• Tidak ada hasil yang ditemukan

kewenangan majelis pengawas daerah - Repository UMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "kewenangan majelis pengawas daerah - Repository UMA"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Upaya pembinaan dan pengawasan serta penegakan hukum memerlukan peraturan dan perundang-undangan serta perangkat penegakannya, hal inilah yang berperan dalam Majelis Pengawas Notaris Daerah. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Majelis Pengawas Daerah Notaris Kota Medan berwenang menyelenggarakan sidang peninjauan kembali tagihan.

Rumusan Masalah

Mengingat betapa pentingnya proses penegakan hukum terhadap kedudukan dan perilaku Notaris di Kota Medan, maka diperlukan penelitian lebih lanjut. Apa saja hambatan dan upaya menjalankan kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah (MPDN) mengenai jabatan dan perilaku Notaris Kota Medan.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kami berharap penelitian ini bermanfaat untuk menambah literatur terkait permasalahan kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah khususnya kota Medan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa Magister Hukum Universitas Medan Area untuk mengetahui kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah dalam pengawasan Notaris.

Keaslian Penelitian

Apa saja kendala yang dihadapi Dewan Pengawas Notaris Daerah di Kabupaten Deli Serdang dalam melakukan pengawasan terhadap Notaris? Penelitian ini berfokus pada “Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah (KMDP) Tentang Kedudukan dan Perilaku Notaris Kota Medan”.

Kerangka Teori dan Konsepsi

  • Kerangka Teori
  • Kerangka Konsepsi

Indroharto berpendapat, atribusi terjadi ketika kewenangan pemerintahan baru diberikan melalui suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. 26 Yuliandri, Prinsip-prinsip pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik Gagasan pembentukan undang-undang yang stabil, cetakan II, PT.

Metode Penelitian

  • Jenis dan Sifat Penelitian
  • Sumber Data
  • Tehnik Pengumpulan Data
  • Analisis Data

Sesuai dengan permasalahan yang dibahas dan tujuan penelitian, maka digunakan metode penelitian hukum normatif. Penelitian semacam ini sering juga disebut penelitian doktrinal47, karena penelitian ini mengkaji keputusan hakim atau peraturan perundang-undangan dan bahan pustaka, oleh karena itu disebut juga penelitian kepustakaan atau studi dokumen, yaitu membandingkan peraturan tertulis atau bahan hukum yang ada dengan bahan hukum lainnya.48 Selain itu juga terlihat secara hirarki sinkronisasi aturan dengan aturan lainnya.49. hal.14. Sumber bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian hukum normatif terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.51 Pada umumnya jenis data yang diperlukan dalam penelitian hukum terfokus pada data sekunder dan penelitian data primer.

Yaitu bahan hukum yang mengikat sebagai landasan utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan keterangan atau petunjuk berkaitan dengan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus bahasa Indonesia dan kamus hukum. Yaitu pengumpulan data primer yang diperoleh langsung dari informan dan responden melalui wawancara langsung dengan para informan.Wawancara tersebut dilakukan sesuai dengan petunjuk wawancara yang berlaku bagi informan dalam penelitian ini.

53 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme penelitian hukum normatif dan empiris, (Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa, 2015), hal.183.

KEWENANGAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH

Pengertian Majelis Pengawas Daerah Notaris

Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja Dan Tata Cara Pemeriksaan Dewan Pengawas Notaris, Dewan Pengawas Notaris adalah suatu dewan pengawas yang bertugas membina dan mengawasi Notaris dalam melaksanakan jabatan profesionalnya sebagai masyarakat. pejabat yang senantiasa meningkatkan profesionalisme dan mutu kerjanya, sehingga dapat menjamin keamanan hukum dan perlindungan bagi penerima jasa notaris dan masyarakat luas. Berdasarkan Pasal 1 angka 6 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.01-HT.03.01 Tahun 2006 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Notaris, Notaris Badan Pengawas Majelis adalah badan yang mempunyai wewenang dan kewajiban mengarahkan dan mengawasi Notaris. Yang dimaksud dengan Majelis Pengawas Daerah adalah suatu badan yang mempunyai wewenang dan kewajiban melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap Notaris yang berkedudukan di daerah kabupaten/kota.

Keberadaan Majelis Pengawas Notaris di Indonesia

Setelah berlakunya Undang-Undang tentang Jabatan Notaris, maka peradilan tidak lagi melakukan pengawasan, penyidikan dan pemberian sanksi terhadap Notaris, namun pengawasan, penyidikan dan penjatuhan sanksi terhadap Notaris dilaksanakan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan cara: membentuk Dewan Pengawas Notaris. Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia nomor 49/PUU-X/2012 tanggal 23 Maret 2013, bahwa pengujian substantif (judicial review) terhadap Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris nomor 30 Tahun 2004 yang diajukan oleh Kant Kamal, hal ini mengakibatkan hilangnya kewenangan Dewan Pengawas Notaris Daerah. Tugas dan wewenang khusus Dewan Pengawas Daerah Notaris diatur dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-undang Kedudukan.

Hilangnya kewenangan khusus dewan pengawas notaris daerah sesuai dengan alinea pertama Pasal 66 Undang-Undang tentang Kedudukan Notaris bukan berarti dewan pengawas daerah notaris hilang. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia no. M.39.PW tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Dewan Pengawas Notaris, padahal kompetensi Dewan Pengawas Notaris Daerah dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris No. 30 tahun 2004 telah dihapus. Hal ini terlihat dari peran kewenangan dan kewajiban dewan pengawas daerah sebagai lembaga pengawas dalam UU No. 30 Tahun 2004.

Ketua dan wakil ketua dewan pengawas daerah dipilih oleh anggota, sebagaimana dimaksud dalam alinea kedua.

Pengaturan Pengangkatan Majelis Pengawas Daerah

Masa jabatan ketua, wakil ketua, dan anggota Dewan Pengawas Daerah selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali. Calon Dewan Pengawas Notaris harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat diangkat menjadi Dewan Pengawas Notaris, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. 61 Pasal 8 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi, Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, dan Tata Kerja Dewan Pengawas.

Anggota Dewan Pengawas dapat diberhentikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. 64 Pasal 13 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2015 tentang Struktur Organisasi, Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, dan Tata Kerja Dewan Pengawas. 65 Pasal 14 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi, Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, dan Tata Kerja Dewan Pengawas.

Mengenai pergantian antarwaktu anggota Dewan Pengawas diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut.

Kewenangan Majelis Pengawas Daerah Notaris (MPDN)

Notaris dalam melaksanakan profesinya sebagai pegawai negeri sipil dan mempunyai wewenang membuat akta otentik diawasi oleh suatu Dewan Pengawas yang dibentuk oleh Menteri. Keberadaan Dewan Pengawas Notaris merupakan perwujudan amanat Undang-undang Notaris yang mengatur tentang pengawasannya. Dapat dikatakan bahwa Undang-Undang Notaris menciptakan Dewan Pengawas Notaris, yang pada akhirnya berarti profesi notaris tidak lagi berada dalam pengawasan pengadilan.

Kewenangan administratif dewan pengawas dilaksanakan oleh ketua, wakil ketua atau salah satu anggota yang diberi wewenang berdasarkan keputusan rapat dewan pengawas.73. 72 Pasal 21 Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia no. 40 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi, Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, dan Tata Kerja Dewan Pengawas. 73 Pasal 22 Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia no. 40 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi, Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, dan Tata Kerja Dewan Pengawas.

74 Pasal 23 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2015 tentang Struktur Organisasi, Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, dan Tata Kerja Dewan Pengawas.

PELAKSANAAN KEWENGAN MAJELIS PENGAWAS

Kewenangan Majelis Pengawas Daerah Notaris (MPDN)

78 Wawancara Marzuki selaku Sekretaris Dewan Pengawas Daerah Notaris Kota Medan pada tanggal 27 Desember 2019 pukul 09:00 WIB. Penyelesaian secara tindakan (kuratif) dilakukan oleh Dewan Pengawas Daerah Notaris Kota Medan, Tindakan yang dilakukan adalah: Wawancara dengan Marzuki selaku Sekretaris Dewan Pengawas Daerah Notaris Kota Medan pada tanggal 27 Desember 2019 pukul 09:00 WIB .

100 Wawancara Marzuki selaku Sekretaris Majelis Pengawas Daerah Notaris Kota Medan pada tanggal 27 Desember 2019 pukul 09.00 WIB.

Kelemahan Majelis Pengawas Daerah Notaris (MPDN)

Apabila terjadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 huruf a, maka Protokol Notaris diserahkan oleh Notaris kepada Notaris lain yang ditunjuk oleh Majelis Pengawas Daerah. Dalam hal terjadi peristiwa sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 huruf a110 (kematian), penyerahan Protokol Notaris dilakukan oleh ahli waris Notaris kepada Notaris lain yang ditunjuk oleh Majelis Pengawas Daerah. 115 Wawancara Marzuki selaku Sekretaris Majelis Pengawas Daerah Notaris Kota Medan pada tanggal 27 Desember 2019 pukul 09.00 WIB.

Tidak ada landasan hukum yang kuat dan jelas bagi Dewan Pengawas Daerah untuk memberikan sanksi kepada Notaris yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Fungsi Notaris. Perlu adanya ketentuan pelaksanaan Undang-Undang Jabatan Notaris yang memberikan wewenang kepada Dewan Pengawas Daerah untuk memberikan sanksi kepada Notaris yang melakukan pelanggaran. Disarankan agar kewenangan Majelis Daerah Pengawasan Notaris diperkuat untuk memberikan sanksi kepada notaris yang melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.

Disarankan kepada pemerintah untuk merevisi Undang-Undang Fungsi Notaris untuk memberikan kewenangan kepada Dewan Pengawas Daerah Notaris untuk memberikan sanksi kepada Notaris yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Fungsi Notaris.

Upaya Dalam Menjalankan Kewenangan Majelis Pengawas

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1 Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah (MPDN) mengenai kedudukan dan tingkah laku Notaris untuk melaksanakan ketentuan pengenaan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris tidak diatur dalam Undang-Undang tentang Kedudukan Notaris atau Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hak Negara Republik Indonesia. Dewan Pengawas Notaris Daerah diharapkan segera menindaklanjuti rekomendasi penyediaan saksi yang disampaikan Dewan Pengawas Daerah.

Saran

Ali, Zainudin, Metodologi Penelitian Hukum, Sinar Grafis, Jakarta, 2009 Asshiddiqie, Jimly, Asas Hukum Tata Negara Pasca Indonesia. Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, Bhineka Cipta, Jakarta, 1996 Cst Kansil, Christine, S.T Kansil, Engelien R, Palandeng dan Godlieb N. Penerapan hukum administrasi sehubungan dengan ketentuan Pasal 20 Ayat (3) dan (4) UU Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup”, (Surabaya: Hukum, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, 1996).

Mertokusumo, Sudikno, Teori Hukum, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, 2012 Muhammad, AbdulKadir, Metode Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti,. Nasution, Johan, Metode Penelitian Hukum, Mandar Maju, Jambi, 2008 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Pranada Media Group;. Soekamto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UII, 1991 Soemitro, Ronitijo Hanitijo Metodologi dan Fikih Penelitian Hukum, Jakarta;.

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja, dan Tata Cara Pemeriksaan Dewan Pengawas.

Referensi

Dokumen terkait

die 21ste eeu • ’n Bestekopname van suksesse en mislukkings die afgelope 100 jaar • ’n Bestekopname van suksesse en mislukkings sedert 1994 • Hoe Afrikaans se demografi ese profi el