1
KECAMATAN TOPOYO KABUPATEN MAMUJU TENGAH
Oleh
ISMAWARNI NIM 13.3100.007
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020
KOMUNIKASI INTERPERSONAL KEPALA DESA DALAM MEMBINA GENERASI MUDA DI DESA PASAPA
KECAMATAN TOPOYOKABUPATEN MAMUJU TENGAH
Oleh
ISMAWARNI NIM: 13.3100.007
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos.) Pada Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin
Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Parepare
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020
KOMUNIKASI INTERPERSONAL KEPALA DESA DALAM MEMBINA GENERASI MUDA DI DESA PASAPA
KECAMATAN TOPOYOKABUPATEN MAMUJU TENGAH
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk mencapai Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Program Studi
Komunikasi Penyiaran Islam
Disusun dan diajukan oleh ISMAWARNI NIM. 13.3100.007
Kepada
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM JURUSAN USHULUDDIN ADAN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020
iii
iv
v
vi
KATA PENGANTAR
ِميِحَرلا ِنَْحَْرلا ِالله ِمْسِب
ُدْمَْلَْا َعلا ِ بَر لله
َ َْيِْمَلا
َا و.
ِهِلَا ىَلَعَو ٍدَّمَُمُ َنَِدِ يَس َْيِْلَسْرُمْلاَو ِءاَيِبْنَلأْا ِفَرْشَأ ىَلَع ُم َلََّسلاَو ُة َلََّصل
.َْيِْعَْجَْا ِهِبْحَصَو .ُهُلْوُسَر َو ُهُدْبَع اًدَّمَُمُ َّنَا ُدَهْشَا َو. ُهَل َكْيِرَش َلا ُهَدْحَو للهَّلاِا َهَلِا َلا ْنَا ُدَهْشَأ
َ ب اَّمَأ ْع ُد .
Allah adalah Zat yangkemuliaa-Nya melebihi dari segalah sesuatu yang dianggap mulia, dan pemberian-Nya melebihi dari sekedar apa yang dapat dirasakan oleh manusia, maka sudah sepantasnya sebagai makhluk yang berfikir senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepadaNya.
Shalawat serta salam senantiasa kita kirimkan kepada baginda nabi Muhammad saw, sebagai pelopor dan tokoh utama dalam perubahan peradabanummat manusia dimuka bumi ini. Nabi yang sangat mencintai ummatnya dan mencintai persatuan dalam kelembutan hati yang tercermin dari prilaku santun dan tutur kata yang mulia.
Penulis menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada AyahandaMalik dan Ibunda Hj. Nurmia tercinta berkat ridho nasihat dan do’anya yang tulus sehingga penulis mendapat kemudahan dalam menyelesaikan tugas akademik tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si selaku DekanIAIN Parepare yang telah bekerja keras mengelola, mengembangkan dan membina pendidikan di IAIN Parepare.
2. Dr. Muhammad Saleh, M.AgsebagaiKetuaJurusanDakwah dan Komunikasi yang telahbekerjakerasmengelolapendidikan di JurusanDakwah dan Komunikasi.
3. Penulis telah menerima banyak bimbingan dan bantuan dari Bapak Dr.
Muhammad Saleh, M.Ag dan Bapak Iskandar, S.Ag. M.Sos.I. selaku pembimbing I dan pembimbing II, atas segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, penulis sampaikan terima kasih.
4. Bapak dan ibu dosen serta seluruh staf IAIN Parepare yang telah mendidik, membimbing dan membantu penulis selama menempuh pendidikan di IAIN Parepare.
5. Kepalaperpustakaan IAIN Parepare beserta seluruh staf yang telah memberikan pelayanan kepada penulis selama menjalani penulisan skripsi.
6. Kepada sahabat seperjuangan penulis, Irmayani, kak Rusli, Hayana, Muh. Irfan, Mastura., Hasna, Ihsan, dan Irmayanti yang telah banyak memberikan sumbangsi pikiran, waktu, dukungan dan motivasi selama penulis dalam proses menyelesaikan tugas skripsi ini.
Alhamdulillah akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Penulis mengharapkan agar kiranya skripsi yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat dan menambahkan khazanah serta pengetahuan bagi pembaca terutama bagi penulis, aamiin
Parepare, 20 Oktober 2019 Penulis,
ISMAWARNI NIM.13.3100.007
viii
ix
ABSTRAK
Ismawarni, Komunikasi Interpersonal Kepala Desa Dalam Membina Generasi Muda Di Desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah(Dibimbing Muhammad Saleh dan Iskandar).
Penelitian ini membahas tentang komunikasi interpersonal kepala desa dalam membina generasi muda di desa PassapaKecamatan TopoyoKabupaten Mamuju TengahKomunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang melibatkan hanya dua orang secara tatap muka, baik secara verbal maupun non-verbal, seperti suami istri, dua sahabat dekat, bahkan kepala desa dengan masyarakat.. Kepala desa sebagai unit kemasyarakatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik.Akan tetapi permasalahan yang sering muncul di sebuah desa adalah kurangnya hubungan komunkasi antara kepala desa dengan masyarakat. Oleh karena itu, penulis mengangkat suatu judul untuk melihat komunikasi interpersonal kepala desa dalam membina generasi muda di desa PassapaKecamatan TopoyoKabupaten Mamuju Tengah.
Jenis penelitian ini bersifat kualitatif. Untuk memperoleh data pada penelitian ini. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan tekhnik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Serta untuk menganalisis data dalam penelitian ini melalaui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi interpsersonal kepala desa dalam pembinaan generasi muda di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah telah diterapkan. Komunikasi interpersonal ini berupa dialog, percakapan, bercerita dan sharing antara kepala desa Passapa dengan warga khususnya para pemuda. Dengan adanya komunikasi interpersonal dari kepala desa tersebut, maka pemuda mendengarkan segala aspirasi yang telah disampaikan oleh kepala desa sehingga dalam menyelesaikan segala masalah mudah terlaksana. Serta persatuan para pemuda di desa Passapa menjadi suatau hal yang sangat penting.
Kata kunci: Komunikasi Interpersonal Kepala Desa, Pembinaan Generasi Muda
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ii
HALAMAN PENGAJUAN iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PEMBIMBING v
HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PENGUJI vi
KATA PENGANTAR vii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ix
ABSTRAK x
DAFTAR ISI xi
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR LAMPIRAN xv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan Penelitian 4
1.4 Kegunaan Penelitian 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu 6
2.2 Tinjauan Teoritis 7
2.3 Tinjauan Konseptual 10
2.4 Defenisi Operasional 33
2.5 Kerangka Pikir 39
BAB III METODE PENELITIAN 42
3.1 Jenis Penelitian 42
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 42
3.3 Fokus Penelitian 43
3.4 Jenis dan Sumber Data 43
3.5 Tehnik Pengumpulan Data 44
3.5 Teknik Analisis Data 45
xi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 47
4.1 Gambaran Singkat Lokasi Penelitian 47
4.2 Model Komunikasi Interpersonal Kepala Desa Passapa 48 4.3 Bentuk Komunikasi Interpersonal Kepala Desa Passapa 55 4.4 Efek Komunikasi Interpersonal Kepala Desa Passapa 61
BAB V PENUTUP 68
5.1 Simpulan 68
5.2 Saran 69
DAFTAR PUSTAKA 70
LAMPIRAN-LAMPIRAN 72
xii
DAFTAR GAMBAR
No.Gambar Judul Gambar Halaman
2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian 39
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
No.Lamp. Judul Lampiran Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Tes Wawancara Penelitian Surat Keterangan Wawancara Dokumentasi
Surat Keterangan Meneliti Dari STAIN Surat Keterangan Meneliti dari Kabupaten Surat Telah Meneliti dari Desa Passapa Biografi Penulis
71 73 83 86 87 88 89
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Masalah
Komunikasi merupakan faktor yang paling mendukung untuk kesuksesan seseorang. Diantara banyak kompetensi yang harus dimiliki seorang komunikasi adalah kepandaian dalam komunikasi dengan efektif dan mudah dipahami dalam komunikasi. Kemampuan dalam berkomunikasi akan menjadi dasar upaya dalam membantu pemecahan masalah masyarakat, sehingga memudahkan dalam memberi bantuan baik dalam pelayanan secara psikologis.
Komunikasi adalah inti semua hubungan sosial, apabila orang telahmengadakan hubungan tetap,maka sistem koomunkasi yang mereka lakukan akan menentukan apakah sistem tersebut dapat mempererat atau mempersatukan mereka, mengurangi ketegangan atau melenyapkan persengketaan apabila muncul.1
Komunikasi adalah unsur dasar kehidupan sosial, dan sebuah pengertian tentangnya akan menjadi alat yang amat berdaya guna untuk memupuk hubungan yang bersifat produktif dan positif dalam seluruh bidang. Komunikasi merupakan
konsep dalam membangun sebuah hubungan dengan orang lain. Salah satu hasil paling penting dari komunikasi manusia adalah pengembangan kelompok atau unik sosial, dan tidak ada lagi unik sosial yang lebih sentral dalam kehidupan kita dari pada hubungan. Hubungan kita dengan orang tua, saudara, teman, karib, dan rekan sangat penting untuk pembelajaran, pertumbuhan, dan pengembangan judul.
Sebagian besar kegiatan komunikasi dengan tujuan tertentu terjadi dan berlangsung
1Widjaja Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (Palemang: Bumi Aksara,1986), h. 4
1
dalam hubungan.Salah satu komunikasi yang baik di terapkan oleh berbagai kalangan yaitu komunikasi interpersonal.
Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang melibatkan hanya dua orang secara tatap muka, baik secara verbal maupun non-verbal, seperti suami istri, dua sahabat dekat, bahkan kepala desa dengan masyarakat. Komunikasi yang terjadi antara kepala desa dengan masyarakat adalah komunikasi dua arah yang mana komunikasi ini akan lebih efektif jika komunikasi terjalin dengan terbuka, berempati, adanya dukungan, rasa positif, dan kesetaraan antara masyarakat.
Kepala desa merupakan salah satu perantara dalam membantu masyarakat menghadapi masalah. Kepala desa memiliki beberapa fungsi yang seharusnya setiap masyarakat memperhatikannya observasi gejala dan respon masyarakat.
Seorang kepala desa harus memiliki keterbukaan komunikasi dengan masyarakat siapapun, tanpa harus memandang status sosial dalam pelayanannya, menempatkan diri pada keadaan yang dialami oleh masyarakat, memberikan dukungan yang baik untuk kepentingan masyarakat, membangkitkan rasa positif yang ada pada diri masyarakat, dan memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa antara kepala desa dan masyarakat itu adalah sesuatu yang tak terpisahkan, sehingga masyarakat menganggap ada dan dihargai.
Pelayanan kepala desa merupakan bagian yang terpadu dari berbagai pelayanan masyarakat secara menyeluruh sekaligus menjadi tolak ukur suatu keberhasilan dalam mencapai tujuan dalam membina generasi. Bahkan tak jarang menjadi faktor penentu peranan kepala desa dimata masyarakat. kepala desa diibaratkan sebagai ujung tombak dalam membina generasi muda di desa tersebut.
Komunikasi adalah bagian penting dari suatu sistem pembinaan generasi muda yang mengedepankan pelayanan prima sebagai elemen utamanya. Kepala desa sebagai unit kemasyarakatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik. Hal tersebut sebagai akuntabilitas suatu lembaga masyarakat agar mampu bersaing dalam masyarakat lainnya.
Akan tetapi permasalahan yang sering muncul di sebuah desa adalah kurangnya hubungan komunikasi antara kepala desa dengan masyarakat sehingga penulis ingin meneliti bagaimana seorang kepala desa mampu dekat dengan masyarakat dan melakukan hubungan baik dan berkomunikasi sesuai yang diharapkan. Penulis juga ingin mengetahui tekhnik komunikasi yang digunakan kepala desa terhadap masyarakat yang baru dikenalnya, sehingga terjalin hubungan komunikasi yang efektif dan menjalin hubungan yang akrab terhadap masyarakat dalam pembinaan generasi muda.
Komunikasi bagi penulis adalah suatu ukuran yang paling penting dalam penelitian ini karena ucapan yang keluar dari bibir-bibir para komunikator adalah suatu pegangan bagi sang komunikasi. Jika seoarang kepala desa sudah mengungkapkan bahasa yang kurang nyaman bagi masyarakat akan menjadi sebuah hal yang menggangu bagi masyarakat. Dalam pembinaan generasi muda, komunikasi interpersonal kepala desa dalam membina generasi muda di desa Passapa kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah berupaya dengan semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan masyarakat bukan hanya dibagian kota tetapi menyeluruh dengan menitik beratkan pada kualitas pembinaan generasi muda dalam kemajuan suatu daerah.
Hal inilah yang melatar belakangi penulis sehingga mengangkat sebuah judul komunikasi interpersonal kepala desa dalam membina generasi muda di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah karena melihat kondisi dalam masyarakat desa Passapa seorang kepala desa harus memberikan pelayanan dan penghargaan terhadap masyarakat, dengan semaksimal mungkin dalam membina generasi.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah, sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana model komunikasi interpersonal kepala desa Passapadalam melakukan komunikasi di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah ?
1.2.2 Bagaimana bentuk komunikasi interpersonal kepala desa dalam upaya pembinaan generasi muda di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah?
1.2.3 Bagaimana efek komunikasi interpersonal kepala desa dalam upaya pembinaan generasi muda di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah?
I.3 Tujuan Peneltian
Semua penelitian mempunyai tujuan yang akan dicapai, berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan utama penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui model komunikasi interpersonal kepala desa Passapadalam melakukan komunikasi di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah ?
1.3.2 Untuk mengetahui bentukkomunikasi interpersonal kepala desa dalam upaya pembinaan generasi muda di Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah.
1.3.3 Untuk mengetahui efek komunikasi interpersonal kepala desa dalam upaya pembinaan generasi muda di desa Passapa Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara teoretis maupun praktis.
1.4.1 Diharapkan dapat menjadi bahan bacaan untuk mengembangkan keterampilan.
1.4.2 Sebagai bahan bacaan bagi bagi masyarakat agar komunikasi antara kepala desa dan generasi muda jauh lebih baik.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa rujukan sebagai bahan acuan yang berhubungan dengan skiripsi penulis yang akan diteliti sebagai berikut :
Penelitian terdahulu oleh Hanisa Hunading Tyas Dwi Putri mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakrta, dengan judul skiripsi penelitian adalah “ Komunikasi Interpersonal Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Humas di Kantor Sekretariat DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta”. Adapun jenis peneliitiannya adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal selalu digunakan oleh para pegawai humas di kantor sekretariat DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika sedang berbincang dengan rekan kerja maupun atasan dalam situasi informal, para pegawai menggunakan bentuk percakapan yang baik, santun dan sopan.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Abraham Wahyu Nugroho mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2009 dengan judul “Komunikasi Interpersonal Antara Perawat Dan Pasien”. Metode yang digunakan dalam peneletian ini adalah metode kualitatif. Penelitiannya menununjukkan bahwa Dalam proses komunikasi interpersonal di RS Dr. Moewardi, unsur komunikator (pengirim pesan) juga sekaligus berperan sebagai komunikan(penerima pesan). Hal itu dilakukan baik oleh perawat maupun pasien.
Pada saatperawat menanyakan keadaan pasien, perawat berperan sebagai komunikator, danpasien berperan sebagai komunikan. Sedangkan pada saat pasien
menjawabpertanyaan perawat tersebut, pasien berperan sebagai komunikator, dan perawatberperan sebagai komunikan. Oleh karena itu pertukaran pesan dan peranberlangsung cepat.
Hubungan terhadap penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dengan peneliti sebelumnya ada kesamaan dalam membahas tentang komunikasi interpersonal, namun penelitian yang akan dilakukan ini memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian sebelumnya, yaitu pada penelititan sebelumnya berfokus pada kisah kehidupan (live story) yang diperoleh dari orang-orang baisa, terutama kelas bawah dan kaum marjinal. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan lebih berfokus pada pembinaan generasi muda.
2.2 Tinjauan Teoritis
Setiap penelitian membutuhkan beberapa teori yang relevan untuk mendukung studi ini yang berkaitan dengan judul peneliti. Teori merupakan landasan penting dalam setiap penelitian ilmiah. Teori-teri yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :
2.2.1. Teori Human Communication
Menurut Joseph A. Defito dalam human communication, memiliki tiga dimensi; fisik, social – psikologis, dan temporal. Menurut devito bahwa ruang, taman, jalan dan tempat apapun itu dapat juga terjadi atau berlangsung komunikasi sehingga disebutkan sebagai konteks atau lingkungan pisik artinya lingkungan nyata atau berwujud. Lingkungan pisik yang dimaksud adalah bagaimanapun bentuknya tempat komunikasi akan mempunyai pengaruh tertentu atas isi kandungan pesan yang kita sampaikan. Selain isi pesan, cara dan bentuk komunikasi yang kita gunakan dalam
menyampaikan sangat mempengaruhi keadaan. Inilah yang dimaksud oleh Defito bahwa komunikasi sangat mempengaruhi tempat atau lingkungan yang kita gunakan.
Dimensi sosial psikologis adalah gambaran komunikasi dalam membangun hubungan dengan orang lain, dan ini melibatkan tata cara hubungan status antara komunikator dengan komunikan. Peran yang dimainkanpun sangat menentukan kelancaran hubungan antara mereka, sebab seseorang akan menjadi aktor dalam komunikasi sesuai dengan kebutuhannya. Aturan budaya yang ada dalam lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi terjadinya suatu komunikasi.
Lingkungan atau konteks ini juga dapat menjadi saran untuk membangun rasa persahabatan atau rasa permusuhan, formalitas atau informalitas, situasi serius atau senda gurau. Kita dapat melihat bahwa suatu komunikasi dapat atau boleh dialkukan pada suatu acara tapi komunikasi itupun tidak dapat digunakan di acara yang lain, karena tidak etis dalam komunikasi misalnya : komunikasi yang digunakan di acara pesta pernikahan tidak dapat digunaka ketika acara pemakaman, sebab tempat, situasi, dan kondisi tidak mengijinkan untuk menggunakan komunikasi ditempat yang berbeda.
Sedangkan dimensi temporal (waktu) mencakp waktu dalam sehari maupun waktu dlam hitungan sejarah dimana komunikasi berlangsung. Waktu merupakan hal yang penting dan utama dalam melakukan komunikasi. Pihak yang terlibat membutuhkan waktu dalam melakukan pendekatan untuk dapat menjalin hubungan.
2.2.2 Teori Pragmatics Communication
Hubungan bukanlah interaksi yang bersifat statis tetapi memiliki pola-pola interaksitertentu dimana tindakan dan kata-kata seseorang mempengaruhi bagaimana
orang lain memberikan tanggapannya. Kita akan terus menyesuaikan apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan dengan reaksi orang lain, dan dalam perkembangannya sepanjang waktu hubungan akan memiliki suatu jenis karakter tertentu.
Gagasan yang dikemukakan gregory batcshoen dan paul watz lawitck memberikan pengaruh sangat besar dalam pemikiran mengenai hubungan dalam ilmu komunikasi khususnya pada tahun awal berkembangnya studi mengenai komunikasi interpersonal. Kedua teoritis ini dan sejumlah sarjana lainnya dikenal dengan sebutan paolo alto group, karena mereka kemudian membangun lembaga bernama mental research instute di paolo alto, california. Tiga orang dari kelompok alto ini kemudian menggunakan gagasan mereka kedalam buku yang saat ini sudah menjadi klasik berjudul pragmatis human communication.
Menurut Grou Paolo Alto ini, ketika dua orang berkomunikasi maka mereka mendefenisikan hubungan mereka berdasarkan cara mereka berinteraksi. Artinya ketika anda berkomunikasi dengan teman, dosen, keluarga, tetangga, gur maka anda akan selalu menciptakan seperangkap harapan terhadap perilaku anda dan perilaku orang lain.
Suatu hubungan komunikasi dan masyarakat misalnya pola hubungan yang terjasi disebut sebagai dominan patu ( dominant – submissive relationship) dimana salah satu objek bersifat dominan ( komunikasi ) dan masyarakat menunjukkan kepatuhannya. Dalam hal ini, terdapat banyak aturan yang tidak dinyatkan secara tegas (implicit) pada setiap hubungan, apakah itu hubungan persahabatan, bisnis, cinta, keluarga, dan sebaginya. Dan hubungan ini dapat berubah ketika pola interaksi berubah.
Setiap perilaku berpotensi menyampaikan pesan maka pola interaksi akan menjadi mapan dan stabil. Dengan kata lain, seorang komunikasi ketika berkomunikasi dengan masyarakat, maka secara sadar atau tidak sadar akan selalu mengekspresikan sesuatu sesuai hubungannya dengan masyarakat tersebut.
Paolo alto menyatakan adanya dua jenis pola hubungan yang penting yaitu
“hubungan simentris” (simmentrycal relationship) ini terjadi jika dua orang saling memberikan tanggapan yang sama. Contoh hubungan simentris ini adalah dalam hal perebutan wewenang atau kekuasaan (power struggle). Namun demikian hubungan simentris tidak selalu dalam bentuk perebutan kekuasaan secara terbuka tetapi dapat dilakukan dengan cara lebih halus, misalnya memberi respon secara pasif, atau bahkan kedua bela pihak berperilaku seolah-olah saling mendukung.
Hubungan komplementer (complementari relationship) terjadi jika komunikator memberikan tanggapan dengan arah yang berbeda atau berlawanan. Jika sesorang menunjukkan perilaku berkuasa (dominan), maka pihak lainnya bersikap patuh; jika seseorang bersifat argumentatife atau suka mendebat maka pihak lainnya justru berperilaku diam; jika yang satu menerimanya maka yang lain menolaknya.
Pertukaran simetris (simmetrical exchange) terjadi jika kedua bela pihak memberikan tanggapan yang sama berikut ini : tandinga, menerima, dan netral.
2.3. Tinjauan Konseptual
2.3.1 Konsep Komunikasi Interpersonal
“ Komunikasi berasal dari bahasa latin communicoyang berarti membagi.
Yang dimaksud membagi adalah membagi gagasan ide atau pikiran antara seseorang dan orang lain”.2
2Mohammad Shoelhi, Komunikasi Internasional Perspektif Jurnalistik (Jakarta:Simbiosa, 2009), h. 2
Pengertian Komunikasi Secara Umum adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua individu atau lebih dengan efektif sehingga dapat dipahami dengan mudah.3“Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia”.4 Kehidupan manusia akan tampak hampa atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi.
“Ilmu Komunikasi adalah bagian dari ilmu sosial”.5 Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Selain itu, “ilmu komunikasi adalah suatu kontruksi yang dibuat oleh manusia, seperti tanah liat yang dapat dibentuk apa saja atau air yang dapat memenuhi wadah yang bagaimanapun bentuknya”.6 Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia perlu berkomunikasi.
Komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (Communication is the proses to modify the ehavior of other individuals).7 Berkomunikasi merupakan suatu ukuran dalam penelitian ini sehingga penulis mencoba untuk melihat bagaimana ukuran komunikasi yang efektif pada kepala desa dan masyarakat khususnya di desa Passapa. Dalam mengukur kefektifan komunikasi penulis lihat dari keberhasilan kepala desa mendekati masyarakat meskipun terhitung baru mengenalnya.
3http://www.artikelsiana.com/2015/02/pengertian-komunikasi-tujuan-fungsi-manfaatnya.html
4Rochajat Harun, Elvinaro Ardianto, Komunikasi Pembangunan Peruahan Sosial(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2011), h. 19
5Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2010), h. 6
6Deddy Mulyana, Anwar Arifin dan Hafied Canggara, Ilmu Komunikasi Sekarang dan Tantangan Masa Depan(Jakarta: Kencana. 2013), h. 2
7Haris Sumadiria, Sosiologo Komunikasi Massa(Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2014), h.
3
Keefektifan itu dapat juga dilihat dengan cara kepala desa melayani masyarakat seklama jam kerja. Penulis beranggapan bahwa komunikasi yang baik itu seperti yang terlihat dalam suatu hubungan yang akrab dan seringnya dalam bertatap muka lalu berkomunikasi mengumpan balik pesan.
2.3.1.2 Fungsi Komunikasi
Adapun fungsi dari komunikasi ialah “memberi keterangan memberi data atau fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia”.8
Jika disimak secara seksama, fungsi komunikasi itu sangat banyak. Banyak peminat komunikasi atau ilmuwan komunikasi yang sudah memaparkan persepsinya tentang fungsi komunikasi termasuk Harold D. Laswell mengatakan:
1. Menjaga /mengawasi lingkungan
2. Menghubungkan bagain-bagian yang terpisah dari masyarakat untuk lingkungannya
3. Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi berikutnya9 2.3.2 Konsep Pengertian Komunikasi Interpersonal
2.3.2.1 Pengertian Komunikasi Interpersonal
Komunikasi personal adalah proses sosial berkait konteks, rumit, yang didalmnya orang-orang telah membangun hubungan komunikatif bertukar pesan dalam upaya untuk menghasilkan makna-makna yang dianut bersama dan mencapai tujuan sosial.
8Pawit M. Yusuf Komunikasi Intruksional Teori dan Praktek (Bandung: Bumi Aksar. 1990), h. 3
9Mahi M. Hikmat, Komunikasi Politik Teori dan Praktik(Bandung: Remaja Rosdakarya.
2010), h. 13
Komunikasi interpersonal adalah membangun hubungan komunikatif diantara para interaktan. Hubungan ini dibentuk dari struktur maksud interpretif dan maksud ekspresif yang berbala-balasan (reciprocal ekspressive and interpretive intentions) diantara para interaktan. Maksud expresif (expressive intentions) ialah tujuan dari satu pihak (sumber) untuk menyampaikan (menjadikan dapat mengerti) satu keadaan batin (gagasan, buah pikiran, perasaan, dll.) sedangkan penerima disebut interoretif ialah tujuan dari penerima untuk memahami ekspresi-ekspresi pihak sumber.
Hubungan terjadi antara kepala desa dan masyarakat ketika masyarakat (sumber) bermaksud menyampaikan suatu keadaan yang dialaminya kepada kepala desa (penerima) lalu kemudian kepala desa dapat menangkap yang dimaksud dari masyarakat (generasi Passapa) dan memberikan isyarat pengimbang untuk memperhatikan ekspresi-ekspresi generasi tersebut (sumber) sehingga masyarakat-pun dapat mengerti bahwa yang dimaksud ekspresifnya telah ditangkap dan diterima oleh kepala desa atas keluhan masyarakat. Sehingga kepala desa pun tahu apa yang dikeluh- kesahkan masyarakat dan apa yang akan dibutuhkan dalam membina generasi tersebut. Oleh karena itu, kesamaan pemahaman antara kepala desa dan masyarakat harus sejalan untuk menghindari permasalahan dalam pembinaan generasi muda setempat.
2.3.2.2 Ruang Lingkup Komunikasi Interpersonal
Gubah Komunikasi yang menggambarkan bagaimana seorang menyampaikan sesuatu lewat bahasa atau simbol-simbol tertentu kepada orang lain. Peristiwa komunikasi pasti dilaksanakan oleh manusia karena itu pembicaraan tentang komunikasi sangat luas sehingga hampir tak ada
batasnya. Meskipun demikian kita harus menentukan batas-batas dan rambu tertentu yang mampu menunjukkan kekhususan komunikasi sebagai suatu disiplin ilmu yang patut dipelajari.
2.3.2.3 Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal
Manusia merupakan makhluk sosial, karena itu kehidupan manusia selalu ditandai dengan pergaulan antarmanusia. Misalnya peergaulan dalam keluarga. Hakikat pergaulan itu ditunjukkan antara lain oleh derajat keintiman, frekuensi pertemuan, jenis relasi, mutu interaksi diatara mereka, terutama sejauh mana keterlibatan dan saling mempengaruhi. Ada lima ciri- ciri komuniksi interpersoal (antar pribadi) sebagai berikut.
1. Keterbukaan atau opennes 2. Empati (empathy)
3. Dukungan (suportiveness) 4. Perasaan positif (positivness) 5. Kesamaan (equality)
2.3.2.4 Tujuan Komunikasi Interpersonal
1. Mengubah sikap, dalam berkomunikasi kita berusaha untuk saling memiliki cara bertingkah laku dan bersikap untuk dapat mengubah sikap yang menerima pesan.
2. Mengubah oponi/pendapat/pandangan, ketika berkomunikasi dengan orang lain kita berharap memiliki pemahaman yang dapat diterima dan ada umpan balik.
3. Mengubah perilaku, saat berkomunikasi dengan seseorang kita mengajak mereka dapat berperilaku seperti yang diharapkan
4. Mengubah masyarakato, berkomunikasi untuk mengajak orang lain seperti dalam menaati peraturan yang telah ada.
2.3.2.5 Fungsi Komunikasi Interpersonal
Komunikasi merupakan salah satu fungsi dari kehidupan manusia.
Fungsi komunikasi dalam kehidupan menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi seseorag menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan atau perasaan yang ada dalam hati nuraninya kepada orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Adapun fungsi komunikasi interpersonal adalah sebagai berikut:
1. Menginformasikan, seorang kepala desa sebisa mungkin menyampaikan pesan-pesan yang baik terhadap masyarakat
2. Mendidik, komunikasi merupakan sarana yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan terutama para kepala desa dalam berkomunikasi dengan masyarakat memiliki nilai pendidikan
3. Menghibur, kepala desa harus bisa menghibur terhadap rakyat atas keluhan yang disampaikannya.
4. Mempengaruhi, kepala desa harus bisa memberikan pengaruh terhadap masyarakat demi kemajuan desa tersebut.
2.3.2.6 Bentuk Komunikasi Interpersonal
1. Komunikasi personal (personal communication ) ada dua
1. Komunikasi interpersonal (interpersonal communication), merupakan komunikasi yang terjadi pada diri sendiri
2. Komunikasi antar personal (interpersonal communication) komunikasi yang dilakukan antar manusia seperti atasan dan bawahan.
2. Komunikasi kelompok (group communication)
1. Komunikasi kelompok kecil (small group communication) merupakan komunikasi yang dilakukan kelompok kecil seperti diskusi
2. Komunikasi kelompok besar (large group communication / public speaking)
3. komunikasi massa (mass communication) yang bisa dilihat seperti pers radio, televisi, dan film
4. komunikasi media (media communication) seperti surat, telepon, pamphlet, poster, dan spanduk.
2.3.2.7 Sifat Komunikasi Interpersonal
1. Tatap muka (face to face) komunikasi yang dilakukan dengan cara bertemu langsung dengan lawan bicara dimana dalam kegiatan komunikasi ini komunikan dan komunikator saling bertatap muka. Contoh kepala desa dengan masyarakat
2. Bermedia (mediated) komunikasi yang dilakukan dengan cara menggunakan suatu media deimana berkaitan erat dengan pengetahuan dan penguasaan tekhnologi komunikasi. Contoh seorang kepala desa dengan frekuensi radio mengumumkan dukungan orang tua dalam membina genarasi bangsa
3. Verbal komunikasi yang dilakukan dengan cara berbicara kepada lawan bicara dengan menggunakan kata-kata.
4. Non verbal komunikasi yang dilakukan dengan cara penggunaan isyarat dan non kata-kata. Contohnya adalah bahasa tubuh, postur tubuh, eye contact, dan aspek bahasa
2.3.2.8 Etika Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal merupakan sebuah konsep komunikasi yang menggambarkan bentuk komunikasi antar seseorang dan orang lain dalam suasana tatap muka. Dean bernlund menjabarkan komunikasi interpersonalsebagai pertemuan tatap muka dalam situasi informal yang melakukan interaksi terfokus lewat pertukaran isyarat verbal dan non verbal yang saling berbalasan. Ronald arnett menawarkan standar etika komunikasiinterpersonal, sebagai berikut :
1. Kita terbuka terhadap informasi yang merefleksikan perubahan konsep diri sendiri atau orang lain
2. Aktualisasi diri atau pemenuhan diri partisipan harus didukung jika semuanya memungkinkan. Kita harus memperhitungkan emosi dan perasaan kita.
2.3.2.9 Komunikasi Efektif
1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga mearik perhatian sasaran yang dimaksud, masyarakat menyampaikan keperluan kepada pemerintah (kepala desa) dengan baik sehingga pemerintah mampu memahami dan mengerti apa yang seharusnya dilakukan
2. Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti, seorang pemerintah (kepala desa) memberikan suatu tanda yang membuat masyarakat mengerti. Misalnya membersihkan dan merawat lingkungan dengan baik
3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
Defenisi baru yang didasari gagasan bahwa komunikasi interpersonal pada dasarnya melibatkan pertukaran pesan. Pemikiran ini bukan hal baru, namun sebagian defenisi yang paling berpengaruh dalam komunikasi interpersonal kurang menganggap penting atau bahkan meninggalkan aspek penting tersebut. Sebagai argumen bagi defenisi baru tersebut, mulai dengan menjelaskan keadaan disensus saat ini terkait bentuk fundamental komunikasi interpersonal dan konse-kuensi tidak enak yang timbul sebagai akibatnya. Saya akan meninjau dan mengupas tiga defenisi popular komunikasi interpersonal.
“interpersonal communicatiaon [tefers]to dyadic communication in which two individuals, sharing the roles of sender and receiver, become connected through the matual activity of creating meaning”.10
Semua defenisi komunikasi menggambarkan komunikasi interpersonal melibatkan suatu bentuk efektivitast imbal balik (mutual activity), interaksi (interaction), atau pertukaran berbeda secara signifikan. Komunikasi interpersonal terjadi dalam hubungan akrab (close relationship). Menurutgurrerokomunikasi interpersonal adalah pertukaran pesan diantara orang, dengan sebuah “pesan” menjadi feauture atau perilaku orang lain, yang dimaksudkan atau tidak, dapat diinterpretasikan oleh seorang penerima, tanpa batasan tentang jumlah orang yang terlibat pertukaan tersebut.
2.4.1 Perspektif Komunikasi Interpersonal
Defenisi komunikasi interpersonal ada tiga perspektif defenisi umum yang kerap disebutkan perspektif situasional, perspektif perkembangan dan perspektif interaksional.
10Charles R.berger, dkk. Handbook ilmu komunikasi( Bandung: Nusamedia, 2014), h.206.
2.4.1.1 Perspektif Situasional
Miller menyatakan perspektif situasional adalah perspektif subtantive pertama terhadap bentuk komunikasi interpersonal (mungkin pada 1960-an). Dan baru menjadi pandangan yang paling berpengaruh terhadap komunikasi interpersonal pada pertengahan 1970-an.11
Perspektif situasional membedakan tipe-tipe komunikasi berdasarkan aspek- aspek komunikasi. Aspek yang terpenting meliputi jumlah komuniktor, kedekatan fisik antara komunikator-komunikator itu, ketersediaan saluran indrawi atau saluran komunikasi (terutama saluran non verbal) dan kesegeraan umpan balik yang diterima oleh komunikator.
Komunikasi interpersonal biasanya berlangsung diantara dua orang yang terlibat interaksi tatap muka, yang menggunakan baik saluran verbal maupun nonverbal, dan memiliki kesempatan untuk memberikan umpan balik dengan segera.
Komunikasi kelompok, organisasi, publik, dan komunikasi massa melibatkan jumlah orang yang semakin banyak sedangkan kedekatan fisik, ketersediaan saluran, dan kesegeraan umpan balik semakin berkurang. Dalam perspektif ini, komunikasi diadik disebut juga komunikasi interpersonal.12
2.4.1.2 Perspektif Perkembangan
Perspektif ini dimulai dengan membedakan antara komunikasi “impersonal”
dan “iterpersonal”. Pada komunikasi interpersonal, interaktan saling berhubungan sebagai peran sosial, bukan sebagai orang-orangyang berbeda, dan pediksi interaktan yang lain lebih didasarkan pada pengetahuan budaya dan sosiologis umum dari pada informasi psikologis. Kebalikannya, pada komunikasi interpersonal, interaktan saling
11Charles R.berger, dkk. Handbook ilmu komunikasi, h.206./
12Charles R.berger, dkk. Handbook ilmu komunikasi, h. 13.
berhubungan sebagai orang-orang yang memilikiciri masing-masing dan prediksi iteraktan tentang opsi pesan didasarkan pada informasi psikologis tertentu tentang interaktan lainnya (misalnya, ciri-ciri watak pembeda yang dimiliki interaktan lain tersebut, kecenderungan perilakunya, sikap atau perasaannya).
Komunikasi impersonal dan komunikasi interpersonal merupakan sebuah kontinum, ketika baru pertama kali bertemu, orang hanya melakukan komunikasi impersonal, tetapi jika interaksi berlanjut dan peserta mengungkapakan saling bertukar informasi yang lebih personal, karakter hubungan dan interaksi mereka menjadi lebih interpersonal secara progresif. Roloff dan anastasiou menyebutkan perspektif ini.
Perspektif perkembangan telah mewarnai banyak riset tentang perkembangan hubungan, meliputi riset tentang ketertarikan interpersonal, pengurangan ketidak- pastian, dan pembukaan diri (self-diclosure), juga riset tentang aspel-aspek interaksi lainnya seperti perolehan kepatuhan (compliance gaining), pertukaran sosial dan empati. Dalam perspektif perkembangan, tidak jelas apa yang sesungguhnya dilakukan orang ketika komunikasi dengan sesamanya, apapun tingkat pengetahuan yang mereka miliki tentang satu sama lain. Baik perspektif perkembangan maupun perspektif situasional mengusung pandangan bahwa bentuk komunikasi yang ada pada hubungan interpersonal atau latar interpersonal secara kualitatif memang berbeda, karena fokus perspektif-perspektif tersebut tertuju pada menjelaskan “ke- interpersonal-an” itu. Bertolak belakang dengan pandangan ini, Swanson dan Delia berpendapat “ada satu proses dasar komunikasi.
2.4.1.3 Perspektif Interaksional
Perspektif interaksi sosial sebagai contoh komunikasi interpersonal. Jadi, perspektif ini berfaokus pada mengungkapkan bentuk dan implikasi-implikasi interaksi sosial, bukan berupaya mengidentifikasi hakikat yang membedakan komunikasi interpersonal. Asal-usul perspektif interaksional dapat ditelusuri dari analisis komunikasi yang diberikan Watzlawick, Beasvin,Dan jackson.
Cappella memberikan uraian paling sistematis dari perspektif interaksional yang mendenisikan komunikasi interpersonal sebagai “saling menyesuaikan atau saing mempengaruhi” Cappella menjelaskan bahwa komitmen esensial perspektif ini
“tertuju kepada interaksional komunikasi interpersonal, dengan mengaskan bahwa agar terjadi komunikasi interpersonal, setiap orang harus mempengaruhi pola-pola perilaku orang lain yang teramati relatif terhadap pola tipikal atau pola standarnya”
Cappela lebih menegaskan bahwa “semua pertemuan yang merupakan interaksi adalah interpersonal.
2.4.4 fungsi-fungsi Komuniakasi Interpersonal
Menurut defenisinya, fungsi adalah sebagai tujuan dimana komunikasi digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Fungsi utama komunikasi adalah mengendalikan guna memperoleh imbalan-imbalan tertentu berupa fisik, ekonomi, dansosial. Komunikasi insani atau human comminucation baik yang non antar-pribadi maupun yang antar-pribadi semuanya mengenai pengendalian lingkungan guna mendapatkan imbalan seperti dalam bentuk fisik, ekonomi, dan sosial. Keberhasilan yang relative dalam melakukan pengendalian lingkungan melalui komunikasi menambah kemungkinan menjadi bahagia, kehidupan pribadi yang produktif.
Kegagalan relative mengarah kepada ketidak-bahagiaan akhirnya bisa terjadi krisis identitas diri.
Imbalan ialah setiap akibat berupa perolehan fisik, ekonomi, dan sosial yang dinilai positif. Uang sebagai perolehan ekonomi yang dinilai positif jika seorang desa mampu memberikan pelayanan terhadap masyarakat, sopan, rajin, disiplin, dan ramah maka menurut logikanya maka ia akan berhasil menjadi seorang pemerintah yang memiliki kreadibilitas yang baik dimata masyarakat dan tentunya akan mendapatkan pula perolehan gaji yang lebih dari atasan, sedangkan masyarakat dan atasan juga mendapat imbalan dalam bentuk sosial berupa kepuasan dari hasil kerja desa tersebut.
2.4.4.1 Fungsi Pengeloalaan Interaksi
Fungsi-fungsi yang diasosiasikan dengan membangun dan mempertahankan kecakapan yang koheren. Tujuannya untuk :
1. Memulai dan mengakhiri interaksi percakapan juga mempertahankannya dengan mengarahkan fokus topik percakapan dan membagi gilaran bicara
2. Memproduksi pesan-pesan yang dapat dipahami, mengandung informasi yang memadai, dan relevan secara pragmatis yang tepat sesuai dengan struktur percakapan bergiliran
3. Mendefenisikan diri sosial dan situasi sosial 4. Mengolah kesan dan mempertahan muka, serta 5. Memantau dan mengola afeksi
2.4.4.2 Fungsi Pengolaan Hubungan
Diasosiasikan dengan memulai, memelihara, dan memperbaiki hubungan.
Tujuan-tujuan ini berfokus pada membangun hubungan, mencapai tingkat privasi dan
keintiman yang diinginkan, mengolah ketegangan, mengatasi ancaman terhadap integritas dan ketahanan hubungan, menyelesaikan konflik, dan menyudahi hubungan atau mengubah karakter dasar hubungan.
2.4.4.3 Fungsi Instrumental
Fungsi ini yang bisanya mendefenisikan fokus sebuah interaksi dan membantu membedakan episode interaksi satu dengan episode interaksi lainnya Dillard.
Tujuan-tujuan instrumental yang umum memperoleh kepatuhan atau menolak kepatuhan, meminta atau memberikan informasi, meminta atau memberikan dukungan dan mencari atau memberikan hiburan.
2.4.5 Pola-pola Kendali Yang Komunikatif
Pengendalian lingkungan merupakan fungsi utama komunikasi. Penggunaan yang paling sering kita lakukan mengenai komunikasi ialah penggunaan kendali terhadap lingkungan sosial yaitu untuk menghasilkan respon yang bisa diprediksikan dan yang kita inginkan dari orang lain. Kendali merupakan kehlian atau kecakapan sosial.
Satu hal dari aspek-aspek yang mengenai kendali bahwa cara manusia menggunakan kendali itu berbeda-beda. Gaya dan caranya juga berbeda-beda. Ada yang secara teran-terangan atau gamblang dalam menggunakan kendali.
Menurut Miller dan Steinberg, strategi kendali dasar manusia juga berbeda seperti:
1. Ada orang yang menggunakan kendalinya dengan argumentasi yang logis atau masuk akal. Misalnya, seorang desa berkata kepada masyarakat untuk
“menjaga dan membersihkan lingkungan adalah kewajiban bersama” sebab dengan begiitu kita pun nyaman dalam linhkungan.
2. Ada pula yang menggunakan kendalinya dengan luapan emosi, contohnya
“kalau kamu tidak mau minum obat maka engkau akan disuntik oleh dokter”
kata perawat kepada pasien anak-anak
3. Ada yang menggunakan pendekatan dasarnya bergantung pada imbalan.
“boleh belajar dengan giat, kalau nanti ranking 1 maka saya akan beri hadiah” kata seorang desa kepada anak-anak
4. Ada juga yang mendasar pada sanksi atau hukuman dalam mengunakan kendalinya. “kalau tidalk mau belajar bagaimana bisa rangking 1” kata desa kepada anak-anak.
2.3.3 Pengertian Pembinaan
Pembinaan menurut Masdar Helmi adalah segala hal usaha, ikhtiar dan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan dan pengorganisasian serta pengendalian segala sesuatu secara teratur dan terarah.Menurut Mathis pembinaan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, proses ini terkait dengan berbagai tujuan organisasi, pembinaan dapat dipandang secara sempit maupun luas.
Sedangkan Ivancevich mendefinisikan pembinaan sebagai usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan dijabatnya segera.13
13http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2016/02/pengertian-pembinaan-menurut- para-ahli.html. Diakses pada 15 April 2017
Secara konseptual, pembinaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata ’power’ (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya, ide utama pembinaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dan dihubungkan dengan kemampuan individu untuk membuat individu melakukan apa yang diinginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka. Pembinaan menunjuk pada kemampuan orang atau kelompok masyarakat, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam :
1. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kesakitan.
2. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa yang mereka perlukan.
3. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Menurut Wiranto, pembinaan merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemberian kesempatan yang seluas-luasnya bagi penduduk kategori miskin untuk melakukan kegiatan sosial ekonomi yang produktif, sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih besar.
Dengan demikian, pembinaan olahraga pada hakekatnya diarahkan untuk meningkatkan akses bagi individu, keluarga dan kelompok masyarakat terhadap sumber daya untuk melakukan proses produksi dan kesempatan berusaha. Untuk dapat mencapai hal tersebut diperlukan berbagai upaya untuk memotivasi dalam bentuk antara lain bantuan modal dan pengembangan sumber daya manusia.
Salah satu pendekatan yang kini sering digunakan dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan mengangkat harkat dan martabat keluarga miskin adalah pembinaan masyarakat. Konsep ini menjadi sangat penting terutama karena memberikan perspektif positif terhadap orang miskin. Orang miskin tidak dipandang sebagai orang serba kekurangan (misalnya, kurang makan, kurang pendapatan, kurang sehat, kurang dinamis) dan objek pasif penerima pelayanan belaka. Melainkan sebagai orang yang memiliki beragam kemampuan yang dapat di mobilisasi untuk perbaikan hidupnya.
Konsep pembinaan memberi kerangka acuan mengenai kekuasaan (power) dan kemampuan (kapabilitas) yang melingkup arah sosial, ekonomi, budaya, politik dan kelembagaan.
Pembinaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pembinaan kelompok di dalam lingkungan kehidupan masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah dalam berbagai aspek kesejahteraan dalam kehidupan.
Sebagai tujuan, maka pembinaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai dalam perubahan sosial : yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi , maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
2.3.3 Tahap Tahap Pembinaan.
Menurut Sumodiningrat, Pembinaan tidak selamanya, melainkan dilepas untuk mandiri, meski dari jauh dijaga agar tidak jatuh lagi. Dilihat dari pendapat tersebut berarti pembinaan melalui suatu masa proses belajar, hingga mencapai status mandiri.
Sebagaimana disampaikan dimuka bahwa proses belajar dalam rangka pembinaan
akan berlangsung secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui tersebut adalah meliputi:14
1. Tahap Penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
2. Tahap Transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan, keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan.
3. Tahap Peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan, keterampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemadirian.
Menurut Keiffer pembinaan yang dilakukan kemudian mencakup tiga hal pokok yakni kerakyatan, kemampuan sosial politik, dam berkompetensi partisipatif Parson juga mengajukan tiga dimensi dalam pelaksanaan pembinaan tersebut yang merujuk pada :
1. Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosial yang lebih besar.
2. Sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.
3. Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur yang masih menekan.
14Ilmu Bimbingan dan Konseling. http://pengertian dan konsep pembinaan. blogspot. co. id/
2014/ 01/pengertian-konsep-dan-tahap-pembinaan.html. Diakses pada 15 April 2017
Lebih lanjut Sedarmayanti menjelaskan, kata pembinaan (empowerment) mengesankan arti adanya sikap mental yang tangguh. Proses pembinaan mengandung dua kecenderungan yaitu :
1. Kecenderungan Primer, proses pembinaan yang menekankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya (survival of the fittes) proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi.
2. Kecenderungan sekunder, menekankan pada proses menstimulasi, mendorong, atau memotivasi agar individu mempunyai kemampuan/keberdayaan untuk menentukan yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog.
Dari dua kecenderungan diatas memang selain mempengaruhi dimana agar kecenderungan primer dapat terwujud maka harus lebih sering melalui kecenderungan sekunder.
Selanjutnya Tikson dalam Sani menjelaskan bahwa terdapat beberapa kegiatan yang dapat dijadikan tolak ukur dalam proses pembinaan masyarakat yaitu :
1. Pengorganisasian masyarakat
Bidang ini berkenaan dengan peningkatan partisipasi masyarakat yang dapat dilakukan secara efektif melalui pengorganisasian. Masyarakat dapat diorganisasikan ke dalam beberapa bentuk, seperti organisasi kewilayahan yang luas, organisasi sektoral dan jaringannya atau aliansi dan koalisi.
Organisasi-organisasi ini merupakan alat masyarakat untuk menyatakan
kehendak mereka dan untuk mempengaruhi proses perubahan yang diinginkan.
2. Penguatan kelembagaan
Kegiatan ini pada dasarnya merupakan penguatan kemampuan organisasi yang telah ada dengan meningkatkan unsur : pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang ada termasuk didalamnya proses perguliran, manajemen, kemandirian kelompok, norma, dan nilai yang dianut organisasi agar kegiatan kolektif menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam penerapannya penguatan kelembagaan banyak dilakukan melalui pelatihan, keterampilan dan studi banding. Keterampilan dalam hal ini mencakup latihan kepemimpinan, penerapan organisasi dan manajemen keuangan, studi banding dilakukan untuk melihat kelompok di tempat lain yang telah berhasil meningkatkan produktivitas kerja organisasi.
2.3.4 Manajemen Sumber Daya
Kegiatan ini untuk menjamin bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan apabila mereka mampu mengelola sumber daya dengan baik, termasuk didalamnya adalah kegiatan-kegiatan pengembangan organisasi sosial yang dapat melakukan fungsi pelayanan sosial, seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, transportasi, dan kegiatan lain yang dianggap perlu. Di samping itu organisasi ekonomi diperlukan untuk memformulasikan berbagai kegiatan ekonomi yang ada menjadi lebih beragam dan luas sehingga dapat memperluas lapangan kerja.
Kegiatan konservasi dan rehabilitas lingkungan demi terciptanya pembangunan ekologi dan ekosistem juga menjadi perhatian.
Sejalan dengan hal tersebut, Ohama secara operasional menjelaskan dua unsur pembangunan yang sangat fundamental dalam kaitannya dengan pembinaan masyarakat lokal yaitu :
1. Sumber daya, dalam hal ini pemanfaatan/pengelolaan sumber daya fisik, sumber daya manusia, sumber daya keuangan, dan tekhnologi.
2. Organisasi sebagai pelaku. Norma, nilai yang membatasi/mengatur anggota dalam pencapaian tujuan
2.3.5 Strategi dan Prinsip Pembinaan
Parson menyatakan bahwa proses pembinaan umumnya dilakukan secara kolektif. Menurutnya, tidak ada literatur yang menyatakan bahwa proses pembinaan terjadi dalam relasi satu lawan satu antara pekerja sosial dan klien (masyarakat) dalam setting pertolongan perseorangan. Dalam konteks pekejaan sosial pembinaan dapat dilakukan melalui :
1. Asas Mikro, pembinaan melalui bimbingan tujuannya membimbing atau melatih masyarakat dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan. Model yang sering disebut pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach).
2. Asas Mezzo, pembinaan dilakukan pada sekelompok klien (masyarakat), metode ini dilakukan dengan menggunakan kelompok, media intervensi, tujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menghadapi permasalahan.
3. Asas Makro, pendekatan sistem besar (large system strategy) perumusan kebijakan, perencanaan sosial, aksi sosial, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik. Metode ini memandang kilen sebagai orang memiliki kompetensi.
Dari pandangan mengenai pembangunan masyarakat memperjelas bahwa sasaran dari pembangunan masyarakat adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai hidup yang lebih baik. Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencapai pembangunan masyarakatantara lain;
1. Pendekatan self help (menolong diri sendiri), masyarakat dapat meningkatkan dan memperbaiki kondisi sosialnya. Anggapan dalam pendekatan ini bahwa masyarakat dapat, akan, dan seharusnya berkolaborasi dalam memecahkan masalahnya.
2. Pendekatan technical assistance (bantuan teknis), bahwa struktur dapat mempengaruhi perilaku, anggapan dalam pendekatan ini yakni dengan memberikan bantuan teknis seperti teknologi, informasi, atau cara berfikir sehingga dapat saling bekerja sama dengan masyarakat.
3. Pendekatan conflict (konflik), yakni masyarakat dipolarisasikan dalam bentuk kelompok-kelompok untuk kemudian mengembangkan dirinya dalam mendapatkan sumber daya dalam rangka memperbaiki kondisi ekonominya.
2.3.6 Tujuan Pembinaan
Untuk mengetahui fokus dan tujuan pembinaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang menunjukkan seseorang itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika sebuah program pembinaan sosial diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari sasaran perubahan (misalnya; masyarakat kurang mampu) yang perlu dioptimalkan. Schuler, Hasmaeni dan Riley mengembangkan delapan indikator, yang mereka sebut sebagai empowerment index atau indeks pembinaan. Keberhasilan pembinaan masyarakat
dapat dilihat dari keberdayaan mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan mengakses manfaat kesejahteraan, dan kemampuan kultural politis.
Ketiga aspek tersebut dikaitkan dengan empat dimensi kekuasaan, yaitu ; kekuasaan di dalam (power with in), kekuasaan untuk (power to), kekuasaan atas (power over) dan kekuasaan dengan (power within).
Menurut Wiranto, pembinaan merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemberian kesempatan yang seluas-luasnya bagi penduduk kategori miskin untuk melakukan kegiatan sosial ekonomi yang produktif, sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih besar. Dengan demikian, pembinaan masyarakat pada hakekatnya diarahkan untuk meningkatkan akses bagi individu, keluarga dan kelompok masyarakat terhadap sumber daya untuk melakukan proses produksi dan kesempatan berusaha. Untuk dapat mencapai hal tersebut diperlukan berbagai upaya untuk memotivasi dalam bentuk antara lain bantuan modal dan pengembangan sumber daya manusia.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka dalam aktivitas pembinaan terdapat tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya yaitu :
1. Pengetahuan dasar dan keterampilan intelektual (kemampuan menganalisis hubungan sebab akibat atas setiap permasalahan yang muncul).
2. Mendapatkan akses menuju ke sumber daya materi dan non materi guna mengembangkan produksi maupun pengembangan diri mereka.
3. Organisasi dan manajemen yang ada di masyarakat perlu difungsikan sebagai wahana pengelolaan kegiatan kolektif pengembangan mereka.
Oleh karena itu, pembinaan adalah upaya untuk mendorong dan memotivasi sumber daya yang dimiliki serta berupaya mengembangkan dan memperkuat potensi tersebut yaitu penguatan individu dan organisasi dengan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki. Pembinaan masyarakat juga ditujukan untuk mengikis fenomena kemiskinan.
2.4. Defenisi Operasional
Pengertian terhadap konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini, dilakukan supaya tidak terjadi kesalahan maka dirasa perlu memberikan batasan pengertian sebagai berikut:
2.4.1 Komunikasi Interpersonal
Pengertian Komunikasi Secara Umum adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua individu atau lebih dengan efektif sehingga dapat dipahami dengan mudah. Istilah komunikasi dalam bahasa inggris disebut communication, yang berasal dari kata communication atau communis yang memiliki arti sama atau sama yang memiliki makna pengertian bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami. Syarat-Syarat Komunikasi - Dalam berkomunikasi diperlukan syarat- syarat tertentu dalam penggunaannya. Syarat-syarat komunikasi adalah sebagai:
1. Source (sumber) : Source adalah dasar dalam penyampaian pesan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber komunikasi adalah orang, lembaga, buku.
2. Komunikator : komunikator adalah pelaku penyampain pesan yang berupa individu yang sedang berbicara atau penulis, dapat juga berupa kelompok
orang, organisasi komunikasi seperti televisi, radio, film, surat kabar, dan sebagainya.
3. Pesan : pesan adalah keseluruhan yang disampaikan oleh komunikator.
Pesan mempunyai tema utama sebagai pengarah dalam usaha mengubah sikap dan tingkah laku orang lain.
4. Saluran (channel) : Saluran adalah komunikator yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Saluran komunkasi berupa saluran formal (resmi) dan saluran informal (tidak resmi). Saluran formal adalah saluran yang mengikuti garis wewenang dari suatu organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dan bawahannya, sedangkan saluran informal adalah saluran yang berupa desas-desus, kabar burung dan kabar angin.
5. Komunikan : komunikan adalah penerima pesan dalam komunikasi yang berupa individu, kelompok dan massa
6. Effect (hasil) : effek adalah hasil akhir dari suatu komunikasi dengan bentuk terjadinya perubahan sikap dan perilaku komunikan. Perubahan itu bisa sesuai keinginan atau tidak sesuai dengan keinginan komunikator.
Komunikasi interpersonal adalah komunikas yaang melibatkan hanya dua orang secara tatap muka, baik secara verbal maupun non verbal, seperti suami-istri dan dua sahabat dekat, begitupun dengan desa dan masyarakat.
Komunikasi yang terjadi antara kepala desa dan masyarakat aalah komunikasi yang terjalin secara terbuka, berempati, adanya dukungan, rasa positif, dan kesetaraan anatara kepala desa dan rakyat. Demi menciptakan interaksi yang baik dan harmonis antara kedua bela pihak selama dalam proses pemerintahan berlangsung. Khususnya di desa Pasapa tersebut.
2.4.2 Pengertian Kepala Desa
Kepala Desa adalah pemimpin dari desa di Indonesia. Kepala Desa merupakan pimpinan dari pemerintah desa. Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 (enam) tahun, dan dapat diperpanjang lagi untuk satu kali masa jabatan berikutnya.
Kepala Desa tidak bertanggung jawab kepada Camat, namun hanya dikoordinasikan saja oleh Camat. Jabatan Kepala Desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya wali nagari (Sumatera Barat), pambakal (Kalimantan Selatan), hukum tua (Sulawesi Utara), perbekel (Bali).15Wewenang Kepala Desa antara lain:
1. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
2. Mengajukan rancangan peraturan desa
3. Menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD
4. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa) untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD
Kepala Desa dilarang menjadi pengurus partai politik (namun boleh menjadi anggota partai politik), merangkap jabatan sebagai Ketua atau Anggota BPD, dan lembaga kemasyarakatan, merangkap jabatan sebagai Anggota DPRD, terlibat dalam kampanye Pemilihan Umum, Pemilihan Presiden, dan Pemilihan KepalaDaerah.
Kepala Desa dapat diberhentikan atas usul Pimpinan BPD kepada Bupati/Walikota melalui Camat, berdasarkan keputusan musyawarah BPD. Istilah Lurah seringkali rancu dengan jabatan Kepala Desa. Memang, di Jawa pada umumnya, secara historis
15Wikipedia.https://id.wikipedia.org/wiki/Kepala_desa. Dakses pada 15 April 2017.
pemimpin dari sebuah desa dikenal dengan istilah Lurah. Namun dalam konteks Pemerintahan Indonesia, sebuah Kelurahan dipimpin oleh Lurah, sedang desa dipimpin oleh Kepala Desa. Tentu saja keduanya berbeda, karena Lurah adalah Pegawai Negeri Sipil yang bertanggung jawab kepada Camat; sedang Kepala Desa bisa dijabat siapa saja yang memenuhi syarat (bisa berbeda-beda antar desa) yang dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkepala desa).
2.4.3 Pengertian Generasi Muda
Generasi muda sekarang ini menjadi bahan pembicaraan oleh semua kalangan masyarakat, karena generasi muda adalah generasi penerus bangsa yang nantinya sebagai pemegang nasib bangsa ini, maka generasi mudalah yang menentukan semua apa yang dicita-citakan bangsa dan Negara ini.
Kata ”Generasi” sebagaimana sering diungkapkan dengan istilah “angkatan
“seperti ; angkatan 66, angkatan 45, dan lain sebagainya. Pengertian generasi menurut Prof. Dr Sartono Kartadiharjo : “ditinjau dari dimensi waktu, semua yang ada pada lokasi sosial itu dapat dipandang sebagai generasi, sedangkan menurut Auguste Comte ( Pelopor sosiologi modern ) : “generasi adalah jangka waktu kehidupan sosial manusia yang didasarkan pada dorongan keterikatan pada pokok pikiran yang asasi”.
Dalam pola pembinaan dan pengembangan generasi mudasecara umum generasi muda diartikan sebagai golongan manusia yang berusia muda. Pengertian generasi muda dalam lokakarya tentang generasi muda yang diselenggarakan tanggal 4 – 7 Oktober 1978, dibedakan dalam beberapa kategori :
1. Biologi : generasi muda adalah mereka yang berusia 12-15 tahun ( remaja ) dan 15-30 tahun ( pemuda ).
2. Budaya, generasi muda adalah mereka yang berusia 13-14 tahun.