• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Guru

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Kinerja Guru "

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

KERJA TERHADAP KINERJA GURU SD NEGERI DI KECAMATAN KOTO XI TARUSAN

Oleh : DESWATI ILYAS

NIM. 51352

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan gelar Magister Pendidikan

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011

(2)

KERJA TERHADAP KINERJA GURU SD NEGERI DI KECAMATAN KOTO XI TARUSAN

Oleh : DESWATI ILYAS

NIM. 51352

PEMBIMBING I PEMBIMBING II

Prof. Dr. H, SUFYARMA MARSIDIN Prof. Dr. Kasman Rukun. M.Pd

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011

(3)

   

i

Kecamatan Koto XI Tarusan. Thesis. Padang. Graduate Program Padang State University

Based on a pre-observation on the elementary school teachers Kecamatan Koto XI Tarusan, it was found that the teachers performance was not as expected.

It was presumably caused by many factors, such as, the lack of academic supervision and the work discipline. This research was aimed at disclosing the contribution of academic supervision and the work discipline toward the teachers performance. Three hypotheses were proposed to be tested: (a) there is an contribution of academic supervision and the elementary school teachers’

performance. (b) there is a contribution of the work discipline on the elelementary school teachers performance. (c) simultaneously, there is a contribution of the academic supervision and the work discipline on the elementary school teachers performance in Kecamatan Koto XI Tarusan.

The sample of this research were 136 teachers which were randomly selected from a population of 330 elementary teachers. Data were collected by using a questionnaire which has been developed where validity and reliability have been tested. The data were analyzed by correlational and regression teachniques.

Based on the data analysis, it was found that: (1) there is a contribution (13.9%) of academic supervision on the teachers performance. (2) there is an contribution (12.9%) of the work discipline on the teachers performance. (3) simultaneously, there is an contribution (22.3%) of academic supervision and work discipline toward the teachers performance. The conclusion of this research is that the teachers’ performance can be enhanced through academic supervision and the work discipline beside some other factors which did not include in this study. This research implies that a series of activity should be developed to improve the teachers’performance through improving the academic supervision and the work discipline in order to improve the elementary school teachers performance in Kecamatan Koto XI Tarusan. It was also can be suggested that further research will be conducted to find other factors which contribute on the teachers performance.

(4)

   

ii

Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang

Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini terlihat bahwa ada sebagian guru belum menggunakan perangkat mengajar yang baik dalam proses belajar mengajar, masih ada sebagian guru yang kurang disiplin dalam proses belajar mengajar sehingga berdampak negatif terhadap menurunya produktifitas atau kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Kontribusi supervisi akademik oleh pengawas terhadap kinerja guru SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, mendeskripsikan Kontribusi disiplin kerja terhadap kinerja guru SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, mendeskripiskan Kontribusi supervisi akademik oleh pengawas dan Disiplin Kerja secara bersama-sama berkontribusi terhadap kinerja guru SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Hipotesis dalam penelitian ini adalah supervisi akademik oleh pengawsas berkontribusi terhadap kinerja guru, disiplin kerja berkontribusi terhadap kinerja guru dan supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja secara bersama-sama berkontribusi terhadap kinerja guru.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metoda kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi penelitian adalah 330 orang guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan.

Sampel 136 orang guru yang terpilih melalui teknik stratified proportional random sampling. Penelitian analisis model skala Likert yang telah diuji validitas dan realibilitasnya. Data ini dianalisis secara statistik menggunakan teknik korelasi dan regresi menggunakan program SPSS Versi 17

Hasil analisis data menunjukan bahwa (1) supervisi akademik oleh pengawas berkontribusi terhadap kinerja guru besar 13,9% (2) disiplin kerja berkotribusi terhadap kinerja guru sebesar 12,9%, (3) supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja secara bersama-sama berkontribusi terhadap kinerja guru sebesar 22,3%. Hasil analisis deskriptif mengungkapkan bahwa supervisi akademik oleh pengawas berada pada kategori cukup, sedangkan disiplin kerja dan kinerja guru sama-sama berada pada kategori cukup. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja berkontribusi terhadap kinerja guru.

(5)

   

iii

1. Kaya tulis berjudul “ Kontribusi Supervisi Akademik Oleh Pengawas Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru SD Negeri DI Kecamatan Koto XI Tarusan” ini asli dan belum pernah diajukan untuk mendapat gelar akademik di Universitas Negeri Padang maupun perguruan tinggi lainnya.

2. Karya tulis ini murni gagasan, penilaian dan rumusan saya sendiri, tanpa bantuan tidak sah dari pihak lain , kecuali arahan dari dosen pembimbing.

3. Karya tulis ini tidak terdapat hasil karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali dikutip secara tertulis dengan jelas dan dicantumkan sebagai acuan didalam naskah saya dengan disebutkan nama pengarangnya dan dicantumkan pula pada daftar rujukan.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dari pernyataan ini, saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah saya peroleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma dan ketentuan hukum yang berlaku.

Padang, Agusutus 2011 Saya yang menyatakan

Deswati Ilyas

(6)

   

iv

ungkapan syukur atas berkah, rahmah dan karuniaNya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga Tesis berjudul “Kontribusi Supervisi Akademik Oleh Pengawas Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru SD Negeri DI Kecamatan Koto XI Tarusan” ini dapat diselesaikan sebagaimana adanya.

Tesis ini ditulis untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Magister pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

Penulis menyadari tanpa bantuan moril dan materil dari berbagai pihak penulisan tesis ini tidak akan terwujud. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya, dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Prof. Dr. H, Sufyarma Marsidin, M.Pd sebagai pembimbing I, dan Prof. Dr.

Kasman Rukun, M.Pd. sebagai pembimbing II, yang telah ikhlas membimbing dan memberikan sumbangan pemikiran, pengetahuan, saran, kritikan, dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.

2. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. Ed.D, Dr. Yahya, M. Pd, dan Prof. Dr. Eddy Marheni, M.Pd, sebagai kontributor yang telah memberikan sumbangan, kritik, ide dan saran demi sempurnanya penelitian ini

3. Pimpinan program Pascasarjana Universitas Negeri Padang yang telah memberikan kemudahan dan fasilitas selama penyelesaian penelitian ini..

4. Para Dosen Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang yang telah membimbing penulis selama masa perkuliahan serta segenap karyawan

(7)

   

v

5. Kepala Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah dan Guru-guru SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan atas izin dan keikutsertaannya dalam penelitian ini.

6. Rekan-rekan mahasiswa program Pascasarjana Universitas Negeri Padang yang telah banyak membantu menyelesaikan penelitian ini.

Tiada harapan penulis, kecuali Allah SWT membalasi semua bantuan, dorongan, dan kemudahan yang telah diberikan sebagai suatu amal dan ilmu yang bermanfaat yang bernilai ibadah dengan pahala yang setimpal. Amin Ya Rabbal Allamin.

Penulis

Deswati Ilyas

(8)

vi

ABSTRAK ... ii

SURAT PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan masalah... 13

D. Rumusan Masalah ... 13

E. Tujuan Penelitian ... 14

F. Kegunaan Penelitian ... 14

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 16

1. Kinerja Guru ... 16

2. Supervisi Akademik oleh Pengawas ... 25

3. Disiplin Kerja ... 38

4. Kontribusi Supervisi Akademik Oleh pengawas dan Disiplin kerja guru dengan kinerja guru ... 45

B. Kerangka Pemikiran ... 46

C. Hipotesis ... 49

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 50

B. Populasi dan Sampel ... 50

(9)

vii

F. Pengumpulan Data ... 62

G. Teknik Analisis Data ... 63

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 66

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 73

C. Pengujian Hipotesis ... 77

D. Pembahasan ... 86

E. Keterbatasan Penelitian ... 93

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan ... 94

B. Implikasi Hasil Penelitian ... 95

C. Saran ... 97

DAFTAR RUJUKAN LAMPIRAN

(10)

viii

Populasi Kecamatan Koto XI Tarusan ... 51

2. Penyebaran Sampel Penelitian Pada SD Kecamatan Koto XI Tarusan ... 55

3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 59

4. Kisi-kisi Instrumen Setelah Uji Coba ... 61

5. Rangkuman Hasil Analisis Keandalan Instrumen ... 62

6. Distribusi Frekuensi Skor Kinerja Guru (Y) ... 66

7. Tingkat Pencapaian Respon Setiap Indikator Kinerja Guru ... 67

8. Distribusi Frekuensi Skor Supervisi Akademik Oleh Pengawas (X1) ... 69

9. Tingkat Pencapaian Respon setiap Indikator Supervisi Akademik Oleh Pengawas ... 70

10. Distribusi Frekuensi Skor Disiplin Kerja Guru (X2) ... 71

11. Tingkat Pencapaian Respon setiap Indikator Disiplin Kerja ... 72

12. Hasil Uji Normalitas Variabel X1, X2, dan Y dengan tes Kolmogrov Smirnov ... 73

13. Homogenitas Variabel Supervisi Akademik oleh Pengawas (X1), disiplin Kerja (X2) dan Kinerja Guru (Y) ... 74

14. Hasil Uji Linearitas Variabel X1 terhadap Variabel Y ... 75

15. Hasil Uji Linearitas Variabel X2 terhadap Variabel Y ... 76

16. Hasil Analisis Independensi Variabel X1 dan X2... 76

17. Rangkuman Hasil Analisis Korelasi Supervisi Akademik Oleh Pengawas (X1) terhadap Kinerja Guru (Y) ... 77

18. Rangkuman Hasil Analisis Uji Keberartian Persamaan Regresi X1, terhadap Kinerja Guru (Y) ... 78

19. Pengujian Keberartian Koofesien Regresi X1 terhadap Y ... 78

20. Rangkuman Hasil Analisis Korelasi Variabel Disiplin Kerja (X1) terhadap Variabel Kinerja Guru (Y) ... 80

21. Rangkuman Hasil Analisis Uji Keberartian Persamaan Regresi X2 terhadap Kinerja Guru ... 81

(11)

ix

24. Rangkuman Hasil Analisis Uji Coba Keberartian Persamaan Regresi Supervisi Akademik oleh Pengawas (X1) dan Disiplin Kerja (X2) terhadap Kinerja Guru (Y) ... 83 25. Komposisi Kontribusi Variabel Bebas (X1) dan (X2) Terhadap Variabel y .. 84 26. Rangkuman Analisis Korelasi Parsial ... 85

(12)

x

2. Histogram Kinerja Guru ... 67

3. Supervisi Akademik Oleh Pengawas ... 69

4. Histogram Disiplin Kerja Guru ... 71

5. Garis Regresi Linear Supervisi Akademik Oleh Pengawas ... 79

6. Garis Regresi Linear Disiplin Kerja Guru ... 81

(13)

xi

2. Tabulasi Uji Coba Instrumen ... 114

3. Out Put Uji Coba Instrumen Penelitian ... 117

4. Kuisioner Penelitian ... 127

5. Tabulasi Instrumen ... 139

6. Out Put Deskripsi Data ... 151

7. Out Put Persyaratan Analisis ... 157

8. Out Put Uji Hipotesis ... 162

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah sebagai pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta didik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana, untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya sendiri, masyarakat, Bangsa dan Negara.

Dalam pasal 39 (1) dan (2) dinyatakan bahwa pelaksanaan fungsi dan tugasnya guru sebagai profesi menyandang persyaratan tertentu sebagaimana tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

dinyatakan bahwa: Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.

Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab diatas, seorang guru dituntut memiliki beberapa ke32mampuan dan keterampilan tertentu.

1

(15)

Kemampuan dan ketrampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik. Kompetensi guru terdiri dari (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi pedagogik, (4) kompetensi sosial.

Tugas guru ini erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk meningkatkan mutu guru agar menjadi tenaga profesional. Peningkatan mutu pendidikan dapat berhasil. Sebagaimana dikemukakan oleh Tilaar (1999:104) peningkatan kualitas pendidikan tergantung banyak hal, terutama mutu gurunya dan mutu guru tersebut erat kaitannya dengan kinerja.

Untuk menjadikan guru sebagai tenaga professional maka perlu diadakan pembinaan secara terus menerus dan berkesinambungan, dan menjadikan guru sebagai tenaga profesional perlu diperhatikan, dihargai dan diakui keprofesionalannya. Untuk membuat mereka menjadi professional tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya, baik melalui pemberian penataran, pelatihan maupun memperoleh kesempatan untuk belajar lagi namun perlu juga memperhatikan guru dari segi yang lain seperti meningkatkan disiplin, pemberian bimbingan melalui pengawas dan kepala sekolah, pemberian motivasi, pemberian bimbingan melalui supervisi, pemberian insentif, gaji yang layak dengan keprofesionalnya sehingga memungkinkan guru termotivasi meningkatkan kinerjanya.

(16)

Kinerja guru merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, berdasarkan kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan bekerja tepat waktu (Hasibuan, 2001:94). Kinerja guru akan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreatif dalam melaksanakan pengajaran, dapat bekerjasama dengan semua warga sekolah.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap beberapa orang kepala sekolah di Kecamatan Koto XI Tarusan tanggal 6 Desember 2010 di saat pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) di SDN di SDN 26 Nanggalo, terkesan supervisi yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap guru SDN Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan sudah terlaksana dengan baik seperti pelaksanaan supervisi akademik, supervisi klinis, supervisi administrasi sekolah, supervisi yang dilaksanakan oleh pengawas kesekolah masih ada diantara guru yang masih cemas, keberadaan supervisi dari pengawas cukup disegani oleh guru, masih ada diantara guru yang merasa takut karena sebagian guru masih ada yang belum melengkapi perangkat pembelajaran.

Karena itu kepala sekolah merasa terbantu atas adanya supervisi yang dilaksanakan oleh pengawas diantaranya supervisi akademik. Pengawas ada memberikan bantuan arahan berupa pembinaan kepada guru agar dapat melengkapi perangkat pembelajaran dan alat mengajar yang belum siap dikerjakan. Dilihat dari tenaga pengajar sebagian guru masih ada yang

(17)

menggunakan metode ceramah saja. Sebagian guru terlihat jarang menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang memadai. sebagian besar masih ada guru yang berstatus honorer. Selain itu masih ada guru kurang berpengalaman dalam menyiapkan perangkat mengajar berbasis KTSP, seperti membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menggunakan media pembelajaran karena guru masih kurang mendapatkan pelatihan, untuk meningkatkan kinerja dalam merancang pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP), guru kurang memahami cara pelaksanaan pembelajaran sehingga program pembelajaran, belum terlaksana dengan baik, disinilah peran pengawas dibutuhkan untuk memberikan bimbingan dan arahan dalam merancang dan mendisain media pembelajaran

Dalam hal ini pengawas secara akademik perlu memperhatikan guru pada sekolah yang ada dalam pengawasannya, seperti memberikan pembinaan dan arahan kepada guru dengan kesadaran dari dalam diri agar mau menegakkan, mematuhi peraturan yang berlaku secara rutin melalui pelaksanaan supervisi akademik dan meningkatkan disiplin kerja agar kinerja guru dapat meningkat. Pra survey memperlihatkan masih ada guru yang cenderung menunggu perintah dari kepala sekolah dan pengawas dalam membuat RPP dan media pembelajaran, masih terlihat guru yang kurang kreatif dalam melaksanakan pembelajaran.

Proses Belajar Mengajar (PBM), sebagian guru suka menumpuk pekerjaan yang semestinya dapat diselesaikan di sekolah. Padahal seharusnya

(18)

guru bekerja menurut Job Discription yang telah ditentukan pembagian tugasnya bersama kepala sekolah selaku atasan. Sebelum awal tahun pelajaran, kepala sekolah bersama guru mengadakan rapat rencana kerja semester dan tahunan, pembagian tugas masing-masing guru, agar tercipta rasa tanggung jawab dan kreativitas kearah yang lebih baik dalam menciptakan situasi yang kondusif dalam proses pembelajaran baik guru kelas maupun guru bidang studi.

Hal ini berdampak negatif terhadap menurunnya produktivitas kinerja guru, terkesan guru masih belum terbiasa untuk mematuhi aturan-aturan yang berlaku di sekolah, terlihat guru masih melakukan pelanggaran terhadap peraturan seperti terlambat datang ke sekolah. Namun, guru masih meminta toleransi atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya. Hal ini mengakibatkan lemahnya penegakkan disiplin di sekolah tersebut.

Menurut Bafadal (2003:15) menyatakan bahwa disiplin kerja yang tinggi akan meningkatkan produktifitas kerja seorang pegawai yang memiliki disiplin kerja yang tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa disiplin merupakan suatu sikap yang terwujud dalam bentuk semangat seseorang dalam bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku. Sehubungan dengan kinerja guru ini, perlu dilakukan kajian berdasarkan penelitian tentang kontribusi pelaksanaan supervisi akademis oleh pengawas dan disiplin kerja terhadap kinerja guru Sekolah Dasar di Kecamatan Koto XI Tarusan.

(19)

B. Identifikasi Masalah

Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan beragam tugas di sekolah, sebagai pelaksana kunci dalam pendidikan, guru merupakan faktor yang diperkirakan paling besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan. Menurut Tilaar (1998) pekerjaan guru merupakan pekerjaan profesional, profesi guru adalah profesi kompetitif, artinya profesi guru mempunyai karakteristik profesional. Demikian guru hendaknya memiliki kinerja yang baik sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih maksimal dalam proses pembelajaran.

Menurut Anoraga (1992), yang mempengaruhi kinerja adalah daya tarik pekerjaan, insentif/ gaji, keamanan dan perlindungan kerja, pengetahuan manajemen kelas, lingkungan dan suasana kerja, harapan pengembangan karir, keterlibatan dalam pengembangan organisasi, perhatian dan kepemimpinan atasan. Selanjutnya Keenan (1996) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja adalah, kecakapan, disiplin, standar kerja, manajemen organisasi, dan masalah pribadi. Sedangkan menurut Sentoso (1999) bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja mencakup efektifitas dan efisiensi organisasi, otoritas, tanggungjawab, disiplin, serta inisiatif, kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang berasal dari faktor internal maupun eksternal.

Kontribusi pelaksanaan Supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja terhadap kinerja guru merupakan pembinaan yang dilakukan terhadap guru dalam peningkatan kemampuannya dalam bekerja, adanya kontribusi pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja terhadap kinerja guru. Pengawas sekolah adalah tenaga kependidikan

(20)

profesional yang diangkat dan diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang oleh pemerintah untuk melaksanakan pengawasan akademik dan menajerial.

Pelaksanan supervisi tersebut adalah aspek-aspek supervisi, teknik-teknik supervisi dan proses supervisi. Memberikan motivasi dan cara pelaksanaan disiplin kerja guru meliputi: adanya perencanaan pengajaran, penyajian pelajaran, dan evaluasi hasil belajar siswa terhadap kinerja, sehingga guru dapat meningkatkan aktifitas dan kualitas hasil pembelajaran yang diberikan kepada siswanya, sesuai yang diharapkan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah: 1) Insentif, 2) komitmen, 3) supervisi 4) motivasi, 5) disiplin, 6) iklim kerjasama, 7) kemampuan, 8), Iklim Komunikasi

Gambar I Faktor-Faktor yang mempengaruhi kinerja guru

Gambar di atas menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang diduga ikut berkontribusi terhadap kinerja guru yang masing-masingnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Timpe (1993:66) insentif yang diberikan akan dapat memotivasi seseorang dalam bekerja. Apabila insentif yang diterima seorang

Kinerja Guru

Disiplin

Motivasi Iklim

komunikasi

Komitmen Insentif

Kemampuan

Supervisi

Iklim Kerjasama

(21)

pekerja sesuiai dengan jenis pekerjaan yang diembannya, maka hal ini akan mendorong nya untuk bekerja lebih baik. Begitu juga halnya dengan guru di sekolah. Apabila gaji atau insentif yang diterimanya sesuai dengan beban pekerjaan yang dilakukannya dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, maka hal itu akan mendorongnya untuk bekerja dengan baik. Kalau guru sudah bekerja dengan baik tentu prestasi kerjanya akan mencapai hasil yang diharapkan. Realitanya yang ada memperlihatkan bahwa insentif yang diberikan terhadap guru-guru yang mempunyai kreatifitas masih kurang, baik dari pemerintah maupun dari lingkungan kerja. Faktor ini juga mempengaruhi kinerja guru di SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan. Guru kurang memiliki buku referensi. Inisentif yang diterima tidak mencukupi untuk membeli buku, pada hal guru harus memiliki banyak referensi.

Menurut Piet A Sahertian (1994:44) komitmen merupakan kecenderungan dalam diri seseorang untuk merasa aktif dengan penuh rasa tanggung jawab. Guru yang mempunyai komitmen yang tinggi akan disenangi oleh murid-muridnya dan juga akan berakibat terhadap motivasi belajarnya.

Sebaliknya guru yang tidak mempunyai komitmen, mengaggap mengajar hanya sebagai tugas rutin yang harus dilaksanakan. Seseorang yang memiliki komitmen diyakini akan dapat meningkatkan kinerjanya. Semakin tinggi komitmen seseorang diduga semakin baik pula kinerja yang dilakukan.

Fenomena yang ditemui bahwa guru di SD di Kecamatan Koto XI Tarusan, komitmen guru belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Ini terlihat dari, tidak lengkapnya perangkat pembelajaran yang dimiliki guru. Sebagaian guru

(22)

sering meningalkan siswa di kelas pada saat pembelajaran, sebagian guru sering terlambat datang ke sekolah, sebagian guru tidak tepat waktu masuk dan keluar kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Menurut Made Pidarta (1992:43) supervisi adalah suatu aktivitas pengarahan langsung terhadap aktivitas-aktivitas bawahan. Pengarahan aktivitas dilakukan terhadap proses belajar mengajar supaya proses belajar mengajar berlangsung dengan baik. Supervisi pada hakikatnya adalah suatu proses pembimbingan dari pihak atasan terhadap guru-guru untuk memperbaiki dan mempunyai perubahan dalam situasi pembelajaran, agar para siswa dapat belajar secara efektif dengan prestasi belajar yang semakin meningkat. Apabila supervisi dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan aturan-aturan yang ada, diduga akan meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran. Kenyataan yang dilihat di lapangan guru-guru enggan disupervisi. Guru beranggapan supervisi hanya untuk mencari kesalahan, dalam melaksanakan tugas. Pengawas dalam melaksanakan supervisi diantaranya adanya yang kurang terampil membangun hubungan sosial, iklim sekolah kurang kondusif. Sehingga tidak terjalin hubungan yang harmonis antara guru dengan supervisor. Supervisi akademik pengawas sebaiknya melakukan supervisi akademik oleh pengawas yang efektif ditujukan terutama untuk membantu dan membimbing guru dan membina guru dalam proses pembelajaran serta dapat mengatasi persoalan pendidikan lainnya. Sikap merupakan pola tingkah laku yang dapat mempengaruhi seseorang dalam bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap orang atau objek

(23)

(Mouly,1997:22). Orang yang mempunyai sikap positif terhadap suatu pekerjaan tertentu akan memperoleh hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan orang yang mempunyai sikap negatif terhadap pekerjaan tersebut.

gejala yang ditemui masih kurangnya sikap positif yang dimiliki oleh guru- guru, sering terlihat adanya kecurigaan-kecurigaan diantara sesama guru dan kepala sekolah, hal ini akan mempengaruhi kinerja guru

Motivasi adalah keadaan dalam diri yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.

Motivasi kerja merupakan dorongan yang kuat dari dalam diri seseorang, yang dapat membangkitkan semangat dan gairah untuk berprestasi lebih baik.

Dengan motivasi kerja yang dimiliki oleh guru diharapkan tingkat pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagai pengajar dan pendidik dapat lebih ditingkatkan. Fenomena yang terlihat bahwa banyak dari Guru di Kecamatan Koto XI Tarusan kurangnya motivasi untuk mengembangkan karir untuk berprestasi, guru kurang bersemangat dalam melaksanakan tugas, yang penting baginya semua materi yang sudah diprogramkan selesai diajarkan, tanpa memperhatikan pemahaman dari siswa terlihat dari hasil nilai siswa yang cenderung rendah.

Disiplin kerja adalah suasana kerja yang terjadi dalam suatu organisasi berdasarkan pada sebuah aturan kerja. Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan dituntut untuk memenuhi aturan kerja agar tercipta sebuah disiplin kerja. Tujuan disiplin kerja adalah agar semua aktivitas yang dilakukan dalam organisasi pendidikan dapat berjalan secara continue dan teratur, fenomena

(24)

yang terlihat bahwa guru SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan disiplin kerja guru rendah, guru sering tidak hadir pada saat proses belajar mengajar belangsung, ada sebagian guru yang sering meninggalkan kelas pada saat proses belajar berlangsung hanya memberikan tugas kepada anak, guru tidak tepat waktu dalam proses pembelajaran, pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran tidak tepat waktu atau tidak sesuai dengan waktu yang diajarkan sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak tuntas sesuai dengan program yang dibuat, rencana pelaksanaan pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan jadwal yang telah diajarkan, waktu yang tersedia tidak cukup untuk mengevaluasi dan mengajarkan pelajaran yang lain, sehingga penilaian evaluasi tidak diberikan penilaian.

Iklim kerjasama yang harmonis antara individu sangat berkontribusi terhadap prestasi kerja individu dalam organisasi, begitu juga halnya dengan guru yang melaksanakan tugas di sekolah. Dengan adanya iklim kerjasama yang hormonis dan kondusif akan mempengaruhi perilaku guru dalam melaksnakan tugas dan tanggungjawabnya serta memberikan dorongan kepada guru untuk bekerja lebih baik. Kenyataan di lapangan masih ada terdapat kurangya iklim kerjama antara sesama guru dan antara guru dengan kepala sekolah. Hal ini terlihat dari masih adanya kelompok guru senior dan yunior, kepala sekolah menggangap guru sebagai bawahan bukan sebagai rekan kerja akibatnya antara guru dan kepala sekolah terdapat kesenjangan yang membuat tidak terjalinnya keakraban di antara guru-guru dan kepala sekolah.

(25)

Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental berpikir, menalar, dan memecahkan masalah. Individu dalam sebagian besar pimpinan menempatkan kecerdasan, dan untuk alasan yang tepat, pada nilai yang tinggi individu yang cerdas juga lebih mungkin menjadi pemimpin dalam suatu kelompok. Dalam hal ini jika supervisor mempunyai kemampuan yang baik dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada guru maka kinerja guru dapat ditingkatkan.

Dengan adanya iklim komunikasi yang kondusif guru diberi kesempatan untuk berprestasi dalam pengambilan keputusan, memahami dengan jelas apa yang harus dikerjakan dan apa yang didapatkan dari pekerjaan, baik berupa sanksi atas kesalahan atau berupa pengahargaan atas prestasi, sehingga guru merasa dikut sertakan dan merasa bertanggungjawab terhadap pekerjaannya.

Melihat dari gejala-gejala yang ada dilapangan, maka diduga masalah yang perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan kinerja guru adalah masalah supervisi akademik oleh Pengawas dan disiplin kerja di SD Kecamatan Koto XI Tarusan. Untuk itu perlu adanya kajian mendalam tentang kontribusi supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja terhadap kinerja guru SD Negeri di kecamatan Koto XI Tarusan

(26)

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja guru di SD Negeri di Kecamatan Koto XI Tarusan.

Mengingat keterbatasan peneliti dari segi kemampuan akademik, biaya, waktu dan tenaga, dan banyak fenomena permasalahan, maka penelitian ini dibatasi hanya pada dua faktor yaitu 1) supervisi akadenik oleh pengawas sebagai variabel X1, 2) disiplin kerja sebagai variabel X2.

Penelitian ini akan mengkaji tentang kinerja guru sebagai variabel terikat (Y). Namun penelitian ini hanya membahas tentang kontribusi supervisi oleh pengawas terhadap kinerja guru dan kontribusi disiplin kerja terhadap kinerja guru serta kontribusi supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru di SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan

D. Rumusan Masalah

Ada beberapa hal yang menyebabkan kurang meningkatnya kinerja guru, namun penulis mencoba mengkaji masalah kontribusi pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja terhadap kinerja guru SDN Kecamatan Koto XI Tarusan yang diberikan oleh pengawas akademik (X1) dan disiplin kerja guru (X2) terhadap kinerja guru (Y). Supervisi dalam hal ini adalah tanggapan guru terhadap pelaksanaan pembinaan dan bimbingan yang diberikan oleh pengawas yang nantinya berdampak kepada disiplin kerjas terhadap kinerja guru yaitu kualitas pengajaran dan mendidiknya lebih

(27)

baik. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas berkontribusi terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Koto XI Tarusan?

2. Apakah disiplin kerja berkontribusi terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Koto XI Tarusan?

3. Apakah pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja secara bersama-sama berkontribusi terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Kota XI Tarusan?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis:

1. Kontribusi pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Koto XI Tarusan

2. Kontribusi disiplin kerja terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Koto XI Tarusan

3. Kontribusi pelaksanaan supervisi dan disiplin kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Kota XI Tarusan

F. Kegunaan Penelitian 1. Teoritis

Secara teoritis manfaat penelitian ini berupa pengembangan disiplin ilmu pengetahuan yang relevan dengan penelitian ini juga diharapkan dapat memperkuat teori-teori yang telah banyak dikemukakan oleh para ahli.

(28)

2. Praktis

Secara praktis, penelitian ini berguna untuk : a. Pengawas

Selaku supervisor dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pembimbing dan pembina dalam meningkatkan disiplin dan kinerja guru di sekolah binaanya

b. Kepala Sekolah

Sebagai bahan masukan atau input bagi SD Negeri Kecamatan Koto XI Tarusan, agar mampu mengambil langkah-langkah tepat dalam upaya meningkatkan kinerja guru melalui supervisi akademik oleh pengawas dan disiplin kerja guru

c. Guru

Memberi dorongan para guru untuk meningkatkan kinerjanya melalui supervisi akademik oleh pengawas sehingga nantinya dapat meningkatkan mutu pendidikan.

d. Kepala Dinas Pendidikan

Sebagai bahan masukkan dalam mengambil keputusan dan mengeluarkan kebijakan mengenai peningkatan kedisiplinan dan kinerja guru.

e. Peneliti Selanjutnya

Sebagai masukan atau sumber teori serta memberikan pedoman dalam penelitian yang relevan.

(29)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Kinerja Guru

a. Pengertian Kinerja

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1990:503) kinerja berarti sesuatu yang dicapai, prestasi diperlihatkan atau kemampuan kerja. Menurut Simamora (1997:327) kinerja adalah tingkat pencapaian standar pekerjaan. Sementara Nawawi (1997:235) menegaskan bahwa kinerja yang diistilahkan sebagai karya adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan, baik fisik/material maupun non material.

Menurut Anwar (1986:86) memberikan pengertian kinerja sama dengan performance yang esensinya adalah berapa besar dan berapa jauh tugas-tugas yang telah dijabarkan telah dapat diwujudkan atau dilaksanakan yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab yang menggambarkan pola perilaku sebagai aktualisasi dan kompetensi yang dimiliki. Dalam kajian yang berkenaan dengan profesi guru, Anwar (1986: 22) memberikan pengertian kinerja sebagai seperangkat perilaku nyata yang ditunjukkan oleh seorang guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya. Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar-mengajar dikelas

16

(30)

termasuk persiapannya baik dalam benmtuk program semester maupun persiapan mengajar.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat dan teori kinerja guru di atas, bahwa kinerja guru adalah persiapan, pelaksanaan, dan pencapaian guru dalam melaksanakan interaksi belajar mengajar dikelas.

b. Unsur Kinerja

Menurut Bejo Siswanto (1987:21) kinerja mengandung 3 (tiga) unsur, yaitu: unsur waktu, unsur hasil dan unsur metode yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Unsur waktu, dalam arti hasil-hasil yang dicapai oleh usaha-usaha tertentu, dinilai dalam satu putaran waktu atau sering disebut periode.

Ukuran periode dapat menggunakan satuan jam, hari, bulan maupun tahun.

2) Unsur hasil, dalam arti hasil-hasil tersebut merupakan hasil rata-rata pada akhir periode tersebut. Hal ini tidak berarti mutlak setengah periode harus memberikan hasil setengah dari keseluruhan.

3) Unsur metode, dalam arti seorang pegawai harus menguasai betul dan bersedia mengikuti pedoman yang telah ditentukan, yaitu metode kerja yang efektif dan efisien, ditambahkan pula dalam bekerjanya pegawai tersebut harus bekerja dengan penuh gairah dan tekun serta bukan berarti harus bekerja berlebihan.

(31)

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, baik yang berasal dari dalam diri maupun yang berasal dari luar. Tiffin dan McOrmick (1995: 79) menyatakan ada 3 (tiga) macam faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang yaitu faktor individual, faktor situasional serta faktor fisik dan pekerjaan yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Faktor Individual

Yaitu faktor-faktor yang meliputi sikap, sifat-sifat kepribadian, sifat fisik, keinginan atau motivasinya, umur, jenis kelamin, pendidikan,pengalaman kerja, latar belakang budaya dan variabel- variabel personal lainnya. Faktor-faktor tersebut mempunyai kadar yang berbeda pada masing-masing individu sehingga menghasilkan kinerja berbeda pula.

2) Faktor Situasional

Faktor situasional terdiri dari kondisi sosial dan organisasi meliputi:

kebijaksanaan organisasi, jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan sosial.

3) Faktor Fisik dan Pekerjaan

Meliputi : metode kerja, desain dan kondisi alat-alat kerja, penataan ruang kerja dan lingkungan kerja (seperti penyinaran, kebisingan dan fentilasi). Faktor ini merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi kinerja secara langsung. Kinerja yang maksimal akan dihasilkan dari metode kerja yang tepat, desain yang bagus, ditunjang oleh kondisi

(32)

alat-alat kerja yang memadai, penataan ruang kerja yang kondusif dan lingkungan kerja yang mendukung.

d. Penilaian Kinerja

Tugas manajer (pengawas) terhadap guru salah satunya adalah melakukan penilaian atas kinerjanya. Penilaian ini mutlak dilaksanakan untuk mengetahui kinerja yang telah dicapai oleh guru. Apakah kinerja yang dicapai setiap guru baik, sedang, atau kurang. Penilaian ini penting bagi setiap guru dan berguna bagi sekolah dalam menetapkan kegiatannya.Penilaian kinerja menurut Simamora (1997: 415) adalah alat yang berfae dah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari para karyawan, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan karyawan.

Sejalan dengan pendapat Hasibuan (2000: 87) penilaian prestasi adalah kegiatan manajer untuk mengevaluasi prestasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan selanjutnya. Sehubungan dengan hal di atas maka penilaian kinerja guru berdasarkan Standar Kompetensi Guru.

Menurut Suparlan (2009:37) standar kompetensi guru dapat diartikan sebagai ”suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan”. Lebih lanjut dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai dengan bidang tugas, kualifikasi dan jenjang pendidikan. Berdasarkan pengertian tersebut, standar kompetensi guru

(33)

dibagi dalam tiga komponen yang saling mengait, yakni: 1.) pengelolaan pembelajaran, 2.) pengembangan profesi, dan 3.) penguasaan akademik.

Menurut Undang-undang Guru dan Dosen No 14/ 2005 tentang kompetensi guru yaitu 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi sosial, 4) kompetensi profesional sebagai berikut:

1. Kompetensi Pedagogik

Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar terjadi pada diri siswa sebagai akibat dari kegiatan membelajarkan. Pedagogik berasal dari bahasa yunani yakni paedos yang artinya anak laki-laki, dan agogos yang artinya mengatar, membimbing. Menurut Hoogeveld (dalam Ali Indrus, 2009:31) pedagogik ialah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya. Dengan pengertian itu maka pedagogik adalah sebuah pendekatan pendidikan berdasarkan tinjauan psikologis anak. Berdasarkan pengertian seperti tersebut di atas maka yang dimaksud dengan pedagogik adalah ilmu tentang pendidikan anak yang ruang lingkupnya terbatas pada interaksi edukatif antara pendidik dengan siswa.

2. Kompetensi Kepribadian

Kepribadian sebenarnya adalah satu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara

(34)

berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan. Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Oleh karena itu masalah kepribadian adalah satu hal yang sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan seorang guru dalam pandangan siswa atau masyarakat. Dengan kata lain, baik atau tidaknya citra seorang guru ditentukan oleh kepribadian. Kepribadian dapat menentukan apakah guru menjadi pendidik dan pembina yang baik ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari dean siswa terutama bagi siswa yang masih kecil dan mereka yang mengalami kegoncangan jiwa.

Kepribadian adalah unsur yang menentukan interaksi guru dengan siswa sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupan adalah figur yang paripurna. Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang siswa, karena ia yang memberikan santapan rohani dan pendidikan akhlak, memberikan jalan kebenaran. Maka menghormati guru berarti menghormati siswa, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak bangsa (Ali Idrus:2009:35)

3. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3, ialah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif

(35)

dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, peserta didik dan masyarakat sekitanya

4. Kompetensi Profesional

Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran.

Kompetensi profesional merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang guru. Dalam peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3 yang dimaksud dengan kompetensi profesional ialah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memnuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar Nasional Pendidikan. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kualifikasi kemampuan yang lebih memadai.

Penilaian kinerja menurut Simamora (1997: 415) adalah alat yang berfaedah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari para karyawan, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan karyawan.

Sejalan dengan pendapat Hasibuan (2000: 87) penilaian prestasi adalah kegiatan manajer untuk mengevaluasi prestasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan selanjutnya.

Keempat kompetensi tersebut di atas dapat dijabarkan menjadi 5 (lima) kompetensi dasar, yaitu Penyusunan rencana pembelajaran, Pelaksanaan interaksi belajar- mengajar, Penilaian prestasi belajar peserta didik, Pelaksanaan tindak lanjut, Pelaksanaan remedial dan

(36)

pelaksanaan Pengayaaan. Kelima kompetensi dasar tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Penyusunan rencana pembelajaran

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa:

”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.

Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD.

Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Langkah-langkah minimal dari Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran, Sumber Belajar dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan msing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.

(37)

2. Pelaksanaan interaksi belajar- mengajar

Kegiatan belajar mengajar (KBM) dirancang mengikuti prinsip- prinsip belajar-mengajar. Belajar mengajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, tetapi guru bertangung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

3. Penilaian prestasi belajar peserta didik

Terdapat banyak cara untuk melakukan penilaian terhadap prestasi peserta didik. Beberapa diantaranya ialah dengan memberikan kuisioner atau berupa tugas berstruktur pada siswa. Pemilihan cara penilaian ini bergantung pada situasi dan kondisi yang sesuai menurut guru.

4. Pelaksanaan Remedial

Kegiatan remedial adalah kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran. Sesuai dengan pengertiannya, tujuan kegiatan remedial adalah membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang berlaku.

(38)

5. Pelaksanaan Pengayaan

Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya.

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam pemahaman dan penguasaan konsep materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan peserta didik yang optimal.

Berdasarkan uraian beserta pendapat ahli di atas, dapat diketahui bahwa kinerja guru adalah persiapan, pelaksanaan, dan pencapaian guru dalam melaksanakan interaksi belajar mengajar dikelas. Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah: 1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan interaksi pembelajaran, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan remedial, 5) pelaksanaan pengayaan

2. Supervisi Akademis Oleh Pengawas a. Pengertian Supervisi

Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dalam melakukan pekerjaan secara efektif (Purwanto,2003:32) Menurut Jones dalam Mulyasa (2003:155), supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk

(39)

mengembangkan efektivitas kinerja personalia sekolah yang berhubungan tugas-tugas utama pendidikan.

Menurut Carter (dalam Sahertian 2000:17), supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas- petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran (Sahertian, 2000:17)

Yahya (2010) menyimpulkan bahwa supervisi pengajaran adalah suatu fungsi yang menitikberatkan pada perubahan yang berarti. Hal ini merupakan ketetapan yang memungkinkan pelaksanaan supervisi instruksional sebagai prilaku yang berbeda. Supervisi dilakukan dengan memberikan stimulasi, koordinasi dan bimbingan secara berkesinambungan untuk meningkatkan pertumbuhan jabatan guru secara individual maupun kelompok sehingga ada perubahan secara berarti dari kondisi tertentu kepada kondisi yang lebih baik (to help to chage). Pandangan ini memberikan gambaran bahwa supervisi adalah sebagai bantuan dan bimbingan atau tuntutan ke arah situasi pendidikan yang lebih baik kepada guru-guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya di bidang instruksional sebagai bagian dari peningkatan mutu pembelajaran. Menurut Alfonso (1981:1) menyatakan bahwa:

Moreover, the current specialized form of instructional supervision is more a function of its evolution than its nature or intention.

Once these assertions are accepted as tenable, it is possible to examine instructional supervision as a distint behavior system.

(40)

Bentuk khusus dari supervisi pengajaran (supervise akademik) lebih mutlak berdasarkan pada fungsi evolusinya sendiri yang secara alami atau penuh pengertian dan pemahaman dalam memberikan supervise akademik kepada guru-guru di sekolah

Supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang essensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.

Dari definisi tersebut maka tugas pengawas sebagai supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti, mencari, dan menentukan syarat- syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai.

b. Supervisi Akademik Oleh Pengawas

Glickman (dalam Depdipnas, 2008:15), mendefinisikan “supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran”. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.

Mukhtar dan Iskandar (2009:94) menyatakan bahwa supervisi akademik adalah supervisi yang menitikberatkan pengamatan pada

(41)

masa akademik yang langsung berada pada lingkup kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa ketika sedang dalam proses belajar. Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya

Penilaian Kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi kualitas unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik. Apabila dikatakan bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka dalam pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian unjuk kerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat realita kondisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya: Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?, Apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan murid-murid di dalam kelas?, Aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu

(42)

yang berarti bagi guru dan murid? Apa yang telah dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan akademik? Apa kelebihan dan kekurangan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan bagaimana cara mengembangkannya?

Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian unjuk kerja guru tidak berarti selesailah tugas atau kegiatan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan perancangan dan pelaksanaan pengembangan kemampuannya. Dengan demikian, melalui supervisi akademik guru akan semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa supervisi akademik oleh pengawas merupakan upaya seorang pengawas dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, keterampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

c. Tujuan Supervisi

Menurut Djajadisastra (1993:76) tujuan supervisi bagi guru adalah sebagai berikut :

(43)

1) Memperbaiki tujuan dalam perencanaan mengajar guru

2) Membantu memperbaiki materi atau bahan ajar dan kegiatan pembelajaran

3) Membantu menemukan metode serta cara mengorganisasikan kegiatan pembelajaran

4) Membantu memperbaiki penggunaan media pembelajaran 5) Membantu memperbaiki pelaksanaan penilaian proses dan hasil

pembelajaran

6) Membantu membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar

7) Membantu memperbaiki guru dalam melaksanakan tugas

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa tujuan supervisi secara umum adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan proses dan hasil pembelajaran melalui pemberian bantuan terutama dalam bentuk corak layanan profesional kepada guru. Supervisi juga memiliki peranan yang strategis dalam membantu memperbaiki proses pembelajaran dengan sasaran pembinaan pada guru sebagai kontribusi bagi pencapaian tujuan pendidikan.

d. Karakteristik supervisi

Menurut Mulyasa (2004:112) Salah satu supervisi akademik yang populer adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

(44)

1) Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan.

2) Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan.

3) Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala Sekolah.

4) Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru.

5) Supervisi dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka, dan supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru daripada memberi saran dan pengarahan.

6) Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan, dan umpan balik.

7) Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan.

8) Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa karakteristik supervisi akademik oleh pengawas dengan tujuan untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada guru dalam melaksanakan tugas dan memberikan supervisi yang terbuka secara tatap muka dan mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru, dan supervisi

(45)

dilakukan secara berkelanjutan sehingga kinerja guru dapat berjalan dengan baik.

e. Faktor yang Mempengarui Keberhasilan Supervisi

Menurut Purwanto (2004:118) ada beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi atau cepat-lambatnya hasil supervisi antara lain:

1) Lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada. Apakah sekolah itu di kota besar, di kota kecil, atau pelosok. Dilingkungan masyarakat orang-orang kaya atau dilingkungan orang-orang yang pada umumnya kurang mampu. Dilingkungan masyarakat intelek, pedagang, atau petani dan lain-lain.

2) Besar-kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Apakah sekolah itu merupakan kompleks sekolah yang besar, banyak jumlah guru dan muridnya, memiliki halaman dan tanah yang luas, atau sebaliknya.

3) Tingkatan dan jenis sekolah. Apakah sekolah yang di pimpin itu SD atau sekolah lanjutan, SLTP, SMU atau SMK dan sebagainya semuanya memerlukan sikap dan sifat supervisi tertentu.

4) Keadaan guru-guru dan pegawai yang tersedia. Apakah guru-guru di sekolah itu pada umumnya sudah berwenang, bagaimana kehidupan sosial-ekonomi, hasrat kemampuannya, dan sebagainya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi akademik oleh pengawas,

(46)

yaitu lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada, besar kecilnya yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah, tingkat dan jenis sekolah, keadan guru dan pegawai yang tersedia dan kecakapan dan keahlian pengawas akademik itu sendiri dalam memberikan supervisi.

f. Teknik-teknik supervisi

Menurut Purwanto (2004:120-122), secara garis besar cara atau teknik supervisi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tehnik perseorangan dan teknik kelompok.

1) Teknik perseorangan

Teknik perseorangan ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : (1) mengadakan kunjungan kelas (classroom visition) yang dimaksud dengan kunjungan kelas ialah kunjungan sewaktu-waktu yang dilakukan oleh seorang supervisor (kepala sekolah) untuk melihat atau mengamati seorang guru yang sedang mengajar.

Tujuannya untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar, apakah sudah memenuhi syarat-syarat didaktis atau metodik yang sesuai.

Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya masih perlu diperbaiki, (2) mengadakan kunjungan observasi (observation visits) Guru-guru dari suatu sekolah sengaja ditugaskan untuk melihat/mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya cara menggunakan alat atau media yang baru,

(47)

seperti audio-visual aids, cara mengajar dengan metode tertentu, seperti misalnya sosiodrama, problem solving, diskusi panel, fish bowl, metode penemuan (discovery), dan sebagainya, (3) membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau mengatasi problema yang dialami siswaBanyak masalah yang dialami guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa.

Misalnya siswa yang lamban dalam belajar, tidak dapat memusatkan perhatian, siswa yang nakal, siswa yang mengalami perasaan rendah diri dan kurang dapat bergaul dengan teman- temannya. Masalah-masalah yang sering timbul di dalam kelas yang disebabkan oleh siswa itu sendiri lebih baik dipecahkan atau diatasi oleh guru kelas itu sendiri daripada diserahkan kepada guru bimbingan atau konselor yang mungkin akan memakan waktu yang lebih lama untuk mengatasinya, (3) membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah.

Antara lain : (1) Menyusun program catur wulan atau program semester, (2) Menyusun atau membuat program satuan pelajaran, (3) Mengorganisasikan kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas, (4) Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran, (5) Menggunakan media dan sumber dalam proses belajar-mengajar, (6) Mengorganisasikan kegiatan-kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler, study tour, dan sebagainya.

(48)

2) Teknik kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain :

a) Mengadakan pertemuan atau rapat (meetings) seorang kepala sekolah yang baik umumnya menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusunnya. Termasuk didalam perencanaan itu antara lain mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. untuk mengadakan pertemuan/diskusi gunamembicarakan hal-hal yang berhubungan dengan usaha pengembangan dan peranan proses belajar-mengajar.

b) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training) teknik supervisi kelompok yang dilakukan melalui penataran- penataran sudah banyak dilakukan. Misalnya penataran untuk guru-guru bidang studi tertentu, penataran tentang metodologi pengajaran, dan penataran tentang administrasi pendidikan.

Mengingat bahwa penataran-penataran tersebut pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas kepala sekolah terutama adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran, agar dapat dipraktekkan oleh guru-guru.

Menurut Gwynn, dalam Bafadal (2004 :48-50), teknik supervisi digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu teknik perorangan dan teknik kelompok. Teknik supervisi individual

(49)

meliputi : 1) kunjungan kelas, 2) percakapan pribadi, 3) kunjungan antarkelas, 4) penilaian sendiri. Sedang teknik supervisi kelompok meliputi : 1) kepanitiaan, 2) kursus, 3) laboratorium kelompok, 4) bacaan terpimpin, 5) demonstrasi pembelajaran, 6) perjalanan staf, 7) diskusi panel, 8) perpustakaan profesional, 9) organisasi profesional, 10) bulletin supervisi, 11) sertifikasi guru, 12) tugas belajar, 13) pertemuan guru.

Menurut Mukhtar dkk (2009: 459), supervisi akademik mempunyai beberapa kompetensi diantaranya :

1. Memahami konsep, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan mata pelajaran di SD

2. Memahami konsep, prinsip, teori/ teknologi, karakteristik dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/ bimbingan tiap mata pelajaran di SD.

3. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran di SD berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP 4. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/

metode pembelajaran

5. Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk tiap pengimbangan mata Pelajaran di SD

(50)

6. Membimbing guru melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mengimbangkan potensi siswa pada tiap mata pelajaran di SD 7. Membimbing guru dalam mengelola, merawat,

mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran mata pelajaran di SD

8. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran tiap mata pelajaran di SD.

Beberapa pendapat dan uraian tersebut di atas diketahui, bahwa supervisi akademik oleh pengawas adalah proses pembinaan oleh pengawas kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar. Adapun teknik yang biasa digunakan adalah kunjungan kelas, pertemuan baik formal maupun informal serta melibatkan guru lain yang dianggap berhasil dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa teknik yang biasa digunakan pengawas dalam mensupervisi gurunya, namun dalam penelitian ini hanya indikator: kunjungan kelas, semangat kerja guru, pemahaman tentang kurikulum, pengembangan metode dan evaluasi, rapat-rapat pembinaan, dan kegiatan rutin diluar mengajar yang kami teliti sedangkan indikator lain tidak kami teliti karena kurang mengungkap masalah yang kami teliti individu. Kebutuhan ini berlangsung terus-menerus terutama sejalan dengan meningkatnya jenjang karier seorang individu.

(51)

Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa supervisi akademik oleh pengawas merupakan upaya seorang pengawas dalam pembinaan agar guru dapat meningkatkan kualitas dalam pembelalaran melalui langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan interaksi PBM yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

Kegiatan supervisi ini dapat dilihat dari pelaksanakan awal supervisi pada guru, pelaksanakan penilaian kinerja guru, dan pelaksanaan bimbingan kepada guru.

3. Disiplin Kerja

a. Pengertian Disiplin Kerja

Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar.

Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1995:206) dinyatakan bahwa disiplin adalah ketaatan, kepatuhan kepada peraturan atau tatatertib: sedangkan T.

Hani Handoko (1996:208) menerangkan bahwa disiplin adalah

(52)

kegiatan managemen untuk menjalankan standar-standar organisasional.

Disiplin merupakan suatu sikap yang mencerminkan ketaatan terhadap peraturan dan motivasi kerja menyatakan bahwa “disiplin adalah sikap mental yang mengandung kerelaan hati untuk mematuhi semua ketentuan dan semua yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab”. Sedangkan Admosudirjo (1992:83) menyatakan bahwa “disiplin adalah bentuk ketaatan dan pengendalian diri yang rasional dengan sadar dan tidak emosional, disiplin mempunyai tiga aspek yaitu: (1) suatu sikap mental tertentu yang merupakan sikap taat dan tertib, (2) suatu pengetahuan tingkat tinggi tentang sistem perilaku dan (3) sikap dan kelakuan yang menunjukkan kesungguhan hati untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib.

Menurut pendapat Bafadal (2003:15) disiplin kerja yang tinggi akan meningkatkan produktifitas kerja seorang pegawai yang memiliki disiplin kerja yang tinggi. Selanjutnya disiplin merupakan suatu sikap yang terwujud dalam bentuk semangat seseorang dalam bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku. Disiplin kerja tidak hanya dipandang secara individu melainkan secara keseluruhan sebagai satu kesatuan kegiatan kerja. Nasution (1986:60) menyatakan bahwa disiplin adalah mentaati tata cara yang telah dituliskan, dalam melaksanakan tugas bertanggung jawab yang diserahkan pada setiap guru dan pegawai sehingga dapat dijalankan dengan penuh kesesuaian. Menurut

(53)

Siswanto (1987:89) “disiplin kerja merupakan suatu sikap menghargai, menghormati, patuh, dan taat terhadap peraturan yang berlaku serta sanggup menjalankannya dengan tidak menolak untuk menerima sanksi-sanksi terhadap tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya”

Selanjutnya Niti Sunito (1982:42) menyatakan bahwa disiplin kerja dipengaruhi oleh (1) kesejahteraan (2) kenyamanan kerja (3) ketegasan (4) tujuan dan kemampuan personil (5) keteladanan kepemimpinan. Faktor keteladanan kepemimpinan berawal dari sikap dan kemampuan atasan dalam melaksanakan kepentingannya, kemudian kinerja pemimpin itu sendiri, baik dari disiiplin waktu dan disiplin tata aturan kerja. Kemampuan atasan yang sesuai dengan kebutuhan tugas dan anggota maka terukir keteladanan yang akan dicontoh dan dihargai oleh bawahan sehingga suasana kerja berjalan dengan semangat.

Disamping itu disiplin kerja pegawai juga dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: (1) kompensasi, (2) keteladanan pemimpin, (3) aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan, (4) keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan dan keputusan, (5) pangawasan terhadap atasan. Dari beberapa pendapat diatas diketahui bahwa faktor-faktor yang penting yang mempengaruhi disiplin kerja antara lain: (1) motivasi, (2) keteladanan atasan, (3) kompensasi, (4) pengawasan dan (5) hubungan kemanusiaan.

(54)

Sedangkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sementara pegawai dunia pendidikan merupakan bagian dari tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Dalam informasi tentang wawasan Wiyatamandala, kedisiplinan guru diartikan sebagai sikap mental yang mengandung kerelaan mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan taggung jawab.

Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa kedisiplinan guru dan pegawai adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak didiknya. Karena bagaimana pun seorang guru atau tenaga kependidikan (pegawai), merupakan cermin bagi anak didiknya dalam sikap atau teladan, dan sikap disiplin guru dan tenaga kependidikan (pegawai) akan memberikan warna terhadap hasil pendidikan yang jauh lebih baik.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan guru

Menurut Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyam (2004:211) dalam Bukunya kemampuan Dasar Guru Dalam Proses belajar Mengajar, mengemukakan bahwa ada beberapa indikator agar disiplin dapat

(55)

membina dan dilaksanakan dalam proses pendidikan sehingga waktu pendidikan dapat ditingkatkan yaitu sebagai berikut :

1) Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik bagi guru maupun baik bagi siswa, karena tata tetib yang berlaku merupakan aturan dalam ketentuan yang harus ditaati oleh siapa pun demi kelancaran proses pendidikan itu, yaitu:

a) Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan.

b) Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku disekolah atau lembaga pendidikan tertentu. Contohnya menggunakan kurikulum yang berlaku atau membuat satuan pelajaran.

c) Tidak membangkang pada peraturan yang berlaku, baik bagi para pendidik maupun bagi peserta didik. Contohnya membuat PR bagi peserta didik.

d) Tidak suka membohong.

e) Bertingkah laku yang menyenangkan.

f) Rajin dalam belajar mengajar.

g) Tidak suka malas dalam belajar mengajar.

h) Tidak menyuruh orang untuk bekerja demi sendiri.

i) Tepat waktu dalam belajar mengajar.

j) Tidak pernah keluar saat belajar mengajar.

k) Tidak pernah membolos saat belajar mengajar.

Gambar

Gambar I Faktor-Faktor yang mempengaruhi kinerja guru
Gambar 2 Kerangka Pemikiran
Tabel 2: Penyebaran Sampel Penelitian Pada SD Kecamatan Koto XI  Tarusan
Tabel 3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis ini menunjukkan hipotesis ketiga yang menyatakan “Diduga motivasi dan disiplin kerja secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan

Supervisi manajerial dan supervisi akademik pengawas merupakan usaha yang dilakukan seorang pengawas untuk memperbaiki pola kerja dan kinerja sekolah termasuk

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja dan supervisi akademik secara

supervisi bimbingan konseling, iklim kerja sekolah dan kepuasan kerja guru secara bersama-sama terhadap kualitas kinerja JXUX SHPELPELQJ´ GLWRODN +DO LQL EHUDUWL hipotesis

Hipotesis ketiga menyatakan bahwa: “Terdapat hubungan positif dan signifikan antara pelaksanaan supervisi klinis (X 1 ) dan motivasi kerja guru (X 2 ) secara bersama-

Faktor penghambat supervisi akademik yang lain yaitu ketidak sesuaian jadwal supervisi yang telah dibuat oleh kepala sekolah bersama tim pembantu supervisi karena

Pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah dan kompetensi pedagogik secara bersama-sama memberikan kontribusi yang singnifikan dalam meningkatkan kinerja guru SDN

Hasil uji hipotesis ketiga, secara bersama- sama hubungan antara stress kerja dengan kinerja guru meniliki nilai koefisien korelasi 0.011 (korelasi rendah) dan