KODE ETIK BANKIR
A. PENGERTIAN KODE ETIK BANKIR
Kode : yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata tulisan atau benda yang di sepakati untuk maksud-maksud tertentu . misalnya untuk menjamin suatu berita , keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi . kode dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis .
Kode etik : yaitu norma atau azas yang di terima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja .
Kode Etik Dapat diartikan pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku.
Dalam kaitannya dengan profesi , bahwa kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standart kegiatan anggota suatu profesi yang di terjemahkan kedalam standart anggotanya, nila profesional paling utama adalah keinginan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat .
B.BANKIR
Bankir adalah seorang yang bekerja di bank , dan sedang / pernah
berkecimpung dalam bidang teknis operasional atau non operasional bank . 1.orang yang mengusahakan bank
2.orang yang memperdagangkan uang
3.orang yang menjadi penyokong dalam urusan keuangan
C. KODE ETIK BANKIR
Salah satu faktor utama penyebab permasalahan perbankan dewasa ini adalah kurangnya integritas para pemilik serta rendahnya kompetensi para pengelola bank sehingga usaha bank tidak lagi dikelola secara sehat bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi para pemilik , para pengelola bank sehingga kegiatan usaha bank tidak lagi di kelola secara sehat bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan peribadi para pemilik , para pengurus atau pihak lainnya . oleh karena itu dalam rangka menciptakan lembaga perbankan yang tangguh dan efisien serta mengarahkan bankkepada
praktek-peraktek perbankan yang sehat (good corporate governance) diperlukan sumber daya manusia perbankan yang memiliki integritas yang tinggi dan kompetensi yang memadai dalam mengendalikan dan mengelola bank .
Menyadari pentingnya etika bagi setiap profesi khususnya di bidang perbankan maka telah di keluarkan kode etik bankir sebagai alat penuntun profesi nilai-nilai dan norma-norma untuk bertingkah laku secara baik dan pantas yang terdiri dari sembilan prinsip yang maknanya dapat di jabarkan sebagai berikut :
Seorang bankir patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.
Seorang bankir melakukan pencatatan yang benar mengenai segala transaksi yang bertalian dengan kegiatan banknya.
Seorang bankir menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat.
Seorang bankir tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi.
Seorang bankir menghindarkan diri dari keterlibatan dalam pengambilan keputusan dalam hal terdapat pertentangan kepentingan.
Seorang bankir menjaga kerahasiaan nasabah dan banknya.
Seorang bankir memperhitungkan dampak yang merugikan dari setiap kebijakan yang ditetapkan banknya terhadap keadaan ekonomi, social dan lingkungan.
Seorang bankir tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun keluarganya.
Seorang bankir tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya
D. FUNGSI KODE ETIK
1) Pedoman yang berisikan tata cara berperilaku kerja atau dan kerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan di luar bank.
2) Merupakan rambu-rambu menuju ke arah tindakan dan perilaku yang tepat, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas.
E. TUJUAN KODE ETIK
Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya . adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional . ketaatan tenaga profesional .
Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu dengan pikiran , jiwa dan perilaku tenaga
profesional . jadi ketaatan itu bentuk dari masing-masing orang bukan karena paksaan . Dengan demikian tenaga profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah dia sendiri .
1) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4) Untuk meningkatkan mutu profesi.
5) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6) Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7) Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8) Menentukan baku standarnya sendiri.
F. SIKAP DAN PERILAKU KODE ETIK 1) Hubungan antar karyawan
Saling percaya
Tanggung jawab
Kesamaan keterbukaan
2) Hubungan karyawan dengan pihak lain
Bukan atas kepentingan pribadi
Melindungi kepentingan perusahaan
Berdasarkan ketentuan yang berlaku 3) Hubungan karyawan dengan lingkungan kerja
Keserasian
Keselarasan
Sopan , service excellence
G. SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK
Sanksi moral
Sanksi di keluarkan dari organisasi
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan di nilai oleh suatu dewen kehormatan atau komisi yang di bentuk khusus untuk itu . karena tujuanya adalah mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis , seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional, seperti kewajiban melapor jika ketauan teman sejawat melanggar kode etik . ketentuan itu merupakan akibat logis dari self regulation yang terwujud dalam kode etik .
PELAYANAN DAN ETIKA BANK
1. Pengertian Etika
Pembicaraan mengenai etika dalam bisnis menjadi muncul kembali dapat disebabkan oleh pertama, adanya pihak-pihak yang dirugikan oleh karena perilaku pihak lain. Kedua, para pengamat melihat bahwa, perkembangan praktek bisnis/perbankan yang ada sekarang ini cenderung akan berakibat yang tidak diinginkan. Etika dalam bisnis dan perbankan ini terkait dengan moralitas, perbuatan moral yang diartikan sebagai perbuatan baik dan perbuatan buruk dalam kegiatan bisnis/perbankan. Hubungan antar manusia adalah sangat peka karena sering dipengaruhi oleh emosi yang kadangkala kurang rasional. Dalam hubungan itulah, timbul peraturan-peraturan yang kita sebut norma atau kaidah yang dapat menumbuhkan adanya suatu jaringan peraturan-peraturan, norma atau kaidah yang sangat erat bahkan berhubungan satu dengan yang lain.
Perkataan etika atau etik berasal dari bahasa latin yaitu ethica. Ethos dalam bahasa Yunani berarti norma, nilai kaidah, ukuran bagi tingkah laku yang baik. Secara umum dapat dikatakan bahwa, etika merupakan dasar moral, termasuk ilmu mengenai kebaikan dan sifat-sifat tentang hak. Atau dengan kata lain, etika berisi tuntunan tentang perilaku, sikap dan tindakan yang diakui, sehubungan dengan suatu jenis kegiatan manusia. Dengan etika, orang akan mampu untuk bersikap kritis dan rasional dalam membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapat dipertanggungjawabkan sendiri. Etika juga dapat membantu manusia membedakan antara tingkah laku atau tindakan yang baik dan yang buruk.
Tujuan pokok mengenai etika adalah mempengaruhi dan mendorong kehendak kita supaya mengarah kepada yang berfaedah dan berguna bagi sesama manusia.
Etika merupakan tata cara berhubungan dengan manusia lainnya. Khusus untuk dunia perbankan masalah etika sangat perlu untuk diketahui dan dijalankan. Nasabah yang datang ke bank sekalipun tanpa diundang merupakan tamu penting, tamu kehormatan yang harus diberikan pelayanan yang maksimal. Agar nasabah merasa dihargai, dihormati dan diselesaikan masalahnya, setiap karyawan bank perlu memahami etika perbankan. Tanpa etika perbankan yang benar maka kemungkinan bank akan kehilangan nasabahnya.
2. Etika Bankir
Bankir yang professional adalah bankir yang memiliki integritas pribadi, keahlian dan tanggungjawab social yang tinggi serta wawasan yang luas agar mampu melaksanakan pla manajemen bank yang professional pula. Bankir yang professional memang dituntut melaksanakan 2 hal penting yaitu, dapat menciptakan laba dan menciptakan iklim bisnis perbankan yang sehat. Namun dalam penciptaan laba tersebut, bankir harus tetap terkendali ( prudent). Menjadi bankir yang professional memerlukan beberapa persyaratan, diantaranya adalah:
Memiliki skill (keterampilan) dan knowledge (pengetahuan).
Mampu menerima tekanan dari pihak manapun tanpa mengurangi kinerjanya.
Memiliki inisiatif dan aktif dalam pencapaian tujuan serta tidak bersikap menunggu.
Memilik job motivation yang tinggi.
Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership ability).
Mempunyai sales ability.
Memiliki kemampuan untuk : menyusun rencana, mengorganisasikan, menetapkan prosedur kerja dan mengendalikan tugas pekerjaan agar menuju kearah pencapaian tujuan bank.
Setiap bankir di Indonesia wajib mengelola bank secara sehat dan menghormati norma-norma perbankan yang berlaku, menaati semua tata nilai sebagai pedoman dasar dalam menentukan sikap dan tindakannya. Norma-norma perbankan yang diakui,
diterima dan ditaati tersebut tertuang dalam Kode Etik Bankir di Indonesia yang isinya sebagai berikut:
Seorang bankir patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.
Melakukan pencatatan yang benar mengenai segala transaksi yang bertalian dengan kegiatan banknya.
Menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat.
Tidak menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi.
Menghindarkan diri dari keterlibatan pengambilan keputusan dalam hal terdapat pertentangan kepentingan.
Menjaga kerahasian nasabah dan banknya.
Dapat memperhitungkan dampak yang merugikandari setiap kebijakan yang ditetapkan banknya terhadap ekonomi, social dan lingkungannya.
Tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun keluarga.
Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya.
3. Dasar-dasar Etika Perbankan
Dalam praktiknya secara garis besar dasar-dasar dalam etika perbankan yang harus dijalankan oleh setiap karyawan adalah sebagai berikut:
Ingin membantu setiap keinginan dan kebutuhan nasabah sampai tuntas.
Selalu member perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi nasabah.
Sopan dan ramah dalam melayani nasabah tanpa melakukan diskriminasi dalam bentuan apapun.
Memiliki rasa toleransi yang tinggi dalam menghadapi setiap tindak tanduk para nasabah.
Menjaga perasaan nasabah agar tetap merasa tenang, nyaman dan menimbulkan kepercayaan.
Dapat menahan emosi dari setiap kasus yang dihadapi terutama dalam melayani nasabah yang berprilaku kurang baik.
Menyenangkan orang lain merupakan sikap yang harus selalu ditunjukkan oleh setiap karyawan bank.
A. Tanggungjawab dan Kewajiban Pimpinan Bank:
Mengembalikan seluruh atau sebagian simpanan pada waktu diminta oleh nasabah secara pribadi maupun dengan surat kuasa.
Menjaga kerahasiaan keuangan bank menurut kelaziman dalam dunia perbankan.
Memberi informasi yang akurat dan obyek jika diminta oleh nasabah.
Turut menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Menjaga dan memlihara organisasi, tata kerja dan administrasi dengan baik.
Menyalurkan kredit secara lebih selektif kepada calon debitur.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa disini pimpinan bank harus lebih mengutamakan kepentingan masyarakat luas daripada kepentingan bank atau pribadi.
Para pemegang saham pun harus mengetahui bahwa semua keputusan rapat pemegang saham harus sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Dan apabila ada kebijakan-kebijakan yang menyimpang dari anggaran dasar maka harus disetujui secara bersama. Selain itu para pemegang saham juga harus menyadari bahwa bisnis perbankan bukan bisnis untuk memperoleh atau mencari keuntungan semata, tapi bisnis perbankan lebih mengutamakan kepentingan social ekonomi masyarakat banyak.
Bisnis perbankan adalah bisnis yang terikat dalam suatu system moneter dalam Negara tertentu dan tinggi tingkat keterikatannya dengan lembaga perbankan atau lembaga keuangan secara keseluruhan maupun dengan kehidupan perekonomian Negara tersebut. Dengan demikian, bila salah satu bisnis perbankan tidak patuh terhadap standar etika perbankan, maka seluruh lembaga perbankan atau lembaga keuangan lainnya juga terkena dampaknya. Etika dan kewajibannya sehubungan dengan tugas di lingkungan perbankan untuk setiap petugas bank, bankir maupun pimpinan sebagai berikut :
Bank wajib memberikan laporan pada Bank Indonesia untuk mengetahui posisi perbankan dan moneter serta kegiatan perekonomian dan pemerintah dapat menentukan kebijakan ekonomi dan moneter.
Setiap bank wajib mengumumkan Neraca dan Laporan rugi-laba yang sebenarnya tiap tahun dengan diterbitkan pada surat kabar, agar masyarakat dapat mengetahuinya.
Bank wajib menjaga kerahasian keuangan para nasabah dari siapapun, kecuali jika ada syarat resmi dari Mentri Keuangan secara tertulis untuk keperluan perpajakan dan peradilan.
Petugas bank mempunyai kewajiban untuk tidak membicarakan tentang keuangan nasabahnya di luar kepentingan dinas dan berkewajiban untuk menjaga dan memelihara arsip atau surat-surat antara bank dengan nasabahnya.
Dalam hal pembayaran pajak, para bankir harus melaksanakan pemotongan pajak pendapatan atas gaji, upah atau honorarium para karyawannya dan berkewajiban membayar pajak perusahaan.
Bank harus mengupayakan untuk selalu dapat memenuhi janji atau persetujuan yang telah disepakati dengan para nasabahnya.
Bank juga harus memberikan nasihat yang obyektif, tidak memihak dan tidak mengikat bagi para nasabahnya. Sebab, nasabah yang datang ke bank adakalanya penuh suasana serba tidak pasti, jenis jasa apa yang sebaiknya akan dipilihnya. Oleh karenanya, bank harus dapat menampilkan beberapa pilihan produk / jasa bank bagi para nasabahnya.
Salah satu hal yang harus dihindari antara bankir dan nasabah adalah menghindari adanya hubungan pribadi sehingga dapat menjurus ke arah hubungan hubungan yang kurang sehat misalkan, bankir memberikan kemudahan-kemudahan bagi seseorang nasabah dikarenakan adanya upeti atau gift dan sejenisnya. Karena hal ini akan merugikan nasabah lain yang berperilaku wajar dalam hubungan kerjanya dengan bank.
B. Dasar Etika Pelayanan (Peran Karyawan Dalam Membentuk Image Perusahaan) Sikap dan penampilan seorang customer service ataupun karyawan yang berhubungan langsung dengan nasabah merupakan kesan pertama dari para nasabah ketika ingin melakukan transaksi atau permintaan pelayanan. Kesan yang bersifat positif akan membawa dampak perasaan senang dari para nasabah sehingga mereka akan merasa senang, kerasan dan puas terhadap layanan, baik yang akan diterima maupun sesudah menikmati pelayanan yang diberikan. Tetapi sebaliknya bila kesan negatif yang diterima nasabah karena tindakan atau sikap penampilan customer service ataupun karyawan yang berhubungan langsung dengan nasabah maka para nasabah akan kecewa dan enggan berkunjung lagi dan hal ini akan berdampak negatif pula kepada image perusahaan. Sikap penampilan yang positif harus benar-benar diterapkan oleh semua karyawan, terutama pada bagian-bagian yang langsung berhubungan dengan para nasabah. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa sikap dan penampilan positif dari para karyawan, mempunyai peranan yang stategis dalam upaya menciptakan kondisi dan image positif bagi perusahaan.Biasakan segera memungut kertas atau kotoran-kotoran di tempat umum jika menemukan.
Bantulah membawakan barang jika diperlukan.
Terima saran para tamu dan ucapkan terima kasih atas sarannya.
Menyampaikan terimakasih atas kunjungannya.
Tindakan Untuk Memperbaiki Pelayanan
Memanggil dengan namanya.
Tersenyum kepada semua tamu sambil menatap matanya.
Sapa dan berbicara dengan tamu.
Dengarkanlah para tamu, tentang apa yang diinginkannya.
Sapa dan berbicara dan menyapa anak-anak yang menyertai tamu.
Bantulah mengambilkan barang yang jatuh atau memberikan dan memberikan jika ada yang tertinggal.
Contoh kasus Di Indonesia nama Bank BCA dan Bank Mandiri sudahlah tidak asing lagi. Kedua bank ini selalu bersaing dalam hal perebutan dana murah alias tabungan. Tidak heran, penawaran berbagai marketing produk tabungan di panggung iklan bak jamur pada musim hujan, baik di media cetak ataupun di media elektronik dan papan-papan reklame. Ini semua dilakukan bank untuk menjaring nasabah dan juga untuk menjaga brand awareness akan produk tabungan. Yang dilakukan bank-bank untuk nasabahnya tidak berhenti sampai disitu. Begitu calon nasabah menjadi nasabah, bankpun melancarkan strategi dengan memanjakan nasabah melalui program loyalitas.
Mulai dari layanan yang paling dasar, seperti selalu menunjukan sikap ramah, sopan dan cepat tanggap dalam menangani keluhan-keluhan para staf bank kepada nasabahnya hingga kemudahan yang dikemas dan berbau teknologi informasi agar nasabah dapat melakukan transaksi serba cepat, ringkas nyaman dan yang paling utama adalah aman. Dan hasilnya, para nasabah setidaknya selalu melakukan transaksi secara rutin atau akan menggunakan produk-produk lain dari bank yang sama. Dan yang paling penting para nasabah tersebut tidak akan pindah ke tabungan bank lain meski ditawari fitur dan fasilitas yang lebih baik, bahkan para nasabah akam merekomendasikan tabungannnya pada rekan, saudara atau orang lain. Artinya, bila perilaku nasabah sudah seperti ini, giliran bank tersebut yang menjadi raja tabungan diantara bank-banklain. Dan ini adalah hasil secara kualitatif. Dari contoh diatas telah tergambar berbagai persaingan yang terjadi didunia perbankan di Indonesia. Tapi persaingan antara 2 bank besar tersebut di Indonesia sangatlah sesuai dengan etika bank. Karna,mereka mempromosikan produk dan jasa bank mereka dengan cara mengiklankan keunggulan produk mereka dan bukan saling menjatuhkan. Inilah yang paling terpenting.
5. Sikap dan Perilaku
Hal-hal yang membentuk sikap dasar profesional seorang karyawan sangat ditentukan oleh faktor yang melekat pada diri karyawan, diantaranya adalah:
Kepribadian yang meliputi :
A. Sopan santun dan ramah tamah
Seorang karyawan di bagian manapun harus bersikap hormat dan sopan kepada tamu atau nasabah, rekan sekerja atasan dan bawahan. Selain itu harus bersikap ramah tamah, walaupun mungkin dalam situasi berat dan lelah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kesan ramah dan sopan santun :
Berbicara dengan jelas dan irama yang menyenangkan.
Mempunyai kebiasaan tersenyum waktu berbicara.
Mengucapkan salam kepada para tamu/nasabah dan rekan kerja yang ditemui dilingkungan tempat kerja, lebih sopan dengan menyebut nama.
Tidak mempunyai kebiasaan memotong pembicaraan orang lain.
B. Jujur dan siap menolong
Faktor kejujuran merupakan hal yang utama ditanamkan bagi setiap calon karyawan maupun karyawan pada suatu perusahaan terutama perusahaan yang bergerak di bidang jasa, karena pada saat nasabah atau tamu dalam melakukan transaksi pastinya menginginkan rasa nyaman dan aman akan keberadaannya, hal ini dikaitkan dengan segala sesuatu informasi maupun harta yang dimiliki oleh nasabah.
Disinilah para karyawan diuji kejujurannya, karena sekali berbuat tidak jujur otomatis tidak akan dipercaya lagi, bahkan mengandung resiko berat bagi kelangsungan perusahaan. Sikap tidak jujur akan merugikan antara lain, nama perusahaan akan jatuh akibat ketidakjujuran karyawan dimata nasabah. Dengan sikap jujur para karyawan akan mendorong usaha tambah maju, yang berarti kemajuan pula bagi karyawan. Para nasabah ingin sesuatu bukan hanya yang berupa material tapi juga rasa aman dan service yang memuaskan. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi semua pelayan untuk bisa secara cepat dan tepat memberikan pertolongan atau bantuan yang diperlukan tamu. Bentuk pertolongan secara sederhana, misalnya, menawarkan
sesuatu tanpa diminta, bahkan tersenyum pun dapat dikategorikan sebagai pertolongan bagi para nasabah yang baru tiba di outlet kita.
C. Tepat waktu
Dalam bekerja berhubungan erat dengan waktu, sehingga diperlukan waktu baik dalam kehadiran jam kerja serta pelayanan kepada para nasabah yang memerlukan waktu. Untuk itu jadwal kerja yang sudah ditetapkan harus ditepati. Agar tidak terjadi beban hendaknya datang 15 menit lebih awal, sehingga kesiapan dan kesigapan dalam melayani para nasabah dapat dilakukan tepat waktu (terkesan tidak terburu-buru).
6. Penampilan
Dalam melayani nasabah, karyawan bank dituntut untuk berpenampilan semenarik mungkin, karena penampilan adalah hal pertama yang dilihat oleh nasabah.
Secara umum penampilan yang prima yang ditampilkan oleh setiap pegawai bank adalah:
Wajar maksudnya sikap dan tindakan setiap karyawan bank tidak dibuat-buat.
Dalam hal berpakaian harus selalu rapi, serasi dan bersih, dan tidak menggunakan aksesoris dan make-up yang berlebihan.
Selalu mengucapkan salam ketika bertemu atau berpisah dengan nasabah, termasuk ucapan terima kasih.
Selalu bersikap optimis dan tidak pesimis serta tidak ragu-ragu dalam bertindak, sehingga mampu memberikan kepada nasabah atas layanan yang diberikan.
Berprilaku yang baik lincah, gesit, mudah bergaul, dan cepat tanggap namun tidak over acting didepan nasabah atau tamu yang pada akhirnya dapat membuat nasabah jengkel.
Lemah lembut dan sopan santun dalam melayani tamu atau nasabah, membuat nasabah merasa dihargai oleh karyawan bank.
Selalu memberikan perhatian, tidak cuek dalam menghadapi tamu atau nasabah, dalam hal ini nasabah merasa memperoleh perhatian serius.
Selalu suka membantu sehingga nasabah merasa ringan dalam menghadapi urusannya.
Faktor penting yang harus dipahami dan diterapkan meliputi : penampilan, cara berbicara, keadaan fsik serta kesiapan membantu tamu, yang kesemuanya ini dirumuskan dalam singkatan PLEASE :
P Postur (sikap tubuh yang baik),
L Look and listen (senantiasa mengamati dan mendengarkan),
E Expression (raut muka yang menyenangkan),
A Appearance (peampilan yang pantas)
S Speech and smile (berbicara jelas dan tersenyum ramah)
E Eagerness to serve (bersemangat melayani)
F R A U D
1. Definisi Fraud
Fraud (kecurangan) merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara disengaja dan itu dilakukan untuk tujuan pribadi atau orang lain dan tindakan yang disengaja tersebut telah menyebabkan kerugian bagi pihak tertentu atau institusi tertentu. Dalam kata fraud itu sendiri dapat diartikan dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya seperti:
a. Kecurangan b. Kebohongan c. Penipuan d. Kejahatan
e. Penggelapan barang-barang f. Manupulasi data-data
g. Rekayasa informasi.
Beberapa pendapat para ahli tentang fraud menjelaskan :
Menurut Joel G.Siegel dan Jae K.shim (19999:200) bahwa : “Fraud (kecurangan merupakan tindakan yang disengaja oleh perorangan atau kesatuan untuk menipu orang lain yang menyebabkan kerugian. Khusunya terjadi misrepresentation (penyajian yang keliru). Untuk merusak, atau dengan maksud menahan data bahan yang diperlakukan untuk pelaksanaan keputusan yang terdahulu”.
2. Proses Fraud
Proses fraud biasanya terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Pencurian (theft) dari sesuatu yang berharga (cash, inventory, tools, supplies, equipment atau data)
b. Konversi (conversion) asset yang dicuri kedakm cash dan pengelabuhan / penutupan (concealment) tindakan kriminal agar tidak dapat terdeteksi.
3. Unsur-Unsur Fraud
Unsur-unsur fraud antara lain sekurang-kurangnya melibatkan tindakan penggelapan / penghilangan atau false representation dilakukan dengan sengaja, menimbulkan kerugian nyata atau potensial atas tindakan pelaku fraud.
Meskipun perusahaan secara hukum dapat menuntut pelaku firaud, temyata tidak mudah usaha untuk menangkap para pelaku fraud, mengingat pembuktiannya relatif sulit.
4. Penyebab / faktor pemicu fraud
Penyebab/faktor pemicu Fraud dibedakan atas 3 (tiga) hal yaitu :
a. Tekanan (Unshareable pressure / incentive) yang merupakan motivasi seseorang untuk melakukan fraud. Motivasi melakukan fraud, antara lain motivasi ekonomi, alasan emosional (iri / cemburu, balas dendam, kekuasaan, gengsi) dan nilai (value*).
b. Adanya kesempatan / peluang (Perceived Opportunity) yaitu kondisi atau situasi yang memungkinkan seseorang melakukan atau menutupi tindakan tidak jujur.
c. Rasionalisasi (Rationalization) atau sikap (Attitude), yang paling banyak digunakan adalah hanya meminjam (Borrowing) asset yang dicuri.
5. Bentuk-bentuk fraud
Sukrisno Agoes (2005:20) mengatakan bahwa kekeliruan dan kecurangan bisa terjadi dalam berbagai bentuk :
a. Intentional error
Kekeliruan bisa disengaja dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri dalam bentuk window dressing (merekayasa laporan keuangan supaya terlihat lebih baik agar lebih mudah mendapat kredtit dari bank) dan check kiting ( saldo rekening bank ditampilkan lebih besar sehingga rasio lancar terlihat lebih baik).
b. Unntentional error
Kecurangan yang terjadi secara tidak sengaja (kesalahan manusiawi), misalnya salah menjumlahkan atau penerapan standar akuntasi yang salah karena ketaktahuan.
c. Collusion
Kecurangan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dengan cara bekerja sama dengan tujuan untung menguntukan perusahaan atau pihak ketiga.
d. Intentional misrepresntation
Memberi saran bahwa sesuatu itu benar, padahal itu salah, oleh seseorang yang mengetahui bahwa itu salah.
e. Negligent misrepresentation
Pernyataan bahwa sesuatu itu salah seseorang yang tidak mempunyai dasar yang kuat untuk menyatakan bahwa itu betul.
f. False promises
Sesuatu janji yang diberiakn tanpa keinganan untuk memenuhi janji tersebut.
g. Employee fraud
Kecurangan yang dilakukan pegawai untuk menguntungkan dirinya sendiri.
Hal ini banyak kita temui di dalam kehidupan sehari-hari.
h. Management fraud
Kecurangan yang dilakukan management sehingga merugikan pihak lain, termaksud pemerintah. Misalnya manipulasi pajak, manupulasi kredit bank.
i. Organized crime
Kejatahan yang terorganisasi, misalnya pemalsuan kartu kredit, pengiriman barang.
j. Computer crime
Kejatahan dengan memanfaatkan teknologi computer, sehingga si pelaku bisa mentransfer dana dari rekening orang lain ke rekening sendiri.
k. White collar crime
Kejatahan yang dilakukan orang-orang berdasi (kalangan atas), misalnya mafia tanah, paksaan secara halus untuk merger, dan lain-lain.
6. Pencegahan dan pendeteksian fraud
Mengingat fraud merupakan problem yang sangat serius, maka perusahaan harus mengambil langkah-kangkah komperhensif untuk memproteksi system informasinya. Metode yang paling efektif untuk memperoleh security system yang mencukupi adalah terletak pada integritas (integrity) karyawan perusahaan. Perusahaan dapat mengambil langkah untuk meningkatkan intergritas karyawan dan mengurangi kemungkinan karyawan
melakukan fraud dengan memperhatikan :
a. Hiring & firing practices.
Dalam melakukan penerimaan dan pemecatan karyawan harus dilakukan dengan berhati-hati dan selektif.
b. Managing disgruntled employes.
Banyak karyawan yang melakukan fraud adalah dalam rangka mencari pembalasan atau justice terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah ditimpakan kepada mereka.
c. Employee training.
Fraud jauh lebih sedikit akan terjadi dalam lingkungan dimana para karyawan percaya bahwa keamanan (security) merupakan tanggung jawab bersama baik karyawan maupun manajemen. Salah satu cara untuk mencegah timbutnya fraud adalah dengan merancang sebuah sistem yang dilengkapi dengan internal control yang cukup memadai sehingga fraud sukar dilakukan oleh pihak luar maupun orang dalam perusahaan.
7. Fraud Pada Laporan Keuangan
Pihak yang paling membutuhkan laporan keuangan adalah investor karena investor menjadikan laporan keuangan sebagai bagian yang bisa memberinya suatu masukan dalam mendorong keputusannya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh White, Sodhi, dan Fried (2003:174) bahwa laporan keuangan sering digunakan sebagai benchmark untuk menilai kinerja manajer perusahaan. Fraud juga dapat berbentuk manipulasi, manipulasi tersebut dapat dilakukan dengan mengakui biaya sekarang ( current cost) sebagai biaya masa depan (future cost) dan pendapatan masa depan sebagai pendapatan sekarang.
8. Fraud pada Bidang Kredit
No Bentuk-bentuk tindakan Fraud
1 Memanupulasi data laporan keuangan untuk tujuan-tujuan tertentu
2 Melaporkan bahwa keuntungan perusahaan setiap tahunnya terjadi peningkatan dengan tujuan agar pencairan kredit dapat terlaksana.
3 Melaporkan bahwa keuntungan perusahaan kecil atau rendah dengan tujuan agar pengenaan pajak yang dibebankan juga rendah.
4 Melaporkan kepada pihak kreditur bahwa beberapa proyek yang dikerjkan sedang mengalami masalah serius dan tidak dapat dihindari contoh bencana banjir, longsor dll.
Dengan tujuan agar mendapat keringanan atau nahkan dihapus bukukan ats segala kewajibannya.
5 Pihak manajemen perusahaan bekerja sama dengan pihak akuntan public dalam menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan yang diinginkan.
6 Membeli kendaraan secara kredit, tetapi beberapa waktu kemudian melaporkan bahwa kendaraan tersebut telah hilang padahal telah dijual kepihak lain. Dengan tujuan agar kendaraan tersebut mendapat ganti rugi.
Dari situasi seperti di atas memungkinkan sekali pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan fraud yaitu dalam bentuk rekayasa laporan keuangan dengan berbagai tujuan seperti salah satunya melakukan rekayasa menaikan laba bersih.