• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERANGAN SAKSI AHLI TERHADAP KEYAKINAN HAKIM PUTUSAN TINDAK PIDANA KORUPSI

N/A
N/A
iwan soleh

Academic year: 2023

Membagikan "KETERANGAN SAKSI AHLI TERHADAP KEYAKINAN HAKIM PUTUSAN TINDAK PIDANA KORUPSI"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis keterangan saksi ahli mengenai kepercayaan hakim terhadap putusan tindak pidana korupsi, serta menguji pengaruh keterangan ahli dalam menentukan kepercayaan hakim dalam menentukan dan menganalisis pengambilan putusan perkara korupsi. Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat berupa rahmat dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Keterangan Saksi Ahli Atas Keyakinan Hakim Dalam Putusan Tindak Pidana Korupsi”.

Perumusan Masalah

Dalam penyidikan perkara tindak pidana korupsi, keterangan ahli juga mempunyai peranan yang salah satunya menguatkan adanya kerugian keuangan negara yang terjadi akibat tindak pidana korupsi tersebut dan hakim sebagai pengambil keputusan dapat merujuk pada perkara tersebut. melihat dari fakta-fakta persidangan dan memperoleh keyakinan dalam memutus perkara tindak pidana korupsi berdasarkan kemauannya. irah “Demi kebenaran berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh keterangan ahli dalam menentukan kepercayaan hakim dalam mengambil putusan perkara korupsi. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman bagi masyarakat, bahwa seorang hakim memerlukan kepercayaan hakim dan sekurang-kurangnya dua alat bukti untuk memutus suatu perkara pidana korupsi, serta keterangan ahli untuk mengetahuinya. pengadilan. mendengar.

Kerangka Konseptual

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, “Tindak pidana korupsi adalah setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan yang menguntungkan dirinya sendiri atau orang lain atau sejenisnya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keterangan saksi ahli tentang kepercayaan hakim terhadap putusan tindak pidana korupsi berarti bahwa kedudukan seseorang dalam memberikan pendapat terhadap perkara yang diajukan kepadanya adalah sesuai. dengan adalah dengan keahlian yang bertujuan untuk memperjelas perkara perbuatan melawan hukum dengan putusan yang mempunyai kepastian hukum.

Landasan Teoretis

Sistem bukti negatif menurut undang-undang merupakan sistem keseimbangan antar sistem yang sangat bertentangan satu sama lain. Sistem ini meliputi sistem pembuktian positif menurut undang-undang dan sistem pembuktian yang hanya berdasarkan keyakinan hakim.

Metode Penelitian 1. Tipe Penelitian

Bahan hukum utama yang digunakan adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Peradilan, Undang-undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang Tipikor di Pengadilan Pidana, Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang daerah hukum kejaksaan. Kantor Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.

Sistematika Penulisan

Dalam penulisan tesis diploma ini, dampak keahlian terhadap kepercayaan diri hakim dalam memberikan putusan perkara korupsi kepada pelaku tindak pidana korupsi diuraikan dengan analisis deskriptif. Bab ini memuat keterangan para ahli mengenai kepercayaan hakim terhadap putusan yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.

Keterangan Saksi Ahli

Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam suatu perkara pidana yang berupa keterangan seorang saksi tentang suatu peristiwa pidana yang dilihatnya sendiri dan dialaminya sendiri, dengan menyebutkan alasan-alasan pengetahuannya.” Persyaratan Saksi Menurut KUHAP, KUHAP tidak menjelaskan secara rinci syarat seseorang dapat dipanggil sebagai saksi, namun dijelaskan pada Pasal 185 ayat (1)-(7) terkait dengan saksi. . keterangan yang dianggap sah atau dapat dijadikan alat bukti untuk membuktikan suatu tindak pidana di pengadilan. Artinya, apabila tidak ada alat bukti lain yang memenuhi syarat, maka harus ada lebih dari satu saksi.20.

Keterangan seorang saksi di pengadilan merupakan alat bukti yang dapat membantu hakim dalam membangun atau memperoleh keyakinan sehubungan dengan permasalahan atau perkara suatu tindak pidana. Hal ini sangat penting, karena saksilah yang melihat dengan akal sehatnya. Peristiwa atau kejahatan yang dilakukan untuk pembuktian dan/atau pengungkapan di pengadilan. Ketentuan mengenai saksi juga diatur dalam KUHAP, bahwa saksi adalah orang yang mendengar, melihat dan mengetahui secara langsung mengenai peristiwa tersebut.Keterangan saksi yang terungkap pada tahap penyidikan belum merupakan alat bukti, karena saksi hanya menjadi alat bukti jika informasi terungkap di pengadilan. Pada alinea pertama Pasal 185 KUHAP disebutkan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti adalah apa yang dinyatakan saksi di pengadilan.

Padahal jika kita melihat batasan-batasan di atas, kita dapat melihat bahwa dapat dikatakan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti mempunyai peranan yang sangat penting dalam meyakinkan hakim apakah suatu tindak pidana dilakukan oleh seorang penjahat atau tidak. Mengenai keahlian, diatur dalam KUHP pada ayat 1 Pasal 184 huruf b, dan keahlian tersebut merupakan alat bukti tersendiri dalam hukum acara pidana.

Putusan Hakim

Jika pengadilan memutuskan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan akan menjatuhkan hukuman.” Korupsi tentara bayaran adalah salah satu bentuk korupsi pidana yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi melalui penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. keuangan Ada tiga pasal yang mengatur tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara, yaitu Pasal 2, 3, dan 8 UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU Nomor 20.

Terhadap mereka yang menjadi subjek tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 8 UU No. 31 Tahun 1999 tentang UU 31 Yunus Husen, Negeri Pencuci Uang, Pustaka Lima, Jakarta, 2008, hal. Sebelum dimasukkan dalam pasal 12 huruf c undang-undang no. 20 Tahun 2001, tindak pidana ini dirumuskan dalam Pasal 12 UU No. 31 Tahun 1999. Dalam kamus hukum, yang dimaksud dengan korupsi adalah perbuatan curang, tindak pidana yang merugikan keuangan negara.38.

Adapun mengenai tindak pidana korupsi diatur dalam UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Agar suatu perbuatan atau tindakan dapat ditetapkan sebagai kejahatan, maka harus dipenuhi unsur-unsur kejahatannya. Unsur-unsur tersebut juga harus dipenuhi agar tindak pidana tersebut dapat digolongkan sebagai tindak pidana korupsi.

Kesaksian merupakan salah satu alat bukti yang dijadikan bahan pertimbangan hakim dalam memutus suatu tindak pidana.

Pengaruh Keterangan Saksi Ahli Terhadap Keyakinan Hakim Putusan Tindak Pidana Korupsi

KUHAP mengatur bahwa keterangan adalah alat bukti yang kuat, tidak peduli apakah itu saksi atau tidak. Apabila alat bukti yang sah kurang dari 2 (dua) maka hakim tidak dapat memutus perkara. KUHAP telah mengatur paling sedikit 2 (dua) alat bukti yang sah, sehingga apabila alat bukti yang sah kurang dari 2 (dua) maka hakim tidak dapat memutus perkara tersebut. memutuskan tentang masalah ini. Kepercayaan hakim ini tidak bisa sembarangan, kepercayaan hakim ini diperoleh dari keyakinannya dalam membuktikan paling sedikit 2 (dua) alat bukti yang sah.

Alat bukti di Pengadilan Tipikor sama dengan alat bukti di KUHAP, yaitu berdasarkan paling sedikit 2 (dua) alat bukti yang sah dan keyakinan hakim. Alat bukti yang diajukan terdakwa kepada hakim dapat berupa ahli, keterangan ahli, surat atau petunjuk. Apabila keterangan saksi itu diterima oleh hakim dan dapat dijadikan alat bukti yang sah, maka hakim akan mencantumkan keterangan saksi itu dalam putusan dengan kata-kata “dengan mempertimbangkan…”.

Dimana seorang saksi dapat mempengaruhi hakim apabila keterangan saksi tersebut benar jika digabungkan dengan keterangan saksi lain dan juga dihubungkan dengan alat bukti lain. Apabila keterangan saksi dihubungkan dengan keterangan saksi-saksi lain dan alat bukti lain yang saling berkaitan dan menguatkan, maka beban pembuktiannya adalah keterangan saksi itu sah dan dapat mempengaruhi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan yang memenangkan terdakwa. .

Contoh Kasus Tindak Pidana Korupsi Dipengadilan Negeri Jambi

Jambi Jalan Jambi-Muara Bulian KM 16 Simpang Sei Duren Kabupaten Muaro Jambi atau setidak-tidaknya di tempat yang masih termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jambi yang berwenang mengadili dan memutus perkara tindak pidana korupsi. tindak pidana korupsi berdasarkan Keputusan Presiden Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 153/KMA/SK/ suatu korporasi yang pada akhirnya mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara sebesar Rp. seperti dalam Laporan Perhitungan Kerugian Keuangan Negara oleh Perwakilan BPKP Provinsi Jambi atas dugaan tindak pidana korupsi dalam pembangunan gedung auditorium serbaguna UIN STS Jambi TA 2018 No.323/PW05/ 5/2019 tanggal 18 November YUS20 ZEN selaku Kepala Badan Pengelola Pajak dan Belanja Wilayah Kota Jambi, yang diangkat berdasarkan Keputusan Walikota No. BKD tanggal 22 Agustus 2016 tentang Pemindahan dan Pengangkatan Jabatan Pimpinan Senior Utama di Lingkungan Pemerintahan Kota Jambi, pada tahun anggaran 2017-2019 atau sekurang-kurangnya antara tahun 2017 sampai dengan tahun 2019, bertempat di kantor Badan Pengelola Pajak dan Imbalan Daerah Kota Jambi atau setidak-tidaknya di tempat lain yang masih masuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Tindak Pidana. Tipikor pada Pengadilan Negeri Jambi yang berwenang mengadili dan memutus perkara tindak pidana korupsi berdasarkan Keputusan Mahkamah Agung Presiden Republik Indonesia Nomor: 153/KMA/SK/X/2011 tanggal 11 Oktober 2011, telah melakukan tindak pidana korupsi. beberapa perbuatan, walaupun masing-masing merupakan tindak pidana, namun berkaitan sedemikian rupa sehingga patut dipandang sebagai suatu perbuatan yang berkesinambungan, masing-masing pegawai negeri atau penyelenggara negara, masing-masing terdakwa SUBHI.

Dari contoh kasus di atas, diketahui bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diuraikan di atas diatur dan diancam pidana dalam Pasal 12 Huruf e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana. Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 No. Tanjung Jabung Timur atau setidak-tidaknya tempat lain yang masih termasuk dalam wilayah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jambi yang berwenang mengadili dan memutus tindak pidana korupsi (berdasarkan Keputusan Presiden No. Pengadilan Tinggi Republik Indonesia Nomor 153/KMA/SK/X/2011, tanggal 11 Oktober 2011), “dengan sengaja melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan perbuatan, melakukan perbuatan melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, bahwa akibat perbuatan terdakwa RADEN RUDY TEDJA DJAYA LAKSANA, BAE Bin RADEN SHIRDJA SOETEDJA mengakibatkan Kerugian Keuangan Negara sebesar Rp. tujuh ratus tujuh puluh tujuh juta tujuh puluh satu ribu lima puluh lima koma empat puluh dua rupee) sebagaimana disebutkan dalam Laporan Temuan Pemeriksaan dalam rangka penghitungan kerugian keuangan negara akibat dugaan tindak pidana korupsi dalam pembangunan sarana dan prasarana penunjang. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Culum di Dinas PUPR Provinsi Jambi T.A.

Hal ini terlihat dari Pasal 184 KUHAP (1) yang menyatakan bahwa keterangan saksi merupakan alat bukti.” Pengaruh keterangan ahli terhadap kepercayaan hakim terhadap putusan yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi adalah untuk meyakinkan hakim dalam mengambil keputusan. keputusan dalam persidangan korupsi.

Saran

Piers Beirne, James Messerschmidt dalam Dana Krisnawati, dkk, Antologi Hukum Pidana Khusus, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006. Tolib Effendi, Pokok-pokok Hukum Acara Pidana (Pembangunan dan Rekonstruksi di Indonesia), Setara Press, Malang, 2014. Sebagai Upaya Pencegahan Tindak Pidana Korupsi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun”, Vol 1 No 2, Jurnal Fakultas Hukum Universitas Jambi, 2017.

Lilik “Purwastuti Yudaningsih, Pengaturan Tindak Pidana Incest Dalam Perspektif Kebijakan Hukum Pidana”, Jurnal Hukum Fakultas Hukum Universitas Jambi, Vol 7 No. 2, 2014, hal. Kartini Siahaan, “Kedudukan Hukum Akta Notaris Sebagai Alat Bukti Tindak Pidana Pemalsuan Dokumen Dalam Proses Peradilan Pidana”, Jurnal Hukum Fakultas Hukum Universitas Jambi, Vol.1 No. 2 Tahun 2019. Arfa, “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku tindak pidana membuang limbah ke media lingkungan hidup tanpa izin di wilayah hukum Pengadilan Negeri Muara Bulian”, Fakultas Hukum Universitas Jambi, Vol 3 No. 1, 2019, hal.

Yulia Monita dan Dheny Wahyudhi, “Peran Dokter Forensik Dalam Pembuktian Perkara Pidana,” Jurnal Fakultas Hukum Universitas Jambi, 2013. Aprillani Arsyad, “Menumbuhkan Gerakan Anti Korupsi Dalam Rangka Penanggulangan Korupsi di Indonesia” , Jurnal Fakultas Hukum Universitas Jambi, 2010.

Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Jenis Penelitian dalam skripsi ini adalah yuridis sosiologis dengan metode pendekatan adalah kualitatif. Dengan sumber data adalah data primer dan data

Pelapor dapat juga sebagai korban dari tindak pidana itu sendiri, seperti yang dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban

Kendala dalama Pelaksanaan Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor dalam Peradilan Tindak Pidana Korupsi. Kendala

Penelitian ini melihat fakta apakah dasar hukum peraturan yang ada sudah berjalan dan diterapkan secara baik dalam perlindungan yang seharusnya diberikan pada saksi pelapor

13 tahun 2006 yang telah diubah menjadi Undanga-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebagai aturan utama dalam pemberian perlindungan hukum

Rani A, Perlindungan Hukum Bagi Saksi Pengungkap Fakta (Whistleblower) Dihubungkan Dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban,

Satu-satunya saksi yang memenuhi kriteria seseorang disebut sebagai saksi dalam pasal 1 angka 26 kitab undang-undang hukum acara pidana (KUHAP), adalah “orang yang

Hal tersebut dinyatakan dalam Pasal 5 ayat 2 UU No.31 tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang menyatakan bahwa : “Hak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diberikan kepada