• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kharles M.Hum3 Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT This thesis examines Baharuddin Andoeska as Minang The Self-taught Cultural Year

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Kharles M.Hum3 Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT This thesis examines Baharuddin Andoeska as Minang The Self-taught Cultural Year "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

BAHARUDDIN ANDOESKA SEORANG BUDAYAWAN MINANG YANG OTODIDAK TAHUN 1963-2016

Oleh:

Riri Desriani1 Refni Yulia SS, M.Hum2

Drs. Kharles M.Hum3

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

_______________________________________________________________________________

ABSTRACT

This thesis examines Baharuddin Andoeska as Minang The Self-taught Cultural Year (1963-2016).

The formulation of the problem of this thesis is how early Baharuddin Andoeska involved in the arts and culture as well as how businesses Baharuddin Andoeska as a humanist, including in terms of creating the song and how the public's view of the work Baharuddin Andoeska. The purpose of this research was to describe the beginning of Baharuddin Andoeska involvement in the arts and culture as well as efforts Baharuddin Andoeska as a humanist, including in terms of creating songs and describe the public's view of the work Baharuddin Andoeska. The method used in this research is the method according to historical research through the following steps: (1) Heuristics, (2) Criticism Sources (3) Analysis and Inteprestasi, (4) Historiography. The results of this study indicate that Baharuddin Andoeska was a humanist Minang Self-taught and has a lot of talent in the arts, namely painting, composing a song, writer, and poet of Minang language. Baharuddin Andoeska early involvement in the arts and culture influenced by lngkungan where he lived as a child. residence in Jati often used as a rehearsal band Mutiara Combo. Because they often saw the band Mutiara Combo Andoeska Baharuddin small exercise was eager to learn music. Baharuddin Andoeska artistic soul had been seen since childhood, everything is starting from his favorite, as he liked to paint, and listen to songs. Work done as a humanist Andoeska Baharuddin included in terms of creating the song that first established a studio Barabah to place children's talents in the arts. Both teach school children practicing vocal and maintain quality standards in accordance with the science of music and found his own formula. Society's view of the work Baharuddin Andoeska is, many do not know Baharuddin Andoeska. But when asked about the song Guguak Manyambah many who know the song. Works that are created by Baharuddin Andoeska has its own distinctiveness that is easily recognized by his fellow composer, which every song he has created easy to understand and tell about the natural surroundings.

Keywords: Biography, Self-taught, Culture Minang, Music.

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

2Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

3Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

(4)

BAHARUDDIN ANDOESKA AS MINANG THE SELF-TAUGHT CULTURAL YEAR (1963-2016)

Oleh Riri Desriani4 Refni Yulia SS, M.Hum5

Drs. Kharles M.Hum6

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

_______________________________________________________________________________

ABSTRAK

Skripsi ini mengkaji tentang Baharuddin Andoeska Seorang Budayawan Minang Yang Otodidak Tahun (1963-2016). Adapun rumusan masalah dari skripsi ini adalah bagaimana awal Baharuddin Andoeska terlibat dalam dunia seni dan budaya serta bagaimana usaha-usaha Baharuddin Andoeska sebagai seorang budayawan termasuk dalam hal menciptakan lagu dan bagaimana pandangan masyarakat terhadap karya Baharuddin Andoeska. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan awal keterlibatan Baharuddin Andoeska dalam dunia seni dan budaya serta usaha-usaha Baharuddin Andoeska sebagai seorang budayawan termasuk dalam hal menciptakan lagu dan mendeskripsikan pandangan masyarakat terhadap karya Baharuddin Andoeska. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yang sesuai dengan penelitian sejarah yang melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) Heuristik, (2) Kritik Sumber (3) Analisis dan Inteprestasi, (4) Historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Baharuddin Andoeska adalah seorang budayawan Minang yang Otodidak dan memiliki banyak bakat dalam dunia seni yaitu melukis, menciptakan lagu, penulis, dan sastrawan bahasa Minang. Awal keterlibatan Baharuddin Andoeska dalam dunia seni dan budaya dipengaruhi oleh lngkungan tempat tinggalnya semasa kecil. tempat tinggalnya di Jati sering dijadikan tempat latihan band Mutiara Combo. Karena sering melihat band Mutiara Combo latihan Baharuddin Andoeska kecil sangat ingin belajar musik. Jiwa seni Baharuddin Andoeska memang sudah terlihat sejak kecil, semuanya memang dimulai dari kesukaannya, seperti ia sangat menyukai melukis, dan mendengarkan lagu. Usaha yang dilakukan Baharuddin Andoeska sebagai seorang budayawan termasuk dalam hal menciptakan lagu yaitu pertama mendirikan sanggar barabah untuk tempat menyalurkan bakat anak-anak dalam dunia seni. Kedua mengajari anak-anak sekolah berlatih vocal serta menjaga kualitas sesuai dengan ilmu Musik Standar dan Formula yang ditemukan sendiri. Pandangan masyarakat terhadap karya Baharuddin Andoeska yaitu, banyak yang tidak mengenal Baharuddin Andoeska. Namun jika ditanyakan mengenai lagu Guguak Manyambah banyak yang mengetahui lagu tersebut. Karya yang banyak diciptakan oleh Baharuddin Andoeska memiliki cirri khasnya sendiri yang mudah dikenali oleh sesama pencipta lagu, yang mana setiap lagu yang telah ia ciptakan mudah dipahami dan menceritakan tentang alam sekitar.

Kata Kunci: Biografi, Otodidak, Budayawan Minang, Musik.

4Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

5Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

6Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

(5)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sumatera Barat (Minangkabau) tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta yang pernah menjadi wakil presiden pertama di Indonesia,Sutan Syahrir yang pernah menjadi perdana menteri,Tan Malaka,Agus Salim, Muhammad Yamin, Buya Hamka, Tuanku Imam Bonjol, dan lain-lain.7 Sumatera Barat juga dikenal sebagai penghasil Budayawan ditingkat nasional seperti Ismail Marzuki, Taufik Ismail, dan lain-lain. Tidak hanya ditingkat nasional, didaerahpun banyak tokoh-tokoh Budayawan seperti Baharuddin Andoeska, yang pemikirannya tidak kalah dibandingkan Budayawan tingkat Nasional.

Baharuddin Andoeska adalah salah satu budayawan yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian budaya Minangkabau.

Beliau berusaha unuk memperlihatkan keindahan dari seni dan budaya Minangkabau, baik itu berupa hasil karyanya dalam bentuk lagu drama, tari, sastra dan melukis. Menariknya Baharuddin Andoeska untuk diteliti dalah ia seorang budayawan dan pencipta lagu yang otodidak. Baharuddin Andoeska adalah seorang budayawan yang multitalenta, talenta-talenta yang dimiliki oleh Baharuddin Andoeska yaitu sebagai seorang pencipta lagu, pelukis, pelatih vocal, penulis dan pelatih tari. Semua talenta yang dimiliki oleh Baharuddin Andoeska tersebut dilakukan dalam kedaan fisiknya yang tidak sempurna. Hal inilah yang membedakan Baharuddin Andoeska dengan budayawan- budayawan yang ada di Sumatera Barat

.

B. Rumusan Masalah

a. Bagaimana awal Baharuddin Andoeska terlibat dalam dunia seni dan budaya?

b. Bagaimana usaha-usaha Baharuddin Andoeska sebagai seorang budayawan, termasuk dalam hal ini menciptakan lagu?

7 Refisrul, Efrianto, H. Kamardi Rais DT. Panjang Simulie Biografi dan Hasil Karyanya ,(Padang: Balai Pelestari Nilai Budaya Padang) hal: 1-2.

c. Bagaimana pandangan Masyarakat terhadap karya Burhanuddin Andoeska?

C. Tujuan Penelitian

a. Mendeskripsikan awal Baharuddin Andoeska terlibat dalam dunia seni dan budaya.

b. Mendeskripsikan usaha-usaha Baharuddin Andoeska sebagai seorang budayawan, termasuk dalam hal ini menciptakan lagu.

c. Mendeskripsikan pandangan Masyarakat terhadap karya Burhanuddin Andoeska.

Biografi adalah riwayat hidup seseorang. Kata biografi berasal dari kata Bio artinya hidup dan Grafi artinya penulisan, jadi biografi artinya penulisan tentang sesuatu yang hidup atau berupa yang benar–benar terjadi pada seseorang yang hidup pada masa itu.8 Penulisan biografi sebenarnya merupakan suatu sumbangan biografi terhadap bidang sejarah yang populer dan senantiasa sangat menarik serta banyak dibutuhkan untuk perbendaharaan dan sumber pengetahuan mengenai masa lampau.9

Otodidak adalah belajar sendiri.10 Belajar otodidak merupakan belajar tanpa harus ada bantuan dari seorang guru. Banyak orang yang mendapatkan skill mengagumkan hanya dengan cara belajar sendiri. Kemampuan untuk menciptakan lagu yang dimiliki Baharuddin Andoeska adalah kemampuan yang di dapatkan secara otodidak.

Budayawan Minangkabau menurut Budayawan Edi Utama adalah orang yang mengerti dan paham tentang kebudayaan Minangkabau, seorang budayawan bisa mengatasi masalah yang berhubungan

8Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,2003) hal. 204

9 Sartono Kartodirjo, “Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah”, (Jakarta: Gramedia, 1936). Hal. 76

10Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), hal. 77

(6)

dengan kebudayaan di suatu daerah.11 Budayawan ini bisa pula disebut sebagai seorang ahli sastra, ahli seni, ahli budaya, ahli musik dan lainnya.

Musik adalah hasil karya dan budi daya masyarakat dari suatu kebudayaan yang memanfaatkan alam dan lingkungannnya melalui jalur ungkapan nada.12 Menurut Jamalus dalam buku seni musik klasik jilid berpendapat bahwa musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai suatu kesatuan.13

D. Metode Penelitian

Penelitian tentang riwayat hidup Baharuddin Andoeska ini, terutama tentang profesi yang digelutinya sebagai seniman dan budayawan dengan menggunakan metode sejarah lisan. Alasan utama metode ini digunakan mengingat tokoh ini masih hidup, selain itu juga karena keterbatasan tulisan-tulisan yang membahas hubungan keduanya. Metode penelitian yang dipakai adalah metode sejarah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau atau sezaman.14 Tahap penelitian sejarah ada empat, yaitu:

1. Tahap Heuristik

Heuristik yaitu mencari dan mengumpulkan data-data dan sumber.

Metode pengumpulan data dan sumber ini bisa dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan data-data, informasi dan sumber-sumber mengenai Baharuddin

11Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hal.170

12Yusaf Rahman,” Yusaf Rahman Komponis Minang”,(Bandung: Lubuk Agung, 2007) hal. 83

13Moh. Muttaqin dan Kustap,”Seni Musik Klasik Jilid 1” ,(Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,2008) hal.3

14Louis Gottschalk. Mengerti Sejarah, (Jakarta: UI Press,1989) hal. 39

Andoeska baik sumber primer (lisan) termasuk dokumen tentang Baharuddin Andoeska maupun sumber skunder (tulisan), untuk memperoleh sumber-sumber primer didapatkan melalui metode wawancara. Proses wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yakni wawancara berstruktur yaitu dengan mempersiapkan pertanyaan yang sesuai dengan masalah pertanyaan terlebih dahulu, hal ini dilakukan untuk melengkapi data yang dibutuhkan.

Wawancara yang telah dilakukan yaitu dengan Baharuddin Andoeska, Zaiyarni Hamzah(istri Baharuddin Andoeska), Mayang (anak Baharudin Andoeska), Sexri Budiman, Agus Taher, Aulizul Syuib, Kamarus Zaman. Selain itu wawancara yang akan di lakukan dengan salah seorang penyanyi Minang yang pernah di orbitkan oleh Baharuddin Andoeska yaitu Yen Rustam dan orang yang pro dan kontra terhadap Bahararuddin Andoeska serta orang-orang yang dianggap mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan serta yang berhubungan dengan perjalanan hidup Baharuddin Andoeska.

Data primer berupa arsip-arsip mengenai Baharuddin Andoeska, yaitu hasil karya-karya yang beliau miliki, foto, sertifikat, tulisan-tulisan ia dalam surat kabar , akta sanggar barabah yang didirikannya serta hal lain yang berhubungan dengan tulisan penulis. Selain itu untuk memperoleh data sekunder (sumber tulisan) berupa buku-buku dan skripsi guna mendapat referensi yang relevan sebagai bahan rujukan. Data untuk sumber referensi ini di dapatkan dari studi kepustakaan di STKIP PGRI Sumatera Barat, Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP), perpustakaan Universitas Andalas (UNAND).

2. Tahap Kritik Sumber

Kritik sumber yaitu melakukan pengujian data yang ditemukan dengan melakukan pertama yaitu kritik eksternal dilakukan untuk mengetahui keaslian sumber serta lengkap atau tidaknya sumber tersebut. Pada tahapan ini, sumber sumber yang telah di dapat, di uji lebih jauh sehingga sumber dapat dipastikan keaslian sumber. Kedua kritik internal, kritik ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran isi sumber tersebut.

(7)

3. Tahap Interpretasi

Tahap interpretasi ini bertujuan untuk membuat hubungan kausalitas dan merangkai fakta sejarah yang sejenis dan kronologis untuk memperoleh alur cerita yang sistematis melalui penafsiran fakta yang telah diuji kebenarannya, agar dapat diceritakan kembali. Fakta yang telah diperoleh melalui telaah terhadap sumber kemudian disusun dan ditempatkan pada urutan–urutan logis yang disebut sintesis.

Setelah itu dilakukan Interpretasi, yaitu pemahanman terhadap fakta sehingga bisa menunjukkan secara kronologis mengenai peristiwa masa lampau yang saling terkait.Pada tahap ini imajinasi sangat di perlukan untuk menggabungkan fakta yang telah disentesiskan dan kemudian diinterpretasia dalam bentuk kata–kata atau kalimat agar mudah dipahami.

4. Tahap Historiografi

Tahapan akhir dari sebuah penelitian ialah penulisan suatu penelitian tanpa penulisan, kurang memiliki arti sebaliknya suatu penulisan tanpa penelitian, tak lebih dari rekonstruksi tanpa pembuktian. Maka kedua-duanya merupakan hal yang sama pentingnya.15 Tahap akhir penelitian kadangkala disebut juga tahap penulisan atau historiografi.

Historiografi tujuannya adalah merekontruksikan kembali keseluruhan peristiwa masa lampau berdasarkan fakta yang telah didapat dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar komunikatif dan mudah dipahami pembaca.Hasilnya ialah tulisan sejarah yang bersifat deskriptis analitis.16

15Basri, Metodologi Penelitian Sejarah Pendekatan Teori dan Praktik,(

Jakarta: Restu Agung) hal. 82

16Louis Gottschalk. Mengerti Sejarah, (Jakarta: UI Press,1989) hal. 168

PERJALANAN HIDUP BAHARUDDIN ANDOESKA SEBELUM MENJADI SEORANG BUDAYAWAN

A. Kehidupan Masa kecil Bahruddin Andoeska

1. Lingkungan Keluarga

Baharuddin Andoeska yang akrab dipanggil Mak Etek Kombo lahir pada tanggal 11 Februari 1948, dari pasangan Syamsuddin Datuak Mingkudun dan Syaima. Baharuddin Andoeska merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, diantaranya kakak-kakak dari Baharuddin Andoeska yaitu Yuhaida, Khaufun, Syolfani Udin. Baharuddin Andoeska memiliki keterbatasan fisik, hal inilah yang membedakan Baharuddin Andoeska dengan kakak-kakaknya yang lain.17

2. Memasuki Sekolah

Baharuddin Andoeska di sekolahkan di SR 9 ( Sekolah Rakyat) yang sekarang menjadi SD 02 dan 04 Tarandam Padang.18 Baharuddin Andoeska waktu kecilnya adalah seorang anak yang nakal, sehingga ia hanya dapat merasakan duduk dibangku SR 9 tersebut hanya 2 jam saja, hal ini terjadi karena Baharuddin Andoeska berkelahi saat jam istirahat dengan salah seorang teman sekelasnya yang mengakibatkan ia dikeluarkan dari sekolah tersebut. Setelah kejadian tersebut Baharuddin Andoeska dipindahkan kembali ke Koto Anau dan melanjutkan sekolahnya di sana. Di Koto Anau Baharuddin Andoeska di sekolahkan di SR B (Sekolah Rakyat) yang mana sekarang menjadi SD N 01 Koto Anau. Ketika peristiwa PRRI mulai bergejolak seluruh aktivitas ekonomi, pendidikan dan sosial berjalan tidak lancar.

Baharuddin Andoeska yang duduk dibangku kelas tiga terpaksa berhenti bersekolah, karena peristiwa perang itu berimbas pada aktivitas sekolahnya.

17 Wawancara dengan Yusneli Tomik 56 Tahun (Keponakan Baharuddin.

Andoeska) di Koto Anau 04 Desember 2016

18 Wawancara dengan Baharuddin Andoeska 68 Tahun (Seniman) di Sawahan Padang, tanggal 20 Juli 2016

(8)

Setelah peristiwa PRRI usai dan menyatakan kembali ke pangkuan Republik Indonesia pada tahun 1961 Baharuddin Andoeska melanjutkan pendidikannya yang terbengkalai di SR PGAI Jati Padang.

Setelah tamat SD, Baharuddin Andoeska melanjutkan pendidikannya ke PGA 4 tahun dan PGA 6 tahun sebagai calon ustad.

Baharuddin Andoeska menamatkan sekolahnya di PGA Jati Padang pada tahun 1965

3. Merantau ke Jakarta

Setelah menyelesaikan pendidikan Baharuddin Andoeska pun pergi merantau ke Jakarta. Proses merantau ini dilakukannya untuk melanjutkan karirnya sebagai seorang pencipta lagu, hal ini dilakukan karena ia diberi saran oleh salah seorang temannya untuk pergi ke Jakarta, karena jika Baharuddin Andoeska tetap di Padang, ia tidak akan meiliki kemajuan di bidang musik. Selama merantau ke Jakarta, ia banyak menimba ilmu dari Arianto, Komo dan Nazir Basir. Ketika diajarkan menciptakan lagu oleh Arianto Baharuddin Andoeska disuruh untuk menciptakan lagu namun lagu yang diciptakan tersebut berbahasa Minang sehingga ia dinasehati oleh Arianto untuk menciptakan lagu yang berbahasa Indonesia dan hanya diberikan waktu selama setengah jam.19

4. Memasuki Kehidupan Berkeluarga Tanggal 15 Oktober 1988 Baharuddin Andoeska menikah dengan Zaiyarni Hamzah dan memiliki empat orang anak. Anak pertamanya bernama Mayang B.

Andoeska lahir pada tahun 1989, yang kedua Anggun B. Andoeska lahir pada tahun 1991, yang ketiga Jingga B. Andoeska lahir pada tahun 2003, dan keempat Rambun B.

Andoeska lahir tahun 2005, namun dalam memberikan nama anak-anaknya Baharuddin Andoeska memperlihatkan jiwa seni yang dimilikinya.20

19 Wawancara dengan Baharuddin Andoeska 68 Tahun (Seniman) di Sawahan Padang tanggal 20 Juli 2016.

20 Wawancara dengan Zaiyarni Hamzah 45 Tahun (Istri Baharuddin Andoeska) di Sawahan Padang tanggal 20 Juli 2016

B. Latar Belakang Baharuddin Andoeska Tertarik dengan Seni

Jiwa seni yang Baharuddin Andoeska miliki dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, dimana tempat tinggalnya di Jati sering dijadikan tempat latihan band Mutiara Combo. Karena sering melihat band Mutiara Combo latihan Baharuddin Andoeska kecil sangat ingin belajar musik. Ketertarikan Baharuddin Andoeska dalam bidang musik ini lebih mendalam ketika ia mendengar suara Lili Surayani, yaitu artis yang terkenal pada saat itu. Selain itu Lili Suryani juga menciptakan lagu untuknya sendiri, selain itu ia juga seumuran dengan Baharuddin Andoeska.

Hal ini lah yang mendorong keinginan Baharuddin Andoeska untuk lebih mendalam mempelajari dunia musik. Ia pun mencari tahu tentang semua hal yang berkaitan dengan seni musik, seperti mempelajari not-not balok dan lainnya.

EKSISTENSI BAHARUDDIN

ANDOESKA SEBAGAI BUDAYAWAN A. Prestasi-prestasi Baharuddin

Andoeska Dalam Dunia Seni dan Budaya

Prestasi Baharuddin Andoeska yang pernah diperoleh dalam tingkat daerah adalah Juara II Festival Group tingkat Kodya Padang pada tahun 1977 dan 1978.

Selain di tingkat daerah prestasi di tigkat Provinsi juga pernah diperoleh olehnya yaitu juara II dan III (ikut dua grup) festival vocal group tingkat Sumatera Barat, Juara II musikalisasi puisi (Sajak Chairil Anwar:

Sajak Putih) tahun 1978, juara II lomba tari rakyat tingkat Sumatera Barat tahun 1980, juara I lomba lagu Minang tahun 1981, dan juara III festival teater ( Arifin C. Noor:

Mega-mega) sebagai illustrator musik tahun 1982.21 Tingkat Nasional ia juga pernah mendapatkan prestasi yang sangat membanggakan yaitu Juara II tingkat Nasional sayembara menciptakan lagu mars

21 “Daftar Riwayat Hidup”, Arsip Baharuddin Andoeska.

(9)

BAZIS tahun 1994.22 Selain itu Juara II lomba cipta lagu Mars pemuda Indonesia tingkat Nasional yang dilaksanakan oleh MENPORA pada tahun 2006.23

B. Usaha-usaha Baharuddin Andoeska Sebagai Seorang Seniman dan Budayawa

1. Mendirikan Sanggar Barabah Baharuddin Andoeska pada tahun 1984 mendirikan Sanggar Barabah untuk membina dan melatih anak-anak sanggar dalam mengembangkan kemampuannya, baik dalam bidang tari, musik, seni rupa dan drama.24 Prestasi yang masih di ingat oleh Sexri Budiman saat menjadi anggota dalam sanggar barabah yang didirikan oleh Baharuddin Andoeska, yaitu ketika menampilkan operat sebelum maut itu datang ya Allah, dari puisi Hamid Djabar yang dinaskahi dan di aransemen oleh Baharuddin Andoeska. Operat ini telah ditampilkan berkeliling di Sumatera Barat, yang mana pelaksanaannya dibawah pengawasan Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Sumatera Barat dan Kanwil Deppen Provinsi Sumatera Barat. Selain itu sanggar Barabah juga sering mengadakan lomba cipta lagu Minang.

2. Mengajar Anak-anak Sekolah Berlatih Vocal

Baharuddi Andoeska sering mengajar ataupun melatih vocal anak-anak yang ada di sekolah-sekolah. Seperti yang dilakukannya pada tahun 2013 di Batu Sangkar, ia melatih siswa SMP di Batu Sangkar dalam tema (Pembentukan Karakter Generasi Muda).25Selanjutnya pada November tahun 2015 ia juga masuk ke 8 sekolah yang ada di Kecamatan Kuranji

22 Foto piala Juara II Cipta Lagu Mars Pemuda

23 Sertifikat Penghargaan lomba cipta lagu Mars PLN

24Akta sanggar Barabah

25 Wawancara dengan Aulizul Syuib 64 tahun (Mantan wakil Bupati Batu Sangkar) di Dinas Pariwisata Batu Sangkar tanggal 18 Agustus 2016

dengan tema belajar bersama Maestro yang diadakan oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kota Padang.26 Bukan hanya di sekolah umum saja, ia pun ikut berpartisipasi dalam melatih vocal anak pesantren yang ada diluar kota Padang.

Banyak pesantren-pesantren yang pernah membawaBaharuddin Andoeska sebagai pelatih vocal, diantaranya yaitu pesantren Tawalib Gunung Islamic Boarding School,27 Pesantren Pramuka Al-Hira,28Pesantren Aia Angek X Koto, Pesantren Nurul Ikhlas Panyalaian X Koto, Pondok Pesantren Arafah Sungai Penuh.29

3. Menjaga Kualitas Sesuai dengan Ilmu Musik Standard an Formula yang ditemukan sendiri

Kecepatan Baharuddin Andoeska dalam menciptakan lagu tidak diragukan lagi, karena untuk melahirkan sebuah lagu tidak perlu dipancing oleh alat musik apapun bahkan tidak perlu menunggu datangnya inspirasi. Semua kepandaian ini disebabkan karena ia ahli dalam notasi, hal inilah yang membedakan Baharuddin Andoeska dalam menciptakan dan mempertahankan eksistensinya dalam dunia musik. Usaha lain yang dipertahankan oleh Baharuddin Andoeska untuk tetap mempertahankan ilmu yang dimilikinya adalah tetap menjaga kualitasnya dalam bermusik, dan selalu menjaga formula yang ditemukannya dalam bermusik selama ini.

26 Wawancara dengan Baharuddin Andoeska 68 Tahun (Seniman ) di Sawahan Padang tanggal 26 Juli 2016.

27 Piagam penghargaan dari Tawalib Gunung Islamic Boarding School

28 Piagam Penghargaan dari Pesantren Pramuka Al Hira

29Wawancara dengan Baharuddin Andoeska 68 Tahun (Seniman) di Sawahan Padang tanggal 24 Agustus 2016.

(10)

C. Pandangan Masyarakat Mengenai Karya dan Sosok Baharuddin Andoeska

1. Pandangan teman sesama Seniman a. Sexri Budiman

Menurut Sexri Budiman, Baharuddin Andoeska memiliki pengetahuan yang luas tentang seni dan budaya Minangkabau. Ia adalah orang yang memiliki kreatifitas yang tinggi dalam memperke nalkan kebudayaan Minangkabau. Baharuddin Andoeska memiliki gaya yang unik dalam memperkenalkannya, ia lebih banyak memperkenalkan budaya Minang dengan lirik lagu yang telah diciptakannya. Teknik dalam menciptakan lagu Baharuddin Andoeska memiliki teknik yang berbeda dari kebanyakan pencipta. Ia tidak pernah memulai proses penciptaan menggunakan alat musik, Baharuddin Andoeska selalu memulainya dari lirik lagu dan not-not yang telah ia pelajari sejak kecil. Bahkan ia juga tidak membutuhkan suasana khusus dalam mencipta serta tidak peduli dengan kondisi sekitarnya.

b. Agusli Taher

Menurut Agusli Taher, Baharuddin Andoeska memiliki Kemampuan dalam notasi, yang dimiliki secara otodidak, bahkan ia terkenal sebagai seniman otodidak yang luar biasa. Hal ini terbukti dengan kemampuan notasi yang dimilikinya tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami dan menghafalnya. Bahkan hanya dengan sekali mendengar ia bisa mengetahui kesalahan not dalam sebuah lagu yang dibuat oleh seorang pencipta. Begitu hebatnya Baharuddin Andoeska dalam notasi lagu, apabila terjadi pergantian accord (change key), maka accordnya saja yang berubah, sedangkan notasi lagunya tetap.

2. Pandangan Artis yang Diorbitkan a. Yen Rustam

Bagi Yen Rustam Baharuddin Andoeska adalah seniman yang multitalenta dan sangat baik terhadap setiap orang.

Meskipun Baharuddin Andoeska memiliki kesibukannya sendiri ia selalu menyempatkan diri jika seseorang membutuhkan bantuannya. Setiap orang yang meminta bantuan selalu ia terima dengan baik, seperti yang dilakukan terhadap Yen Rustam yang telah dibantu olehnya. Baharuddin Andoeska tidak memandang dengan sebelah mata terhadap orang yang memiliki kemampuan dalam dunia musik. Baginya setiap orang memiliki kemampuan dalam bernyanyi itupun jika ia tekun dan rajin dalam menggali potensinya sendiri. Satu hal yang selalu di ingat oleh Yen Rustam dari Baharuddin Andoeska yaitu percaya diri.

3. Pandangan Masyarakat Terhadap Karya Baharuddin Andoeska

Beberapa masyarakat yang diwawancarai terkait dengan nama Baharuddin Andoeska, memang tidak banyak yang mengetahuinya, kecuali orang yang benar-benar memahami dan terlibat dalam seluk beluk seniman dan budayawan.

Selain itu ia tidak hanya dikenal oleh orang seniman dan budayawan saja, di kalangan pemerintah yang ada di Sumatera Barat sangat mengenal sosok Baharuddin Andoeska ini. Ketika nama Baharuddin Andoeska disebutkan, tidak banyak masyarakat yang tahu, tetapi ketika disebutkan lagu Guguak Manyambah, sayang katokan sayang, rindu katokan rindu, dan kawin Sadarah, barulah mereka mengetahuinya.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

a. Awal keterlibatan Baharuddin Andoeska terlibat dalam dunia seni dan budaya dipengaruhi oleh lngkungan tempat tinggalnya semasa kecil. tempat tinggalnya di Jati sering dijadikan tempat latihan band Mutiara Combo.

Karena sering melihat band Mutiara Combo latihan Baharuddin Andoeska kecil sangat ingin belajar musik. Jiwa seni Baharuddin Andoeska memang sudah terlihat sejak kecil,

(11)

semuanya memang dimulai dari kesukaannya, seperti ia sangat menyukai melukis, dan mendengarkan lagu. Ketertarikan Baharuddin Andoeska dalam bidang musik ini lebih mendalam ketika ia mendengar suara Lili Surayani, yaitu artis yang terkenal pada saat itu. Selain itu Lili Suryani juga menciptakan lagu untuknya sendiri, selain itu ia juga seumuran dengan Baharuddin Andoeska. Hal ini lah yang mendorong keinginan Baharuddin Andoeska untuk lebih mendalam mempelajari dunia musik. Ia pun mencari tahu tentang semua hal yang berkaitan dengan seni musik, seperti mempelajari not-not balok dan lainnya. Lagu pertama yang telah diciptakan oleh Baharuddin Andoeska yaitu “Randang Koto Anau pada tahun 1963.

b. Usaha yang dilakukan Baharuddin Andoeska sebagai seorang budayawan termasuk dalam hal menciptakan lagu yaitu pertama mendirikan sanggar barabah untuk tempat menyalurkan bakat anak- anak dalam dunia seni. Kedua mengajari anak-anak sekolah berlatih vocal serta menjaga kualitas sesuai dengan ilmu Musik Standar dan Formula yang ditemukan sendiri.

c. Pandangan masyarakat terhadap karya Baharuddin Andoeska yaitu, banyak masyarakat yang tidak mengenal Baharuddin Andoeska.

Namun jika ditanyakan mengenai lagu Guguak Manyambah banyak yang mengetahui lagu tersebut.

Karya yang banyak diciptakan oleh Baharuddin Andoeska memiliki cirri khasnya sendiri yang mudah dikenali oleh sesama pencipta lagu, yang mana setiap lagu yang telah ia ciptakan mudah dipahami dan menceritakan tentang alam sekitar.

B. SARAN

Adapun beberapa hal yang dapat disarankan dalam penelitian ini adalah:

1. Semoga dalam penulisan skripsi ini bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi Bapak Baharuddin Andoeska sebagai seorang seniman dan budayawan Minang, yang mana sebagai seorang seniman dan budayawan tentu ada sedikit kelemahan, tetapi kelemahan yang dimilikinya bisa menjadi motivasi untuk kedepannya.

2. Bagi pemarintah terkait untuk lebih memperhatikan seniman dan budayawan Minang yang memiliki keahlian dalam dunia seni dan budaya.

3. Bagi masyarakat pecinta lagu Minang, agar tidak melupakan orang yang memiliki andil besar dalam sebuah karya lagu yang bagus.

DAFTAR PUSTAKA A. Arsip / Dokumen

Daftar riwayat hidup Baharuddin Andoeska Sertifikat Penghargaan Sebagai Pencipta Lagu Mars dan Hymne Tanah Datar Luhak Nan Tigo,Pemerintah Kabupaten Tanah Datar,

Sertifikat Penghargaan ikut Berpartisipasi dalam Lomba Cipta Lagu Mars Listrik “Visi 75-100”, PT PLN (Persero)

Surat/ akta berdirinya Sanggar Barabah B. Buku

Basri. 2006. Metodologi Penelitian Sejarah Pendekatan Teori dan Praktik.

Jakarta: Restu Agung.

Gottschalk, Louis.2006. Mengerti Sejarah .Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Kuntowijoyo.2003. Metodologi Sejarah.

Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Moh.Muttaqin dan Kustap.2008. Seni Musik Klasik Jilid 1. Jakarta:Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Yusaf Rahman. 2007. Minang Yusaf Rahman Komponis. Bandung:Lubuk Agung.

Pendidikan Islam).Jakarta: PT Rineka Cipta.

Undri dan Abrar Haris. 2013. Hardian Radjab dan Karyanya. Padang: C.V Faura Abadi

Referensi

Dokumen terkait

Program Keluarga Harapan adalah suatu program penanggulangan kemiskinan yang memberikan bantuan tunai kepada Keluarga Sangat Miskin (KSM), yaitu program pemerintah