• Tidak ada hasil yang ditemukan

KHITOBAH kaarangan arzaqi

N/A
N/A
Muhammad Arzaqi

Academic year: 2025

Membagikan "KHITOBAH kaarangan arzaqi"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM-SISTEM KHITOBAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Public Speaking Dosen Pengampu : M. Mahfudin, M.Ag.

Disusun Oleh :

Boyband Ilha 22 (Lanange Jagad)

KELAS A

PROGRAM STUDI ILMU HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI K.H ABDURRAHMAN WAHID PEKALONGAN 2024

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Khitobah merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sangat penting dalam konteks dakwah Islam. Dalam pengertian yang lebih luas, khitobah tidak hanya terbatas pada khutbah yang disampaikan di masjid, tetapi juga mencakup berbagai bentuk pidato, ceramah, dan penyampaian pesan keagamaan lainnya. Dalam makalah ini, kita akan membahas secara mendalam tentang sistem-sistem khitobah, termasuk pengertian, jenis-jenis, teknik penyampaian, serta peranannya dalam masyarakat.

(3)

PEMBAHASAN

A. Pengertian Khitobah

Khitobah itu sendiri secara leksikal berasal dari akar kata, khataba, yakhtubu, khutbatanatau khitobatan yang berati; berkhutbah, berpidato, meminang, melamar, bercakap-cakap, atau mengirim surat. Khitobah adalah ceramah atau pidato yang disampaikan oleh mubaligh kepada jamaah (mad’u) untuk menyampaikan ajaran- ajaran Islam melalui media lisan baik berupa ibadah mahdhoh ataupun yang tidak terkait dengan ibadah mahdhoh.1

Khitobah atau pidato adalah suatu ucapan dengan memperhatikan susunan kata yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pidato didefinisikan sebagai:

a. Pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak.

b. Wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengarkan

pidato tersebut.

Jadi teknik khitobah adalah cara menyampaikan pesan dakwah dalam bentuk pidato yang bertujuan untuk memberikan kesan yang positif bagi pendengar.

B. Teknik Khitobah

Menurut para ahli, pengertian “Teknik” diartikan sebagai berikut : Menurut Ludwig Von Bartalanfy, teknik merupakan seperangkat unsur yang saling terkait dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan. Menurut Anatol Raporot, teknik adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.

Menurut Wina Sanjaya teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode.2 Adapun teknik-teknik yang ada dalam berkhitobah yaitu:

a. Memberi Tekanan Dalam Pembicaraan dan Bersemangat

Semua gerakan mata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, suara-haruslahditujukkan dengan penuh semangat kepada audiens. berbicara dengan penuh energi, bergairah dan tidakragu. Kebanyakan orang memangtidakmelakukannya, tetapi beberapa

1 Erin Derostiani Hermawan, Siti Sumijaty, Aang Ridwan, Khitobah Walimah Sebagai Model Tabligh, ( Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume 3, Nomor 4, 2018)

2 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana 2006), hal. 125

(4)

diantaranya bergumam dalam percakapan, atau berbicara dengan ucapanyang tidak jelas. Cara berbicara yang tepat adalah dengan suara yang bulat dan penekanan yang baik. Jangan berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Juga jangan berbicara dengan suara yang lemaha tau dengan suara yang terlalu kuat. Latihan yangterbaik untuk memperbaiki suara adalah melalui percakapan atau membaca tajuk surat kabar dengan suara yang cukup keras.

Jadi sangatlah penting untuk menyelaraskan intonasisuara dengan pesan yang hendak sampaikan supaya audiens juga tidak sampai mensalahartikan pesan yang hendak kita sampaikan. Apabila di dalam penyampaian dakwah, seorang da’i tidak memberikan warna dan penyajian, maka isi ceramah yangdi sampaikan akan menjadi kurang menarik dan bahkan tidak menarik sama sekali.Oleh karena itu memberikan warna penekanan di setiap kalimat-kalimat yang penting sesuai dengan apa yang akan disampaikan dan efek yang diharapkan, dijiwai dengan kehidupan, dan kwalitas pribadi seorang da’I yang bisa memberikan dayatarik bagi audiens.3

b. Menjaga Ketepatan Berbicara. Kejernihan dan Volume Suara

Ucapkan kata-kata dengan jelas dan bicara dengan suara yang cukup kuat agar semua pendengar dapat mendengar suara dengan jelas. Bicara secara tepat tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat memudahkan pendengar untuk menerima ide harus terdengar mengasyikkan seperti halnya seseorang berbicarakepada sahabatnya. Banyak pembicara di depan umum pada mulanya berbicara tersendat-sendat. Beberapa orang bahkan mempunyai kebiasaan untuk berpikir sejenak dengan diselingi bunyi sisipan

seperti ”Eehhmmm ... ", atau ”e -e e = e e-", atau ”eeehhh" atau ”anuuuu.… Betapa pun sempurnanya pembicaraan, namun bila tidak terdengar jelas tentunya merupakan k egagalan total.

c. Mengatasi Kegugupan dan Demam Panggung

3 Nurlahani Siregar, “Retorika Syekh Abdul Efendi Ritonga Dalam Ceramah,” Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Dan Ilmu Komunikasi 2 (2019): 52, https://doi.org/10.15548/al-hikmah.v0i0.521.

(5)

Bagi seorang yang ingin berhasil sebagai pembicara yang baik di depan umum, yang penting adalah kegagalan yang pertama janganlah dianggap sebagai sesuatu yan gtelah berakhir. Setiap pemula harus mencamkan bahwa ia dapat belajar untuk  berbic ara di depan umum lebih baik daripada yang sekarang ia dapat lakukan. Boleh jadi, jika ia mempunyai tekad dan semangat yang bulat pada akhirnya ia akan dapat berbicara dengan sangat baik. Mereka harus percaya pada diri sendiri, b ukannya merasa bimbang atau ragu.4Jangan takut bila akan menghadapi pendengar.

Pandanglah mereka sebagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sebagai pembicara. Bangunlah sikap positif mengenai diri sendiri, pembicaraan dan pendengar.

Jadi, harus percayadiri (seIf-confedence). Berdirilah dengan tegak dan rasa enak, tenang, dan selalu perhatian kepada pendengar.

d. Memperbanyak Perbendaharaan Kata-Kata

Soedjito dalam Tarigan memaparkan bahwa kosakata merupakan: (1) semua kata yang terdapat dalam satu bahasa; (2) kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara; (3) kata yang dipakai dalam satu bidang ilmu pengetahuan;dan (4) daftar

kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan secara singkat dan praktis.5 Kosakata ini memiliki peranan yang sangat penting dalam pengajaran bahasa, sebab penguasaan kosa kata sangat berpengaruh terhadap keteram

pilan berbahasa. Semakin banyak kosa kata yang dimiliki, semakin terampil

seorang dalam berbahasa.6 Di samping itu, kemampuan berpikir juga akan mudah berkembang dengan ilustrasi yang menyegarkan. Isi pembicaraan bertambah variatif sehingga tidak membosankan. Membaca buku-buku, surat kabar, majalah dan

4 M. S. Hidajat, “ Public Speaking dan Teknik Presentasi”(Yogyakarta: GrahaIlmu, 2006), h. 95

5 Tarigan, H.G.“MenulisSebagaiSuatuKeterampilanBerbahasa”,(Bandung: Angkasa,1994) h.447

6NurliyaFebrisma, “Upaya Meningkatkan Kosa Kata Melalui Metode Bermain Peran Pada Anak TunagrahitaRingan”,Jurnalilmiah Pendidikan Khusus, Vol.1, No. 2, 2013, h. 112

(6)

sering mengikuti diskusi atau seminar akan sangat memperbanyak perbendaharaan kata.

C. Macam-Macam Teknik Khitobah

Menurut Suyono dalam situsnya https://pidato.wordpress.com/metode-pidato/, ada empat (4) buah metode dalam berpidato yang sering digunakan, yaitu :

a. Impromptu (spontan)

Metode pidato impromptu adalah membawakan pidato tanpa persiapan yang hanya mengandalakan pengalaman dan wawasan. Dalam metode ini, pembicara menggunakan cara spontanitas (improvisasi). Biasanya, metode ini digunakan untuk pidato yang sifatnya mendadak dan disajikan menurut kebutuhan saat itu. Kelebihan metode impromptu adalah bahasa yang digunakan singkat, sehingga tidak membosankan dan pembicara bebas dalam memilih topik bahasan tetapi tepat sesuai acara. Sedangkan kelemahan metode impromptu adalah terkadang meteri yang disampaikan tidak secara urut / sistematis dan kemungkinan ada hal-hal yang terlupa karena sifatnya mendadak tanpa persiapan.

b. Ekstemporan (penjabaran kerangka)

Metode pidato ekstemporan merupakan teknik berpidato dengan menjabarkan materi yang terpola. Maksud terpola yaitu materi yang akan disampaikan harus dipersiapkan garis besarnya dengan menuliskan hal-hal yang di anggap penting.

Kelebihan metode ekstemporan yaitu materi yang di sampaikan dapat di ungkapkan secara terurut dan sistematis. Sedangkan kelemahan metode ekstemporan adalah terlihat seakan-akan kurang siap karena perlu menunduk untuk melihat catatan.

c. Naskah

Metode pidato naskah adalah berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya. Metode ini biasanya digunakan dalam pidato resmi dimana pembicara selalu membaca naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Cara demikian dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan, karena setiap kata yang diucapkan dalam situasi resmi akan di sebarluaskan dan dijadikan figur masyarakat serta dikutip oleh media massa. Kelebihan metode naskah yaitu pidato terencana dengan baik, lengkap dan sistematis. Sedangkan kelemahan metode naskah adalah membosankan, interaksi dengan pendengar kurang dan terlihat kaku karena mata pembicara selalu melihat naskah.

d. Menghafal (tanpa teks)

(7)

Metode pidato menghafal yaitu menghafal suatu rencana pidato yang telah dibuat sebelumnya. Kelebihan metode menghafal adalah melatih daya ingat dan tersusun sistematis. Sedangkan kelemahan metode menghafal adalah bila terjadi lupa akan mempengaruhi isi pidato dan mungkin akan menggangu konsentrasi pendengar.

D. Jenis-Jenis Khitobah

Khitobah dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan konteks dan tujuan penyampaiannya. Berikut adalah beberapa jenis khitobah yang umum dikenal:7 a. Khitobah Diniyah

Merupakan khitobah yang terkait langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah (ibadah yang memiliki ketentuan syari’ah tertentu), seperti khutbah Jum’at, khutbah Idul Fitri, dan khutbah saat wuquf di Arafah. Khitobah ini memiliki keterikatan yang sangat ketat dengan aturan syari’ah dan menjadi prasyarat sahnya ibadah tersebut.

b. Khitobah Ta’tsiriyyah

Berfungsi sebagai khitobah yang tidak terikat langsung pada ibadah mahdhah tetapi tetap bertujuan untuk membangun syiar agama dalam berbagai dimensi kehidupan umat. Khitobah ini lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya masyarakat.

c. Khitobah Waqi’iyyah

Merupakan khitobah yang disampaikan berdasarkan kondisi aktual di masyarakat. Khatib menyampaikan materi yang relevan dengan isu-isu terkini yang dihadapi oleh umat Islam

d. Khitobah Walimah

Khitobah ini biasanya dilakukan dalam acara-acara pernikahan atau walimah (resepsi). Materi yang disampaikan biasanya berkaitan dengan nilai-nilai pernikahan dalam Islam

e. Khitobah Munadzomah

Merupakan jenis khitobah yang terstruktur dan terorganisir dengan baik, sering kali dilakukan dalam forum-forum resmi atau acara-acara besar 

E. Menentukan Topik yang Baik

Jika teknik khitobah sudah dikuasi, tetapi tidak pintar dalam memilih topik yang sesuai dengan pendengar juga kurang menarik perhatian. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memilih topik khitobah:

7 Aang Ridwan. "Ragam Khitobah Ta’tsiriyah; Sebuah Telaah Ontologis." Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 5 No. 17 Januari-Juni 2011

(8)

1. Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan pendakwah

Pendakwah harus menguasai topik yang disampaikan dan harus lebih tau serta ahli dibandingkan pendengar. Jika pendakwah telah menguasai topik tatacara sholat sesuai anjuran Nabi Muhammad Saw, maka berceramahlah dengan topik tersebut. Sebaliknya, jika pendakwah kurang menguasai topik tersebut, hendaklah mengganti topik yang akan disampaikan.

2. Topik harus menarik minat pendengar

Dalam kegiatan khitobah atau berdakwah, kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Jika ingin didengarkan oleh pendengar, sebaiknya menyampaikan topik yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat atau yang lebih diminati berdasarkan kehidupan masyarakat tersebut.

3. Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar

Betapapun baik topik yang disampaikan, jika tidak dicerna oleh khalayak maka bukan hanya tidak tertarik, tetapi bisa saja membingungkan khalayak dalam menerima topik yang disampaikan. Gunakanlah bahasa, gaya bahasa, dan istilah- istilah yang dimengerti oleh hadirin, bukan hanya menggunakan istilah yanng hanya dipahami oleh dirinya sendiri.

4. Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya

Topik yang dianggap baik tidak boleh terlalu luas cakupannya. Misalnya pendakwah mengerti dan menyampaikan khitobah agama, sedangkan topik agama itu sangat luas cakupannya. Bisa menyangkut moralitas, sistem kepercayaan, cara beribadah sebagai bentuk penghambaan. Jadi, lebih baik mengambil topik agama satu misalnya tentang tatacara sholat.

5. Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi

Khitobah disampaikan sesuai dengan waktu dan situasi yang sedang terjadi pada saat itu. Pemanfaatan waktu sesuai dengan yang diberikan. Misalkan diberikan waktu 30 menit untuk menyampaikan materinya, pergunakanlah sebaik- baiknya waktu yang diberikan. Dan lihat situasi siapa saja yang menjadi audiensnya, apakah dari kalangan santriwan-santriwati atau masyarakat umum.8

F. Prinsip-Prinsip Komposisi Pidato

Ada tiga prinsip dasar cara penyusunan pesan pidato:

8 Ahmad Zaini. Dakwah Melalui Mimbar dan Khitabah. (At-Tabsyir: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam) Jurnal diakses pada 20 November 2024. hl. 80-81.

(9)

1. Unity (kesatuan)

Komposisi yang baik harus merupakan kesatuan yang utuh, yang meliputi:

a. Isi, dalam isi harus ada gagasan tunggal yang mendominasi seluruh uraian, yang menentukan dalam pemilihan bahan-bahan penunjang.

b. Tujuan, komposisi harus mempunyai satu macam tujuan (menghibur, memberitahukan, dan mempengaruhi)

c. Sifat (mood), kesatuan dalam sifat pembicaraan (serius, formal, informal, anggun, atau bermain-main).

2. Coherence (pertautan)

Pertautan menunjukan urutan bagian uraian yang berkaitan satu sama lain.

Ialah: ungkapan penyambung (connective pharase) yaitu sebuah kata atau lebih yang digunakan untuk merangkaikan bagian-bagian. Paralelisme yaitu mensejajarkan struktur kalimat yang sejenis dengan ungkapan yang sama untuk setiap pokok pembicaraan. Dan gema (echo) adalah kata atau gagasan dalam kalimat terdahulu diulang kembali pada kalimat baru yang bisa berupa sinonim, perulangan kata, kata ganti, atau istilah lain yang menggantikan kata-kata yang terdahulu.

3. Empashis (titik berat)

Titik berat menunjukan pada bagian-bagian penting yang patut diperhatikan yang dalam tulisan, dapat dinyatakan dengan: tanda garis bawah, hurup miring atau hurup besar. Dan dalam lisan dengan: hentian, tekanan suara yang dinaikan, perubahan nada, isyarat, dan sebagainya.

(10)

PENUTUP Kesimpulan

Khitobah merupakan bentuk komunikasi yang esensial dalam dakwah Islam, mencakup berbagai jenis pidato dan ceramah yang bertujuan menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat. Dalam makalah ini, telah dibahas pengertian khitobah, teknik penyampaian, serta berbagai jenis dan metode yang dapat digunakan untuk berpidato dengan efektif. Pentingnya memilih topik yang tepat, serta menerapkan prinsip-prinsip komposisi pidato, dapat meningkatkan daya tarik dan pemahaman audiens. Dengan penguasaan teknik berbicara yang baik, seperti menjaga kejernihan suara, mengatasi kegugupan, dan memperbanyak kosakata, seorang da’i dapat menyampaikan pesan dakwah secara lebih efektif. Secara keseluruhan, khitobah tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai alat untuk mempengaruhi dan membangun kesadaran masyarakat akan nilai-nilai Islam.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Febrisma, N. (2013). Upaya meningkatkan kosakata melalui metode bermain peran pada anak tunagrahita ringan (PTK kelas DV di SLB Kartini Batam). E-JUPEKhu (Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus)1, 2-120.

Hermawan, E. D., Sumijaty, S., & Ridwan, A. (2018). Khitobah walimah sebagai model tabligh. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam3(4).

Hidajat, M. S. (2006). Public speaking dan Teknik presentasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ridwan, A. (2011). Ragam Khitobah Ta’tsiriyah: Sebuah Tela’ah Ontologis. Ilmu Dakwah:

Academic Journal for Homiletic Studies5(17), 197-232.

Sanjaya, D. H. W. (2006). Strategi pembelajaran berorentasi standar proses pendidikan.

Siregar, N. (2019). Retorika Syekh Abdul Efendi Ritonga dalam Ceramah. Al-Hikmah: Jurnal Dakwah dan Ilmu Komunikasi2(1), 38-61.

Tarigan, H. G. (1986). Menulis: sebagai suatu keterampilan berbahasa.

Zaini, A. (2013). Dakwah melalui mimbar dan khitabah. vol1, 18.

Referensi

Dokumen terkait

Standar Kompetensi : Mampu menyimak, memahami, dan menanggapi berbagai wacana lisan yang berupa pidato dan siaran radio atau

Tawaf wada’ merupakan tugas akhir yang harus dilakukan para jamaah di dalam pelaksanaan ibadah haji maupun umroh, bagi jamaah yang belum melakukan tawaf ini, maka belum

Dari seorang mubaligh atau subjek dakwah menyampaikan suatu pesan yang berisi ajaran Islam dengan menggunakan suatu cara atau metode tertentu untuk mempermudah proses

1) Lisan : Dakwah melalui lisan merupakan dakwah secara langsung dimana da’i menyampaikan dakwah kepada mad’u. misalnya dakwah dengan ceramah atau diskusi. 2) Tulisan :

Disajikan video inspiratif peserta didik dapat menyampaikan teks ceramah yang dibuat dalam bentuk lisan dengan memerhatikan teknik ceramah (intonasi, ekspresi, dan

beliau ketika ceramah menggunakan bahasa Banjar dalam menyampaikan pesan dan nasehat kepada jamaah dengan bahasa lokal yang mudah di pahami terutama di Kecamatan Batu

menyampaikan pidato, ceramah, khutbah, dan dialog, dan atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat dan dokumen tertulis lainya, yang dilihat atau di

Di samping nilai-nilai multikulturalisme, ceramah di berbagai jamaah pengajian juga menyampaikan nilai-nilai anti-multikulturalisme, semacam klaim kebenaran (hanya Islam yang