NDALEM
PUJOKUSUMAN
Ndalem Pujokusuman dibangun pada tahun 1900 pada masa HB II oleh seorang abdi dalem kaya raya bernama Danu Diningrat. Awalnya bernama Ndalem Danu Diningrat, bangunan ini kemudian dibeli oleh HB VIII dan diberikan kepada Pangeran Pujokusumo setelah pernikahannya, berubah nama menjadi Ndalem Pujokusuman pada 1942.
Pada masa perjuangan, ndalem ini menjadi markas Laskar Hantu Maut, pusat komando, dan penyimpanan senjata melawan penjajahan Belanda. Seiring waktu, ndalem ini menjadi pusat berkembangnya Kampung Pujokusuman, dengan rumah-rumah magersari di sekitarnya. Kini, bangunan ini masih terawat sebagai bukti arsitektur Tradisional Jawa dan menerima Penghargaan Pelestari Cagar Budaya pada 2011. Saat ini, Ndalem Pujokusuman berfungsi sebagai pusat pelestarian seni tari tradisional Yogyakarta. Di bawah pengelolaan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), tempat ini menjadi wadah pendidikan seni tari klasik gaya Yogyakarta.
Yayasan ini telah melahirkan banyak penari handal dan rutin menyelenggarakan kursus tari klasik. Salah satu tarian yang terkenal adalah Tari Golek Ayun-ayun, yang diciptakan oleh Rama Sas pada tahun 1976145. Selain itu, Ndalem Pujokusuman juga menjadi lokasi berbagai kegiatan seni lainnya, seperti pertunjukan macapat yang menggabungkan elemen tradisional dan kontemporer untuk menarik minat generasi muda terhadap warisan budaya.
NDALEM PUJOKUSUMAN
Gambar 1. Tampak Samping Pendhopo
SUMBU DAN POLA
Gambar 2. Perspektif Pendhopo
Seperti bangunan jawa lainnya, Ndalem Pudjokusuman mengunakan filosofi sumbu pada desain bangunan untuk menentukan susunan dan pola letak ruangan. Pada Ndalem Pudjokusuman pola ruang yang ditemukan bersifat simetris dan bersumbu pada orientasi sumbu Utara - Selatan. Orientasi utara selatan menunjukan hubungan antara konsep filosofi sumbu secara mikro (rumah) dan makro (alam) dimana bangunan menghadap gunung merapi di utara dan laut selatan, sesuai dengan filosofi sumbu kota yogyakarta.
Pada bagian paling selatan terdapat Pendopo, sebagai ruang terbuka untuk kegiatan publik, seperti pertemuan, pertunjukan, atau menerima tamu. Ini mencerminkan fungsi sosial dan komunikasi antar sesama manusia, sesuai prinsip keterbukaan masyarakat Jawa. Lalu, terdapat pringgitan, ruang transisi antara ruang publik dan privat.
Semakin ke utara, ruang menjadi semakin privat, dengan Ndalem Ageng sebagai pusat kehidupan keluarga dan spiritualitas. Di bagian paling belakang terdapat Gandhri, yang bersifat sangat privat dan sakral. Ruang ini dipercaya sebagai tempat mendekatkan diri pada Yang Ilahi.
SUMBU DAN POLA
Gambar 3. Blokplan Ndalem Pujokusuman PENDOPO
REGOL
PRINGGITAN NDALEM AGENG
(Ruang Tinggal Keluarga)
GAN DOK
PARKIR GAN DHO K
GANDHRI
PARKIR
privat
publik
Area Privat (Ndalem) Area Publik (Pendopo)
U
Penerapan sumbu ini juga mengacu pada filosofi kota Yogyakarta, di mana sumbu utara- selatan menghubungkan Gunung Merapi di utara sebagai simbol spiritualitas, dan Laut Selatan sebagai simbol kekuatan alam. Dengan demikian, tata ruang Ndalem Pujokusuman bukan hanya mencerminkan fungsi dan estetika, tetapi juga filosofi mendalam masyarakat Jawa yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Gambar 3. Area Pendhopo
SKEMA nDALEM PUJOKUSUMAN
U
Gambar 4. Struktur pendhapa menggunakan saka guru
Gambar 5. Struktur dalem menggunakan saka guru dan tumpeng sari
U
Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8.
Beda permukaan lantai (peil) menandakan tingkat kesakralan sebuah ruangan.
Semakin tinggi permukaan lantai, maka semakin tinggi pula tingkat kesrakalan ruangan tersebut.
Penurunan lantai Pringgitan
Peninggi lantai nDalem Penurunan lantai
Pendhapa
KEYPLAN
Penurunan lantai Pendhapa
Penurunan lantai Pringgitan
Peninggi lantai nDalem
Beda permukaan lantai (peil) menandakan tingkat kesakralan sebuah ruangan.
Semakin tinggi permukaan lantai, maka semakin tinggi pula tingkat kesrakalan ruangan tersebut.
HIERARKI
Konsep hirarki pada Ndalem Pujokusuman diwujudkan melalui perbedaan elevasi lantai (peil), di mana semakin dalam ke arah belakang, semakin tinggi pula lantainya, menandakan tingkat kesakralan.
PENDOPO
REGOL
PRINGGITAN NDALEM AGENG (Ruang Tinggal Keluarga)
GAN DOK
PARKIR GAN DHO K
GANDHRI
PARKIR
privat
publik
Pendhapa berada di depan sebagai ruang terbuka publik, digunakan untuk pertemuan umum, pertunjukan tari, hingga kegiatan sosial masyarakat. Atapnya berbentuk joglo, simbol status sosial tertinggi dalam arsitektur Jawa.
Pringgitan, sebagai ruang transisi antara publik dan privat, sedikit menurun dari pendhapa, menandakan peralihan zona.
Ndalem Ageng memiliki lantai yang lebih tinggi, mencerminkan kesakralan dan privasi.
Biasanya hanya keluarga inti yang memasuki area ini.
Gandhok dan Gandhri berada di sisi samping dan belakang, digunakan untuk aktivitas domestik seperti dapur dan gudang, dengan elevasi paling rendah.
Dalem Pendopo
Dalem Pringgitan
Luar Ndalem Ageng
Ndalem Pudjokusuman, terdiri dari :
▪ 4 saka guru yang menopang atap brunjung
▪12 saka penanggap yang menopang atap penanggap
Identifikasi Saka Guru
Sunduk dan Sunduk Kili
Tumppangsari
Saka Guru
Umpak
Blandar dan Pengaret Keyplan
Sambungan pada struktur bangunan Joglo Pendhapa Ndalem Pudjokusuman
Terdapat ornamnen pada umpak Dalem Pudjokusuman
Bentuk ornamen memiliki arti kalimat Syahadat “Tiada Tuhan selain Allah”
Detail Umpak
Keyplan
Tumpang Sari
Pada Tumpang Sari terdapat ornamen yang sangat unik. Terdapat juga tahun dibangun pendopo Ndalem Pudjokusuman, yaotu tahun 1900.
Aksara Jawa
Aksara Jawa yang berada di tengah Praja Cihna berupa huruf ‘Ha’ dan ‘Ba’ yakni singkatan dari Hamengku Buwono yang berarti memangku atau menga yomi bumi. Aksara Jawa tertulis tegak menjadi simbol kebudayaan asli bangsa juga jati diri Kraton Yogyakarta.
Mahkota
Mahkota di atas lambang bermakna pemimpin pemerintahan. Sultan se bagai raja merupakan pimpinan ter tinggi dan memiliki tanggungjawab untuk memelihara menuju ta tan an kehidupan bernegara dan bermasya rakat yang lebih baik.
Sayap Garuda
Dua sayap burung garuda di kiri dan kanan menggambarkan keagungan serta kewibawaan kraton yang tegas, kuat juga pantang menyerah.
Lambang Kraton Yogyakarta
U
Ndalem Ageng Pujokusuman merupakan ruang utama dan paling sakral dalam kompleks Ndalem Pujokusuman, Yogyakarta. Berarsitektur joglo klasik, ruang ini menjadi pusat spiritual dan simbol kehormatan bagi penghuni utama. Didukung oleh empat saka guru dan struktur kayu yang kokoh, Ndalem Ageng mencerminkan tatanan kosmis dan nilai filosofis budaya Jawa — menghadirkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Berikut adalah elemen - elemen yang ada pada ndalem ageng :
Gambar. Ndalem Ageng
Detail Elemen Ndalem Ageng
1. Saka Guru (4 tiang utama)
Saka Guru adalah empat tiang utama penyangga atap joglo yang melambangkan empat arah mata angin dan keseimbangan kosmis antara manusia dan alam. Tiang ini berdiri di atas umpak batu, berfungsi sebagai pembatas atau pemisah dari tanah dan penangkal energi negatif.
2. Umpak Batu
Umpak Batu adalah pondasi bawah tiang dari batu kali yang berfungsi menopang struktur bangunan. Dalam tradisi Jawa, umpak melambangkan unsur bumi dan stabilitas. Pada ndalem tradisional, umpak sering dihias dengan motif gunungan berwarna gelap sebagai simbol tolak bala dan perlindungan spiritual.
U
3. Lantai
Pada bagian Lantai Teras nDalem Pujokusuman, bahan keramik, terkesan pasif karena memiliki warna coklat seperti tanah
Motif dan Warna: Menggunakan motif polos yang lebih sederhana dengan warna-warna alami.
Makna dan Simbolisme: Sebagai ruang semi-publik untuk menerima tamu dan mengadakan pertemuan, lantai Teras nDalem Pendhapa mencerminkan keterbukaan dan keramahan. Motif sederhana melambangkan kesederhanaan dan keterbukaan terhadap masyarakat.
Gambar Lantai Teras nDalem Pujokusuman
Gambar Detail Lampu nDalem Pujokusuman
Gambar Detail Lampu Pendhapa di Tumpeng Sari
Detail & Ornamen
Pendhapa saka guru adalah ruang semi publik yang biasanya digunakan untuk menerima tamu, menyelenggarakan pertemuan penting, atau kegiatan sakral lainnya. Karena itu, lampu di area ini cenderung:
Berbentuk lebih terbuka dan tersebar (3 lengan melingkar).
Fungsi utamanya adalah menyediakan pencahayaan menyeluruh, mendukung interaksi sosial dan upacara.
Menurut penelitian oleh Rachmawati (2013) dalam "Simbolisme Tata Ruang Tradisional Jawa" dan Prijotomo (2009) dalam "Arsitektur Tradisional dan Spiritualitas Jawa":
Lampu di pendhapa biasanya menggambarkan keterbukaan dan keterhubungan dengan masyarakat, sehingga bentuknya sering simetris dan memiliki lengan banyak.
Lampu di ndalem melambangkan kekuatan simbolik pemilik rumah, sehingga bentuknya lebih artistik dan eksklusif, seperti terlihat pada ornamen logam dan model gantung.
Ndalem (ruang dalam) adalah ruang privat, tempat tinggal keluarga inti. Lampunya:
Lebih tertutup dan vertikal, seperti pada gambar kiri.
Menekankan kesejukan, privasi, dan keintiman, serta menunjukkan status dan kehalusan rasa pemilik rumah.
Lampu di nDalem Pujokusuman dipengaruhi oleh masa kolonial sehingga bentuknya bergaya art nouveau. Hal berguna untuk menunjukkan:
Status sosial pemilik rumah.
Pengaruh arsitektur Indo-Eropa, yang bercampur dengan estetika lokal.
Pada bagian Lantai Pringgitan, bahan keramik, digambarkan hanya 1 petak melingkari area pendhapa ini terkesan adanya pembatas antara pendhapa dan pringgitan.
Motif dan Warna: Sering menampilkan motif seperti padma (bunga teratai merah) dan wajikan (belah ketupat dengan isian daun atau bunga) dengan warna-warna yang lebih mencolok (hijau, kuning, dan putih).
Makna dan Simbolisme:
Padma: Melambangkan kesucian dan kekuatan.
Wajikan: Menambah keindahan dan mengurangi kesan tinggi pada tiang bangunan.
Pada bagian Lantai Pendhapa, bahan keramik, terkesan menonjol dengan warna kuning, putih dan hijau.
Motif dan Warna: Menggunakan motif yang lebih kompleks dan artistik seperti patran (daun berderet) dan kepetan (bentuk seperempat lingkaran dengan sisi lengkung berombak), dengan warna-warna lebih kaya dan mendalam.
Makna dan Simbolisme:
Patran: Melambangkan keindahan dan kesempurnaan.
Kepetan: Melambangkan sumber penerangan bagi seisi pendhapa (lambang matahari pada zaman Hindu).
Detail & Ornamen
Gambar Lantai Pendhapa
Gambar Lantai Pringgitan
Lambang Ndalem Pujokusuman
Regol
Dalam budaya Jawa, regol adalah istilah yang merujuk pada pintu gerbang yang membatasi atau menghubungkan antarwilayah, baik dalam kompleks keraton maupun permukiman tradisional.
Regol tidak hanya berfungsi sebagai akses fisik, tetapi juga memiliki makna simbolis dan filosofis yang mendalam.
Sengkalan lamba
Sengkalan Lamba: Sengkalan yang berupa rangkaian kata atau kalimat. Contohnya, pada Regol Ndalem Pujokusuman, terdapat ukiran aksara jawa yang berbunyi "
Gebyok
Gebyok merupakan salah satu bentuk seni ukir kayu khas budaya Jawa yang terutama digunakan dalam arsitektur tradisional, seperti pada pintu rumah adat. Ukiran pada gebyok tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Setiap pola dan ukiran yang terdapat pada gebyok memiliki simbolisme tertentu yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan, seperti keharmonisan, keseimbangan, dan spiritualitas. Inilah yang menjadikan gebyok lebih dari sekadar elemen estetika dalam sebuah rumah.
Salah satu pola yang kerap ditemukan pada gebyok adalah bentuk-bentuk geometris yang simetris, seperti garis, lingkaran, dan segitiga.
Pola-pola tersebut merepresentasikan konsep keseimbangan antara alam dan kehidupan, yang diyakini harus senantiasa dijaga oleh manusia. Nilai keharmonisan antara manusia, alam, dan sesama makhluk hidup menjadi prinsip yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Hal ini tercermin secara eksplisit melalui desain ukiran pada gebyok, yang setiap detailnya dirancang untuk menciptakan keseimbangan visual sebagai cerminan keselarasan dalam kehidupan nyata.
Selain pola geometris, banyak motif ukiran pada gebyok yang menggambarkan unsur flora dan fauna, seperti bunga teratai, dedaunan, serta berbagai jenis hewan. Bunga teratai, misalnya, secara simbolis melambangkan kesucian dan pencerahan, sementara representasi tumbuhan dan hewan lainnya mengandung makna filosofis mengenai hubungan erat antara manusia dan alam semesta. Keberadaan motif-motif ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan Tuhan memiliki keterkaitan yang mendalam dan patut untuk dilestarikan. Melalui ragam ukiran tersebut, para perajin gebyok berupaya menyampaikan pesan moral mengenai pentingnya hidup yang harmonis, seimbang, dan dilandasi rasa syukur.
1. Saka Guru (4 tiang utama)
Saka Guru adalah empat tiang utama penyangga atap joglo yang melambangkan empat arah mata angin dan keseimbangan kosmis antara manusia dan alam. Tiang ini berdiri di atas umpak batu, berfungsi sebagai pembatas atau pemisah dari tanah dan penangkal energi negatif.
4. Plafon dari kayu dan lampu gantung
Fungsi: Penutup atas serta pencahayaan alami/tradisional.
Makna: Plafon kayu yang disusun rapat melambangkan keteraturan.
Lampu gantung menunjukkan pengaruh kolonial dan juga simbol penerangan batin.
5. Pintu utama tiga buah
Makna: Konsep 'Tri Angga' dalam filosofi Jawa – kepala (pintu utama tengah), badan (pintu kanan), dan kaki (pintu kiri). Pintu tengah biasanya hanya dibuka untuk tamu agung atau upacara sakral.
Detail atas pintu tengah: Motif ukiran geometris dan floral, kemungkinan besar mengandung nilai estetika serta perlambang keselarasan.
6. Ornamen List Wara di Atas Balok
Warna hijau-kuning-merah: Warna-warna ini sering muncul pada bangunan keraton dan ndalem sebagai simbol:
Hijau: Kesuburan dan keharmonisan dengan alam.
Kuning: Kebijaksanaan, kejayaan.
Merah: Kekuatan dan perlindungan spiritual.
2. Umpak Batu
Umpak Batu adalah pondasi bawah tiang dari batu kali yang berfungsi menopang struktur bangunan. Dalam tradisi Jawa, umpak melambangkan unsur bumi dan stabilitas. Pada ndalem tradisional, umpak sering dihias dengan motif gunungan berwarna gelap sebagai simbol tolak bala dan perlindungan spiritual.