RINGKASAN DOKUMEN
KERANGKA KERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL
ENVIRONMENT AND SOCIAL MANAGEMENT FRAMEWORK
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
PROVINSI JAMBI
REPUBLIK INDONESIA
0KTOBER 2019
Ringkasan
Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ESMF)
Jambi-Sustainable Landscape Management Project (J-SLMP) BioCarbon Fund-Initiative for Sustainable Forest Landscape (BioCF-ISFL)
Program Pengurangan Emisi Yurisdiksi di Jambi (ERP) dibangun berdasarkan komitmen substansial Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jambi untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.
Inisiatif Dana Biokarbon Bank Dunia untuk Bentang Alam Hutan Berkelanjutan (BioCF-ISFL) memberikan pembiayaan bertahap untuk mengimplementasikan program di atas. Pertama, US $ 1,5 juta untuk persiapan proyek oleh Pemerintah Indonesia. Kedua, pembiayaan hibah pra- investasi dengan nilai US $ 13,5 juta saat ini sedang dipersiapkan oleh Proyek Pengelolaan Lansekap Berkelanjutan Jambi (J-SLMP) untuk mendukung konsisi pemungkin, termasuk koordinasi lintas-sektor dan uji coba pendekatan pengelolaan lahan untuk mengurangi emisi di Jambi. ESMF ini membahas manajemen lingkungan dan sosial untuk J-SLMP dan meletakkan dasar untuk ERP di Jambi.
Tujuan J-SLMP yang diusulkan adalah untuk meningkatkan pengelolaan lanskap berkelanjutan yang mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) berbasis lahan di Jambi. Capaian tujuan ini akan diukur berdasarkan indikator sebagai berikut: a) Areal lahan yang dikelola secara berkelanjutan; b) Pengurangan emisi GRK di Jambi (MtCO2e); dan c) jumlah orang yang memperoleh manfaat (aset) dan / atau layanan, termasuk persentase kaum perempuan yang terlibat dan menerima manfaat.
Melalui hibah untuk pra-investasi, bantuan teknis disiapkan untuk mendukung desain program ERP dan penguatan sistem untuk membangun kapasitas pemerintah dan menggunakan insentif berdasarkan kinerja dalam pengurangan deforestasi, degradasi, dan perubahan penggunaan lahan, termasuk safeguards. Dengan demikian, program ini akan mendukung analisis, pengembangan kapasitas, dan desain sub-program untuk menguji berbagai model insentif termasuk keterlibatan pemangku kepentingan. Bidang analisis utama meliputi kepemilikan lahan dan sumber daya, memahami pendorong deforestasi di tingkat tapak dan cara terbaik mengatasinya, serta analisis hukum, kelembagaan dan kebijakan termasuk penilaian pemangku kepentingan.
J-SLMP akan mendukung kombinasi praktik manajemen ramah lingkungan dan berkelanjutan yang secara langsung akan mengatasi pendorong emisi yang dihasilkan dari kegiatan sektoral, termasuk perkebunan, tanaman kehutanan, pertanian subsisten, akuakultur, dan praktik penebangan yang tidak berkelanjutan. Desain proyek mempertimbangkan distribusi hutan yang tersisa, ancaman terhadap hutan tersebut, dan pemangku kepentingan utama yang terlibat di masing-masing wilayah. Program ini terdiri dari tiga komponen, sebagai berikut:
Komponen 1 tentang Penguatan Kebijakan dan Kelembagaan: tujuan Komponen 1 adalah untuk meningkatkan manajemen dan regulasi yang efektif di Jambi dengan fokus pada menyelaraskan kebijakan dan pendekatan yang penting untuk mengelola emisi dari penggunaan lahan, termasuk
pengelolaan gambut, pencegahan dan pengelolaan kebakaran, dan pertumbuhan hijau.
Komponen ini akan menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kurangnya kapasitas kelembagaan untuk memastikan tata kelola hutan dan penggunaan lahan yang baik. Komponen ini juga bertujuan untuk meningkatkan kerangka peraturan dan kelembagaan di sektor kehutanan dan sektor berbasis lahan lainnya, serta memperkuat instrumen untuk menegakkan kebijakan tersebut.
Komponen 2 berkaitan dengan Penerapan Pengelolaan Lahan Berkelanjutan: tujuan Komponen 2 untuk mengintegrasikan pengelolaan hutan dan lahan di Jambi, khususnya melalui pengelolaan hutan berkelanjutan, intensifikasi dan diversifikasi pertanian, konservasi dan restorasi, dan keberlanjutan rantai nilai. Komponen ini secara khusus akan mengatasi kurangnya praktik berkelanjutan dalam pengelolaan lahan dan sumber daya alam.
Komponen 3 adalah Manajemen Proyek, Pemantauan dan Evaluasi, dan Pelaporan: Komponen ini meliputi keseluruhan manajemen implementasi J-SLMP, dan mendukung kolaborasi di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Komponen 3 bertujuan untuk mendukung koordinasi dan manajemen Proyek di tingkat nasional dan provinsi, khususnya untuk mencapai tujuan proyek, termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (AWPB); aspek fidusia (Manajemen Keuangan dan pengadaan); manajemen sumber daya manusia; pemantauan kepatuhan safeguards; pemantauan dan evaluasi (M&E); pengelolaan dan berbagi pengetahuan;
dan implementasi strategi untuk komunikasi dan pelibatan pemangku kepentingan. Komponen ini juga bertanggung jawab untuk memonitor, mengevaluasi, dan melaporkan emisi yang terjadi.
J-SLMP diharapkan menghasilkan dampak lingkungan positif secara keseluruhan di tingkat global, nasional, dan lokal melalui pengurangan emisi karbon berbasis lahan, peningkatan penyimpanan karbon, pengurangan degradasi lahan, dan perlindungan ekosistem yang terancam secara global dan perlindungan keanekaragaman hayati endemik. Proyek ini memicu kebijakan Bank Dunia termasuk: Penilaian Lingkungan (OP 4.01), Habitat Alam (OP / BP 4.04), Hutan (OP / BP 4.36), OP 4.11 Sumber Daya Budaya Fisik, Pengelolaan Hama (OP 4.09), Pemukiman Kembali (OP 4.12) dan Masyarakat Adat ( OP 4.10).
Potensi risiko lingkungan utama yang diidentifikasi meliputi: hilangnya habitat alami dan spesies keanekaragaman hayati utama pada Kawasan hutan, termasuk melalui kontaminasi air dan lahan dan resiko kesehatan berkaitan dengan penggunaan pestisida dan praktek pengelolaan sampah yang tidak tepat. Keberhasilan dalam mengurangi dampak pada hutan dapat memindahkan dampaknya ke kawasan lain (displacement/leakages). Potensi risiko lingkungan seperti resiko balik (reversal) dapat dipicu oleh aspek sosial (perhutan sosial dan mata pencaharian alternative) yang tidak dapat memberikan insentif ekonomi yang memadai.
Risiko sosial potensial yang diidentifikasi termasuk risiko yang terkait dengan kegiatan yang dilaksanaan pada daerah dengan potensi konflik, areal perambahan dan/atau sengketa atau daerah dengan batas dan klaim yang tumpang tindih antara hukum formal dan wilayah adat (misalnya, klaim oleh komunitas Marga Serampas) dalam Taman Nasional Kerinci Seblat, dan wilayah Orang Rimba dan Talang Mamak di Taman Nasional Bukit 30. Risiko tambahan meliputi dampak pada mata pencaharian, termasuk dampak perpindahan (displacement) dikarenakan pembatasan pengembangan perkebunan kelapa sawit dan kegiatan penambangan rakyat,
kehilangan dan/atau kerusakan sumber daya fisik-budaya, risiko keselamatan dan kesehatan untuk kegiatan pencegahan dan pengontrolan kebakaran, kurangnya kesadaran, kapasitas manajemen dan partisipasi masyarakat dalam mengelola perhutanan sosial, kendala kapasitas kelembagaan untuk mengelola risiko lingkungan dan risiko sosial, serta ketidaksetaraan gender dan pengucilan sosial.
Berdasarkan penilaian dampak lingkungan dan sosial, ESMF telah dipersiapkan untuk pengelolaan risiko dan dampak lingkungan dan sosial dari J-SLMP. ESMF didukung oleh Kerangka Perencanaan Masyarakat Adat (IPPF), Kerangka Perencanaan Pemukiman Kembali dan Kerangka Proses (RPF dan PF) dan Mekanisme Umpan Balik dan Pengaduan Keluhan (FGRM).
ESMF juga menyiapkan modalitas dan prosedur untuk mengatasi dan mengurangi potensi dampak buruk lingjungan dan sosial dari pelaksanaan kegiatan J-SLMP melalui penerapan praktik-praktik terbaik. Prosedur ESMF meliputi: (i) konsultasi dan pelibatan kelompok pemangku kepentingan yang relevan; (ii) langkah-langkah pengembangan kapasitas; (iii) penyaringan dan penilaian dampak lingkungan dan sosial; (iv) RPF dan PF, IPPF, dan manajemen sumber daya budaya fisik; v) pemantauan dan pelaporan, termasuk pengelolaan keluhan melalui FGRM.
Serangkaian konsultasi multipihak telah dilakukan sebagai bagian dari J-SLMP dan persiapan program penurunan emisi (ER) di seluruh wilayah yurisdiksi. Infomasi lengkap dari konsultasi ini terdapat dalam dokumen SESA. Konsultasi ini mendukung dialog multi-pihak yang terkait pendorong konversi lahan, deforestasi dan degradasi hutan, termasuk konversi lahan gambut menjadi perkebunan sawit, konversi hutan alam menjadi hutan tanaman, dan perambahan di dalam taman nasional. Peserta konsultasi termasuk lembaga pemerintah nasional dan sub- nasional, OMS/LSM di Provinsi Jambi, dan perwakilan desa, termasuk perwakilan masyarakat adat. Masalah kapasitas dalam pengelolaan kegiatan masih ditemukan pada KPH. Selain itu, tumpang tindih klaim tanah akibat praktik perizinan di masa lalu telah menyebabkan konflik dengan masyarakat setempat dan masyarakat adat, khususnya di perkebunan kelapa sawit.