KITAB TAUHID
Karya :
SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Penerjemah : M. YUSUF HARUN, MA
Murajaah : BAKRUN SYAFI’I, MA
DR.MUH.MU’INUDINILLAH BASRI, MA ERWANDI TARMIZI
1428-2007
KATA PENGANTAR
َلحا
ْم
ُد
ِلَّل
ِه
َّلا
ِذ
ْي
َج
َع
َل
َّتلا
ْو
ِح
ْي
َد
َق
ِعا
َد
َة
ِلإا
ْس
َلا
ِم
َوَأ
ْص
َلُه َو
َرْأ
َس
ُه
َأ ،
ْش
َه
ُد
َأ
ْن
َلا ِإ
َلَه ِإ
َّلا
َللها َو
ْح
َد
ُه
َلا
َش
ِرْي
َك َل
ُه
َو ،
َأ
ْش
َه
ُد َأ
ْن ُم
َح
َّم
ًد
َع ا
ْب
ُد
ُه
َوَر
ُس
ْوُل
ُه
َو ،
َص
َّل
ُللها ى َو
َس
َّلَم
َع
َلْي
ِه َو
َع
َل
ِلآ ى
ِه َو
َص
ْح
ِبِه َو
َم
ِن
ْها
َت
َد ى
ِبَه
ْد
ِيِه
َأ .
َّم
َب ا
ْع
ُد:
Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan.
Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.
Allah Ta’ala berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).
Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim memperlajarinya.
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan Sifat-Nya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah;
bahkan mengakui keesaan dan kemaha-kuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’
dan Sifat-Nya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. (Lihat Al Qur’an: 38: 82, 31: 25, 23:
84-89). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah
.
Dari sini timbullah pertanyaan: “Apakah hakikat tauhid itu?
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah.
Maksudnya yaitu: menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan- Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul
terakhir, yaitu Nabi Muhammad . (Lihat Al Qur’an:
16: 36, 21: 25, 7: 59, 65, 73, 85, dan lain-lain).
Maka buku di hadapan pembaca ini mempunyai arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui hakikat tauhid dan kemudian menjadikannya sebagai pegangan hidup.
Buku ini ditulis oleh seorang ulama yang giat dan tekun dalam kegiatan da’wah Islamiyah. Beliau adalah syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi, yang dilakhirkan di Uyainah, tahun 1115 H (1703 M), dan meninggal di Dir’iyyah (Saudi Arabia) tahun 1206 H (1792 M).
Keadaan umat Islam -dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan- pada masa hidupnya, yang menyimpang dari makna tauhid, telah mendorong syaikh Muhammad bersama para muridnya untuk melancarkan da’wah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni.
Maka, untuk tujuan da’wahnya beliau menulis sejumlah kitab dan risalah, yang di antaranya:
1. Kasyf Asy Syubuhat 2. Tafsir Al fatihah
3. Tafsir syahadah “La Ilaha Illah”
4. Kitab Al kabair 5. Ushul Al Iman 6. Ushul Al Islam
7. Al Masa’il Al lati kholafa fiha Rasulullah ahlal Jahiliyah
8. Aadab Al Masy-yi Ilash Sholah (Ala madzhabil Imam Ahmad bin Hambal)
9. Al Amru bil ma'ruf wan Nahyu ‘anil Munkar 10. Mukhtashar Siraturrasul
11. Kitab tauhid alladzi huwa Haqqullah ‘alal
‘ibad.
Buku terakhir inilah yang terjemahannya ada di tangan pembaca.
Dan melalui buku ini, beliau berusaha untuk menjelaskan hakikat tauhid, dan penerapannya dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam bab I, penulis menjelaskan hakikat tauhid dan kedudukannya; dalam bab 2 & 3 menerangkan tentang keistimewaan tauhid dan pahala yang diperoleh darinya; dalam bab 4 mengingatkan agar takut terhadap perbuatan yang bertentangan dengan tauhid, serta membatalkannya, yaitu syirik akbar, atau perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid, yaitu syirik ashghar; dalam bab 5 menjelaskan tentang kewajiban berda’wah kepada tauhid; dan dalam bab 6 menjelaskan tentang makna tauhid dan syahadat “la Ilaha Illallah”.
Upaya pemurnian tauhid tidak akan tuntas hanya dengan menjelaskan makna tauhid, akan tetapi harus dibarengi dengan penjelasan tentang hal-hal yang dapat merusak dan menodai tauhid. Untuk itu, pada bab-bab berikutnya, penulis berusaha menjelaskan berbagai macam bentuk tindakan dan perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi kesempurnaan tauhid, dan menodai kemurniannya, yaitu apa yang disebut dengan syirik, baik syirik
akbar maupun syirik asghar, dan hal- hal yang tidak termasuk syirik tetapi dilarang oleh Islam, karena menjurus kepada kemusyrikan, disertai pula dengan keterangan tentang latar belakang historis timbulnya syirik.
Terakhir, penulis menyebutkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, yang menerangkan tentang keagungan dan kekuasaan Allah, untuk menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang paling berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, dan Dialah Tuhan yang memiliki segala sifat kemuliaan dan kesempurnaan.
Satu hal yang unik dalam metode pembahasan buku ini, bahwa penulis tidak menerangkan atau membahas tauhid dengan cara yang lazim kita kenal dalam buku- buku masa kini. Pada setiap bab, penulis hanya menyebutkan ayat ayat Al Qur’an dan hadits-hadits serta pendapat-pendapat ulama salaf;
kemudian beliau menjabarkan bab-bab itu dengan menyebutkan permasalahan-permasalahan penting yang terkandung dan tersirat dari dalil-dalil tersebut.
Akan tetapi, justru dengan demikian, buku ini menjadi lebih penting, sebab pembahasannya mengacu kepada kitab dan Sunnah yang menjadi sumber hukum bagi umat Islam.
Mengingat amat ringkasnya beberapa permasalahan yang dijabarkan oleh penulis, maka dengan memohon taufiq Allah, penerjemah memberikan sedikit keterangan dan penjelasan dengan diapit oleh tanda dua kurung siku “[…]” atau melalui catatan kaki.
Apa yang diharapkan oleh penulis bukanlah sekedar mengerti dan memahami, tapi lebih dari itu, yaitu: sikap dan pandangan hidup tauhidi yang tercermin dalam keyakinan, tutur kata dan amalan.
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita dalam usaha mewujudkan ibadah kepada Allah dengan semurni-murninya.
Hanya kepada Allah kita menghambakan diri, dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.
Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan para sahabatnya.
Penerjemah
DAFTAR ISI
Kata Pengantar 3
Daftar Isi 9
Bab1: Tauhid,hakikat dan kedudukannya 13 Bab2: Keistimewaan tauhid dan dosa dosa
yang diampuni karenanya 22 Bab3: Mengamalkan tauhid dengan
semurni- murninya bisa menyebabkan masuk surga tanpa hisab
28 Bab 4: Takut kepada syirik 34 Bab5: Dakwah kepada syahadat “La Ilaha
Illallah” 38
Bab6: Penjelasan tentang makna tauhid
dan syahadat“La Ilaha Illallah” 45 Bab7: Memakai gelang dan sejenisnya
untuk menangkal bahaya adalah
perbuatan syirik 51
Bab 8: Ruqyah dan Tamimah 55
Bab9: Minta berkah kepada pepohonan,
bebatuan atau yang sejenisnya 59 Bab10: Menyembelih binatang bukan
karena Allah 65
Bab11: Menyembelih binatang karena Allah, dilarang dilakukan di tempat penyembelihan yang bukan karena Allah
70 Bab12: Bernadzar untuk selain Allah
adalah syirik 74
Bab13: Meminta perlindungan kepada
selain Allah adalah syirik 76 Bab14: Berdo’a kepada selain Allah adalah 78
syirik
Bab15: [Ibadah itu hak milik Allah ] 83 Bab16:[Malaikat makhluk yang perkasa
bersujud kepada Allah] 89
Bab17: Syafa’at 95
Bab18: [Nabi tidak dapat memberi hidayah
kecuali dengan kehendak Allah] 100 Bab19: Penyebab utama kekafiran adalah
berlebih lebihan dalam
mengagungkan orang orang shaleh 105 Bab 20: Larangan beribadah kepada Allah
di sisi kuburan 111
Bab 21: Berlebih lebihan terhadap kuburan orang orang shaleh menjadi sebab dijadikannya sesembahan selain Allah
118 Bab 22: Upaya Rasulullah dalam menjaga
tauhid dan menutup setiap jalan
yang menuju kepada syirik 121 Bab 23: Penjelasan bahwa sebagian umat
ini ada yang menyembah berhala 124
Bab 24: Hukum sihir 132
Bab 25: Macam macam sihir 135 Bab 26:Dukun,tukang ramal dan
sejenisnya 138
Bab 27: Nusyrah 142
Bab 28: Tathayyur 144
Bab 29: Ilmu nujum (Perbintangan) 150 Bab 30: Menisbatkan turunnya hujan
kepada bintang 152
Bab 31: [Cinta kepada Allah]. 156 Bab 32: [Takut kepada Allah] 161 Bab 33: [Tawakkal kepada Allah] 165 Bab 34: Merasa aman dari siksa Allah dan 168
berputus asa dari Rahmat-Nya Bab 35: Sabar terhadap takdir Allah
adalah bagian dari Iman 170
Bab 36: Riya’ 174
Bab 37 : Beramal shaleh untuk
kepentingan dunia adalah syirik 178 Bab 38: Mentaati ulama dan umara’ dalam
menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti mempertuhankan mereka
181 Bab 39: [Berhakim kepada selain Allah] 184 Bab 40: Mengingkari sebagian Asma’ dan
Sifat Allah 189
Bab 41: [ingkar terhadap ni’mat Allah] 192 Bab 42: [Larangan menjadikan sekutu
buat Allah] 194
Bab 43: Tidak rela terhadap sumpah yang
menggunakan nama Allah 197 Bab 44: Ucapan: “Atas kehendak Allah dan
kehendakmu” 198
Bab 45: Mencaci masa berarti mencaci
Allah 202
Bab 46: Penggunaan gelar “qadhi qudhat”
[hakimnya para hakim] 204 Bab 47: Memuliakan nama-nama Allah 206 Bab 48: Bersenda gurau dengan menyebut
nama Allah, Al Qur’an atau
Rasulullah 208
Bab 49: [Mensyukuri ni’mat Allah] 211 Bab 50: [Memberi nama yang
diperhambakan kepada selain Allah] 218 Bab 51: [Penetapan Al Asma’ul Husna
hanya untuk Allah] 221
Bab 52: Larangan mengucapkan “As 223
salamu alallah”
Bab 53: Ucapan “Ampunilah aku jika
engkau menghendaki” 225
Bab 54: Larangan mengucapkan
“Hambaku” 227
Bab 55: Larangan menolak permintaan
yang menyebut nama Allah 229 Bab 56: Larangan meminta sesuatu
dengan menyebut nama Allah
kecuali surga 231
Bab 57: Ucapan “Seandainya” 232 Bab 58: Larangan mencaci maki angin. 235 Bab 59: [Larangan berprasangka buruk
kepada Allah] 237
Bab 60: Mengingkari takdir 241 Bab 61: Orang yang menggambar
(Mushawwir) 245
Bab 62: Larangan banyak bersumpah 248 Bab 63: Perjanjian Allah dan perjanjian
Nabi-Nya 252
Bab 64: Larangan bersumpah mendahului
Allah 257
Bab 65: Larangan menjadikan Allah
sebagai wasilah kepada mahluk-Nya 259 Bab 66: Upaya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dalam menjaga
kesucian tauhid 261
Bab 67: [Keagungan dan kekuasaan Allah
] 264
Daftar Istilah 271
BAB 1 TAUHID
[HAKIKAT DAN KEDUDUKANNYA]
Firman Allah :
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah (1) kepada-Ku.” (QS. Adz – Dzariyat: 56 ).
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadalah
(1 ) Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata; dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut” (1) . (QS. An – Nahl: 36).
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS.
Al – Isra’: 23-24).
(2 ) Thoghut ialah : setiap yang diagungkan - selain Allah – dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan.
Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.
“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu
“Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim,
kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan- Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” ( QS. Al An’am: 151-153).
Ibnu Mas’ud berkata: “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah : “Katakanlah ( Muhammad ) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. (1) ”
Mu’adz bin Jabal berkata:
((
ُك
ْن
ُت َر
ِدْي
َف
َّنلا
ِب
ِّي
َع
َل
ِح ى
َم
ٍرا
َف ،
َق
َلا ِل
ْي :
َي
ُم ا
َع
ُذا
َأ ،
َت
ْد
ِر
ْي َم ا
َح
ُّق
ِللها
َع
َل
ْلا ى
ِعَب ا ُهُلْوُسَرَو ُللها :ُتْلُق ؟ِللها ىَلَع ِداَبِعْلا ُّقَح اَمَو ،ِد
(3 ) Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.
َلاَق ،ُمَلْعَأ
َح :
ُّق
ِللها
َع
َل
ْلا ى
ِعَب
ِدا َأ
ْن َي
ْعُب
ُد
ْوُه َو
َلا ُي
ْش
ِر
ُك
ْو
ِب ا
ِه
َش
ْيًئ ،ا
َو
َح
ُّق
ْلا
ِعَب
ِدا
َع
َل
ِللها ى َأ
ْن
َلا ُي
َع
ِّذ
َب َم
ْن
َلا ُي
ْش
ِر
ْك ِب
ِه
َش
ْيًئ
ُق ،ا
ْل
ُت
َي : ا
َر
ُس
ْو
َل
ِللها
َأ ،
َف
َلا ُأ
َب
ِّش
ُر
َّنلا
َسا
َق ؟
َلا : ((
َلا ُت
َب
ِّش
ْر
ُه
ْم
َفَي
َّت
ِك
ُلْو ا ))
“Aku pernah diboncengkan Nabi di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku: “wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba- Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah? Aku menjawab:
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda: “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: "ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang- orang? beliau menjawab: “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah.” (HR.
Bukhari, Muslim).
Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:
1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah .
2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
3. Barangsiapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah . inilah sebenarnya makna firman Allah:
“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah.” (QS. Al Kafirun: 3).
4. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
5. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
6. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah saja].
7. Masalah yang sangat penting adalah: bahwa ibadah kepada Allah tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thaghut.
Dan inilah maksud dari firman Allah :
“Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar-benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat.” (QS. Al Baqarah: 256).
8. Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah .
9. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
10. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah:
“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela.” (QS. Al Isra’: 22).
Dan diakhiri dengan firmanNya:
“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah).” (QS. Al Isra’: 39).
Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firman-Nya:
“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu.” (QS. Al Isra’: 39).
11. Satu ayat yang terdapat dalam surat An–
Nisa’, disebutkan di dalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firman-Nya:
“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’: 36 ).
12. Perlu diingat wasiat Rasulullah di saat akhir hayat beliau.
13. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.
14. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.
15. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat (1).
16. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahat.
17. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
(4) Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shaleh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.
18. Rasulullah merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
19. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah: “Allah dan Rasul- Nya yang lebih mengetahui.
20. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
21. Kerendahan hati Rasulullah , sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
22. Boleh memboncengkan seseorang di atas binatang, jika memang binatang itu kuat.
23. Keutamaan Muadz bin Jabal.
24. Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat penting.
BAB 2
KEISTIMEWAAN TAUHID
DAN DOSA-DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA
Firman Allah :
“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan (1) mereka dengan kedzhaliman (kemusyrikan) (1), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.” (QS. Al An’am: 82).
Ubadah bin Shamit menuturkan: Rasulullah bersabda:
( (
َم
ْن
َش
ِه
َد َأ
ْن
َلا ِإ
َلَه ِإ
َّلا
َللها َو
ْح
َدُه
َلا
َش
ِرْي
َك َل
ُه
َو ،
َأ
َّن ُم
َح
َّم
ًد
َع ا
ْب
ُد
ُه
َوَر
ُس
ْوُل
ُه
َو ،
َأ
َّن
ِع
ْي
َس
َع ى
ْب
ُد
ِللها َو
َر
ُس
ْوُل
ُه
َو ،
َك
ِلَم
ُتُه َأ
ْلَق
َها
ِإ ا
َل
َم ى
ْرَي
َم
(5 ) Iman ialah: ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat karena Allah, dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah .
(6 ) Syirik disebut kezhaliman karena syirik adalah menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya, dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.
َوُر
ْو
ٌح
ِمْن
ُه
َو
ْلا
َج
َّنُة
َح
ٌّق َو
َّنلا
ُرا
َح
ٌّق َأ
ْد
َخ
َلُه
ُللها
ْلا
َج
َّنَة
َع
َل
َم ى
َك ا
َنا ِم
َن
ْلا
َع
َم
ِل ))
“Barangsiapa yang bersyahadat (1) bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari &
Muslim).
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban bahwa Rasulullah bersabda:
((
َف
ِإَّن
َللها
َح
َّر
َم
َع
َل
َّنلا ى
ِرا َم
ْن َق
َلا
َلا ِإ
َلَه ِإ
َّلا
َللها َي
ْبَت
ِغ
ِب ي
َذِل
َك َو
ْج
َه
ِللها ))
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda:
(7 ) Syahadat ialah: persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.
((
َق
َلا ُم
ْو
َس
َي ى
َر ا
ِّب
َع ،
ِّلْم
ِن
ْي
َش
ْيًئ
َأ ا
ْذ
ُك
ُر
َك َو
َأْد
ُع
َكو ِب
ِه
َق ،
َلا
ُق :
ْل
َي
ُم ا
ْو
َس ى
َلا : ِإ
َلَه ِإ
َّلا
َللها
َق ،
َلا
َي :
َر ا
ِّب
ُك
ُّل
ِع
َب
ِدا
َك َي
ُق
ْوُل
ْو
َن
َه
َذ ،ا
َق
َلا اَي : ُم
ْو
َس ى َل
ْو َأ
َّن
َّسلا
َم
َو
ِتا
َّسلا
ْبَع َو
َع
ِما
َر
ُه
َّن
َغ
ْيِر
ْي َو
َلأا
ْر
ِض
ْي
َن
َّسلا
ْبَع ِف
ْي
ِك
َّفٍة
َو ،
َلا ِإ
َلَه ِإ
َّلا
َللها ِف
ْي
ِك
َّف
ٍةـ
َم ،
َلا
ْت ِب
ِه
َّنـ
َلا ِإ
َلَه ِإ
َّلا
َللها ))
“Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman:” ucapkan hai Musa َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab:” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya).
Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik ia berkata: "aku mendengar Rasulullah bersabda:
((
َق
َلا
ُللها َت
َع
َلا ى
َي :
ْبا ا
َن
َدآ
َم
َل ،
ْو
َأَت
ْيَت
ِن
ْي ِب
ُق
َر
ِبا
َلأا
ْر
ِض
َخ
َط
َيا
ُث ،ا
َّم
َلِق
ْيَت
ِن
ْي
َلا ُت
ْش
ِر
ُك ِب
ْي
َش
ْيًئ
َل ،ا
َأَت
ْيُت
َك ِب
ُق
َر
ِبا
َه
َم ا
ْغ
ِف
َرًة ))
“Allah berfirman: “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan
datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.
Kandungan bab ini:
1. Luasnya karunia Allah .
2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah .
3. Dan tauhid juga dapat menghapus dosa.
4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am.
5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah.
6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat َّلاِإ َهَلِإ َلا
َللها juga kesalahan orang-orang yang tersesat
karena hawa nafsunya.
7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya).
8. Para Nabipun perlu diingatkan akan keistimewaan َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا.
9. Penjelasan bahwa kalimat َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.
10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.
11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.
12. Menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah (1).
13. Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban: “sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.
14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.
(8 ) Asy’ariyah adalah salah satu aliran teologis, pengikut Syekh Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari (260 – 324 H = 874 – 936 M). Dan maksud penulis di sini ialah menetapkan sifat sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam Al qur’an maupun As sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya wajah bagi Allah, mengikuti cara yang diamalkan kaum salaf shaleh dalam masalah ini, yaitu: mengimani kebesaran sifat sifat Allah yang dituturkan Al qur’an dan As sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. Adapun Asy’ariyah, sebagian mereka ada yang menta’wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya) dengan dalih bahwa hal itu jika tidak dita’wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya, akan tetapi perlu diketahui bahwa Syekh Abu Hasan sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzhab salaf shaleh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis di akhir hidupnya, yaitu "Al Ibanah ‘an ushulid diyanah" (editor: Abdul Qodir Al Arnauth, Bairut, makatabah darul bayan, 1401 H) bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dari madzhab salaf.
15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah(1).
16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.
17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
18. Memahami sabda Rasul: “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.
19. Mengetahui bahwa timbangan (di hari kiamat) itu mempunyai dua daun.
20. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah.
(9 ) Kalimat Allah maksudnya bahwa Nabi Isa itu diciptakan Allah dengan firman-Nya “Kun” (jadilah) yang disampaikan-Nya kepada Maryam melalui malaikat Jibril.
BAB 3
MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENAR- BENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SURGA
TANPA HISAB
Firman Allah :
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali- kali ia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120).
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun: 59).
Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Sa'id bin Zubair, lalu ia bertanya:
“siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam? kemudian aku menjawab: “aku”, kemudian kataku: “ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku:
“lalu apa yang kau lakukan? aku menjawab: “aku minta diruqyah (11)”, ia bertanya lagi: “apa yang
(10) Ruqyah, maksudnya di sini, ialah: penyembuhan dengan bacaan ayat ayat Al qur’an atau doa doa.
mendorong kamu melakukan hal itu? aku menjawab:
“yaitu: sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi: “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu? aku menjawab: “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib:
((
َلا ُر
ْقَي
َة
ِإ
َّلا ِم
ْن
َع
ْي
ٍن َأ
ْو
ُح
َم
ٍة ))
“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain (11) atau terkena sengatan”.
Sa'id pun berkata: “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah , beliau bersabda:
((
ُع
ِر
َض
ْت
َع
َل
َّي
ُلأا
َم
ُم
َف ،
َرَأ
ْي
ُت
َّنلا
ِب
َّي َم
َعُه
َّرلا
ْه
ُط
َو ،
َّنلا
ِب
َّي َم
َع
ُه
َّرلا
ُج
ُل
َو
َّرلا
ُج
َلا
ِن
َو ،
َّنلا
ِب
َّي َو
َلْي
َس َم
َعُه َأ
َح
ٌد
ِإ ،
ْذ
ُر
ِف
َع
ِل
ْي
َس
َو
ٌدا
َع
ِظ
ْيٌم ،
َف
َظ
َنْن
ُت َأ
َّنُه
ْم ُأ
َّمِت
ْي
َف ،
ِقْي
َل ِل
ْي
َه :
َذ
ُم ا
ْو
َس
َو ى
َق
ْو
ُم
ُه
َف ،
َن
َظ
ْر
ُت َف
ِإَذ ا
َس
َو
ٌدا
َع
ِظ
ْيٌم
َف ،
ِقْي
َل ِل
ْي
َه :
ِذ
ِه
ُأَّم
ُت
َك
َو ،
َم
َع
ُه
ْم
َس
ْبُع
ْو
َن َأ
ْلًف
َي ا
ْد
ُخ
ُلْو
َن
ْلا
َج
َّنَة ِب
َغْي
ِر
ِح
َس
ٍبا َو
َلا
َع
َذ
ٍبا
ُث ،
َّم َن
َه
َض َف
َد
َخ
َل َم
ْنِز
َلُه
َف ،
َخ
َضا
َّنلا
ُسا ِف
ْي ُأ
ْوَل
ِئ
َك
َف ،
َق
َلا َب
ْع
ُض
ُه
ْم
َف :
َلَع
َّلُه
ُم
َّلا
ِذ
ْي
َص
ِح
ُبْو
َر ا
ُس
ْو
َل
ِللها
َو ،
َق
َلا َب
ْع
ُض
ُه
ْم
َف :
َلَع
َّلُه
ْم
َّلا
ِذ
ْي
َن ُو
ِلُد
ْو
ِف ا
ْي
ِلإا
ْس
َلا
ِم
َفَل
ْم ُي
ْش
ِر
ُك
ْو ا
ِب
ِللها
َش
ْيًئ
َو ،ا
َذ
َك
ُر
ْو
َأ ا
ْش
َي
َءا
َف ،
َخ
َر
َج
َع
َلْي
ِه
ْم
َر
ُس
ْو
ُل
ِللها َف
َأ
ْخ
َبُر
ْوُه ،
(11) Ain, yaitu: pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.
َف
َق
َلا : ((
ُه
ُم
َّلا
ِذ
ْي
َن
َلا َي
ْس
َتْر
ُق
ْو
َن َو
َلا َي
َت
َط
َّيُر
ْو
َن َو
َلا َي
ْك
َتُو
ْو
َن َو
َع
َل ى
َرِّب
ِه
ْم َي
َتَو
َّك
ُلْو
َن )) َف
َق
َما
ُع
َك
َشا
ُة ْب
ُن ِم
ْح
َص
ٍن َف
َق
َلا
ْدا :
ُع
َللها َأ
ْن
َي
ْج
َعَل
ِن
ْى ِم
ْنُه
ْم
َف ،
َق
َلا : ((
َأْن
َت ِم
ْنُه
ْم )) ُث
َّم َق
َلا َر
ُج
ٌل
َخآ
ُر َف
َق
َلا
ْدا :
ُع
َللها َأ
ْن
َي
ْج
َعَل
ِن
ْي ِم
ْنُه
ْم
َف ،
َق
َلا : ((
َس
َبَق
َك اَهِب
ُع
َك
َشا
ُة ))
“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu." kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang- orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu?
Ada di antara mereka yang berkata: "barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata:
"barangkali mereka itu orang-orang yang dilakhirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.
Kemudian Rasulullah keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang
tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur (11) dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka." kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata:
mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata:
mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kandungan bab ini:
1. Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam bertauhid.
2. Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya.
3. Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.
4. Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.
5. Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathayyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.
(12) Tathayyur ialah: merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.
6. Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.
7. Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.
8. Semangatnya para sahabat untuk berlomba- lomba dalam mengerjakan amal kebaikan.
9. Keistimewaan umat Islam dalam kwantitas dan kwalitasnya.
10. Keutamaan para pengikut Nabi Musa.
11. Umat-umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad .
12. Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.
13. Sedikitnya orang-orang yang mengikuti ajakan para Nabi.
14. Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.
15. Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.
16. Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.
17. Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Sa'id bin Zubair:
“Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya,
tetapi…”, dengan demikian jelaslah bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.
18. Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat- buat.
19. Sabda Nabi: “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.
20. Keutamaan Ukasyah.
21. Penggunaan kata sindiran (11).
22. Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad .
(13) Karena beliau bersabda kepada seseorang: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya: “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka”.
BAB 4
TAKUT KEPADA SYIRIK
Firman Allah :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki- Nya”. (QS. An Nisa’: 48).
Nabi Ibrahim berkata:
“Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala”. ( QS. Ibrahim: 35 ).
Diriwayatkan dalam suatu hadits, bahwa Rasulullah bersabda:
((
َأ
ْخ
َو
ُف َم
َأ ا
َخ
ُفا
َع
َلْي
ُك
ْم
ِّشلا
ْر
ُك
َلأا
ْص
َغ
ُر
َف ،
ُس
ِئَل
َع
ْنُه
َف ؟
َق
َلا :
ِّرلا
َي
ُءا ))
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kamu kalian adalah perbuatan syirik kecil, kemudian beliau ditanya tentang itu, dan beliaupun menjawab: yaitu riya.”(HR. Ahmad, Thabrani dan Abu Dawud).
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda:
((
َم
ْن
َم
َتا َو
ُه
َو
َي
ْد
ُع
ِم و
ْن
ُدْو
ِن
ِللها ِن
ًّد
َد ا
َخ
َل
َّنلا
َرا ))
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia ke dalam neraka.”( HR. Bukhari).
Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda:
((
َم
ْن َل
ِق
َي
َللها
َلا ُي
ْش
ِر
ُك ِب
ِه
َش
ْيًئ
َد ا
َخ
َل
ْلا
َج
َّنَة َو
َم
ْن َل
ِقَي
ُه
ُي
ْش
ِر
ُك ِب
ِه
َش
ْيًئ
َد ا
َخ
َل
َّنلا
َرا ))
“Barangsiapa yang menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya, pasti ia masuk surga, dan barangsiapa yang menemui-Nya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka”.
Kandungan bab ini:
1. Syirik adalah perbuatan dosa yang harus ditakuti dan dijauhi.
2. Riya’ termasuk perbuatan syirik.
3. Riya’ termasuk syirik kecil (11).
(14) Syirik ada dua macam: pertama: syirik akbar (besar) yaitu:
memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan Allah, dalam hal-hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya. Kedua: syirik ashghar (kecil), yaitu: perbuatan yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al hadits sebagai suatu syirik, tetapi belum sampai ke tingkat syirik akbar. Adapun perbedaan diantara keduanya:
a. Syirik akbar menghapuskan seluruh amal, sedang syirik kecil hanya menghapuskan amal yang disertainya saja.
4. Riya’ adalah dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah terhadap orang-orang shaleh.
5. Dekatnya surga dan neraka.
6. Dekatnya surga dan neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits.
7. Barangsiapa yang mati tidak dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk surga, dan barangsiapa yang mati dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka, meskipun ia termasuk orang yang banyak ibadahnya.
8. Hal yang sangat penting adalah permohonan Nabi Ibrahim untuk dirinya dan anak cucunya agar dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.
9. Nabi Ibrahim mengambil ibrah (pelajaran) dari keadaan sebagian besar manusia, bahwa mereka itu adalah sebagaimana perkataan beliau:
“Ya Rabb, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak orang.” (QS.
Ibrahim: 36).
b. Syirik akbar mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka, sedang syirik kecil tidak sampai demikian.
c. Syirik akbar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedang syirik kecil tidak menyebabkan keluar dari Islam
10. Dalam bab ini mengandung penjelasan tentang makna َللها َّلاِإ َهَلِإ َلا sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, [yaitu:
pembersihan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah].
11. Keutamaan orang yang dirinya bersih dari kemusyrikan.