KALIMAT
“d“Disusun untuk menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Bahasa Indonesia””
Disusun oleh : Disusun Oleh :
Muhammad Taufiq (2231017) Nia Ramadhani (2231028)
Dosen pengampu : Ibu Lili Liana,M.Pd
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
2022
/ KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Kalimat” ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Bahasa Indonesia. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Kalimat bagi para pembaca dan penulis.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada ibu dosen Lili Liana, M.Pd yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang penyusun tekuni. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari, makalah yang penyusun tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penyusun nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Petaling, 27 September 2022
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata PengantarKATA PENGANTAR...i
Daftar IsiDAFTAR ISI
...iiBAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...1B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisanembahasan...1
D. Manfaat Penulisan ... 2
BAB II : PEMBAHASAN
A. Definisi Kalimat... 3B. Pengertian Kalimat Menurut Para Ahli...3
C. Syarat Kalimat yang Baik...4
D. Unsur-Unsur Kalimat...5
E. Jenis-Jenis Kalimat... 8
BAB III : PENUTUP
A. SiKesimpulan...16B. Saran... 16
DAFTAR PUSTAKA
... 17BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lainnya dengan tujuan menyampaikan maksud dari isi pembicara. Bahasa tentu memiliki unsur atau aturan yang digunakan agar lebih mudah dipahami oleh lawan bicara. Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap (sumber:Liputan6.com).
Dari sisi berkomunikasi dengan orang lain, kita mengenal bahasa lisan dan bahasa tulisan. Kedua bahasa ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Penggunaan kalimat yang baik dan benar akan memudahkan pemahaman orang lain sehingga kesalahpahaman yang sering terjadi dapat terhindarkan.
Sering kita jumpai dalam karya ilmiah kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan antara lain, mungkin kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak memenuhi syarat. Berdasarkan pernyataan inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat dengan segala permasalahannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kalimat?
2. Apa saja unsur-unsur kalimat?
3. Apa ciri-ciri kalimat?
4. Apa syarat yang mendasari kalimat?
5. Apa saja jenis-jenis kalimat?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kalimat.
2. Untuk mengetahu apa saja unsur-unsur kalimat.
3. Untu mengetahui ciri-ciri kalimat.
4. Untuk mengetahui syarat-syarat yang mendasari kalimat 5. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis kalimat.
D. Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan penulisan yang ada, Maka manfaat penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui gambaran umum mengenai kalimat.
2. Memahami syarat yang mendasari sebuah kalimat 3. Paham tentang jenis-jenis dan unsur-unsur kalimat.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat
Kalimat adalah kumpulan kata-kata yang mempunyai arti dan suatu bahasa yang terdiri atas dua kata atau lebih yang memiliki suatu pengertian dan pola intonasi akhir.
Kalimat merupakan satuan bahasa yang mengandung suatu pikiran lengkap dalam sebuah kalimat paling kurang mengandung suatu subjek dan predikat. Kalimat dalam wujud lisan diucapkan dengan naik turun, dan keras lembut, disela jeda dan diakhiri dengan sebuah intonasi akhir. Dalam wujud tulisan dan huruf latin kalimat di mulai dengan sebuah huruf kapital dan diakhiri dengan sebuah tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).
Menurut Susilo (1990:2) mengungkapkan 5 ciri kalimat bahasa indonesia, yaitu : 1. Bermakna.
2. Bersistem urutan Frase
3. Bisa berdiri sendiri dalam hubungannya dengan suatu kalimat yang lain 4. Berjeda
5. Berhenti dengan berakhirnya sebuah intonasi
Namun, hal tersebut belum menjamin bahwa kalimat tersebut ialah kalimat bahasa indonesia baku.
B. Pengertian Kalimat menurut Para Ahli
Berikut ini adalah pengertian menurut para ahli, antara lain : 1. Kridalaksana (2001:92)
Kalimat menurut Kridalaksana (2001:92) merupakan sebagai suatu satuan bahasa yang setara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa; klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.
2. Keraf (1984:156)
Kalimat menurut keraf (1984 :156) menyatakan bahwa kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap.
3. Alwi dkk. (2000:311)
Kalimat menurut Alwi dkk., (2000:311) menyatakan bahwa, “Dalam wujud tulisan, kalimat diucapkan dalam suara naik-turun dan keras-lembut disela jeda,diakhiri intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan, baik asimilasi bunyi maupun proses fonologis lainnya”.
4. Dardjowidojo (1988 : 254)
Kalimat menurut Dardjowidojo (1988 :254) merupakan bagian terkecil dari suatu ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan.
5. Slametmuljana (1969)
Kalimat menurut slametmuljana (1969) adalah kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu, disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan: mungkin yang dipakai hanya satu kata, mungkin lebih.
C.
Syarat Kalimat yang BaikKalimat yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1. Tidak menyimpang dari kaidah bahasa
Kalimat yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa maksudnya adalah kalimat yang cermat baik dari segi pemilihan kata dan bentukan kata maupun susunan kalimatnya memenuhi aturan sintaksis yang benar. Sebaliknya, kalimat yang menyimpang dari kaidah bahasa, susunan kalimatnya tidak sesuai dengan aturan sintaksis yang benar.
Contoh : Jadwal diatas menunjukkan kereta api eksekutif Argo Lawu berangkat pada pukul 17.00 dari Gambir
2. Logis atau dapat diterima nalar
Kalimat juga harus logis atau dapat dinalar oleh akal. Meskipun secara gramatikal sesuai dengan kaidah namun jika tidak logis, kalimat tersebut tak akan dapat dipahami dengan baik bila disampaikan kepada orang lain.
Contoh : Anak-anak itu sedang asyik mengumpulkan pohonan.
3. Jelas dan dapat menyampaikan maksud dan pesan dengan tepat
Kalimat yang baik juga harus mengandung pengertian yang jelas, tidak membingungkan serta tidak menimbulkan penafsiran ganda atau ambigu. Tidak sedikit pula kita temui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh penutur mengandungpengertian ganda. Kalimat ini selain dapat membingungkan juga menimbulkan respons atau tanggapan yang tak sesuai karena tidak tersampaikannya pesan secara benar.
Contoh : Saya bingung melihat kelakuan anak itu.
D.
Unsur-Unsur KalimatSuatu kalimat terdiri atas beberapa unsur pembentukan kalimat. Kalimat setidaknya terdiri atas unsur subjek dan predikat.
Berikut adalah penjabaran mengenai unsur-unsur kalimat.
1. Subjek
Subjek adalah kata benda dalam sebuah kalimat yang dapat berupa nama orang, hewan, benda, sapaan, dan lain-lain.
Contoh subjek dalam suatu kalimat ditandai dengan kata yang dicetak tebal :
Gina adalah teman kami Nia adalah teman saya
Subjek memiliki delapan ciri sebagai berikut.
a. Kata atau frase biasanya berkelas kata benda (nomina), misalnya pada contoh pada kalimat “Ilmu Agama dibutuhkan bagi semua manusia”.
b. Nomina tidak pernah diawali oleh kata tugas (kata depan atau sambung) karena kata tugas mengubah fungsi nomina menjadi keterangan. Contoh kalimat yang menunjukkan penambahan kata tugas di kata benda akan menjadi keterangan
“Tentang Ilmu Kehutanan membahas mengenai kelestarian pepohonan di hutan.
c. Ada kata penunjuk (artikel) ini dan itu. Contoh, “Suara ini dikenal sebagai suara burung yang paling terancam punah di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”.
d. Subjek bukan tanda tanya
e. Adakalanya subjek bukan sebagai kata benda (nomina), namun pada umumnya diikuti artikel ini dan itu. Sebagai contoh pada kalimat “Beruang (itu)
f. Subjek dapat dicari dengan menggunakan kata tanya siapa dan apa
g. Subjek dapat ditambahkan akhiran -nya. Sebagai contoh “Masalahnya ialah tersangka tidak bisa digiring ke Polres untuk dimintai keterangan”.
h. Pada struktur bahasa indonesia, subjek pada umumnya berada pada awal kalimat.
2. Predikat
Predikat adalah bagian yang menandai apa yang telah diucapkan ataupun dituliskan oleh pihak pertama.
Contoh dalam kalimat adalah kata-kata yang dicetak tebal.
Merokok membahayakan kesehatan Keladi itu tumbuhan
Ciri-ciri predikat dalam sebuah kalimat adalah sebagai berikut : Pada umumnya predikat berada di sebelah kanan subjek.
a. Predikat menjalankan subjek sehingga kalimat menjadi bermakna, sebagai contoh
“Sektor kehutanan berkembang secara fluktuaktif”.
b. Predikat dapat berkategori kata kerja (verba), kata benda (nomina), kata depan (preposisi) atau kata sifat (adjektiva) sehingga predikat menyebabkan beberapa jenis kalimat tunggal.
c. Predikat mengisyaratkan perlu tidaknya kata lain di sebelah kanannya agar kalimat menjadi lebih lengkap.
d. Pada umumnya, predikat dapat dicari dengan menggunakan kata tanya bagaimana e. Predikat dapat diikuti partikel -lah. Contohnya pada kalimat “Tertawalah ia pada
saat malam itu”
3. Objek
Objek adalah sebuah hal atau perkara yang akan menjadi topik pembicaraan.
Fungsi objek adalah membentuk kalimat utama pada kalimat berpredikat transitif, memperjelas makna dalam sebuah kalimat, dan membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran dalam kalimat.
Ciri-ciri objek adalah sebagai berikut :
a. Objek berada di samping kanan predikat tanpa disisipi kata, kecuali pada kalimat pasif. Contoh “ITB mengadakan langkah-langkah pelestarian alam di sekitar kampus.
b. Kata atau frasa yang bisa menjadi objek berkelas kata benda, contohnya “Tingkat pendidikan petani yang rendah menyebabkan penguasaan teknologi”.
c. Objek dapat berpindah posisi menjadi subjek bila predikatnya diubah menjadi pasif, contohnya “pemerintah dapat menciptakan kondisi yang kondusif” menjadi
“kondisi yang kondusif dapat diciptakanoleh pemerintah”.
d. Objek dapat tersurat atau tersirat
e. Objek dapat diganti dengan akhiran -nya.
4. Pelengkap
Pelengkap adalah bagian frasa verbal yang membuatnya menjadi predikat lengkap dalam sebuah klausa. Fungsi pelengkap adalah melengkapi kalimat lainnya seperti subjek, predikat objek, dll agar kalimat tersebut dapat berdiri sendiri.
Ciri-ciri pelengkap adalah :
a. Pelengkap berkategori kata atau frasa nominal, verbal, atau adjektival.
b. Pelengkap berada setelah verba semitransif dan dwitransif. Contoh verba semitransif “Hal itu merupakan masalah besar” ; Contoh verba dwitransif “Pak Wirya menugasi mahasiswa membuat desain”.
c. Pelengkap dapat didahului oleh preposisi.
d. Pelengkap tidak dapat dipasifkan (jika dapat dipasifkan tidak dapat menjadi subjek).
5. Keterangan
Keterangan adalah sebuah bagian kalimat yang memiliki tujuan untuk memperjelas kalimat. Unsur keterangan memiliki fungsi untuk menambah informasi pada kalimat yang akan disajikan sehingga komunikasi mudah dipahami.
Tanpa unsur kalimat keterangan, informasi menjadi tidak jelas. Hal ini dapat ditemukan terutama dalam surat undangan, laporan penelitian dan informasi yang terkait dengan tempat, waktu, sebab, dan lain-lain.
Ciri-ciri unsur kalimat keterangan adalah :
a. Letaknya bisa berpindah-pindah. Misalnya “Hari ini kami akan praktik lapangan ke hutan” menjadi “Kami akan praktik lapangan hari ini ke hutan”.
b. Keterangan dapat dihilangkan dalam sebuah kalimat.
c. Biasanya, kata atau kelompok kata didahului kata depan.
E.
Jenis-Jenis Kalimat1. Jenis Kalimat Menurut Fungsinya
Kalimat dalam bahasa Indonesia, berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi kalimat pemyataan, kalimat perintah, dan kalimat seruan2.
a. Kalimat Pernyataan (Deklaratif).
Kalimat berita adalah kalimat yang dipakai untuk menyatakan suatu berita. Ciri- ciri kalimat berita, yaitu bersifat bebas, boleh langsung atau tak langsung,aktif atau pasif,tunggal atau majemuk, berintonasi menurun dan kalimatnya diakhiri tanda titik (.). Kalimat deklaratif berisi pemyataan sesuatu dengan lengkap untuk menyampaikan informasi kepada lawan komunikasinya. Contoh:
1) Menteri tenaga kerja mengadakan kunjungan ke beberapa pabrik baja di Surabaya.
2) Malaysia menggunakan bahasa Melayu dengan sistem bahasa yang berbeda b. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat ini digunakan untuk memperoleh informasi atau reaksi dari lawan komunikasi. Kalimat pertanyaan biasanya dipertegas dengan penyertaan tanda baca (tanda tanya). Contoh :
Positif
1) Kapan Saudara lulus sarjana?
2) Mengapa dia selalu bersikap tidak sopan?
Negatif
1) Mengapa mobil ini dirancang tidak menggunakan pengaman yang lengkap?
Mengapa kita tidak bisa hidup saling mengerti, memahami, dan menghargai sesama umat?
c. Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat ini digunakan jika pemakainya menyuruh atau melarang untuk berbuat sesuatu. Kalimat perintah dan permintaan ini secara umum dipertegas dengan menyertakan tanda baca (tanda seru). Contoh:
Positif.
1) Maukah kamu disuruh mengeijakan laporan itu!
2) Tolong selesaikan tugas membuat makalah itu lebih dahulu!
Negartif
1) Sebaiknya kita tidak melakukan profokasi yang dapat menyesatkan orang lain!
2) Janganlah khawatir kekurangan rezeki jika sudah bemiat amal!
d. Kalimat Seruan
Kalimat seruan digunakan untuk menyampaikan atau mengungkapkan perasaan yang kuat dan mendadak. Contoh:
Positif.
1) Hebat, ternyata dia bisa.
2) Nah, ini baru kejutan bagi kita.
Negatif
1) Aduh, ternyata dia tidak menepati janji.
2) Wah, target yang ditetapkan semula tidak tercapai
2. Jenis kalimat berdasarkan klausa a. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu klausa bebas. Hal itu berarti hanya ada satu P (klausa) dalam kalimat. Unsur P adalah sebagai penanda klausa. Unsur S dan P memang selalu wajib hadir di dalam setiap kalimat. Adapun O, Pelengkap dan keterangan tidak wajib hadir dalam kalimat, termasuk dalam kalimat tunggal. Jika P masih perlu dilengkapi, barulah unsur yang melengkapi itu dihadirkan. Berdasarkan jenis kata/frasanya pengisi P-nya, kalimat tunggal dapat dipilah menjadi empat macam yang diberi nama atau label tambahan sesuai jenis 1kata atau frasanya, yaitu nominal, adjektiva, verbal, numeral. Contoh :
1) Kami Mahasiswa UIN Suska Riau (Kalimat Nominal) 2) Jawaban anak pintar itu sangat tepat (Kalimat Adjektiva) 3) Sapi-sapi sedang merumput (Kalimat Verbal)
4) Mobil orang kaya itu ada delapan (Kalimat Numeral) b. Kalimat Majemuk
Kalimat Majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. Dengan kata lain kalimat mjemuk adalah kalimat yang sekurang- kurangnya terdiri atas seubjek dan dua predikat. Kalimat mejemuk dibagi menjadi dua, yaitu
1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara yaitu gabungan dua pokokm pikiran atau lebih yang kedudukannya setara. Struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya, dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal. Contoh :
a) Anto gemar menulis sedangkan Anita gemar menyanyi b) Saya pergi bekerja dan mita pergi berbelanja
c) Sinta cantik, tetapi sombong
d) Ia memarkirkan mobil di lantai 3, lalu naik lift ke lantai 7 e) Engkau tinggal di sini, atau ikut dengan saya.
2) Kalimat Majemuk Bertingkat/Kompleks
Kalimat Majemuk bertingkat bertingkat/kompleks yaitu kalimat tunggal yang salah satu jabatannya diperluas membentuk kalimat baru. Dalam kalimat majemuk bertingkat kita mengenal.
a) Induk kalimat (jabatan kalimat yang bersifat tetap atau tidak mengalami perubahan)
b) Anak kalimat (jabatan kalimat yang diperluas membentuk kalimat baru.
Anak kalimat ditandai dengan pemakaian kata penghubung dan bila mendahului induk kalimat dipisah dengan tanda baca koma)
Contoh kalimat majemuk bertingkat/kompleks :
a) Agar koperasi unit desa (KUD) berkembang, perlu dipikirkan kader- kader yang tangguh
b) Ketika memberikan keterangan, saksi itu meneteskan air mata.
c) Pembanguna rumah susun itu memerlukan penelitian sebab beberapa unit rumah susun belum berpenghuni.
d) Hujan turun berhari-hari sehingga banjir besar melanda kota itu.
e) Dengan menurunkan harga beberapa jenis BBM, kita berharap kegiatan ekonomi tidak lesu lagi.
3. Jenis kalimat menurut kelengkapan umumnya.
Dipandang dari segi kelengkapan umumnya, kalimat dibedakan menjadi dua, yaitu kalimat sempurna (mayor) dan kalimat tidak sempurna (minor).
a. Kalimat Sempurna (Mayor)
Kalimat sempurna adalah kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa bebas. Oleh yang mendasari kalimat sempurna adalah klausa bebas maka kalimat sempurna ini cukup kalimat tunggal atau kalimat majemuk. Contoh :
1) Ayah membaca koran (Kalimat Sempurna dilihat dari kalimat tunggal) 2) Kalau saya mempuyai uang, saya akan membeli rumah itu. (Kalimat
Sempurna dilihat dari kalimat majemuk bertingkat b. .Kalimat Tak Sempurna (Minor)
Kalimat tak sempurna adalah kalimat yang subjek dan predikatnya tidak lengkap atau dengan kata lain subjek dan predikatnya tidak ada sama sekali.
Kalimat tak sempurna ini mencakup kalimat pertanyaan, minor dan seruan. Contoh :
1) “Maksudmu?”
2) “Ayah di Sumatera Utara”
4. Jenis Kalimat Menurut Susunan Subjek dan Predikatnya.
Jenis kalimat menurut susunan subjek dan predikatnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu kalimat versi dan kalimat inversi.
a. Kalimat Versi
Kalimat versi adalah kalimat yang berpola S-P. Kalimat ini bisa dikatakan sama dengan kalimat tunggal yang mempunyai satu klausa. Contoh
1) Dokter menangani pasien itu dengan baik 2) Mereka bersalaman
b. Kalimat Inversi
Kalimat inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S sehingga membentuk pola P-S. Selain merupakan variasi dari S-P, ternyata kalimat berpola kalimat P-S dapat memberi penekanan atau ketegasan makna tertentu. Contoh :
1) Matikan televisi itu.
2) Tidak terkabul permintaannya.
5. Kalimat menurut sifat hubungan Aktor-Aksi
Dipandang dari segi hubungan aktor-aksi, maka kalimat ini terbagi menjadi empat, yaitu kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, dan kalimat reiprokal.
a. Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat kalimat yang subjeknya sebagai pelaku atau aktor (Cook, 1971:49). Kalimat aktif umumnya berawalan me- dan ber- pada P-nya.
Contoh :
1) Anto mengambil buah mangga.
2) Adik bermain bola.
b. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat-kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita atau dikenal pekerjaan/tindakan. Kalimat pasif umumnya berawalan di-, ter-, ke-an. Contoh :
1) Piring dicuci Anita
2) Adik terjatuh di kamar mandi 3) Suaranya kedengaran ke sana c. Kalimat Medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku dan atau sebagai penderita (objek). Contoh :
1) Dia menhibur dirinya.
2) Wanita itu menggantung dirinya sendiri.
3) Mereka menyusahkan diri sendiri.
d. Kalimat Reiprokal
Kalimat reiprokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu perbuatan yang berbalas-balasan. Contoh :
1) Saya sering tukar-menukar dengan si Joni.
2) Para pembeli ramai tawar-menawar dengan para pedagang.
5. Kalimat inti dan Inti Kalimat
Kalimat inti adalah kalimat yang terdiri atas S dan P. Sedangkan inti kalimat adalah kalimat yang terdiri atas inti-inti kalimat atau unsur-unsur kalimat yaitu S-P-O.
Syarat-syarat kalimat inti : a. Terdiri dari dua suku kata b. Berpola S dan P
c. Intonasi netral
Syarat-syarat inti kalimat : a. Terdiri dari tiga suku kata b. Berpola S-P-O
c. Intonasi Netral Contoh :
a. Adik saya yang paling bungsu sedang mempelajari bahasa Mandarin.
Kalimat inti : Adik mempelajari.
Inti Kalimat : Adik mempelajari bahasa Mandarin
b. Penelitian-penelitian mutakhir memusatkan perhatian pada makanan dari soya, yang ternyata dapat membantu mencegah kanker payudara.
Kalimat Inti : Penelitian-penelitian memusatkan.
Inti Kalimat : Penelitian-penelitian memusatkan perhatian.
6. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur/penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mencapai sasarannya dengan baik sebagi alat komunikasi. Kalimat efektif memiliki diksi (pilihan kata) yang tepat , tidak mengalami kontaminasi kata, sesuai ketentuan EYD, baik penulisan tanda baca dan penulisan kata. Selain itu kalimat efektif juga memiliki enam syarat keefektifan, yaitu adanya kesatuan, kepaduan, kepararelan, ketepatan, kehematan, dan kelogisan.
a. Kesatuan
Kesatuan dalam kalimat efektif adalah dengan adanya ide pokok ( S dan P) sebagai kalimat yang jelas. Contoh :
Bagi yang merasa namanya dipanggil maju ke depan (salah) K P
Yang merasa namanya dipanggil maju ke depan (benar) S P
b. Kepaduan
Kepaduan terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termasuk unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, tanda baca, dan fungsi sintaksis S-P-O-Pel-K. Kepaduan juga menyangkut pemakaian kata tugas yang tepat. Contoh :
1) Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat izin mengemudi.
(tidak mempunyai subjek/subjeknya tidak jelas). (salah)
2) Setiap pengemudi mobil harus memiliki surat izin mengemudi (subjekya sudah benar). (benar)
3) Kami telah membicarakan tentang hal itu. (salah) 4) Kami telah membicarakan hal itu (benar)
c. Kepararelan
Kepararelan adalah pemakaian kalimat bentuk gramatikal yang sama untuk bagian-bagian kalimat tertentu. Umumnya dalam sebuah perincian jika unsur pertamanya menggunakan verba (kata kerja) dan seterusnya juga harus verba. Jika unsur petamanya nomina (kata benda), bentuk berikutnya juga harus nomina.
Contoh :
1) Kami telah merencanakan membangun pabrik, membuka hutan, pelebaran jalan desa, dan membuat tali air (salah).
2) Kami telah merencanakan membangun pabrik, membuka hutan, melebarkan jalan desa, dan membuat tali air. (benar)
3) Kakakmu menjadi dosen atau sebagai pengusaha? (salah) 4) Kakakmu menjadi dosen atau menjadi pengusaha? (benar) d. Ketepatan
Ketepatan adalah kesesuaian/kecocokan pemakaian unsur-unsur yang membangun suatu kalimat sehingga terbentuk pengertian yang bulat dan padu.
Contoh :
1) Karyawan teladan itu memang tekun belajar dari pagi sehingga petang (salah).
2) Karyawan teladan itu memang tekun belajar dari pagi sampai petang (benar).
e. Kehematan
Kehematan yaitu hemat pemakaian kata atau kelompok kata. Dengan kata lain tidak mengalami gejala bahasa pleonasme. Dengan hemat kata, diharapkan kalimat menjadi padat berisi. Contoh :
1) Hanya ini saja yang dapat saya berikan (salah).
2) Hanya ini yang dapat saya berikan (benar) 3) Ini saja yang dapat saya berikan (benar)
f. Kelogisan
Kelogisan di sini adakah terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal.
Supaya efektif, kata-kata dalam sebuah kalimat tidak boleh menimbulkan makna ambigu (ganda) atau tidak boleh mengandung dua pengertian. Contoh :
1) Hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-57 (salah) Alasan : seolah-olah ada 57 negara Republik Indonesia.
2) Hari kemerdekaan ke-57 Republik Indonesia (benar)
3) Kepada Bapak Gubernur waktu dan tempat kami persilahkan (salah) Alasan : Waktu dan tempat tidak mungkin kami persilahkan.
4) Bapak Gubernur kami persilahkan (benar).
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
Kalimat adalah kumpulan kata-kata yang mempunyai arti dan suatu bahasa yang terdiri atas dua kata atau lebih yang memiliki suatu pengertian dan pola intonasi akhir.
Kalimat yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya tidak menyimpang dari kaidah bahasa, logis dan dapat diterima nalar, serta jelas dan dapat menyampaikan maksud dan pesan dengan tepat.
Dalam satu kalimat terdiri atas beberapa unsur, diantaranya Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap dan Keterangan. Dalam kalimat juga terdiri dari beberapa jenis.
Seperti kalimat berdasarkan klausa, kalimat berdasarkan kelengkapan umumnya, kalimat menurut susunan subjek dan predikatnya, dan lain sebagainya.
B. Saran
Indonesia yang terdiri dari banyak bahasa daerah menjadikan masyarakat Indonesia mempunyai logat-logat khasnya. Sebagai warga negara Indonesia , hendaknya kita berkomunikasi menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan catatan tidak meninggalkan bahasa khas daerahnya sendiri dan bisa menguasai bahasa asing. Seperti sebuah pepatah
“Utamakan Bahasa Indonesia , Lestarikan Bahasa Daerah , Kuasai Bahasa Asing”.
Cukup sekian pemaparan hasil diskusi kelompok kami mengenai kalimat yang dituangkan dalam makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan unuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alibi, A. R. (2020). Makalah Kalimat Bahasa Indonesia. IAIN Bengkulu: studocu.com.
Putrayasa, I. G. (2015/2016). Jenis-Jenis dan Pola Kalimat Bahasa Indonesia. Universitas Udayana, Bandung.