NIP Tesis yang berjudul “Kebijakan dan Implementasi Program Keluarga Berencana di Kota Semarang oleh Muhammad Syahrianto Rachmadi (NIM diterima dan disetujui oleh Panitia Ujian Tesis Sarjana Program Sarjana Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pada Kamis, Februari 28 Tahun 2019. Tujuan penulisan skripsi dengan topik keluarga berencana ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan program KB di Semarang dan hasil-hasilnya pada masa Orde Baru, serta untuk mengembangkan kepribadian penulis selama penelitian.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak Dinas Kependudukan dan Keluarga Berencana Kota Semarang serta perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah yang telah membantu membimbing penulis dalam mencari narasumber baik primer maupun sekunder seperti memberikan ruang bagi narasumber untuk diwawancarai sebagai bahan penelitian. tesis. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Sukarti Padmadi, Ibu Yulia Subroto, Ibu Alfiani, Ibu Siti Maemunah, Ibu Subekti dan Ibu Siti Fatonah yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga kepada kedua adik laki-laki saya, Muhammad Alfian Rachmanto dan Mutia Chaerunisa Saputri, yang selalu memberikan perhatian dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Penulis juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabatnya, Tri Sutrisno, Pradhipta Nugraha, Amir Syarifudin, Hendri Mulyawan, Nizar Ali, Try Yuwono, Aldi Rizaldi, M. KIE: Komunikasi, Informasi dan Edukasi LKBN: Lembaga Keluarga Berencana Nasional LKMD : Ketahanan Masyarakat Desa Lembaga MOP : Operasi Medis Pria/Operasi Sterilisasi MOW : Operasi Medis Wanita/ Operasi Sterilisasi Mupen KB : Mobil Informasi Keluarga Berencana. Panitia Ad Hoc: Panitia yang dibentuk oleh Presiden Soeharto untuk mengkaji kemungkinan dimasukkannya program keluarga berencana dalam Repelita.
Disertasi bertajuk “Kebijakan dan Implementasi Program Keluarga Berencana di Kota Semarang ini mengkaji dan mengevaluasi pelaksanaan program pada masa Orde Baru.
Latar Belakang dan Permasalahan
Pada tahun 1963, misalnya, PKBI bekerja di Pusat Keluarga Berencana di Jakarta dalam sebuah proyek sosialisasi keluarga berencana. Sebagai acuan, prinsip-prinsip tersebut tercantum dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), yaitu (1) Nasehat Pernikahan, (2) Pengobatan Kemandulan, (3) Keluarga Berencana 10 Tujuannya adalah untuk mengenalkan lebih jauh dan intensif . tentang gagasan “keluarga berencana”. 9 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Sejarah Perkembangan Program Keluarga Berencana dan Kependudukan (Jakarta: Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 1981), hal.
Memasuki masa Orde Baru, pemerintah secara bertahap membentuk lembaga khusus yang bertugas mengkoordinasikan permasalahan kependudukan dan keluarga berencana. Sehubungan dengan itu, Presiden mengeluarkan instruksi kepada Menteri Kesejahteraan Rakyat (Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1968)12 Isi instruksi pertama adalah pembinaan, koordinasi dan pengawasan masyarakat mengenai kegiatan keluarga berencana. Kedua, kementerian terkait diperintahkan untuk segera mengupayakan pembentukan badan atau lembaga yang beranggotakan unsur pemerintah dan masyarakat, dan lembaga tersebut dapat mengkoordinasikan seluruh kegiatan di bidang keluarga berencana.
Berdasarkan keputusan tersebut, pada tanggal 3 Oktober 1968 di Jakarta, Menteri Kesejahteraan Rakyat bersama beberapa menteri lainnya dan tokoh masyarakat serta wakil dari PKBI mengadakan pertemuan untuk membahas upaya pembentukan lembaga koordinasi keluarga berencana. Kelima, mengupayakan peningkatan keluarga berencana secara sukarela dalam arti luas, termasuk pengobatan infertilitas, konseling pernikahan dan sebagainya. Keseriusan pemerintah Orde Baru dalam melaksanakan program nasional keluarga berencana dan kependudukan terlihat dari pencantuman program tersebut dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) seperti Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor IV/MPR/1978.
Kedua, sasaran tidak langsung yaitu organisasi atau lembaga masyarakat, baik instansi pemerintah maupun swasta, tokoh masyarakat dan tokoh perempuan yang diharapkan memberikan dukungan terhadap Program Keluarga Berencana. Sedangkan perkembangan pengendalian penduduk dan keluarga berencana di kota semarang dapat dikatakan dimulai sejak berdirinya PKBI cabang semarang tepatnya pada tanggal 16 Juni 1963. Perkumpulan Keluarga Berencana dan tentang buku, pamflet, dan juga film-film yang didapat bisa mengenai keluarga berencana.
Martiono mengangkat topik tentang keluarga berencana dan kesehatan, pengobatan infertilitas dan organisasi klinik keluarga berencana. Perkembangan pelaksanaan Program Keluarga Berencana khusus di Kota Semarang merupakan suatu kasus yang menarik untuk dikaji dari sudut sejarah karena pelaksanaan program ini belum pernah dikaji sebelumnya. Permasalahan utama dalam skripsi ini adalah apakah penyelenggaraan keluarga berencana di kota semarang sudah berjalan sesuai dengan visi, misi, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.
Ruang Lingkup
Tujuan Penelitian
Tinjauan Pustaka
Penggunaan perspektif ilmu sosial dalam buku ini sangat berguna dalam memberikan gambaran nyata mengenai permasalahan sosial, khususnya permasalahan kependudukan. Artinya, tulisan yang disajikan dalam buku ini memberikan kemudahan bagi para pembacanya, khususnya dalam hal ini untuk membantu menyelesaikan penulisan skripsi. Buku kedua berjudul Perkembangan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Melalui Media Massa karya Haryono Suyono dkk24.
Seperti perkembangan program keluarga berencana yang berkaitan dengan pembangunan nasional dibahas dalam buku ini. Pembangunan nasional di bidang keluarga berencana ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk, membatasi kelahiran, dan merencanakan jumlah keluarga. 24 Haryono Suyono, dkk., Perkembangan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Melalui Media Massa (Biro Informasi dan Motivasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 1982).
Kebijakan yang pertama adalah kebijakan keluarga berencana yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga kecil yang bahagia. Upaya menjaga keseimbangan antara kelahiran dan kematian kemudian dilakukan melalui program KB dengan layanan kontrasepsi di seluruh Indonesia. Kedua, pemberian informasi berupa bimbingan atau intervensi secara edukatif dengan petunjuk khusus mengenai keluarga berencana.
Buku ini menjelaskan secara detail tentang keluarga berencana pada masa Orde Baru dengan menggunakan media massa sebagai sarana penyampaian informasi. Buku ini membahas permasalahan kependudukan masa kini yang menjadi permasalahan bersama, tidak hanya pemerintah namun juga masyarakat dan mengusulkan program keluarga berencana sebagai solusinya. Namun pada tahun 1970, pada awal program ini, belum seluruh masyarakat di Indonesia memahami keluarga berencana, sehingga pemerintah memerlukan proses yang lebih komprehensif untuk memberikan pendidikan dan sosialisasi mengenai masalah tersebut.
Salah satu caranya adalah dengan membatasi jumlah kelahiran melalui KB dengan menggunakan alat kontrasepsi, misalnya IUD atau IUD, suntikan dan kondom dan lain-lain. Artinya dengan adanya program Keluarga Berencana, masyarakat secara perlahan dapat mengubah kebiasaan dan cara yang telah dilakukan secara turun temurun tentang mempunyai anak banyak. Berbicara mengenai keluarga berencana bukan sekedar bagaimana dan alat apa saja yang digunakan, namun mengenai perencanaan masa depan keluarga dan anak-anaknya.
Lebih lanjut, pembahasan mengenai cara KB bagi masyarakat sangat jelas, mulai dari pemberian pengetahuan dasar hingga metode KB yang dianjurkan. Relevansi tersebut berkaitan dengan permasalahan kependudukan di Indonesia pada masa Orde Baru dan Program Keluarga Berencana sebagai solusi mengatasi permasalahan kependudukan yang ada.
Kerangka Pemikiran
Di sisi lain, buku ini menawarkan perspektif lain mengenai keluarga berencana, tidak hanya sebagai sebuah kebijakan sederhana, namun juga sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan konsep keluarga kecil yang bahagia. Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yang dimaksud dengan pengertian keluarga berencana adalah suatu tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk:29. Ketiga, program Keluarga Berencana merupakan kebijakan yang dibuat pada masa Orde Baru yang bertujuan untuk mengendalikan jumlah penduduk dan melindungi kesehatan ibu dan anak.
Pelaksanaan program ini berdasarkan Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1970 yang ditandai dengan berdirinya Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sedangkan tujuan nasional Program Keluarga Berencana adalah meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan melibatkan orang yang mengadopsi menjadi sumber daya manusia, menjadi petugas relawan di lingkungannya sendiri. Lebih khusus lagi, tujuan Program Keluarga Berencana Kota Semarang adalah terlebih dahulu mengintegrasikan penyelenggaraan Keluarga Berencana dengan program kesehatan lain yang relevan.
Metode Penelitian
Sumber primer berupa arsip diperoleh baik dari lembaga kearsipan maupun perpustakaan, seperti Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional Indonesia, Pusat Kajian Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Kependudukan dan Kependudukan Kota Semarang. Dinas Keluarga Berencana, BKKBN Jakarta Pusat, perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, serta BPS Pusat dan BPS Jawa Tengah. Sumber arsip juga diperoleh dari surat kabar atau surat kabar, yakni dari Harian Suara Merdeka dan Koran Kompas. Sumber sekunder sebagai sumber pelengkap atau pendukung terutama diperoleh dari studi literatur di Perpustakaan Jurusan Sejarah, UPT Perpustakaan Pusat Universitas Diponegoro, Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah dan Perpustakaan Umum Kota Semarang, baik berupa skripsi, artikel jurnal maupun buku-buku yang relevan.
Sumber tersebut diperoleh dari wawancara kepada pegawai BKKBN dan masyarakat umum yang tinggal di Kota Semarang, baik peserta maupun bukan peserta KB. Kemudian memasuki tahap kedua kritik sumber, yaitu kegiatan menilai atau menguji keaslian sumber baik bentuk maupun isinya. Kritik eksternal dilakukan untuk menguji keaslian dan orisinalitas sumber dari aspek fisik sumber.
Selain kritik eksternal, kritik internal juga dilakukan untuk memastikan dan menguji informasi pada sumbernya agar dapat dipercaya (trustworthy). Dengan kata lain, kritik internal harus membuktikan bahwa kesaksian yang diberikan oleh suatu sumber memang dapat dipercaya. Interpretasi tahap ketiga, yaitu kegiatan menafsirkan fakta sejarah yang dicapai melalui kritik sumber.
Caranya adalah dengan menyatukan fakta-fakta sejarah dalam suatu hubungan yang harmonis, yaitu hubungan kronologis dan sebab-akibat (sebab-akibat). Tahap keempat atau terakhir adalah historiografi, yaitu kegiatan yang memaparkan hasil-hasil penelitian sejarah dalam berbagai bentuknya, yang dalam hal ini adalah disertasi dengan judul Kebijakan dan Implementasi Program Keluarga Berencana di Kota Semarang 1970-1999.
Sistematika Penulisan