KESENIAN TRADISIONAL
Kesenian :
salah satu penyangga kebudayaan, berkembang menurut kondisi dari kebudayaan. tidak pernah lepas dari masyarakat.
kreativitas dari masyarakat
dianggap berasal dari ritual (kesukuan)
kuna.
Kesenian tradisional: suatu bentuk seni yang bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya.
Pengolahan didasarkan atas cita-cita masyarakat pendukungnya. termasuk “nilai kehidupan tradisi ”, pandangan hidup, pendekatan falsafah, rasa etis dan estetis serta ungkapan budaya lingkungan.
Hasil kesenian tradisional diterima sebagai tradisi, pewaris yang dilimpahkan dari angkatan tua kepada angkatan muda.
Contoh Kesenian Tradisional
a. wayang purwa b. wayang orang c. kethoprak
d. sulap e. tayub f. ludruk
g. tarian kuda kepang, dsb.
kesenian dibagi menjadi dua yaitu kesenian tradisional dan kesenian
modern.
A. Kesenian tradisional
Kesenian dianggap tradisional karena lahir pada masa Indonesia belum merdeka, menggunakan dialek atau bahasa daerah, punya identitas regional yang kuat, dan punya pola dramatik tertentu yang dapat diduga sebelumnya.
Dalam kesenian tradisional, berlaku
aturan-aturan yang ketat dalam
prinsipnya dan adanya vokabuler yang
merupakan bahan penyusunan wujud
karya (Humardani, 1972), seperti orang
membangun rumah harus ada pintu
depan, pintu tengah, pintu samping, dan
pintu belakang.
Ciri-ciri kesenian tradisional
a. pengaruh dan keberadaannya ada pada batas- batas wilayah tertentu dan jangkauannya terbatas pada budaya penunjang.
b. sangat erat hubungannya dengan golongan ras, kesukuan, adat-istiadat maupun keagamaan.
c. bagian dari satu “cosmos” kehidupan yang bulat tanpa terbagi-bagi dalam pengkotakan spesialisasi.
d. bukan merupakan hasil kreativitas perseorangan, melainkan tercipta secara anonim bersamaan dengan sifat kolektif masyarakat pendukungnya.
e. bersifat fungsional dalam arti tema dan bentuk- bentuk ungkapan dan penampilannya tidak terpisahkan dari kepentingan “cosmos” yang menyeluruh itu.
f. Perubahannya sangat lamban dan ada suatu kemapanan yang mengakar.
Fungsi kesenian tradisional
lebih menekankan pada persoalan kehidupan masyarakat di mana ia berada,
cenderung pada kehidupan yang sangat esensial, seperti nilai kemanusiaan maupun keagungan sang pencipta.
dalam perjalanan awal digunakan untuk upacara-upacara ritual keagamaan.
a. Sebagai pemanggil kekuatan supranatural (gaib);
b. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat;
c. Pemujaan terhadap nenek moyang dengan menirukan kegagahan ataupun kesigapan;
d. Pelengkap upacara sehubungan dengan peristiwa tingkatan hidup seseorang;
e. Pelengkap upacara sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu.
f. Manifestasi dorongan untuk mengungkapkan keindahan semata.
Kesenian modern
Kesenian modern yaitu suatu bentuk seni yang penggarapannya didasarkan pada cita rasa baru dikalangan masyarakat pendukungya, akibat pengaruh dari luar dan bahkan sering pula ada yang bersumber dari cita rasa “barat”.
WAYANG PURWA
1. Wayang: gambaran tentang suatu tokoh, boneka, atau boneka pertunjukkan wayang, berjalan berkali-kali, lalu lalang, tidak tetap, samar-samar, remang-remang
2. kata-kata dalam bahasa jawa yg mempunyai akar kata “yang”
dengan berbagai variasi vokalnya antara lain: layang, dhoyong, puyeng reyong berarti selalu bergerak, tidak tetap, samar-samar dan sayup-sayup. Kata “wayang, hamayang”
pada waktu dulu berarti mempertunjukkan bayangan.
Lambat laun menjadi pertunjukan bayang-bayang. Kemudian menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang
3. Wayang berkaitan dengan kata hyang, yang berarti leluhur.
Akar kata hyang adalah yang, maksudnya bergerak berkali- kali, simpang siur, lalu lalang, melayang. Oleh karena itu, wayang dapat pula berarti suksma, roh, yang melayang, yang mengitar. arti hyang dapat dirinci menjadi 2, yaitu (1) suksma, roh, (2) orang telah meninggal (leluhur). Maka dalam perunjukkan wayang purwa menghasilkan bayangan (wayangan), sehingga dinamakan wayang
4. Kata purwa berarti pertama, tua, permulaan. Kata purwa juga pengubahan dari kata parwa, yang berarti bagian dari cerita Mahabarata, atau yang digunakan untuk merujuk buku-buku atau bagian di dalam wiracarita Mahabarata.