Konsep Kunci
Kombinasi Bisnis adalah peristiwa dimana
sebuah entitas memperoleh pengendalian atas
entitas lain
Konsep Kunci
Investor mengendalikan investee, ketka investor terekpos atau memiliki hak
atas imbal hasil variabel dari keterlibatannya atas
investee serta memiliki kemampuan untuk mempengaruhi imbal hasil tersebut melalui kekuasaan
atas investee
KOMBINASI BISNIS DAN PENGENDALIAN
DEFINISI
Pembelian entitas yang sudah ada untuk digabungkan dengan entites yang sudah ada, diartikan sebagal proses mengombinasikan bisnis sehingga
transaksi ini dikenal dengan istilah business combination atau pernah juga digunakan istilah penggabungan usaha. PSAK (Penyesuaian 2014) Kombinasi Bisnis, mendetinisikan kombinasi bisnis sebagal transaksi atau peristiwa di mana sebuah entitas menperoleh pengendalian atas entitas lain.
PSAK 22 (Revisi 2010) mendefinisikan pengendalian sebagal
kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional suatu entitas untuk memperoleh manfaat dari aktivitas entitas tersebut.
PENGENDALIAN
Definisi pengendalian sebelumnya dijelaskan dalam PSAK 22 (Penyesuaian 2014) sebagai kekuasaan untuk mengatur keuangan dan operasi entitas yang diakuisisi. Namun definisi pengendalian tersebut akhirnya seiring dengan terbitnya PSAK 65 Laporan Keuangan Konsolidasian dan PSAK 22 (Penyesuaian 2014)
Kombinasi Bisnis. Menurut PSAK 65, investor mengendalikan investee ketika :
1. Investor memiliki kekuasaan (power) atas investee 2. Investor terekspos atau memiliki hak atas imbal hasil
variabel (variable return) dari keterlibatannya dengan investee.
3. Investor memiliki kemampuan untuk memengaruhi imbal hasil tersebut melalui kekuasaannya atas investee.
Investor memiliki kekuasaan atas investee ketika investor memiliki kemampuan untuk mengarahkan aktivilas relevan. Aktivitas relevan adalah aktivitas vang secara signifikan memengaruhi imbal hasil investee. Investor dikatakan terekspos atau memliki hak atas imbal hasil variabel dari keterlihatannya dengan investee, ketika imbal hasil yang diterima investor atas keterlibatannya, bervariasi tergantung dari kinerja investee. Imbal hasil bisa positif, negatif atau
kombinasinya. Investor mengendalikan investee jika investor tidak hanya memiliki kekuasaan atas investee dan eksposur atau hak atas imbal hasil variabel atas keterlibatannya dengan investee, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuasaannya dalam mempengaruhi imbal hasil investor atas keterlibatannya dengan investee.
Berikut ini contoh paling sederhana; PT AMAN yang merupakan pemegang saham mayoritas atas PT MUJUR. Sebagai pemegang saham mayoritas, investor PT AMAN berhak atas PT MUJUR dari hak suara yang dimilikinya. Selain itu, imbal hasil yang akan diterima PT AMAN adalah dividen yang nilainya tergantung dari kinerja (laba) PT Mujur. Dengan kekuasaan yang dimiliki, PT AMAN dapat menentukan jumlah dividen yang akan diterima dari PT MUJUR. Berbeda halnya dengan PT CERAH yang memiliki obligasi PT MUJUR, obligasi tidak memiliki hak suara dan imbal hasil (bunga) bersifat tetap. Oleh karena itu, PT CERAH tidak memiliki pengendalian atas PT MUJUR, meskipun memiliki seluruh obligasi PT MUJUR.
Investor mengendalikan investee ketika investor terekspos atau memiliko hak atas imbal hasil variabel dari keterlibatannya dengan investee dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi imbal hasil tersebut melalui kekuasaannya atas investee. Hak imbal hasil variabel adalah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham Pengendalian terjadi jika investor memiliki hak untuk menentukan jumlah dividen yang dibagikan. Jumlah dividen yang dibagikan ditentukan dalam rapat umum pemegang saham. Jika pemegang saham memiliki suara mayoritas dalam rapat umum saham maka pemegang saham tersebut dapat menentukan kapan dan jumlah dividen yang akan dibagikan.
Mempengaruhi imbal hasil dapat juga diartikan kemampuan mempengaruhi aktivitas relevan pada perusahaan investee. Aktivitas relevan adalah aktivitas utama dan signitikan memengaruhi kinerja imvestee. Kemampuan investor terekspos atau memiliki hak atas imbul hasil variabel dari keterlibatannya dengan investee dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi imbal hasil tersebut melalui kekuasaannya atas investee.
Dalam transaksi kombinasi bisnis harus dipastikan bahwa transaksi tersebut merupakan pembelian sebuah bisnis hukan pembelian aset perusahaan secara terpisah. Menurut PSAK 22 (Penyesuaian 2014), bisnis adalah suatu rangkaian terpadu dari kegiatan dan aset yang mampu dikelola dengan tujuan memberikan hasil dalam bentuk dividen, efisiensi biaya atau manfaat ekonomi lainnya secara langsung kepada pemilik entitas. Suatu rangkaian terpadu dari kegiatan tersebut paling tidak meliputi input, proses, dan output.
Industri perkapalan misalnya, setiap kapal berbentuk satu perusahaan. Pada akuisisi kapal hanus dipastikan bahwa akuisisi tersebut terjadi atas bisnis kapal bukan kapal sebagai aset tetap ika akuisisi atas kapal beserta izin usaha dan infrastruktur lainnya maka akuisisi tersebut merupakan kombinasi bisnis. Namun jika akuisisi tersebut atas kapal tanpa disertai izin asaha dan lainnya, maka walaupun terjadi pembelian perusahaan, namun transaksi tersebut merupakan transaksi pembelian aset tetap.
IDENTIFIKASI KOMBINASI BISNIS.
Entitas pertama-tama harus menentukan apakah suatu transaksi merupakan kombinasi bisnis atau bukan dengan menerapkan definisi dalam standar bahwa aset dan labilitas yang diambil merupakan suatu bisnis. Panduan aplikasi pada PSAK 22 (Penyesuaian 2014) menjelaskan lebih rinci untuk membedakan transaksi adalah bisnis kombnasi atau penjualan aset tetap.
Dalam melakukan pencatatan transaksi kombinasi bisnis PSAK 22 (Penyesuaian 2014) mengharuskan menggunakan metode akuisisi. Pada kombinasi bisnis dengan metodle akuisisi disyaratkan dilakukan hal hal berikut :
1. Mengindentifikasi pihak pengakuisisi. Salah satu dari entitas dalam kombinasi bisnis diidentifikasi sebagai pihak pengakuisisi yaitu entitas yang memperoleh pengendalian atas pihak yang diakuisisi
2. Menentukan tanggal akuisisi. Pihak pengakuisisi mengidentifikasi tanggal akuisisi, yaitu tanggal pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian atas pihak yang diakuisisi.
3. Mengakui dan mengukur aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan kepentingan non pengendali pihak yang diakuisisi. Pada tanggal akuisisl, pihak pengakuisisi mengakui secara terpisah berupa goodwill, aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan kepentingan non pengendali dari pihak yang diakuisisi. Pihak pengakuisii mengukur aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih dengan nilai wajar pada tanggal akuisisi.
4. Mengakui dan mengukur goodwill atai keuntungan dari pembelian dengan diskon
Akuntansi kombinasi bisnis terkait dengan pencatatan Akuntansi untuk pihak yang melakukan akuisisi atau pengakuisisi. Dalam setiap kombinasi bisnis harus dilakukan diidentifikasi pihak pengakuisisi. Biasanya pihak pengakuisisi adalah pihak yang membeli atau mengakuisisi entitas lain. Namun dalam situasi tertentu tidak mudah untuk menentukan pihak mana pengakuisisinya. Jika pihak pengakuisisi sulit diidentifikasi ada beberapa kriteria yang dapat
digunakan sebagai pedoman untuk menentukan pihak pengakuisisi antara lain:
1. Pihak pengakuisisi hiasanya dari sisi ukuran lebih besar.
2. Pihak pengakuisisi yang mengalihkan aset, saham, atau sumber daya untuk memperoleh kepemilikan bisnis tersebut.
Namun dapat terjadi kondisi sebailikuya. pihak yang yang mengeluarkan aset, saham atau sumber daya justru menjadi pihak yang diakuisisi. Kondisi ini disebut akuisisi terbalik atau reverse acquisition
Pada tanggal akuisisi, pihak pengakuisisi mengakui, secara terpisah dari goodwill, aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan kepentingan non pengendali pihak ne diaksuisisi. Untuk memenuhi kualifikasi pengakuan dalam metode akuisisi, aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambii-alih mempunyai persyaratan sebagai berikut:
1. Memenuhi definisi aset dan liabilitas sesuai dengan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK) pada tanggal akuisisi.
2. Merupakan bagian yang dipertukarkan antara pihak pengakuisisi dan pihak yang diakuisisi dalam transaksi kombinaal bisnis, bukan hasil transaksi terpisah di luar kombinasi bisnis.
Dalam imenentukan aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih memungkinkan munculnya aset tak berwujud yang sebelumnya tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi. Misalnya, pihak pengakuisisi mengakui aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi yang diperoleh, seperti merek, paten atuu habungan pelanggan, yang tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi sebagai aset dalam laporan keuangannya karena pihak yang diakuisisi Misalnya pihak pengakuisisi mengakui aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi yang diperoleh seperti mereka, paten atau hubungan pelanggan yang tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi sebagai aset dalam laporan keuangannya karena fihak yang diakuisisi mengembangikannya secara internal dan sebelum kombinasi bisnis menperlakukan biaya terkait sebagai beban.
AKUNTANSI KOMBINASI BISNIS
Pengakuan dan Pengukuran Aset dan Llabilitas
Dalam suatu kombinasi bisnis, akuisisi dilakukan terhadap aset dan liablitas, dapat Susi menghasilkan goodwill. Jika akuisisi tidak dilakukan secara penuh, maka bagian yang tidak diakuisisi, disebut kepentingan non pengendali. Pihak pengakuisisi mengakui secara terpisah berupa goodwill, aset terindikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih dan kepentingan non pengendali dari pihak yang diakuisisi. Aset dan liabilitas tersebut pada umumnya diklasifikasikan
sebagaimana klasifikasi yang ada dalam PSAK lain.
Pihak pengakuisisi mengukur aset teridentilikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih dengan nilal wajar pada tanggal akuisisi. Pengukuran nilai wajar atas aset dan liabilitas , mengacuh pada pengukuran nilai wajar pada PSAK 68 (2013) Pengukuran Nilai Wajar, kecuali pengukuran tersebut sudah diatur secara spesitik pada PSAK tertentu srperti imbalan kerja pajak penghasilan, dan liabilitas kontinjensi.
Biaya Transaksi
Transaksi kombinasi bisnis butuh biaya yang besar. Biasanya biaya tersebut dikeluarkan oleh pihak pengakuisisi, namun tidak menutup kemungkinan pihak yang diakuisisi juga akan mengeluarkan biaya. Biaya tersebut mencakup biaya makelar (finder fees), advis, hukum, akuntansi, penilaian, dan biaya profesional atau konsultasi lainnya, biaya administrasi umum dan biaya pendaftaran serta penerbitan efek utang dan efek ekuitas, Biaya-biaya terkait akuisisi tersebut diakui sebagai beban pada periode saat baya tersebut terjadi dan jasa diterima, kecuali biaya untuk menerbitkan efek utang dan efek ekuitas. Jika pihak pengakuisisi menerbitkan efek sebagai imbalan yang dialihkan dalam suatu kombinasi bisnis, maka biaya tersebut diakui sebagai pengurang premium atau agio/tambahan modal disetor yang timbul atas penerbitan efek tersebut.
Ketentuan ini mengacu pada PSAK 55 (Revisi 2013) Instrumen Kenangan-Pengakuan dan Pengukuran.
Imbalan yang Dialihkan
Dalam suatu kombinasi bisnis, pihak pengakuisisi membayar imbalan kepada pihak yung dakuisisi atas akuisisi yang dilakukan. Akuisisi pada prinsipnya adalah pembelian sebuah bisnis seperti halnya pembelian suatu aset secara tunal, maka imbalan yang dialihkan atas pembelian tersebut adalah kas. Imbalan dalam kombinasi bisis dapat berupa kas aset non kas lainnya, efek utang atau efek ekuitas yang diterbitkan oleh pihak pengkuisisi. Imbalan yang dialihkan dalam suatu kombinasi bisnis diukur pada nilai wajar, yang dihitung sebagai hasil penjumlahan dari nilai wajar tanggal akuisisi atas seluruh aset yang dialihkan oleh pihak pengakuisisi, liabilitas yang diambil alih oleh pihak pengakuisisi kepada pemilik pihak yang diakuisisi sebelumnya. Jika imbalan yang dialihkan berupa kas, maka nilai wajarnya sama dengan nilai nominalnya. Namun jika imbalan yang dialihkan selain kas, maka timbul konsekuensi harus diukur pada nilai wajar.
Pengukuran nilai wajar atas imbalan yang dialihkan mengacu kepada pengukuran nila wajar pada PSAK 68 (2013)
Konsep Kunci
Untuk akuisisi aset dan liabilitas, goodwil diakui dalam laporan keuangan
pihak pengakuisisi.
Sedangkan pada akuisisi saham, goodwill yang timbul
pada diakui terlebih dahulu dalam saldo investasi.
Goodwill
Goodwill adalah aset vang diklasifikasikan sebagai aset tak berwujud. Goodwill muncul pada saat entitas melakukan akuisisi entitas lain. Goodwill diakui oleh entitas yang melakukan akuisisi. Goodwill mencerminkan manfaat ekonomi yang timbul dari aset yang diperoleh dalam kombinasi bisnis yang tidak dapat diindentifikasikan secara individu, sehingga harus diakui secara terpisah.
Goodwill akan terjadi jika harga perolehan dari entitas yang diakuisisi lebih tinggi dibandingkan nilai wajar entitas yang diakuisisi. Pada saat terjadi goodwill pihak pengakuisisi membeli dengan harga yang lebih mahal dari nilai wajar entitas yang diakuisisi. Pada transaksi tersebut nilai aset phak pengakuisisi telah menunjukkan nilal wajar pada tanggal tersebut, maka kelebihan harga beli tersebut tidak dapat diidentifikanikan ke aset yang ada sehingga harus diakui dalam mbentuk aset baru, yaitu goodwill. Pihak pengakuisisi bersedia membayar lebih mahal karena memandang ada nilai lebih yang akan dihasilkan oleh entitas yang diakuisisi melebihi nilai wajarnya. Kelebhan mungkin disebabkan karena jaringan pemasaran, teknologi, keandalan SDM dan lain-lain.
Uintuk akuisist aset danliabilitas, goodwill diakui dalam laporan posisi keuangan pihak pengakuisisi. Sedangkan pada akuisisi saham, goodwill yang timbul diakui dalam saldo investasi dalam laporan posisi keuangan pihak pengakuisisi dan akan diakui secara terpisah laporan posisi keuangan konsolidasian.
Pencatatan Transaksi Kombinasi Bisnis.
Pencatatan transaksi kombinasi bisnis sangat dipengaruhi bagaimana bentuk transaksi tersebut dilakukan. Transaksi kombinasi bisnis akan dicatat oleh pihak yang diakuisisi juga pihak yang melakukan akuisisi. Pencatatan pada bab ini difokuskan pada pencatatan oleh pihak yang melakukan akuisisi. Transaksi kombinasi bisnis secar umum dapat dikategorikan pada transaksi berikut :
1. Entitas yang diakuisisi meniual aset bersih dan kemudian entnas tersebut dibubarkan.
2. Entitas yang mengakuisisi menerima aset dari entitas yang dibuharkan . 3. Entitas yang diakuisi menjual aset namun entitas tdak dibubarkan.
4. Entitas yang imengakuisisi menerma aset dari entitas yang tidak dibubarkan.
5. Entitas mengakuisisi kepemilikan entitas lain dan entitas tersebut tidak dibubarkan Untuk pencatatan pihak yang mengakuisi terdapat perbedaan jurnal jika pihak pengakuisisi menerima aset dan tidak menerima aset. Jika pihak pengakuisi menerima aset atau sering diistilahkan sebagai legal merger, pihak pengakuisisi akan mengakui seluruh aset dan liabilitas pihak yang diakuisi berdasarkan nilai wajar serta mencatat imbalan yang diserahkan dalam rangka akuisisi tersebut. Jika terdapat perbedaan antara nilai perolehan dan nilai wajar aset, akan diakui sebagai goodwill, Pihak yang diakuisi akan menerima kas dari pihak pengakuisi, kemudian melakukan proses likuidasi perusahaan dengan membagikan kas tersisa kepada pemilik perusahaan. Dapat pula terjadi akuisisi aset dan liabilitas tersebut tidak diikuti dengan pembubaran entitas yang diakuisi, Jika hal itu terjadi penerimaan kas dari pihak yang mengakuisini akan dicatat sebagai aset entitas dan sebagai lawannnya nilai aset dan liabilitas akan dihapuskan dari pembukuan, Setelah akuisisi tersebut dilakukan entitas yang diakuisi akan melanjutkan usahanya dengan uang kas yang diperolehnya dari proses akuisisi tersebut.
Akuisisi perusahaan dapat juga terjadi tanpa pembubaran pihak yang diakuisisi. Ada dua kemungkinan transaksi yang dilakukan oleh pihak pengakuisisi yaitu dengan melakukan transaksi langsung dengan pemegang saham atau transaksi dengan perusahaan. Jika transaksi dilakukan dengan pemegang saham, maka transaksi ini tidak nengubah ekuitas dan nilai aset entitas yang diakuisi, sehingga transaksi ini tidak dicatat oleh pihak yang diakuisisi. Hanya terjadi perubahan susunan pemegang saham, Untuk perusahaan yang telah terdaftar di pasar modal, transaksi yang lebih sering terjadi adalah pembelian saham langsung dari pemilik. Transaksi perubahan pengendalian biasanya tidak melalui pembelian langsung di pasar spot sehingga harus mengikuti mekanisme yang diatur di pasar modal. Jika transaksi ini dilakukan dengan perusahaan, maka perusahaan yang diakuisisi akan menerima uang sehingga terjadi tambahan modal.
Jika perusahaan yang diakuisisi tidak dibubarkan, maka pihak pengakuisisi akan mencatat kisi tersebut sebagai investasi pada entitas anak sebesar harga perolehan dan akan dicatat dengan mendebit investasi pada entitas anak dan mengkredit sebesar imbalan yang diserahkan Dalamm transaksi akuisisi imbalan yang diserahkan dapat berupa kas, aset selain kas dan saham perusahaan yang mengakuisisi atau saham perusahaan lain, Pada saat pihak pengakuisisi menyusun laporan keuangan, harus dibuat laporan keuangan konsolidasian. Investasi pada entitas anak tersebut akan dieliminasi dengan ekuitas entitas anak, sehingga aset dan utang entitas yang diakuisisi akan digabungkan.
Konsep Kunci Keuntungan atas pembelian diskon diakui dalam laporan
laba rugi pengakuisisi pada
tanggal akuisisi.
Pembelian Diskon.
Tidak semua akuisisi menghasilkan goodwill, Terkadang phak pengakuisisi melakukan pembelian pada nilai imbalan yang lebih rendah daripada nilai wajar aset teridentifikasi yang diperoleh aset dan liabilitas yang diambil alih. Kondisi ini disebut pembelian dengan diskon, yaitu suatu kombinasi bisnis dimana jumlah nilai wajar aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih melebihi nilai agregat (imbalan yang dialihkan + kepentingan
ekuitas yang sebelumnya dimiliki oleh pihak pengakuisisi + kepentingan nonpengendali pada pihak yang diakuisisi). Selisih tersebut diakui oleh pihak pengakuisisi sebagai keuntungan dalam laporan laba rugi pada tanggal akuisisi. Keuntungan tersebut ditribusikan kepada pihak pengakuisisi.
Akuisisi Bertahap.
Akuisisi bertahap terjadi ketika proses akuisisi entitas tidak dilakukan sekalgus tetapi sebelumya entitas pengakuisisi memiliki kepemilikan pada entitas yang diakusisi, Misalnya Entitas A saat ini memiliki 30% kepemilikan di Entitas B, kemudian Entitas A menambah kepemilikannya sebesar 25% sehingga Entitas A total memiliki 55% kepemilikan Entitas B. Jika dengan 55%
entitas A memperoleh pengendalian maka proses pembelian 25% saham tersebut merupakan bentuk akuisisi bertahap. Transaksi kombinasi bisnis akan diterapkan saat pembelian tambahan 25% saham Entitas B.
Seperti yang digambarkan pada ilustrasi sebelumnya, Bank Mandiri melakukan akuisisi secara bertahap dari 60% atas belasan bank-bank Pemerintah, kemudian ditambah 20% sehingga menjadi 80%. Pada akuisisi bertahap pada kasus ini, pegendalian sudah diperoleh oleh Bank Mandiri sejak akuisisi pertama, sehingga pada akuisisi tambahan tidak mengubah substansi pengendalian yang dimiliki Bank Mandiri.
Kombinasi Bisnis Tanpa Pengalihan Imbalan.
Ketika investor memiliki investasi pada saham entitas lain yang awalnya tidak memiliki pengendalian namun pengendalian dapat diperoleh tanpa adanya pengalihan imbalan. Hal ini dapat terjadi di antaranya karena :
1. Pihak yang diakuisisi membeli kembali sahamnya dari pihak lain sehingga pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian. Hal ini disebabkan jumlah lembar saham yang dimiliki pengakuisisi tetap namun jumlah lembar saham beredar berkurang sehingga
proporsi kepemilikan pihak pengakuisisi meningkat.
2. Hilangnya hak veto yang sehelumnya menghalangi pengakuisisi untuk mengendalikan.
Hal ini terjadi ketika pengakuisisi memiliki hak suara mayoritas, namun tidak memiliki pengendalian karena ada investor lain yang memiliki hak veto. Ketika hak veto investor lain tersebul hilang. maka pihak pengakuisisi akan memperaleh pengendalian dengan sendirinya.
3. Pengakuisisi dan yang diakuisisi sepakat untuk mengoumbinasikan bisnisnya dengan kontrak semata.
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN KOMBINASI BISNIS
Penyajian
Pada bagian sebelumnya telah dihahas babwa akuisisi terdiri dari 2 jenis yaitu akuisisi aset bersih dan akuisisi saham. Pada akuisisi aset bersih (merger dan konsolidasi), seluruh aset teridentifikasi dan liabilitas pihak yang diakuisisi langsung diakui secara individual pada tanggal akuisisi oleh pihak pengakuisisi pada nilai wajarnya. Dengan demiklan, aset dan liabibitas pihak yang diakuisisi tersebut, termasuk goodwill yang timbul akan digabungkaa dengan aset dan liabilitas pihak pengakuisisi dan disajikan pada laporan keuangan pihak pengakuisisi. Jadi, kombinasi bisnis dan kombinasi aset dan liabilitas secara akurtansi sudah langsung terjadi sejak awal akuisisi sechingga tidak diperlukan prosedur konsolidasi laporan keuangan lebih lanjut di kemudian hari.
Sedungkan pada akuisisi saham, selurah aset teridentifikasi dan liabilitas pihak yang diakuisisi tidak langsung diakui secara individual pada tanggal akuisisi oleh pihak pengakuisisi.
Dikuk nengakuisisi hanya mengakui saldo investasi sebagai representasi atas aset dan liabilitas tersebut, termasuk goodwill yang timbul saat akuisisi. Pada akhir periode pelaporan, jika memiliki pengendalian, pihak pengakuisisi akan mengonsolidasikan laporan keuangannya dengan pihak yang diakuisisi sehingga aset dan liabilitas kedua pihak akan disajikan pada laporan keuangan konsolidasian. Jadi, kombinasi bisnis serta kombinasi aset dan liabilitas secara akuntansi tidak terjadi bersamaan sejak awal akuisisi sehingga diperlukan prosedur konsolidasi laporan keuangan secara reguler di kemudian hari.
Pengungkapan
Berdasarkan PSAK 22 (Penyesuaian 2014), pihak pengakuisisi mengungkapkan informasi
yang memungkinkan pengguna laporan keuangan agar dapat mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari kombinasi bisnis yang terjadi, baik selama periode pelaporan berjalan ataupun setelah akhir periode pelaporan tetapi sebelum tanggalpenyelesaian laporan keuangan.
Pihak pengakuisisi juga mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan dapat mmengevaluasi dampak keuangan dari penyesuaian yang diakui pada periode pelaporan berjalan yang berhubungan dengan kombinasi bisnis yang terjadi pada periode tersebat atau periode pelaporan sebelumnya.
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN.
Ketika sebuah entitas melakukan transaksi kombinasi bisnis, laporan keuangan entitas tersebut akan berbeda dibandingkan dengan laporan keuangan entitas periode sebelumnya. Jika kombinasi bisnis tersebut dilakukan dengan melakukan akuisisi entitas lain dengan ukuran yang signifikan maka akan terjadi perubahan material atas komponen laporan keuangan.
Jika pembaca laporan keuangan ingin membandingkan laporan keuangan dari periode sebelumnya padahal entitas tersebut melakukan aksi korporasi kombinasi usaha, maka analisis harus dilakukan dengan hati-hati, Analisis biasanya akan memberikan perhatian besar apakah kinerja usaha sebelum dan sesudah dilakukan kombinasi mengalami perubahan atau tetap sama.
Bentuk Entitas
Jenis kombinasi bisnis bisa dibedakan dengan bentuk sebelum dan sesudah melakukan kombinasi bisnis. Berdasarkan bentuk hukum ini, kombinasi bisnis dapat diklasifikasi atas :
a. Merger (Statutory merger) adalah kombinasi bisnis yang dilakukan dengan menggabungkan dua atau lebih entitas, di mana entitas van diakuisisi dibubarkan serta semua aset dan liabilitasnya diambil-alih pihak yang mengakuisisi. Dalam merger harus ada pihak yang dibubarkan dan pihak yang tetap berdiri untuk menerima aset dari entitas yang dibubarkan, Bentuk ini sering juga disebut sebagai legal merger karens secara hukum entitas dibubarkan dan bergabung dengan perusahaan lain. Entitas yang masih berdiri akan menggabungkan aset dan liabilitasnya dengan aset dan liabiltas entitas yang diakuisisi.
PT DAYA
PT DAYA
X
PT MAYAb. Konsolidasi (Statutory consolidation) adalah kombinasi bisnis dengan membentuk satu entitas baru yang akan mengambil alih semua aset dan liabilitas entitas yang bergabung. Entitas baru yang dibentuk dengan mengambil alih semua aset dan liabilitas dari entitas yang bergabung yang telah dibubarkan.
c. Akuisisi (Stock acquisition) adalah kombinasi dengan membeli kepemilikan entitas yang diakuisisi, namun entitas yang diakuisi tetap berdiri hanya dikendalikan oleh entitas pengakuisisi. Bentuk akuisisi dilakukan dengan pembentukan perusahaan baru yang bertindak sebagai entitas holding, atau pihak pengakuisisi merupakan entitas yang sebelumnya telah ada. Pihak pengakuisisi atau entitas holding yang dibentuk akan menyusun laporan keuangan konsolidasian yang akan menggabungkan aset dan entitas dari semua anak yang berada di bawah kendalinya.
PT DAYA mengambil-alih aset dan liabilitas PT MAYA
PT DAYA dan PT MAYA tetap menjalankan aktivitas usaha masing-masing.
Saat membuat laporan keuangan konsolidasian, aset dan liabilitas PT MAYA disatukan dengan aset dan liabilitas PT DAYA.
.
X
PT DAYAX
PT MAYAPT PERKASA
PT DAYA PT DAYA
PT MAYA PT MAYA
Contoh 1 Akuisisi Saham - Imbalan berupa Kas
Pada 31 Desember 2015, PT Purnama mengakuisisi seluruh saham PT Rembulan dengan membayar tunai Rp 352,000,000 serta mengeluarkan biaya akuisisi Rp 20,000,000. Atas akuisisi tersebut, PT Rembulan tetap beroperasi sebagaimana biasanya. Informasi laporan keuangan kedua perusahaan pada saat itu adalah seperti berikut ini :
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember 2015
PT Purnama Nilai Buku
PT Rembulan
Nilai Buku Nilai Wajar
Kas 480,000,000 40,000,000 40,000,000
Piutang Usaha 280,000,000 70,000,000 65,000,000
Persediaan 340,000,000 60,000,000 100,000,000
Tanah 160,000,000 80,000,000 120,000,000
Bangunan dan Mesin 760,000,000 620,000,000 300,000,000 Akumulasi Penyusutan (380,000,000) (400,000,000)
Total Aset 1,640,000,000 470,000,000 625,000,000
Utang Usaha 170,000,000 110,000,000 110,000,000
Utang Wesel 300,000,000 240,000,000 240,000,000
Modal Saham - @ Rp 20,000 400,000,000
Modal Saham - @ Rp 12,000 36,000,000
Agio Saham 320,000,000 20,000,000
Laba ditahan 450,000,000 64,000,000
Total Liabilitas & Equitas 1,640,000,000 470,000,000
Jurnal yang harus dibuat untuk transaksi diatas (31 Desember 2015) adalah berikut ini :
Beban akuisisi 20,000,000
Kas 20,000,000
(a - Mencatat biaya akuisisi)
Investasi pada PT Rembulan 352,000,000
Kas 352,000,000
(b - Mencatat akuisisi PT Rembulan)
Jurnal yang dicatat oleh PT Purnama sargat sederhana karena tidak mencatat aset dan liablitas secara individuaL Hal ini disebabkan PT Rembulan tidak dibubarkan dan tetap menggunakan aset dan liabilitasnya dalarn operasi usahanya. Pada tiap akhir periode pelaporan, laporan keuangan PT Purnama dan PT Rembulan akan dikonsolidasikan. Jika akuisisi pada Contoh 1 diatas dilakukan dengan imbalan non kas, maka akun kas pada jurnal akuisisi diatas diganti dengan akun imbalan non kas tersebut dan diukur pada nilai wajar:
Contoh 2 Akuisisi Saham - Imbalan saham
Pada 31 Desember 2015, PT Purnama mengakuisisi seluruh saham PT Rembulan dengan memberikan imbalan dengan menerbitkan 11,000 lb saham, dengan nilai wajar Rp 30,000/lb untuk mengakuisisi seluruh PT Rembulan, PT Purnama mengeluarkan Rp20,000,000 untuk biaya legal serta biaya penerbitan saham Rp 30,000,000 Atas akuisisi tersebut, PT Rembulan tetap beroperasi sebagaimana biasanya.
Jurnal yang harus dibuat untuk transaksi diatas (31 Desember 2015) adalah berikut ini :
Beban akuisisi 20,000,000
Agio Saham 30,000,000
Kas 50,000,000
(a - Mencatat biaya akuisisi)
Investasi pada PT Rembulan 330,000,000
Modal Saham 220,000,000
Agio Saham 110,000,000
(b - Mencatat imbalan akuisisi PT Rembulan)
Contoh 3 : Konsolidasi : Aset bersih - Imbalan berupa Kas
Pada 31 Desember 2015, PT Bulan mengakuisisi seluruh aset bersih PT Purnama dan PT Rembulan dalam sebuah statutory consolidation. Akuisisi ini menyebabkan dibubarkannya PT Purnama dan PT Rembulan dan bergabung menjadi entitas baru yaitu PT Bulan, Informasi laporan keuangan untuk PT Purnama dan PT Rembulan pada saat itu sebagai berikut :
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember 2015
PT Purnama PT Rembulan
Nilai Buku Nilai Wajar Nilai Buku Nilai Wajar
Kas 480,000,000 480,000,000 40,000,000 40,000,000
Piutang Usaha 280,000,000 270,000,000 70,000,000 65,000,000 Persediaan 340,000,000 300,000,000 60,000,000 100,000,000
Tanah 160,000,000 200,000,000 80,000,000 120,000,000
Bangunan dan Mesin 760,000,000 600,000,000 620,000,000 300,000,000 Akumulasi Penyusutan (380,000,000) (400,000,000)
Total Aset 1,640,000,000 1,850,000,000 470,000,000 625,000,000 Utang Usaha 170,000,000 170,000,000 110,000,000 110,000,000 Utang Wesel 300,000,000 310,000,000 240,000,000 240,000,000 Mdl Saham - @ Rp 20,000 400,000,000
Mdl Saham - @ Rp 12,000 36,000,000
Agio Saham 320,000,000 20,000,000
Laba ditahan 450,000,000 64,000,000
Tot Liabilitas & Equitas 1,640,000,000 470,000,000
PT Bulan memberikan imbalan berupa uang Tunai sebesar Rp 1,800,000,000 untuk mengakuisisi aset netto PT Purnama dan PT Rembulan, PT Bulan mengeluarkan biaya legal sebesar Rp 50,000,000 atas akuisisi tersebut, goodwill yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut:
Imbalan yang diberikan 1,800,000,000
Aset bersih yg terindentifikasi 1,645,000,000
Goodwill 155,000,000
Jurnal yang diperlukan :
Beban akuisisi 50,000,000
Kas 50,000,000
(a - mencatat beban akuisisi PT Purnama & PT Rembulan)
Kas 520,000,000
Piutang Usaha 335,000,000
Persediaan 400,000,000
Tanah 320,000,000
Bangunan & Mesin 900,000,000
Goodwill 155,000,000
Utang Dagang 280,000,000
Utang Wesel 550,000,000
Imbalan yang dialihkan (Kas) 1,800,000,000 (b - mencatat akuisisi aset bersih PT Purnama & PT Rembulan)
Dibuat Neraca Awal sesaat setelah penggabungan usaha, dilakukan dengan menjumlahkan Neraca pengakuisisi (sblm Penggabungan Usaha) dengan jurnal a dan jurnal b.
PT Bulan
Laporan Posisi Keuangan per 31 Desember 2015
Kas 470,000,000
Piutang Usaha 335,000,000
Persediaan 400,000,000
Tanah 320,000,000
Bangunan dan Mesin 900,000,000
Goodwill 155,000,000
Total Aset 2,580,000,000
Utang Usaha 280,000,000
Utang Wesel 550,000,000
Imbalan yang dialihkan (Kas) 1,800,000,000
beban yang ditangguhkan (50,000,000)
Total Liabilitas & Equitas 2,580,000,000
Jika imbalan berupa Kas, ada kesulitan yang berarti terkait imbalan kas, jika langsung diperhitungkan maka Kas akan bersaldo minus, padahal itu tidak mungkin, oleh karena itu ada
pendekatan Imbakan berupa kas itu pada PT Bulan akan deijadikan dasar sebagai Modal, dan yang lebih memungkinkan adalah Modal Saham, itu sebabnya kemudian ada kecenderungan kasus seperti ini, sekalian imbalannya berupa saham PT Bulan (baru) yang diterbitkan terkait statutory consolidation.
Contoh 4 : Konsolidasi : Aset bersih - Imbalan saham
Kasus sama seperti Contoh Kasus 3. Pada 31 Desember 2015, PT Bulan mengakuisisi seluruh aset bersih PT Purnama dan PT Rembulan dalam sebuah statutory consolidation.
Akuisisi ini menyebabkan dibubarkannya PT Purnama dan PT Rembulan kemudian bergabung menjadi entitas baru yaitu PT Bulan. PT Bulan memberikan imbalan saham yang baru diterbitkan (par Rp 20,000) sebanyak 100,000 lembar, untuk mengakuisisi aset netto PT Purnama & PT Rembulan, PT Bulan mengeluarkan biaya legal sebesar Rp 50,000,000 atas akuisisi tersebut serta biaya2 terkait penerbitan saham sebesar Rp 65,000,000, goodwill yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut:
Imbalan yang diberikan 2,000,000,000
Aset bersih yg terindentifikasi 1,645,000,000
Goodwill 355,000,000
Jurnal yang diperlukan :
Investasi 2,000,000,000
Modal Saham 2,000,000,000
(a - mencatat imbalan akuisisi PT Purnama & PT Rembulan)
Beban akuisisi 50,000,000
Agio Saham 65,000,000
Kas 115,000,000
(b - mencatat beban akuisisi PT Purnama & PT Rembulan)
Kas 520,000,000
Piutang Usaha 335,000,000
Persediaan 400,000,000
Tanah 320,000,000
Bangunan & Mesin 900,000,000
Goodwill 355,000,000
Utang Dagang 280,000,000
Utang Wesel 550,000,000
Investasi 2,000,000,000
(c - mencatat akuisisi aset bersih PT Purnama & PT Rembulan)
Dibuat Neraca Awal sesaat setelah penggabungan usaha, dilakukan dengan menjumlahkan
Neraca pengakuisisi (sblm Penggabungan Usaha) dengan jurnal a , Jurnal b dan jurnal c.
PT Bulan
Laporan Posisi Keuangan per 31 Desember 2015
Kas 405,000,000
Piutang Usaha 335,000,000
Persediaan 400,000,000
Tanah 320,000,000
Bangunan dan Mesin 900,000,000
Goodwill 355,000,000
Total Aset 2,715,000,000
Utang Usaha 280,000,000
Utang Wesel 550,000,000
Modal Saham 2,000,000,000
Agio Saham (65,000,000)
Laba ditahan (50,000,000)
Total Liabilitas & Equitas 2,715,000,000
Contoh 5 : Konsolidasi : Aset bersih - Imbalan saham
Kasus sama seperti Contoh Kasus 4. Pada 31 Desember 2015, PT Bulan mengakuisisi seluruh aset bersih PT Purnama dan PT Rembulan dalam sebuah statutory consolidation.
Akuisisi ini menyebabkan dibubarkannya PT Purnama dan PT Rembulan kemudian bergabung menjadi entitas baru yaitu PT Bulan. PT Bulan memberikan imbalan saham yang baru diterbitkan (par Rp 20,000) sebanyak 70,000 lembar, untuk mengakuisisi aset netto PT Purnama & PT Rembulan, PT Bulan mengeluarkan biaya legal sebesar Rp 50,000,000 atas akuisisi tersebut serta biaya2 terkait penerbitan saham sebesar Rp 65,000,000, goodwill yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut:
Imbalan yang diberikan 1,400,000,000
Aset bersih yg terindentifikasi 1,645,000,000
Goodwill (245,000,000)
Jurnal yang diperlukan :
Investasi 1,400,000,000
Modal Saham 1,400,000,000
(a - mencatat imbalan akuisisi PT Purnama & PT Rembulan)
Beban akuisisi 50,000,000
Agio Saham 65,000,000
Kas 115,000,000
(b - mencatat beban akuisisi PT Purnama & PT Rembulan)
Kas 520,000,000
Piutang Usaha 335,000,000
Persediaan 400,000,000
Tanah 320,000,000
Bangunan & Mesin 900,000,000
Utang Dagang 280,000,000
Utang Wesel 550,000,000
Agio Saham 245,000,000
Investasi 1,400,000,000
(c - mencatat akuisisi aset bersih PT Purnama & PT Rembulan)
Dibuat Neraca Awal sesaat setelah penggabungan usaha, dilakukan dengan menjumlahkan Neraca pengakuisisi (sblm Penggabungan Usaha) dengan jurnal a , Jurnal b dan jurnal c.
PT Bulan
Laporan Posisi Keuangan per 31 Desember 2015
Kas 405,000,000
Piutang Usaha 335,000,000
Persediaan 400,000,000
Tanah 320,000,000
Bangunan dan Mesin 900,000,000
Total Aset 2,360,000,000
Utang Usaha 280,000,000
Utang Wesel 550,000,000
Modal Saham 1,400,000,000
Agio Saham 180,000,000
Laba ditahan (50,000,000)
Total Liabilitas & Equitas 2,360,000,000