Hum., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan ilmunya, menyumbangkan pemikiran dan meluangkan waktunya untuk membimbing penulis selama penulisan skripsi ini. Staf TU dan pegawai Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran administrasi dalam penyelesaian skripsi. Sahabat yang merasa seperti keluarga yang melukis kenangan absurd namun menyenangkan saat penulis masih kuliah.
Serta semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam hubungan timbal balik ini seringkali terjadi momen saling pengaruh antara orang dengan lingkungannya.4 Khususnya pengaruh lingkungan sosial teman sebaya dan lingkungan kerja sangat kuat pengaruhnya terhadap pola interaksi manusia dalam masyarakat. Dalam masyarakat terdapat unsur-unsur seperti norma, baik norma agama maupun norma sosial, kelompok sosial, strata sosial, pranata sosial, proses perubahan dan juga budaya bagi perilaku negatif individu dan manifestasinya. Sehingga menimbulkan permasalahan dalam masyarakat yang erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial dan pranata sosial.5 Masyarakat semakin luas dan banyak sekali pengaruh yang mempengaruhi cara berpikir masyarakat, sehingga konstruksi yang dibangun masing-masing berbeda-beda, hingga menjadi fenomena. terjadi.
Lesbian bukanlah hal baru di masyarakat, hanya saja masyarakat tidak menyadari keberadaannya sebagai lesbian. Dan masyarakat tidak peduli dengan keberadaan lesbian, karena dalam konstruksi yang dibangun oleh. Namun, setelah sekian lama bekerja sebagai buruh pabrik tekstil, dimana hampir 90% pekerjanya adalah perempuan, muncul benih-benih cinta sesama jenis di tempat kerja.
Dalam masyarakat yang mayoritasnya adalah heteroseksual, lesbian dipandang sebagai perilaku abnormal atau patologi sosial oleh masyarakat. Dalam perspektif komunitas lesbian, hal tersebut dianggap sebagai perbuatan yang dikutuk oleh Allah, karena dianggap melanggar kodrat.10 Hal ini membatasi interaksi lesbian dengan masyarakat hetero. Maka, berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik dengan fenomena pekerja pabrik lesbian dan bagaimana proses konstruksi sosial berdasarkan pemahaman konsepsi lesbian.
Rumusan Masalah
Berdasarkan konstruksi yang selama ini hegemonik dalam pemikiran masyarakat bahwa manusia diciptakan untuk bermitra dengan lawan jenis, namun dalam realitas masyarakat ternyata ada sebagian yang berpasangan dengan sesama jenis.
Tujuan Dan Kegunaan
Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat digunakan oleh penulis, pembaca atau mahasiswa khususnya sosiologi agama, sebagai referensi tambahan dan acuan yang berkaitan dengan tema. Untuk mengetahui bagaimana proses konstruksi sosial mempengaruhi pekerja pabrik dan untuk mengetahui bagaimana seksualitas lesbian dikonstruksikan di kalangan pekerja pabrik. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran tentang realitas pekerja pabrik lesbian di Kabupaten Subang dan sosial-keagamaan masyarakat saat ini sehingga dapat memperluas perspektif terkini tentang lesbian.
Hasil temuan peneliti diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya bidang sosiologi agama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi mahasiswa yang belum mencapai tahap akhir.
Tinjauan Pustaka
Bagaimana psikologi, sosiologi dan antropologi melihat seksualitas, serta apa dan bagaimana realitas seksualitas terjadi di masyarakat, merupakan isi utama buku ini. Secara khusus, buku ini penting untuk memahami interaksi yang kompleks antara seksualitas, gender, serta kesehatan reproduksi dan seksual. Riset juga menunjukkan bahwa butch lesbian (lesbian yang dilabeli tomboy, aktif, agresif, protektif, dll) semuanya berasal dari kalangan menengah ke atas, namun kehidupan keluarganya kurang harmonis.
Sedangkan femme lesbian (lesbian yang dicap feminim, pasif dan hanya menunggu atau menerima) berasal dari keluarga kelas menengah dan hidup dalam keluarga yang sangat harmonis. Ketika mereka berkumpul di komunitas, mereka tidak hanya berbicara tentang kecenderungan biologis mereka, tetapi juga berbicara tentang hal-hal biasa dari kehidupan sehari-hari anak muda. Cara berpakaian para butch lesbian lebih maskulin sedangkan femme lesbian pada umumnya seperti wanita.
Buku ini merupakan kumpulan yang menjelaskan tentang seksualitas dan kaitannya dengan kesehatan seksual dan reproduksi, khususnya dari perspektif sosial budaya. Buku ini menyajikan pembahasan dari berbagai disiplin ilmu termasuk disiplin psikologi, sosiologi dan juga antropologi seksualitas. 14 Astry Budiarty, Gaya Hidup Lesbian (Studi Kasus di Kota Makassar), Skripsi: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2011.
Kerangka Teori
Pada tahap ini, pemahaman yang ada dalam masyarakat menjadi realitas objektif.19 Proses ketiga adalah internalisasi dan sosialisasi. Penulis akan menggunakan teori Peter Berger tentang proses konstruksi sosial untuk menganalisis proses konstruksi citra diri, tindakan dan interaksi kaum lesbian yang bekerja sebagai buruh pabrik di beberapa pabrik besar di wilayah Subang. Seksualitas sebagai bidang ilmu sosial dapat dikatakan baru muncul pada awal abad ke-20, melalui persoalan konstruksi sosial seksualitas.
Makna seksualitas adalah bagaimana suatu masyarakat memberi makna terhadap hal-hal seksual yang sebenarnya ada dalam masyarakat. Berbicara tentang seksualitas sangat erat kaitannya dengan konstruksi nilai, perilaku dan orientasi seksual.22 Makna ini erat kaitannya dengan adanya ideologi budaya yang membingkai relasi gender yang ada. Berkaitan dengan kajian lesbian, kita harus bisa membedakan antara perilaku seksual dan orientasi seksual di samping konstruksi nilai.
Sedangkan orientasi seksual mengacu pada kapasitas dan potensi seseorang sebagai kodratnya, memiliki orientasi tertentu yang berkaitan dengan ketertarikan emosional, cinta, kasih sayang dan hubungan seksual. Sebagai konstruksi sosial, seksualitas bersifat cair dan membentuk kontinum, sehingga gender tidak hanya laki-laki dan perempuan, dan orientasi seksual juga tidak lurus. Beberapa variasi perbedaan orientasi seksual yang terdapat pada manusia antara lain adalah orientasi seksual heteroseksual (hetero), yaitu orang yang tertarik dengan lawan jenis, kemudian orientasi seksual homoseksual (homo), yaitu orang yang tertarik dengan sesama jenis, berbeda jenis kelamin. orientasi. biseksual (biseksual), yaitu orang yang memiliki orientasi seksual ganda, tertarik pada lawan jenis maupun sesama jenis, dan orientasi seksual aseksual yaitu.
Metode Penelitian
27 Metode penelitian kualitatif ini digunakan untuk menggali studi kasus berupa data informan lisan dan tertulis serta perilaku yang diamati di kalangan pekerja pabrik lesbian di wilayah Subang untuk dideskripsikan. Karena penelitian ini menyangkut pekerja pabrik yang lesbian, maka yang diwawancarai adalah pekerja pabrik yang memiliki orientasi seksual lesbian dan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh penulis. Dalam penelitian yang akan datang ini, diperlukan suatu metode pengumpulan data untuk mendapatkan data lapangan sesuai dengan metode penelitian.
Dalam hal ini, penulis mengamati langsung lokasi penelitian beberapa pabrik dan juga pemukiman yang sebagian besar dihuni oleh pekerja pabrik yang merupakan kaum lesbian. Penulis menentukan sampel dua pabrik besar dari beberapa pabrik yang ada di Kabupaten Subang, kemudian menentukan jumlah pabrik pekerja, untuk dipelajari dari dua pabrik. Melalui Miss, penulis dapat menjalin koneksi untuk melakukan wawancara dengan para pekerja pabrik lesbian yang kebetulan merupakan teman Nona.
Setelah itu, penulis menggunakan strategi mengakses teman-teman gay hingga akhirnya pekerja pabrik yang lesbian bersedia melakukan wawancara dan bersedia memberikan informasi yang diminta dengan syarat identitas mereka dirahasiakan. Dengan teknik tersebut penulis dapat memperoleh informasi secara langsung dan mendetail tentang proses konstruksi sosial dan seksualitas yang dikonstruksi oleh pekerja pabrik lesbian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pada awalnya para buruh pabrik lesbian menolak untuk diwawancarai, namun setelah melalui pendekatan pribadi penulis kepada para buruh pabrik lesbian, mereka setuju untuk diwawancarai dengan syarat identitas mereka dirahasiakan.
Sistematika Pembahasan
Pembahasan ini merupakan salah satu bagian terpenting yang dibahas dalam penelitian ini, karena proses konstruksi sosial yang dibahas pada bab ini menjadi inti penelitian yang dilakukan penulis untuk mengetahui bagaimana proses konstruksi sosial berlangsung dalam memahami sikap lesbian. . Selanjutnya pada bab empat penulis membahas tentang konstruksi seksualitas pekerja pabrik lesbian di Kabupaten Subang. Bab ini merupakan bab terakhir dalam penelitian ini. Pada bab ini dikemukakan saran-saran bagi peneliti yang akan mengkaji objek kajian yang sama dengan masalah, waktu dan tempat yang berbeda.
KESIMPULAN
83 . mencintai sesama jenis, dan tidak lagi mencintai lawan jenis dan kemudian menganggap cara hidup lesbian sebagai cara hidup yang paling sesuai dengan hati nuraninya. Proses objektifikasi dilegitimasi dengan menggunakan konsep hak asasi manusia sebagai alasan keberadaan lesbian, kemudian memberikan kesadaran logis bahwa lesbian juga manusia yang berhak menentukan pilihan hidupnya. Selain itu, buku-buku tentang hak-hak LBGT juga banyak beredar, serta aktivis dan LSM yang menyuarakan perlindungan dan memperjuangkan hak-hak LGBT, termasuk lesbian.
Kemudian ada konstruksi yang dipahami bahwa lesbian dan straight memiliki hasrat seksual yang sama untuk mencintai dan seterusnya, hanya objeknya saja yang berbeda. Selain itu, mereka percaya bahwa manusia tidak sempurna, sehingga perbedaan orientasi seksual seperti lesbian bukanlah sebuah kesalahan. Di antara nilai-nilai yang dipahami pekerja pabrik lesbian adalah ide-ide yang terkonstruksi di kepala mereka.
Dalam konsep lesbian terdapat nilai-nilai yang mendukung ketulusan dan kepuasan (tidak hanya dalam praktik hubungan sosial) bahkan rasa memiliki yang sangat tinggi dibandingkan dengan hetero. Mereka juga pada dasarnya percaya pada teologi normatif yang ada di masyarakat sekitar bahwa orang normal adalah orang yang berkerabat dengan lawan jenis dan bukan sesama jenis, sehingga hal ini dianggap sebagai kecemasan yang tidak dapat dihindari oleh kaum lesbian. Seksualitas berkaitan dengan konstruksi nilai baik buruk, norma, etika mengenai seksualitas, yang dianggap normal atau ideal dalam masyarakat.
SARAN
Perlu adanya penelitian yang lebih luas dan kajian lebih lanjut tentang konstruksi sosial dan seksualitas lesbian terkait dengan aspek pendidikan agama yang mempengaruhi penentuan seksualitas individu. Pemerintah daerah harus memperhatikan lesbianisme yang semakin marak di kalangan buruh perempuan di beberapa pabrik besar. Demikian beberapa saran yang dapat penulis sampaikan terkait konstruksi sosial dan seksualitas lesbian di wilayah Subang.
Abdullah, Irwan et al, Islam and the Construction of Sexuality, Yogyakarta: PSW IAIN Yogyakarta in The Ford Foundation, 2002. Sociologija religije in sociologija znanja”, v Roland Robertson (ur.), Religion: In Sociological Analysis and Interpretation, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada , 1993. Bungin, Burhan, Pornomedia Social Construction of Telematics Technology and Celebration of Sex in Mass Media, Jakarta: Prenada Media, 2003.
Konstruksi Seksualitas dan Relasi Kekuasaan dalam Praktik Diskursif Pernikahan Dini pada Jurnal Musawa, Yogyakarta: PSW UIN SUKA, 2017.
Wawancara Terhadap Buruh Pabrik Lesbian 1. Apa cita cita anda sewaktu kecil ?
- Adakah keinginan untuk menikah dengan lawan jenis dan menjadi hetero (seperti perempuan pada umumnya) ?