• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kenapa Kamu Dilahirkan Di Dunia Ini?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kenapa Kamu Dilahirkan Di Dunia Ini? "

Copied!
73
0
0

Teks penuh

Seperti halnya masyarakat Trowulan Kabupaten Mojokerto, mereka memperingati bulan Suro dengan perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara. Pasalnya, mereka menyambut baik perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara yang sudah menjadi tradisi masyarakat Trowulan sejak nenek moyang.

Latar Belakang Masalah

Dengan kehadiran bulan Suro melalui tradisi Ruwat Agung Bumi Nuswantara yang diwarisi oleh nenek moyang. 13 Temu bual bersama En. Tubi selaku penganjur acara Ruwat Agung Bumi Nuswantara di rumahnya pada 10 September 2018.

Rumusan Masalah

Agung Bumi Nuswantara juga dapat menjalin silaturahmi antar umat dan bersedekah dari hasil tanah. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti peringatan Suro melalui perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Trowulan Kabupaten Mojokerto. Penulis ingin mendalami lebih dalam tentang tradisi Ruat Agung Bumi Nuswantara dengan menemukan nilai-nilai atau keutamaan bulan Suro yang dipelajari dan diamalkan oleh masyarakat muslim melalui tradisi Ruat Agung Bumi Nuswantara dengan menelusuri melalui teks-teks hadis yang hidup. dalam tradisi ini serta harapan masyarakat Desa Trowulan Kabupaten Mojokerto sejak adanya tradisi Ruwat Agung Bumi Nuswantara hingga saat ini.

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Telaah Pustaka

Persepsi Masyarakat Jawa Terhadap Budaya Jawa Malam Satu Suro (studi analitik di Desa Margolembo Kecamatan Mangkutana Kabupaten Luwu Timur), yang ditulis oleh Irvan Prasetiawan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi-tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Krapyak merupakan fenomena hadis yang hidup. Penelitian Terkait Kepercayaan Masyarakat Suro dan Ruwat Agung Bumi Nuswantara pada Upacara Adat Satu Suro di Desa Kepercayaan Masyarakat pada Upacara Adat Satu Suro di Desa Tradji Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung yang ditulis oleh Ana Latifah.22 Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif, fenomenologis , pendekatan sejarah dan hermeneutika.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara satu Suro di Desa Traji merupakan warisan leluhur yang merupakan adat istiadat yang tidak dapat ditinggalkan. 22Ana Latifah, “Kepercayaan Masyarakat Terhadap Upacara Adat Satu Suro di Desa Traji Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung”, Skripsi Fakultas Ushuluddin, UIN Walisongo, Semarang, 2014. Akulturasi Budaya Jawa dan Islam (Studi Budaya Kirap di Kraton Malam Satuo Suri Surakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan lonjakan.

23 Isdiana, “Tradisi Upacara Satu Suro Dalam Perspektif Islam (Studi di Desa Keroy Kecamatan Sukabumi Bandar Lampung)” Skripsi Fakultas Ushuluddin, UIN Raden Intan Lampung, 2017.

Kerangka Teori

Teori ini penulis gunakan untuk mengetahui makna Ruwat Agung Bumi Nuswantara yang dilakukan setiap tahun pada bulan Suro di Trowulan. Dengan demikian, fokus teori respon digunakan penulis untuk memudahkan dalam menguraikan ilmu, nilai-nilai, fadilah, keutamaan atau keistimewaan bulan Suro yang dipelajari umat Islam melalui Ruwat Agung Bumi Nuswantara, serta menggali lebih dalam mengenai hal tersebut. hadis yang hidup dalam tradisi ini di Desa Towulan Kabupaten Mojokerto. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan, yaitu penjelajahan langsung ke lapangan atau objek penelitian untuk menyelidiki data-data yang berkaitan dengan tradisi Ruwat Agung Bumi Nuswantara.34.

Data sekunder adalah selain buku-buku acuan yang membahas tentang teori dan pendekatan yang digunakan peneliti, serta dokumen-dokumen dari pihak pelaksana yang tentunya masih berkaitan dengan objek penelitian. Cara ini digunakan untuk mendapatkan informasi dan bagaimana sikap mereka terhadap permasalahan yang berkaitan dengan tradisi Ruwat Agung Bumi Nuswantara masyarakat Trowulan. Dalam menganalisis data, penulis mendeskripsikan konsep Suro dan mencari persamaan dan perbedaan antara konsep Suro dalam budaya Jawa dengan konsep Suro dalam hadis dengan tujuan untuk mencari hubungan, pertentangan atau keunikan dari konsep Suro. menghasilkan sebuah tradisi di desa Trowulan yaitu perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara, kemudian menerapkan teori harapan untuk mengetahuinya.

Data primer peneliti lebih menekankan pada data lapangan, sedangkan data sekunder merupakan referensi tambahan pada buku-buku yang berkaitan dengan teori dan pendekatan yang digunakan peneliti.

Sistematika Pembahasan

Untuk memperingati bulan Suro, masyarakat Trowulan merayakannya dengan acara Ruwat Agung Bumi Nuswantara yang bertempat di Pendopo Trowulan Agung. Penerimaan hadis terkait bulan Suro terlihat dari praktik masyarakat Trowulan mengagungkan Suro dengan cara memperingati atau merayakannya dengan tradisi dan budaya setempat, yaitu peringatan perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara. Berdasarkan hal tersebut masyarakat Trowulan mengagungkan Suro dan karena Suro merupakan Tahun Baru Jawa maka masyarakat Trowulan memperingatinya dengan Ruwat Agung Bumi Nuswantara yang merupakan salah satu tradisi atau budaya yang ada di Trowulan.

Pemanfaatan resepsi Sura dalam perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara terlihat dari para peserta Ruwatan yang mengenakan pakaian tertentu. Untuk melanjutkan penelitian ini, penulis menyarankan berbagai hal terkait dengan karya yang berjudul “Penerimaan Konsep Sura pada Perayaan Ruwat Agung Bumi Nuswantara di Trowulan” dan terkait dengan upaya penulis selanjutnya jika akan mempelajari living hadith atau kajian lain yang berkaitan dengan hadits. studi. Tradisi Sholat Kajat Bulan Sura di Dusun Teluk Kragilan Gantiwarno Klaten; Studi Hadits Langsung.

Persepsi Masyarakat Terhadap Bulan Suci Muharram di Desa Wringinjajar Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak; Kajian Hadits Langsung.

Hasil Observasi Penelitian Lapangan

Hasil Observasi Pada Tanggal 12 September 2018

Patirtaan mengurungkan atau mengambil 7 sumber air dan berziarah ke makam dan peninggalan leluhur Majapahit. Tidak sembarang orang bisa mengikuti ritual patriarki Undo-Undo, hanya orang-orang khusus dan terpilih. Pada saat peneliti berada di Anjungan Agunng Trowulan, peneliti mengamati dan terlibat dalam mempersiapkan perbekalan acara Ruwat Agung Bumi Nuswantara, diantaranya menyiapkan bejana untuk air yang dibawa, sesaji dan kebutuhan lainnya.

Tepat pukul 11.09 orang khusus yang dititipi untuk melakukan ritual Undo-undo patirtaan tiba di Pendopo Besar Trowulan membawa air dari tujuh mata air antara lain dari Pusi Sakti, Putri Cempo, Sumber Towo, Pus Upas, Siti Inggil, Prabu Hayam. Wuruk, Tri Buana Tunggal Dewi. Setelah itu, tibalah saatnya air dari ketujuh mata air tersebut dicampurkan dan dimasukkan ke dalam tong.

Hasil Observasi Pada Tanggal 13 September 2018

Sementara peserta ruvat berpakaian putih sudah menunggu, diiringi pemutaran musik lagam jawa seperti lagu macapat, balada jawa, salah satu lagunya adalah Lagu Wahyu Kolosebo. Usai acara penyambutan, para peserta ruvat dilanjutkan dengan merukiah membagikan air mineral kepada para peserta ruvat, kemudian mereka mendoakannya, kemudian mereka disuruh meminum air mineral tersebut dan sebagiannya dioleskan pada bagian tubuh mereka. Para peserta ruvat dipanggil satu per satu secara tertib untuk mengikuti siraman atau acara pokok ruvat.

Para peserta ruwatan dipanggil satu per satu untuk disiram dengan air yang diambil dari tujuh sumber air suci yang dicampur dengan bunga setaman, gading, dan lain-lain. yang dilakukan oleh Ki Wiro Kadek dan mendoakan para peserta Ruwatan, setelah mereka dibaptis. rambutnya dipotong menjadi beberapa helai seperti orang. Setelah menunaikan ibadah haji, ia akan tahallul atau memotong rambutnya yang dilakukan oleh Ki Wulung lalu juga mendoakannya, setelah itu para peserta Ruwat mendapatkan benang Tridatu. Benang tridatu adalah tiga helai benang hitam, merah dan putih sepanjang 40cm yang diberikan kepada peserta ruwat setelah prosesi siraman. Usai pembacaan doa, para peserta ruwat dan masyarakat yang hadir di lokasi berebut berbagai jenis makanan dari sesaji yang disajikan.

Usai berdoa dan memohon hasil pertanian, peralatan rumah tangga dan sesaji lainnya yang disiapkan panitia, para peserta ruwat harus menyaksikan pertunjukan wayang kulit yang sebelumnya telah dipersiapkan dan ditata dengan apik.

Hasil Observasi Pada Tanggal 16 September 2018

Malam harinya ada acara Mangesti Suro, Mangesti Suro merupakan ritual sembahyang dengan berbagai sesaji sebagai pelengkap sembahyang. Mangesti Suro dilaksanakan pada pukul 18.00, diawali dengan beberapa sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tari dan dilanjutkan dengan penjelasan sejarah Majapahit di Trowulan oleh sesepuh asli desa Trowulan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi doa ujub yang dipimpin oleh Ki Wiro Kadek, Ki Wulung dan Pak Tibi. Setelah selesai Mangesti Suro dilanjutkan semalaman dengan pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Wahyu Perdamaian: Mewujudkan Masyarakat Kerta Raharja Tentrem” dengan didampingi dalang Ki Marto Purbo Carito.

Karnaval diawali dengan penyambutan, kemudian dilanjutkan dengan menari di pelataran Majapahit, penyambutan tamu istimewa diiringi dengan tarian dan prosesi ala Majapahit. Usai pertunjukan tari di halaman Pendapa Agung, dilanjutkan dengan Karnaval Akbar Nusantara yang membawakan hasil bumi dan pangan yang terbentuk di pegunungan, yang diarak di lapangan sebelah selatan Kolam Segaran, dilanjutkan dengan parade dengan penampilan band-band orang-orang seperti Prajurit Majapahit dan ada orang-orang yang mirip dengan mereka.Raja Majapahit kemudian melanjutkan dengan mengukir kain merah putih sepanjang kurang lebih 100 meter. Kemudian dilanjutkan dengan parade dari berbagai sekolah se-Kabupaten Mojokerto yang turut serta mengirimkan siswanya untuk memeriahkan acara Grand Carnival tersebut.

Pada acara api unggun, Karnaval Gunungan dibawakan oleh banyak orang yang ingin memperebutkannya dengan satu tujuan yaitu mendapatkan berkah.

Daftar Sesaji Ruwat Agung Bumi Nuswantara

Tujuh Sumber Air

Ingatan Prabu Hayam Wuruk, ada partitan atau sumber air di Dusun/Desa Panggih, Trowulan. Air Patirtaan Hayam Wuruk mengandung banyak keberkahan. Banyak orang sakit yang meminum Patirtaan ini dan menggunakannya sebagai obat yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.151. Konon Sumur Sakti merupakan sebuah telaga yang ditemukan oleh Patih Gajah Mada dan sering digunakan untuk mandi oleh Patih Gajah Mada.

Sumber Towo yang terletak di sebelah barat Makam Panjang dipercaya masyarakat sebagai sumber air suci pada masa Kerajaan Majapahit dan berkhasiat untuk penyembuhan.155 Banyak orang yang mengunjungi Sumber Towo untuk berbagai tujuan, seperti yang sering dilakukan pengunjung, adalah mandi yang dipercaya dapat memberikan kesembuhan. menyucikan hati, jiwa dan raga lahir dan batin serta mandi untuk menghilangkan segala macam penyakit.156. Patirtaan Putri Cempo terletak di petilasan Putri Cempo, tepatnya di Dusun Unggah-unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan. 155 Tersedia di http://disparpora.mokiortekab.go.id/wisata_72_petirtaan-source-towo.aspx pada 8 Januari 2019 pukul 20.40.

157 Diakses dari https://kabmojokertomuseumjatim.wordpress.com/candi-kedaton-dan-besar-upas-bangunan-sarat-misteri-namun-berharga/ pada tanggal 8 Januari 2019 pukul 21.14.

Gambar Patirtaan Siti Inggil  (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2018)  2.  Tri Buana Tunggal dewi
Gambar Patirtaan Siti Inggil (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2018) 2. Tri Buana Tunggal dewi

Gambar Prosesi Ruwat Agung Bumi Nuswantara

Gambar

Gambar  Sesaji Ruwat Agung Bumi Nuswantara  (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2018)
Gambar Siti Inggil
Gambar Patirtaan Siti Inggil  (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2018)  2.  Tri Buana Tunggal dewi
Gambar Patirtaan Tri Buwana Tunggal dewi  (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2019)
+7

Referensi

Dokumen terkait

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNTYERSITAS BRAWIJAYA I'AIULTAS ILMU ADMINISTRASI Jl.. Kemah swaan dan Alumni ST