KEMATIAN YANG NIR BATAS Heru Susanto- NIM : 27005007
Program Studi Seni Rupa
Proyek akhir yang ditempuh saat ini, merupakan proses yang linear dari perjalanan proses berkarya pada semester - semester sebelumnya. Awalnya tema besar yang diambil adalah ilusi tubuh, persoalan ketubuhan yang multi kompleks, dan permasalahan identitas, gender, politik, sosial, tradisi religi, Kemudian persoalan lebih difokuskan pada topik
“Kematian yang Nirbatas” sebagai sebuah bentuk pencarian makna melalui semacam ritual tradisional, mengolah tubuh religi sebagai fenomena sosial kultural dan tradisi.
Topik ini merupakan ketertarikan penulis dalam melihat kematian sebagai fenomena sosial serta kultural, melihat sisi kehidupan setelah kematian yang menjadi batasnya;
yang dalam tradisi diolah sebagai perayaan kembalinya ruh ke alam keabadian. Hal ini dapat direpresentasikan dalam ungkapan-ungkapan simbolik yang bernilai seni menjadi realitas yang baru.
Pengungkapan dalam karya lukis kemudian dipilih sebagai bentuk secara visual, yang memrepresentasikan kehidupan setelah kematian. Gagasan dasarnya dilihat dan dikaitkan dengan kehidupan setelah kematian, yang kemudian diolah dengan metodologi yang relevan, teoritis, dan empiris.
Konsep karyanya tetap pada gagasan dasarnya yaitu melihat kehidupan setelah kematian, kehidupan ruh dalam keabadian yang tak terbatas, perjalanan ruh kembali ke alam asal kehidupan dan melihat juga kematian sebagai batas untuk masuk pada kehidupan yang tak terbatas. Penggunaan idiom warna putih yang menyerupai kabut, asap bahkan merambah ke bentuk objek juga dimaksudkan menjadi konsep estetiknya. Pemakaian simbol-simbol tarian yang ditampilkan cenderung tidak atau bukan tarian kedukaan, tapi tarian yang dipenuhi nilai-nilai simbolik estetis. Kesemua hal tersebut itu menyimpulkan bahwa “Kematian yang Nirbatas” dapat dilihat sebagal hal yang tidak menakutkan tetapi sebagai perayaan yang sakral dan religius sekaligus estetis.
Kata kunci : Ilusi Tubuh, Tubuh Religi, Kematian yang Nirbatas