PERAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN KESEHATAN MENTAL REMAJA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA (TELAAH PEMIKIRAN
ZAKIAH DARADJAT)
Nabilah Juhairyah [email protected] Universitas Islam 45 Bekasi
Yayat Suharyat
[email protected] Universitas Islam 45 Bekasi
Abstract: The background to the problem of this research is that the problems that occur in teenagers are none other than because their mental health is unhealthy and one of the parties who is also responsible for this is the family. Family is the closest person who can guide and direct teenagers to become individuals who have a good mentality and religious foundation. Zakiah Daradjat is one of the figures who has deep thoughts on this matter. She was the first female Islamic psychology figure to research in depth on mental health in adolescents. This research aims to: (1) To determine the mental health of adolescents according to Prof. Dr. Zakiah Daradjat, (2) To find out the role of the family in shaping adolescent mental health through religious education according to Prof. Dr. Zakiah Daradjat. This research is a type of library research with documentation data collection methods and data analysis methods using descriptive analysis, while the data sources used by researchers consist of primary sources such as books by Zakiah Daradjat, and secondary sources, namely books and other documents. The research results show that: (1) The influence of the family environment is very large on the formation of adolescent mental health. What families can do include: understanding teenagers, being a good listener to teenagers, not interfering in teenagers' personal affairs, and avoiding punishment and threats to teenagers. (2) Islamic religious education carried out in the family environment is a very important force in the formation of adolescent mental health. With a healthy mind, juvenile delinquency can be prevented. Families must be able to create inner peace for their children who are in their teens. Such as providing understanding, advice, guidance on the problems being faced by teenagers through Islamic religious education provided in the family environment so that they avoid ongoing mental disorders.
Key Words: Mental Health, Adolescents, Islamic Religious Education, Family
PENDAHULUAN
Perbincangan mengenai remaja masih menjadi topik yang sangat menarik, dalam keluarga, guru dan para ahli yang memiliki ahli dibidang ini.
Karena remaja adalah penerus untuk generasi yang akan datang. Mereka inilah yang akan mengambil kendali bangsa dimasa depan, mulai dari kepemimpinan maupun tanggung jawab. Ditangan mereka masa depan bangsa akan dipertaruhkan.
Usia remaja sudah memikirkan tentang masa depan, dimana dia akan menjadi apa ketika nanti sudah tamat sekolah. Kecemasan tentang memikirkan masa depan itulah yang dapat menimbulkan beberapa masalah dan menambah suram masa depan remaja. Seringkali remaja mengalami perbedaan pendapat dengan orang tua,
1 Azizah, “Kebahagiaan Dan Permasalahan Di Usia Remaja (Penggunaan Informasi dalam Pelayanan Bimbingan
yang menimbulkan masalah berupa: kelakuan yang menyimpang, malas belajar, dan pikiran menjadi buntu.
Masalah moral dan agama juga menjadi pengaruh dalam sikap dan kelakuan remaja. Merosotnya moral dan agama pada remaja yang terjadi di masyarakat dapat memberikan efek gelisah, kecewa, sangat menyesal. Perasaan seperti itu merupakan gejala dari kesehatan mental remaja yang tidak sehat.1
Menurut Sofyan. S. Willis, remaja memiliki masalah yang berhubungan dengan kebutuhan diri mereka dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Masalah yang dihadapi anak-anak yang menginjak usia remaja sangat banyak. Masalah tersebut ada yang mudah diselesaikan sendiri, adapula masalah yang timbul sulit untuk diselesaikan, dalam situasi seperti inilah remaja memerlukan bimbingan dari para pendidik maupun orang tua agar tercapai kesejahteraan pribadi dan bermanfaat bagi Individual),” Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Islam Kudus, Jawa Tengah, Indonesia Vol.2, No. 2 (December 2013).
masyarakat.2
Keluarga merupakan tempat pertama sebagai wadah interaksi sosial dan belajar tentang bagaimana orang lain berperilaku. Dalam keluarga diajarkannya tentang karakter dan kepribadian orang lain di luar dari diri mereka. Keluarga merupakan wadah yang sangat penting untuk pembentukkan karakter, hubungan masyarakat, sosial dan kreativitas setiap anggota keluarga.
Menurut Brodey dalam Anderson & Carter, menunjukkan betapa pentingnya keluarga dalam menentukan kepribadian anak. Anak-anak yang dibesarkan oleh keluarga yang membosankan dan tidak menyenangkan tidak akan memiliki pikiran dan iman yang tenang. Mereka akan secara bertahap kehilangan kepercayaan terhadap semua orang, termasuk dirinya sendiri. Peran keluarga menggambarkan beberapa perilaku dan aktivitas interpersonal yang berkaitan dengan orang-orang dalam situasi dan posisi tertentu. Peranperan individu dalam keluarga didasarkan pada ekspektasi dan pola perilaku keluarga, kelompok dan masyarakat.3
Meskipun demikian, nampaknya peran keluarga (orang tua) sebagai guru pertama anak- anak semakin terabaikan di masyarakat kita saat ini. Dengan mempertimbangkan banyaknya pekerjaan yang dilakukan orang tua, baik karena kebutuhan financial maupun karena kesibukan lainnya. Faktor yang dapat menyebabkan kurangnya interaksi antara orang tua dengan anaknya meliputi pendapatan, pekerjaan, dan hobi.
Kondisi seperti inilah yang dapat menggangu hubungan antara orang tua dengan anak. Namun, seperti yang kita ketahui, dampak besar dari hubungan keluarga yang harmonis dapat terlihat dari perkembangan fisik dan mental anak yang sehat.
Menurut Zakiah Daradjat, kenakalan remaja ditimbulkan karena terganggunya kejiwaan para remaja. Kesehatan kejiwaan orang dapat terganggu karena kecewa, gelisah, cemas, menyesal dan sebagainya. Perasaan tersebut yang dapat memicu bermacam gejala kejiwaan yang lebih berat, seperti pikiran buntu, menjadi pribadi yang nakal, dan kesehatan yang terganggu. Masalah tersebut dapat
2 Panut Panuju Ida Umami, Psikologi Remaja, 1st ed.
(Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya (Anggota IKAPI), 1999).
memicu munculnya masalah kesehatan mental remaja.
Karena kesehatan remaja merupakan hal yang penting dalam membentuk remaja menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan keluarga menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab dan mengambil peran penting pada masalah ini.
Karena keluarga adalah orang terdekat yang dapat mengarahkan serta membimbing anak khususnya mereka yang sedang berada pada usia remaja menjadi pribadi yang mempunyai mental kuat dan fondasi agama yang baik.
Zakiah Daradjat merupakan salah satu tokoh yang mempunyai peran penting dalam hal ini. Beliau membahas betapa pentingnya pendidikan bagi remaja. Pendidikan melalui pembiasaan dan pembinaan kepribadian anak menjadikan anak memiliki mental yang lebih baik. Dalam pembentukkan sikap dan jiwa, peran pendidikan agama menjadi sangat penting pada anak didik.4
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dapat diidentifikasika beberapa masalah sebagai berikut:
a. Kurangnya peran keluarga dan pendidikan terhadap proses kesehatan mental remaja yang sedang dialami oleh remaja saat ini.
b. Kurangnya komunikasi antara anak dan orang terdekatnya.
c. Anak usia remaja masih bimbang dalam menentukan tujuan sehingga berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya
Tujuan Penelitian
Penelitian yang berjudul, “Kesehatan Mental Perspektif Zakiah Daradjat”, IAIN Salatiga, karya Nur Heni, 2017, hasil dari skripsi diatas adalah mengevaluasi tentang konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah khazanah keilmuan di bidang pendidikan Islam, penelitian ini dapat dijadikan pedoman maupun referensi untuk penelitian selanjutnya. Hasil penelitian ini berfokus pada konsep kesehatan mental perspektif Zakiah Daradjat. Sedangkan penelitian saat ini berfokus pada peran keluarga dalam pembentukan kesehatan mental remaja melalui pendidikan agama (Telaah Pemikiran Zakiah Daradjat).
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library
3 Ulfiah, Psikologi keluarga: pemahaman hakikat keluarga &
penanganan problematika rumah tangga (Bogor: Ghalia Indonesia, 2016).
4 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, cet. 17 (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2015).
Research). Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis sehingga dapat diperoleh makna yang terkandung dalam pernyataan tersebut.
Tujuan dari penelitian kepustakaan adalah untuk mengumpulkan pengetahuan dan data dengan memanfaatkan berbagai sumber kepustakaan.
Sumber data yang diambil menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data.
Teknik Analisis Data dengan mengumpulkan informasi secara metodis dari catatan lapangan, dokumen, dan wawancara dikenal sebagai analisis data Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei 2023 sampai bulan September 2023.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut dengan mengambil judul “Peran Keluarga Dalam Pembentukan Kesehatan Mental Remaja Melalui Pendidikan Agama (Telaah Pemikiran Zakiah Daradjat)”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Zakiah Daradjat dilahirkan di Ranah Minang, tepatnya di Jorong Koto Marapak, kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada tanggal 6 November 1929. Zakiah Daradjat merupakan anak sulung dari Daradjat bin Husein yang merupakan ayahnya, yang mempunyai dua orang istri. Istrinya yang pertama bernama Rafiah, ia memiliki enam orang anak, dan Zakiah merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Sedangkan dari istrinya yang kedua, Hj. Rasunah, ia memiliki lima orang anak. Meskipun Zakiah tidak berasal dari keluarga ulama, Zakiah telah dibesarkan dengan pendidikan agama dan iman yang kuat. Kiah yang merupakan nama kecilnya, dia sudah diajarkan oleh ibunya agar berani untuk pergi bersekolah sendiri dan dilatih berpidato oleh ayahnya.5
Zakiah sudah mulai memasuki sekolah pada usia tujuh tahun. Pada pagi hari ia bersekolah di Standard School Muhammadiyah dan sorenya melanjutkan sekolah lagi di Diniyah Scool.
Sepanjang masa sekolahnya, ia menunjukkan minat yang kuat dalam pengetahuan dan agama. Dia berpidato pertama kali di depan guru dan kakak kelasnya saat masih berada di kelas empat SD. Saat
5 Fitriyanti, Zakiah Darajat: Embun Penyejuk Umat, Cetakan 1 (Jagakarsa, Jakarta: Indonesia Book Project, 2013).
itu, gurunya memberikan tugas pidato untuk mengisi acara perpisahan sekolah. Setelah lulus Sekolah Dasar pada tahun 1941, Zakiah melanjutkan sekolah disalah satu SMP di Padang Panjang sambil mengikuti Sekolah Agama di Kulliyatul Mubalighat, kursus untuk calon mubalig. Ilmu yang beliau dapatkan dari Kulliyatul Mubalighat merupakan salah satu unsur medorongnya untuk menjadi mubalig.
Zakiah Daradjat menamatkan Sekolah Menangah Atas di Bukit Tinggi pada tahun 1951. Ia pernah pergi ke Sekolah Asisten Apoteker, tetapi karena agresi militer Belanda II dan pembumihangusan di Bukit Tinggi, lalu berhenti. Dia kemudian meninggalkan kampong halamannya untuk menempuh pendidikan tinggi dengan fakultas yang berbeda:
Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta dan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Namun, melalui saran orang tuanya, dia meninggalkan UII setelah tiga tahun lamanya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, kesehatan mental merupakan pengetahuan dan tindakan yang digunakan untuk meningkatkan ataupun memanfaatkan semaksimal mungkin potensi, bakat dan pembawaan seseorang untuk membuat diri mereka dan orang lain menjadi bahagia, sehingga terhindar dari gangguan mental dan penyakit jiwa.6
Pendapat tersebut dipertegas oleh Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation for Mental Health) seperti dikutip Moeljono dan Latipun menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah sebagai berikut: kesehatan mental adalah kondisi di mana seseorang mengalami perkembangan yang optimal dalam segi fisik, intelektual, dan emosional sesuai dengan keadaan masing-masing dari individu, masyarakat dikatakan baik apabila ketika masyarakat membolehkan perkembangan ini pada anggota masyarakat yang lainnya.
Dari pendapat ini jelas bahwa kehehatan mental itu tidak cukup hanya dengan pengakuan dari individunya saja, tetapi pengakuan dari masyarakat juga diperlukan agar dapat berkembang secara optimal.7
Penulis sependapat dengan pemikiran dari Zakiah Daradjat dan Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation for Mental Health) seperti dikutip Moeljono dan Latipun bahwa lingkungan sosial disekitarnya dan kemampuan penyesuaian diri dapat memengaruhi kesehatan mental. Penulis akan menganalisa tentang pemikiran Zakiah Daradjat tengtang kesehatan mental secara keseluruhan, termasuk ketenangan hidup, dan faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja sebagai berikut.
Menurut Zakiah Daradjat, kesehatan mental dan ketenangan hidup adalah pengetahuan dan tindakan yang
6 Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Cet. 5 (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1975).
7 Moeljono Notosoedirjo Latipun, Kesehatan Mental, 4th ed.
(Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2014).
bertujuan untuk meningkatkan dan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi, bakat, dan pembawaan seseorang sehingga membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain, serta menghindari gangguan mental dan penyakit jiwa.
Dan ketenangan hidup, juga dikenal sebagai ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin, tidak tergantung pada hal-hal yang datang dari luar, seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, atau adat kebiasaan, tetapi lebih pada cara dan sikap anda menghadapinya. Karena faktor luar itu memang ada, kita tidak menghilangkan pengaruh mereka.
Kesehatan mental menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Kesehatan mental menentukan bagaimana seseorang menangani masalah dan menyesuaikan diri. Kesehatan mental juga menentukan apakah seseorang akan bersemangat untuk hidup atau akan pasif dan tidak bersemangat.
Dengan demikian, penulis dapat menganalisa dari kesehatan mental dan ketenangan hidup bahwa kesehatan mental adalah ketika kepribadian, emosional, intelektual, dan fisik seseorang dapat berfungsi secara optimal, dapat beradaptasi terhadap stres dan tuntutan lingkungan, menguasai lingkungannya, merasa nyaman dengan diri sendiri, dan menemukan penyesuaian diri yang baik terhadap tuntutan sosial.
Analisa yang kedua yaitu tentang peran keluarga dalam membentuk kesehatan mental remaja melalui pendidikan agama, yang merupakan salah satu pengalaman yang dilalui baik yang disadari atau tidak, ikut serta dalam unsur-unsur yang menggabung sebagai peran untuk membentuk kesehatan mental remaja. Diantara unsur-unsur terpenting yang akan menentukan corak kepribadian seseorang di kemudian hari yaitu nilai-nilai yang diambil dari lingkungan, terutama keluarga sendiri.
Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai agama, moral, dan sosial.
Nilai-nilai agama adalah nilai-nilai positif yang abadi dan tidak dapat berubah, sedangkan nilainilai sosial dan moral yang tidak didasarkan pada agama sering berubah seiring perkembangan masyarakat.
Akibatnya, mental seseorang yang hanya terdiri dari nilai-nilai sosial dan moral yang dapat berubah dan bergeser akan mengakibatkan kegoncangan jiwa saat masyarakat berubah.
Menurut Zakiah Daradjat, yang dimaksud dengan pendidikan agama bukanlah pelajaran agama yang
8 Daradjat, KESEHATAN MENTAL.
diberikan oleh guru sekolah secara teratur. Namun yang paling penting adalah penanaman jiwa agama yang dimulai dari keluarga sejak anak masih kecil. Ini dilakukan dengan mengajarkan anakanak sifat dan kebiasaan yang baik, seperti menghargai hak milik orang lain, berbicara terus terang, benar, dan jujur, mengatasi kesulitan dengan tenang, memperlakukan dengan adil dan baik, suka menolong, pemaaf, dan menanamkan rasa kasih sayang.8
Ramayulis seperti yang dikutip oleh Susilawati menjelaskan bahwa psikosomatik dikenal dalam ilmu kedokteran yang berarti “kejiwabadanan”. Istilah ini untuk menunjukkan bahwa jiwa dan badan sangat terkait satu sama lain. Ketika jiwa mengalami kondisi yang tidak normal, seperti kesulitan, cemas, gelisah, dan sebagainya, badan juga mengalami kesulitan. Banyak buku yang menunjukkan hubungan erat antara agama dan kesehatan mental akan menemukan fakta serupa.9
Sebagai kesimpulan, agama adalah komponen yang paling penting dalam pembinaan mental. Rencana pembangunan tidak akan berhasil tanpa agama karena kemampuan seseorang untuk melaksanakan rencana bergantung pada ketenangan jiwanya. Jika jiwa tertekan, ia tidak akan dapat menghadapi tantangan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan rencana tersebut.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa peranan keluarga dalam pendidikan agama dan kesehatan mental sangat berkaitan, karena mental seseorang yang tumbuh tanpa peran keluarga yang mengajarkan pendidikan agama belum tentu akan dapat tumbuh dengan integritas karena kurangnya ketenangan dan ketentraman dalam jiwanya.
Setelah melakukan analisis kesehatan mental pada remaja, Zakiah Daradjat memiliki materi tentang pemikiran kesehatan mental berdasarkan ide yang diuraikan oleh penulis diatas.
Penulis akan membahas definisi dari kesehatan mental, tujuan kesehatan mental, faktor yang mempengaruhi kesehatan mental, peran keluarga dalam membentuk kesehatan mental melalui pendidikan agama.
Kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat yaitu terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi- fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Ciri-ciri dan penerapan orang yang sehat mental, yaitu:
Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri (self image), Keterpaduan antara Integrasi diri, Perwujudan diri (aktualisasi diri), Mau menerima orang lain, mampu melakukan aktifitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal, Berminat dalam tugas dan
9 Susilawati, “Kesehatan Mental Menurut Zakiah Daradjat” (Skripsi, Lampung, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2017).
pekerjaan, Agama, cita-cita, dan falsafah hidup, Pengawasan diri, dan Rasa benar dan tanggung jawab.
Pemikiran yang sangat bagus dalam pembahasan penyesuaian diri dan kesehatan mental ini adalah bahwa Zakiah Daradjat sangat bertanggung jawab dalam menerapkan pemikirannya tentang kesehatan mental, karena dia mengembangkan rasa tanggung jawab yang hanya berdampak pada masyarakat dan bangsa. Akibatnya, dia sangat bertanggung jawab dalam melakukan apapun yang berkaitan dengan masyarakat dan agama, dan dia merupakan salah satu wanita musliman yang terlibat dalam hal ini.
Salah satu yang membedakan pemikiran kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat dengan pemikiran yang lain adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan lingkungan. Secara garis besar, Zakiah Daradjat membahas pengertian kesehatan mental, peran keluarga dan pendidikan agama dalam kesehatan mental.
Di dalam karyanya, Zakiah Daradjat juga tidak memberikan contoh yang spesifik untuk dijadikan sebagai role model dalam karyanya. Sehingga membuat pembaca menjadi bingung, karena ketika membaca karya beliau pembaca tidak memiliki bayangan, siapa tokoh yang memang dijadikan role model oleh Zakiah Daradjat.
Penulis setuju dengan pemikiran dari Zakiah Daradjat bahwa penyesuain diri terhadap lingkungan adalah syarat untuk kesehatan mental seseorang, peran keluarga sangat penting dalam proses pembentukkan kesehatan mental remaja, dan bahwa ada hubungan antara agama dan kesehatan mental dalam keluarga
KESIMPULAN
Setelah penulis mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data sebagai hasil penelitian yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan: Lingkungan keluarga sangat memengaruhi kesehatan mental remaja. Pendidikan formal di sekolah tidak menjadi acuan dalam mendidik remaja, tetapi pendidikan non-formal juga menjadi landasan orang tua dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya. Keluarga dapat membantu pendidikan anaknya antara lain:
memberikan nasehat terhadap remaja, menjadi pendengar yang baik, tidak terlibat dalam urusan pribadi mereka, dan menghindari ancaman dan hukuman terhadap mereka. Dan yang kedua yaitu keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan mental remaja
dengan memberikan pendidikan agama Islam. Jika seseorang memiliki mental yang sehat, kenakalan remaja dapat dicegah.
Keluarga harus dapat memberikan ketentraman mental kepada anaknya saat mereka remaja. Seperti memberikan pemahaman, saran, menjalin komunikasi yang bagus dengan remaja, dan membimbing tentang masalah yang dihadapi remaja melalui pendidikan agama Islam dalam keluarga untuk mencegah gangguan kejiwaan yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Abd Rahman BP dkk. “Pengertian Pendidikan, Ilmu Pendidikan Dan Unsur-Unsur Pendidikan.” Jurnal Al Urwatul Wutsqa Vol. 2, No. 1 (June 2022).
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/alurwatul
Abdussamad, Zuchri. Metode Penelitian Kualitatif. Cet. 1.
Makasar: CV. Syakir Media Press, 2021
Acep Mulyadi, Indah Arlini. “Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan Tentang Pendidikan Islam (Studi Penelitian Kepustakaan).” Turats Vol. 14, No. 2 (December 2021).
Athaya Hasna Salsabila, dkk. “Peran Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Masyarakat.” Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6, No. 3 (2022).
Azizah. “Kebahagiaan Dan Permasalahan Di Usia Remaja (Penggunaan Informasi dalam Pelayanan Bimbingan Individual).” Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Islam Kudus, Jawa Tengah, Indonesia Vol.2, No. 2 (December 2013).
Choiri, Umar Sidiq, Moh. Miftachul. Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang Pendidikan. Cet. 1. Ponorogo: CV.
Nata Karya, 2019.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Cet. 17. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2015.
———, ed. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. 2. Jakarta: Diterbitkan atas kerjasama Penerbit Bumi Aksara, Jakarta dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama, 1992
———. Kesehatan Mental. Cet. 5. Jakarta: PT. Gunung Agung, 1975
———. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental. Cet. 4.
Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1982.
———. Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dan Sekolah.
Jakarta: : Ruhama, 1994.
Delitri, Delia. “Konsep Pendidikan Islam Dalam Keluarga Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat.” Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2018.
Fitriyanti. Zakiah Darajat: Embun Penyejuk Umat. Cetakan 1.
Jagakarsa, Jakarta: Indonesia Book Project, 2013.
Hsb, Akmal Rizki Gunawan. “Metode Pendidikan Ideal Berbasis Al-Qur’an.” TADBIR: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 11. No. 02. (August 2023).
Latipun, Moeljono Notosoedirjo. Kesehatan Mental. 4th ed.
Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2014.
Susilawati. “Kesehatan Mental Menurut Zakiah Daradjat.” Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2017.
Ulfiah. Psikologi keluarga: pemahaman hakikat keluarga & penanganan problematika rumah tangga. Bogor: Ghalia Indonesia, 2016
Umami, Panut Panuju Ida. Psikologi Remaja. 1st ed.
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya (Anggota IKAPI), 1999.
Wardani, Tita Aniko. “Studi Pemikiran Zakiah Daradjat Tentang Kesehatan Mental: Konsep, Aplikasi, dan Implikasinya Dalam Pendidikan Agama Islam.” Skripsi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2021.