• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keywords: Cooperative Learning Model, Formulate-Share-Listen-Create, Math Reasonig and Communication

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Keywords: Cooperative Learning Model, Formulate-Share-Listen-Create, Math Reasonig and Communication"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Formulate Share- Listen-Create Terhadap Kemampuan Penalaran dan Komunikasi

Matematis Siswa Kelas VIII SMPN 2 Painan Mega trianita*), Tika Septia**), Anna Cesaria**)

*)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat

**)Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

The background of this study was the students’ math reasoning and communication was low. The aimed of this study was to know whether student’s math reasoning and communication ability by appliying cooperative learning model Formulate-Share-Listen-Create type was better then student’s math reasoning and communication ability conventional learning in VIII class SMPN 2 Painan. It was an experiment research with the population was all of the students of VIII classs SMPN 2 Painan. The samples research were VIII.2 class as the experiment class and VIII.1 class as the control class. This research type was experimental research with random design to the subject. The instrument used was an essay test. The hypothesis testing used one party t-test. Hypothesis test got 3,06

> 1,68 ( ccepted. Finding of the result

of study was math reasoning and communication ability by appliying cooperative learning model Formulate-Share-Listen-Create type was better then student’s math reasoning and communication ability conventional learning in VIII class SMPN 2 Painan.

Keywords: Cooperative Learning Model, Formulate-Share-Listen-Create, Math Reasonig and Communication.

PENDAHULUAN

Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang memegang peranan penting dalam pembentukan pola pikir siswa. Pola pikir tersebut dapat terbentuk dalam pembelajaran matematika apabila setiap siswa mampu memahami matematika dengan baik. Nikson (Muliyardi, 2002: 3) mengemukakan bahwa

"Pembelajaran matematika adalah

upaya membantu siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehinggga konsep atau prinsip itu terbangun kembali”.

Tujuan pembelajaran matematika salah satunya yaitu siswa mampu menalar konsep matematika

dengan baik serta

mengkomunikasikannya dalam

(2)

kegiatan proses belajar. Penalaran dan mengkomunikasikan konsep tersebut dengan baik merupakan dasar untuk memperoleh hasil belajar matematika yang baik pula.

Berdasarkan hal tersebut, kemampuan penalaran dan komunikasi menjadi dasar untuk mengembangkan pola pikir siswa ke persoalan yang lebih kompleks.

Hasil Observasi yang telah dilakukan pada tanggal 10 sampai dengan 17 Februari 2016 di SMPN 2 Painan, diketahui bahwa pembelajaran masih terpusat pada guru sehingga mengakibatkan kurang optimalnya kemampuan berfikir siswa. Guru belum terbiasa mengikutsertakan siswa untuk bernalar dalam menanamkan konsep- konsep materi yang ada. Keadaan yang demikian mengakibatkan siswa dalam bernalar semakin lemah dan ketika diberikan soal-soal penalaran dan komunikasimasih banyak siswa yang kurang terampil dalam menyelesaikannya.

Upaya mengatasi masalah di atas adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share-Listen-Create.

Model pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share-Listen-Create dalam proses pembelajaran siswa dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuan akademik yang heterogen. Formulate yaitu guru meminta masing-masing siswa untuk merumuskan sebuah jawaban dari lembar pertanyaan yang diberikan. Share yaitu guru meminta masing-masing siswa untuk saling berbagi jawaban mereka dengan pasangannya. Listen yaitu guru meminta siswa untuk mendengarkan jawaban yang dijelaskan pasangannya dengan sungguh- sungguh.. Create yaitu guru meminta setiap pasangan untuk membuat jawaban baru yang lebih baik daripada rumusan masing-masing sebelumnya Watsikns, Eileen &

Lodge (2007)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share-Listen-Create lebih baik dari pada kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran

(3)

konvensional di kelas VIII SMPN 2 Painan..

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian adalah eksperimen dengan rancangan penelitian random terhadap subjek.

Penelitian dilakukan dari tanggal 18 Juli 2016 sampai dengan 05 Agustus 2016 di SMPN 2 Painan. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 2 Painan dengan kelas VIII.2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII.1 sebagai kelas kontrol.

Hipotesis penelitian adalah kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share- Listen-Create lebih baik dari pada kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMPN 2 Painan Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes akhir.

Tes akhir mengandung indikator penalaran dan komunikasi matematis yaitu menyajikan pernyataan matematika secara tertulis dan gambar, mengajukan dugaan (conjectures), melakukan manipulasi

matematika, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi, menarik kesimpulan dari pernyataan.

Uji coba instrumen dilakukan di SMPN 1 IV Jurai pada tanggal 01 Agustus 2016 di kelas VIII.3 dengan jumlah siswa yang mengikuti tes sebanyak 20 orang. Hasil uji coba menunjukkan soal diterima/baik dengan reliabilitas 0,850. Arikunto (2010: 239) instrumen tersebut reliabel. Untuk mengukur kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa digunakan rubrik analitik skala 4 merujuk pada Iryanti (2004: 14).

Teknik analisis data yang digunakan adalah uji t. Sebelum menganalisis data hasil penelitian dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas (Sudjana, 2005: 249, 466), kemudian uji hipotesis dengan uji t merujuk pada Sudjana (2005:

239).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh dari hasil tes akhir pada kedua kelas dilakukan perhitungan rata-rata ( , simpangan baku (S), nilai tertinggi ( dan

(4)

nilai terendah ( , Gambaran hasil belajar yang melihat penalaran dan komunikasi matematis pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perhitungan Rata-rata ( ), Simpangan Baku (S), Skor Tertinggi ( ) dan Skor Terendah ( ) Pada Kelas Sampel

Kelas Sampel S xmaks xmin

Eksperimen 77.38 13.50 100 53

Kontrol 62.95 17.26 91 33

Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata siswa kelas kontrol. Selain itu, simpangan baku kelas eksperimen lebih kecil dibandingkan dengan simpangan baku kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen memiliki keragaman nilai yang kecil, sehingga menyebabkan pada umumnya nilai siswa tersebar tidak terlalu jauh dari nilai rata-rata kelas.

Berdasarkan pengujian hipotesis yang menggunakan uji t

diperoleh sedangkan

untuk karena

maka terima H1. Gambaran hasil tes akhir dari tiap indikator terhadap siswa yang

diambil secara acak dapat dilihat sebagai berikut:

1) Mengajukan dugaan dan melakukan manipulasi matematika.

Siswa berkemampuan tinggi pada kelas eksperimen sudah mampu mengajukan dugaan dan melakukan manipulasi matematika. Siswa berkemampuan tinggi menuliskan jawaban sesuai yang diminta oleh soal, dimana siswa mampu membuat permisalan dari soal menyelesaikan operasi penjumlahan bentuk aljabar dengan benar. Sedangkan siswa berkemampuan tinggi pada kelas kontrol masih belum bisa mengajukan dugaan. Siswa masih belum bisa menganalisa soal dengan tidak membuat permisalan sebuah segitiga terlebih dahulu.

2) menyajikan pernyataan matematika secara tertulis dan gambar serta melakukan manipulasi matematika.

Siswa berkemampuan sedang pada kelas eksperimen sudah mampu menyajikan pernyataan matematika secara tertulis dan gambar serta melakukan manipulasi matematika.

Sedangkan siswa berkemampuan

(5)

sedang pada kelas kontrol masih belum bisa menyajikan pernyataan matematika secara tertulis dan gambar serta melakukan manipulasi matematika, dimana siswa salah dalam membuat hasil dari perkalian = , Seharusnya siswa menjawab hasil perkalian tersebut

.

3) memberikan alasan terhadap solusi yang diberikan dan menarik kesimpulan

Siswa berkemampuan rendah pada kelas eksperimen sudah mampu memberikan alasan terhadap solusi yang diberikan dan menarik kesimpulan dengan menguraikan soal-soal dengan jelas. Sedangkan siswa berkemampuan rendah pada kelas kontrol belum mampu menjawab pertanyaan dari soal yang diberikan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share- Listen-Create lebih baik dari pada kemampuan penalaran dan

komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMPN 2 Painan.

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh disarankan:

1) Guru matematika khususnya guru kelas VIII SMPN 2 Painan diharapkan dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share-Listen- Create yang dapat dijadikan salah satu alternatif dalam pembelajaran.

2) Penelitian ini hanya dilakukan pada pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar, Kepada peneliti selanjutnya, agar dapat menjadikan skripsi ini sebagai pedoman untuk melanjutkan penelitian ke permasalahan dan pokok bahasan yang lain serta mencoba pada materi yang tingkat ketelitian, kesulitan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2010).

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

(6)

Iryanti, Puji. (2004). Penilaian Unjuk Kerja. Yogyakarta : Depdiknas.

Muliyardi. (2002). Strategi Pembelajaran

Matematika.Padang: UNP Press.

Sudjana. (2005). Metoda Statistik.

Bandung: Tarsito.

Watkins, Carnell, & Lodge (2007).

Effective Learning In Classrooms. Gateshead : Athenaeum Press

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Emay (2011) menunjukkan hasil peningkatan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan pembelajaran

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan definisi kemampuan berpikir kreatif matematis adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan

Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Kemampuan Komunikasi Mate- matis Siswa (Kuasi Eksperimen di SMPN 3 Tangerang Selatan)”, menyimpulkan bahwa kemampuan

Setelah mengetahui perbedaan nilai hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik pada kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran kooperatif

Tujuan dalam penelitian ini adalah mengkaji pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe Formulate-Share-Listen-Create (FSLC) terhadap peningkatan kemampuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Formulate Share Listen and Create bernuansa

Berdasarkan hasil penelitian 1 dan 2 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mengikuti model pembelajaran Search, Solve,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan tanggapan pembelajaran fisika dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe FSLC pada pokok bahasan getaran