• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 7: KONSEP PENCARIAN MAKNA HIDUP PADA LANSIA

N/A
N/A
Harun Syamsul

Academic year: 2024

Membagikan "KELOMPOK 7: KONSEP PENCARIAN MAKNA HIDUP PADA LANSIA "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah : Gerontologi

Dosen Pengampu : 1. Dr. Muh Daud, M.Si 2. Wilda Ansar, S.Psi., M.A

KELOMPOK 7:

KONSEP PENCARIAN MAKNA HIDUP PADA LANSIA

Disusun Oleh:

Nurul Aulia 210701501102

Nur Fadhilah 210701501003

Novita Salinding 210701501076

Genoveva Maruapaty Laisina 210701501114

⁠ Kelas D

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Konsep Pencarian Makna Hidup Pada Lansia” ini tepat pada waktunya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Muh Daud, M.Si dan Ibu Wilda Ansar, S.Psi., M.A., selaku dosen pengampu pada mata kuliah Gerontologi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 17 Maret 2024

Kelompok 7

(3)

A. Pengertian Kebermaknaan Hidup

Victor E Frankl (Naisaban, 2004) mengemukakan bahwa makna hidup adalah arti dari hidup bagi seorang manusia. Arti hidup yang dimaksudkan adalah arti hidup bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk direspon karena kita semua bertanggung jawab untuk suatu hidup. Respon yang diberikan bukan dalam bentuk kata-kata melainkan dalam bentuk Tindakan. Makna hidup merupakan suatu motivasi, tujuan dan harapan yang harus dimiliki oleh setiap individu yang hidup di dunia ini. Untuk mencapai semua itu seseorang harus melakukan sesuatu dalam hidupnya, tidak hanya diam dan bertanya hidup ini untuk apa. Semua yang diinginkan dalam hidupnya dapat dicapai dengan usaha yang maksimal. Kebermaknaan hidup, dapat diwujudkan dalam sebuah keinginan untuk menjadi orang yang berguna untuk orang lainnya, apakah itu anak, istri, keluarga dekat, komunitas, negara, dan bahkan umat manusia (Frankl, 2003).

Bastaman (2007) mengemukakan bahwa makna hidup adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Dalam menemukan makna hidup diperlukan adanya tanggung Jawab pribadi untuk tetap bertahan hidup. Schultz (Oktafia, 2008) mengemukakan bahwa makna hidup adalah memberi suatu maksud bagi keberadaan seseorang dan memberi seseorang kepada suatu tujuan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Menurutnya keberadaan seseorang (manusia) adalah bagaimana cara dalam menerima nasib dan keberaniannya dalam menahan penderitaan. Schultz juga menyatakan manusia dapat memaknai hidupnya dengan cara bekerja, karena dengan bekerja individu dapat merealisasikan dirinya dan mentransendenkan diri mereka.

Dari Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kebermaknaan hidup adalah arti dari hidup yang memberi suatu maksud dari keberadaan individu dengan suatu tujuan dengan adanya tanggung jawab individu untuk bertahan hidup.

(4)

B. Komponen Kebermaknaan Hidup

Batsaman (2005) mengemukakan bahwa terdapat enam komponen yang menentukan keberhasilan individu dalam melakukan perubahan hidup dari yang tidak bermakna menjadi bermakna, yaitu sebagai berikut.

1. Pemahaman diri (self-insight), yakni meningkatkan kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan kearah kondisi yang lebih baik, individu memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang tepat terhadap segala peristiwa, baik yang tragis maupun yang sempurna. Individu berhak mengambil Keputusan dan sikap untuk dirinya sendiri, terhadap berbagai peristiwa yang dihadapinya.

2. Makna hidup (the meaning of life), yakni nilai-nilai penting yang sangat berarti bagi kehidupan pribadi yang berfungsi sebagai tujuan yang harus dipenuhi dan pengarah kegiatan-kegiatannya. Apabila hal itu berhasil dipenuhi akan menyebabkan sesorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia. Sebaliknya bila hasrat ini tak terpenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan tidak bermakna (meaningless).

3. Perubahan sikap (changing attitude), yakni pengubahan sikap dari yang semula bersikap negatif dan tidak tepat menjadi mampu bersikap positif dan lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup dan musibah yang tak terelakkan. Seringkali bukan peristiwanya yang membuat individu merasa sedih dan terluka, namun karena sikap negatif dalam menghadapi peristiwa terbuka.

4. Komitmen diri (self-commitment), yaitu komitmen individu terhadap makna hidup yang ditemukan dan tujuan hidup yang ditetapkan.

Komitmen yang kuat akan membawa individu pada pencapaian makna hidup yang lebih mendalam.

5. Kegiatan terarah (directed activities), yakni upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi-potensi (bakat,

(5)

kemampuan dan keterampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna dan tujuan hidup.

6. Dukungan sosial (sosial support), yaitu hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia memberi bantuan pada saat-saat diperlukan.

Seperti halnya komponen-komponen penemuan makna hidup maka diperlukan beberapa tahap untuk mencapai keberhasilan makna hidup diantaranya.

1. Tahap derita (peristiwa tragis, penghayatan tanpa makna) 2. Tahap penerimaan diri (pemahaman diri dan pengubahan sikap)

3. Tahap penemuan makna hidup (penemuan makna dan penentuan tujuan hidup)

4. Tahap realisasi makna (komitmen diri, kegiatan terarah dan pemenuhan makna hidup)

5. Tahap kehidupan bermakna (penghayatan bermakna, kebahagiaan) Dalam kondisi hidup tidak bermakna (the meaningless life) sehubungan dengan peristiwa tragis tertentu yang dialami (the tragic event) timbul kesadaran diri (selft insight) untuk mengubah kondisi diri menjadi lebih baik lagi. Biasanya, munculnya kesadaran ini didorong oleh keanekaragaman sebab. Misalnya, karena perenungan diri, konsultasi dengan para ahli, mendapat pandangan dari seseorang, hasil doa dan ibadah, belajar dari pengalaman orang lain, atau mengalami peristiwa – peristiwa tertentu yang secara dramatis mengubah sikapnya selama ini.

Bersamaan dengan itu disadari pula adanya nilai – nilai yang berharga atau hal – hal yang sangat penting dalam hidup (the meaning of life) yang kemudian ditetapkan sebagai tujuan hidup (the purpose in life). Hal – hal yang dianggap berharga dan penting itu mungkin saja berupa nilai – nilai kreatif (creative values) misalnya bekerja dan berkarya, nilai – nilai penghayatan (experiental values) seperti menghayati keindahan, keimanan, keyakinan, kebenaran dan cinta kasih, nilai– nilai bersikap (attitudinal values) yakni menentukan sikap yang tepat dalam menghadapi penderitaan

(6)

dan pengalaman tragis yang tak dapat dielakkan lagi.

Atas dasar pemahaman diri dan penemuan makna hidup ini timbul perubahan sikap (changing attitude) dalam menghadapi masalah, yakni dari kecenderungan berontak (fighting), melarikan diri (flighting) atau serba bingung dan tak berdaya (freezing) berubah menjadi kesediaan untuk lebih berani dan realistis menghadapinya (facing). Setelah itu biasanya semangat hidup dan gairah hidup meningkat, kemudian secara sadar melakukan komitmen diri (selft commitment) untuk melakukan berbagai kegiatan nyata yang lebih terarah (directed activities) guna memenuhi makna hidup yang ditemukan dan tujuan yang telah ditetapkan (fulfilling meaning and purpose of life). Kegiatan – kegiatan ini biasanya berupa pengembangan bakat, kemampuan, ketrampilan dan berbagai potensi positif lainnya yang sebelumnya terabaikan. Dan bila tahap ini pada akhirnya berhasil dilalui, dapat dipastikan akan menimbulkan perubahan kondisi hidup yang lebih baik dan mengembangkan penghayatan hidup bermakna (the meaningful life) dengan kebahagiaan (happines).

C. Sumber-Sumber Kebermaknaan Hidup

Frankl (1985) mengemukakan sumber kebermaknaan hidup individu selama hayatnya antara lain:

1. Creative Values (Nilai Kreatif)

Nilai kreatif merupakan cara individu menemukan makna dalam segala hal yang dilalui. Pada individu lansia, nilai kreativitas bisa dilihat dari pengalaman hidup yang telah dilalui. Cara melihat masalah dan menyelesaikan masalah secara kreatif.

2. Experiential Values (Nilai Pengalaman)

Nilai pengalaman merupakan nilai dari setiap pengalaman yang individu alami selama hidup. Dalam kehidupan lansia, nilai pengalaman dilihat dari pendapat, penilaiannya akan suatu pengalaman. Sebagai contoh, setelah melalui masa muda yang sulit dan penuh tantangan, kesuksesan di usia lanjut menjadi sangat bermakna.

(7)

3. Attitudinal Values (Nilai Sikap)

Nilai sikap merupakan sikap yang indvidu miliki dalam menjalani kehidupannya. Dalam kehidupan lansia, sikap yang sebaiknya dimiliki dalam menjalani hari tua yaitu sikap optimis, tanggung jawab, resiliensi, kasih saying dan kebersyukuran. Sikap ini membantu individu lansia menjalani hari walaupun di usia senja dimana banyak keterbatasan.

4. Hopeful Values (Nilai Harapan)

Nilai harapan dianggap sebagai nilai paling penting dalam kehidupan individu. Harapan dianggap sebagai unsur yang harus dimiliki setiap individu termasuk para lansia. Harapan membantu seseorang tetap mampu menjalani harinya karena keyakinan akan hari masa yang lebih baik. Pada lansia, harapan membantu mereka memiliki keyakinan di tengah keterbatasan karena usia.

D. Karakterisitik Makna Hidup

Bastaman dalam Pratomo dan Dahriyanto (2014) menyampaikan bahwa makna hidup memiliki tiga karakteristik antara lain:

1. Makna hidup bersifat subjektif bagi tiap individu. Subjektif disini diartikan sebagai apa yang dianggap bermakna bagi seseorang, belum tentu dianggap bermakna oleh orang lain.

2. Makna hidup tiap orang bersifat unik dan nyata. Makna tiap orang menjadi ciri khas seseorang dalam berjuang. Cara seseorang melihat hidupnya dan hal bermakna dalam hidupnya membantu seseorang menjalani kehidupannya meski dalam tantangan.

Makna hidup menjadi landasan seseorang dalam perjuangannya dalam kehidupan. Hidup tidak mudah tetapi makna yang dimiliki seseorang menjadi landasan individu tetap berjuang.

E. Penghayatan Hidup Bermakna

Dalam Bastaman (2007: 85) dikemukakan ketika seseorang mendapatkan hidup yang bermakna. Mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukkan corak kehidupan yang penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan

(8)

hidup, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, merupakan sesuatu yang jelas bagi mereka, kegiatan kegiatan mereka pun menjadi lebih terarah serta merasakan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai.

Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari bagi mereka merupakan sumber kepuasan dan kesenangan tersendiri sehingga dalam mengerjakannya pun mereka lakukan dengan bersemangat dan bertanggung Jawab. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dalam arti menyadari batasan-batasan pada lingkungan, tetapi dalam keterbatasan itu mereka tetap dapat menentukan sendiri apa yang paling baik mereka lakukan serta menyadari pula bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, betapapun buruknya keadaan. Apabila mereka berada pada situasi yang tak menyenangkan atau mereka mengalami penderitaan, mereka akan menghadapinya dengan sikap tabah serta sadar bahwa senantiasa ada hikmah yang tersembunyi dibalik penderitaannya itu. Seseorang yang hidupnya bermakna, akan benar-benar menghargai hidup dan kehidupan karena mereka menyadari bahwa hidup dan kehidupan itu senantiasa menawarkan makna yang harus mereka penuhi. Tindak bunuh diri sebagai jalan keluar dari penderitaan berat tidak akan terlintas dipikiran mereka.

Kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan menemukan makna hidup merupakan hal yang sangat berharga dan tinggi nilainya serta merupakan tantangan untuk memenuhinya secara bertanggung Jawab.

Mereka mampu untuk mencintai dan menerima cinta kasih orang lain, serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu yang menjadikan hidup ini bermaknaPenghayatan hidup bermakna merupakan gerbang ke arah kepuasan dan kebahagiaan hidup. Artinya, hanya dengan memenuhi makna- makna potensial yang ditawarkan oleh kehidupanlah penghayatan hidup bermakna tercapai dengan kepuasan dan kebahagiaan sebagai ganjarannya.

Mereka yang menghayati hidup bermakna benar-benar tahu untuk apa mereka hidup dan bagaimana mereka menjalani hidup.

(9)

F. Penghayatan Hidup Tanpa Makna

Bastaman (2007: 80) mengungkapkan bahwa selain kondisi hidup yang bermakna, ada pula kondisi ketika seseorang merasakan hidup yang tanpa makna. Tidak semua orang dapat menjalani hidup yang bermakna. Ada kalanya seseorang merasakan hidupnya tidak atau kurang bermakna. Hasrat untuk mencapai hidup yang bermakna tidak terpenuhi. Alasan-alasannya karena kurang disadari bahwa dalam kehidupan dan pengalaman masing- masing orang terkandung makna hidup yang potensial yang dapat ditemukan dan dikembangkan. Selain itu mungkin pula pengetahuan mengenai prinsip- prinsip dan teknik-teknik menemukan makna hidup belum dikuasainya.

Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna (meaningless), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidupnya tak berarti, bosan dan apatis. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat, sedangkan apatis merupakan ketidakmampuan untuk mengambil prakarsa. Penghayatan-penghayatan yang telah digambarkan mungkin tidak terungkap secara nyata, tetapi menjelma dalam berbagai upaya kompensasi dan kehendak yang berlebihan untuk: berkuasa (the will to power), bersenang-senang mencari kenikmatan (the will to pleasure) termasuk kenikmatan seksual (the will to sex), bekerja (the will to work) dan mengumpulkan uang (the will to money).

Kurang berfungsinya naluri (dan intuisi) serta memudarnya nilai-nilai tradisi (dan agama) pada orang-orang modern merupakan hal-hal yang menyuburkan penghayatan itu, di samping kurang disadarinya bahwa kehidupan itu sendiri secara potensial mengandung dan menawarkan makna kepada mereka. Penghayatan hidup tanpa makna ini bukan merupakan suatu penyakit, tetapi dalam keadaan intensif dan berlarut-larut tak diatasi dapat menjelmakan neurosis noogenik, karakter totaliter dan karakter konformis.

Neurosis noogenik merupakan suatu gangguan perasaan yang cukup menghambat prestasi dan penyesuaian diri seseorang.

(10)

Gangguan ini biasanya tampil dalam keluhan-keluhan serba bosan, hampa, dan penuh keputusasaan, kehilangan minat dan inisiatif, serta merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya sama sekali. Kehidupan sehari-hari dirasakan sangat rutin, dari itu ke itu saja tanpa adanya perubahan, bahkan tugas sehari-hari pun ditanggapi sebagai hal-hal yang menjemukan dan menyakitkan hati. Lingkungan dan keadaan di luar dirinya ditanggapi sebagai hal-hal yang benar-benar membatasi.

Karakter totaliter adalah gambaran pribadi dengan kecenderungan untuk memaksakan tujuan, kepentingan dan kehendaknya sendiri dan tidak bersedia menerima masukan dari orang lain. Penolakan pada berbagai masukan orang lain dapat berbentuk penolakan secara langsung atau kelihatannya menampung, tetapi kemudian mengabaikannya. Pribadi totaliter sangat peka kritik dan biasanya akan menunjukkan reaksi menyerang kembali secara keras dan emosional. Ancaman dan pamer kekuasaan merupakan alat pribadi totaliter untuk meraih tujuan.

Kekecewaan dan kehampaan eksistensial yang berawal dari gagalnya menemukan makna hidup dan memenuhi hasrat untuk hidup bermakna menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tidak aman serta ketidakpastian yang cukup intensif dan mengancam harga dirinya. Ia menganggap lingkungan sekitar tidak dapat dijadikan pegangan sebagai sumber rasa aman dirinya. Ia mengambil keputusan untuk mengabaikan lingkungan dan berusaha menjadikan dirinya sendiri sebagai satu-satunya andalan. Hal ini dilakukan dengan halan menetapkan secara eksklusif dan fanatik nilai-nilai tertentu, kegiatan, kepentingan dan keinginannya yang ditetapkan sendiri dan dengan ketat dijaganya dari pengaruh dan kritik dari orang lain. Karakter konformis adalah gambaran pribadi dengan kecenderungan kuat untuk selalu berusaha mengikuti dan menyesuaikan diri kepada tuntutan lingkungan sekitarnya serta bersedia pula untuk mengabaikan keinginan dan kepentingan dirinya sendiri.

Karakter konformis berasal dari kekecewaan dan kehampaan hidup sebagai akibat tidak berhasilnya memenuhi motivasi utama, yaitu hasrat

(11)

untuk hidup bermakna. Kondisi ini jelas menimbulkan penghayatan tidak aman dan tidak nyaman serta ketidakpastian dalam hidupnya dan berusaha untuk menyeimbangkan kembali dirinya. Karakter konformis menjadikan norma, nilai-nilai dan tuntunan lingkungan sebagai andalan dan pedoman hidupnya. Ia selalu tunduk dan taat pada tuntunan lingkungan dan bersedia untuk mengabaikan kepentingan, kehendak dan pemikiran sendiri.

Pribadi seorang karakter konformis terkesan sebagai pribadi yang mudah sekali terpengaruh oleh situasi dan kondisi sosial mulai pemikiran, sikap, pendirian, gaya hidup, dan cara penampilan diri. Ia merasa tak nyaman jika berbeda dengan kebanyakan orang serta sensitif dan cemas terhadap penilaian orang. Dalam tataran logoterapi, neurosis noogenik, karakter totaliter, dan karakter konformis dianggap sebagai gambaran dan bentuk-bentuk patologi kepribadian.

KESIMPULAN

Kebermaknaan hidup adalah arti dari hidup yang memberi suatu maksud dari keberadaan individu dengan suatu tujuan dengan adanya tanggung jawab individu untuk bertahan hidup. Batsaman (2005) mengemukakan bahwa terdapat enam komponen yang menentukan keberhasilan individu dalam melakukan perubahan hidup dari yang tidak bermakna menjadi bermakna, yaitu Pemahaman diri (self-insight; Makna hidup (the meaning of life);

Perubahan sikap (changing attitude); Komitmen diri (self-commitment);

Kegiatan terarah (directed activities)dan Dukungan sosial (sosial support.

Mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukkan corak kehidupan yang penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, ada kalanya seseorang merasakan hidupnya tidak atau kurang bermakna. Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna (meaningless), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidupnya tak berarti, bosan dan apatis.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Bastaman, H.D. (1996).Meraih Hidup Bermakna Kisah Pribadi Dengan Pengalamn Tragis. Jakarta: Paramedina.

Bastaman, H.D. (2005). Meraih Hidup Bermakna, Kisah Pribadi pengalaman Tragis.Jakarta: Paramadina.

Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi: Psikologi Untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Frankl, V. E. (1985). Man's search for meaning. Simon and Schuster.

Frankl, V. E. (2003). Logoterapi: Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Naisaban, Ladislaus. (2004). Para Psikolog Terkemuka Dunia. Jakarta: PT.

Grasindo.

Oktafia, Serly. (2008). Hubungan Antara Dukungan Teman Sebaya Dengan Kebermaknaan Hidup Pada Remaja Yang Tinggal Di Panti Asuhan.

Skripsi: Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Pratomo, A. W., Liftiah, L., & Dahriyanto, L. F. (2014). Kebermaknaan Hidup Dan Subjective Well-Being Pada Lanjut Usia Bersuku Jawa Di Provinsi Jawa Tengah. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 6(2), 74-78.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa partisispasi adalah keterlibatan individu atau masyarakat baik secara fisik, material maupun non fisik

Menurut Ericson, kebermaknaan hidup merupakan perasaan subjektif, bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri subjek mempunyai dasar kokoh dan penuh arti atau subjek merasa

Manfaat teoretis penelitian adalah penelitian ini diharapkan memberi informasi tambahan bagi khasanah ilmu pengetahuan tentang konsep diri dan kebermaknaan hidup

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kualitas hidup adalah kemampuan individu untuk mendapatkan hidup yang

Dari uraian diatas maka didapat kesimpulan bahwa makna hidup merupakan berbagai hal yang memberi nilai tersendiri untuk individu sebagai pengalaman hidup yang

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian kebermaknaan hidup adalah motivasi dan kekuatan seseorang, serta hal-hal yang dianggap sanggat penting

Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keharmonisan adalah yang terdapat pada diri seseorang sebagai individu maupun keberadaan individu yang selaras dengan

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan jika seseorang memiliki makna hidup, berarti ia memiliki framework (kemampuan yang membantu individu untuk melihat