PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana bentuk kerjasama dinas pariwisata dan dinas lingkungan hidup dalam menjaga hutan wisata Taman Hutan Raya Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong. Untuk mengetahui bagaimana model kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup dalam menjaga hutan wisata Taman Hutan Raya Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong.
Tujuan Penulisan
Manfaat Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Pariwisata
Menurut Kodhyat (1998), pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan secara perseorangan atau berkelompok, sebagai upaya mencari keseimbangan atau keselarasan dan kebahagiaan dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu pengetahuan. 9 Tahun 1990 pasal 7 tentang Kepariwisataan Pariwisata adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kepariwisataan, termasuk pengusaha objek dan daya tarik wisata, perusahaan sarana wisata, dan perusahaan lain di bidang itu.
Konsep Ekowisata dan Taman Hutan Raya
Pada dasarnya, ekowisata, yang melestarikan dan mengeksploitasi alam dan budaya masyarakat, jauh lebih ketat dari sekedar keberlanjutan. Sebab, ekowisata tidak mengeksploitasi alam melainkan hanya memanfaatkan alam dan jasa masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik/psikologis wisatawan. Menurut Hufscmidt dkk. (1992) secara umum metode penilaian manfaat ekonomi dari biaya lingkungan hidup adalah sumber daya alam, dan lingkungan hidup pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan pendekatan berorientasi pasar dan pendekatan berorientasi survei atau hipotesis. evaluasi, yang disajikan di bawah ini.
Dalam merencanakan pengembangan ekowisata, tujuan yang ingin dicapai adalah pelestarian alam dan budaya serta kesejahteraan masyarakat. Faktanya, konsep ekowisata bertujuan untuk secara objektif menyatukan dan menyeimbangkan berbagai konflik, yaitu dengan menetapkan kondisi perjalanan, melindungi sumber daya alam dan budaya, serta menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal (Razak, 2008). Taman Hutan Raya atau biasa disingkat Tahura merupakan kawasan hutan yang ekosistemnya dilindungi, termasuk tumbuhan dan satwa di dalamnya.
Taman Hutan Raya (Tahura) adalah cagar alam yang bertujuan untuk mengumpulkan tumbuhan dan satwa alami, baik spesies asli maupun non-asli, untuk digunakan bagi penelitian dan tujuan ilmiah. Sedangkan letaknya di kawasan terluar yang mengelilingi kawasan alam dan konservasi, yakni kawasan penyangga.
Konsep Pemerintah Daerah
Oleh karena itu, prioritas harus ditetapkan dan upaya harus dilakukan untuk mencari cara pengelolaan hutan sedemikian rupa sehingga hutan dapat memenuhi kebutuhan manusia semaksimal mungkin tanpa membebani atau membahayakan hutan itu sendiri. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, bahwa yang dimaksud dengan pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi. dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan asas Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penyelenggaraan urusan pemerintahan Urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah meliputi semua urusan pemerintahan kecuali beberapa urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, yaitu kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, serta agama.
Pemerintah Daerah dan DPRD Pemerintah Daerah dan DZHRB merupakan unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang mempunyai kedudukan yang setara. Sebagai penyelenggara pemerintahan daerah, Pemerintah Daerah mempunyai kedudukan sebagai lembaga eksekutif di daerah yang terdiri atas bupati/wakil bupati dan perangkat daerah, sedangkan DZHRB mempunyai kedudukan sebagai lembaga legislatif dalam daerah yang anggotanya adalah. dipilih melalui pemilihan umum. Banyak pihak yang berpendapat bahwa pendelegasian wewenang pengelolaan hutan di Indonesia dimulai pada tahun 1999, yakni ketika otonomi daerah disahkan.
Menurut Resosudarmo (2003) dan Sumardjani (2007) pendelegasian wewenang dalam pengelolaan hutan sebenarnya sudah dimulai sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, seiring berjalannya waktu terjadi proses tarik ulur dalam pendelegasian wewenang antara pusat dan daerah. Prahasta (2004) menyatakan bahwa untuk pengelolaan kawasan hutan yang baik harus dilakukan pemantauan kondisi hutan secara berkala.
Koordinasi Pemerintahan
Koordinasi horizontal merupakan keselarasan kerjasama yang harmonis dan sinkronis antar lembaga yang sederajat, misalnya antara Muspika kecamatan (Ketua Kecamatan, Kapolsek, Danramil), antara Muspida Kabupaten (Bupati, Danramil, Kapolres) dan Muspida provinsi (Gubernur, Pangdam, Kapolda). Koordinasi vertikal merupakan keselarasan kerjasama yang harmonis dan sinkron antara lembaga yang tingkatnya lebih tinggi dengan lembaga lain yang tingkatnya lebih rendah. Misalnya antara kepala unit suatu instansi, kepala subunit lain di luarnya, kepala bagian (Kabag), badan dengan kepala subbagian (Kasubag) selain departemennya, kepala kantor suatu instansi hingga kepala dinas. unit lainnya. Sub-kantor di luar kantor mereka.
Koordinasi fungsional adalah penyelarasan kerja sama yang harmonis dan sinkron antar lembaga yang mempunyai kesamaan fungsi kerja, misalnya antar kepala departemen penghubung. Berdasarkan teori diatas maka bentuk koordinasi yang dilakukan antara Polisi Lalu Lintas, Dinas Perhubungan dan Satuan Polisi Pamong Praja dalam pengelolaan lalu lintas di Kota Bandar Lampung adalah koordinasi fungsional.
Kerangka Fikir
Fokus Penelitian
Deskripsi Fokus Penelitian
Observasi yaitu penulis melakukan pengamatan langsung secara sistematis dan pencatatan kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup dalam pemeliharaan hutan wisata Taman Hutan Raya Abdul Latief di Kecamatan Sinjai Borong. Kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup dalam Pemeliharaan Hutan Wisata di Taman Hutan Raya Abdul Latief Pemeliharaan hutan wisata di Taman Hutan Raya Abdul Latief. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu kepala dinas pariwisata, maka ditetapkanlah Taman Hutan Raya Abdul Latief sebagai badan administratifnya.
Struktur pengelolaan Taman Hutan Raya Abdul Latief yang didirikan untuk mengelola ekowisata. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan salah satu pengelola hutan wisata Tahura, Abdul Latief: Berdasarkan hasil wawancara di atas, penulis menarik kesimpulan, lapor pengelola hutan wisata Tahura, Abdul Latief, setiap tahunnya.
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa banyak permasalahan dalam pemeliharaan Tahura Abdul Latief setiap tahunnya. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka diambil keputusan mengenai bentuk kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup dalam pemeliharaan hutan wisata Taman Hutan Raya Abdul Latief, sebagai berikut.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Tipe Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian untuk menjawab suatu permasalahan secara mendalam dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan, dilakukan secara wajar dan wajar sesuai dengan kondisi obyektif di lapangan. Proses investigasi yang dimaksud adalah dengan mengamati informan, berinteraksi dengan mereka dan mencoba memahami bahasa serta interpretasi mereka atas kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sinjai dalam menjaga Wisata Taman Hutan Raya Abdul Latif, Kecamatan Sinjai Borong. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu menyelidiki suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada di masyarakat, yang dilakukan secara mendalam untuk mengkaji latar belakang, kondisi dan interaksi yang terjadi.
Studi kasus dilakukan pada suatu sistem tunggal, yang dapat berupa suatu program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang ada dalam keadaan atau kondisi tertentu. Penelitian studi kasus menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi dokumenter untuk memperoleh data yang mendalam, yang selanjutnya akan dianalisis menjadi teori. Studi kasus akan memahami, mengkaji dan kemudian menafsirkan makna yang muncul dari fenomena terkait kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sinjai dalam pemeliharaan pariwisata di Taman Hutan Raya Abdul Latif di Kecamatan Sinjai Borong.
Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Informan penelitian
Selanjutnya kesimpulan dan verifikasi yang disampaikan pada tahap awal didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten mengenai kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup dalam pemeliharaan Hutan Wisata Taman Hutan Raya Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong. Kawasan Taman Hutan Raya “ABDUL LATIEF” seluas ± 720 Ha telah ditetapkan sebagai hutan konservasi berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. Segala bentuk perlengkapan yang diperlukan dalam pengelolaan telah difasilitasi untuk terus menjaga perkembangan Hutan Wisata Tahura Abdul Latif.
Konsep tanggung jawab dalam penelitian ini adalah tanggung jawab pengelolaan Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup selaku tim pelaksana pengelola Taman Hutan Raya Abdul Latief yang berkomitmen. Segala bentuk inventarisasi yang diperlukan untuk pengelolaan Hutan Wisata Tahu Abdul Latief dilaporkan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan Tahura Abdul Latief sangat berperan penting dalam pengembangan dan pengembangan wisata Tahura.
Peran masyarakat dalam pemeliharaan hutan wisata merupakan sebuah kewajiban karena dalam pemeliharaannya masyarakat sangat memahami kondisi geografis Tahura Abdul Latief. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program pemeliharaan Tahura Abdul Latief dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Akuntabilitas dengan mempublikasikan pembentukan program pemerintah dari kegiatan pemeliharaan Tahura Abdul Latief merupakan upaya untuk membentuk akuntabilitas pemerintah.
Perlu dilakukan peninjauan berkala terhadap pemeliharaan wisata Tahura Abdul Latief agar keindahan dan kelestariannya tetap terjaga.
Teknik Analisa Data
Pengesahan Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Profil Kelembagaan dan Sumber daya Tahura Abdul Latief
Kerjasama Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan hidup
- Transparansi
- Akuntabilitas
Kesimpulan dari wawancara di atas, dalam pengelolaan Taman Hutan Raya Abdul Latief telah dibentuk divisi tersendiri untuk menjaga dan melaksanakan pengembangan dan pengelolaan salah satu lokasi ekowisata di Kabupaten Sinjai. Wawancara dengan TF pada tanggal 5 Maret 2018) Berdasarkan hasil wawancara, penulis menyimpulkan bahwa anggaran pengelolaan Tahura Abdul Latief merupakan anggaran yang ditetapkan pemerintah setiap tahun dalam rancangannya. Selain itu, kawasan Tahura Abdul Latief juga memiliki kawasan pemanfaatan tradisional yang dikelola masyarakat dengan pepohonan buah-buahan.” (Wawancara HA 5 Maret 2018).
Dari hasil observasi penulis di lapangan Tahura Abdul Latief yang merupakan tempat yang dilindungi pemerintah sebagai cagar budaya mendapat pengelolaan dari Dinas Lingkungan Hidup. Model akuntabilitas pemeliharaan hutan Tahura Abdul Latief sangat penting sebagai bahan evaluasi rangkaian kegiatan pemeliharaan yang dilakukan agar dapat dikembangkan jauh lebih baik lagi di masa yang akan datang. Selain itu, kehadiran masyarakat dalam pemeliharaan hutan meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah karena masyarakat sendiri yang melakukan pemeliharaan.” (Wawancara MN 12 Maret 2018) Keterlibatan masyarakat dalam pemeliharaan Tahura Abdul Latief sangat penting mengingat hanya masyarakat sekitar hutan yang memahami kondisi geografis hutan wisata.
Dari hasil observasi lapangan yang penulis lakukan, ada beberapa hal yang sangat penting untuk dibahas mengenai keterlibatan masyarakat dalam pemeliharaan hutan wisata Tahura Abdul Latief, yaitu keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemeliharaan merupakan salah satu bentuk proses pembangunan komunitas. kepercayaan terhadap pemerintah, selain itu keterlibatan masyarakat sangat penting sebagai kelompok masyarakat yang benar-benar mengetahui keadaan Taman Hutan Raya Abdul Latief. Berdasarkan wawancara dengan pengelola Tahura, Abdul Latief, tidak mungkin tercapainya persyaratan maksimal dalam kegiatan pemeliharaan hutan karena terdapat kendala dalam pelaksanaannya. Keterlibatan masyarakat secara partisipatif dalam kegiatan pemeliharaan merupakan salah satu bentuk proses membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, selain itu keterlibatan masyarakat sangat penting karena kelompok masyarakat mengetahui betul kondisi Taman Hutan Raya Abdul Latief.
Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya dalam proses pemeliharaan hutan, khususnya dalam hal menjaga keberlangsungan ekosistem di Tahura Abdul Latief.