• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR "

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat untuk mencapai Sarjana Terapan Kebidanan

DWI AGUSTINA NIM. PO7224319051

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

JURUSAN KEBIDANAN PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN

TAHUN 2020

(2)

i

EFEKTIFITAS PRENATAL GENTLE YOGA DAN SENAM HAMIL TERHADAP PROSES PERSALINAN

LITERATUR REVIEW

SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat untuk mencapai Sarjana Terapan Kebidanan

DWI AGUSTINA NIM. PO7224319051

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

JURUSAN KEBIDANAN PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN

TAHUN 2020

(3)

v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dwi Agustina

Tempat/ tanggal Lahir : Balikpapan, 13 Agustus 1976 Status Keluarga : Menikah

Alamat Instansi : UPTD. PKM. Mendik Kab. Paser Riwayat pendidikan :

1. Sekolah Dasar Negeri 008 Balikpapan Lulus Tahun 1988 2. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 3 Balikpapan Lulus

Tahun 1991

3. Sekolah Perawat Kesehatan Depkes Balikpapan Lulus Tahun 1994 4. Program Pendidikan Bidan Depkes Balikpapan Lulus Tahun 1995 5. Akademi Kebidanan Poltekkes Depkes Kaltim di Balikpapan Lulus

Tahun 2012 Riwayat Pekerjaan

1. Bidan PTT di Desa Mendik Makmur Kecamatan Longkali Kab Paser sejak tahun 1995 sampai 2003

2. PNS di PKM Mendik Sejak Tahun 2003 sampai sekarang

(4)

vi

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul Efektifitas Prenatal Gentle Yoga dan senam hamil terhadap proses persalinan Literatur Review Tahun 2020”

Skripsi ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bimbingan,arahan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan proposal skripsi ini, dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. H. Supriadi B, S.Kp., M.Kep selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur

2. Inda Corniawati, M.Keb selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur

3. Nursari Abdul Syukur, M.Keb selaku Ketua Program Studi Sarjana

Terapan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur

4. .Dr.Hj.Nina Mardiana S.pd, M.Kes selaku Penguji Utama yang telah bersedia menguji peneliti dalam mempersiapkan skripsi ini

5. Faridah Hariyani, M.Keb Selaku selaku pembimbing yang telah bersedia menguji peneliti dan memberikan bimbingan dan masukan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.

(5)

6. Ns. Grace Carol Sipasulta, M.Kep, Sp.Kep,Mat selaku pembimbing yang telah bersedia menguji peneliti dan memberikan bimbingan dan masukan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.

7. Seluruh dosen dan staf Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur

8. Suami dan ketiga anak saya serta Orang Tua, kakak dan adik saya yang telah memberikan dukungan, bantuan baik dukungan material dan moral

9. Sahabat yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan penyusunan laporan ini yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki review penelitian ini.

Akhir kata kami berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi bagi pembaca.

Balikpapan, Juli 2020

Peneliti

(6)

viii

DAFTAR ISI

JUDUL ...

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR BAGAN ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

ABSTRAK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Landasan Teori ... 7

1. Persalinan ... 7

2. PrenatalYoga ... 17

3. Senam Hamil ... 39

B. Kerangka Teori... 54

C. Kerangka Konsep ... 54

BAB III METODELOGI SISTEMATIKA REVIEW ... 55

A. Jenis Penelitian ... 55

B. Langkah-Langkah Dalam Penelitian ... 56

C. Metode Pengumpulan Data ... 56

D. Kata Kunci ... 57

(7)

E. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 57

F. Sumber Data ... 59

G. Metode Analisis ... 59

BAB IV HASIL ... 63

A. Karakteristik Studi ... 63

B. Karakteristk Responden ... 90

BAB V PEMBAHASAN ... 93

BAB VI PENUTUP ... 105

A. Kesimpulan ... 105

B. Saran ... 105

C. Konflik Kepentingan ... 106

DAFTAR PUSTAKA ... 107 LAMPIRAN ...

(8)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kata Kunci ... 57 Tabel 3.2 Format Picos ... 58 Tabel 4.1 Referensi Jurnal... 73

(9)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Teknik I Pernafasan Diafragma... 22

Gambar 2.2 Teknik II Pernafasan Diafragma ... 23

Gambar 2.3 Teknik Pernapasan Berdengun (Brahmari) ... 24

Gambar 2.4 Latihan Pemanasan ... 26

Gambar 2.5 Postur Mudhasana (Postur Anak) ... 27

Gambar 2.6 Postur Putaran Sufi ... 28

Gambar 2.7 Postur Bilikasana 1 ... 30

Gambar 2.8 Postus Bilikasana 2... 31

Gambar 2.9 Postur Tedasana (Postur Berdiri Gunung) ... 32

Gambar 2.10 Mediasi Metta ... 34

Gambar 2.11 Gerakan Latihan 2 untuk Obat Dasar Panggul ... 46

Gambar 2.11 Latihan 3 untuk Melatih Otot Perut ... 47

Gambar 2.13 Latihan 4 untuk Melatih Otot Tulang Belakang ... 48

Gambar 2.14 Latihan 5 untuk Melatih Persendian Panggul ... 49

Gambar 2.15 Latihan Pernapasan ... 51

Gambar 2.16 Latihan Relaksasi ... 51

(10)

xii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori ... 54

Bagan 2.2 Kerangka Konsep ... 54

Bagan 3.1 Bagan Alur Konsep ... 56

Bagan 3.2 Bagan Diagram PRISMA ... 61

(11)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Lembar Konsultasi Proposal Skripsi

(12)

xiv

EFEKTIFITAS PRENATAL GENTLE YOGA DAN SENAM HAMIL TERHADAP PROSES PERSALINAN

SISTEMATIC LITERATUR REVIEW

Dwi Agustina¹, Faridah Hariyani ², Grace.C.Sipasulta ³

1. Mahasiswa jurusan kebidanan Balikpapan, Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur 2. Dosen jurusan kebidanan Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

3. Dosen jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

* Penulis Korespondensi : Dwi Agustina, Jurusan Kebidanan Prodi D-IV Kebidanan Balikpapan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan

Kalimantan Timur, Indonesia, Email : [email protected] , Phone : +6282123888852

ABSTRAK

Latar belakang : persalinan sectio caesaria rata-rata di satu negara 5-15% per 1000 kelahiran di dunia. Rumah sakit pemerintah kira-kira 11%, rumah sakit swasta biasa lebih dari 30%, section caesaria di Indonesia sebesar 9,8%. Partus lama ditandai dengan fase laten lebih dari 8 jam, persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi, dan dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf.

Tujuan Penelitian: untuk menganalisa dan mengkaji jurnal yang berkaitan dengan efektivitas prenatal gentle yoga dan senam hamil terhadap proses persalinan.

Metode : literature review mencari jurnal database (google searc dan google scoolar)antara tahun 2010 sampai 2020 pencarian dan proses seleksi literatur dalam penelitian menggunakan diagram Prisma

Desain Penelitian dalam jurnal : Study Design And Publication type Quasy Experimen, Pre Experiment, Deskriptif Korelasional

Hasil Penelitian Literature Review : menyatakan bahwa dengan melakukan prenatal gentle yoga dan senam hamil dapat membantu terhadap prose persalinan sehingga dapat mengurangi rasa nyeri dan kecemasan pada saat ibu bersalin.

Kesimpulan Penelitian Literature Review : Pemberian latihan prenatal gentle yoga dan senam hamil dapat memperlancar dan membantu ibu selama proses persalinan, sehingga dapat mengurangi angka kejadian secsio cesaria serta komplikasi pada saat persalinan.

Kata Kunci : Prenatal gentle yoga, Senam Hamil, Proses Persalinan

(13)

xv

EFFECTIVENESS OF YOGA AND GENTLE PRENATAL GENTLE PREGNANT OF LABOR PROCESS

SISTEMATIC LITERATURE REVIEW

Dwi Agustina¹, Faridah Hariyani ², Grace.C.Sipasulta ³

1. Students midwifery Balikpapan, Polytechnic Ministry of Health, East Kalimantan.

2. Lecturer of midwifery major, Polytechnic Ministry of Health, East Kalimantan.

3. Lecturer of nurse major, Polytechnic Ministry of Health, East Kalimanan

*Corresponding Author : Dwi Agustina, Department of Midwifery Balikpapan, Polytechnic Ministry of Health of East Kalimantan, Indonesia

Email : [email protected] , Phone : +6282123888852 ABSTRACT

Background : sectio caesaria deliveries on average in one country 5-15% per 1000 births in the world. Government hospitals are around 11%, private hospitals are more than 30%, section caesaria in Indonesia is 9.8%. The old parturition is characterized by a latent phase of more than 8 hours, labor has lasted 12 hours or more without the birth of the baby, and cervical dilatation to the right of the alert line on the partograph.

Research purposes: to analyze and review journals related to the effectiveness of the prenatal gentle yoga and childbirth gymnastics

Literature review's methods search jurmal database (Google searc and googlei Coolar) between 2010 and 2020 the search for and process of dal literature selection research uses a Prisma diagram

Objectives: to find out the effectiveness of prenatal gentle yoga and pregnancy exercises for childbirth.

Research Design:. in jurmal, studby design and publication tpe quasy Experimen, Pre Experiment, Deskriptif Korelasional

Results: The study's literature review states that a prenatal of the gerile yoga and the pregnant gymnastics can help with the prose and thus reduce the nveri and anxiety in the days of bersalim's mother

Conclusion: prenatal genzle joga training and pregnant exercises can improve and assist mother during persalman's process, sehmigga can reduce the incidence of secsio cesaris sarta complications at childbirth.

Keywords: Prenatal gentle yoga, Pregnancy Exercise, Childbirth

(14)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan adalah suatu proses yang fisiologis, dimana terjadinya pengeluaran hasil konsepsi (janin dan placenta) yang dapat hidup diluar kandungan dimulai dengan adanya kontraksi uterus, penipisan dan pembukaan serviks, kelahiran bayi dan placenta melalui jalan lahir atau melaui jalan lain (abdomen), dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan ibu sendiri) (Wiknjosastro, 2012). Persalinan normal untuk primi 12 sampai 18 jam sedangkan untuk multi antara 8-12 jam.

Partus lama ditandai dengan fase laten lebih dari 8 jam, persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi, dan dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf (Wiknjosastro, 2012).

Salah satu faktor yang berperan penting dalam proses persalinan yaitu kekuatan mendorong janin keluar meliputi his (kekuatan uterus) dan kontraksi otot dinding perut.

Kondisi psikologis dapat berpengaruh terhadap tenaga ibu dan kelancaran proses persalinan. 97% persalinan adalah persalinan fisiologis namun kecemasan dalam persalinan dapat menimbulkan ketegangan otot-otot polos dan pembuluh darah, sehingga terjadi kekakuan serviks dan hipoksia pada rahim yang menyebabkan impuls nyeri bertambah banyak, impuls nyeri melalui thaloma limbic ke korteks serebri dengan akibat menambah rasa takut, sehingga kontraksi rahim berkurang. Hal ini mengakibatkan persalinan butuh

(15)

waktu yang lama dan mungkin membutuhkan alat bantu bahkan operasi Caesar (S. Wahyuni & Siswanto, 2010)

Persalinan sectio caesarea adalah persalinan buatan, janin dilahirkan melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomy) dan dnding uterus atau rahim (histerectomi). Standart rata-rata sectio caesaria di sebuah Negara adalah sekitar 5-15% per 1000 kelahiran di dunia. Rumah sakit pemerintah kira-kira 11%, sementara rumah sakit swasta biasa lebih dari 30%. Angka kejadian bedah sectio caesaria berdasarkan data statistic Riskesdas (2013) menunjukkan kelahiran section caesaria di Indonesia sebesar 9,8% (WHO, 2012)

Hasil rekam medik RSUD. Abdul Wahab Syahranie Samarinda Kalimantan Timur tercatat bahwa angka persalinan dengan sectio caesaria pada tahun 2015 sebanyak 32,03%, tahun 2016 sebanyak 27,79%, tahun 2017 sebanyak 34,28% (Fauziah & Fitriana, 2018)

Angka sectio caesaria di rumah sakit daerah Panglima Sebaya Kabupaten Paser pada tahun 2018 adalah sebanyak 268 kasus tindakan sectio caesaria. Fenomena kelahiran yang terjadi di Desa Mendik melalui survey pendahuluan dari 170 kelahiran di tahun 2018, jumlah rujukan kasus persalinan adalah 22 kasus karena persalinan lama, dari 22 kasus persalinan lama, sebanyak 10 kasus bereakhir dengan tindakan sectio caesarea. Hal ini dapat dicegah salah satunya melalui senam yoga (Data PWS Terpadu Puskesmas Mendik 2018).

(16)

Salah satu tujuan Millennium Development Goals (MDGs) yang dilanjutkan dalam Sustainable Development Goals (SGDs) adalah menurunkan Angka kematian ibu (AKI) (Kemenkes RI, 2018). AKI di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

Di Indonesia AKI pada tahun 2017 sebanyak 305 per 100.000 kelahiran hidup, dan merupakan angka kematian ibu tertinggi di Negara ASEAN. AKI di Kalimantan Timur tahun 2017 adalah 110 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, 2017).

AKI di Kabupaten Paser tahun 2017 adalah 7 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Dinas Kesehatan Paser, 2017). Penyebab paling besar adalah perdarahan 28%, pre eklampsia-eklampsia sebanyak 24% dan infeksi sebanyak 11%. Salah satu penyebab AKI adalah adanya penyulit dalam persalinan (Kemenkes RI, 2018)

AKI yang masih tinggi ini salah satunya disebabkan karena perdarahan, hipertensi, infeksi, partus lama, abortus dan lain-lain. Penyulit persalinan dapat disebabkan karena faktor fisik, faktor emosi dan faktor sosial.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 AKI yang masih tinggi disebabkan karena beberapa factor. Penyebab kematian ibu terbesar adalah perdarahan yaitu sebesar 30.3% dan partus lama merupakan penyebab terendah yaitu sebesar 1.8% namun perlu penanganan lebih baik agar tidak terjadi saat persalinan (Kemenkes RI, 2018)

Senam yoga merupakan salah satu teknik relaksasi. Relaksasi akan menghambat peningkatan syaraf simpatik, sehingga hormon penyebab

(17)

disregulasi tubuh dapat dikurangi jumlahnya. Sistem syaraf parasimpatik, yang memiliki fungsi kerja yang berlawanan dengan syaraf simpatik, akan memperlambat atau memperlemah kerja alat internal tubuh. Akibatnya, terjadi penurunan detak jantung, irama nafas, tekanan darah, ketegangan otot, tingkat metabolisme, dan produksi hormon penyebab stres.

Seiring dengan penurunan tingkat hormone penyebab stres, maka seluruh badan mulai berfungsi pada tingkat lebih sehat dengan lebih banyak energi untuk penyembuhan (healing), penguatan (restoration), dan peremajaan (rejuvenation) (Domin, 2010).

Penelitian Patmawati tahun 2017 menunjukkan hasil bahwa kemajuan persalinan pada fase aktif pada primigravida yang diberikan pelatihan yoga lebih dari 50% persalinan menunjukkan kemajuan persalinan 6 jam dan yang tidak diberi pelatihan yoga lebih dari 6 jam lama persalinanya. Hasil Uji Wilcoxon Mann Whitney U dalam nilai SPSS p <0,05, ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemajuan persalinan antara kelompok yang diberikan latihan yoga dengan yang tidak diberikan latihan yoga.

Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh latihan yoga terhadap kemajuan kala I perpersalinan pada fase aktif primigravida dilakukan uji regresi linier dan mendapatkan nilai R2 = 0,383, yang berarti latihan yoga berpengaruh sebesar 38,3% terhadap proses persalinan kala I. Dalam upaya mengatasi kecemasan dan rasa sakit saat melahirkan, yoga dapat disebarluaskan ke publik untuk dilakukan secara rutin.

(18)

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti tentang

“Efektifitas prenatal gentle yoga dan senam hamil terhadap proses persalinan”. Sistemic Literatur Review

B. Rumusan Masalah

Proses persalinan merupakan hal yang alamiah tetapi selama persalinan dapat terjadi komplikasi yang dapat menghambat kelancaran proses persalinan. Jumlah rujukan kasus persalinan di puskesmas Mendik adalah 22 kasus karena persalinan lama, dari 22 kasus persalinan lama, sebanyak 10 kasus berakhir dengan tindakan sectio caesarea. Aktifitas fisik seperti senam hamil dan yoga dapat membantu kelancaran proses persalinan.

Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah prenatal gentle yoga dan senam hamil efektif terhadap proses persalinan?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk menganalisis dan mengkaji jurnal yang berkaitan dengan efektifitas prenatal gentle yoga dan senam hamil terhadap proses persalinan

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menganalisis dan mengkaji jurnal yang berkaitan dengan pengaruh prenatal gentle yoga terhadap proses persalinan

(19)

b. Untuk menganalisis dan mengkaji jurnal yang berkaitan dengan pengaruh senam hamil terhadap proses persalinan

c. Untuk menganalisis dan mengkaji jurnal yang berkaitan dengan pengaruh senam hamil dan prenatal gentle yoga terhadap proses persalinan

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Sebagai bahan masukan, evaluasi dan pertimbangan membuat program baru dalam pelayanan antenatal dan intranatal yang berkualitas dalam pemberdayaan ibu hamil dan ibu bersalin pada proses persalinan.

2. Manfaat Ilmiah

Sebagai bahan masukan dalam pengembangan ilmu, bahan pustaka untuk proses pembelajaran bagi pembaca dan bahan kajian untuk peneliti.

(20)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Persalinan

a. Pengertian persalinan

Persalinan normal adalah persalinan yang di mulai secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan, bayi lahir secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan 37-42 minggu lengakap dan setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat (WHO, 2012)

Persalinan adalah suatu proses yang fisiologis, dimana terjadinya pengeluaran hasil konsepsi (janin dan placenta) yang dapat hidup diluar kandungan dimulai dengan adanya kontraksiuterus, penipisan dan pembukaan serviks, kelahiran bayi dan placenta melalui jalan lahir atau melaui jalan lain (abdomen), dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan ibu sendiri) (Wiknjosastro, 2012).

b. Jenis Persalinan

1) Persalinan Spontan, jika persalinan berlangsung dengan kekuatan ibunya sendiri dan melalui jalan lahir.

2) Persalinan Buatan, persalinan yang berlangsung dengan buatan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan forceps/dilakukan section caesaria.

(21)

3) Persalinan Anjuran, bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan misalnya pemberian pitocin dan prostaglandin (Prawirohardjo, 2014).

c. Menurut cara persalinan

1) Persalinan normal (partus spontan) merupakan proses lahirnya hasil konsepsi (bayi dan placenta) melaui jalan lahir pada usia kehamilan cukup bulan/aterm (37-40 minggu), yang berlangsung kurang dari 24 jam, dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat, serta tidak melukai ibu dan bayi yang dilahirkan.

2) Persalinan luar biasa (abnormal) adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat (vacuum/foeceps) atau melaui dinding perut dengan operasi seksio caesaria (Prawirohardjo, 2014).

d. Menurut umur kehamilan

1) Abortus (keguguran) adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram sehinggajanin belum dapat hidup diluar kandungan 2) Partus imaturus adalah penghentian kehamilan padausia

kehamilan kurang dari 28 minggu dengan berat kurang dari 1000 gram.

3) Partus prematurus adalah persalinan yang terjadi ketika hasil konsepsi (kehamilan) berusia 28 sampai 36 minggu dengan berat janin kurang dari 2500 gram.

(22)

4) Partus maturus atau aterm (cukup bulan) adalah partus yang terjadi pada usia kehamilan 37 sampai 40 minggu (janin matur) dengan erat badan 2500-4000 gram.

5) Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi dua minggu atau lebih dari waktu taksiran persalinan (lebih dari 42 minggu) (Prawirohardjo, 2014).

e. Tanda-tanda Inpartu

Menurut (Purwaningsih & Fatmawati, 2010) tanda-tanda inpartu, antara lain:

1) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.

2) Keluar ledir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan–robekan kecil pada servik.

3) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.

4) Pemeriksaan dalam: servik mendatar dan pembukaan telah ada.

f. Tahapan Persalinan 1) Kala I

Adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan 0 (nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini berlangsung kurang lebih 18-24 jam, yang terbagi menjadi 2 fase:

a) Fase laten (8 jam): pembukaan 0 cm sampai pembukaan 3 cm.

b) Fase aktif (7 jam): pembukaan serviks 3 cm sampai pembukaan 10 cm.

(23)

Fase aktif di bagi menjadi 3 fase yaitu:

a) Fase akselerasi: pembukaan 3 cm menjadi 4 cm berlangsung 2 jam.

b) Fase dilatasi maksimal: pembukaan berlangsung sangat cepat dari pembukaan 4 cm menjadi 9 cm, berlangsung 2 jam.

c) Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat 9 cm menjadi 10 cm, berlangsung 2 jam (Sumarah, 2009).

2) Kala II

Tahap ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan keluarnya janin. Median durasinya adalah 50 menit untuk nulipara dan 20 menit untuk multipara. Selama ini, aturan–aturan yang membatasi durasi kala dua. Kala dua persalinan pada nulipara dibatasi 2 jam dan multipara 1 jam. Aturan ini telah cukup ditegak didunia obstetri Amerika yang menyatakan forsep biasanya di indikasikan apabila kala 2 berlangsung lebih dari 2 jam. Aturan ini berasal dari kekhawatiran kesehatan janin (Cunningham, 2013).

3) Kala III

Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit (Sumarah, 2009). Biasanya plasenta akan lepas dalam 5 menit.

Tanda–tanda plasenta lepas adalah:

(24)

a) Keluar semburan darah dari vagina.

b) Tali pusat memanjang.

c) Uterus menjadi globuler dan teraba lebih keras.

d) Pada saat plasenta masuk dalam vagina, fundus uteri meninggi 4) Kala IV

Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum (Saifuddin & Bari, 2008). Kala IV dimaksutkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama.

Obseravasi yang dilakukan pada kala IV adalah:

a) Tingkat kesadaran penderita.

b) Pemeriksaan tanda–tanda vital: tekanan darah, nadi, dan pernapasan

c) Kontraksi uterus d) Terjadinya perdarahan.

Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 500 cc (Sumarah, 2009).

g. Factor yang mempengaruhi persalinan 1) Passage atau jalan lahir

Jalan lahir merupakan komponen yang sangat penting dalam proses persalinan yang terdiri dari jalan lahir tulang dan jalan lahir lunak. Proses persalinan merupakan proses mekanisme yang melibatkan 3 faktor, yaitu jalan lahir, kekuatan yang mendorong dan

(25)

akhirnya janin yang di dorong dalam satu mekanisme terpadu. Jalan lunak pada keadaan tertentu tidak akan membahayakan janin dan sangat menentukan proses persalinan (Manuaba, 2010).

Berdasarkan pada ciri-ciri bentuk PAP (Yanti, 2010) ada 4 bentuk dasar panggul, yaitu: Ginekoid : paling ideal, bulat 45%, Android: panggul pria, segitiga 15%, Anthropoid: agak lonjong seperti telur 35%, Jenis platipelloid: picak, menyempit arah muka belakang 5%.

a) Ukuran panggul

Ukuran-ukuran panggul (Sumarah, 2009) Ukuran-ukuran luar panggul yaitu:

(1) Distansia spinarum: jarak antara kedua spina iliaka anterior superior (24-26 cm).

(2) Distansia cristarum: jarak antara kedua crista iliaka sinistra dekstra (28-30 cm).

(3) Konjugata eksterna (distansia boudeloque): diameter antara lumbal ke-5 dengan tepi atas symfisis pubis (18-20 cm).

(4) Lingkar panggul: jarak antara tepi atas symfisis pubis ke pertengahan antara trockhater dan spinailika anterior superior kemudian ke lumbal ke-5 kembali ke sisi sebelahnya sampai kembali ke tepi atas symfisis pubis (80- 90 cm).

(26)

Kelenturan jalan lahir merupakan perineum yang lunak dan elastis serta cukup lebar, umumnya tidak memberikan kesukaran dalam kelahiran kepala janin (Mochtar, 2010). Alat genital perempuan mempunyai sifat yang lentur. Jalan lahir akan lentur pada perempuan yang rajin berolahraga atau rajin bersenggama. Olahraga renang dianjurkan karena dapat melenturkan jalan lahir dan otot-otot di sekitarnya. Jalan lahir yang lentur dapat melahirkan kepala bayi dengan lingkar kepala

> 35 cm, padahal diameter awal vagina adalah 4 cm. Kelenturan jalan lahir berkurang bila calon ibu yang kurang olahraga, atau genitalnya sering terkena infeksi. Infeksi akan mempengaruhi jaringan ikat dan otot di bagian bawah dan membuat kelenturannya hilang (karena infeksi dapat membuat jalan lahir menjadi kaku). Bayi yang mempunyai lingkar kepala maksimal tidak akan dapat melewatinya (Sinsin, 2008).

2) Passanger atau janin a) Janin besar

Bayi dengan berat 3500–4000 gram digolongkan bayi besar. Pada janin besar, faktor keturunan memegang peranan sangat penting, dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes militus, pada postmaturitas dan pada grandemultipara. Kesukaran yang ditimbulkan dalam persalinan adalah karena besarnya kepala atau kepala yang lebih

(27)

keras tidak dapat memasuki pintu atas panggul, atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul (Wiknjosastro, 2012)

b) Berat badan janin

Janin (bayi) aterm mempunyai tanda cukup bulan, 280 hari (40 minggu) dengan berat badan sekitar 2500 sampai 3000 gram dan panjang badan sekitar 50 sampai 55 cm (Saifuddin & Bari, 2008).

Menurut (Saifuddin & Bari, 2008) bayi berat lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram.

Bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah dibedakan menjadi:

(1) Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gram.

(2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram.

(3) Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gram 3) Power

a) His (kontraksi uterus)

His adalah kontraksi uterus (uterine contraction). Selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas, uterusmengadakan kontraksi, tetapi frekuensi dan intensitasnya berbeda–beda. Pada akhir kala I atau kala II, jumlah kontraksi adalah 3-4 kali tiap 10 menit (2-3 menit sekali) dengan intensitas 50-60 mmHg. Dengan adanya his maka terjadilah perubahan–perubahan pada serviks berubah pendataran dan pembukaan. Serviks yang mengalami edema karena mengejan pada saat pembukaan belum lengkap sehingga menghambat pembukaan

(28)

lebih lanjut dan mengakibatkan ibu kelelahanmengejan sehingga menyebabkan kala II tidak maju atau kala II lama (Siswosudarmo &

Emilia, 2009).

Sifat-sifat his yang baik adalah:

(1) Teratur.

(2) Makin lama makin sering, intensitas makin kuat, durasi makin lama.

(3) Ada dominansi fundus.

(4) Menghasilkan pembukaan dan atau penurunan kepala.

b) Umur ibu

Usia di bawah 16 tahun atau diatas 35 tahun mempredisposisi wanita terhadap sejumlah komplikasi. Usia dibawah 16 tahun insiden preeklampsia sedangkan usia diatas 35 tahun meningkatkan insiden hipertensi kronis dan persalinan yang lama pada dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun.

Kematain maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun (Wiknjosastro, 2012).

c) Paritas

Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari atau sama dengan 500 gram yang pernah dilahirkan, hidup maupun mati.

(29)

Paritas mempengaruhi durasi persalinan dan insiden komplikasi. Pada multipara dominasi fundus uteri lebih besar dengan kontraksi uterus lebih besar dengan kontraksi lebih kuat dan dasar panggul yang lebih rileks sehingga bayi lebih mudah melalui jalan lahir dan mengurangi lama persalinan. Namun pada grandemultipara, semakin banyak jumlah janin, persalinan secara progresif lebih lama. Hal ini diduga akibat keletihan pada otot–otot uterus. Semakin tinggi paritas insiden plasenta previa, perdarahan, mortalitas ibu dan mortalitas perinatal juga meningkat.

4) Penolong

Peran petugas kesehatan adalah memantau dengan seksama dan memberikan dukungan serta kenyamanan pada ibu, baik segi emosi atau perasaan maupun fisik. Setelah terjadi pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran apabila ada orongan kuat dan spontan untuk meneran.

Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan dan menahan nafas, anjurkan ibu beristirahat diantara kontraksi. Meneran hanya menambah daya kontraksi untuk mengeluarkan bayi. Ibu dipimpin mengejan saat ada his atau kontraksi rahim, dan istirahat bila tidak ada his (Saifuddin & Bari, 2008).

Pada kasus yang ditangani oleh dukun atau tenaga paramedis yang tidak kompeten, sering kali penderita disuruh mengejan walaupun pembukaan belum lengkap. Akibatnya serviks menjadi edema dan menghambat pembukaan lebih lanjut, ibu mengalami kelelahan sehingga

(30)

persalinan berlangsung lama. Pada kala II ibu sudah tidak dapat mengejan menyebabkan kala II tidak maju atau kala II lama.

5) Kejiwaan/Psikis Ibu

Perlu disadari bahwa persalinan adalah suatu tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah, walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah tersebut. Kecemasan tersebut antara lain meliputi: rasa cemas apakah mereka dapat mengatasi kesukaran yang terjadi, cemas apakah janin yang dikandung tidak cacat, dan cemas menghadapi rasa sakit (Wiknjosastro, 2012).

Kecemasan, kelelahan, kehabisan tenaga, dan kekawatiran ibu, seluruhnya menyatu sehingga dapat memperberat nyeri fisik yang sudah ada. Kecemasan ibu meningkat semakin berat, sehingga terjadinya siklus nyeri–stress–nyeri dan seterusnya sehingga akhirnya ibu yang bersalin tidak mampu lagi bertahan. Kejadian seperti ini menyebabkan makin lamanya proses persalinan sehingga janin dapat mengalami kegawatan (fetaldistress). Pada kala II sering disebut prolonged second stage / pembukaan lengkap ibu ingin mengedan tapi tidak ada kemajuan penurunan (Yanti, 2010).

2. Prenatal Yoga a. Pengertian Yoga

Yoga adalah sebuah ilmu yang menjelaskan kaitan antara fisik, mental dan spiritual manusia untuk mencapai kesehatan yang

(31)

menyeluruh. Yoga dari bahasa sanksekerta yang berarti union (persatuan) ini terbentukdari kebudayaan India kunosejak 5000 tahun yang lalu dan bertujuan menyatukan atman (diri) dengan Brahman (Sang Pencipta) (Sindhu & Pujiastuti, 2013)

Prenatal yoga (yoga bagi kehamilan) merupakan modifikasi dari yoga klasik yang telah disesuaikan dengan kondisi fisik wanita hamil yang dilakukan dengan intensitas yang lebih lembut dan perlahan. Selain mengatasi gangguan tidur, berlatih yoga pada masa kehamilan trimester III juga merupakan salah satu solusi yang bermanfaat sebagai media self help yang akan mengurangi ketidaknyamanan selama hamil, membantu proses persalinan, dan bahkan mempersiapkan mental untuk masa-masa awal setelah melahirkan dan saat membesarkan anak (Sindhu & Pujiastuti, 2013).

b. Manfaat Prenatal Yoga

1) Meningkatkan kekuatan dan stamina tubuh saat hamil.

2) Melancarkan sirkulasi darah dan asupan oksigen ke janin.

3) Mengatasi sakit punggung dan pinggang, skiatika, konstipasi, pegalpegal, susah tidur dan bengkak pada sendi.

4) Melatih otot perineum (otot dasar panggul) yang berfungsi sebagai otot kelahiran, membuat otot lebih kuat dan elastic sehingga mempermudah proses kelahiran.

5) Mengurangi kecemasan dan mempersiapkan mental sang ibu untuk menghadapi persalinan.

(32)

6) Meningkatkan kualitas tidur dan mempermudah proses kelahiran.

7) Yoga mengajarkan teknik-teknik penguasaan tubuh dan menekankan bahwa otot yang tegang akan berpengaruh saat tidur dan proses persalinan. Saat tubuh tegang, pikiran akan tegang dan ibu akan cenderung menahan napas. Berlatih yoga secara teratur, ibu akan mampu mengenali munculnya setiap ketegangan tersebut dan menjaga agar sauna fikiran tetap relaks, menjaga napas tetap dalam, dan akhirnya membuat otot tubuh menjadi relaks.

8) Menjalin komunikasi antara ibu dan anak sejak masih di dalam kandungan.

9) Mempercepat pemulihan fisik dan mengatasi depresi pasca melahirkan (Sindhu & Pujiastuti, 2013).

c. Persiapan Prenatal Yoga (Sindhu & Pujiastuti, 2013).

1) Kenakan pakaian yang pas (tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat), berbahan ringan dan menyerap keringat.

2) Pakailah bra khusus untuk ibu hamil yang bisa menyangga payudara dengan baik.

3) Berlatih tanpa alas kaki (kaos kaki atau sepatu) diatas matras yoga yang anti slip untuk mencegah resiko terpeleset dan terkilir.

4) Gunakan beberapa alat bantu yang mudah ditemukan dirumah seperti bantal tidur, kursi pendek, kursi kayu, bean bag, dan ikat pinggang.

(33)

5) Berlatihlah dalam ruangan yang sama dan dengan waktu yang sama setiap harinya untuk menciptakan suasana dan memudahkan pikiran ibu langsung menyatu dengan suasana yoga. Ibu dapat pula menyetel music yang lembut saat berlatih untuk menciptakan suasana pikiran yang tenang.

6) Kosongkan perut sebelum berlatih, 2 jam setelah makan berat dan 1 jam setelah makan ringan.

7) Minum air sesering mungkin sebelum, setelah, dan saat berlatih.

Ibu hamil sangat mudah terkena dehidrasi yang dapat membahayakan ibu dan janin.

d. Kontraindikasi Prenatal Yoga

1) Rasa pusing, mual dan muntah yang berkelanjutan.

2) Gangguan penglihatan.

3) Kram pada perut bagian bawah.

4) Kontraksi.

5) Perdarahan atau pecah air ketuban.

6) Pembengkakan pada tangan dan kaki, tremor (kaki dan tangan gemetar).

7) Berkurangannya produksi urin dan serangan penyakit tiba-tiba (seizure).

8) Detak jantung yang terlalu cepat dan gerakan janin yang melemah.

e. Sekuen Prenatal Yoga Pada Ibu Hamil Trimester III

(34)

Menurut Sindhu & Pujiastuti (2013) sekuen prenatal yoga pada ibu hamil trimester III adalah:

1) Pranayama (pernapasan)

a) Teknik pernapasan diafragma

Teknik pernapasan ini merupakan teknik pernapasan dasar dari semua teknik pernapasan yoga (pranayama). Teknik ini bermanfaat untuk mengaktifkan otot diafragma dan paru-paru bagian bawah, memijat organ perut bagian dalam, melancarkan pencernaan/ mengatasi sembelit, melatih kesadaran pada otototot dasar panggul, serta meningkatkan ketenangan. Teknik ini juga digunakan saat bermeditasi. Adapun teknik pernapasan diafragma adalah sebagai berikut:

(1) Teknik I

(a) Letakkan satu tangan pada perut bagian atas, dan tangan lainnya pada perut bagian bawah.

(b) Tarik napas melalui hidung, rasakan perut mengembang, dan jarak diantara kedua tangan semakin merenggang.

(c) Buang napas, rasakan perut kembali melembut mengempis, dan jarak antara kedua tangan kembali seperti semula.

(d) Lakukan selama beberapa putaran dan lakukan sambil memejamkan mata.

(35)

Gambar 2.1. Teknik I Pernapasan Diafragma (2) Teknik II

(a) Letakkan kedua tangan di perut bagian bawah, pada lengkungan bawah perut.

(b) Tarik napas melalui hidung, dan rasakan perut bagian bawah mengembang sehingga mendorong tangan ke luar.

(c) Buang napas, rasakan perut kembali lembut mengempis.

(d) Lakukan selama beberapa putaran dan lakukan sambil memejamkan mata.

(36)

Gambar 2.2. Teknik II Pernapasan Diafragma b) Teknik pernapasan berdengung (brahmari)

Brahmari disebut juga dengan teknik pernapasan lebah (bee breath) karena saat menghembuskan napas akan keluar suara berdengung panjang. Teknik pernapasan ini bermanfaat untuk mengusir kecemasan, menenangkan pikiran, dan mengatasi insomnia atau meningkatkan kualitas tidur ibu hamil.

Teknik pernapasan berdengung (brahmari) yaitu:

(1) Posisi duduk bersila diatas bantal tipis dengan panggul yang lebih tinggi dari lutut dan punggung ditegakkan.

(2) Jari-jari tangan menyumbat telinga dan menutup mata.

(3) Tarik napas dalam dari hidung, dan sempitkan pita suara diujung tarikan napas.

(4) Buang napas perlahan dan panjang. Istirahatkan pikiran dengan mendengarkan suara mendengung panjang yang dihasilkan saat melakukan posisi ini.

(37)

(5) Lakukan selama beberapa putaran hingga ibu merasa nyaman.

Gambar 2.3 Teknik Pernapasan Berdengung (Brahmari) 2) Latihan pemanasan

Latihan pemanasan merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum ibu beryoga.Latihan pemanasan bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, meningkatkan kelenturan otot dan sendi dan mempermudahnya untuk melakukan postur yoga, serta

(38)

menghindarkan cidera pada otot dan ligamen (jaringan ikat sendi).

Lakukan pemanasan ringan seperti:

a) Melakukan latihan untuk leher, dengan merentangkannya ke belakang dan ke depan, menengok ke kanan dan kiri, dan memutar leher.

b) Memutar sendi bahu, siku, dan pergelangan tangan.

c) Merentangkan tubuh ke samping.

d) Memuntir ringan tulang punggung.

e) Meregangkan panggul.

f) Merentangkan lutut.

g) Memutar pergelangan kaki.

h) Merentangkan jari-jari kaki.

(39)

Gambar 2.4 Latihan Pemanasan 3) Asana (postur yoga)

a) Mudhasana (postur anak)

Mudhasana merupakan postur yoga restorative yang ideal untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran, membuat ibu kembali ke

(40)

bumi. Postur ini bermanfaat untuk mengistirahatkan otot punggung dan organ perut dalam, meringankan mual dan sakit punggung, meredakan ketegangan dan mengambalikan rasa nyaman. Adapun teknik mudhasana ialah:

(1) Duduk diatas tumit dan regangkan kedua lutut hingga sejajar panggul.

(2) Buang napas, condongkan tubuh ke depan dan istirahatkan kening pada alas. Letakkan kedua lengan disamping tubuh dengan kedua telapak tangan sejajar dengan telapak kaki dan menghadap keatas. Pejamkan mata dan dalamkan napas.

Lakukan posisi ini selama yang ibu inginkan.

(3) Tarik napas dan perlahan kembali duduk diatas tumit.

Gambar 2.5 Postur Mudhasana (Postur Anak) b) Putaran sufi

Putaran sufi iniberasal dari tradisi kundalini karena menyerupai gerakan menari berputar para penari sufi. Bermanfaat untuk

(41)

melenturkan sendi-sendi panggul dan melepaskan ketegangan pada pinggang dan panggul. Teknik putaran sufi ialah:

(1) Duduk dengan kedua lutut ditekuk dan telapak kaki ditempelkan. Letakkan kedua tangan pada lutut.

(2) Condongkan tubuh ke depan, jaga agar punggung tidak membungkuk.

(3) Perlahan gerakkan tubuh berputar membuat lingkaran besar.

(4) Lakukan selama 5-10 putaran, kemudian ganti arah.

(5) Lakukan sambil bernapas dalam perlahan.

(6) Kembali luruskan kaki dan gerakkan otot kaki.

Gambar 2.6 Postur Putaran Sufi

(42)

c) Bilikasana 1 (postur peregangan kucing)

Postur ini bermanfaat untuk menguatkan dan melenturkan otot punggung, menguatkan dan terbebas dari tekanan akibat pertumbuhan janin, mengatasi sakit punggung (back pain), melatih otot dan sendi panggul serta melancarkan aliran darah ke janin.

Adapun postur bilikasana 1 ialah sebagai berikut:

(1) Dalam posisi meja/ merangkak. Letakkan kedua telapak tangan dialas dan sejajar dengan bahu, lutut dialas sejajar panggul.

Telapak tangan menempel flat pada alas dan regangkan jari-jari tangan.

(2) Perlahan buang napas dan tarik tulang ekor ke dalam, bungkukkan tulang punggung mulai dari pinggang hingga ke leher, dan tarik dagu ke dada. Mata menatap pusar dan bernapas perlahan.

(3) Tarik napas, arahkan tulang ekor ke luar, panjangkan tulang punggung, dorong dada ke depan, dan tarik dagu keatas.

(4) Mata menetap pada satu titik diatas dan bernapas perlahan.

(5) Lakukan 5-10 putaran secara perlahan seiring napas.

(43)

Gambar 2.7 Postur Bilikasana 1 d) Bilikasana 2 (postur peregangan kucing variasi 2)

(1) Dalam posisi meja atau merangkak. Letakkan kedua telapak tangan di alas dan sejajar bahu, lutut di alas dan sejajar panggul.

Telapak tangan menempel flat pada alas dan renggangkan jari- jari tangan.

(2) Tarik napas, rentangkan tangan kiri ke depan sejajar bahu, dan rentangkan kaki kanan ke belakang sejajar panggul.

(3) Mata menatap ke depan. Bernapas perlahan sambil menahan (4) posisi ini selama 15 detik.

(5) Buang napas, tekuk lutut dan siku dan pertemukan di bawah tubuh. Lemgkungkan tubuh. Bernapas perlahan.

(6) Tarik napas, kembali rentangkan lengan dan kaki.

(7) Buang napas, turunkan tangan dan kaki, kembali dalam postur meja.

(8) Lakukan dengan sisi lainnya.

(44)

Gambar 2.8 Postur Bilikasana 2 e) Tadasana (postur berdiri gunung)

Ini merupakan postur berdiri dasar yoga. Tadasana bermanfaat untuk melatih postur tubuh yang tegak, menguatkan otot kaki, dan berguna untuk proses persalinan ibu kelak. Posisi tadasana ialah:

(1) Berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. Rasakan telapak dan jari kaki mencengkram alas. Apabila tidak nyaman dengan kaki dirapatkan, silahkan renggangkan kedua kaki sejajar panggul.

(2) Kencangkan otot paha bagian depan dan otot bokong. Tarik tulang ekor masuk dan pastikan tulang punggung dalam posisi lurus.

(3) Dorong dada ke depan, tarik bahu ke belakang, dan tarik belikat kearah bawah. Biarkan kedua lengan bergantung disamping tubuh dengan telapak tangan menghadap tubuh.

(4) Jaga agar dagu tetap sejajar alas. Bernapas dalam posisi ini menggunakan pernapasan diafragma.

(45)

Gambar 2.9 Postur Tadasana (Postur Berdiri Gunung) f) Meditasi metta (menjalin komunikasi dengan buah hati)

Meditasi ini bertujuan untuk membangkitkan dan menguatkan rasa kasih sayang dan cinta kasih yang akan menjalin keterikatan antara kita dan makhluk hidup lainnya. Meditasi ini dilakukan dengan cara mengucapkan kalimat-kalimat pengharapan yang baik didalam hati. Saat melakukannya akan muncul perasaan kasih sayang dan cinta yang akan menghubungkan ibu secara batin dengan seseorang yang menjadi objek meditasinya, terutama sang bayi. Adapun teknik meditasi metta ialah:

(1) Duduk atau berbaring dalam posisi yang nyaman. Atur beberapa tarikan napas dalam dan hembusan napas perlahan.

(2) Saat mengatur napas, atur pola pikiran untuk semakin melambat dan melambat.

(3) Arahkan perhatian pada tubuh, rasakan sensasi dan posisi tangan, kaki, torso dan kepala. Sadari bagian tubuh tersebut dan

(46)

biarkan bagian tubuh yang mengalami ketegangan untuk melembut relaks. Jaga tubuh agar senyaman mungkin.

(4) Saat tubuh terasa lebih nyaman, arahkan perhatian pada pusat rongga dada. Dalamkan napas, hadirkan perasaan kasih sayang meliputi pusat rongga dada. Ibu dapat mengingat memori di masa lalu yang dapat menghangatkan perasaaan. Biarkan rasa tersebut meliputi rongga dada sambil tetap menjaga kesadaran napas.

(5) Ucapkan di dalam hati dengan penuh perasaan “semoga saya sehat, semoga saya bahagia, semoga saya terlepas dari kesulitan, dan lain-lain”. Pusatkan perhatian pada sensasi perasaa yang muncul. Lakukan selama beberapa kali, dan ketika konsentrasi berkurang, kembali dalamkan napas dan ucapkan kalimat-kalimat pengharapan.

(6) Sesekali pindahkan perhatian ibu pada rongga perut, rasakan kehadirannya saat ini, alirkan pengharapan baik bersama napas ke janin, ibu dapat mengelus lembut perut untuk membantu pikiran agar lebih mudah merasakan respon janin. Lakukan meditas ini selama mungkin. Bawa kembali perhatian pada sensasi tubuh dan mulai gerakkan tubuh secara lembut dan perlahan. Kembali dalamkan napas dan perlahan buka mata.

Jangan terburu-buru untuk menyudahinya, nikmati kebersamaan ibu dengan janin beberapa saat.

(47)

Gambar 2.10 Meditasi Metta 6) Pedoman untuk memulai praktek prenatal gentle yoga

a) Pahami filosofi tentang yoga b) Lakukan saja apa yang terasa benar c) Fokus pada melepaskan

d) Tetap tenang

e) Mengurangi gangguan potensial f) Luangkan waktu pemanasan g) Pernapasan

h) Gerakan lembut

i) Selalu mendengarkan tubuh anda

j) Menghindarkan setiap gerakan yang mengharuskan anda untuk berbaring terlentang lebih dari 15 menit

k) Melewatkan setiap posisi yang meregangkan otot perut terlalu banyak

l) Penuh perhatian dan tidak terburu_buru

(48)

7) Formula Prenatal Gentle Yoga1)

a) Menciptakan ruang (creating space)

Apakah gerakan yang dilakukan menciptakan ruang? Dimana?

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi, ibu hamil seringkali membutuhkan untuk memanjangkan torso untuk menciptakan ruangan dan membuat tubuhnya menjadi lebih nyaman bagi tubuh nya dan bayinya. Dengan memanjangkan torso dan menciptakan ruangan yang lebih terutama bagi bayi akan sangat membantu ibu untuk mempertahankan posisinya kedalam posisi yang baik dan benar serta nyaman. Sehingga gerakan yang dilakukan harus selalu disesuaikan dengan kondisi dan keadaan tubuh ibu dan harus selalu mampu menciptakan ruang (creating space) tanpa meninggalkan “pakem” yang ada.

b) Otot Perut (Abdominal Muscle)

Apakah efek setiap gerakan yang dilakukan dengan otot perut?

Ketika seorang ibu hamil, maka otot perut (rectus abdominis) menjadi semakin membesar bahkan terpisah untuk mengakomodasi tumbuhnya rahim seiring dengan tumbuhnya janin. Pemisahan otot ini adalah suatu hal yang normal, namun jangan sampai pemisahan ini menjadi hal yang semakin tidak baik dan sulit untuk di kembalikan seperti sediakala pada masa post partum (diastase recti). Untuk itu gerakan yang dilakukan harus membuat otot perut semakin baik kondisinya.

(49)

c) Hormon Relaxin (Relaxin Hormon)

Bagian otot dan sendi mana yang banyak di aliri oleh hormone relaxin pada setiap gerakan atau pose atau asanas yang dilakukan?

Hormon relaxin diproduksi lebih banyak selama masa kehamilan, yang mana hormone ini bertugas untuk melubrikasi atau memberi pelumas pada sendi dan jaringan penghubung (connective tissue) serta otot didalam tubuh. Kita harus lebih “aware dan mindfull

untuk melakukan beberapa pose atau asanas pada ibu hamil.

Jangan sampai pose yang dilakukan membuat sendi dan otot menjadi stress secara berlebihan atau mendapatkan tekanan secara berlebihan yang justru ini potensial dapat mengakibatkan cidera atau gangguan di kemudian hari (jangka panjang).

d) Tekanan pada perut (Belly Compression)

Seberapa besar tekanan pada perut yang dialami oleh ibu hamil saat melakukan gerakan atau pose dalam prenatal gentle yoga tersebut?

Pose seperti berbaring terlentang dalam jangka waktu yang lama atau pose memilin perut (closed twist) akan sangat tidak nyaman dan menyebabkan tekanan yang berlebihan pada perut ibu, sehingga harus di hindarkan.

(50)

e) Keselarasan dan Kestabilan (Balance and Stability)

Apakah gerakan yang dilakukan mendukung kestabilan dan keseimbangan pada panggul, terutama pada sacrum dan pubic sympisis?

Karena peningkatan hormone relaxin pada area panggul seringkali membuat area ini menjadi tidak stabil. Nah bagaimana gerakan ini mendukung dan membuat otot panggul ini menjadi lebih stabil dan menjadilebih baik sehingga mampu mengakomodasi proses persalinan menjadi lebih lancer dan proses pemulihan pada masa post partum menjadi lebih baik.

f) Nafas (Breathing)

Nafas adalah salah satu kunci dalam memaksimalkan hasil padaprenatal gentle yoga, sehingga pada prenatal gentle yoga ini harus benar-benar memperhatikan nafas dan gerakan yang dilakukan.

g) Individual Assesment dan Adjustment

Apakah ibu hamil dapat melakukan pose prenatal gentle yoga dengan mudah? Apakah pose yang dilakukan dirasakan nyaman? Bagaimana kestabilan, fleksibilitas dan apakah muncul cidera sebelu dan sesudah melakukan gerakan?

Ketiga hal tersebut di atasharus diperhatikan olehseorang guru prenatal gentle yoga, karena setiap ibu hamil mempunyai kondisi

(51)

yang berbeda. Sehingga assessment dan adjustment yang dilakukan dan diperlukan oleh setiap ibupun berbeda.

8) Pengaruh Senam Yoga Terhadap Kelancaran Proses Persalinan

Peningkatan beban psikologis ibu dapat menimbulkan permasalahan terhadap kualitas janin yang dikandung dan komplikasi yang menyertai proses persalianan ibu. Pencegahan dengan beberapa metode diperlukan untuk meringankan dan mempersiapkan ibu dalam menjaga kehamilan dan proses persalinannya. Pencegahan komplikasi persalinan bertujuan untuk membuat ibu dan bayi baru lahir dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi dan terhindar dari berbagi ancaman dan fungsi reproduksi. Oleh karena itu keseimbangan tubuh dan pikiran harus selalu terpelihara untuk menciptakan pikiran tenang dan nyaman serta keduanya bisa bekerja seimbang, sehingga akan mengarah pada kehamilan dan persalinan yang tenang dan membahagiakan. Alternatif terapi yang dibutuhkan dalam menghadapi persalinan salah satunya adalah dengan melakukan meditasi/yoga (Sindhu & Pujiastuti, 2013).

Kecemasan pada ibu hamil dapat terjadi dikarenakan adanya masa panjang dalam menanti proses kelahiran yang tidak pasti serta ditambah dengan adanya perasaan takut saat menghadapi proses persalinan.

Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2014) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan kecemasan pada hari pertama

(52)

dan hari ketiga sebelum dan sesudah diberikan senam hamil yoga.

Rasa nyeri pada kala I disebabkan oleh munculnya kontraksi otot – otot uterus, peregangan serviks pada saat membuka, dan peregangan segmen bawah rahim. Selama kala I kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi serviks dan iskemia serviks. Latihan yoga yang dilakukan diantaranya meliputi berbagai macam gerakan relaksasi, mengatur postur tubuh, melakukan olah napas dan meditasi selama kurang lebih 1 jam dan dilakukan rutin, memperoleh hasil bahwa kemajuan persalinan pada ibu inpartu mengalami percepatan yaitu selama 4 – 6 jam dibandingkan yang tidak melakukan yoga (> 6jam).

3. Senam Hamil a. Aktifitas Fisik

Selama kehamilan dan nifas akan terjadi perubahan- perubahan fisik, fungsi tubuh dan psikologis. Perubahan ini terjadi karena perubahan system hormonal dalam tubuh yang akan mempengaruhi system organ lain. Petugas kesehatan maupun kader kesehatan yang akan memberikan konsultasi tentang aktifitas fisik sehari-hari dan latihan fisik ringan bagi ibu hamil dan nifas perlu memahami perubahan ini untuk melakukan pemantauan kepada ibu hamil yang akan melakukan latihan fisik (Kemenkes RI, 2018)

Latihan fisik yang dipilih harus dilakukan sesuai dengan kondisi fisik dan mental danusia kehamilannya. Latihan fisik yang

(53)

baik, benar, terukur dan teratur akan membantu ibu hamil untuk menyesuaikan dengan kondisi fisik selama kehamilan dan nifas serta mengurangi keluhan-keluhan yang timbul selama kehamilan dan nifas (Kemenkes RI, 2018).

Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil. Gerakan senam hamil disesuaikan dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ genital, perut tambah membesar, dan lain lain. Dengan mengikuti senam hamil secara teratur dan intensif, ibu hamil dapat mengikuti dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal. Aktif berolahraga senam seorang wanita hamil merasa lebih mudah melalui masa–masa 9 bulan kehamilannya dan membantu melancarkan saat proses persalinan (Maryunani & Sukaryati, 2011).

Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukkan bagi ibu hamil. Senam hamil merupakan suatu usaha untuk mencapai kondisi yang optimal dalam mempersiapkan proses persalinan dengan cara dirancang latihan–latihan bagi ibu hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011).

Sebelum melakukan latihan fisik selama kehamilan harus ada rekomendasi dari tenaga kesehatan yang menyatakan bahwa kondisi ibu dan janin sehat. Latihan fisik tersebut harus aman dan memberikan manfaat yang optimal, sehingga dapat meningkatkan

(54)

kondisi fisik ibu yang menurun selama kehamilan, mempersiapkan proses persalinan yang lancer serta mempercepat pemulihan setelah persalinan (Kemenkes RI, 2018).

1) Sehat

Keadaan sejahtera dari badan,jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomi

2) Kebugaran jasmani

Kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.

3) Aktifitas fisik

Semua gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga atau energy. Contohnya: pekerjaan ruah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci, berkebun,hubungan suami-istri, dan lain-lain.

4) Latihan Fisik

Suatu bentuk aktifitas fisik yang dilakukan secara terstruktur dan terencana, dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Contohnya: peregangan (stretching) dalam pemanasan, latihan beban, berjalan kaki, senam dan lain-lain.

5) Olahraga

Salah satu bentuk aktifitas fisik yang dilakuakan secara terstruktur, terencana, dan berkesinambungan dengan mengikuti

(55)

aturan-aturan tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan prestasi. Contohnya : atletik, bulutangkis, tenismeja, bola basket, bola voli, sepak bola, tenis lapangan dll. Olah raga tersebut diatas tidak dianjurkan bagi ibu hamil yang tidak pernah atau sudah lama tidak melakukan latihan fisik atau olah raga.

b. Alasan Senam Hamil

Senam hamil sebaiknya dilakukan oleh ibu hamil dengan alasan antara lain:

1) Senam hamil merupakan salah satu cara untuk membuat ibu hamil nyaman dan mudah dalam persalinan.

2) Senam hamil mengakibatkan peningkatan norepinefrin di dalam otak, sehingga meningkatkan daya kerja dan mengurangi rasa tegang (Maryunani & Sukaryati, 2011).

c. Tujuan Senam Hamil

1) Persalinan yang fisiologis (alami) dengan ibu dan bayi sehat. 2) Persiapan mental dan fisik untuk ibu hamil.

2) Kontraksi dengan baik, ritmis dan kuat pada segmen bawah rahim, serviks, otot–otot dasar panggul.

3) Relaksasi.

4) Informasi kesehatan (termasuk) tentang kehamilan kepada ibu, suami, keluarga atau masyarakat (Mufdlilah, 2009).

(56)

d. Manfaat Senam Hamil

Berikut ini adalah beberapa manfaat Senam Hamil antara lain:

1) Menyesuaikan tubuh agar lebih baik dalam menyangga beban kehamilan.

2) Memperkuat otot untuk menopang tekanan tambahan.

3) Membangun daya tahan tubuh.

4) Memperbaiki sirkulasi dan respirasi.

5) Menyesuaikan dengan adanya pertambahan berat badan dan perubahan keseimbangan.

6) Meredakan ketegangan dan membantu relaks.

7) Membentuk kebiasaan bernafas yang baik.

8) Memperoleh kepercayaan dan sikap mental yang baik (Maryunani & Sukaryati, 2011).

e. Indikasi

1) Semua kasus kehamilan yang sehat.

2) Usia kehamilan 4–6 bulan dan keluhan–keluhan sudah berkurang atau hilang. Tidak dimulai saat hamil lebih dari 8 bulan (kurang bermanfaat).

3) Senam hamil yang aman yang sekarang di ajarkan adalah senam pilates dengan teknik pernapasan (Anggraini & Subakti, 2013).

(57)

f. Kontraindikasi

1) Anemia gravidarum.

2) Hyperemesis gravidarum.

3) Kehamilan ganda.

4) Sesak nafas.

5) Tekanan darah tinggi.

6) Nyeri pinggang, pubis, dada.

7) Tidak tahan dengan tempat panas atau lembab.

8) Mola hydatidosa.

9) Perdarahan pada kehamilan.

10) Kelainan jantung.

11) PEB (Pre eklamsia berat) (Mufdlilah, 2009).

g. Langkah-lamhkah Denam Hamil

Berikut ini adalah tahapan–tahapan Latihan Senam Hamil yakni:

1) Latihan I

a) Duduk rileks dan badan ditopang tangan dibelakang.

b) Kaki diluruskan dengan sedikit terbuka.

c) Gerakan latihan:

(1) Gerakan kaki kanan dan kaki kiri kedepan dan kebelakang.

(2) Putar persendian kaki melingkar kedalam dan keluar.

(3) Bila mungkin angkat bokong dengan bantuan kedua d) tangan dan ujung kedua telapak kaki.

(58)

(1) Kembangkan dan kempiskan otot dinding perut.

(2) Kerutkan dan kendorkan otot dubur.

2) Latihan II

a) Sikap duduk tegak dengan badan disangga oleh tangan dibelakang badan.

b) Kedua tungkai bawah lurus dalam posisi rapat.

c) Tujuan latihan:

(1) Melatih otot dasar panggul agar dapat berfungsi optimal saat persalinan.

(2) Meningkatkan peredaran darah alat kelamin bagian dalam sehingga sirkulasi menuju plasenta makin sempurna.

d) Bentuk latihan:

(1) Tempatkan tungkai kanan di atas tungkai bawah kiri, silih bergantian.

(2) Kembangkan dan kempeskan otot dinding perut bagian bawah.

(3) Kerutkan dan kendorkan otot liang dubur.

(4) Lakukan gerakan ini sedikitnya 8–10 kali.

(59)

Gambar 2.11 Gerakan Latihan 2 Untuk Otot Dasar Panggul 3) Latihan III

a) Sikap duduk bersila dengan tegak.

b) Tangan di atas bahu sedangkan siku disamping badan.

c) Tujuan latihan:

(1) Melatih otot perut bagian atas.

(2) Meningkatkan kemampuan sekat rongga badan untuk membantu persalinan.

d) Bentuk latihan:

(1) Lengan diletakkan didepan (dada).

(2) Putar keatas dan kesamping, kebelakang dan selanjutnya kembali kedepan badan (dada).

(3) Lakukan latihan ini sedikitnya 8–10 kali.

(60)

Gambar 2.12. Latihan 3 Untuk Melatih Otot Perut 4) Latihan IV

a) Sikap duduk bersila dengan tumit bersekatan satu sama lain.

b) Badan tegak rileks dan paha lemas.

c) Kedua tangan di persendian lutut.

d) Tujuan latihan:

(1) Melatih otot punggung agar berfungsi dengan baik.

(2) Meningkatkan peredaran darah kealat kelamin bagian dalam.

(3) Melatih agar persendian tulang punggung jangan kaku.

e) Bentuk latihan:

(1) Tekanlah persendian lutut dengan berat badan sekitar 20 kali.

(2) Badan diturunkan kedepan semaksimal mungkin.

(61)

5) Latihan V

a) Sikap latihan tidur di atas tempat tidur datar.

b) Tangan di samping badan.

c) Tungkai bawah di tekuk pada persendian lutut dengan sudut tungkai bawah bagian bawah sekitar 80–90 derajat.

d) Tujuan latihan:

(1) Melatih persendian tulang punggung bagian atas.

(2) Melatih otot perut dan otot tulang belakang.

e) Bentuk latihan:

(1) Angkat badan dengan topangan pada ujung telapak keduakaki dan bahu.

(2) Pertahankan selama mungkin di atas dan selanjutnyaturunkan perlahan–lahan.

Gambar 2.13. Latihan 4 Untuk Melatih Otot Tulang Belakang

(62)

6) Latihan VI

a) Sikap tidur terlentang di tempat tidur mendatar.

b) Badan seluruhnya rileks.

c) Tangan dan tungkai bawah lurus dengan rileks.

d) Tujuan latihan:

(1) Melatih persendian tulang punggung dan pinggul.

(2) Meningkatkan peredaran darah menuju alat kelamin bagian dalam.

(3) Meningkatkan peredaran darah menuju janin melalui plasenta.

e) Bentuk latihan:

(1) Badan dilemaskan pada tempat tidur.

(2) Tangan dan tungkai bawah membujur lurus.

(3) Pinggul di angkat kekanan dan kekiri sambil melatih otot liang dubur.

(4) Kembang dan kempeskan otot bagian bawah.

(5) Lakukan latihan ini sedikitnya 10–15 kali.

Gambar 2.14. Latihan 5 Untuk Melatih Persendian Panggul

(63)

7) Latihan Pernapasan

a) Sikap tubuh tidur terlentang di tempat tidur yang datar.

b) Kedua tangan di samping badan dan tungkai bawah ditekuk pada lutut dan santai.

c) Satu tangan di letakkan di atas perut.

d) Tujuan latihan pernapasan:

(1) Meningkatkan penerimaan konsumsi oksigen ibu dan janin.

(2) Menghilangkan rasa takut dan tertekan.

(3) Mengurangi nyeri saat kontraksi.

e) Bentuk latihan:

(1) Tarik nafas perlahan dari hidung serta pertahankan dalam paru beberapa saat.

(2) Bersamaan dengan tarikan nafas tersebut, tangan yang berada di atas perut ikut serta di angkat mencapai kepala.

(3) Keluarkan napas melalui mulut perlahan.

(4) Tangan yang diangkat ikut serta diturunkan.

(5) Lakukan gerakan latihan ini sekitar 8–10 kali dengan tangan silih berganti.

6) Bentuk gerakan lain:

a) Tangan yang berada di atas perut di biarkan mengikuti gerak saat di lakukan tarikan dan saat mengeluarkannya.

(64)

b) Tangan tersebut seolah–olah memberikan pemberat pada perut untuk memperkuat diafragma (sekat rongga badan).

Gambar 2.15 Latihan Pernapasan 7) Latihan relaksasi

Latihan relaksasi dapat dilakukan bersamaan dengan latihan otot tulang belakang, otot dinding perut dan otot liang dubur atau sama sekali relaksasi total.

Gambar 2.16 Latihan Relaksasi a) Latihan Relaksasi Kombinasi

(1) Sikap tubuh seperti merangkak.

(2) Bersikap tenang dan rileks.

(65)

(3) Badan disangga pada persendian bahu dan tulang belakang.

(4) Tujuan latihan kombinasi:

(a) Melatih melemaskan persendian pinggul dan persendian tulang paha.

(b) Melatih otot tulang belakang, otot dinding perut, dan otot liang dubur.

b) Bentuk latihan:

(1) Badan disangga persendian bahu dan tulang paha.

(2) Lengkukan dan kendorkan tulang belakang.

(3) Kembangkan dan kempiskan otot dinding perut.

(4) Kerutkan dan kendorkan otot liang dubur.

(5) Lakukan latihan ini 8–10 kali.

c) Bentuk latihan yang lain:

(1) Tidur miring dengan kaki membujur.

(2) Telentang dengan disangga bantal pada bagian bawah lutut.

(3) Tidur terlentang dengan kaki ditekuk.

(4) Tidur miring dengan kaki ditekuk.

h. Hubungan Senam Hamil dengan Kelancaran Proses Persalinan Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga dapat dimanfaatkan untuk berfungsi secara optimal dalam persalinan normal. Melakukan senam hamil, dapat

Referensi

Dokumen terkait

The simulation results on two scenarios and ten synthetic runs have shown that the ETAMCN algorithm outperforms the Random allocation algorithm, Cloud Z-Score Normaliza- tion CZSN, and