• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan akhir penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "laporan akhir penelitian"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Untuk mengetahui suhu nyaman bagi itik Sikumbang janti sebaiknya dilakukan penelitian dengan mengatur suhu kandang pada saat penelitian. Untuk mengetahui secara pasti pada suhu kandang berapa Itik Sikumbang Janti dapat berkembang secara optimal, perlu dilakukan penelitian.

Permasalahan Yang Akan Diteliti

3 ditemukan bahwa beternak itik di bawah suhu atau zona nyaman tidak berpengaruh nyata terhadap performa ayam, tidak jauh berbeda dengan yang dipelihara pada suhu atau zona nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa dan persentase karkas serta income over feed cost (IOFC) itik Sikumbang janti yang dipelihara pada suhu kandang berbeda.

Tujuan Khusus Penelitian

Urgensi Penelitian

Pengaruh perlakuan terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan pada itik Sikumbang Janti yang mengalami cekaman suhu di dalam kandang. 24 Rata-rata konsumsi pakan itik Sikumbang janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang yang berbeda selama perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6. Rata-rata pertambahan bobot badan itik Sikumbang janti pada setiap penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

Hasil analisis varian menunjukkan bahwa perbedaan suhu kandang selama pemeliharaan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) dan sangat nyata (P<0,01) terhadap peningkatan bobot badan itik Sikumbang janti. Hasil uji tambahan DMRT menunjukkan rerata pertambahan bobot badan itik Sikumbang janti pada perlakuan P1 dan P2 berbeda nyata (P<0,05) namun berbeda sangat nyata (P<0,01) dibandingkan perlakuan P3. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, rata-rata bobot hidup, persentase pemotongan dan (Income over feed cost) itik Sikumbang-janti jantan yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.

Hasil Uji Jarak Berganda Duncan lebih lanjut menunjukkan bahwa rata-rata bobot hidup itik Sikumbang Janti jantan pada perlakuan P1 (suhu rendah) mempunyai bobot hidup paling tinggi, tidak berbeda nyata dengan perlakuan P2 (suhu kandang) dan memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap perlakuan. P3 (suhu hangat). Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, rata-rata persentase karkas itik Sikumbang Janti jantan yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 diatas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, rata-rata bobot limpa itik Sikumbang janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, rata-rata bobot tiroid itik Sikumbang janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8. Rata-rata bobot tiroid itik Sikumbang janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda masih dalam kisaran normal. . Berdasarkan penelitian yang dilakukan, rata-rata bobot ginjal itik Sikumbang janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8 diatas.

Gambar 1. Ciri khas itik Sikumbang janti (Penelitian, 2019).
Gambar 1. Ciri khas itik Sikumbang janti (Penelitian, 2019).

RENSTRA DAN PETA JALAN PENELITIAN PERGURUAN TINGGI TAHAP II

TINJAUAN PUSTAKA

Ternak Itik

Itik Sikumbang Janti merupakan salah satu jenis bebek lokal yang sebaran geografisnya berada di Sumatera Barat, khususnya di daerah Payobasung, Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh. Secara umum itik Sikumbang Janti mempunyai ciri-ciri bulu berwarna putih keabu-abuan, jantan dewasa mempunyai corak abu-abu tua di kepala sedangkan betina hanya berwarna putih solid.

Pakan Itik

Harahap Arbi, Tami, Azhari dan Bandaro (1980) menyatakan bahwa itik yang dipelihara di Sumatera Barat sama dengan itik pulau Jawa yang mempunyai darah pelari India dilihat dari fenotipe itik Payakumbuh, itik Bayang, dan itik Kamang. Ujung sayap berwarna abu-abu kecoklatan, sehingga bebek jantan dan betina mudah dikenali. Paruh dan cakar berwarna coklat tua baik jantan maupun betina. Pada ujung sayap terdapat bulu berwarna hitam kebiruan yang menjadi ciri khasnya. dari bebek Sikumbang. Janti (Fricilia, 2014).

Suhu Kandang

Rata-rata tingkat konversi itik Sikumbang janti pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 diatas. Tabel 8 menunjukkan bahwa rata-rata bobot ginjal itik Sikumbang Janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda selama penelitian berkisar antara mg/100 g) bobot badan atau bobot setara.

Performan Itik

  • Pertambahan Bobot Badan
  • Konversi Ransum

Pertumbuhan Badan

  • Bobot Hidup
  • Persentase Karkas
  • Income Over Feed Cost (IOFC)

Bobot hidup dapat diketahui dari hasil penimbangan bobot badan hewan dalam keadaan masih hidup setelah dipuasakan selama 12 jam (Siregar dan Sabrani, 1980). Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot hidup adalah konsumsi ransum, kualitas ransum, jenis ransum, lama pemeliharaan dan aktivitas (Soeparno, 2005). Menurut Barkley dan Blade (1998), untuk menghasilkan bobot hidup yang baik perlu memperhatikan kualitas dan kuantitas ransum yang dikonsumsi.

Rasyaf (2004) Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan untuk mencapai bobot hidup optimum adalah jenis itik, kualitas dan kuantitas pakan, lingkungan dan pemeliharaan. Amrullah (2006) menambahkan bahwa faktor yang mempengaruhi bobot hidup tidak hanya jenis kelamin, umur dan pertambahan berat badan tetapi ada beberapa faktor lain diantaranya stres, makanan dan lingkungan. 15 Menurut penelitian Susanti dkk. 1998) yang menyebutkan bahwa bobot hidup itik alabio, itik mojosari dan hasil persilangannya dapat mencapai 1437 gram/ekor pada umur 8 minggu.

Persentase karkas merupakan faktor penting untuk menilai produksi ternak sebenarnya karena pada bobot hidup masih terdapat saluran pencernaan dan organ dalam yang bobotnya berbeda-beda pada setiap hewan (Daryanti, 1982). North (1990) menyatakan bahwa bobot karkas berhubungan dengan bobot potong; bobot hidup yang besar akan diikuti pula dengan bobot karkas yang besar dan sebaliknya.

Organ Physiologis Itik

  • Kelenjar Tiroid
  • Ginjal

Hasil analisis varian menunjukkan bahwa perbedaan suhu kandang selama masa perlakuan menunjukkan adanya pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap konversi ransum itik Sikumbang janti. Pengaruh perlakuan terhadap bobot hidup, persentase karkas dan IOFC (income over feed cost) itik Sikumbang Janti selama IOFC (income over feed cost) itik Sikumbang Janti selama penelitian. Menurut penelitian Riani (2017), manfaat yang diperoleh selama penelitian itik Sikumbang Janti dipengaruhi oleh perlakuan.

Rata-rata persentase berat limpa, tiroid dan ginjal (100 mg/berat badan) itik Sikumbang janti pada akhir penelitian. Berdasarkan hasil analisis varians, pemeliharaan pada suhu kandang yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot limpa itik Sikumbang Janti. Rata-rata persentase limpa itik Sikumbang Janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda menunjukkan masih dalam kisaran normal.

Hasil yang diperoleh selama penelitian dengan menggunakan tiga suhu kandang yang berbeda pada itik Sikumbang Janti tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat tiroid. Hasil analisis keanekaragaman yang diperoleh selama penelitian dengan menggunakan tiga suhu kandang yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot ginjal itik Sikumbang Janti.

METODE PENELITAN

Materi Penelitian

Ternak Percobaan

Kandang dan Peralatan Kandang

Ransum Percobaan

Metode Penelitian

  • Analisa Data

JKP: Jumlah kuadrat perlakuan JKK: Jumlah kuadrat JKS Grup: Jumlah kuadrat sisa JKT: Jumlah rata-rata kuadrat KTP: Rata-rata kuadrat perlakuan KTK: Rata-rata kuadrat KTS Grup: Rata-rata kuadrat sisa F.Hit: F Telp.

Pelaksanaan Penelitian

  • Persiapan Ransum
  • Penempatan Itik Dalam Kandang Perlakuan
  • Pemeliharaan
  • Peubah Yang Diamati
  • Tempat dan Waktu Penelitian

Ransum yang digunakan selama penelitian adalah ransum komersial yaitu CP 511 Bravo untuk tiga minggu pertama dan CP 512 Bravo untuk minggu keempat hingga akhir penelitian. Setelah itik ditimbang dan diberi tag, itik diurutkan berdasarkan bobot badan dari yang terkecil hingga yang terbesar. Konsumsi ransum dihitung setiap hari dengan menghitung sisa ransum dan ransum yang hilang setiap harinya.

Konversi ransum dihitung dengan membandingkan jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan setiap minggunya. Perhitungan pendapatan atas biaya makan diperoleh dengan cara mengurangi pendapatan penjualan itik dari biaya ransum yang digunakan, perhitungannya dilakukan menurut seluruh harga pada saat penelitian. 7. Persentase bobot limpa itik, diperoleh dengan cara membagi bobot limpa dengan bobot akhir badan itik dikalikan 100%.

8. Persentase bobot tiroid itik, diperoleh dengan membagi bobot tiroid dengan bobot akhir itik dikalikan 100%. 9. Persentase bobot ginjal itik, diperoleh dengan cara membagi bobot ginjal dengan bobot akhir itik dikalikan 100%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Terhadap Pertambahan Bobot Badan
  • Terhadap Konversi Ransum
  • Pengaruh Perlakuan Terhadap Bobot Hidup, Persentase Karkasdan (Income Over
    • Terhadap Persentase Karkas
    • Terhadap Income Over Feed Cost
  • Pengaruh Perlakuan Terhadap Persentase Bobot Limpa, Tiroid dan Ginjal
    • Terhadap Bobot Tiroid
    • Terhadap Bobot Ginjal
  • Saran

Kandang yang diberi perlakuan suhu dingin mempunyai suhu rata-rata sekitar o C. Suhu kandang tersebut merupakan suhu yang paling cocok untuk beternak itik Sikumbang janti. Suhu tersebut sesuai dengan suhu di daerah asal bebek janti Sikumbang yaitu kota Payakumbuh. Kota Payakumbuh memiliki kisaran suhu 18 – 28oC (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa pemeliharaan itik Sikumbang janti.

Hasil analisis keanekaragaman menunjukkan bahwa perlakuan suhu kandang yang berbeda selama masa pemeliharaan pejantan Sikumbang Janti memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap peningkatan bobot hidup pejantan Sikumbang Janti. Hasil analisis keanekaragaman menunjukkan bahwa perlakuan dengan suhu kandang yang berbeda selama masa pemeliharaan itik tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas itik Sikumbang janti. Pada Tabel 7 terlihat total pendapatan diatas biaya pakan itik Sikumbang Janti jantan selama penelitian menunjukkan selisih tiap perlakuan bervariasi mulai dari Rp.

Pada Tabel 8 rata-rata bobot limpa menunjukkan bahwa bobot limpa itik Sikumbang janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda berkisar antara 89,40 mg – 95,52 mg/100 g bobot badan atau setara dengan bobot badan. Berdasarkan Tabel 8 terlihat rerata bobot kelenjar tiroid itik Sikumbang Janti yang dipelihara pada tiga suhu kandang berbeda berkisar antara 6,31 mg – 6,96 mg/100 g bobot badan atau setara. Dengan suhu kandang yang masih toleran pada itik Sikumbang Janti maka bobot kelenjar tiroid tidak berbeda nyata dengan perlakuan suhu yang diberikan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan itik Sikumbang janti pada tiga suhu kandang yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan, namun tidak berpengaruh terhadap konversi pakan.

Tabel 8. Rataan persentase bobot limpa, tiroid dan ginjal (100mg/bobot badan) itik    Sikumbang janti pada  akhir penelitian
Tabel 8. Rataan persentase bobot limpa, tiroid dan ginjal (100mg/bobot badan) itik Sikumbang janti pada akhir penelitian

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

  • Jadwal Penelitian

Hasil terbaik terdapat pada suhu kandang dingin dengan konsumsi pakan sebesar 2964,33 g/ekor, bobot hidup 1437 gram/ekor, persentase pemotongan 67,64% sehingga terjadi peningkatan bobot badan sebesar 711,83 g/ekor dan konversi ransum sebesar 4,22 selama periode tersebut. , hasil IOFC (Income Over Feed Cost) tertinggi dicapai pada suhu dingin, yaitu surplus sebesar Rp. Disarankan untuk mengembangkan itik Sikumbang Janti pada suhu lingkungan yang sejuk atau mengatur jalur iklim mikro melalui nasionalisasi peternakan pada saat suhu lingkungan berada di luar zona nyaman itik. Selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang dapat mengatasi cekaman suhu lingkungan pada itik Sikumbang janti.

The relationships of body temperature to weight gain, feed consumption, and feed utilization in broilers under heat stress. Effect of early age acclimation on some physiological, immunological responses and chromosomal aberrations in musk ducks during exposure to heat stress. 1988, Teknologi pemuliaan itik petelur Indonesia, Prosidung Seminar Peternakan Nasional dan Forum Peternakan Unggas and Aneka Ternak II.

Konversi ransum dan pendapatan di atas pakan dan biaya ayam diberikan ransum yang mengandung tepung rimpang jahe (Curcuma xanthorriza Roxb) yang berbeda-beda. Perbandingan produksi telur itik Tegal, itik Magelang, itik Mojosari dan itik Bali yang dipelihara secara intensif.

Gambar 2. Karkas itik Sikumbang janti dan organ physsiologis ginjal
Gambar 2. Karkas itik Sikumbang janti dan organ physsiologis ginjal

Rencana Target Capaian Tahunan

Gambar

Gambar 1. Ciri khas itik Sikumbang janti (Penelitian, 2019).
Tabel 2. Mutu pakan itik pedaging mnurut SNI
Tabel 3.Komposisi Nutrisi Ransum Komersil CP 511 Bravo dan 512 Bravo
Tabel 5. Analisis keragaman
+5

Referensi

Dokumen terkait

Lama rekondisi, pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan tidak berbeda nyata antar jenis kelamin domba.. Berdasarkan nilai

Penurunan level protein pakan, setelah pemeliharaan selama 8 minggu berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi

Pengamatan dilakukan terhadap bobot badan, konsumsi pakan, konversi pakan, berat karkas serta komponen input output usaha ternak Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan

Kesimpulan dari hasil penelitian bahwa performans produksi yang meliputi pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan pada itik Hibrida jantan dengan warna bulu

Lama rekondisi, pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan tidak berbeda nyata antar jenis kelamin domba.. Berdasarkan nilai

Daun ginseng dan daun singkong dengan rasio yang berbeda mempengaruhi konsumsi hijauan, konsumsi konsentrat, konsumsi pakan total kumbang dan konversi pakan terhadap

Pada budidaya perikanan termasuk lele tiga faktor penting yang mempengaruhi keberhasilannya, yaitu bibit, pakan, dan manajemen pemeliharaan. Selain tiga faktor tersebut,

Penurunan level protein pakan, setelah pemeliharaan selama 8 minggu berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi