• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUALITAS DIRI REMAJA

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "KUALITAS DIRI REMAJA "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 3. No. 1 Januari-Juni 2020, hal. 16~27

p-ISSN : 2621-136x 16

Laman utama jurnal: https://journal.akperbinainsan.ac.id/index.php/jss

PENERAPAN ABC INTEGRASI SEBAGAI PROGRAM KESEHATAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN

KUALITAS DIRI REMAJA

Eva Nurlina Aprilia STIKES Notokusumo Yogyakarta email: [email protected]

Informasi Artikel Kata Kunci : Integrasi ABC Intervensi

Keperawatan Komunitas Remaja, Kesehatan Reproduksi

ABSTRAK

Latar Belakang: Prevalensi masalah kesehatan reproduksi remaja meningkat seiring dengan kondisi sosial dan gaya hidup remaja yang semakin bebas, sehingga diperlukan pencegahan dalam bentuk peningkatan kualitas diri remaja untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan reproduksi. Tujuan:

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan ABC Integration terhadap peningkatan kualitas diri remaja dalam bidang kesehatan reproduksi di SMP Gedangsari N 1 Gunungkidul Yogyakarta.

Hasil: Hasil Kualitas diri remaja dalam keterampilan spiritual baik 71,43%

dan kualitas diri cukup 28,57%. Kualitas diri remaja pada keterampilan emosional baik 42,86% dan kualitas diri cukup 54,08% dan kurang 3,06%, kualitas diri remaja pada keterampilan sosial baik 61,22% dan kualitas diri cukup 38,78%. Kualitas diri remaja pada keterampilan mental berada pada kualitas diri baik 47,96% dan cukup yaitu 52,04% dan kualitas diri keterampilan fisik baik 34,69% cukup 61,22% dan kurang 4,08%.

Kesimpulan: Ada pengaruh penerapan ABC Integration terhadap peningkatan kualitas diri remaja dalam kesehatan reproduksi ditinjau dari peningkatan kualitas diri remaja ditinjau dari aspek spiritual, emosional, sosial, mental dan fisik.

ABSTRACT Keywords:

ABC Integration, Community Nursing Interventions, Adolescents,

Reproductive Health

Background: The prevalence of adolescent reproductive health problems increases along with the social conditions and lifestyles of adolescents that are increasingly free, so prevention is needed in the form of developing the quality of adolescents' self to prevent reproductive health problems.

Objective: Writing aims to determine the effect of the application of ABC Integration to the improvement of adolescent's self quality in reproductive health at Gedangsari N 1 Middle School, Gunungkidul, Yogyakarta.

Result: Results Adolescent's self quality in spiritual skills is good 71.43%

and self quality is sufficient 28.57%. Adolescent self quality on good emotional skills is 42.86% and self quality is enough 54.08% and less 3.06%, adolescent self quality on social skills is good 61.22% and self quality is sufficient 38.78%. Adolescent's self quality on mental skills is in good self quality 47.96% and sufficient that is 52.04% and self quality in physical skills is good 34.69%, enough 61.22% and less 4.08%

Conclusion: There is the influence of the application of ABC Integration to improve adolescent self quality in reproductive health in terms of improving the quality of self adolescents in terms of spiritual, emotional, social, mental and physical.

Penulis Korespondensi:

Eva Nurlina Aprilia,

STIKES Notokusumo Yogyakarta Email: [email protected]

(2)

1. PENDAHULUAN

Masa remaja adalah masa peralihan atau transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting dan diawali dengan matangnya organ-organ fisik secara seksual sehingga mampu bereproduksi (Dewi, 2012). Masa remaja diawali oleh masa pubertas yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik yang meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh serta fungsi fisiologis yaitu kematangan organ-organ seksual. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder (Kusmiran, 2011).

Kematangan seksual pada remaja menyebabkan munculnya minat seksual dan keingintahuan remaja tentang seksual, minat seksual remaja tersebut antara lain adalah minat dalam permasalahan yang menyangkut kehidupan seksual, keterlibatan aspek emosi dan sosial pada saat berkencan serta minat dalam keintiman secara fisik.

Data sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 238,6 juta jiwa dan 64 juta atau 27,6% dari jumlah total penduduk Indonesia diantaranya adalah Remaja (Berita Indonesia, 13 Februari 2013). Jumlah remaja berusia 10-24 tahun sebesar 65,7 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2014). Di jawa Tengah, jumlah remaja yang berusia 15-19 tahun sebesar 2.712.800 (9%) dari total penduduk seluruh Jawa Tengah yang berjumlah 32.382.657 jiwa. Di kota Semarang, jumlah remaja yang berusia 15-19 tahun sebesar 1.117.088 (71,79%) dari total penduduk seluruh kota Semarang yang berjumlah 1.555.984 jiwa (BPS Jawa Tengah, 2010).

Proporsi jumlah penduduk berusia remaja yang semakin besar, menjadikan remaja sebagai kelompok yang berisiko dan rentan terhadap adanya masalah kesehatan. Masalah kesehatan berisiko yang sering muncul pada remaja antara lain adalah merokok, konsumsi alkohol, konsumsi obat, depresi atau risiko bunuh diri, emosi, masalah fisik, problem sekolah dan perilaku seksual (Stanhope & Lancaster, 2004). Perilaku yang muncul pada remaja dalam kehidupannya akan menimbulkan masalah-masalah yang dialami pada masa remaja sehingga remaja menjadi populasi berisiko di masyarakat (McMurray, 2003).

Data mengenai Perilaku seksual menyimpang pada remaja di dunia diperoleh dari National Surveys of Family Growth menyebutkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama masa pubertas dan 20% dari mereka mempunyai lebih dari empat pasangan. Survey yang dilakukan oleh Youth Risk Behavior Survey (YRBS) secara nasional di Amerika Serikat pada tahun 2006 menyatakan bahwa 47,8% pelajar yang duduk di kelas 9-12 telah melakukan hubungan hubungan seksual pranikah, 35% pelajar SMA telah melakukan perilaku seksual secara aktif (Daili, 2009 dalam Damanik, 2012). Tindakan perilaku seksual bebas juga dapat menyebabkan HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome).

Penyimpangan perilaku seksual tidak hanya terjadi di dunia tetapi juga terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010, di Indonesia terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan presentase yaitu usia 20-29 tahun sebesar 48,15 dan usia 30-39 tahun sebesar 30,9%. Penelitian Sahabat Remaja (2012) tentang perilaku seksual di empat kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa 3,6% remaja di kota Medan, 8,5% remaja di kota Yogyakarta, 3,4% remaja di kota Surabaya, serta 31,1% remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif. Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah di Indonesia. Data yang tersedia berhubungan dengan perilaku seksual remaja yang menyimpang di peroleh dari Data pusat informasi dan layanan remaja (PILAR) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah pada tahun 2012 mengenai kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa remaja yang melakukan hubungan seksual dan hamil pranikah masih tinggi. Menurut catatan PKBI pada tahun 2010, sebesar 379 (58%) remaja dari jumlah seluruh remaja yang berkonsultasi tentang kesehatan reproduksi di PILAR

(3)

PKBI yang melakukan hubungan seksual pranikah mencapai 98 (26%), hamil pranikah mencapai 85 (21%). Pada tahun 2011 sebesar 821 (25%) remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah mencapai 153 (20%), hamil pranikah mencapai 75 (9%) dan sebesar 52%

remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah berusia 15-19 tahun (PILAR PKBI Jawa Tengah, 2012). Perilaku seksual yang dilakukan remaja saat ini disebabkan oleh perkembangan perilaku seksual.

Tindakan perilaku seksual bebas tidak hanya terjadi di dunia maupun di kota-kota besar di Indonesia, akan tetapi juga banyak terjadi di daerah pedesaan, salah satu contohnya adalah daerah Gunungkidul di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut Data Susenas dari Badan Pusat Statistik propinsi DIY pada tahun 2009 menunjukkan perempuan yang menikah di usia 16 tahun di Yogyakarta adalah 8,74% dengan prosentase terbesar di kabupaten Gunungkidul (15,40%) diikuti oleh kabupaten Sleman (7,49%). Prosentase tersebut meningkat pada tahun 2010 menjadi 10,81%. Dengan prosentase terbesar di kabupaten Gunungkidul (16,24%), diikuti oleh kabupaten Kulon Progo (10,81%) dan kabupaten Sleman (9,12%) (PKBI DIY, 2013). Menurut hasil pencatatan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Gunungkidul, menunjukkan bahwa dari 366 kasus kehamilan tidak diinginkan di kabupaten tersebut sepanjang tahun 2010, sebesar 31,96% diantaranya dialami oleh remaja berusia 11 hingga 19 tahun (12 Desember 2012) Detik health.

Masalah utama remaja berawal dari pencarian jati diri. mereka mengalami krisis identitas dikarenakan periode masa remaja berada pada posisi transisi. Perilaku seksual dapat di cegah dengan mengendalikan faktor risiko yang salah satunya yaitu dengan merubah aktivitas sosial yang negatif menjadi aktivitas sosial yang positif.

Aktivitas sosial positif yang dilakukan oleh remaja akan berdampak pada kualitas diri remaja yang positif. Remaja yang memiliki keterampilan spiritual, emosional, sosial, mental dan fisik yang baik akan terhindar dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh remaja pada saat ini seperti penyalahgunaan narkoba dan terutama seks bebas hingga HIV/AIDS (BPPM, 2009). Pengembangan kualitas diri remaja dapat dikembangkan melalui pelaksanaan terapi integrasi. Terapi integrasi merupakan suatu terapi peningkatan kualitas diri melalui dimensi spiritual, emosional, mental, sosial dan fisik (Zainuddin, 2014). Terapi integrasi tersebut merupakan kelompok dari terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Techinique). Terapi integrasi dapat membantu mencegah risiko masalah kesehatan reproduksi. Pelaksanaan kegiatan program yang dilakukan dalam rangka untuk mencegah dan mengatasi risiko masalah kesehatan tersebut menggunakan teori dan model yang mendasari dalam pelaksanaannya.

Teori atau model yang digunakan adalah teori konseling model ABC dan Comprehensive School Health Model (CSHM). Model ABC merupakan suatu model konseling yang dikembangkan oleh Kristi Kanel.

ABC Integrasi ditujukan pada remaja dalam rangka meningkatkan kualitas diri remaja, remaja yang memiliki kualitas diri yang baik akan mampu terhindar dari masalah-masalah yang sering terjadi pada remaja terutama masalah kesehatan reproduksi seperti perilaku seks bebas.

ABC Integrasi ini tidak terlepas dari program BKKBN yaitu PIK-KRR dan GenRe (Generasi Berencana) yang salah satu kegiatannya adalah keterampilan hidup (life skill) khususnya dalam kesehatan reproduksi.

2. METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian ini merupakan bentuk desain eksperimen. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah pre test-post test desain. Rancangan ini merupakan rancangan dengan memberikan pre test (pengamatan awal) dengan mengukur kualitas diri remaja menggunakan buku “familly of hope” terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi atau perlakuan. Setelah diberikan perlakuan, kemudian dilakukan post test (pengamatan akhir).

Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 1 Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta pada kelas 1 dan 2. Alasan pemilihan tempat dikarenakan lokasi tersebut merupakan SMP di salah satu

(4)

kecamatan di Gunungkidul, dimana daerah Gunungkidul merupakan daerah yang paling tinggi angka kejadian kehamilan pada remaja. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2017.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa remaja kelas 1 dan 2 di SMP N 1 Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta. Teknik penentuan sampel yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah non probability sampling

3. HASIL

Analisis

1. Karakteristik Responden

Responden penelitian ini adalah siswa kelas 8 (delapan) baik laki-laki maupun perempuan. Siswa kelas 8 (delapan) berjumlah 98 siswa yang terdiri dari kelas 8A, 8B, 8C dan 8D. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penerapan ABC Integrasi terhadap Peningkatan Kualitas Diri Remaja dalam Kesehatan Reproduksi di SMP N 1 Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta.

2. Karakteristik Data Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 98 siswa di SMPN 1 Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta, adapun data karakteristik responden penelitian adalah siswa kelas 8 (delapan) baik laki-laki maupun perempuan, berusia 14-15 tahun.

Siswa laki-laki berjumlah 54 orang dan siswa perempuan berjumlah 44 orang.

Dimensi Keterampilan Spiritual

Penerapan life skill (keterampilan hidup) spiritual selama 3 (tiga) minggu menunjukkan bahwa nilai skor kualitas diri remaja berada dalam nilai skor baik dan cukup. Kualitas diri remaja pada keterampilan spiritual yang baik 71,43% dan kualitas diri yang cukup 28,57%.

Skor spiritual minggu ke-1 sampai minggu ke-3 mempunyai rata-rata sebesar 7,16. Skor spiritual minggu ke-2 mengalami peningkatan 1,17% dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,18%.

(5)

Dimensi Keterampilan Emosional

Penerapan life skill (keterampilan hidup) emosional selama 3 (tiga) minggu menunjukkan bahwa nilai skor kualitas diri remaja berada dalam nilai skor baik, cukup dan kurang. Kualitas diri remaja pada keterampilan emosional yang baik 42,86%, kualitas diri yang cukup 54,08%

dan kualitas diri yang kurang 3,06%. Skor emosional minggu ke-1 sampai minggu ke-3 mempunyai rata-rata sebesar 6,42. Skor emosional minggu ke-2 mengalami peningkatan 0,99%

dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,11%.

Dimensi Keterampilan Sosial

Penerapan life skill (keterampilan hidup) sosial selama 3 (tiga) minggu menunjukkan bahwa nilai skor kualitas diri remaja berada dalam nilai skor baik dan cukup. Kualitas diri remaja pada keterampilan sosial yang baik 61,22%, dan kualitas diri yang cukup 38,78%. Skor sosial minggu ke-1 sampai minggu ke-3 mempunyai rata-rata sebesar 6,89. Skor sosial minggu ke-2 mengalami peningkatan 0,6% dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,14%.

(6)

Dimensi Keterampilan Mental

Penerapan life skill (keterampilan hidup) mental selama 3 (tiga) minggu menunjukkan bahwa nilai skor kualitas diri remaja berada dalam nilai skor baik dan cukup. Kualitas diri remaja pada keterampilan mental yang baik 47,96%, dan kualitas diri yang cukup 52,04%. Skor mental minggu ke-1 sampai minggu ke-3 mempunyai rata-rata sebesar 6,85. Skor mental minggu ke-2 mengalami peningkatan 1,63% dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,08%.

Dimensi Keterampilan Fisik

Penerapan life skill (keterampilan hidup) fisik selama 3 (tiga) minggu menunjukkan bahwa nilai skor kualitas diri remaja berada dalam nilai skor baik, cukup dan kurang. Kualitas diri remaja pada keterampilan fisik yang baik 34,69%, kualitas diri yang cukup 61,22% dan kualitas diri yang kurang 4,08% Skor fisik minggu ke-1 sampai minggu ke-3 mempunyai rata-rata sebesar 6,06. Skor fisik minggu ke-2 mengalami peningkatan 0,17% dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,03%.

(7)

4. PEMBAHASAN

Dimensi Keterampilan Spiritual

Keterampilan berfokus pada bersyukur dan berdoa. Keterampilan spiritual dalam program kesehatan reproduksi meliputi keterampilan memahami kehidupan spiritual, keterampilan menyadari kehidupan spiritual dan keterampilan melaksanakan kehidupan spiritual (BPPM, 2009).

Memahami konsep keterampilan spiritual diperlukan 3 (tiga) pemahaman yaitu spiritual, kecerdasan spiritual dan keterampilan spiritual. Keterampilan memahami spiritualitas merupakan kemampuan memahami bahwa semua kegiatan jasmani, pikiran dan emosi manusia digerakkan atas dasar suara hati atau rohani dan diarahkan untuk memperoleh keridhoan Tuhan. Spiritualitas merupakan rohani yang dimiliki manusia dan merupakan unsur kehidupan manusia yang langsung diberikan dan berasal dari Tuhan, hanya dengan kegiatan spiritual manusia bisa tumbuh dan berkembang.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah diperoleh bahwa Kualitas diri remaja pada keterampilan spiritual terdiri dari kualitas yang baik yaitu 71,43% dan masih ada yang memiliki kualitas diri yang cukup 28,57%. Peningkatan dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-3 tidak terlalu signifikan sehingga masih harus memperoleh pembinaan dan pendampingan spiritual yang lebih baik agar para remaja memiliki pegangan spiritual yang kuat untuk dapat menghindari hal-hal maupun perilaku yang negatif.

1. Dimensi Keterampilan Emosional

Keterampilan emosional berfokus pada berkomunikasi secara efektif. BPPM (2009) menyebutkan bahwa keterampilan emosional dalam program kesehatan reproduksi yaitu terdiri dari keterampilan bersikap tegas (asertif) dan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain (Komunikasi Interpersonal)

(8)

Keterampilan bersikap tegas (asertif). Bersikap tegas merupakan salah satu perilaku yang dapat dipilih ketika seseorang berada dalam situasi yang sulit dan ketika harus mengambil sebuah keputusan. Keterampilan bersikap tegas akan membantu seseorang dalam menghadapi sebuah situasi sulit tanpa kehilangan harga diri dan martabatnya. Keterampilan bersikap asertif sangat penting situasi sosial dimana terdapat tekanan untuk melakukan sesuatu termasuk hal-hal yang negatif.

Bagi remaja, berbagai perilaku berisiko seperti penyalahgunaan napza dan perilaku seksual yang tidak bertanggungjawab dapat terjadi sebagai hasil dari kesulitan untuk mengekspresikan dan menyampaikan ide-ide, minat dan nilai-nilai serta ketidakmampuan menolak tekanan kelompok yang tidak sehat dan tekanan sosial. Kemampuan efektif sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. komunikasi yang baik dapat membangun hubungan interpersonal yang baik.

Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh bahwa nilai keterampilan emosional berada dalam nilai skor baik, cukup dan kurang. Kualitas diri remaja pada keterampilan emosional yang baik 42,86%, kualitas diri yang cukup 54,08%

dan masih terdapat kualitas diri yang kurang 3,06%. Skor emosional minggu ke-2 mengalami peningkatan 0,99% dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,11%. Peningkatan dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-3 tidak terlalu signifikan sehingga masih harus memperoleh pembinaan dan pendampingan mengenai bagaimana cara mengendalikan emosional yang lebih baik agar dapat menghadapi masalah dalam kondisi apapun.

2. Dimensi Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial yang baik akan diperoleh ketika seseorang berhasil melakukan atau memperbaiki keterampilan emosinya, keterampilan emosi termasuk dalam keterampilan mengendalikan diri sendiri (Zainuddin, 2014). Menurut Covey (dalam Zaimuddin, 2014) menyebutkan bahwa untuk dapat mengendalikan orang lain secara efektif, maka harus dapat mengendalikan diri sendiri terlebih dahulu. Keterampilan sosial perlu diberdayakan dalam rangka mencetak diri sebagai seseorang yang dapat menginspirasi orang banyak.

Perkembangan sosial mempengaruhi remaja dalam hubungan sosialnya dengan teman sebaya dan orang tua dan yang paling essensial dari perkembangan sosial remaja adalah pencarian identitas atau jati diri. Apabila perkembangan sosial tidak mengalami kesuksesan maka remaja tidak akan dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sosialnya dengan baik, sehingga pada masa dewasa akan mengalami kesulitan dalam kehidupan sosialnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, Kualitas diri remaja pada keterampilan sosial berada pada ketegori baik 61,22%, namun masih ada yang dalam kategori kualitas diri cukup 38,78%. Skor sosial minggu Skor sosial minggu ke-2 mengalami peningkatan 0,6% dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,14%. Peningkatan skor sosial minggu ke-1 sampai minggu ke-3 tidak terlalu signifikan, sehingga diperlukan adanya pembinaan dan pendampingan mengenai keterampilan sosial yang lebih baik lagi agar remaja dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sosialnya dengan baik, sehingga pada masa dewasa tidak akan mengalami kesulitan dalam kehidupan sosialnya.

3. Dimensi Keterampilan Mental

Keterampilan mental di fokuskan pada berpikir positif. Adapun keterampilan mental dalam program kesehatan reproduksi yaitu berpikir positif, bersedia mengambil risiko, sabar terhadap diri sendiri, menghindari pengaruh negatif, bergaul dengan kelompok pendukung, mengembangkan prioritas, mengembangkan rasa humor dan menerima tanggungjawab (BPPM, 2009).

Remaja yang memiliki rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri akan mampu mengaktualisasikan diri dalam lingkunganpun akan menerima dengan positif,

(9)

sehingga remaja dapat menjaga dirinya dari pengaruh-pengaruh negatif bahkan dapat memberikan manfaat terhadap lingkungannya..

Berpikir positif merupakan sebuah keterampilan untuk mencegah diri kita sendiri terjerumus dalam kesedihan, kesusahan atau persoalan yang sesungguhnya dapat diatasi.

Remaja perlu mengembangkan kemampuan atau keterampilan berlikir positif untuk membantu dirinya sendiri menghadapi berbagai pengalaman dan peristiwa sehari-hari dalam kehidupan remaja.

Dalam perkembangan mental, seorang remaja cenderung untuk menolak saran- saran yang tidak dapat dipahaminya serta mengkritik pendapat-pendapat tertentu yang berlawanan dengan kesimpulannya sendiri, seorang remaja yang diberikan kesempatan untuk berpikir bebas dan boleh mengkritik akan mengalami kebimbangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mendapat kesempatan untuk berpikir logis dan mengkritik hal-hal yang tidak masuk akal.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, Kualitas diri remaja pada keterampilan mental berada pada kategori yang baik 47,96%, dan masih ada yang memiliki kualitas diri yang cukup 52,04%. Skor mental minggu ke-2 mengalami peningkatan 1,63%

dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,08%.

Peningkatan di minggu ke-1 sampai minggu le-3 tidak terlalu signifikan sehingga masih memerlukan pembinaan dan pendampingan dalam Keterampilan Fisik mengembangkan keterampilan mental remaja yang lebih baik lagi agar mampu selalu bersikap positif dan menghindari perilaku yang negatif

Keterampilan fisik dalam program kesehatan reproduksi remaja antara lain adalah memahami tubuh sendiri, berkomunikasi dengan gejala tubuh, mengatur pola makan, olahraga murah dan sehat serta tidur sebagai terapi kesehatan (BPPM, 2009). Keterampilan fisik merupakan keterampilan seseorang yang ditunjukkan secara fisik seperti melihat, bersuara, mencium, merasa, menyentuh dan bergerak. Keterampilan fisik ditandai dengan adanya kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan fisik. Kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan fisik ditentukan oleh adanya keseimbangan antara makanan (nutrisi), olahraga dan istirahat.

Keterampilan fisik dalam hal ini merupakan keterampilan seorang remaja untuk memilih makanan, berolahraga dan beristirahat secara seimbang.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh skor kualitas diri remaja untuk keterampilan fisik berada dalam kategori baik, cukup dan masih ada yang kurang. Kualitas diri remaja pada keterampilan fisik yang baik 34,69%, kualitas diri yang cukup 61,22% dan kualitas diri yang kurang 4,08%. Skor fisik minggu ke-2 mengalami peningkatan 0,17%

dibandingkan minggu ke-1, dan pada minggu ke-3 mengalami peningkatan sebesar 0,03%.

Peningkatan skor dari minggu ke-1 sampai minggu ke-3 tidak terlalu signifikan sehingga remaja masih membutuhkan pembinaan dan pendampingan dalam meningkatkan keterampilan fisik seorang remaja, karena keseimbangan dan ketahanan fisik yang kuat pada remaja akan menjadi titik awal yang baik untuk tumbuh kembangnya menuju usia dewasa.

5. KESIMPULAN

Terdapat pengaruh penerapan ABC Integrasi terhadap peningkatan kualitas diri remaja dalam kesehatan reproduksi, peningkatan kualitas diri remaja baik dari segi spiritual, emosional, sosial, mental dan fisik bukan hal yang mudah untuk dilakukan oleh remaja karena tahap usia remaja masih berada pada tahap beradaptasi terhadap perkembangan yang terjadi pada dirinya dan spiritual, emosional, sosial, mental dan fisik remaja belum matang sehingga remaja perlu dilatih, dibina dan dibimbing secara rutin setiap hari, Observasi, monitoring dan pembinaan diperlukan untuk semangat dan kekuatan remaja untuk selalu mengembangkan kualitas dirinya dengan melibatkan sumber daya yang mampu mendukung terlaksananya kegiatan dengan optimal.

6. DAFTAR PUSTAKA

(10)

___(2007). Guidelines for a Coordinated Approach to School Health Addressing the Physical, Social and Emotional Health needs of the School Community. Connecticut State Department of Education

____(2009). Modul Kesehatan Reproduksi RemajaModul bagi Fasilitator. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

____(2012). Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Direktorat Bina Ketahanan Remaja

____(2010). Pedoman Teknik Konseling Kesehatan Remaja bagi Konselor Sebaya. Direktorat Bina Kesehatan Anak Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan RI

____(2006). Rasa Ingin Diakui Picu Kenakalan Remaja. Suara Merdeka. 19 Mei 2006

Ahmad Faiz Zainuddin, 2014. SEFT Total Solution Healing Happiness Success Greatness Self Transformation Training. Sefter Handbook-3rd edition.

Allender, J, A., & Spradley, B.W. (2005). Community Health Nursing : Promoting & Protecting The Public’s Health. Sixth Edition. Philadelphia : Lippincott

Damanik, Hotmelia. (2012). Pengaruh paparan media, internet dan teman sebaya terhadap perilaku seks bebas pada remaja SMA XY tahun 2012. Tesis. Program studi Magister FKM USU Medan

Data Pilah Kependudukan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2013

Echterling, L.G., Presbury, J dan McKee, J.E. (2005). Crisis Intervention: Promoting Resilience and Resolution in Troubled Times. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Eni, K. (2011). Kesehatan reproduksi remaja dan wanita. Salemba Medika : Jakarta

Haney, J.H & Leibsohn, J. (1999). Basic Counseling Responses: A Multimedia Learning System for the Helping Professions. Belmont: An International Thomson Publishing Company.

Heriana, E. (2012). Memahami perkembangan fisik remaja. Yogyakarta : Gosyen Publishing Imran, (2000). Perkembangan seksualitas remaja. modul 2. Jakarta : PKBI, IPPF, BKKBN, INFPA

Intan, K., & Iwan, A. (2012). Kesehatan reproduksi untuk mahasiswa kebidanan dan keperawatan.

Salemba Medika : Jakarta

Kanel, Kristi. 2009. Crisis Couseling: ABC’s Model. California State University, Fullerton.

http://www.emicrotraining.com/product_info.php?products_id=337, diakses tanggal 17 Mei 2010.

Mardiya. (2008). Membangun Remaja Masa Depan. http://.prov.bkkbn.go.id

Mardiya. (2013). Artikel Hari Kepedudukan Sedunia Tahun 2013 Saatnya Tahu dan Peduli Terhadap Masalah Remaja

McLeod, J. (2006). Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus. Edisi Ketiga. Jakarta : Kencana.

(11)

Mc. Murray, A. (2003). Community health and wellness : a sociological approach. Toronto : Mosby.

Munro & Koffman. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle School : A Practical Approach. Aiowa: Brown and Benchmark. Inc.

Nelson-Jones, Richard. (2005). Practical Counseling and Helping Skills. Fifth Edition. London : SAGE Publications.

Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Sahabat remaja. (2012). Dampak nyata perilaku seks pranikah. Diungguh http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/12dampak-nyata-perilaku-seks-pranikah-

530864.html. 10 februari 2013

Sarwono, S.W. (2003). Psikologi remaja. Jakarta : Grafindo Persada Sarwono, S.W. (2005). Psikologi remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Sarwono, S. W. (2010). Psikologi remaja. Jakarta : Rajawali Pers.

Sarwono. S.W. (2012). Psikologi remaja. Edisi revisi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Soetjiningsih, Prof., dr. (2010). Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto

Sofyan, S. Willis, Prof., Dr. (2012). Remaja dan masalahnya mengupas berbagai bentuk kenakalan remaja narkoba, free sex dan pemecahannya. Alfabeta : Bandung

Sopiyudin, D,M.,DR.,M.Epid (2009). Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan. Jakarta : Sagung Seto

Sugiyono, Prof., DR. (2007). Statistika untuk penelitian. Bandung : Alfabeta

Sumiati, Dinasti, Nurhaeni, H. Aryani. R (2009). Kesehatan jiwa remaja dan konseling. Jakarta : Trans Info Media

Survey Demografi Kesehatan Indonesia (2007). Laporan Pendahuluan. Badan Pusat Statistik, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Kementrian Kesehatan, Jakarta : Suryati, R., & Anna, V. (2012). Kesehatan reproduksi untuk mahasiswi kebidanan.

Yogyakarta : Nuha medika

Stanhope, Lancaster. (2004). Community health nursing. 4th. St. Louis. Missouri : Mosby Co

Widyastuti, Elisabet Setia Asih. (2009). Personal dan sosial yang mempengaruhi sikap remaja terhadap hubungan seks pranikah. Jurnal promokes Indonesia. Vol. 4/no.2/agustus 2009 Jawa Tengah : PKBI

Winkle, W.S., Hastuti, M.M. (2004). Bimbingan dan konseling di Institusi pendidikan. Yogyakarta : Media Abadi

Yani, W., & Anita, R., & Yuliasti. E. (2009). Kesehatan reproduksi. Fitramaya : Yogyakarta

(12)

Yustince. (2006). Konseling Pemberdayaan Para Korban Kekerasan Sosial.

http://www.oaseonline.org/artikel/yustincekonseling.htm. diakses tanggal 19Mei 2010.

Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh penyuluhan media audio visual terhadap peningkatan sikap remaja di sekolah B tentang perilaku berisiko pada kesehatan reproduksi remaja Berdasarkan hasil yang telah

38/2017 Key determinants of innovation in rural areas Head of village and Government of Village Local government is key actor to boost local innovation Leaders who support