• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA "

Copied!
212
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Seperti apa asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik di RS Abdul Wahab Sjahrani Samarinda Kalimantan Timur. Untuk melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik di Abdul Wahab Sjahrani Samarinda Kalimantan Timur pada tahun 2019.

Manfaat Penelitian

  • Bagi Peneliti
  • Bagi Tempat Penelitian
  • Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Anatomi Ginjal

Nefron terdiri dari beberapa bagian, yaitu badan ginjal atau badan Malpighi yang terdiri dari glomerulus dan kapsul Bowman. Selanjutnya selain nefron juga terdapat tubulus yaitu kumpulan tubulus yang terdiri dari tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal hingga saluran pengumpul atau duktus pengumpul (Tao. L, 2013).

Gambar Anatomi Ginjal 2.1
Gambar Anatomi Ginjal 2.1

Fisiologi Ginjal

Buah pinggang merembeskan hormon renin, yang memainkan peranan penting dalam pengawalan tekanan darah (sistem renin, angiotensin aldosteron) untuk membentuk erythropoietin, yang memainkan peranan penting dalam memproses pembentukan sel darah merah (erythropoietin).

Etiologi

Selain itu, ginjal juga memproduksi hormon dihidroksikolekalsiferol (vitamin D aktif) yang diperlukan untuk penyerapan ion kalsium di usus (Syaifudin, 2013). Selain itu penyebab gagal ginjal juga dipengaruhi oleh faktor gaya hidup yaitu merokok, konsumsi minuman berenergi, konsumsi kopi (Prandari, 2013). Gaya hidup yang relevan adalah gaya hidup seperti riwayat penggunaan obat analgetik dan obat anti inflamasi nonsteroid yaitu obat yang digunakan untuk mengurangi peradangan sehingga menghilangkan nyeri dan menurunkan demam, selain itu riwayat merokok, riwayat suplemen energi. kegunaannya (Dewi, 2015).

Patofisiologi

Peningkatan asam lambung akan merangsang rasa mual, iritasi lambung dan juga dapat terjadi pendarahan, jika iritasi tidak diobati dapat menyebabkan melena atau feses berwarna hitam. Proses hipertrofi juga diikuti dengan penurunan aliran darah ke ginjal, setelah itu terjadi retensi Na dan H2O atau peningkatan air. Selain itu, penurunan curah jantung atau curah jantung juga dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran karena jantung tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen otak sehingga menyebabkan kematian sel.

Berkurangnya hemoglobin akan menyebabkan penurunan pasokan O2 Hb dan pasien CKD akan mengalami kelemahan atau gangguan perfusi jaringan (Nurarif, 2015).

Klasifikasi

Klasifikasi gagal ginjal kronik didasarkan pada derajat (stadium) GFR (Glomerular Filtration Rate), dimana nilai normalnya adalah 90 – 120 ml/menit/1,73m2 dengan menggunakan rumus Kockroft-Gault sebagai berikut.

Tabel 2.1 Klasifikasi Gagal Ginjal Kronik :
Tabel 2.1 Klasifikasi Gagal Ginjal Kronik :

Manifestasi Klinik

Penatalaksanaan

Kualitas hidup pasien CKD yang menjalani terapi hemodialisis sangat dipengaruhi oleh berbagai permasalahan yang terjadi akibat terapi hemodialisis dan juga dipengaruhi oleh gaya hidup pasien (Supriyadi, 2011). Dialisis peritoneal rawat jalan berkelanjutan (CAPD) dilakukan 3-5 kali sehari, 7 hari seminggu dengan setiap kali cairan dialisis tetap berada di rongga peritoneum lebih dari 4 jam. Saat ini, CAPD merupakan bentuk dialisis pilihan bagi pasien muda, lanjut usia, dan diabetes melitus.

Masalah utama yang perlu mendapat perhatian saat ini adalah komplikasi peritonitis, meskipun saat ini dengan kemajuan teknologi, angka kejadian peritonitis dapat ditekan seminimal mungkin.

Komplikasi

Transplantasi atau pencangkokan ginjal adalah prosedur pembedahan dimana ginjal yang sehat dan berfungsi dengan baik ditransplantasikan dari donor batang otak yang hidup atau mati dan ditransplantasikan ke pasien yang ginjalnya tidak berfungsi (Putri, 2014). Pada gagal ginjal kronik terjadi kelebihan volume, ketidakseimbangan elektrolit, asidosis metabolik (kondisi yang terjadi ketika kadar asam dalam tubuh sangat tinggi, ditandai dengan berbagai gejala, misalnya sesak napas, kebingungan atau sakit kepala), azotemia (peningkatan ureum darah). rentang referensi nitrogen / BUN, 8-20 mg/dl dan nilai kreatinin serum normal 0,7 – 1,4 mg/dl), dan urea. Hipertensi, di dalam ginjal terdapat hormon renin yang mengatur tekanan darah, bila ginjal bermasalah maka tekanan darah bisa meningkat, anemia, osteodistrofi (kelainan tulang pada CKD akibat gangguan penyerapan kalsium), hiperkalemia, uremic encephalopathy (gangguan otak akibat penurunan laju filtrasi ginjal yang ditandai dengan masalah konsentrasi dan gangguan fungsi kognitif), dan pruritus (gatal) merupakan komplikasi yang sering terjadi.

Pemeriksaan penunjang

Konsep Masalah Keperawatan

Sasaran: berat badan turun minimal 10% di bawah kisaran ideal a) Subyektif: cepat merasa kenyang setelah makan, kram/nyeri perut, kehilangan nafsu makan. Objektif : pengisian kapiler > 3 detik, nadi perifer berkurang atau tidak teraba, akral teraba dingin, warna kulit pucat, turgor kulit berkurang... a) Subjektif : paresthesia atau kesemutan, nyeri pada ekstremitas (klaudikasio intermiten). Tujuan: perubahan tekanan darah >20% dibandingkan kondisi istirahat, EKG menunjukkan aritmia saat/sesudah beraktivitas, EKG menunjukkan iskemia, sianosis.

Beresiko mengalami kehilangan darah, baik internal (terjadi di dalam tubuh) maupun eksternal (terjadi di luar tubuh) Kondisi klinis yang berhubungan: 1) Tukak peptikum i.

Konsep Asuhan Keperawatan

Kaji riwayat gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, masalah jantung, penggunaan obat nefrotoksik, dan prostatektomi. Biasanya penderita gagal ginjal kronik mengalami gangguan pola tidur (insomnia/cemas/somnolen), gelisah akibat nyeri panggul, sakit kepala, dan kram otot pada kaki. Berdasarkan seluruh data pengkajian, diagnosa keperawatan terpenting yang mungkin terjadi pada pasien gagal ginjal kronik antara lain: a.

Evaluasi berlangsung berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dalam perencanaan, perbandingan hasil tindakan keperawatan dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan penilaian efektivitas proses keperawatan mulai dari tahap evaluasi hingga pelaksanaan. 2012) evaluasi adalah suatu proses keberhasilan tindakan keperawatan, yaitu membandingkan proses dengan tujuan yang telah ditetapkan dan mengevaluasi efektivitas proses keperawatan yang dilaksanakan, serta menggunakan hasil pengkajian keperawatan sebagai bahan perencanaan selanjutnya jika masalah tidak teratasi. . Hasil pengkajian pasien gagal ginjal kronik diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan.

METODE PENELITIAN

Subyek Penelitian

Definisi Operasional

Lokasi dan Waktu Penelitian

Prosedur Penelitian

Mahasiswa menyelesaikan ujian proposal, setelah proposal disetujui oleh penguji, ujian dilanjutkan dengan kegiatan pengumpulan data dengan tinjauan kasus.

Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Hasil wawancara memuat identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit saat ini, riwayat penyakit sebelumnya, dan riwayat penyakit keluarga. Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian untuk mengamati secara dekat kegiatan yang dilakukan (Sugiyono, 2009). Hasil observasi dan pemeriksaan fisik berupa keadaan umum pasien, respon pasien terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ditemukan.

Pemeriksaan fisik menggunakan pendekatan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi pada tubuh pasien untuk mengetahui kelainan yang dirasakan pasien. Studi dokumen merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen untuk memperoleh data atau informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Studi dokumentasi dalam penelitian ini adalah melihat hasil pemeriksaan diagnostik dan data lain yang relevan, seperti hasil laboratorium dan radiologi untuk mengetahui kelainan pada pasien.

Alat atau instrumen pengumpul data menggunakan format keperawatan medik-bedah sesuai dengan peraturan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim yang berlaku saat ini.

Keabsahan Data

Keseimbangan cairan/hari perawatan pada pasien 2 (Tn. Diagnosa CKD Stadium V. Riwayat penyakit sebelumnya pada pasien 1 (Tn.S) Pasien dirawat di rumah sakit tahun lalu dengan riwayat gagal ginjal kronik dan anemia.

Pada pasien 2, mata mempunyai sklera putih, konjungtiva anemia, kelopak mata tanpa edema, refleks cahaya +, isokor pupil. Pada pasien 2 kelenjar getah bening tidak teraba, kelenjar tiroid tidak teraba, posisi trakea di tengah dan tidak ada kelainan. Pada pasien 2, pasien mengeluh sesak napas, batuk produktif dengan lendir berwarna kekuningan dan konsistensi kental; tidak ada WSD yang digunakan.

Setelah dilakukan pemeriksaan hasil keseimbangan cairan pasien 1, pada grafik keseimbangan cairan tidak ditemukan apa-apa, hanya hasilnya yang lurus. Sedangkan pasien 2 (Tn.L) ditemukan memiliki 4 masalah antara lain mual, risiko penurunan curah jantung, hipervolemia, dan intoleransi olahraga. Pada pasien 1 (Tn. S) terdapat keluhan mual, makan ¼ porsi, ureum tinggi 86,9 mg/dL, bibir pucat, lemas.

Kriteria tujuan dan hasil yang ada pada teori tidak semuanya dibuat dalam asuhan keperawatan pada pasien 1 (Tn. S), karena harus mengacu dan menyesuaikan dengan kondisi pasien. Kriteria tujuan dan hasil yang ada pada teori tidak semuanya dibuat dalam asuhan keperawatan pasien 2 (Tn. L), karena harus mengacu dan menyesuaikan dengan kondisi pasien. Evaluasi pasien 1 (Tn.S) setelah dirawat 2 hari pasien menyatakan tidak sesak napas lagi, RR : 20 napas per menit, tidak terdengar bunyi ronki tambahan.

Setelah ditinjau tujuan dan kriterianya, diperoleh hasil bahwa masalah perfusi perifer pada pasien 1 telah teratasi sebagian. Setelah ditinjau tujuan dan kriterianya, diperoleh hasil bahwa masalah konstipasi pada pasien 1 telah teratasi sebagian. Penilaian pasien 2 setelah dilakukan tindakan selama 3 hari, pasien mengatakan sesak nafas, tekanan darahnya 170/100 mmHg.

Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Biodata Pasien 1 (Tn.S)  dan pasien 2 (Tn.L) dengan GGK di  RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda 2019
Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Biodata Pasien 1 (Tn.S) dan pasien 2 (Tn.L) dengan GGK di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda 2019

Analisi Data

Pembahasan

Pada pemeriksaan diketahui pasien 1 (Tn. S) mempunyai riwayat hemodialisa, namun diagnosa medis tidak menyebutkan pasien tersebut menderita KLB pada HD. Setelah meninjau dan menganalisis data, peneliti sebelumnya mengidentifikasi 4 masalah pada pasien 1 (Mr. S), antara lain gangguan pertukaran gas, perfusi perifer yang tidak efektif, hipervolemia, dan konstipasi. Secara teori, tujuan dan kriteria hasil tidak semuanya ditetapkan dalam asuhan keperawatan pasien 1 (Tuan S) dan pasien 2 (Tuan L), karena harus berhubungan dan beradaptasi dengan kondisi pasien.

Namun terdapat gap intervensi yang akan dilakukan pada pasien 1 (Tuan S) dengan susunan penulis pada bab 2, karena peneliti sebelumnya menyoroti intervensi sesuai dengan kondisi pasien 1 (Tuan S), yang seharusnya mengatasi masalah perfusi perifer yang tidak efisien. Intervensi keperawatan pasien mengacu pada perencanaan yang terdapat pada teori untuk mengatasi masalah konstipasi pada pasien 1 (Tn. S). Namun terdapat kesenjangan pada intervensi yang dilakukan pada pasien 2 (Tn.

Sedangkan tindakan yang dilakukan pada pasien 2 (Bpk. Setelah dilakukan pengecekan tujuan dan kriteria, diperoleh hasil bahwa masalah pertukaran gas pada pasien 1 telah teratasi. Setelah dilakukan pengecekan tujuan dan kriteria, diperoleh hasil bahwa masalah hipervolemia pada pasien 2 terselesaikan sebagian.

Setelah dilakukan review, dilakukan revisi tujuan dan kriteria hasil sehingga masalah intoleransi aktivitas pada pasien 2 teratasi. Setelah ditinjau kembali, dengan melihat kembali tujuan dan kriteria hasil, masalah risiko penurunan curah jantung pada pasien 2 telah teratasi sebagian. Satu hal yang perlu diperhatikan pada pasien penyakit ginjal kronis adalah evaluasi penyakit kardiovaskular, integratif, dan paru.

Implementasi keperawatan pada pasien 1 dan pasien 2 sudah sesuai dengan intervensi yang direncanakan berdasarkan teori yang ada dan sesuai dengan kebutuhan pasien gagal ginjal kronik.

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Saran

Gambar

Gambar Anatomi Ginjal 2.1
Gambar Anatomi Ginjal 2.2
Tabel 2.1 Klasifikasi Gagal Ginjal Kronik :
Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Biodata Pasien 1 (Tn.S)  dan pasien 2 (Tn.L) dengan GGK di  RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda 2019
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pasien dengan gagal ginjal kronis akan mengalami kondisi hypervolemia atau peningkatan volume cairan yang berlebihan dalam tubuh, hal tersebut membuat pasien gagal ginjal kronis perlu