Makassar, 14-15 Desember 2023
70
Uji Konsentrasi Fermentasi Limbah Tahu Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Seledri (Apium graveolens L)
Fermentation Concentration Test of Liquid Tofu Waste on the Growth and Yield of Celery Plants (Apium graveolens L)
Ardaniah1*, Hellina Rahmisari2
1,2Program Studi Agroteknologi,Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
*Korespondensi : [email protected]
Abstrak
Daun seledri dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dan dapat digunakan sebagai tanaman berkhasiat obat.
Fermentasi limbah tahu cair adalah proses aktivitas mikroorganisme yang mampu mengubah senyawa kimia kompleks menjadi lebih sederhana. Riset ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi limbah tahu cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri. Riset dilaksanakan mulai dari tahap penyiapan media, benih, pembibitan, sampai panen. Lokasi penelitian di Desa Tapis Kecamatan Tanah Grogot Kabupaten Paser. Model penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu perlakuan dan tiga taraf yaitu:
f1 = 100 ml/L air. f2 = 200 ml/L air, dan f3 = 300 ml/L air. Hasil penelitian menunjukkan fermentasi limbah tahu cair berpengaruh nyata pada tinggi tanaman umur 8 Minggu Selelah Tanam. Berdasarkan uji BNT 0,05 menunjukkan bahwa fermentasi limbah tahu cair pada perlakuan fermentasi f1 berbeda nyata dengan f3, tetapi berbeda tidak nyata dengan f2. Berpengaruh nyata pada jumlah tangkai daun umur 8 Minggu Setelah Tanam.
Berdasarkan uji BNT 0,05 menunjukkan bahwa fermentasi f3 berbeda nyata dengan f1 dan f2, tetapi f1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan f2. Juga berpengaruh nyata terhadap bobot basah panen..
Berdasarkan uji BNT 0,05 menunjukkan bahwa perlakuan fermentasi f1 berbeda nyata dengan f2 dan f3, sedangkan f2 berbeda tidak nyata dengan f3. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fermentasi limbah tahu cair perlakuan terbaik yang memberikan hasil nyata mendukung pertumbuhan dan hasil seledri adalah f1 (100 ml/L air).
Kata Kunci: Seledri, Fermentasi, Limbah Tahu Cair Abstract
Celery leaves can be used as a vegetable and can be used as a plant with medicinal properties. Fermentation of liquid tofu waste is a process of microorganism activity that can change complex chemical compounds into simpler ones. This research aims to determine the effect of liquid tofu waste fermentation on the growth and yield of celery. The research was carried out starting from the media preparation of seedlings, until harvest.
The research location is in Tapis Village, Tanah Grogot District, Paser Regency. The research model used a Randomized Group Design with one treatment and three levels, namely: f1 = 100 ml/L water. f2 = 200 ml/L water, and f3 = 300 ml/L water. The results of the research showed that fermentation of liquid tofu waste had a significant effect on the height of plants aged 8 WAP. Based on the BNT test of 0.05, it shows that the fermentation of liquid tofu waste in the f1 fermentation treatment is significantly different from f3 affecting the number of leaf stalks 8 WAP. Based on the BNT test of 0.05, it shows that f3 fermentation is significantly different from f1 and f2. It also has a significant effect on the wet weight of the harvest. Based on the BNT test of 0.05, it shows that the f1 fermentation treatment is significantly different from f2 and f3. Fermentation of liquid tofu waste the best treatment that gives significant results supporting celery growth and yield is f1 (100 ml/Lair).
Keywords: Celery, fermentation, liquid tofu waste
71 PENDAHULUAN
Tanaman seledri adalah komoditas sayuran yang mempunyai banyak manfaat diantaranya dapat digunakan sebagai pelengkap masakan, selain itu dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional seperti penyakit rematik, hipertensi dan susah tidur. Seledri juga tanaman berkalori tinggi namun kandungan vitamin B dan C rendah (Mahrus et al, 2022). Menurut Firmansyah (2017), tanaman seledri baik digunakan sebagai tanaman pengusir hama dalam model budidaya tumpangsari.
Fermentasi limbah tahu cair merupakan proses yang dilakukan oleh mikroorganisme baik aerob maupun anaerob yang mampu mengubah senyawa kimia kompleks menjadi lebih sederhana.
Hal tersebut bertujuan untuk mempercepat penyerapan unsur hara pada tanaman, salah satu pengolahan dan pemanfaatan limbah tahu yaitu sebagai pupuk cair yang memiliki bahan organik yang tinggi (Rasmito et al, 2019). Lebih lanjut (Widari et al, 2020), mengemukakan bahwa penyimpanan limbah cair tahu lebih tinggi kandungan haranya karena selama penimpanan terjadi penguraian sehingga haranya tersedia bagi tanaman.
Di masa yang akan datang diperkirakan permintaan terhadap produk-produk hasil pertanian organik semakin meningkat. Berbagai jenis pupuk dapat digunakan dan merupakan alternatif dalam budidaya tanaman secara organik. Salah satu contoh adalah jenis pupuk organik yang terbuat dari ampas tahu setelah difermentasi menjadi POC (Putri et al. 2022). Fermentasi limbah tahu memiliki unsur hara yang diperlukan oleh tumbuhan (Sari & Istyadji 2022).
Di Kabupaten Paser masih sedikit petani yang membudidayakan tanaman seledri, maka penulis mencoba untuk meneliti apakah tanaman seledri bisa tumbuh dan berproduksi maksimal kalau ditanam pada media polybag dan diberikan fermentasi limbah tahu cair. Riset ini diharapkan menjadi acuan pemberian konsentrasi fermentasi limbah tahu pada budidaya seledri.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tapis Kecamatan Tanah Grogot Kabupaten Paser, dengan bahan dan alat meliputi seledri Amigo, tanah topsoil, sekam padi, serbuk gergaji, kompos janjangan sawit, limbah tahu cair, air kelapa, ragi, kunyit, temu lawak, sereh, gula, dekompuser (EM)4, dolomit, kotoran sapi, furadan 3G, cangkul, sekop, arit, gergaji, gunting, pisau, penggaris, tali, paranet 60 %, net, polybag ukuran 8 x 20 cm, gelas mineral, handsprayer ukuran 2 liter, alat tulis, timbangan digital, gentong ukuran 150 liter, gelas ukur, kertas label, kamera, blender, pH air (Power of Hidrogen).
Model penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu perlakuan dan tiga taraf yaitu: f1 = 100 ml/L air, f2 = 200 ml/L air, f3 = 300 ml/L air. Prosedur penelitian diawali dengan penyiapan lahan, pembuatan naungan, persiapan benih, penyiapan media tanam, penanaman bibit, pemberian pupuk, pembersihan gulma, pemberantasan patogen, dan pengambilan data. Data yang diambil yakni tinggi tanaman, jumlah tangkai daun, dan bobot hasil. Analisis data menggunakan sidik ragam, dan parameter yang berpengaruh dilanjutkan pengujian menggunakan BNT 5%.
72 HASIL DAN PEMBAHASAN
Rerata Tinggi Tanaman
Berdasarkan analisa sidik ragam, fermentasi limbah tahu memberikan pengaruh nyata pada pengukuran rerata tinggi tanaman seledri pada umur 8 MST.
Tabel 1. Uji Konsentrasi Fermentasi Limbah Tahu Cair Terhadap Rerata Tinggi Tanaman Umur 8 Mst
Fermentasi Limbah Tahu Cair Rerata
f1 f2 f3
36.33 38.42 31.50 35.42
35.25 36.50 33.33 35.03
34.33 27.08 28.83 30.08
Rata-rata
35.31a 34.00ab 31.22bAngka rerata yang diikuti oleh huruf yang tidak sama, berbeda nyata pada uji BNT 0,05 ( BNT
= 2.96
)
Berdasarkan uji BNT 0,05 limbah tahu cair fermentasi f3 berbeda nyata dengan f1, tetapi berbeda tidak nyata dengan f2. Fermentasi limbah tahu cair berpengaruh nyata pada rerata tinggi tanaman umur 8 MST. Hal tersebut diperkirakan pada fermentasi limbah tahu cair terdapat unsur hara seperti nitrogen, posfor dan kalium yang cukup sehingga mampu mendukung pertumbuhan vegetaif tanaman . Salah satu fungsi nitrogen adalah untuk pertumbuhan tunas, batang dan daun.
Sesuai pendapat (Sari and Istyadji 2022). bahwa limbah tahu cair yang telah difermentasi mengandung unsur hara seperti nitrogen yang potensial untuk membelahan dan pemanjangan sel sehinga mempengaruhi pertambahan tinggi tanaman.
Rerata Jumlah Tangkai Daun
Berdasarkan analisa sidik ragam menunjukkan fermentasi limbah tahu cair berpengaruh nyata pada pengamatan jumlah tangkai daun seledri umur 8 MST
Tabel 2 . Uji Fermentasi Limbah Tahu Cair Pada Rerata Jumlah Tangkai Daun Umur 8 Mst
Fermentasi Limbah Tahu Cair Rata-rata
f1 f2 f3
33.00 34.50 29.08 32.19
32.50 34.33 27.67 31.50
28.00 26.00 24.67 26.22
Rata-rata
31.17a 31.61a 27.14bAngka rerata yang diikuti oleh huruf yang tidak sama, berbeda nyata pada uji BNT 0,05 ( BNT
=3.80)
Berdasarkan uji BNT 0,05 menunjukkan fermentasi limbah tahu cair f2 berbeda nyata dengan f3, tetapi berbeda tidak nyata f1. Perlakuan fermentasi limbah tahu cair juga memberika pengaruh nyata pada rerata jumlah tangkai daun umur 8 MST. Hal ini diduga karena didalam fermentasi limbah tahu cair terdapat bahan nutrisi yang berperan untuk pertumbuhan tunas, batang dan daun yaitu nitrogen. Sesuai pendapat (Arisma and Lesmanasari 2022), salah satu fungsi nitrogen ialah
73 merangsang pembentukan bagian-bagian vegetatif pada tanaman, misalnyapertumbuhan batang dan daun.
Rata-Rata Bobot Basah Panen
Berdasarkan analisa sidik ragam, fermentasi limbah tahu cair (F) memberikan pengaruh sangat nyata pada pengamatan rata-rata bobot basah panen.
Tabel 3. Pengaruh Media Tanam dan Fermentasi Limbah Tahu Cair Terhadap Rerata Bobot Basah Panen
Fermentasi Limbah Tahu Cair Rata-rata
f1 f2 f3
13.59 13.02 12.77 13.12
13.10 12.82 12.62 12.85
12.80 11.77 11.00 11.86
Rata-rata
13.16a 12.54b 12.13bAngka rerata yang diikuti oleh huruf yang tidak sama, berbeda nyata pada uji BNT 0,05 ( BNT
=0.49)
Berdasarkan uji BNT 0,05, fermentasi f1 berbeda nyata dengan f2 dan f3, sedangkan f2 berbeda tidak nyata dengan f3. Analisis sidik ragam menunjukkan fermentasi limbah tahu sangat berpengaruh nyata terhadap rerata berat basah panen. Hal ini diduga karena adanya bakteri yang aktif menguraikan bahan oganik sehingga mudah diserap oleh tanaman. Adanya unsur nitrogen yang terkandung didalamnya akan mempercepat pertumbuhan batang dan daun sehingga mempengaruhi berat tanaman disaat panen. Sesuai pendapat (Widari, Rasmito, and Rovidatama 2020), bahwa bakteri-bakteri aktif pada fermentasi limbah tahu cair mampu menyediakan unsur hara sehingga tersedia bagi tanaman.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini bahwa perlakuan fermentasi limbah tahu cair mampu memenuhi nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman seledri dengan perlakuan fermentasi limbah tahu cair yang terbaik adalah kosentrasi 100 ml / L air.
UCAPAN TERIMA KASIH
Tak lupa penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dekan Fakultas Pertanian dan Bisnis Digital yang telah menyediakan dana untuk pelaksanaan riset ini. Ucapan terima kasih juga penulis haturkan pada Ketua Program Studi Agroteknologi yang sangat mendukung pengembangan dosen dalam bidang penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Arisma, Maydya, and Gadis Lesmanasari. 2022. “Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Seledri ( Apium Graveolens L .) Pada Pemberian Dosis Nitrogen Dan Bahan Organik Growth and Yield Response of Celery ( Apium Graveolens L .) on Nitrogen and Organic Matter Dosage.” 10(10):
562–69.
Firmansyah, A. P. (2017). Pengantar Perlindungan Tanaman. Penerbit : Inti Mediatama. Makassar
74 Mahrus Ali, Yeni Ika Pratiwi, dan Nurul Hudah. (2022). Budidaya Tanaman Sayur-Sayuran. Rena
Cipta Mandiri. Malang.
Putri, Yohana Enda et al. 2022. “Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Menjadi Pupuk Organik Cair (POC) Di Ruteng, Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai.” Jurnal Pendidikan dan Konseling 4: 1707–15.
Rasmito, Agung, Aryanto Hutomo, and Anjang Perdana Hartono. 2019. “Pembuatan Pupuk Organik Cair Dengan Cara Fermentasi Limbah Cair Tahu, Starter Filtrat Kulit Pisang Dan Kubis, Dan Bioaktivator EM4.” Jurnal IPTEK 23(1): 55–62.
Sari, Mella Mutika, and Maya Istyadji. 2022. “Pengaruh Pemberian Limbah Cair Tahu Dengan Konsentrasi Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Tanaman Pakcoy ( Brassica Rapa L ) Secara Hidroponik" Jurnal Sains dan Terapan 1 (3):
Widari, Nyoman Sri, Agung Rasmito, and Gosiyen Rovidatama. 2020. “Optimalisasi Pemakaian Starter Em4 Dan Lamanya Fermentasi Pada Pembuatan Pupuk Organik Berbahan Limbah Cair Industri Tahu the Optimalization Using Em4 To Make Organic Fertilizer From Tofu Waste Water.” Jurnal Teknik Kimia 15(1): 1–7.