lahan dan akses air, juga mempengaruhi efisiensi teknis. Selain itu, jurnal ini menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis adalah biaya usahatani (negatif), pendidikan petani (positif), dan pengalaman bertani (positif), yang sejalan dengan temuan di jurnal utama.

Dalam penelitian ini, teknik perhitungan efisiensi teknis dilakukan menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model Cobb- Douglas, mirip dengan jurnal utama. SFA digunakan untuk mengukur efisiensi dari sisi output dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi. Pengukuran dilakukan dengan pendekatan Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk mengestimasi parameter model dan menentukan tingkat efisiensi masing-masing petani berdasarkan fungsi produksi frontier. Dengan demikian, eknik yang digunakan dalam jurnal ini sejalan dengan jurnal utama tetapi lebih menitikberatkan pada perbedaan efisiensi antara jenis lahan, yang memberikan wawasan tambahan mengenai pengaruh kondisi lingkungan terhadap produktivitas usahatani kubis. Faktor paling berpengaruh terhadap efesiensi teknis adalah biaya usahatani, tingkat pendidikan petani dan pengalaman bertani.

3. Analisis Efisiensi Usahatani Kubis (Brassica Oleracea) Di Desa Sukomakmur Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang

(15)

Jurnal ini menggunakan metode Cobb-Douglas dengan pendekatan efisiensi alokatif, yang berbeda dengan jurnal utama yang lebih menekankan pada efisiensi teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa input produksi seperti lahan, tenaga kerja wanita, pupuk NPK, dan pestisida telah dialokasikan secara efisien, sementara input lainnya seperti bibit, tenaga kerja pria, dan pupuk organik masih belum digunakan secara optimal. Selain itu, jurnal ini menemukan bahwa R/C ratio usaha tani kubis sebesar 2,16, yang berarti bahwa usaha tani kubis di Magelang menguntungkan dan memiliki efisiensi ekonomi yang lebih baik dibandingkan Kabupaten Karo. Sehingga usahatani kubis di Desa Sukomakmur Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang cukup efisien.

Jika dibandingkan dengan jurnal utama, efisiensi alokatif di Magelang jauh lebih tinggi daripada di Kabupaten Karo, di mana efisiensi alokatif hanya mencapai 37,4%. Ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Karo, alokasi input masih perlu diperbaiki agar lebih optimal dan menguntungkan. Oleh karena itu, petani di Kabupaten Karo dapat belajar dari pola distribusi input di Magelang dan mengadopsi strategi yang lebih efisien dalam penggunaan pupuk dan tenaga kerja. Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap efesiensi teknis adalah bibit unggul, tenaga kerja pria dan pupuk kotoran sapi. Dikatakan menjadi pendukung terhadap jurnal utama ini karena jurnal utama menemukan bahwa petani masih lebih efesien dalam alokasi sumberdaya dibandingkan dalam produksi dan menjelaskann pengaruh jenis input pertanian terhadap efesiensi teknis.

4. Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Pada Usahatani Sayur Kubis (Brassica Oleracea Var. Capitata L.) Di Desa Netpala Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan

Jurnal ini menggunakan metode Cobb-Douglas Production Function untuk melihat kondisi return to scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kubis di Timor Tengah Selatan mengalami Decreasing Return to Scale, yang berarti peningkatan input produksi tidak meningkatkan output secara proporsional. Peningkatan input hanya meningkatkan output sebesar

(16)

0,96%, yang sangat kecil dibandingkan dengan sumber daya yang digunakan oleh petani. Hal ini menunjukkan bahwa skala usaha yang lebih besar tidak selalu meningkatkan produktivitas jika tidak diiringi dengan efisiensi dalam penggunaan input. Hasil jurnal ini menjelaskan bahwa usahatani kubis mengalami decreasing return to scale dengan elastisitas produksi 0,96 yang berarti peningkatan input produksi sebesar 1% hanya menghasilkan output sebesar 0,96%. Faktor utama yang menyebabkan ketidakefesienan adalah penggunaan input yang berlebihan dan kurangnya optimalisasi teknologi. Dapat menjadi pendukung untuk jurnal utama ini karena menunjukkan bahwa penggunaan input yang tidak efesien bisa mengurangi efesiensi teknis.

Jika dibandingkan dengan jurnal utama, perbedaan yang paling mencolok adalah pada potensi peningkatan efisiensi. Di Kabupaten Karo, efisiensi teknis masih bisa ditingkatkan dengan mengoptimalkan penggunaan input dan meningkatkan keterampilan petani. Sementara itu, di Timor Tengah Selatan, usaha tani kubis telah mencapai batas efisiensi dalam skala produksinya. Oleh karena itu, solusi yang dapat diterapkan di Kabupaten Karo adalah menghindari kelebihan input yang tidak memberikan tambahan hasil yang signifikan, serta mengoptimalkan distribusi dan penggunaan sumber daya yang tersedia. Jika tidak, petani akan mengalami kondisi yang sama seperti di Timor Tengah Selatan, di mana investasi tambahan dalam input tidak memberikan hasil yang sebanding.

5. Analisis Efisiensi Teknis Dan Faktor Yang Mempengaruhi Efisiensi Pada Usaha Tani Kubis Di Desa Talang Belitar Kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong

Jurnal yang direview berfokus pada efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi dari usahatani kubis di Kabupaten Karo dengan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) menggunakan model Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi teknis rata-rata adalah 69,7%,

(17)

efisiensi alokatif 37,4%, dan efisiensi ekonomi hanya 21,5%, menunjukkan adanya potensi peningkatan dalam produksi kubis.

Jika dibandingkan dengan jurnal tentang efisiensi teknis kubis di Rejang Lebong, yang juga menggunakan SFA dengan model Cobb- Douglas, ditemukan bahwa tingkat efisiensi teknis di daerah tersebut jauh lebih tinggi, yaitu 91,2%. Perbedaan signifikan ini dapat dikaitkan dengan faktor adopsi teknologi dan pengelolaan input yang lebih baik di Rejang Lebong dibandingkan di Kabupaten Karo. Faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis di Rejang Lebong meliputi penggunaan pupuk organik, pestisida, dan tenaga kerja yang lebih optimal, sementara di Kabupaten Karo masih terdapat inefisiensi dalam distribusi sumber daya tersebut.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan efisiensi teknis di Kabupaten Karo, perlu dilakukan peningkatan keterampilan petani dalam mengelola sumber daya produksi, terutama dalam penggunaan pupuk dan tenaga kerja. Selain itu, akses terhadap teknologi pertanian yang lebih maju dan program penyuluhan yang lebih intensif perlu dikembangkan.

Dalam jurnal ini menjelaskan efesiensi teknis petani kubis mencapai 91,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Faktor yang meningkatkan efesiensi teknis adalah penggunaan teknologi modern dan sistem pertanian berbasis kelompok tani. Petani yang memanfaatkan alat pertanian modern cenderung lebih efesien dibandingkan yang tradisional.

Jika dikaitkan dengan jurnal utama, ini bisa menjadi pembanding karena menunjukkan bahwa efesien teknis bisa lebih tinggi dengan teknologi dan sistem pertanian yang lebih baik.

Kesimpulan

(18)

Berdasarkan analisis jurnal utama dan lima jurnal pembanding, dapat disimpulkan bahwa metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model Cobb-Douglas yang digunakan dalam jurnal utama cukup efektif dalam mengukur efisiensi teknis usahatani kubis. Metode ini mampu mengidentifikasi tingkat efisiensi dan faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi, namun memiliki keterbatasan dalam menangkap aspek eksternal seperti kebijakan pemerintah dan kondisi lingkungan. Efisiensi teknis usahatani kubis di Kabupaten Karo masih belum optimal, dengan rata-rata 69,7%, menunjukkan potensi peningkatan produktivitas sebesar 30,3%. Efisiensi alokatif dan ekonomi yang rendah mengindikasikan bahwa petani belum mengalokasikan sumber daya secara optimal. Faktor utama yang mempengaruhi efisiensi meliputi pengalaman bertani, kepemilikan lahan, rasio tenaga kerja, dan akses terhadap teknologi pertanian. Jurnal pendukung dari Kabupaten Agam, Tanggamus, Magelang, dan Timor Tengah Selatan menunjukkan kondisi serupa, sementara jurnal dari Rejang Lebong menunjukkan bahwa efisiensi teknis dapat meningkat hingga 91,2% dengan teknologi pertanian modern dan kelompok tani.

Dari perbandingan dengan jurnal lain, SFA terbukti efektif jika didukung oleh penggunaan input yang optimal dan adopsi teknologi yang baik, seperti yang terlihat pada penelitian di Rejang Lebong. Penelitian di Kabupaten Agam menegaskan bahwa pengalaman petani dan keanggotaan kelompok tani berperan penting dalam efisiensi teknis. Sebaliknya, penelitian di Timor Tengah Selatan yang menggunakan Cobb-Douglas Production Function menemukan adanya Decreasing Return to Scale, yang menunjukkan bahwa peningkatan input tidak selalu meningkatkan produksi secara signifikan. Jurnal di Magelang lebih menyoroti efisiensi alokatif, sedangkan jurnal di Sumberejo, Tanggamus mengombinasikan SFA dengan regresi, sehingga mampu menghubungkan efisiensi teknis dengan faktor sosial-ekonomi. Secara keseluruhan, metode SFA dengan model Cobb- Douglas efektif dalam mengukur efisiensi teknis.

Daftar Pustaka

(19)

Hidayati, R. (2018). Analisis efisiensi teknis usahatani kubis di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Jurnal Hexagro, 2(1), 292629.

Teftae, N., Pellokila, M. R., & Levis, L. R. (2022). Analisis Fungsi Produksi Cobb- Douglas Pada Usahatani Sayur Kubis (Brassica Oleracea Var. Capitata L.) Di Desa Netpala Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Buletin Ilmiah IMPAS, 23(3), 191-200.

Barus, E. F., Priyarsono, D. S., & Hartoyo, S. (2021). Analisi Efisiensi Teknis, Alokatif dan Ekonomi Produksi Kubis di Kabupaten Karo. Jurnal Agrica, 14(2), 116-130.

Sari, R. U., Wicaksono, I. A., & Utami, D. P. (2013). Analisis Efisiensi Usahatani Kubis (Brassica oleracea) di Desa Sukomakmur Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang. Surya Agritama, 2(1), 1-10.

Darmansyah, A. N., Sukiyono, K., & Sugiarti, S. (2013). Analisis efisiensi teknis dan faktor yang mempengaruhi efisiensi pada usaha tani kubis di Desa Talang Belitar Kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong.

Jurnal AGRISEP: Kajian Masalah Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 177-194.

Handayani, T. A., Prasmatiwi, F. E., & Nugraha, A. (2020). Pendapatan dan Efisiensi Teknis Usahatani kubis di Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus. Jurnal Ilmu Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science, 8(2), 264-271.

Referensi

Dokumen terkait

Secara rinci tujuan penelitian adalah sebagai berikut (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung dan tingkat efisiensi teknis dan alokatif usaha tani jagung

Penelitian ini bertujuan menganalisis (1) efisiensi teknis usaha tani cabai merah besar dan cabai merah keriting; (2) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi

Secara rinci tujuan penelitian adalah sebagai berikut (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung dan tingkat efisiensi teknis dan alokatif usaha tani jagung

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis usaha tani padi sistem tanam jajar legowo dan mengetahui faktor apa saja yang

REVIEW JURNAL : MAKNA METODOLOGI DALAM PENELITIAN Direview oleh : Mirza Gustavida 162022000036 Ilmu Komunikasi - FISIP UMSIDA Email : [email protected] Pendahuluan Tujuan

Tabel 16.Data Luas Tanaman Dalam Setahun Kecamatan Sukamulya Sumber: Data Monografi BPP Kaliasin 4.3.6 Komoditas Tanaman Pangan di Desa Bunar Kelompok Tani Sindang Asih 2

Sinaga, Sri Hartoyo, Pantjar Simatupang 113-134 EFISIENSI TEKNIS USAHA TANI BAWANG PUTIH POLA TUMPANG SARI Dl KABUPATEN KARANGANYAR, PROVINSI JAWA TENGAH F attiyah Rahmawati, Jamhari

 Ya, jurnal ini masuk dalam ilmu kependudukan karena dengan adanya perpindahan penduduk dapat mempengaruhi aspek ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan dimana hal itu dapat digunakan