• Tidak ada hasil yang ditemukan

KTI NELVIA IVANKA.pdf - Repository Poltekkes Kaltim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KTI NELVIA IVANKA.pdf - Repository Poltekkes Kaltim"

Copied!
224
0
0

Teks penuh

Memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur. Ketua Jurusan Keperawatan Ketua Program Studi D-III Keperawatan, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Kalimantan Timur. Puji dan puji syukur saya panjatkan kepada Allah Subhanahu wata'ala , shalawat dan salam ke atas Baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan tulisan ilmiah saya guna memenuhi syarat kelulusan ujian akhir ijazah. program III Politeknik Keperawatan Jurusan Keperawatan Kelas C Balikpapan bertajuk “Keperawatan pada pasien penderita Benign Prostatic Hyperplasia”.

Andi Lis Arming G, S.Kep, selaku Ketua Program Studi D-III Keperawatan Samarinda, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Kalimantan Timur. Grace Carol Sipasulta, M.Kep., Sp.Kep.Mat, penanggung jawab Program Studi D-III Keperawatan Kelas Balikpapan, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Kalimantan Timur.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

  • Tujuan Khusus

Manfaat Penulisan 1. Bagi Peneliti

  • Definisi
  • Etiologi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
  • Patofisiologi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
  • Manifestasi Klinis
  • Penatalaksanaan
  • Klasifikasi
  • Komplikasi

Hipertrofi prostat jinak (BPH) adalah pembesaran kelenjar prostat dan jaringan seluler yang berhubungan dengan perubahan endokrin yang berhubungan dengan proses penuaan. Prostat terbagi menjadi beberapa zona, antara lain: zona perifer, zona sentral, zona transisi, zona fibromuskular anterior, dan zona periuretra. Sekresi kelenjar prostat masuk ke uretra prostat melalui beberapa saluran prostat ketika otot polos berkontraksi saat ejakulasi.

Kelenjar prostat bagian bawah menempel pada diafragma urogenital atau sering disebut otot dasar panggul. Kelenjar ini berukuran sebesar kemiri jantan dewasa, dengan panjang sekitar 3 cm, lebar 4 cm, dan tebal sekitar 3 cm. sekitar 2,5cm. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar prostat, bersama dengan cairan dari vesikula seminalis dan kelenjar Cowper, merupakan komponen terbesar dari semua cairan.

Gambar 2.1 Anatomi kelenjar prostat (Anonim, 2012 ).
Gambar 2.1 Anatomi kelenjar prostat (Anonim, 2012 ).

Konsep Masalah Keperawatan Benign Prostat Hiperplasia 1. Pengertian Masalah Keperawatan

  • Kriteria Mayor dan Minor
  • Faktor yang Berhubungan
  • Pathway Benign Prostat Hiperplasia
  • Batasan Masalah

Berikut penjabaran permasalahan yang terjadi pada penderita Benign Prostatic Hyperplasia menurut (Pratiwi, 2017), (Usolin et al., 2018) , disesuaikan dengan standar Indonesia Keperawatan: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI), yaitu. Berikut uraian permasalahan yang dihadapi pada klien penderita hiperplasia prostat jinak menurut Standar Keperawatan Indonesia (SDKI). Pengalaman sensorik atau emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan serangan tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung dalam waktu lebih singkat. seperti 3 bulan.

Pengalaman sensorik atau emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan serangan tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Risiko kehilangan darah, baik yang bersifat internal (terjadi di dalam tubuh) maupun eksternal (terjadi hingga keluar dari tubuh).b) Kurangnya paparan informasi tentang pencegahan perdarahan. 3) Kondisi klinis terkait.

Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien benigna prostat hyperplasia 1. Pengkajian Keperawatan

  • Diagnosa Keperawatan
  • Implementasi
  • Evaluasi

Implementasi keperawatan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan perawat untuk membantu klien berpindah dari masalah status kesehatan yang dihadapinya ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam (Potter & Perry, 2011). Tugas perawat adalah: evaluator adalah melakukan evaluasi, menafsirkan data sesuai dengan kriteria evaluasi, menggunakan temuan dari evaluasi.Permasalahan terselesaikan jika pasien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berupa tinjauan studi kasus yang mengeksplorasi suatu masalah keperawatan pada pasien dengan penyakit hiperplasia prostat jinak (BPH). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Tabel 2.1 intervensi keperawatan pre operasi benigna prostat hyperplasia
Tabel 2.1 intervensi keperawatan pre operasi benigna prostat hyperplasia

Subjek Penelitian

Definisi operasional menjelaskan seluruh istilah yang digunakan dan batasannya terkait dengan judul penelitian “Asuhan Keperawatan Pasien Benign Prostatic Hyperplasia”. Asuhan keperawatan merupakan suatu proses atau tahapan kegiatan pelayanan yang diberikan langsung kepada pasien penderita hiperplasia prostat jinak di berbagai setting pelayanan kesehatan. Penyelenggaraan asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan prinsip keperawatan sebagai suatu profesi berdasarkan pengetahuan dan nasehat keperawatan yang bersifat humanistik, serta berdasarkan kebutuhan obyektif pasien untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi pasien dan Berdasarkan kode etik dan etik keperawatan dalam lingkup wewenang dan tanggung jawab keperawatan, asuhan keperawatan dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan (Intervensi), Implementasi (Implementasi), Evaluasi (formatif/prosesif dan sumatif). .

Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah tumor jinak umum yang berkembang pada pria dan mengganggu pasien lanjut usia. BPH dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan pada pria, yang terjadi akibat produksi hormon testosteron dan dihidrotestosteron (DHT) (Lu Shing-Hwa, 2014). BPH merupakan diagnosis suatu penyakit proliferasi sel prostat dengan gejala klinis yang nyata yaitu LUTS (Lower Urinary Tract Gejala) (Heidelbaugh, 2008).Untuk menentukan hiperplasia prostat jinak, dibuktikan dari catatan medis yang tercatat di ruangan diagnosa oleh dokter.

Lokasi dan Waktu Penelitan

Prosedur Penlitian

Metode dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen-dokumen untuk memperoleh data atau informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Tinjauan dokumentasi penelitian ini melihat hasil pemeriksaan diagnostik dan data lain yang relevan, seperti hasil laboratorium, radiologi atau pemeriksaan fisik lainnya untuk mengetahui kelainan pada pasien. Alat atau instrumen pengumpul data menggunakan format asuhan keperawatan medik-bedah sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur.

Keabsahan Data

Analisa Data

Pada bab ini peneliti mengkaji hasil dan pembahasan kasus oleh Hary Handika P (Laporan Dinas) dan Tresna Wulandari (Penulisan Ilmiah) yang selanjutnya akan menguraikan hasil dan pembahasan mengenai data umum dan data khusus mengenai asuhan keperawatan prostat jinak sebelum operasi. . Pasien hiperplasia di ruang B Albania di dr.

Hasil

  • Gambaran Lokasi Penelitian
  • Data Asuhan Keperawatan a. Pengkajian

Pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah, nyeri dan nyeri saat buang air kecil. Pasien juga melaporkan mual, muntah dan penurunan nafsu makan. Riwayat kesehatan keluarga klien 1 dan klien 2 tidak ditemukan masalah, tidak ada satupun keluarga yang menderita penyakit/cacat dan menderita penyakit berat. Berdasarkan data psikososial Klien 1 dan Klien 2 tidak ditemukan masalah keperawatan, pola komunikasi baik, klien mampu berinteraksi kooperatif, dan tidak terjadi gangguan konsep diri.

Mata Mata utuh dan simetris kanan dan kiri, tanpa pembengkakan pada kelopak mata, sklera, konjungtiva anemia, tanpa edema pada kelopak mata, kornea jernih, + reflek, pupil isokhoral. Tidak ada mata kanan dan kiri yang sempurna dan simetris. kelopak mata bengkak, sklera, konjungtiva merah muda, tidak ada edema kelopak mata, kornea jernih, + reflek, pupil isokhoral. pernafasan melalui lubang hidung, posisi septum hidung di tengah, tidak ada sekret atau sumbatan pada lubang hidung, rasa tajam. baunya normal dan tidak ada kelainan. pernafasan melalui lubang hidung, posisi septum hidung di tengah, tidak ada sekret atau sumbatan pada lubang hidung, rasa tajam. baunya normal dan tidak ada kelainan d. coklat tua, 2 gigi geraham berlubang, lidah berwarna merah muda, selaput lendir lembab, amandel tidak membesar. Telinga Telinga simetris kanan dan kiri, berukuran sedang, liang telinga kanan dan kiri bersih, tidak ada benda asing dan liang telinga bersih, klien mendengar gesekan jari.

Telinga simetris kanan dan kiri, ukuran sedang, liang telinga kanan dan kiri bersih, tidak ada benda asing dan liang telinga bersih, Customer bisa. Pemeriksaan leher: Tidak ada lesi jaringan parut, tidak ada pembengkakan tiroid, tidak ada massa di daerah leher, tidak teraba. pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening. Tidak sesak, tidak batuk. simetris, pola pernafasan simetris, frekuensi normal, frekuensi 20x/menit, ritme 20x/menit, pernafasan tidak teratur, pola pernafasan lobus normal, hidung tidak ada, otot pernafasan bantu pernafasan tidak ada. Lubang hidung, premitus vokal tidak ada, terdapat otot bantu pernafasan, teraba disebelah kanan dan tidak ada alat bantu serta disebelah kiri pada saat klien bernafas.

Bunyi nafas, batas paru hepar vesikuler, bunyi normal, ICS ke 4, ucapan jelas, bunyi perkusi tidak sonor, bunyi nafas. bunyi vesikular tambahan, bunyi ujaran jelas, tidak ada bunyi napas tambahan. 9. Pemeriksaan Tidak nyeri Tidak nyeri. Bentuk perut rata, tidak ada benjolan/massa, tidak ada bayangan vena, peristaltik usus 17x/menit terdengar lambat, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hati, tidak ada nyeri tekan Mc.Berney, bunyi perut timpani, tidak ada asites. Sistem saraf Status ingatan panjang, perhatian dapat berulang, bahasa baik, dapat berorientasi pada orang, tempat dan waktu, tidak ada.

Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia
Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia

Kamis,5

Jum’at, 12

  • WITA
  • Pembahasan
    • Pengkajian
    • Intervensi Keperawatan
    • Implementasi Keperawatan
    • Evaluasi Keperawatan
  • KESIMPULAN
  • SARAN

Berdasarkan Tabel 4.6 diatas menjelaskan intervensi yang akan dilakukan pada Pasien 1 dan Pasien 2 selama masa pengobatan sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan. Tinjauan riwayat kesehatan saat ini menunjukkan bahwa pasien 1 merupakan pasien yang pada Februari 2020 mengaku mengeluh nyeri. Penilaian kesehatan sebelumnya menunjukkan bahwa Pasien 1 dan Pasien 2 menyatakan pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

Diagnosa keperawatan tidak sesuai dengan teori pada kasus hiperplasia prostat jinak pada pasien 1 dan 2. Diagnosa keperawatan pada pasien 1 sesuai dengan teori : a) Retensi urin berhubungan dengan peningkatan tekanan uretra. Rencana tujuan dan kriteria outcome yang diharapkan pada pasien 1 dan pasien 2 dengan nyeri akut dapat diselesaikan dalam waktu 1 x 6 jam.

Rencana tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan pada pasien hipertermia 1 dapat diselesaikan dalam waktu 2 x 24 jam. Rencana tujuan dan kriteria luaran yang diharapkan pada pasien 1 retensi urin dapat teratasi dalam waktu 3 x 24 jam. Implementasinya dilakukan sesuai dengan intervensi yang dikembangkan dan disesuaikan dengan permasalahan keperawatan pada pasien.

Tindakan keperawatan untuk mengatasi nyeri akut pada pasien 1 dan pasien 2, ajarkan pasien untuk menerapkan teknik non farmakologi (pernapasan dalam dan relaksasi). Berdasarkan hasil penelitian penerapan asuhan keperawatan pada pasien 1 dan pasien 2 pada pasien pre operasi Limfoma Jinak Hiperplasia Prostatik RSUD dr. Penetapan diagnosa keperawatan pada pasien 1 dan pasien 2. Diagnosa keperawatan yang dihasilkan dari data pengkajian pada pasien 1 .3 diagnosa keperawatan ditegakkan pada pasien dengan hiperplasia prostat jinak.

Intervensi pada pasien 1 dan pasien 2 dapat diatur sesuai dengan diagnosis yang terjadi, rencana yang disusun disesuaikan dengan teori yang ada. Pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien 1 dan pasien 2 telah sesuai dengan intervensi yang direncanakan berdasarkan teori yang ada dan sesuai dengan kebutuhan klien yang menjalani kemoterapi dengan hiperplasia prostat jinak.

Tabel 4.7 Implementasi keperawatan Pasien 1 dengan Benigna Prostat  Hiperplasia  (BPH)  di  RSUD  dr
Tabel 4.7 Implementasi keperawatan Pasien 1 dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) di RSUD dr

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.M DENGAN BENIGHT PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH) DI RUANG KELAS

UTAMA DAHLIA RSUD H. HANAFIE MUARA BUNGO TAHUN 2019

Pengkajian

  • INFORMASI UMUM Informasi klien

Klien datang ke RS "IGD" di Pukul 21:43 WIB klien mengeluh nyeri perut bagian bawah, nyeri dan nyeri saat buang air kecil, klien juga mengatakan mual muntah dan nafsu makan menurun. Klien menyatakan merasakan nyeri pada bagian perut, dan merasakannya dengan posisi miring ke kanan atau ke kiri, kesulitan dan nyeri saat buang air kecil, badan lemas, klien juga menyatakan tidak nyaman dengan kondisi yang dialaminya. timbul nyeri saat BAK, nyeri dirasakan pada pagi hari, nyeri terasa seperti ditusuk benda tajam yang ditusuk, nyeri terasa hingga pinggang bagian belakang, Skala nyeri 7, nyeri dirasakan pada aktivitas berat, klien terlihat lemas, Klien terlihat gelisah. Upaya mengatasinya: klien mengatakan tidak pernah menggunakan ramuan, hanya berobat ke klinik terdekat.

Kebiasaan : Klien mengatakan tidak lagi merokok dan minum minuman beralkohol, namun biasa merokok dengan frekuensi 3-4 X/hari.

Tabel 3.1  Pola Nutrisi
Tabel 3.1 Pola Nutrisi

Gambar

Gambar 2.1 Anatomi kelenjar prostat (Anonim, 2012 ).
Gambar  2.2  Perubahan  Testosteron  Menjadi  Dihidrotestosteron  Oleh  Enzim  5α-reductase  (Roehrborn  C  et  al, 2002)
Tabel 2.1 intervensi keperawatan pre operasi benigna prostat hyperplasia
Tabel 2.2 intervensi keperawatan post operasi benigna prostat hyperplasia  No.  Diagnosis  Tujuan dan kriteria
+7

Referensi

Dokumen terkait

1, January 2021 Printed in Indonesia Pages: 39-58 COVID-19’S NEGATIVE IMPACTS ON NEPALESE ECONOMY WITH A SOUTH ASIAN PERSPECTIVE: STRATEGIC RESPONSE ON POST PANDEMIC CONTROL