• Tidak ada hasil yang ditemukan

kendala dan upaya petani dalam meremajakan tanaman

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "kendala dan upaya petani dalam meremajakan tanaman"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2

KENDALA DAN UPAYA PETANI DALAM MEREMAJAKAN TANAMAN KARET DI JORONG KOTO SAWAH NAGARI PINTU PADANG

KECAMATAN MAPAT TUNGGUL KABUPATEN PASAMAN

Oleh:

Ramdan 1 Slamet Rianto2 Nila Afryansih3

1. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

2,3 Dosen Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tentang: 1) kendala petani dalam meremajakan tanaman karet dan 2) upaya petani dalam meremajakan tanaman karet di jorong Koto Sawah nagari Pintu Padang kecamatan Mapat Tunggul kabupaten Pasaman. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian dilakukan di jorong Koto Sawah nagari Pintu Padang kecamatan Mapat Tunggul kabupaten Pasaman. Informan penelitian diambil secara snowball sampling, informan kunci yaitu kepala UPT Kecamatan Mapat Tunggul dan informan penduduk masyarakat yang melakukan peremajaan tanaman karet. Analisis data dilakukan dengan reduksi, penyajian dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) kendala petani dalam meremajakan adalah modal untuk melakukan peremajaan besar. Kendala berkaitan dengan pembersihan lahan adalah luasnya lahan yang harus dibersihkan serta alat pembersihan yang digunakan merupakan alat tradisional.

Kendala dalam perawatan, yaitu kematian bibit yang sudah ditanam, hama yang menyerang tanaman serta mahalnya harga pupuk dan 2) upaya petani mengatasi kendala modal dalam peremajaan tanaman karet adalah menebang karet yang tua dan tidak produtif, menjual kayu sebagai tambahan modal dan meminjam modal pada orang lain, upaya yang dilakukan adalah pembersihan secara bertahap, bekerjasama dengan petani lain, menggunakan mesin chinsaw untuk menebang karet dan diupahkan pada orang lain dan upaya dalam perawatan tanaman karet adalah mempersiapkan bibit cadangan, melakukan perawatan dan menggunakan pupuk semaksimal mungkin.

Kata kunci: kendala, upaya, peremajaan tanaman karet

1

(3)

3

CONSTRAINTS AND EFFORTS IN REJUVENATING RUBBER PLANT GROWERS IN KOTO SAWAH PINTU PADANG VILLAGE MAPAT

TUNGGUL DISTRICT PASAMAN REGION

By :

Ramdan 1 Slamet Rianto2 Nila Afryansih3

1.Geography Education Student of STKIP PGRI Sumatera Barat.

2,3 Lecturer at Geography Department of STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

The research aims to identify and analyze on: 1) the constraints of farmers in rejuvenating rubber and 2) efforts to rejuvenate the rubber plant growers in Koto Sawah Pintu Padang village Mapat Tunggul district Pasaman region. This type of research is qualitative. The study was conducted in Koto Sawah Pintu Padang village Mapat Tunggul district Pasaman region. The informants taken snowball sampling, key informant is the head of the Unit Mapat Tunggul district and informants community residents who do replanting of rubber. Data analysis was performed by reduction, presentation and draw conclusions. The results showed: 1) constraints are farmers in rejuvenating the capital to make major rejuvenation. Constraints associated with land clearance is the size of area to be cleaned and cleaning tools used are traditional tools. Constraints in the treatment, the death of seedlings that have been planted, pests that attack crops and high prices of fertilizer and 2) efforts of farmers overcome capital constraints in the rejuvenation of the rubber trees are cut down rubber that is old and is not productive, sell the timber as additional capital and borrowed capital in the another, cleanup efforts is gradually, in cooperation with other farmers, using machinery to cut rubber chinsaw and were hired on others and care efforts in the rubber plant is preparing seed reserves, treatment and use of fertilizer as much as possible.

Key Words: constraints, efforts, rejuvenating rubber

2

(4)

2

PENDAHULUAN

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan paling penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91,0%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber).

Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir. Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta.

Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta sama-sama menurun 0,15%/tahun. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, 2005).

Luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400.000 Ha yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk- produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat (Siregar, 2011).

Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan bahan pembuatan furnitur tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut. Tujuan pengembangan karet ke depan adalah mempercepat peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, 2005).

Kementrian Pertanian Indonesia tahun 2010 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki luas lahan perkebunan karet yang paling luas di dunia, yaitu sekitar 3,4 juta hektar. Luas lahan perkebunan karet tersebut terdiri dari perkebunan rakyat (PR), perkebunan besar Negara (PBN) dan perkebunan besar swasta (PBS). Perkebunan karet rakyat mencapai 85%

dari total luas perkebunan karet yang ada di Indonesia dan hanya 8% perkebunan besar milik Negara serta 7% perkebunan besar milik swasta.

Dilihat dari produktivitas, perkebunan rakyat justru paling rendah dibanding perkebunan besar nega dan perkebunan besar swasta. Produktivitas karet yang lebih rendah dapat dikarenakan kualitas dari klon karet yang ditanam, teknologi budidaya yang belum diterapkan petani seperti penggunaan pupuk dan umur karet yang sudah tua dan rusak.

Banyaknya perkebunan karet yang sudah tua, rusak dan kurang produktif pada perkebunan karet rakyat karena petani telat melakukan peremajaan dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas karet. Peremajaan (replanting) adalah penggantian suatu macam tanaman perkebunan, karena sudah tua/tidak produktif dengan tanaman perkebunan yang sama dan dapat dilakukan secara selektif maupun menyeluruh.

Sumatera menjadi salah satu pulau yang memiliki dua posisi yang membawa pengaruh pada warna masyarakat sendiri dalam bidang perkebunan. Pertanian di Sumatera sendiri menggunakan berbagai teknologi dalam pengelolaannya. Daerah perkebunan yang digunakan masyarakat adalah daerah yang sudah lama digunakan namun pengelolaan yang kurang serta umur karet yang tua menyebabkan produktivitas karet menurun, karena banyaknya penurunan produktivitas karet menyebabkan masyarakat melakukan peremajaan terhadap karet.

Kabupaten Pasaman merupakan salah satu sentra tanaman karet di Sumatera Barat.

Tanaman Karet merupakan komoditi utama kabupaten Pasaman terutama di kecamatan Mapat Tunggul. Curah hujan yang tinggi sekitar 3.102 mm/tahun dan jumlah hari hujan rata-rata 142 hari dalam setahun menjadikan sektor perikanan menjadi penggerak perekonomian yang tumbuh dari tahun ke tahun hal itu didukung dengan permintaan yang tinggi atas hasil panen tersebut.

Salah satu nagari yang membudidayakan tanaman karet di kecamatan Mapat Tunggul adalah nagari Pintu Padang. Tahun 2014, luas tanaman karet di nagari Pintu Padang adalah 400,03 Ha dengan produksi 395,07 ton.

(5)

3

Dibandingkan dengan nagari lain, produktivitas tanaman karet nagari Pintu Padang merupakan paling kecil di kecamatan Mapat Tunggul yaitu 0,99 ton/Ha, sedangkan nagari Lubuk Gadang dan nagari Muaro Tais produktivitas tanaman karet 1,01 ton/Ha (Mapat Tunggul dalam angka, 2014).

Rendahnya produktivitas tanaman karet di nagari Pintu Padang ini disebabkan tanaman karet yang ada sudah tua. Salah satu jorong yang banyak memiliki tanaman karet adalah jorong Koto Sawah. Luas tanaman karet di jorong Koto Sawah saat ini adalah 159.13 Ha. Sebagian besar tanaman karet di jorong Koto Sawah berumur lebih 30 tahun, sehingga produksi tidak maksimal lagi serta biaya produksi yang harus dikeluarkan besar. Kondisi ini membuat masyarakat di jorong Koto Sawah mulai melakukan peremajaan tanaman karet (Mapat Tunggul dalam angka, 2014).

Berdasarkan observasi awal penulis tanggal 5 Februari 2016 di jorong Koto Sawah, dimana penulis berasumsi dalam peremajaan tanaman karet ini ada beberapa kendala, diantaranya modal, pemilihan bibit dan biaya peremajaan.

Disamping itu ada upaya dari masyarakat untuk mendapatkan bibit atau menerima dana dari pemerintah.

Berdasarkan observasi penulis di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang

”Kendala dan Upaya Petani dalam Meremajakan Tanaman Karet di jorong Koto Sawah nagari Pintu Padang kecamatan Mapat Tunggul kabupaten Pasaman”.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisa data tentang: 1) Kendala petani dalam meremajakan tanaman karet dan 2) Upaya petani dalam meremajakan tanaman karet di jorong Koto Sawah nagari Pintu Padang kecamatan Mapat Tunggul kabupaten Pasaman METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah kualitatif.

Sugiyono (2011) menyatakan metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi alamiah dimana peneliti bertujuan membuat deskripsi sebuah fenomena sosial atau alami secara sistematis, faktual dan akurat. Pada penelitian ini peneliti ini menggambarkan tentang kendala dan upaya petani dalam meremajakan tanaman karet di jorong Koto Sawah nagari Pintu Padang kecamatan Mapat Tunggul kabupaten Pasaman

Penelitian ini dilakukan di jorong Koto Sawah nagari Pintu Padang kecamatan Mapat Tunggul kabupaten Pasaman.

Informan penelitian ditentukan berdasarkan teknik snowball sampling, dimulai dengan

menetapkan satu atau beberapa orang informan kunci (key informants) dan melakukan interview atau wawancara terhadap mereka secara bertahap atau berproses. Yang menjadi informan kuci dalam penelitian ini adalah kepala UPT Kecamatan Mapat Tunggul yang mengetahui tentang tanaman karet.

Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertama, kendala peremajaan tanaman karet di Jorong Koto Sawah berkaitan dengan modal yaitu peremajaan membutuhkan modal besar, diantaranya untuk bibit, pembersihan lahan dan perawatan. Kendala ini dialami oleh 11 orang petani. Kendala berkaitan dengan pembersihan lahan adalah luasnya lahan yang harus dibersihkan serta alat pembersihan yang digunakan merupakan alat tradisional dan dialami 9 orang petani. Kendala dalam perawatan tanaman karet, yaitu bibit untuk melakukan penyisipan, adanya hama yang menyerang tanaman yang baru ditanam serta mahalnya harga pupuk. Kendala dalam perawatan ini dialami oleh 12 orang petani di jorong Koto Sawah.

Kendala dalam peremajaan karet ini tidak dialami oleh seluruh petani di jorong Koto Sawah, yaitu untuk bibit dan penanaman. Bibit untuk peremajaan karet banyak tersedia, jarak pembibitan dengan lahan tidak terlalu jauh dan bibit yang tersedia merupakan bibit unggul yang sudah teruji kualitasnya. Selanjutnya dalam penanaman, petani juga tidak mengalami kendala karena penanaman dibimbing oleh UPP Pertanian Kecamatan Mapat Tunggul serta petani telah berpengalaman dalam penanaman.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Supriadi (2009) bahwa pada umumnya yang menjadi permasalahan utama petani dalam melakukan peremajaan adalah keterbatasan modal. Hal yang sama dikemukakan oleh Wibawa dkk (2001) bahwa banyak diantara petani karet yang kekurangan modal untuk meremajakan kebun karet tuanya dengan sistem tebas bakar. Kondisi ini ditambah oleh kenyataan bahwa kebun-kebun tersebut merupakan sumber penghasilan dan gantungan hidup keluarga, keterbatasan lahan untuk penanaman baru, maupun resiko kegagalan penanaman baru karena serangan hama babi hutan dan monyet (simpai merah/kera berbulu).

Selanjutnya kendala dalam pembersihan lahan sesuai dengan hasil penelitian Na’im (2013) dalam bahwa kendala dalam persiapan

4

(6)

4

lahan karet adalah hama babi yang dikendalikan petani dengan cara pemagaran keliling lahan.

Upaya dalam persiapan lahan yang dilakukan petani sudah baik tetapi masih tradisional begitu juga untuk mengatasi kendala masih sederhana karena masih memanfaatkan alat yang sederhana. Kendala dalam perawatan sesuai dengan hasil penelitian Na’im (2013) dalam perawatan karet adalah jamur akar, selain itu hama yaitu binatang babi dan monyet pada saat perawatan tanaman berumur 2 tahun yang dikendalikan petani dengan cara pemagaran keliling lahan dan pemagaran /tanaman, selain itu dengan cara ditunggu.

Kedua, upaya yang dilakukan berkaitan dengan modal dalam peremajaan tanaman karet adalah menebang karet yang sudah tua dan tidak produtif, menjual kayu sebagai tambahan modal dan meminjam modal pada orang lain. Upaya yang dilakukan berkaitan dengan pembersihan lahan adalah melakukan pembersihan secara bertahap dan menggunakan alat tradisional untuk menekan biaya, bekerjasama dengan petani lain, menggunakan mesin chinsaw untuk menebang karet dan diupahkan pada orang lain, menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Upaya dalam perawatan tanaman karet adalah mempersiapkan bibit cadangan, melakukan perawatan dan menggunakan pupuk semaksimal mungkin.

Hasil penelitian sesuai dengan Balfas (2003) bahwa alternatif yang dapat ditempuh dalam melakukan peremajaan pada tanaman perkebunan karet rakyat adalah dengan peremajaan secara bertahap. Peremajaan secara bertahap dilakukan dengan cara menebang tanaman-tanaman tua dalam satu baris dan menyisakan tanaman tua lainnya. Pada tanaman yang belum dilakukan penebangan tetap masih dapat disadap sehingga pendapatan petani tidak hanya diperoleh dari penjualan kayu karet hasil penebangan saja.

Selanjutnya Janudianto, dkk. (2013) menyatakan persiapan lahan untuk kebun karet umumnya didahului dengan pembukaan lahan secara tradisional. Ada tiga jenis pembukaan lahan yang umum dilakukan oleh petani yaitu:

(1) Tebas-tebang-bakar, cara ini mudah dan murah. Namun teknik tersebut saat ini tidak dianjurkan karena menyebabkan polusi udara dari asap pembakarannya dan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran lahan dan hutan, (2) Tebang-tebas tanpa bakar, merupakan praktik yang sangat dianjurkan dan (3) Tebas-tebang- jalur, pembersihan lahan tidak dilakukan secara keseluruhan, hanya menebas pada jalur yang akan ditanami karet saja. Tebas-tebang-jalur biasanya dilakukan pada lahan-lahan sekunder di

mana hanya terdapat semak belukar dan bukan pohon-pohon besar.

Selanjutnya Purnamayani dan Nur Asni (2013) menyatakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan tanaman karet adalah pemupukan. Pemupukan merupakan hal terpenting karena perkebunan karet menggunakan klon-klon unggul.

Penggunaan klon unggul yang berproduktivitas tinggi akan meningkatkan jumlah unsur hara yang terkuras dari dalam tanah sehingga membutuhkan 3 tambahan unsur hara melalui pemupukan. Jika pemupukan tidak dilakukan, dikhawatirkan akan menurunkan produktivitas karet dan juga akan menyebabkan penurunan kesuburan lahan di masa mendatang.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kendala petani dalam meremajakan adalah modal untuk melakukan peremajaan besar.

Kendala berkaitan dengan pembersihan lahan adalah luasnya lahan yang harus dibersihkan serta alat pembersihan yang digunakan merupakan alat tradisional.

Kendala dalam perawatan, yaitu kematian bibit yang sudah ditanam, hama yang menyerang tanaman serta mahalnya harga pupuk.

2. Upaya petani mengatasi kendala modal dalam peremajaan tanaman karet adalah menebang karet yang tua dan tidak produtif, menjual kayu sebagai tambahan modal dan meminjam modal pada orang lain, upaya yang dilakukan adalah pembersihan secara bertahap, bekerjasama dengan petani lain, menggunakan mesin chinsaw untuk menebang karet dan diupahkan pada orang lain dan upaya dalam perawatan tanaman karet adalah mempersiapkan bibit cadangan, melakukan perawatan dan menggunakan pupuk semaksimal mungkin.

Sedangkan saran yang dapat penulis kemukakan:

1. Diharapkan petani melakukan peremajaan tanaman karet yang sudah tidak produktif dan dilakukan secara betahap sehingga tidak mengalami kendala untuk modal peremajaan.

2. Diharapkan pemerintah supaya membantu petani dalam peremajaan tanaman karet.

3. Diharapkan kepada masyarakat untuk meningkatkan perawatan tanaman karet sehingga terhindar dari penyakit.

4. Disarankan pada pemerintah untuk melakukan penghijauan dan membuat jalan

(7)

5

khusus menuju objek wisata sehingga kesejukan objek wisata terjada serta melatih masyarakat setempat untuk membuat cinderamata yang bisa dijadikan sebagai kenangan bagi pengunjung.

5. Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian tentang pengembangan objek wisata, terutama tentang sapta pesona.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan arah pengembangan agribisnis karet. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balfas, J. 2003. Prospek teknologi dan

pemasaran kayu karet. Prosiding Konferensi Agribisnis Karet Menunjang Industri Lateks dan Kayu. Pusat Penelitian Karet. Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. Hlm. 44-71.

Janudianto, Prahmono A, Napitupulu H, Rahayu S. 2013. Panduan budidayaa karet untuk petani skala kecil. Rubber cultivation guide for small-scale farmers. Lembar Informasi AgFor 5. Bogor, Indonesia: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program.

Mapat Tunggul dalam angka, 2014. BPS

Na’im, Siti Masfiratun. 2013. Kendala dan Upaya Petani dalam Meningkatkan Produktivitas Karet di Desa Sari Mulya Kecamatan Rimbo Ilir Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. Skripsi Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Purnamayani dan Nur Asni. 2013. Teknologi Pemupukan Karet Unggul dan Lokal Spesifik Lokasi. Jambi: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Jambi)

Siregar, Hadijah. 2011. Analisis Potensi Pengembangan Perkebunankaret Rakyat Di Kabupaten Mandailing Natal,Propinsi Sumatera Utar,. 2011. Skripsi, IPB Bogor Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif

Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Supriadi H. 2009. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Pertanian Di Papua Barat.

Bogor: Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Wibawa, Joshi, Vincet, D. Boutin, G.

Manurung. 2001. Wanatani Kompleks, Tantangan untuk Pengembangan. Bogor:

International Centre for Researc in Agroforestry

6

Referensi

Dokumen terkait

Defense concepts in Arthasastra are very likely to be applied in Indonesia to build the power of the state with the sovereignty of the state and respected in the