Judul : Pengaruh Pola Makan, Keseimbangan Asupan Makronutrien, Stres Terhadap Kadar Gula Darah, Kadar Peptida C-Reaktif pada Penderita DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Malang (Pada Masa Pandemi Covid 19). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pola makan, keseimbangan asupan energi dan makronutrien, tingkat stres terhadap kadar gula darah, kadar kolesterol dan kadar CRP darah pada penderita DM. Hipotesis yang diajukan adalah terdapat pengaruh pola makan, keseimbangan asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar gula darah, kadar kolesterol dan kadar CRP dalam darah.
Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar gula darah sebesar 64,2% dengan nilai F hitung sebesar 10,107 dan nilai signifikan sebesar 0,000. Pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kolesterol darah sebesar 16,4% dengan nilai F hitung sebesar 1,11 dan nilai signifikansi sebesar 0,374. Alhamdulillahirobbil'alamin, dengan rahmat dan hidayah Allah SWT, Laporan Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) Tahun 2020 berjudul “Pola diet, keseimbangan asupan makronutrien, stres pada kadar glukosa darah, kadar peptida C-reaktif pada pasien DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Malang” dapat teratasi.
Hasil koefisien regresi dan uji parsial pengaruh pola makan, asupan makronutrien, dan tingkat stres terhadap kadar CRP darah responden.
Rumusan Masalah
Tujuan Khusus
Perubahan pola hidup dan perilaku masyarakat erat kaitannya dengan tingginya faktor risiko penyakit diabetes, didukung oleh rendahnya pengetahuan dan kondisi pandemi – new normal Covid 19. Didukung dengan adanya pandemi Covid 19, kondisi yang berubah menuju new normal akan berdampak pada suasana stres. di masyarakat. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan pola makan dan keseimbangan asupan makronutrien, tingkat stres dengan kadar glukosa darah, kadar peptida C-reaktif dan kadar kolesterol darah pada penderita diabetes tipe 2 di kota Malang pada masa new normal. periode Covid 19.
Analisis pengaruh pola makan, keseimbangan asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar CRP pada pasien DM tipe 2 di wilayah Puskesmas Mulyorejo Kota Malang. Analisis pengaruh pola makan, asupan energi dan makronutrien, aktivitas fisik dan tingkat stres terhadap kadar gula darah, kadar kolesterol dan kadar CRP.
Manfaaf Penelitian
Definisi DM
Tipe DM
Patogenesis Diabetes Melitus Tipe 2
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan cara sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, terutama yang berkaitan dengan berat badan kurang dan kelebihan berat badan. Pengukuran BMI/IMT dapat dilakukan dengan membagi nilai berat badan (kg) dengan nilai kuadrat tinggi badan (Cm).
Pola makan
Kadar gula darah meningkat drastis setelah mengonsumsi makanan tertentu karena makanan yang dikonsumsi biasanya memiliki kandungan gula darah yang tidak terkontrol (Tandra, 2009). Gizi yang baik mengandung gizi sumber energi, unsur pembangun dan zat pengatur yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta perkembangan otak dan produktivitas kerja, serta dikonsumsi dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Dengan pola makan sehari-hari yang seimbang dan aman bermanfaat untuk mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal (Almatsier, 2011).
Pola makan yang tinggi lemak, garam dan gula serta mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan, serta pola makan cepat saji akan menyebabkan kadar gula darah meningkat (Suiraoka, 2012). Menetapkan jadwal makan yang teratur (sarapan, makan siang, makan malam) menjamin kadar gula darah lebih stabil (Manganti, 2012).
Keseimbangan Asupan Zat Gizi Makro
Stres
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar responden penderita diabetes melitus tipe II mengalami stres sebanyak 79,2% dan 46,2% responden tidak mengalami stres. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eom dkk (2011), tingkat stres yang tinggi terjadi pada pasien diabetes dengan durasi pengobatan yang lama, pasien yang menjalani pengobatan insulin dan pada pasien wanita. Pengobatan, pengendalian makanan dan latihan fisik sangat penting dalam pengobatan diabetes, namun yang terpenting adalah dukungan emosional dan mental untuk mempertahankan aktivitas pengobatan yang berkelanjutan.
Kadar Gula Darah
Ketika kadar gula darah meningkat, baik karena perubahan glikogen atau karena pencernaan makanan, hormon lain dilepaskan dari sel pankreas. Hormon ini, yang disebut insulin, menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen (proses ini disebut glikogenosis), sehingga menurunkan kadar gula darah. Diabetes melitus tipe 1 disebabkan oleh produksi insulin yang tidak mencukupi atau tidak ada sama sekali, sedangkan tipe 2 disebabkan oleh respon yang tidak memadai terhadap pelepasan insulin (resistensi insulin).
Kadar Kholesterol
Kadar C- Reaktif Peptidepada (CRP)
Dalam penelitian DM tipe 2 oleh Kang JM et al, kadar C-peptida puasa yang lebih tinggi (>2,38 ng/ml) dikaitkan dengan sindrom metabolik (Kang JM et al, 2002). Penelitian Fernandez et al menemukan bahwa kadar C-peptida puasa adalah ng/ml dan berkorelasi dengan hipertensi (Fernandez E, et al, 2005). Angka kejadian DM tipe 2 dapat diketahui dengan menganalisis pengaruh faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.
Dalam kerangka konseptual tersebut, penulis membuat dua variabel yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikatnya adalah diabetes melitus tipe 2, kadar C-peptida, kadar gula darah, kadar kolesterol darah, sedangkan variabel bebasnya terdiri dari pola makan, keseimbangan asupan makronutrien dan stres.
Hipotesis Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Malang termasuk salah satu wilayah zona hijau akibat penyebaran Covid 19. Setiap responden yang menjadi sampel penelitian terlebih dahulu menandatangani formulir informed consent yang menunjukkan persetujuan mereka dengan berpartisipasi dalam penelitian ini.
Populasi dan Sampel
13 mewakili 53 orang yang diambil dari 3 kecamatan dengan prevalensi penderita DM tinggi di Puskesmas Mulyorejo dan sedang dipertimbangkan pembatasannya.
Variabel dan Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Variabel Penelitian
Definisi Operasional Variabel
C Kadar peptida reaktif dalam darah puasa subjek dinyatakan dalam satuan ng/mL atau nmol/L.
Prosedur Pengumpulan Data dan Instrumen yang digunakan
Prosedur pengumpulan data dimulai dengan mengajukan permohonan izin ke Dinas Kesehatan Kota Malang dan Bangkesbangpol Kota Malang. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara meliputi karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, riwayat penyakit keluarga, status kesehatan, dan jenis obat yang dikonsumsi.
Pengukuran Status Gizi
Data asupan zay gizi makro
Pola makan responden
Data kadar glukosa darah diperoleh dari hasil pengendalian kadar glukosa darah dengan metode POCT (Point of Care Testing) dengan menggunakan sampel darah tepi responden.
Kadar Kholesterol Darah
Cara Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data
- Analisa Data
- Jenis dan Porsi bahan makanan yang dikonsumsi Makanan Pokok
- Keteraturan makan
Berdasarkan hasil pemeriksaan darah responden diperoleh data kadar glukosa darah responden seperti pada Tabel 5.3 berikut ini. Kadar gula darah responden berdasarkan data rekam medis pasien rawat jalan di Puskesmas Mulyorejo (Juli 2029) >126 mg/dl. Pada penelitian ini, setelah dilakukan pengendalian kadar glukosa darah responden secara bervariasi, terdapat 21 responden (47,17%) dari total jumlah responden (n=53) yang mengalami perubahan dari di atas 126 mg/dl menjadi di bawah 126 mg/dL. .
Dalam penelitian ini, responden memiliki pola makan yang berbeda-beda baik dari jenis, jumlah maupun porsi makanan yang dikonsumsi setiap kali makan. makan serta keteraturan makan pada siang hari. Secara umum makanan pokok utama responden adalah nasi, disusul jagung, ubi jalar, dan singkong yang dikonsumsi responden. Nasi merupakan makanan pokok terpenting bagi responden DM, dikonsumsi rata-rata dua kali sehari dengan porsi 50 gram per hari. makanan.
Berdasarkan jenis makanan sumber protein hewani yang dikonsumsi responden, telur menjadi pilihan utama yang sering dikonsumsi responden. Jenis makanan sumber protein hewani dan nabati yang dikonsumsi sebagai lauk pauk responden seperti terlihat pada Gambar 5.2. Sayur dan buah merupakan makanan sumber zat gizi mikro (vitamin), antioksidan dan serat.
Jenis buah-buahan yang dimakan responden kurang bervariasi, umumnya hanya pisang dan pepaya yang mudah didapat dan murah. Jenis dan porsi buah yang sering dikonsumsi responden: Pisang dan pepaya dikonsumsi responden dalam bentuk buah segar, 75-100 g per buah. makan dengan frekuensi makan rata-rata 1-2 kali seminggu. Pada penderita DM, terlalu banyak mengonsumsi gula dapat meningkatkan kadar gula darah atau tidak mampu mengontrol kadar gula darah.
Kepatuhan diet pada pasien DM berperan penting dalam menstabilkan kadar glukosa darah dan penting untuk dikembangkan sebagai kebiasaan yang dapat membantu pengendalian glukosa darah. Kebutuhan energi dan zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein dan lemak dipenuhi melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari yaitu makanan utama, lauk pauk dan vitamin mineral yang diperoleh dari sayur dan buah.
Stres
- Pengaruh Pola Makan, Asupan Zat Gizi Makro, Stres Terhadap Kadar Glukosa darah
- Pengaruh Pola Makan, AsupanZat Gizi Makro,Tingkat Stres Terhadap Kadar Kholesterol Darah
Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan besarnya pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar glukosa darah adalah sebesar 64,2. Hal ini menunjukkan bahwa pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kadar glukosa darah. Koefisien regresi dan hasil uji parsial Pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres dapat dilihat pada Tabel 5.6 di bawah ini.
Berdasarkan tabel 5.7 diperoleh model persamaan regresi yang terbentuk dari pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar glukosa darah sebagai berikut. Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan besarnya pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan kadar stres terhadap kadar kolesterol darah adalah 16,5. Hasil uji simultan antara pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan kadar stres terhadap kadar kolesterol darah diperoleh nilai F hitung sebesar 1,111 dan nilai signifikan sebesar 0,374.
Hasil koefisien regresi dan subtest Pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres dapat dilihat pada tabel 5.8. Hasil koefisien regresi dan uji parsial pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres. Dari tabel 5.8 diperoleh model persamaan regresi yang terbentuk dari pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar kolesterol darah sebagai berikut.
Hasil pengujian menunjukkan besarnya pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar CRP darah adalah 11,3. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar CRP darah secara bersamaan. Berdasarkan tabel 5.9 diperoleh model persamaan regresi yang dibentuk oleh pengaruh pola makan, asupan makronutrien dan tingkat stres terhadap kadar CRP darah sebagai berikut.
REKOMENDASI
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya DM pada usia di atas 50 tahun, selain faktor genetik dan usia, BMI, pola makan terutama keteraturan pola makan dan stres sebagai faktor lingkungan yang kuat menjadi penyebab DM dan komplikasi pada penderita DM. Profil klinis dan hormonal (c-peptida dan glukagon) serta kerentanan terhadap ketoasidosis selama rehabilitasi nutrisi pada pasien Ethiopia dengan diabetes mellitus terkait malnutrisi.